Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nada Tanpa Kata

Rate this book
Dia dilahirkan sebagai anak austistik. Tetapi bakat fotografinya membawanya berpetualang ke Afrika, benua penuh misteri yang eksotik.
Panasnya bumi Kenya yang kotor berdebu, buasnya binatang yang bebas berkeliaran di belantara Afrika, fantastisnya Migrasi Akbar dari Serengeti ke Masai Mara, ketika dua juta nyawa dipertaruhkan demi menggapai tanah yang lebih subur, menghiasi foto-foto spektakuler karyanya.
Tiga orang wanita sama-sama mencintainya. Ibu yang berjuang tanpa mengenal lelah untuk menjadikannya seorang manusia yang berguna walau mengidap autisma. Istri yag telah memberinya seorang anak yang nyaris sempurna. Dan kekasih yang selalu mendapinginya ke mana pun dia pergi, seorang wanita Afria yang membantunya menjadi seorang jawara dalam lomba fotografi dunia.

256 pages, Paperback

First published December 1, 2013

2 people are currently reading
57 people want to read

About the author

Mira W.

107 books285 followers
Terlahir sebagai Mira Widjaja, seorang dokter lulusan FK Usakti (1979) dan penulis novel yang begitu aktif. Karyanya begitu banyak. Yang terlaris Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi mencapai oplah 10.000, dan mengalami lima kali cetak ulang.

Sejumlah karyanya sudah difilmkan: Kemilau Kemuning Senja, Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi, Ketika Cinta Harus Memilih, Permainan Bulan Desember, Tak Kupersembahkan Keranda Bagimu, dll. Pemfilman karyanya mungkin karena faktor ayahnya, Othiel Widjaja, yang dulunya produser Cendrawasih Film.

Mira mengakui karyanya tidak mendalam. Karya-karyanya dipengaruhi oleh karya- karya Nh Dini, Marga T., Y.B. Mangunwijaya, Agatha Christie, Pearl S. Buck, dan Harold Robbins. Karena berasal dari lingkungan yang sama, kedokteran, Mira yang bungsu dari lima bersaudara ini merasa karyanya dekat dengan karya Marga T.

Ia mengaku mulai menulis sejak kecil, dan karangan pertamanya, Benteng Kasih, dimuat di majalah Femina, 1975, dengan honor Rp 3.500. Pengarang yang populer di kalangan remaja ini memakai bahasa yang komunikatif, bahkan dalam dialognya banyak menggunakan bahasa prokem.

Mira sudah melanglang di lima benua, dengan honor tulisannya. Praktek dokter dibukanya petang hari, sedangkan pagi ia bertugas sebagai Ketua Balai Pengobatan Universitas Prof. Dr. Moestopo, Jakarta.

Bibliografi:
+ Dari Jendela SMP,
+ Bukan Cinta Sesaat,
+ Segurat Bianglala di Pantai Senggigi,
+ Cinta Cuma Sepenggal Dusta,
+ Bilur - Bilur Penyesalan,
+ Di Bahumu Kubagi Dukaku,
+ Trauma Masa Lalu,
+ Seruni Berkubang Duka,
+ Sampai Maut Memisahkan Kita,
+ Tersuruk Dalam Lumpur Cinta,
+ Limbah Dosa,
+ Kuduslah Cintamu, Dokter,
+ Semburat Lembayung di Bombay,
+ Luruh Kuncup Sebelum Berbunga,
+ Di Ujung Jalan Sunyi,
+ Semesra Bayanganmu,
+ Merpati Tak Pernah Ingkar Janji,
+ Cinta Diawal Tiga Puluh,
+ Ketika Cinta Harus Memilih,
+ Delusi (Deviasi 2),
+ Deviasi,
+ Relung - Relung Gelap Hati Sisi,
+ Cinta Berkalang Noda,
+ Jangan Renggut Matahariku,
+ Nirwana Di Balik Petaka,
+ Perisai Kasih yang Terkoyak,
+ Mekar Menjelang Malam,
+ Jangan Pergi, Lara,
+ Jangan Ucapkan Cinta,
+ Tak Cukup Hanya Cinta,
+ Perempuan Kedua,
+ Firdaus Yang Hilang,
+ Permainan Bulan Desember,
+ Satu Cermin Dua Bayang-Bayang,
+ Galau Remaja di SMA,
+ Kemilau Kemuning Senja,
+ Sepolos Cinta Dini,
+ Cinta Menyapa Dalam Badai 2,
+ Cinta Menyapa dalam Badai 1,
+ Mahligai di Atas Pasir,
+ Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat,
+ Titian Ke Pintu Hatimu,
+ Seandainya Aku Boleh Memilih,
+ Tatkala Mimpi Berakhir,
+ Cinta Tak Melantunkan Sesal,
+ Bila Hatimu Terluka,
+ Cinta Tak Pernah Berhutang,
+ Di Bibirnya Ada Dusta,
+ Bukan Istri Pengganti,
+ Biarkan Kereta Itu Lewat, Arini!,
+ Dikejar Masa Lalu,
+ Pintu Mulai Terbuka,
+ Di Sydney Cintaku Berlabuh - Sydney, Here I Come,
+ Solandra,
+ Tembang yang Tertunda,
+ Obsesi Sang Narsis,
+ Sentuhan Indah itu Bernama Cinta,
+ Di Tepi Jeram Kehancuran,
+ Sisi Merah Jambu,
+ Dakwaan Dari Alam Baka,
+ Kumpulan Cerpen: Benteng Kasih,
+ Seruni Berkubang Duka,
+ Di Bahumu Kubagi Dukaku,
+ Sematkan Rinduku di Dadamu,
+ Dunia Tanpa Warna

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (26%)
4 stars
21 (37%)
3 stars
14 (25%)
2 stars
4 (7%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
December 29, 2018
Kisah khas Mira W, yang ini tragis banget sih menurutku! Lumayan bikin sedih.
Profile Image for Ireisha.
38 reviews36 followers
April 24, 2014
Saya merupakan salah satu dari sekian banyak penyandang autisme.

(Ini ialah hal yang penting yang harus dinyatakan, setidaknya dalam review ini, sebelum saya memulai review ini, karena hal ini mempengaruhi bagaimana cara saya memandang buku ini, apa yang saya pikirkan mengenai topik ini.)

Saya juga merupakan seorang pembaca, penikmat cerita, dan seperti kebanyakan orang yang merupakan pembaca dan penikmat cerita, saya mencari cerita yang bisa saya hubungkan dengan diri saya. Bukan berarti cerita itu harus memuat seluruh aspek kehidupan saya, karena pada nyatanya, cerita juga merupakan alat untuk kita untuk melesap dalam kehidupan orang lain, kehidupan yang barangkali tidak bisa kita bayangkan. Satu hal yang penting, akan tetapi, ialah dalam hal tertentu, cerita tersebut harus membuat saya 'terhubung' dengan ceritanya. Kalau seorang pembaca tidak merasa 'terhubung' dengan ceritanya, lantas, apa yang membuat seorang pembaca mau melanjutkan cerita tersebut?

(Terhubung, barangkali, ialah sebuah kata yang ambigu.

Terhubung, barangkali, ialah sebuah kata yang abstrak.

Empati, barangkali, akan menjadi kata yang lebih tepat. Empati: kamu tidak harus 'sama' dengan tokoh tersebut, tapi kamu harus merasa 'sama', 'di posisi yang mirip' dengan tokoh tersebut.)

Ini yang selalu saya harapkan dari sebuah cerita. Bahwa saya bisa merasa 'terhubung' dengan karakter tersebut.

Saya mengharapkan saya mendapatkan cerita dari tokoh tersebut. Saya berharap saat saya membaca cerita yang bergulat mengenai tokoh X, saya akan memperoleh kisah kehidupan mengenai tokoh tersebut. Permasalahan dan konflik yang dihadapi. Apa yang dirasakan. Apa yang dipikirkan. Saya mengharapkan bahwa, walaupun saya dan karakter tersebut merupakan dua sosok yang berbeda, saya bisa mengerti dia dan saya bisa terhubung dengannya.

(Saya belum pernah merasakan menjadi tawanan perang di Dresden, misalnya. Saya bisa mengerti perasaan Billy Pilgrim di Slaughterhouse Five. Saya belum pernah berselingkuh atau diselingkuhi, misalnya. Saya bisa mengerti perasaan kedua tokoh utama kita di Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.)

(Tapi, bukannya saya seharusnya tidak bisa mengerti perasaan orang sama sekali? Mind theory, ingat?)

(Dalam kesempatan lain, saya akan mengatakan bahwa sebuah teori tidak bisa serta-merta secara mentah diaplikasikan. Tapi itu pembicaraan pada kesempatan lain.)

.

Buku mengenai karakter autistik. Buku autistik. Buku tentang penyandang autisme. (Apapun istilahnya.)

Intinya, ialah, buku ini adalah mengenai diri saya. Bagian dari diri saya, setidaknya. Buku ini membahas mengenai sebagian kecil kisah dari bagian diri saya (penyandang autis, nyatanya, merupakan sosok yang sangat berbeda dari satu orang ke orang lain; tidak mungkin kisah mereka akan sama persis dengan kisah saya. Lagipula, ada juga aspek kehidupan lain yang tak memiliki hubungan dengan autisme, seperti latar belakang keluarga, yang jelas akan menimbulkan variasi di antara individu.)

Saya menantikan cerita ini. Saya menginginkan cerita mengenai bagian dari diri saya.

Saya takut.

Dalam sebuah pernyataan yang pernah saya ucapkan: "As an autistic person, I am craving for more story about me, yet at the same time, I am critical about those stories."

Dan ketakutan saya beralasan, bukan?

Karena hampir di setiap narasi yang melibatkan mengenai diri saya, saya tidak menemukan 'hubungan' tersebut. 'Saya' ialah sebuah checklist untuk segala gejala autisme yang ada di DSM-V. 'Saya' ialah sebuah kotak checklist berjalan dalam kisah-kisah tersebut. Orang autis punya special interest, katanya. Orang autis sangat-sangat-sangat jenius dalam sebuah bidang yang disuka (biasanya bidang sains atau seni musik/rupa), meskipun nyatanya sosok savant seperti ini presentasenya cukup kecil. Orang autis suka mengulang kata-kata, echolalia (untuk informasi: yup, saya suka mengulang kata-kata. Saya tidak mengulang kata-kata seperti orang latah, tapinya.) Orang autis menyukai segala sesuatu yang aktual dan 'tepat', membuat mereka menjadi tipe robot android buatan Tuhan.

Dan narasi ini menceritakan mengenai usaha orang normal memahami mereka, usaha orang normal untuk mengurus mereka dan membuat mereka 'wajar'. Konflik cerita mengenai orang autis ialah konflik orang normal untuk menghadapi mereka, yang menyusahkan, yang membingungkan, yang merupakan sebuah enigma untuk diselesaikan.

Dan saya tidak menemukan diri saya 'terhubung' dengan mereka.

.

Permasalahan ini jugalah yang muncul dalam novel Mira W Nada Tanpa Kata. Blurb buku ini menyatakan bahwa buku ini menceritakan mengenai seorang karakter penyandang autisma yang bakatnya mengirimkan dia ke Afrika.

"Tokoh utama" kita ialah sosok yang dipersepsikan bagai "robot", bagai "alien", dan kita tidak tahu mengenai apapun mengenai tokoh utama kita kecuali sudut pandang seorang pengamat. Tidak, sesungguhnya mengetahui seorang karakter dari sudut pandang orang lain bukanlah hal yang buruk; lagipula, saya seringkali jatuh cinta terhadap tokoh sampingan yang ceritanya tidak diceritakan secara detil. Plus, banyak juga buku yang menanfaatkan sudut pandang orang pertama pengamat yang membuat cerita tersebut nampak makin 'unik.'

Yang saya keluhkan ialah saya, sebagai pembaca, hanya mengetahui tokoh ini secara superfisial. Kita melihat bahwa ia 'bisa merasakan', tapi rasa seperti apa, sebesar apa, seberapa besar 'range' perasaannya? Buku ini menggambarkan seakan-akan tokoh utama kita hanya bisa merasa 'sayang' dan 'marah'. Orang (orang autis-pun!) bisa merasakan lebih dari dua perasaan. (Permasalahannya, ngomong-ngomong, ialah cara mengklasifikasikan perasaan itu. Namanya adalah alexythimia.)

Tidak, kita tidak pernah mengetahui dilema tokoh ini mengklasifikasikan perasaannya, atau menghadapi perasaannya. (Ada beberapa halaman, oke, yang barangkali menggambarkannya. Tapi halaman sesedikit itu, dibandingkan dengan stereotipe-demi-stereotipe mengenai tokoh yang diucapkan oleh sang narator pengamat kita?)

Permasalahan kedua: saya bahkan tak yakin bahwa 'orang autis' ini ialah tokoh utama kita.

Tokoh utama (setidaknya, menurut teori) merupakan tokoh yang menghadapi dilema, yang merasakan konflik terbanyak. Tokoh utama merupakan tokoh yang menjadi 'hati' dari sebuah cerita. Nada Tanpa Kata menceritakan mengenai konflik sang ibu menghadapi anak autis-nya. Nada Tanpa Kata menceritakan konflik ibunya dan mertuanya yang, konon, katanya, kurang ajar. Nada Tanpa Kata menceritakan mengenai konflik sang ibu yang merindukan cucunya.

Dan karakter penyandang autis tersebut hanyalah sebuah 'objek', yang menimbulkan konflik.

Ini retorika yang membosankan. Saya sudah terlalu sering mendengar retorika ini. Sejujurnya, saya bosan mendengar retorika ini. Retorika ini seakan-akan mengatakan bahwa cerita saya tak berhak diceritakan, bahwa saya hanyalah sebuah 'objek' dan bukannya 'orang.' Retorika ini ialah retorika yang basi, dan saya mengharapkan seorang penulis yang baik dapat membawakan sesuatu yang menarik dari tulisannya.

Lagipula, kedua hal ini membuat saya tidak bisa terhubung dengan karakter penyandang autisme ini. Dan bukankah itu yang diharapkan oleh sang penulis saat ia menulis kisah mengenai karakter penyandang autis ini?

Saya mengharapkan untuk terhubung dengan cerita ini, dengan karakter 'autis' yang digembor-gemborkan di cerita.

Dan saya tidak mendapatkannya.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
October 6, 2014
Judul: Nada Tanpa Kata
Penulis: Mira W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 256 halaman
Terbitan: Desember 2013

Dia dilahirkan sebagai anak austistik. Tetapi bakat fotografinya membawanya berpetualang ke Afrika, benua penuh misteri yang eksotik.

Panasnya bumi Kenya yang kotor berdebu, buasnya binatang yang bebas berkeliaran di belantara Afrika, fantastisnya Migrasi Akbar dari Serengeti ke Masai Mara, ketika dua juta nyawa dipertaruhkan demi menggapai tanah yang lebih subur, menghiasi foto-foto spektakuler karyanya.

Tiga orang wanita sama-sama mencintainya. Ibu yang berjuang tanpa mengenal lelah untuk menjadikannya seorang manusia yang berguna walau mengidap autisma. Istri yag telah memberinya seorang anak yang nyaris sempurna. Dan kekasih yang selalu mendapinginya ke mana pun dia pergi, seorang wanita Afria yang membantunya menjadi seorang jawara dalam lomba fotografi dunia

Review

"Nada Tanpa Kata" bercerita tentang Arista, seorang wanita yang memiliki anak dari seorang pria yang telah beristri. Si pria yang tidak ingin nama baiknya tercemar meminta Arista menggugurkan kandungannya, tapi wanita itu menolak hingga lahirlah Alex.

Saat sadar bahwa Alex adalah seorang pengidap autisma, Arista tidak kecewa. Dia berjuang keras untuk membesarkan putranya. Dengan bantuan dokter, serta usaha keras Arista, Alex tumbuh dengan baik. Anak itu bahkan menunjukkan ketertarikan dan bakat dalam dunia fotografi.

Fotografi jugalah yang membawa Alex remaja bertemu dengan Adelana, seorang gadis seumurnya yang tertarik pada perangai Alex yang unik. Fotografi jugalah yang membawa Alex ke Kenya dan bertemu dengan Diani, seorang gadis Kenya yang mampu membuat Alex merasa panas-dingin.

Buku yang sangat, sangat, sangat mengaduk emosi. Like seriously, sangat.

Saya suka dengan hubungan antar karakternya. Saya suka khususnya pada Arista. Lewat tokoh Arista, Mira W. ingin memperlihatkan bagaimana perjuangan membesarkan seorang anak dengan autisma, serta bagaimana lewat kegigihan dan usaha keras, Arista berhasil menjadikan Alex seseorang yang berguna bagi lingkungannya.

Saya juga jatuh cinta pada latar tempat yang Mira W. gambarkan. Jadi pengin pergi ke Masai Mara, Kenya dan melihat sendiri "The Great Migration" yang disebut-sebut di novel ini.

Tetapi atraksi yang paling ditunggu turis dan fotografer adalah "The Great Migration", migrasi akbar yang terjadi setiap tahun. Ketika dua juta binatang bermigrasi dari Serengeti di Tanzania menuju Masai Mara di Kenya setiap bulan Juli dan Agustus.

Setiap rombongan yang bermigrasi diikuti oleh lima belas sampai dua puluh ribu zebra dan wildbeest yang mirip kerbau kecil, kadang-kadang gazel dan impala, sejenis kijang, yang menyeberangi Sungai Mara untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Rumput yang masih hijau dan air yang berlimpah. (hal. 45)


Dan... seperti biasa. Novel Mira W. belum lengkap tanpa referensi dunia kedokterannya. Kalau tidak ada unsur dunia medisnya, rasanya seperti buah duren tanpa baunya. Kurang lengkap.

Kali ini referensi itu datang dalam bentuk penjelasan tentang autisma (lewat dokter tempat Arista berkonsultasi), juga... ini:

Diani mengelus pipi Alex dengan lembut. Menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya dengan sehelai handuk kecil. Begitu hati-hati dan cermat seperti perawat kamar operasi menyeka peluh yang mengalir di wajah dokter bedahnya dengan kasa. (hal. 139)


Aduh, kalau penulis lain yang pakai perbandingan ini, saya bakal bilang: ini aneh. Hanya saja karena yang menggunakannya adalah Mira W., saya justru merasa membaca inside joke di sini :)).

Secara keseluruhan, "Nada Tanpa Kata" adalah novel yang menunjukkan bahwa Mira W. masih sukses menghasilkan karya-karya baru dengan cerita yang menarik, konflik yang terolah rapi, serta informasi yang up-to-date. Novel yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.
Profile Image for Pia Devina.
Author 31 books47 followers
February 9, 2015
Pengin ngasih 3.5 stars, tapi dibulatkan ke bawah karena... nanti saya beritahu.

Yang namanya tulisan Mira W, I always love it. Cara narasinya, pembentukan karakter, dialog, plot... semua. Selalu dibuat penasaran untuk ngebuka halaman berikutnya dan bertanya-tanya, "Terus ini lanjutannya gimana?".

But somehow di buku ini--yang sebenernya sudah saya suka dari awal baca--menjelang ending malah bikin kening saya mengerut. Kenapa? Karena ceritanya yang terlalu dramatis. Terlalu sedih. Painful. Bukan berarti saya nggak suka baca novel sad ending, cuma di buku ini, endingnya terlalu... hmm bikin saya nggak happy (yaeyalah namanya juga sad, bukan happy).

Tentang penjabaran Afrika, saya suka... pake banget! Tentang cara mendeskripsikan 'perasaan' dan 'ketertarikan' yang ditulis smooth, saya suka juga. Tapi lagi-lagi di menjelang ending, kening saya mengerut. "Ini beneran ceritanya begini? Segitunya gadis Afrika itu berkorban? Terus, kenapa dia egois ninggalin anaknya demi nyusul cintanya?" *maaf malah jadi spoiler* :(

So then, I decided to give 3 stars when I closed the book. And as usual, I never been bored to read MW's novel.
Profile Image for Davin Rusady.
7 reviews1 follower
February 2, 2014
Seperti sedang menonton sebuah film di dalam gedung bioskop.

Saya membaca novel ini dalam waktu satu bulan karena tidak ingin terburu-buru membacanya. Waktu yang cukup lama untuk sebuah novel dengan tebal kurang dari 300 halaman. Ini adalah karya Mira W. pertama yang saya baca. Menarik sekali. Cerita tentang seorang ibu yang membesarkan seorang anak autisma dengan penuh kasih sayang. Dibumbui dengan konflik disana-sini, membuat ceritanya terasa nyata, seperti sedang menonton film drama dalam gedung bioskop.

Lewat buku ini, saya menemukan satu lagi penulis perempuan favorit saya; Mira W.


Life is easy. Love is hard.
Profile Image for Zelie.
Author 2 books13 followers
December 1, 2014
Begitu beli, langsung saya baca dan langsung tamat dalam sekali duduk.
Sampai saat ini, Mira W. belum pernah membuat saya kecewa saat membaca bukunya.
Walau, di buku yang kali ini, kurang terasa Mira W. -nya, alias kurang banyak istilah kedokteran yang saya baca (atau udah terbiasa jadi enggak berasa?)
Di sini, Mira W. mengenalkan bagaimana seorang anak yang autis bisa berbicara tanpa kata. Sekaligus, Mira W. membawa kita melihat pemandangan tanpa gambar, hanya lewat kata-kata yang teruntai di buku ini.
Apa lagi yang bisa saya bilang? Saya terlalu suka dengan cara bercerita beliau.
Profile Image for Firdani.
31 reviews2 followers
February 16, 2015
Ini buku pertama karya Mira. W. yang saya baca :D
Buku yang habis dibaca dalam sekali tunduk, hanya 200an halaman.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.