Jump to ratings and reviews
Rate this book

168 Jam dalam Sandera: Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak

Rate this book
Februari 2005

Siapa pun penonton televisi dan pembaca koran pasti ingat peristiwa nahas tersebut. Meutya Hafid,seorang reporter Metro TV dan Budiyanto, juru kamera yang mendampinginya, disandera oleh Mujahidin Irak. Mereka diculik tiba-tiba saat sedang berhenti di POM Bensin. Seluruh bangsa pun khawatir, berdoa demi keselamatan mereka, dan mengusahakan pembebasan secepatnya.

168 jam lamanya Meutya dan Budi berada dalam sandera. Di dalam sebuah gua kceil di tengah gurun Ramadi. Tidur beralaskan batuan dan dibuai oleh suara bom dan tembakan. Di sana mereka belajar tentang kepasrahan total kepada Yang Kuasa, karena telah begitu dekatnya dengan kata "mati". Di sana mereka diingatkan, bahwa jika Tuhan menghendaki, segalanya bisa terjadi. Dan, di sana pula mereka berdua disadarkan, betapa nyawa sangat berharga, dibandingkan berita paling ekslusif sekalipun.

280 pages, Paperback

First published January 1, 2007

9 people are currently reading
153 people want to read

About the author

Meutya Hafid

1 book1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
41 (21%)
4 stars
64 (33%)
3 stars
72 (37%)
2 stars
11 (5%)
1 star
4 (2%)
Displaying 1 - 30 of 30 reviews
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
November 15, 2008
Kita tentu masih ingat peristiwa penculikan yang menimpa dua orang jurnalis Metro TV, Meutya Hafid (reporter) dan Budiyanto (juru kamera), oleh Kelompok Mujahidin Irak (Jaish al Mujahideen) pada 15 Februari 2005. Selama 168 jam mereka disandera di sebuah gua di tengah gurun pasir Ramadi. Tak kurang dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono turut mengupayakan pembebasan bagi keduanya.

Bagi Meutya, peristiwa penyanderaan dirinya itu merupakan sebuah pengalaman berharga dalam sepanjang hidupnya. Sudah lama ia berniat untuk menuliskannya. Namun, karena kesibukan dan lain-lain, baru terwujud dua tahun setelahnya. Buku yang diberi judul 168 Jam Dalam Sandera itu, akhirnya diluncurkan pada Jumat, 28 September 2007 di Ruang Prambanan Hotel Sahid Jaya, Jakarta.

Lewat buku tersebut, Meutya hendak berbagi cerita kepada masyarakat, khususnya para wartawan di negeri ini, bahwa akhirnya tidak ada berita yang nilainya lebih dari nyawa. Di saat-saat yang dirasanya begitu dekat dengan kematian, ia baru menyadari betapa nyawa amatlah berharga dibandingkan berita sepenting apapun dan tak ada sesiapa yang dapat menolongnya kecuali atas kehendak Tuhan. Peristiwa selama 168 jam itu telah membuatnya belajar tentang kepasrahan total kepada Yang Maha Kuasa.

Selain itu, Meutya juga ingin mempersembahkan buku ini bagi perjuangan rakyat Irak serta para penyanderanya, Jaish Al Mujahideen, sebagai pemenuhan janjinya untuk memberitakan (peristiwa penculikan itu) secara berimbang. Lewat buku ini, Meutya juga menaruh harapan agar bangsa ini bisa lebih menghargai lagi profesi jurnalis yang kerap mesti mempertaruhkan nyawa bagi dua menit berita di televisi atau satu kolom kecil tulisan di koran.

Buku ini merekam secara filmis (dan emosional) adegan demi adegan yang dialami Meutya dan Budi sejak diculik di sebuah pompa bensin di Ramadi hingga disekap di gua dan kemudian dibebaskan tanpa tuntutan apapun. Sebagai sebuah memoar, buku ini cukup "jujur", personal, dan menarik karena dituturkan dengan gaya bercerita orang pertama (aku) dengan plot layaknya sebuah novel. Guna lebih menghidupkan cerita, Meutya juga mengisahkan secuil riwayat hidupnya semasa kecil hingga peristiwa tersebut terjadi. Mungkin bakal asyik juga kalau diangkat ke layar lebar.

Pujian bagi rancangan covernya yang menampilkan gambar "bersejarah" itu (Meutya dan Budiyanto di bawah ancaman senjata api dua orang penculiknya dari Kelompok Mujahidin Irak). Gambar tersebut bersumber dari para penculik yang lantas menyebarluaskannya ke seluruh jagad melalui jaringan siaran televisi.

Wanita cantik kelahiran 29 tahun silam itu semula tidak pernah bercita-cita bekerja sebagai jurnalis. Ia yang lulusan Teknik Industri Universitas New South Wales, Australia ini, mengaku kariernya sebagai reporter televisi bermula dari rasa ketertarikannya pada konsep televisi berita 24 jam di Metro TV. Acara pertama yang dibawakannya di stasiun tivi tersebut adalah e-Lifestyle sebelum akhirnya menjadi pembaca berita seperti sekarang ini.

Pada pengujung Januari 2005, Meutya tak dapat berkelit dari tugas yang diberikan atasannya untuk pergi meliput secara langsung pemilihan umum (pemilu) di Irak. Padahal, ia baru saja kembali dari tugas liputan pascatsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pemilu di Irak tersebut menjadi penting sebab itulah pemilu bebas pertama yang diselenggarakan setelah tergulingnya Saddam Husein.

Sebagai wartawan tivi dengan jam terbang lima tahun, Meutya telah cukup banyak mengantungi pengalaman meliput daerah-daerah "rawan" dan berbahaya. Ketika menerima penugasannya ke Irak, Meutya sadar bahwa ia akan terjun meliput ke sebuah wilayah konflik bersenjata yang setiap saat berisiko terhadap keselamatan jiwanya. Namun, tentu ia tak pernah bermimpi jika akhirnya ia benar-benar berada pada sebuah situasi riil yang mengancam keselamatannya. Ia diculik. Sungguh-sungguh diculik! Dan lima hari kemudian, ia yang biasa mewartakan berita kepada dunia, kini berbalik menjadi objek yang diberitakan.

Selain Meutya, penulisan buku ini juga melibatkan tim penulis pendamping yang terdiri dari Mauluddin Anwar, A.Latief Siregar, dan Ninok Leksono serta Hermawan Aksan (cerpenis/novelis) selaku editor.***

Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
429 reviews
April 30, 2012
”Shobahar khoir, Meutya!” , Februari 2005

Kisah ini mungkin yang paling banyak mendapat perhatian dari masyarakat luas, pasca Tsunami Aceh 2004, Meutya dan Budi ( Wartawan Metro TV) dan seorang guide sekaligus supir berkebangsaan Yordania: Ibrahim, mengalami penculikan yang dilakukan oleh Faksi Tentara Mujahiddin, awalnya keadaan amat tegang, kemudian makin lama menjadi cair, Meutya dan Budi bahkan menghadiahi para penculiknya barang-barang pribadi mereka,, dan kisah penculiknya (Ahmad dan Muhammad) mengenai latar belakang kehidupan mereka, mereka menjelaskan kepada Meutya dan Budi, bahwa mereka bukan pendukung Saddam tapi mereka juga tak rela Iraq di jajah oleh Amerika Serikat.

Tinggal di dalam sebuah gua, dengan perlakuan hormat dan sopan para tentara Mujahiddin, mereka bertahan, menunggu kepastian kapan akan dibebaskan, dan pada 168 jam berlalu mereka akhirnya dibebaskan, tapi apakah semudah itu prosesnya?

Memoar seorang jurnalis di tengah medan peperangan, dan jauh dari tanah air, mengajarkan kita untuk percaya akan takdir yang digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan tetap bertahan untuk orang yang kita cintai, seberapa sulit dan beratnya keadaan itu.
Profile Image for Ferina.
193 reviews33 followers
October 17, 2007
Gue jarang suka sama yang namanya memoar, atau buku-buku non-fiksi, tapi, buku satu ini, hampir saja membuat gue gak tidur gara-gara ngotot mau diselesain dalam satu malam. Yup, buku ini bener-bener bikin gue ikutan tegang, gemes dan terharu.
Profile Image for Pera.
231 reviews45 followers
July 20, 2017
Buku ini akhirnya kubaca, setelah penulisnya memberikan langsung sebagai hadiah untuk ku. (hehe...parah yaa). Padahal sejak baru terbit aku punya koleksi buku ini, tapi kusimpan manis bertahun-tahun di Rak Buku. Blom tergerak membacanya.

Membaca buku ini seperti membaca novel genre thriller. Karena berhubungan dengan nyawa dan ketidakpastian, jadi bawaannya memang mendebarkan. Belum lagi kehidupan di Gurun yang jauh berbeda dengan khatulistiwa yang hijau, dan juga konflik perang Irak bagi generasi di era ku memang penuh misteri. Deskripsinya cukup jelas seolah berada dalam Gua ditengah gurun. Meskipun sudah tau akhir ceritanya tetap Meutya dan rekannya selamat, tapi tetap saja ada rasa khawatir dan penasaran melewati lembar-lembarnya. (Duh, sebagai perempuan, kebayang juga bagaimana repotnya soal urusan kamar mandi).

Dalam kisah buku ini diselipkan juga kisah hidup Meutya Hafid. Karena itu, buku ini jadi mirip biografi juga. Ada foto masa kecil yang membuatku percaya, memang ada ya…mahluk yang ditakdirkan cantik dan beruntung. Hahaha....(tertawa jeuoulos)

Ada yang bilang, orang beruntung susah di kalahkan. Karena back-up nya Tuhan. Meutya salah satunya. Pintar, dan cantik. Tapi dibalik keberutungan itu, sebenarnya diraih oleh satu hal: Keberanian.

Keberanian mengambil resiko. Saat titik terendah tak mampu berbuat apa-apa lagi, disitulah titik awal perubahan dimulai. Dan Meutya dalam kisah ini selalu mengambil saat yang tepat. Perubahan jalan hidupnya bagai lompatan-lompatan setiap ia berani menerima tantangan.

Aku menunggu episode petualangan hidup Meutya selanjutnya. Lompatannya dari dunia jurnalis ke dunia politik. Mungkin kelak lompatan meniti buih-buih di gedung DPR itu. Sekarang sih…aku berharap lompatan-lompatan keberaniannya merubah daerah pemilihnya (Propinsi Sumut) agar bisa menjadi seberuntung lompatan hidupnya. Dari rimba para koruptor, menjadi jauh lebih baik. Semoga.
52 reviews21 followers
March 30, 2018
Sesuatu tentang Timur Tengah yang sangat Timur tengah; Mujahidin, kafiyeh, Kalashnikov. Muslim, budaya, dan liberalisme. Dengan ujung yang paling menyedihkan adalah "perang saudara". Cukup menggambarkan bagaimana porak-poranda Negara Timur Tengah. Dengan peran media yang cenderung memihak Negara Adidaya, jarang sekali yang meliput hitam putih dibalik layar akibat dari perang, yang seharusnya dilihat dari sisi lain, dari sisi Negara yang mereka hancurkan.

Kak Meutya tulisannya apik sekali. Pengalaman seperti ini memang layak dibukukan ya kak.
Tulisannya sih tidak membosankan, tetapi terlalu melibatkan perasaan dan perang dalam diri penulis sendiri. Ada beberapa kalimat yang diulang-ulang sehingga membacanya seperti agak deja vu.

Disini kita bisa melihat sisi lain dari yang kata dunia Barat adalah teroris.
Aku sedih membaca tulisan ini:
"Sebelum mata kami ditutup, Ibrahim menjelaskan bahwa tiga lelaki ini adalah anggota Mujahidin. Setahuku, itulah kelompok gerilyawan yang dijuluki pemerintah Amerika Serikat sebagai pemberontak, dan biasa meledakkan kawasan-kawasan tertentu di Irak, terutama Bagdad, dengan bom mobil. Baru beberapa hari lalu, aku meliput peristiwa ledakan bom mobil di Bagdad. Dan kini, aku bersama kelompok pelakunya?"

Sulit memang untuk tidak memihak ketika dalam keadaan seperti Kak Meutya, dan dengan cuci otak yang dilakukan media yang cenderung mencap Mujahidin sebagai teroris, sehingga sampai sekarang kata teroris lekat sekali dengan Islam. Miris. Padahal, seorang Muslim sejati berhati lembut dan sangat menghormati wanita. Tapi disini aku salut sekali dengan ketidakberpihakan penulis dan menuliskannya dengan lumayan objektif.
Profile Image for Sylvia.
86 reviews3 followers
January 14, 2018
kedua kalinya aku baca buku ini dan ternyata masih merasakan hal yang sama. Aku masih menangis di titik yang sama dalam buku ini. Tulisan yang bener-bener jujur dan memunculkan pertanyaan "kalau aku di posisi mba Meutya, akankah setegar dirinya?"

Ah aku speechless gak bisa ngomong apa-apa lagi. Yang pasti ini buku gak kalah menegangkan dari baca novel thriller
Profile Image for ざらぽよ.
111 reviews24 followers
December 26, 2024
I was 5 when this happened, and I don't remember ever seeing this news back then (I did remember the Aceh tsunami though).

This was a really interesting read on Meutya and Budiman's experience being kidnapped during their business trip to Iraq.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
March 28, 2009
Sedikit Berceloteh

Aduuuh, telat banget aku baca buku keren ini. Buku yang mengisahkan perjuangan Meutya Hafid dan rekannya –Budiyanto, ketika disandera oleh mujahidin di Ramalah, Irak, Februari 2005 silam. Sejauh ini, di tahun 2009, untuk non fiksi, buku ini yang sangat mengesankan bagi aku. Posisinya hanya setingkat di bawah Harus Bisa! : Seni Memimpin a la SBY nya Dino Patti Djalal. Keren daaah!

Tentang “168 Jam dalam Sandera”

Jika aku langsung baca buku ini ketika dirilis 2007 lalu, tentu akan lebih dapet feelnya , tentu karena kejadiannya belum berlangsung lama. Tapi tunggu, nyatanya, ketika buku ini aku baca di tahun 2009, ketika kejadian penyanderaan itu telah berlangsung lebih dari 4 tahun aku masih bisa merasakan ketegangan, ketakutan, kegeraman, keharuan, dan betapa perjuangan mempertahankan hidup itu sungguh berat.

Ternyata, Mbak Meutya dan Mas Budi (kameramen) telah menyelesaikan tugas peliputan pemilu di Irak, ketika Don Bosco –pimpinan redaksi Metro TV, menugaskan mereka kembali ke Irak untuk meliput peringatan Asyura. Mereka sendiri sudah berada di Amman, Yordania, pada saat itu. Mereka berdua sudah ragu untuk kembali, apalagi visa yang mereka miliki hanya untuk sekali masuk ke Irak. Dan, untuk mengurus Visa lagi bukan sebuah perkara mudah. Ini bukan untuk pelesiran, Bung!

Visa sudah digenggam namun kekhawatiran lain masih ada. Terlebih ketika harus memilih apakah harus menggunakan jalur darat atau udara. Semua beresiko. Sangat beresiko. Jalur darat yang akhirnya mereka pilih, yang menurut hemat mereka (setidaknya) jauh lebih aman, malah membuat mereka mendekam di sebuah gua sempit selama 168 jam.

Mereka ditawan bersama seorang guide bernama Ibrahim. Mereka bertiga dituduh oleh kaum Mujahidin sebagai mata-mata politik antek Amerika. Mereka ditahan ketika berada di Pom Bensin. Selama dua jam perjalanan mata mereka ditutup, tubuh mereka diikat lalu akhirnya ditempatkan di sebuah gua buatan sempit di gurun yang ada di daerah Ramalah.

Ahmad dan Muhammad adalah muhajidin yang menyandera mereka. Siapa sangka, ketegangan antara Meutya, Budi, Ibrahim dan dua muhajidin itu pada awal perjumaan mereka belakangan berubah menjadi sebuah hubungan keterikatan yang erat. Todongan senjata pada awal pertemuan tidak lagi terlihat, malah mereka berlima senantiasa saling membantu, saling berbagi kehangatan api unggun kecil ditengah gurun yang ’beku’ karena tengah musim dingin.
Budi bahkan sering membantu mencuci cangkir bekasi Chai (teh ala Irak).
Untuk ukuran korban penyaderaan, perlakuan muhajidin terhadap Meutya, Budi dan Ibrahim sangat baik. Meutya bahkan diberi ruang privasi khusus. Keberadaannya sebagai wanita sangat dihargai dan dilindungi.

Tapi sebaik apapun perlakuan yang mereka dapatkan, Meutya dan Budi tetaplah tawanan. Mereka sempat berada dalam kondisi tertekan, letih luar biasa dan menyedihkan. Bahkan Meutya tidak mandi dan BAB selama disandera. Gimana mau mandi, lah air seember harus mereka bagi berlima.

Penuh lika-liku. Kelebihan lain buku ini, tidak hanya menceritakan keadaan dalam tawanan. Kisah kecil Meutya (SMP sudah hidup sendiri di Singapura euuy! Dapet beasiswa sekolah di sana), kehidupan Budi dan Ibrahim bersama keluarga, serta kehidupan muhajidin sempat dibahas dengan porsi yang pas. Juga ketegangan-ketegangan pihak lain yang ada di Indonesia. Ketegangan istana, departemen luar negerim serta kantor Metro TV.

Aku selalu menaruh hormat tinggi sama siapapun yang berprofesi sebagai jurnalis (makanya aku sempat pingin berprofesi sebagai jurnalis, bahkan sampe sekarang :P hihi) betapa dibutuhkan sebuah integritas yang luar biasa untuk menjadi seperti Meutya dan Budi.

Banyak hal yang aku dapatkan di buku ini. Gak asyik kalo aku ceritakan. Sangat aku rekomendasikan, deh! Pikiran negatifku akan kaum muhajidin sedikit banyak tersingkap. Betapa mereka, kaum muhajidin itu, sebetulnya dalam posisi tertekan dan tertindas juga. Makanya memilih jalan seperti itu. Siapa yang sangka, kaum muhajidin itu ternyata kaum intelek yang masih berusia sangat muda. Bahkan ada yang sembunyi-sembunyi menjadi muhajidin dari keluarga mereka.

Di buku ini juga ada pengantar dari SBY, catatan Don Bosco dan tulisan Dr.R.M Marty dari departemen luar negeri. Catatan-catatan itu juga melengkapi buku ini, dari sudut pandang mereka masing-masing. Akhir kata... luar biasa!

I Think

Sebuah kisah yang memuat banyak nilai dan pelajaran hidup. (setidaknya bagiku ya...)
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books174 followers
February 21, 2011
Sejak invasi Amerika ke Irak pada tahun 2003, sedikitnya 206 wartawan telah tewas di negeri para mullah itu. Saat ini Irak adalah wilayah paling berbahaya bagi pekerja media. Menurut lembaga International News Safety Institute (INSI), sepanjang 2007 saja, telah 64 wartawan yang tewas dibunuh. Saman Fakhri, reporter dari stasiun televisi Al-Alam, Iran, dalam situs eramuslim menyatakan, mereka diserang dari berbagai sisi; oleh pasukan koalisi, polisi Irak, militer Irak, pasukan darurat, dan partai-partai politik yang menyerang baik secara fisik maupun verbal.

Salah satu penyebab tewasnya para jurnalis tersebut adalah penculikan (penyanderaan), dan sedikit dari jurnalis tersebut yang setelah disandera dibebaskan. Kebanyakan tewas dibunuh. Meutya Hafid, seorang jurnalis televisi asal Indonesia adalah satu dari sedikit jurnalis yang “beruntung” dapat dibebaskan dari penyanderaan. Peristiwa penyanderaan Meutya Hafid dan Budiyanto, reporter dan juru kamera Metro TV sempat menyita perhatian masyarakat Indonesia, hampir dua tahun lalu, tepatnya Februari 2005. Ketika itu Meutya dan Budiyanto dikirim televisi tempat mereka bekerja untuk meliput pemilu di Irak. Pemilu pertama sejak kejatuhan Saddam Husein.

Liputan pemilu yang mereka lakukan berjalan cukup lancar selama hampir dua minggu. Saat akan kembali ke Indonesia melalui perbatasan Yordania, perintah untuk meliput peringatan Asy Syura’ di kota Karbala, membuat Meutya dan Budiyanto harus kembali ke Irak. Dalam perjalanan menuju Karbala inilah mereka diculik oleh kelompok Mujahiddin. Selama seminggu mereka disekap di sebuah gua di tengah gurun wilayah Ramadi.

Dalam peperangan, selain rakyat sipil dan petugas kesehatan, wartawan juga termasuk yang dilindungi. Namun sepertinya itu tidak berlaku di Irak (juga beberapa negara lain yang sarat konflik seperti Afghanistan, Sri Lanka, dan Filipina). Khusus di Irak, menurut Meutya yang sedang terjadi bukan sekadar perang senjata namun perang informasi (hal. 75). Maka di sini, posisi jurnalis dengan mulut dan tulisan akan membentuk opini masyarakat dunia. Soal opini inilah yang sepertinya menjadi penyebab “kekesalan” sebagian kelompok pejuang Irak—termasuk kelompok Mujahidin yang menyandera Meutya—terhadap jurnalis yang memberikan opini yang tak seimbang atau bahkan menyesatkan.

“Terus terang kukatakan pada kalian, kami sebenarnya tak suka wartawan datang ke sini. Kami menghormati alasan kalian meliput di sini untuk menyajikan pemberitaan yang berimbang. Tetapi, kami meragukannya. Kenyataannya malah banyak yang memojokkan perjuangan kami. Bahkan, ada juga mata-mata yang berkedok sebagai wartawan.” Begitu pernyataan Rois, pemimpin kelompok Mujahidin yang menyandera, saat menginterogasi Meutya dan Budiyanto.

Lepas dari pemerintahan otoriter Saddam (yang menjadi alasan kambing hitam invasi AS), Irak adalah korban ketidakadilan dunia. Negeri tersebut hancur lebur, rakyatnya jadi terpecah, kecurigaan menjadi sebuah hal lumrah bagi rakyat Irak terhadap orang luar, termasuk jurnalis. Setelah menyaksikan VCD yang sengaja diputar oleh penyandera yang berisi kondisi kota Ramadi saat hari pertama penyerangan AS, Meutya Hafid pun mengakui, para penyandera tak punya banyak pilihan.

"Nun di lubuk hati terdalam, aku memahami pilihan mereka. Ketika manusia ditekan di luar batas kewajaran, maka insting pertama adalah memberontak. Keberadaan pasukan asing merupakan bentuk penjajahan, dan penjajahan harus dilawan. Bukankah kita juga menganut paham bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan?" Begitu tulis Meutya di halaman 115-166.

Maka, buku ini bukan sekadar menuturkan hari-hari penulis selama disandera. Hari-hari yang penuh pergulatan emosi, bagaimana rasa takut dan harapan berbaur dengan kepasrahan. Juga sebuah renungan bagi seorang jurnalis tentang makna kemanusiaan dan kemerdekaan.

Yang juga menarik adalah bab terakhir buku ini, yang merupakan refleksi penulis tentang pekerjaan seorang jurnalis yang sering kali menantang bahaya demi keinginan memperoleh berita ekslusif. Padahal keselamatan diri juga harus diperhitungkan. Sering kali, jurnalis juga kurang melengkapi diri dengan perangkat keselamatan. Untuk meliput di medan perang misalnya, harus memakai rompi dan helm antipeluru. Di akhir buku, Meutya menulis: Perjalanan 168 jam dalam penyanderaan menyadarkanku, betapa pengetahuan dan keberanian tidaklah cukup sebagai modal wartawan perang. Yang lebih penting lagi adalah mengendalikan diri: kapan harus melangkah dan kapan saatnya berhenti.
Profile Image for Anna Fillaah.
131 reviews6 followers
March 11, 2014
Sure! Saya selalu tertarik membaca memoar kisah hidup seseorang. Seringkali menyentuh dan dapat langsung dipetik hikmah dari balik kisah yang mereka alami. Ini salah satunya, apalagi berputar tentang pengalaman jurnalistik. Wah, saya akan langsung berusaha melumatnya, apalagi cara penulisannya yang mengalir mengantar pemabca juga mengikuti arusnya hingga mencapai titik klimaks yang ingin penulis tunjukkan. Tidak diragukan lagi, pengalaman jurnalistik membuat buku ini nyaman dibaca. Mendebarkan. Seakan ini sebuah settingan yang rasa-rasanya sangat ingin pula saya rasakan kalo tahu pada akhirnya akan selamat. Sungguh sebuah kisah yang menarik dan mendebarkan. Tapi penulis sebagai tokoh utama yang mengalami dan belum mengetahui ending kisah nyatanya, tentu saja sangat tidak ingin mengalaminya, siapapun. Sebuah pengalaman dan poerjalanan jurnalistik yang menarik dan mendebarkan. Keren :)
Profile Image for Mita Oktavia.
Author 1 book10 followers
December 9, 2015
Sebenarnya udah namatin ini dari lama, tapi karena udah jarang buka GR jadi jarang diupdate deh XD

Ah, nggak pernah senyaman ini baca buku biografi, memoar atau sejenisnya. Soalanya seringnya merasa bosan. Mungkin untuk buku ini agak subjektif, soalnya memang sedang tertarik dengan semua hal yang berbau jurnalistik.
Tapi buku ini keren! Karena kisah nyata dan dituturkan oleh seorang jurnalis, jadi ya nggak diragukan lagi bahasanya yang mengalir dan enak dinikmati. Terlebih ini memoar, seperti membaca buku harian jadinya.

Saya nggak bakal bisa bayangkan bagaimana ada di posisi Meutya dan Sang kameramen ketika di Sandera di Irak, pasti takut bercampur sedih, tapi kisah ini dituturkan dari perspektif seorang sandera dan sisi lain dari penyanderanya. Banyak pelajaran dan hikmah yang saya dapat dari buku ini.

Oh iya, kayaknya keren juga kalau ini dibuat film dokumenternya.

Profile Image for Amri Ilmma.
1 review
January 31, 2012
Tulisan yg dibuat oleh Meutya sangat menarik untuk diikuti, banyak hikmah dan pelajaran berharga yg bs dipetik, terutama tentang betapa berharganya hidup manusia apalagi ketika sedang diuji dg cobaan yg sangat berat. Meutya bercerita dg jujur dan apa adanya ketika ia meliput dan disandera. Cerita mengalir dari menegangkan, mengharukan, hingga membahagiakan. Namun saya tidak suka bagian2 dari cerita yg terlalu menyanjung metro tv pada khususnya dan 2 bab tambahan yg ditulis bukan oleh Meutya yg menurut sy tidak menarik dan dibuat hanya untuk pencitraan saja.

Secara keseluruhan, buku ini sangat baik, menarik dan layak untuk dibaca.
Profile Image for Bayu Sadewo.
82 reviews5 followers
January 3, 2013
I love this book, tiada kata-kata lain. Actually, i love the story! Well, dulu saya bercita-cita juga jadi jurnalis, tapi tidak mendapat restu Ibu karena takut aka risikonya, masih jelas terbayanag alm. Ersa Siregar waktu itu. Tapi mbak Meutya ini mewujudkan suatu pandangan baru, mereka, para jurnalis, berjihad dalam jalannya menggunakan pulpen dan tinta hanya untuk menyajikan informasi yang berimbang dan tidak sepihak. Seribu jempol untuk keberanian, kecerdasan, dan kesabaran pmbak Meutya dan tentunya jurnalis lain dis eluruh dunia atas dedikasinya.
Profile Image for Annisa Deryana.
16 reviews
January 22, 2008
Buku lama yang akhirnya bisa gue baca. Dari paragraf pertama, gue langsung terperangkap dalam ceritanya. N reaksi pertama gue adalah, "Damn, she's smart!". Alurnya padat, bahasanya enak dibaca (dasar reporter!), dan cukup membuat gue larut dalam ceritanya.
Walo pun masih harus menyelesaikan 2/3nya lagi dan tentunya udah ketauan endingnya, tapi gue yakin gue tetap akan menikmati buku ini dari awal sampai akhir.
Profile Image for Ichan.
9 reviews4 followers
January 31, 2008
Salut ama detil alur ceritanya, semua orang pasti mengalami tekanan yang hebat bila berada dalam posisi batas hidup dan mati. Lebih hebat lagi Meutya masih bisa "mengamati" untuk menceritakannya kembali dengan baik. Yang paling menarik dari buku ini adalah bagaimana "perjuangan" penculik membebaskan sanderanya dalam keadaan selamat dan bagaimana negara berkewajiban melindungi warga negaranya dimanapun dan kapanpun.

Jurnalis yang baik menyampaikan fakta dan bukan opini.....
Profile Image for Yuanita Alamsyah.
17 reviews5 followers
December 19, 2007
Memoar yang bagus banget ditulis dari goresan tangan Meutya Hafid sang jurnalis Metro TV tatkala ditugaskan ke Iraq.
Terbayang dengan jelas bagaimana Meutya dan cameraman Budyanto ketika disandera ditengah gurun di negeri seribu mesiu "Iraq".

my words : "sebaiknya baca buku ini dan bersyukurlah atas semua kemudahan yang telah kita dapat selama ini".

y
Profile Image for Arierach hs.
1 review
January 15, 2008
168 Jam Dalam Sandera suatu buku yg bukan hanya menunjukkan tentang kehidupan ketika seoang jurnalis [ red:Meutya Hafid dan camera person Budyanto ] akan tetapi lebih menunjukkan suatu pola pemberitaan yg akan dilaporkan, dimana memang laporan berita itu harus berimbang dengan fakta yang terjadi. Tdk ada bumbu penyedap, dan tdk ada fiksi yg tdk ilmiah.
Profile Image for Tri.
29 reviews
September 2, 2015
Merindukan suatu tempat yang kita kenali. Seseorang telah melakukan perjalanan yang panjang dan atau melelahkan. Pulang menjadi hal yang sangat dinantikan. Pulang ke orang-orang yang menanti dan merindukan keberadaan saya. Mata-mata yang berbinar melihat keberadaan saya nyata di depan mereka. Pelukannya. Ciumannya. Pulang, menurut saya adalah kata yang hebat.
26 reviews
January 14, 2008
Ternyata oh ternyata hidup itu pedih .Hiks hiks , sedih banget apalagi pas nyeritain alm bapaknya. Biasa ngeliat meutya di tv cantik selalu di foto dalam buku ini meutya terlihat amat sangat kumal.Hehehehe
Profile Image for Niken Prathivi.
3 reviews
March 3, 2008
Gaya tulisan Meutya enak. Deskriptif, personal, tapi tetap mewakili profesi dia sbg jurnalis hard news.

Ada banyak pengalaman yg di-share penulis dengan keterangan seperlunya, detil tapi nggak bertele-tele.

Bisa jadi referensi menarik buat jurnalis mula.

Nice piece.
Profile Image for miss hfan.
318 reviews6 followers
January 9, 2010
Memoar yg menggugah qalbu. Beberapa kali membuat ku tak kuasa menahan air mata.
Pengalaman yg mengajarkan indahnya sebuah "kepasrahan pada-Nya" berhasil disampaikan dg baik..

"Iman yg teguh sanggup mengatasi bahaya & kesulitan (H.R.A)"
Profile Image for Nisa diani.
20 reviews4 followers
May 18, 2010
seperti baca liputan di tivi, gaya reportase jurnalis membuat detail pemaparan sangat enak diikuti. :D hanya saja aku g begitu suka meutya menulis dengan sudut pandang manusia dipandang terlalu hero disini.

entah centre terlalu "aku" memang nggak nyaman aku baca kali ya?
Profile Image for mona.
29 reviews
June 9, 2011
Seperti apa sih kehidupan warga Irak yang berusaha memperjuangkan kehidupan yang lebih baik, berusaha lepas dari tekanan dan memperbaiki keadaan Irak yang luluh lantak ? Terutama kehidupan kelompok Jaish Al Mujahideen yang menyandera Meutya Hafid dan Budiyanto, reporter dan cameramen Metro TV.
46 reviews
November 11, 2007
Women are supposed to be strong and smart like Meutya.. Being weak, stupid, consumtive and dependent will only make us underestimated..
Profile Image for Hanaitsi.
73 reviews3 followers
July 27, 2008
perasaan "dipermainkan" menjelang pembebasan bikin gemes sekaligus menyebalkan
Profile Image for Nururulaeni.
28 reviews9 followers
September 20, 2018
Sangat ngeri mencoba merasakan pengalaman disandera. Saat kita diantara hidup dan mati. Tapi harapan harus selalu ada.
28 reviews
April 3, 2017
Buku yang menegangkan, (wah untuk para jurnalis yang ingin berkecimpung didunia berita khususnya yang ingin menjadi reporter harus berhati-hati), selain itu buku ini juga mengambil kisah yang benar-benar dialami oleh penulis, sehingga menyibakkan kita terhadap kenyataan bagaimana para reporter di negara kita bekerja.
Displaying 1 - 30 of 30 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.