Jump to ratings and reviews
Rate this book

Filsafat Kebahagiaan: Dari Plato, via Al-Farabi dan Al-Ghazali, Sampai Ki Ageng Suryomentaram

Rate this book
Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia. Sayangnya, makna bahagia itu tidak tunggal dan sama bagi semua orang. Bahagia bagi yang satu, boleh jadi bukan bahagia bagi yang lain. Bahagia itu ternyata macam-macam dan bisa saling bertentangan. Maka, layak sekali kalau orang bertanya: apa, sih, bahagia itu sebenarnya?

Empat orang bijak—Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram—menawarkan konsep kebahagiaan, berikut cara-cara mencapainya. Meski masing-masing mengambil pendekatan berbeda, ada beberapa kesamaan yang mencolok: bahwa orang mesti mengenal diri sendiri sebagai titik berangkat, dan orang menemukan diri sendiri sebagai titik tujuan. Mustahil orang mencapai kebahagiaan kalau tidak tahu siapa dirinya dan apa makna bahagia bagi dirinya.

288 pages, Paperback

Published January 1, 2023

18 people are currently reading
158 people want to read

About the author

Fahruddin Faiz

18 books109 followers
Fahruddin Faiz adalah doktor ilmu filsafat di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia kini selain sebagai dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), juga menjabat sebagai Wakil Dekan I di Fakultas Ushuluddin (teologi Islam).

Sudah sejak 2013, tiap malam Rabu di setiap pekannya, Pak Faiz, panggilan akrabnya, menjadi pengisi materi dan pemantik diskusi kajian filsafat di Masjid Jendral Sudirman.

Fahruddin Faiz lahir di Mojokerto pada 16 Agustus 1975. Dia meraih S-1 dari Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1998), S-2 dari Jurusan Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2001), dan S-3 dari Jurusan Studi Islam UIN Sunan Kalijaga (2014).

Selain menjadi dosen dan wakil dekan di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penerima Short-Course on Research-Management, NTU Singapura (2006) dan Short-Course on Islamic-Philosophy, ICIS (International center for Islamic Studies), Qom, Iran (2007) ini juga merupakan seorang penulis yang cukup aktif.

Beberapa karyanya antara lain: Menjadi Manusia, Menjadi Hamba; Menghilang, Menemukan Diri Sejati; Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks-Konteks dan Kontekstualisasi; Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural; Transfigurasi Manusia (Terjemahan); Perempuan dalam Agama-Agama Dunia (Terjemahan); Filosofi Cinta Kahlil Gibran; Bertuhan Ala Filosof (Terjemahan); Aku Bertanya Maka Aku Ada; Handbook of Broken Heart; Risalah Patah Hati; Filosof Juga Manusia; Sebelum Filsafat; Memaknai Kembali Sunan Kalijaga; Dunia Cinta Filosofis Kahlil Gibran; dan beberapa judul buku lain. Dia juga masih aktif memberikan ceramah keagamaan, khususnya bertema filsafat ke sepenjuru Nusantara.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
58 (49%)
4 stars
45 (38%)
3 stars
14 (11%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 33 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books102 followers
August 11, 2024
“Orang boleh berbeda dalam banyak hal, tapi bakal bersepakat dalam satu hal: ingin bahagia.”

Dalam buku ini, Fahruddin Faiz—yang lebih dulu dikenal sebagai guru “kajian filsafat”—mencoba menggali konsep kebahagiaan dari empat tokoh bijak, mulai dari Plato, Al-Farabi dan Al-Ghazali, hingga Ki Ageng Suryomentaram. Meskipun kita tahu sebetulnya tak ada rumusan pasti tentang titik kebahagiaan absolut, para filsuf dan tokoh sufi ini mengajak kita mengembara dan mencari pemahaman tentang arti kebahagiaan itu sendiri.

Sebagai seorang filsuf Yunani kuno yang terkenal, Plato jelas telah meninggalkan warisan intelektual yang mendalam tentang sifat manusia dan bagaimana mencapai kebahagiaan. Plato memandang bahwa manusia—sebagai esensialisme—memiliki jiwa yang kompleks, terdiri dari tiga bagian utama: rasional, irasional, dan hasrat. Bagi Plato, jiwa yang baik memiliki kekuatan rasional yang dominan, yang mampu mengendalikan keinginan-keinginan irasional dan hasrat. Ketika jiwa yang baik mencapai keseimbangan dan harmoni, kebahagian itu barulah bisa dicapai.

Sementara konsep Plato tentang kebahagiaan sangat individual, konsep Abu Nashr al-Farabi justru bernuansa sosial. Menurutnya, selain kebahagian level individu, kita juga harus bahagia secara kelompok. Kalau tidak begitu, kebahagian individu tidak akan sempurna.

Kunci orang bahagia adalah harus pintar, kata al-Farabi. Setelah pintar, kita bisa melakukan amal baik, lalu otomatis kebahagiaan akan datang. Sebab dengan kepandaian, kita bisa tahu mana yang boleh, mana yang tidak boleh, berapa batasnya, dan kapan sesuatu itu sudah berlebihan. Kesamaan pemikiran Plato dan al-Farabi adalah bahwa kebahagiaan dipandang sebagai puncak kebaikan.

Kalau pemikiran al-Farabi lebih filosofis, pemikiran al-Ghazali justru lebih sufistik. Kunci kebahagian, kata tokoh besar Islam Sunni itu, adalah mengenali diri. Menurutnya, kalau kita sendiri tidak paham siapa diri kita dan tidak tahu kita mau apa, kita tidak akan bisa bahagia. Lalu al-Ghazali berpesan, supaya kita bisa bahagia, waspadai dua hal dan penuhi satu hal. Yakni, waspadailah syahwat dan amarah serta carilah bekal ilmu. Sebenarnya ini mirip pemikiran Plato dan al-Farabi, bahwa jalan untuk bahagia adalah ilmu.

Sementara itu, konsep kebahagiaan menurut Ki Ageng Suryomentaram—seorang tokoh besar spiritual Jawa—intinya cuma ini: hidup jangan berlebihan dan jangan kekurangan. Ia merumuskan 6S: sakbutuhe, sakperlune, sakcukupe, sakbenere, sakmesthine, sakpenake.

Suryomentaram juga terkenal dengan ajarannya tentang "kawruh jiwa" yang artinya mengetahui diri sendiri. Pandangan ini seolah-olah melengkapi syarat bahagia dari tokoh-tokoh sebelumnya. Pertama, orang mesti memahami dirinya sendiri secara jujur, barulah berikutnya dia akan mengerti orang lain dan memahami lingkungannya. Orang yang mengerti orang lain, mengerti dirinya sendiri, dan mengerti lingkungan sekitarnya, dia akan bisa bahagia.

Dengan menghadirkan perspektif filsafat sekaligus merumuskan makna kebahagiaan dari sudut pandang yang berbeda, Fahruddin Faiz jelas ingin mengajak pembacanya untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan sesuai nilai-nilai yang dianut. Menariknya, ia menyampaikan gagasan-gagasan dari para filsuf tersebut tanpa mengeklaim kebenarannya untuk setiap individu.

Walau bagaimana pun, diskursus tentang kebahagiaan ini menunjukkan bahwa proses pencarian (alasan) kebahagiaan merupakan perjalanan yang unik bagi setiap individu, dan tidak ada standar yang baku dalam mencapainya.
Profile Image for sofie hana.
149 reviews2 followers
November 14, 2024
⭐️4/5

This book explores the concept of happiness through four unique philosophical perspectives: (1) Plato from Ancient Greece, (2) Al-Farabi from Islamic philosophy, (3) Al-Ghazali from Islamic Sufism, and (4) Ki Ageng Suryomentaram from Javanese thought.
According to Plato, happiness arises from a well-balanced soul, where rationality and desires are in harmony, emphasizing an individualistic approach to achieving contentment. Al-Farabi, on the other hand, believes in a social dimension of happiness, where individual fulfillment is closely tied to collective wellbeing and the pursuit of wisdom to enable good deeds.
Al-Ghazali introduces a Sufi perspective, highlighting self-understanding as the key to true happiness. Meanwhile, Ki Ageng Suryomentaram presents six guiding principles—sakbutuhe, sakperlune, sakcupue, sakbenere, sakmesthine, and sakpenake—emphasizing simplicity and alignment with personal needs.
Ultimately, this book conveys that happiness is a personal journey with no universal standard, as each individual’s path to happiness is unique.
Profile Image for Citra.
73 reviews1 follower
January 18, 2025
Sebuah kata bisa berbeda karena pemahaman setiap manusia terhadap kata itu, yaitu sebuah kata normal, sampai manusia memberinya makna. Begitu juga dengan kebahagiaan, setiap orang punya definisi yang berbeda tentang kebahagiaan, tetapi semua sepakat kalau semua orang ingin bahagia. Pak Faiz, menjabarkan beberapa pemikiran para filsuf yang mencari makna kebahagiaan ini. Tidak hanya itu, Pak Faiz mempermudah pembaca dengan memberi contoh dan analogi yang sederhana untuk menjabarkan tindakan-tindakan apa yang bisa kita lakukan dalam mencapai kebahagiaan itu.

Sebuah buku yang bisa dibaca berulang kali untuk mengingatkan, bahwa hakikat manusia hidup di dunia itu adalah untuk berbahagia.
Profile Image for Ikhsan.
6 reviews
February 3, 2026
Filsafat Kebahagiaan: Dari Plato, via Al-Farabi dan Al-Ghazali, Sampai Ki Ageng Suryomentaram adalah buku yang ambisius sekaligus relevan. Ia tidak sekadar memaparkan sejarah pemikiran tentang kebahagiaan, tetapi berupaya menjahit dialog lintas zaman dan lintas peradaban—dari filsafat Yunani, filsafat Islam klasik, hingga kebijaksanaan Jawa.

Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya menempatkan Ki Ageng Suryomentaram sejajar dengan Plato, Al-Farabi, dan Al-Ghazali. Ini bukan klaim kecil, dan justru di sinilah buku ini penting: pembaca diajak menyadari bahwa refleksi mendalam tentang kebahagiaan tidak dimonopoli oleh Barat atau Timur Tengah. Pemikiran Jawa, ketika dibaca secara serius, memiliki kedalaman etis dan eksistensial yang setara.

Penjelasan mengenai Plato dan Al-Farabi disajikan cukup jernih, terutama dalam menekankan hubungan antara kebahagiaan, akal, dan tatanan hidup yang baik. Al-Ghazali hadir sebagai titik balik—menggeser kebahagiaan dari sekadar rasionalitas menuju integrasi akal, etika, dan spiritualitas. Puncaknya, Ki Ageng Suryomentaram menawarkan perspektif yang sangat membumi: kebahagiaan sebagai kemampuan mengelola rasa, keinginan, dan keterikatan. Ini adalah kritik halus namun tajam terhadap obsesi modern pada pencapaian eksternal.

Bagi pembaca Indonesia yang tinggal di Jakarta, manfaat buku ini terasa sangat konkret. Di tengah ritme hidup yang cepat, tekanan karier, kemacetan, kompetisi sosial, dan budaya pembandingan yang terus-menerus, buku ini berfungsi sebagai mental pause. Ia membantu pembaca memisahkan mana kebutuhan sejati dan mana dorongan sosial semu. Konsep pengelolaan “rasa” ala Ki Ageng Suryomentaram, misalnya, sangat relevan bagi warga kota besar yang mudah terjebak dalam kecemasan, ambisi tanpa batas, dan kelelahan emosional.

Lebih jauh, buku ini memberi kerangka berpikir yang matang untuk menilai ulang makna sukses di Jakarta—kota yang sering menyamakan kebahagiaan dengan jabatan, penghasilan, dan pengakuan. Dari Plato dan Al-Farabi, pembaca diajak melihat pentingnya keteraturan hidup dan penggunaan akal sehat. Dari Al-Ghazali, muncul kesadaran bahwa kemajuan tanpa ketenangan batin justru melahirkan kehampaan. Dan dari Ki Ageng Suryomentaram, pembaca Jakarta mendapatkan kearifan praktis: kebahagiaan tidak menunggu kondisi ideal, tetapi lahir dari kejernihan memahami diri sendiri.

Buku ini bukan tanpa kelemahan. Pada beberapa bagian, pendekatannya terasa deskriptif dan cenderung harmonis, kurang menggali konflik konseptual secara tajam. Namun ini tampaknya pilihan sadar penulis—buku ini ditujukan sebagai bahan refleksi hidup, bukan arena perdebatan akademik.

Secara keseluruhan, ini adalah bacaan yang penting dan tepat waktu. Khusus bagi warga Jakarta—eksekutif, profesional muda, orang tua bekerja, maupun siapa pun yang merasa lelah secara eksistensial—buku ini menawarkan sesuatu yang langka: perspektif filosofis yang dalam, kontekstual, dan membumi.

Sangat direkomendasikan bagi pembaca yang ingin tetap waras, jernih, dan manusiawi di tengah hiruk-pikuk ibu kota.
Profile Image for Rizal.
4 reviews
January 16, 2025
Dalam buku tersebut kita diajak untuk berpikir secara runut mengenai konsep kebahagiaan. Pada bagian awal membahas tentang konsep kebahagiaan versi Plato. Diawali dengan mengenali jiwa, yang terbagi atas 3 bagian. Epithumia, Thumos, dan Logisticon. Pada akhirnya kebahagiaan dicapai ketika jiwa harmonis, bagian bagian dari jiwa berfungsi secara optimal dan mencapai apa yang disebut sebagai "Eudaimon".

Pada bagian selanjutnya kita diajak memahami kebahagiaan versi Al-Farabi. Konsep kebahagiaan antara Al-Farabi dengan Plato memiliki kesamaan diantaranya kebahagiaan dianggap sebagai "Ultimate Goods" atau kebaikan puncak. Yang menjadi perbedaan ialah Al-Farabi menawarkan konsep kebahagiaan sosial, dimana Kebahagiaan sosial mempengaruhi dan sekaligus bersumber dari kebahagiaan individu.

Kemudian konsep kebahagiaan menurut Al-Ghazali. Dalam konsep kebahagiaanya kendali atas perilaku yang mempengaruhi kebahagiaan bukan pada akal seperti yang dikemukakan oleh Plato dan Al-Farabi melainkan terletak pada hati. Penting untuk mengenali diri sendiri. Kebahagiaan dicapai ketika kita mengenali diri kita sendiri, mengenal Allah serta mengenal dunia.

Konsep Kebahagiaan menurut Ki Ageng Suryomentaram serupa dengan konsep kebahagiaan Al-Ghazali dimana kebahagiaan dicapai ketika kita mengenali diri (kawruh jiwa) dan lingkungannya. Menurut Ki Ageng Suryomentaram Kebahagiaan dapat dicapai dengan rumus 6S: Sakbutuhe, Sakperlune, Sakcukupe, Sakbenere, Sakmesthine dan Sakpenake. Hal ini mengajarkan kesederhanaan dalam konsep kebahagiaan. Kemudian kebahagiaan yang bersifat"mulur" dan "mungkret". Mulur itu ketika apa yang dicita-citakanya tercapai, sehingga menginginkan lebih, Sedangakan Mungkret itu ketika apa yang diinginkan tidak tercapai sehingga menurunkan targetnya.

Penulis dalam buku tersebut menyajikan pembahasan mengenai kebahagiaan melalui 4 pandangan tokoh yang berbeda, bahkan lintas zaman. Beliau mengajak untuk memahami bagaimana konsep kebahagiaan itu tidaklah mutlak, tidak ada yang benar maupun salah, melainkan tergantung pada setiap individu dan konsep mana yang dianutnya.

Buku ini sangat bagus, sebagai orang yang awam dengan filsafat bukan menjadi masalah untuk bisa memahami keseluruhan isi buku. Sebab dengan jelas dan menggunakan bahasa sehari hari Penulis memberikan contoh kongkret dalam kehidupan. Bahasa yang dipakai tak terlalu rumit dan terkesan mudah sekali dipahami. Dengan demikian meskipun judulnya adalah "filsafat", konsep konsep kebahagiaan yang diberikan tidak sukar sama sekali untuk dipahami.
Profile Image for Jelita C.
1 review
November 20, 2025
Awal baca, sangat tertarik dengan isinya. Memang banyak sekali pelajaran baru yang saya dapat seputar filsafat kebahagiaan. Cara penulisnya menyampaikan topik-topik kompleks sangat ringan dan mudah dicerna. Tetapi makin lama di baca saya makin terganggu dengan gaya bahasa penulis yang makin ke belakang makin “memaksakan opini sendiri” yang membuat saya sebagai pembaca jadi susah fokus sepenuhnya sama ajaran-ajaran filsafat yang di ceritakan dalam bukunya. Opini-opini yang saya maksud contohnya adalah cara pandang penulis terhadap manusia lain. Rasanya makin ke belakang, penulis makin seperti ngejulid-in dan merendahkan orang-orang lain (yang tidak mempraktikkan ajaran filsafat dalam buku) — kan salah satu sifat orang bahagia tidak membandingkan atau menjatuhkan manusia lain pak😅 Menurut saya ini bertentangan dengan isi dan judul buku, selain dari kalimat-kalimat yang membahas wanita tanpa sensitivitas yang jadinya membuat penulis terlihat seperti menganggap perempuan seperti barang (meskipun belum tentu itu cara pandang penulis). Banyak banget pelajaran yang saya dapat dan pun buku saya penuh dengan bookmark dan catatan tentang ilmu yang saya pelajari, tetapi lebih banyak ilmu saya serap saat penulisnya unbiased dan tidak terlalu mendorong opini pribadi. Buku ini saya kasih bintang 3 karena banyak isinya yang penting untuk kita pelajari, tetapi untuk yang belum baca disclaimer aja bahwa makin dibaca ke belakang buku ini, nada penulis rasanya akan menjadi makin “menggurui” dan makin menyinyir yang bisa jadi membuat pembaca jadi illfeel.
Profile Image for amrifaizalm.
23 reviews
March 19, 2025
Membaca buku ini serasa menjadi mahasiswa yang sedang mengikuti kelas Pak Faiz. Beliau beberapa kali memang menyebut tentang mahasiswa dalam isi bukunya. Hal itu bikin rasanya pas sekali dibaca. Pun di awal juga menyertakan bahasan pondasi keilmuan yang ada di kampus.

Setelah menikmatinya, buku ini memperkaya wawasanku mengenai konsep kebahagiaan dari berbagai perspektif. Mulai dari Plato yang mengangkat konsep jiwa dan keutamaan. Al-Farabi dengan keutamaan untuk kebahagiaan puncak. Al-Ghazali dengan pengenalan diri dan Tuhan serta dunia. Sampai Ki Ageng Suryomentaram yang melokal dengan hidup yang tidak lebih/kurang.

Bagian paling mengena buatku adalah konsep kebahagiaan dari persepektif Al-Ghazali. Berangkat dari dunia tasawuf yang akan mudah diresapi seorang Muslim. Selain itu, aku juga merasa cocok dengan filsafat Jawa dari Ki Ageng Suryomentaram. Perspektif dengan kearifan lokal yang terasa dekat dan lebih bisa diinternalisasikan.

Cara bertutur tentang filsafat yang menjadi tidak membingungkan adalah ciri khas beliau. Berbagai wawasan baru juga didapatkan. Disertakan juga contoh-contoh sesuai konteks yang semakin bisa dipahami dengan baik. Ada sedikit yang mengganggu pengalaman membaca yaitu kutipan kata yang mengambil ruang di tengah bab.
Profile Image for Furi Hanifah Zanuardi.
120 reviews
May 6, 2025
Buku Filsafat Kebahagiaan: Dari Plato, Al-Farabi, Al-Ghazali sampai Ki Ageng Suryomentaram karya Fahruddin Faiz adalah sebuah karya reflektif yang mengajak pembaca menyelami makna kebahagiaan dari berbagai perspektif filsuf besar, baik dari tradisi Barat maupun Timur. Ditulis dengan bahasa yang renyah namun sarat makna, buku ini terasa dekat tanpa kehilangan kedalaman filsafatnya.

Faiz berhasil menjembatani pemikiran klasik dengan realitas kekinian. Ia tidak sekadar menyajikan ide-ide Plato atau Al-Ghazali secara akademis, tetapi mengajak kita untuk merenungkan ulang bagaimana kebahagiaan dipahami dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada tokoh-tokoh besar dunia, tetapi juga menyoroti kebijaksanaan lokal melalui pemikiran Ki Ageng Suryomentaram—sebuah sentuhan khas yang membumi.

Buku ini cocok untuk pembaca umum yang ingin memperluas wawasan tentang kebahagiaan tanpa harus terjebak dalam istilah filsafat yang kaku. Reflektif, humanis, dan menyentuh—Faiz seperti sedang berdialog dengan hati kita.

Rekomendasi kuat untuk siapa pun yang ingin memahami kebahagiaan tidak hanya sebagai tujuan hidup, tetapi sebagai proses pencarian makna yang personal dan kontekstual.
Profile Image for Anton.
157 reviews8 followers
June 30, 2025
Hal pertama yang menarik dari buku ini adalah judulnya. Menarik hati buat mereka yang sedang mencari-cari makna hidup yang sedang dijalani. Juga buat pengelana yang sedang mencari-cari di mana kebahagiaan bersembunyi.

Hal kedua yang menarik adalah bagaimana perbandingan pengalaman dan pandangan tentang kebahagiaan sangatlah beragam. Buku ini menjelaskan empat pandangan filsuf dari latar belakang berbeda-beda: Plato, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram. Meskipun berbeda-beda, mereka mengajukan pijakan sama untuk menemukan kebahagiaan tersebut, mulailah dari diri sendiri.

Hal yang kurang pas, barangkali, adalah soal terlalu dominannya pandangan dari sudut pandang Islam untuk mencapai kebahagiaan. Bisa jadi karena penulisnya memang berlatar belakang dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam beberapa bagian, menurutku, pendekatannya terlalu "alim".

Meskipun demikian, secara umum, buku ini tetap mampu menjelaskan filsafat kebahagiaan dengan cara ringkas, jelas, dan sesekali membuat senyum bahagia ketika membaca penjelasannya. :)
Profile Image for Rayya Tasanee.
Author 3 books23 followers
May 16, 2024
Harusnya pengalaman membaca buku filsafat tuh: mudah dipahami. Buku ini memenuhi kebutuhan itu.

Pengikut setia ceramah Pak Faiz tentu tidak heran dengan gaya cerama beliau yang santai, namun tidak melupakan substansi. Buku Filsafat Kebahagiaan pun berisi narasi yang demikian. Bahkan mempelajari pemikiran Plato, Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaram menjadi mudah. Rasanya seperti membaca dongeng: dongeng yang berbobot.

Fokus isi buku ini adalah tentang esensi kebahagiaan menurut empat tokoh di atas.

Menurut Plato, Anda akan bahagia karena tahu batas.

"Kebahagiaan adalah kebajikan puncak."
"Bahagia tercapai ketika jiwa terimplementasikan secara optimal."
-Al Farabi

Rumus bahagia Al-Ghazali: waspadailah syahwat dan amarah serta carilah ilmu.

Sedangkan konsep bahagia menurut Ki Ageng Suryomentaram ada 6S: sakbutuhe, sakperlune, sakcukupe, sakbenere, sakmesthine, sakpenake.





Kalau banyak buku filsafat disampaikan dengan gaya bahasa sehari-hari seperti dalam buku ini, kurasa akan banyak anak muda yang menyukai filsafat.

Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books51 followers
February 20, 2024
Buku ini tidak hanya menjelaskan apa itu kebahagiaan. Namun juga membantu bagaimana mencapainya—sekaligus memberi alasan mengapa sering terasa sulit untuk mencapainya.

Segala yang dilakukan manusia ujung-ujungnya untuk memiliki kebahagiaan—dalam berbagai levelnya. Dari yang mencari jalan untuk hidup bahagia, hingga yang menggunakan bahagia sebagai jalan hidup. Diuraikan dari pemikiran para filsuf dan sufi kondang (Plato, Al Farabi, Al Ghazali, dan Ki Ageng Suryomentaraman) dengan bahasa Pak Faiz yang sangat akrab, sehingga sangat mudah dicerna.

Dari sini setidaknya kita tahu perbedaan maupun persamaan para filsuf dan sufi ini dalam memandang kebahagiaan sebagai konsep hidup. Aku kasih bocoran tentang persamaannya secara umum. Mereka sepakat kalau pengetahuan adalah kuncinya. Kenapa? Cari tahu sendiri di buku ini. Supaya ketemu juga perbedaan pandangan mereka. Hehe
Profile Image for ND Ratna .
115 reviews
May 23, 2025
so buku ini lebih bagus dari menjadi manusia tapi tak sebagus menghilang, menemukan diri sejati menurut saya.
mungkin karena dari 4 filsuf yang dibahas, aku lebih cocok dengan pemikiran al Ghazali dan pangeran hamengku Buwono VII yg punya ambisi seperti Siddharta Gautama yg ingin menemukan makna manusia yakni ki Ageng suryomentaram atau armadji.
hiduplah di waktu sekarang bukan di masa lalu atau takut akan masa depan. kalau al Ghazali lebih ke apa2 yg terjadi dari hidup kita ini ya jgn mempersalahkan hal atau org lain namun cek dari kita sendiri.
manusia kan banyak keinginan, jgn sampai keinginan itu memperbudak kita. hidup harus mampu memimpin hasrat yg dimiliki agar bisa tenang. bagus sih tulisannya. diksinya mudah dipahami kadang diselingi cerita teman nabi atau filsuf lain seperti Konfusius.
Profile Image for Diah.
199 reviews16 followers
January 15, 2025
Sepertinya saya memang bukan target audiensnya 😅

Beberapa kali lihat potongan video beliau di sosial media dan tertarik karena secara konsep bagus sekali, filsafat itu inklusif dan aku bisa baca beberapa pemikiran yang tidak terpusat di barat saja, atau timur tengah saja.

Mau bilang kurang dalam tapi memang tujuan buku ini memang ringan dan dapat dibaca banyak orang, jadi ya secara tujuan tercapai sih.

Cuma saya masih kecewa dengan balutan guyon-guyon yang kadang menurut saya mengganggu, semacam guyon soal jomblo, atau implisit menyamakan wanita dengan barang, tadinya kepikiran memberi dua bintang. Pengalaman membacanya bagi saya jadi tidak menyenangkan. Tapi ya mungkin lagi-lagi saya bukan target pembacanya.
Profile Image for Azka Adhisetama.
45 reviews
October 11, 2025
Kagum sama Mas Faiz bisa membuat pembahasan yang "berisi" tetapi mudah dicerna. Mungkin karena ini adalah transkrip dari ngaji filsafat mingguan memang bahasanya terkesan "penceramah yang sedang menjelaskan", tetapi masih enak dibaca kok, poinnya juga dapet. Sebenarnya dari sekian buku yang dibahas, aku cuma pernah baca Kimiya'u Al-Sa'adah (sama mungkin secuil pemikian Plato, tetapi belum pernah baca bukunya) dan dari sana jadi kelihatan seberapa pintar Mas Faiz ini menjelaskan untuk orang awam.

Secara personal aku memang pernah memikirkan "apa makna bahagia", menarik untuk membaca topik yang sama dari pemikir pilihan Mas Faiz. Terkadang ada momen "oh iya ya... make sense" atau "oh iya pernah punya pikiran mirip", ya... layaknya pengalaman bertukar pikiran secara umum sih 😁
Profile Image for Fajar Sidik.
47 reviews
June 20, 2024
Dari keempat filsuf yang membahas kebahagiaan, mereka semua sepakat bahwa manusia ada untuk bahagia. Meskipun orientasi dan caranya berbeda-beda dalam meraih kebahagiaan, kita akan menemukan beberapa prinsip yang mirip-mirip dari keempat filsuf tersebut. Seperti halnya pengetahuan akan hal baik, tentu akan membawa kita kepada amalan yang baik. Dan amalan yang baik, akan membawa kita ke kebahagiaan sejati. Barangkali, buku ini bisa menjadi suplemen untuk menambah pengetahuan yang baik bagi kita terkait kebahagiaan. Setelah wawasan kebahagiaan kita bertambah, mudah-mudahan kita bisa beramal lebih baik, dan menjadi lebih dalam mengartikan makna kebahagiaan.
Profile Image for Fina Rahmah.
13 reviews
October 26, 2024
Baru kali ini aku menemukan buku filsafat yang tidak monoton dan mudah d pahami bagi kalangan awam. Bapak Faiz bisa menyampaikan dengan bahasa yang sederhana (bahasa sehari-hari). Saya membaca ini terasa seperti mendengar ngaji filsafat beliau, ada beliau melucu juga dibuku ini seperti di ngaji filsafat beliau. Sederhananya buku ini berisikan bagaimana cara kita hidup dengan bahagia, ada tips dan trik bagaimana tidak memusingkan kehidupan, menjadi manusia sederhana dengan pemikiran yang sederhana juga. Beliau memberikan analogi yang tidak jauh dari kehidupan kita. Sangat direkomendasikan bagi pemula yang ingin mempelajari filsafat bersisihan dengan agama.
Profile Image for chewbacca rich.
28 reviews
July 19, 2025
Buku pertama pak Faiz yang aku baca. Impresi awal yang cukup menyenangkan, sengaja baca pelan-pelan daaan akan aku baca lagi karena mau dicatat, sangat praktikal dan pada saat baca bisa banget diterapkan perlahan di kegiatan sehari-hari. Menggunakan bahasa yang sederhana & mudah dipahami tapi prakteknya ini yang challenging.

Di beberapa bagian ada yang meninggalkan kesan “duh pembahasannya kurang banyak”, tapi mungkin itu tujuan pak Faiz, buat kita yang mencari lebih dalam (lewat olah batin atau baca buku lagi). Pak Faiz mendeliver ilmunya tidak menggurui, berhasil membantu aku memperluas cara pandang tentang bahagia.

Semoga semua makhluk berbahagia 🤍🌹
Profile Image for Aisyah.
7 reviews
December 31, 2025
Pas lagi galau/down, nemu buku ini di rumah. Lumayan menarik, karna kepo mau happy tapi via teori filsuf (ngga sekedar self-help hehe).
Cukup informatiff ttg konsep kebahagiaan secara teoritis. Yg seru, penulis juga kasih sedikit bio/ funfact tiap filsuf plus konsep² yg relevan sama tema. Sampe² awal ngebaca ngerasa banyakk poin penting yg bisa dijadiin review (meski ketika kubaca ulang, semua konsep 4 filsuf bisa kok di urutkan berkesinambungan hehe 😇)
July 15, 2024
Buku ini bagus sekali dalam memberikan gambaran gagasan Plato, Al Farabi, Al Ghazali hingga Kiai Ageng Suryomentaram mengenai esensi kebahagiaan. Favorit saya sih gagasannya Ghazali ttg Kerajaan Jiwa, plus ditambah kedekatan kultural Jawa dengan gagasan Suryomentaram. Intinya kalau mau bahagia perbanyak ilmu, kenali diri, dan jaga nafsu.
Profile Image for Alvia Poppy.
27 reviews
February 6, 2026
Mungkin nama Plato, Al-Farabi dan Al-Ghazali sudah familiar di telingaku, sedangkan nama Ki Ageng Suryomentaram cukup asing. Dan setelah baca ini, aku jadi tertarik untuk mengetahui lebih lanjut pemikiran dari beliau yang cukup nyentrik—seorang darah biru yang memaksa ayahnya untuk mencopot gelarnya dan hidup sebagai masyarakat biasa untuk mencari makna 'sebagai manusia'.
21 reviews
December 22, 2023
Filsafat Kebahagiaan dari berbagai pemikiran filsuf, yang paling menarik bagi saya yaitu pemikiran Ki Ageng Suryomentaram tentang Filsafat Rasa. Menjadi manusia unggul dengan filsafat rasa Manusia Unggul yang dimaksud adalah manusia yang senantiasa weruh, sih dan begja
Profile Image for Asri Nurlaeli.
21 reviews
October 6, 2024
Belajar Filsafat dengan #ngajifilsafat by Fahruddin Faiz, asyik banget sih, kita di bawa ke dunia Filsafat yang mudah kita pelajari dan tidak keluar dari aqidah.

Wajib baca untuk yg masih belum belajar ilmu Filsafat
Profile Image for Ridho.
6 reviews1 follower
January 15, 2025
Sebenarnya, isi buku ini hanya berupa teks dari video Ngaji Filsafat di YouTube. Tapi entah kenapa, saya tetap menikmati membacanya dan bahkan mendapatkan insight baru yang mungkin terlewat saat menonton videonya.
3 reviews1 follower
February 25, 2025
What a book! For me it’s like join the philosophy class but overall, i got vision about what “happy” is and how happy is being part of life or its life. But, for me who is a newbie to phylosophy things it took time to digest it!
Profile Image for Alfi.
62 reviews2 followers
February 18, 2024
aku suka penjelasan pak faiz di buku ini. bahasanya sangat mudah dipahami buat aku yang awam soal filsafat. buat kalian yang tertarik filsafat, bisa baca buku-buku beliau. sangat recommended 👍💗
Profile Image for D.W. Poetry .
4 reviews
June 19, 2024
Penjelasan mengenai Filsafat oleh Pak Faiz sangat mudah dicerna oleh awam seperti saya.
Displaying 1 - 30 of 33 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.