3.5/5 stars
.
"Kalau ada yang nawarin kamu untuk menghapus ingatan, kira-kira ingatan apa yang ingin kamu hilangkan selamanya dari hidupmu?"
Ide ceritanya menarik, ngga rumit dan mudah dipahami, setting ceritanya di sekolah, tokoh utamanya membuka sesi konseling dengan seorang siswa yang aslinya adalah sesosok monster, dan mereka kemudian mendengarkan keluh kesah dari para siswa di sekolah itu. Dari awal hingga pertengahan, I'll Eat Your Story berhasil bikin pembaca penasaran tentang ingatan-ingatan macam apa yang ingin dihilangkan dari para siswa yang datang ke sesi konseling. Tetapi dari pertengahan menuju akhir, hmmmm, aku merasa eksekusinya nggak mulus dan terlalu lompat-lompat ketika menggunakan POV tiga tokoh utama di buku ini.
.
Okay, singkatnya sih buku I'll Eat Your Story berkisah tentang seorang Monster pemakan cerita atau biasa disebut hwagoe yang menjelma menjadi seorang siswa bernama Im Hye-sung. Sebenarnya, Hye-sung bisa saja hidup berdampingan dengan manusia dan menyamar menjadi siswa SMA, tetapi sayangnya, suatu hari, dia ketahuan sedang memakan buku-buku di perpustakaan oleh Lee Sewol. Mau tidak mau, karena Sewol sudah melihat wujud monster Hye-sung, mereka akhirnya membuat sebuah kesepakatan yakni Hye-sung dilarang memakan buku-buku di perpustakaan lagi dan sebagai gantinya, mereka berdua membuat sebuah Klub Konseling. Ketika Klub Konseling mulai berjalan, ada seorang siswa bernama So-woon yang bergabung dengan klub konseling tersebut. Tugas So-woon tidak lain tidak bukan adalah mengingatkan Hye-sung tentang kodrat aslinya sebagai seorang hwagoe dan agar Hye-sung tidak mencampuri urusan manusia terlalu jauh.
.
Sejujurnya, I'll Eat Your Story adalah buku yang amat menarik karena ide penceritaannya adalah tawaran untuk menghapus ingatan. Ceritanya sama sekali tidak rumit karena setting penceritaannya di sebuah Boarding School dan rata-rata mereka yang datang untuk konseling dengan Hye-sung, Se-wol dan So-woon adalah murid-murid di sekolah itu. Pada bagian ini, penulis menceritakan masalah mereka beserta ingatan yang ingin mereka hapus dalam beberapa bab berbeda. Ada yang ingin melepaskan mimpinya karena tidak direstui oleh keluarga, ada yang ingin melupakan orang yang pernah disukai, ada yang ingin menghapus peristiwa traumatis dari benaknya, dan yang lain. Aku cukup enjoy membaca bagian-bagian awal karena diceritakan hanya dari dua sudut pandang, yakni sudut pandang Sewol (menggunakan sudut pandang orang pertama) dan sudut pandang para siswa yang ingin dihapus ingatannya (menggunakan sudut pandang orang ketiga). Namun, ketika masuk ke bagian pertengan hingga akhir, menurutku, ada inkonsistensi pov dan pergantian pov tokohnya-pun tidak terlalu mulus. Bagian tokoh Sewol memang selalu menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi bagian tokoh lainnya kadang diceritakan dengan sudut pandang yang campur-campur (antara orang pertama atau orang ketiga). Selain itu, ketika penulis berusaha menyajikan kilas balik dari ketiga tokoh utama, rasanya sangat nanggung dan malah terkesan tidak menyatu dengan bagian-bagian sebelumnya. Misalnya, ketika menceritakan kilas balik kisah Hye-sung, aku benar-benar bingung dengan deskripsi "anak itu" yang mungkin memang ingin disamarkan namanya (atau beneran tanpa nama) tapi malah bikin yang baca malah hah hoh hah hoh. "Eh bentar, ini "anak itu" sebenarnya anak yang mana? Anak yang dilupakan sama masyarat desa atau ada anak yang lain?"
Hal yang sama juga terjadi ketika kilas balik tokoh Se-wol dan So-woon. Bagian kisah balik So-woon memang tidak sebanyak Se-wol, tetapi penggambaran karakternya cukup kelihatan, jadi pembaca bisa menilai So-woon sosok seperti apa. Sementara Se-wol, aduh, sampai buku ini selesai, aku masih ngga terlalu paham perkembangan karakternya. Terkesan agak nanggung, padahal berperan sebagai Se-wol penggerak ceritanya dan juga tokoh utama. Agak disayangkan...
.
Ketika buku ini menuju bagian akhir, penggunan pov-nya makin lompat-lompat. Kadang diceritakan dari sisi Se-wol, kadang Hye-sung dan kadang So-woon. Aku mulai tidak tertarik dengan bagaimana buku ini diselesaikan, dan kemudian penyelesaiannya pun terbilang "cukup aman" meskipun bukan yang amat berkesan untukku sebagai pembaca. Not that bad, tapi bukan yang not that good...
.
Begitulah reading journey-ku bersama Se-wol, Hye-sung, So-woon dan juga tokoh lain yang ingin dihapus ingatannya. Review tentang buku ini benar-benar berdasarkan pengalamanku pribadi, dan bisa jadi pengalaman membaca kalian akan terasa berbeda. Maka dari itu, aku pribadi tetap menyarankan kalian untuk membaca buku ini karena premis-nya yang cukup menarik dan penyajian ceritanya yang sama sekali tidak rumit.
.
Sekian! Sampai jumpa di review berikutnya!