Jangan ngomong sama aku dulu. Aku marah. Aku sedih. Aku pengin ngamuk. Aku nggak bisa berhenti nangis 😭😭😭
***
Oke, setelah hampir 5 jam, jalan kaki keliling kompleks 2.5 km, dan misuh-misuh ke penulisnya seharian penuh (iya, aku baca ditemani Kak Fla supaya kuat sampai novel tamat) akhirnya aku bisa bikin review. Perlu diingat, review ini subjektif dan akan mengandung banyakkkk sekali spoiler. Sebaiknya dibaca ketika kalian selesai baca juga atau kalau kalian tipe yang nggak keberatan kena spoiler. Oh ya, alasanku menyimpan 1 bintang karena aku sakit hati ada yang mati dan karena aku nunggu penulisnya ngasih closure buat masa depan Nora. Kak Fla, if you read this, please remember what I've said in our chat room. THAT scenario will become Nora's future. In my head, she already end up with him and lived happily ever after ;) kalau udah ada kejelasan buat masa depan Nora, mungkin bintangnya aku penuhin wkwkwk (iye, ngancem ini ngancemmm).
Seperti yang kita baca dari blurb, Nora tuh punya segalanya. Tapi jangan mikir hidup dia sempurna, soalnya sekasihan-kasihannya aku sama karakter, ya Nora ini yang paling kukasihani. Hidupnya berat, menyesakkan, dan coping mechanism-nya bahaya banget. Pas baca bab-bab awal Nora bertahun-tahun lalu, aku tuh udah nangis. Terus, bayangin, tadi nangisnya konstan dari lembar persembahan sampai profil penulis. Buku ditutup pun AKU MASIH NANGIS, YA AMPUN!
Mari bicarakan apa-apa yang kusuka:
1. Kehampaan Nora itu sangat amat nyata. Jujur, alasanku sangat invest ke karakter Nora karena aku berasa bercermin. Alasanku takut banget baca buku ini sampai nolak ngecekin teknis sebelum layout (dan agak menyesal karena teknisnya lumayan banyak miss di cetakan ini) karena aku tahu buku ini bakal bikin aku remuk dan hancur. Aku sesenggukan bukan pas Nora berantem sama papanya, tapi pas dia iri lihat interaksi bapak-anak di jalan. Aku sering ngerasain ini. Entah berapa kali aku break down di jalan pas nyetir gara-gara disuguhi pemadangan semacam ini. Jadi, luka Nora itu familier buat aku.
2. Ikatan Nora-Bastian. Ini nggak ada hubungannya sama preferensiku sama trope bestfriend-to-lover soalnya Nora sama Bastian tuh rumit, pelik, bikin potek hati. Nggak sesederhana sahabat yang mendam cinta. Aku bias juga sih dari awal, langsung tim Bastian (biarpun selama baca, tiap bab ganti-ganti kapal. Oleng, Bund!). Ajaibnya, aku berhasil notice petunjuk-petunjuk yang disebar Kak Fla. Gimana perasaan Nora ke Bas, apa yang dia pikirin kalau ada hubungannya sama Bas, pokoknya ini sejelas baliho capres-cawapres di pinggir jalan. Nora tuh cinta Bastian. Nora nggak bakal ninggalin Bastian kalau nggak cinta, apalagi sampai sehancur itu setelahnya. Seperti yang kita tahu, Nora itu Ratu Sabotase. Dan, yang harus wajib kudu dia sabotase jelas dirinya sendiri. Bahagia dan Nora tidak boleh disatukan! Kalau bisa sengsara serta menderita, jangan pilih hidup baik-baik aja! Kira-kira begitu moto hidup Nora wkwkwk aku udah berbusa-busa sih bahas ini di chat sama Kak Fla. Kalian nggak usah sibuk bantah, Nora-Bas itu end game.
3. Mas Adnan, sayangkuuu. You deserve so much better... *nangis meraung-raung* makasih ya, Mas, udah nunjukin ke Nora kalau dia punya harapan. Apa yang terjadi ke kamu itu nggak adil, tapi penulis kita ini memang raja tega, jadi kamu marah aja sama Kak Fla dari akhirat. But on serious note, karakter Adnan benar-benar dibutuhkan. Aku setuju, dia tuh "cahaya". Aku di posisi Nora juga pasti akan pilih Adnan. Bukan soal perasaan, tapi buat orang-orang kayak aku dan Nora yang isi kepalanya bising, kehadiran Adnan nih oase. We need him. Aku nggak nolak deh dikasih yang kayak Adnan, soalnya berharap dapat yang kayak Bastian di umur segini sangat mustahillll wkwk.
4. Closure Nora dan papanya. Gaes, kalian harus tahu ini tuh relatable banget. Hubungan bapak-anak memang rumit, apalagi kalau dua-duanya menjunjung tinggi gengsi. Setelah fase marah selesai, pasti timbul pertanyaan di kepala si anak, kenapa aku nggak terus dikejar? Kenapa Papa nyerah? Memangnya aku seenggak berharga itu dalam hidup Papa? Mampuslah aku selama baca wkwkwkwk tapi alhamdulillah papa Nora ini nggak brengski dunia-akhirat. Masih manusia ini papanya Nora, bukan jelmaan iblis atau dajjal untungnya. Aku benar-benar legaaaa karena di akhir kita dikasih lihat betapa papa Nora sayang anaknya dan BERUSAHA memperbaiki semuanya. Soalnya sayang doang nggak guna kalau nggak ada usaha untuk menebus kesalahan.
5. Bagian konseling. Broooo aku merasa ditusuk-tusuk saking relate-nya HAHAHA soalnya aku juga sering nggak bisa jawab pertanyaan psikologku. Terus, kerangka pertanyaannya riil banget. Dan penggambaran perasaan Nora setelah konseling juga oke banget. Memang yang perlu dicatat, psikolog/psikiater nggak bisa nolong kita kalau kita belum "sadar". Konseling itu membantu, cuma tetap terbatas sampai kesadaran itu kita dapetin sendiri. Intinya sih usaha terus buat memperbaiki diri dengan konseling sangat amat dianjurkan, tapi jangan lupa kesembuhan kita bukan di tangan mereka.
Kemudian, beberapa hal yang perlu dijadikan catatan (bukan aku nggak suka, ya):
1. Teknis, yuhuuu~ aku nggak bisa protes keras soalnya aku yang nolak pas Kak Fla nawarin buat ngecek. Tapi dalam pembelaanku, selain takut sama naskahnya yang bikin berdarah-darah ini, aku juga sibuk mengabdi pada negeri. Tapi aku masih buka jasa kok, cuma waktunya aja yang kudu bikin janji dari jauh-jauh hari. Beberapa yang kuingat, penulisan pada pas harusnya kepada, supir yang harusnya sopir, lalu nama mama Sebastian kayaknya sempat Nita eh di belakang jadi Nina.
2. Di beberapa bagian aku merasa kayak "lompat". Aku nggak terlalu ngeh juga, tapi beberapa kali ngerasa gini. Kayak di pikiranku, ada yang hilang sebelum sampai bagian itu. Kalau aku kuat baca ulang, mungkin nanti aku cek lagi.
3. Interaksi Nora-Adnan sering membingungkan. Aku nggak tahu kenapa terasa kayak tambal sulam di beberapa dialog, tapi tuh kayak apa yang mereka omongin nadanya nggak sampai di aku. Pas dikasih keterangan sama penulisnya baru aku ngeh, ohhh gituuuu.
Secara keseluruhan, Second Hope adalah favoritku dari Kak Fla (untuk sementara waktu). Atas alasan-alasan subjektif, kurasa selamanya Nora akan jadi karakter kesayanganku dari Kak Fla. Kalian harus baca ini... ah, nggak harus, sih, soalnya aku aja hampir nggak kuat wkwkwk. Oh ya, perlu banyak trigger warning-nya buku ini. Tapi aku sangat merekomendasikan buku ini. Tulisan Kak Fla oke banget, apalagi bagian romance yang secuil itu, sukses bikin panas dingin. Bahkan POV cowok-cowoknya kerasa oke, beda juga suara Bas sama Adnan, dan ini bikin aku salut. Kukumpulin seluruh jempol di dunia ini buat gaya nulis Kak Fla.
Tolong diingat, aku masih menunggu lanjutan cerita BAHAGIA Nora. Kalau nggak bahagia sama Bas, aku nggak bakal tambah bintangnya wkwkwkwk.
Akhir kata, terima kasih sudah menulis buku yang seakan memelukku ini. Sama seperti Nora, aku juga akan terus berusaha untuk jadi lebih baik. Trauma kita ada sebagai pelajaran, bukan pagar yang menangkal kebahagiaan.