Pukul dua pagi kita kerap terbangun Mimpi buruk, atau lembur manyun Gejolak kafein menyokong hari-hari Kapan kita bisa tidur lelap tanpa mimpi? Kami muda, takut dewasa Hanya kopi teman yang ada Suatu hari, semoga kami terbiasa Menikmati hidup di dunia nyata
Kumpulan sajak ini adalah corat-coret anak muda yang ngeri memasuki dunia dewasa.
Semoga diri dewasa kita tetap sehat setia dengan kemudaan jiwa.
Seorang pecinta kucing yang suka penasaran. Senang menghabiskan waktu dengan mengamati segala hal sambil mendengarkan musik country nonstop. Cita-cita terbesarnya adalah membangun animal shelter dan pergi ke Mars.
Sajak-sajak banal tentang kehidupan hustle culture para budak korporat yang kena quarter-life crisis. Begitulah menurutku buku ini. Sajak-sajaknya pakai bahasa sehari-hari yang straightforward dan mudah dipahami, yang kurasa sangat mencerminkan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya begitu-begitu saja: bangun - kerja - pulang - tidur. Aku suka jenis sajak tanpa tedeng aling-aling seperti ini, seperti bagaimana aku suka sajak-sajaknya Rendra. Kalau Rendra banyak menyindir politik, Miranda Malonka menyindir kapitalisme dan hustle culture yang akrab dengan diri kita sehari-hari.
Kayaknya pekerja banyak yang relate waktu baca buku puisi ini. Kalau dilihat dari judulnya, mungkin buat mereka yang juga lagi ngalamin quarter life crisis.
Kata kata yang berkesan buat aku (mungkin karena lagi relate dalam situasi sekarang), “karena diam memberi ruang untuk introspeksi”
Whoaa. Sorry bgt tapi ga suka sama isi bukunya. Aku biasanya baca buku yang isinya puisi buat dapet kata kata baru yang jarang digunakan tapi dari buku ini i see nothing. Begitulah.