Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kalatidha

Rate this book
Seorang pembobol bank masuk penjara, dan membaca kembali kliping koran-koran Indonesia dari tahun 1965. Namun ia sendiri hidup dalam berbagai dunia, yang tidak selalu bisa dipisahkannya, karena memang hadir begitu nyata. Dari mistik sampai politik, dari cinta sampai bencana, dari yang masuk akal sampai yang gila ...

Kalatidha = Zaman Rusak

234 pages, Paperback

First published January 1, 2007

Loading...
Loading...

About the author

Seno Gumira Ajidarma

99 books843 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
54 (17%)
4 stars
82 (26%)
3 stars
113 (36%)
2 stars
45 (14%)
1 star
12 (3%)
Displaying 1 - 30 of 50 reviews
Profile Image for Ardita .
337 reviews6 followers
April 11, 2008
Dalam "Jazz, Parfum dan Presiden" SGA kira-kira menulis, "jika jurnalisme bungkam, sastra bicara.." (maaf kalo salah kutip).

Nampaknya, karya SGA makin dekat dengan urusan "cara pengungkapan" dan "penggunaan bahasa", tapi dengan misi tertentu. Dalam buku ini, misinya seputar 1965.

Namun, cara SGA mengorganisasi tulisannya tidak sebaik "Misteri Kota Ningi" yang dimuat di "Jazz, Parfum dan Presiden". "Ningi" bercerita tentang pembantaian di kuburan Santa Cruz, Dili, Timor Timur.
Profile Image for Endah.
285 reviews161 followers
January 6, 2009
Peristiwa Gerakan 30 September atau lebih dikenal dengan sebutan G 30 S – kini lebih sering ditulis tanpa PKI, sebab keterlibatannya masih perlu pembuktian – telah tercatat dalam perjalanan bangsa ini sebagai sejarah yang penuh luka. Masih begitu banyak misteri yang belum benar-benar terungkap di baliknya. Namun, yang jelas peristiwa tersebut memakan banyak korban jiwa anak bangsa yang mungkin tak terlibat sama sekali.

Barangkali berpuluh buku telah ditulis – fiksi dan non fiksi – ihwal insiden berdarah itu dalam berbagai versi. Satu yang paling mutakhir adalah novel Kalatidha buah tangan Seno Gumira Ajidarma. Kalatidha mengandung makna “zaman rusak”; dinukil dari salah satu syair karya Ranggawarsita (1802-1873) :

Masih dengan ciri khasnya mencampuradukkan realis dan surealis, Seno membangun cerita dalam dua bagian : masa lalu dan masa kini.

Adalah aku tokoh utama dalam buku ini, seorang pengusaha yang tengah menjalani hukuman penjara lantaran aksinya membobol bank terbongkar. Di dalam selnya ia berkesempatan memutar kembali ingatannya ke masa silam berkat guntingan-guntingan berita di koran milik kakak perempuannya yang berhasil ia selundupkan. Melalui kliping koran itu, terkuaklah beberapa hal dari masa lalunya yang bersangkutan dengan peristiwa G 30 S.

Dari sinilah Seno menyelipkan inti kisahnya seputar G 30 S. Sebuah luka sejarah yang menyisakan sejumlah trauma, dendam, dan sakit hati bagi korban dan keluarganya. Pernah satu masa di negeri yang mencantumkan sila kemanusiaan yang adil dan beradab pada urutan kedua dasar negaranya ini terjadi pembantaian manusia secara besar-besaran dalam sebuah upaya kudeta.

Sampai sekarang jumlah korban yang mati masih simpang-siur. Ada sumber yang menyebut ratusan ribu, tetapi ada pula yang yakin bahwa angkanya mencapai jutaan. Wallahualam. Selain yang mati, banyak juga yang dibui tanpa pernah diadili terlebih dahulu. Sebagian tapol (tahanan politik) itu dibuang ke Pulau Buru dan Nusa Kambangan. Termasuk sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

Di novel ini, korbannya adalah seorang gadis cantik. Keluarganya dihabisi di depan mata kepalanya Termasuk saudara kembarnya. Rumah mereka dibakar massa. Ia sendiri berhasil selamat walaupun akhirnya menjadi gila. Dalam kegilaan, ia melampiaskan dendam kesumatnya kepada orang-orang yang telah membakar rumah dan membantai keluarganya. Namun, dalam kegilaannya masih juga ia diperlakukan secara kejam dan tak senonoh dari orang-orang di sekitarnya. Jika begini, entahlah, siapa yang lebih gila. Atau memang zaman sudah gila. Dunia dipenuhi orang-orang gila.

mengalami zaman gila
hati gelap kacau pikiran
mau ikut gila tak tahan
jika tidak ikut tak kebagian

Sebetulnya, kisah ini akan jadi lebih menarik andaikata Seno hanya berpijak di wilayah real. Dengan mengikutsertakan juga wilayah sureal jadi terkesan Seno pingin cari gampangnya saja. Seperti dongeng, bermain-main dengan logika, dan terasa “kurang serius”. Tidak seperti pada Negeri Senja (2005) yang sureal total, Kalatidha membikin kita jumpalitan meloncat-loncat antara yang real dan sureal. Bagi saya cukup melelahkan, meskipun sedikit terhibur juga oleh beberapa adegan ala cersil (cerita silat).

Ah,semoga ini agaknya hanya lantaran saya tidak begitu suka yang sureal-sureal. Pokoknya, nikmati sajalah, minimal permainan katanya yang memang indah. Dan akhirnya, kita bisa merasa asyik juga kok.

Anda punya pendapat lain?
Profile Image for Anggraeni Purfita Sari.
84 reviews9 followers
July 24, 2012
Buku pertama Seno yang saya beri bintang 2.
Agak sedih memang karena jujur, saya mengagumi kebanyakan karya Seno. Sayang, sepertinya buku ini menjadi perkecualian. Kecuali pilihan diksi yang memikat ala Seno, dan juga Catatan Joni Gila-nya yang menghibur, buku ini nyaris seperti gabungan beberapa cerpen yang dipaksakan menjadi satu novel yang utuh sehingga banyak bagian yang agak nggak nyambung dan membingungkan. Bagian Negeri Cahaya misalnya, menurut saya useless dan tidak nyambung, malah lebih baik dihilangkan saja. Penguat buku ini adalah gaya kolase dengan tempel-tempelan koran serta gambar ala Budi Darma untuk memperkuat cerita.
Profile Image for Gustia Mardalena.
26 reviews
September 1, 2021
Buku Kalatidha yang saya baca ini merupakan terbitan edisi kritis dengan pembahas Hilmar Farid dan Melani Budianta. Tampak sampulnya yang berbeda dari sebelumnya, merah kehitaman yang memberi kesan gelap.

Ekspektasi saya terhadap buku ini cukup tinggi. Saya tertarik sejak membaca sinopsis dan bab awal yang begitu dalam dan filosofis, tentang kabut pada hutan bambu yang membalut sejarah kelam di Indonesia. Di situlah cerita berawal dengan narator 'aku'. Sampai pada bab-bab tertentu tentang imajinasi si 'aku' ini, rasanya agak sulit memahami maksud dari narasi yang begitu panjang, runtut, rumit tanpa jeda tanpa koma tanpa memberi ruang untuk berhenti kalau saja membacanya tanpa konsentrasi penuh, meski di beberapa kalimat, saya mesti mengulang-ulang lagi agar menjadi paham atau paling tidak berusaha mendekati pemahaman si penulis.

Novel ini mungkin terkesan lompat-lompat seperti layaknya cerpen, tetapi berdasarkan apa yang disampaikan oleh Pak Seno sendiri dalam 'Pengantar'-nya, maka sejak awal saya mengerti mengapa novel ini dibuat seperti itu.

Secara keseluruhan saya suka novel ini, walau di beberapa bagian masih terasa menggantung, atau hanya sekadar tempelan, atau mungkin sayanya yang kurang wawasan?

Mungkin di lain waktu, interpretasi saya akan berubah seiring berkembangnya pengetahuan.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
313 reviews6 followers
August 21, 2023
Membaca novel Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma membuat otak kecil saya jungkir balik. Bahkan saya hampir menyerah ditengah cerita. Buat pembaca awam seperti saya, agaknya terlalu banyak informasi yang harus diproses. Antara isu/tema yang satu dan lainnya dituliskan saling berloncatan dan timbul tenggelam tanpa sanggup saya tangkap alurnya.

Dari sekian banyak isu yang diangkat, saya hanya sanggup mengikuti satu cakupan besar tentang cerita dalam novel ini yaitu tentang politik dan rentetan panjang efek dari isu PKI tahun 1965. Selebihnya saya hanya berusaha untuk tetap tidak berhenti sampai halaman terakhir. Dalam novel ini hal-hal surealis dan realisme muncul bergantian.

Novel ini bukan tidak bagus, bisa jadi karena saya belum terbiasa dengan bacaan sejenis ini. Oleh karenanya, saya anggap buku ini adalah sebuah bacaan yang berisikan pengetahuan baru. Sehingga kedepannya jika menemukan bacaan serupa, saya bisa lebih mudah memahami maknanya.
12 reviews
August 23, 2021
Kejadian-kejadian mengenaskan yang dialami tokoh utama ketika kecil disajikan dengan begitu gamblangnya di bagian awal cerita. Tragedi yang disaksikannya secara jelas, mata yg ia ingat dari tatapan mereka yg terbunuh.
sebagian penyajian dunia awang-awang yang disajikan terasa dipaksakan dan kurang terhubung satu sama lainnya sehingga sulit untuk terhanyut dan melebur ke dalam cerita.
Profile Image for Setra.
12 reviews
May 10, 2020
Entah, tapi aku tidak menemukan rasa kepenulisan Seno di buku ini. Aku baca ini di thn 2019. Saking tak berbekas dan dipaksa hanya sekadar menghabiskan aku tidak ingat detail ceritanya, tapi kl tak salah ttg sejarah. Y kl slh maap.
Profile Image for Anggodo Goenawan.
27 reviews3 followers
September 28, 2022
Baru kali ini aku seperti merasakan Seno menulis dengan narasi yang gamang. Seperti kurang meyakinkan begitu, menurut subjektifku. Seperti memang dibuat konsep begitu. Atau tema dalam novel ini begitu sensitif? Harusnya, ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara bukan Mas Seno?
Profile Image for Nonna.
137 reviews3 followers
November 21, 2019
Seno atau si Joni sih yang sebenarnya gila?
5 reviews
June 5, 2020
Peristiwa bersejarah meninggalkan banyak korban termasuk perempuan yang dibakar dan diceritakan di buku ini.
Profile Image for Naufal Fauzan.
19 reviews1 follower
September 30, 2021
Salah satu tulisan terbaik soal trauma dan luka yang terus bersama pasca pembantaian komunis di Indonesia
Profile Image for DKay.
63 reviews1 follower
May 20, 2022
Sebuah cara keren untuk menceritakan sejarah kelam bangsa ini
Profile Image for Arif Fatoni.
11 reviews1 follower
September 13, 2022
Kali pertama saya sempat ragu dengan apa yang saya baca: sebuah karya dari seorang Seno Gumira Ajidarma.
177 reviews
January 20, 2024
It's just too hard to read and to me the important issue just being a shadow of a confusing story telling
Profile Image for Aditya Agni.
47 reviews3 followers
August 24, 2024
"... apakah masih perlu menentukan perbedaan waras dan gila."
Profile Image for Teguh.
Author 10 books345 followers
April 16, 2014
Pembukaan novel ini bercerita agak menyeramkan. Tokoh aku yang begitu dekat dengan kabut dan hutan bambu dekat rumahnya. (entah mengapa hutan bambu, imajinasiku berkembang pada adegan Dewi Kwan Im yang ngasih titah pada biksu Tomsamcong di hutam bambu). Di hutan bambu itu ada 12 kuburan, 11 kuburan tentara jepang dan 1 kuburan anak-anak. Dan muncul suara-suara yang terus saja memanggil-manggil hendak meminta sesuatu...Yang ternyata permintaan itu berhenti ketika si 'aku' tanpa sengaja membunuh kucing dan dikubur di hutan bambu.

Sudah disinggung masalah per-PKI-an di awal-awal. Mulai terjadi pencidukan di sekolah, 'aku' yang menggambar palu-arit di pelajaran menggambar di sekolah dan dipanggil kepala sekolah, lalu isu-isu PKI di koran. Terlebih ternyata kakaknya juga menjadi korban pencidukan PKI karena memiliki kekasih anggota lekra dan berteman dengan orang-orang yang juga aktivis PKI.

Yang menarik dari bagian awal ini adalah penceritaan tentang lingkungan dan ingatan si'aku' waktu kecil. Tentang sungai yang membatasi dua daerah dan 12 kuburan di hutan bambu. Si aku bercerita bahwa sungai yang memisahkan daerah P dan M adalah pemisah secara ideologis. Betapa para priyayi P yang merasa derajatnya lebih tinggi memang berusaha menjauhi para pemukim kelas bawah di kampung M(h.10). Hal ini juga disinggung secara implisit dalam sebuah adegan yang penuh simbolik, bagaimana si aku membenci tikus wirog yang suka memakan ikan peliharaannya. TIkus itu digambarkan sangat besar dan tidak ditakuti oleh kucing sekalipun. Setiap kali hendak membunuh di tikus wirog AKU selalu kesusahan, karena tikus wirog berlari ke kampung M yang kumuh dan tidak mengizinkan membunuh tikus. Betapa kampung M di simbolkan memuja para tikus?

Ternyata persimbolan tentang Aku yang memusuhi tikus wiorg berlanjut dan dikaitkan dengan PKI. Semasa AKU kecil menyaksikan pembakaran rumah dan pencidukan orang-orang yang diduga PKI (Aku kecil tidak mengerti PKI). Tetapi ada pertanyaan besar dan kegelisahan AKU yang menyaksikan pencidukan tanpa pandang bulu tersebut: Makna cahaya terang itu bagiku bukanlah untuk mengetahui siapa kawan siapa lawan, karena musuhku hanya tiga mahkluk: si wirog, si musang, dan embah ular sawah -itupun yang telah memangsa ikan, ayam, dan belut peliharaanku, bukan seluruh wirog, musang, dan ular sawah yang ada di dunia(h.42) AKu kecil ternyata sudah berdaya protes tinggi, orang-orang yang hanya terlibat PKI tanpa mengerti urusan dengan Gerakan 30 September diberantas. Apakah orang-orang yang diciduk selama inni termasuk manusia-manusia biadab yang membunuh para jenderal itu-jika tidak, mengapa harus diciduk dan tidak pernah kembali?(h.42 juga)

Kekritisan akan ketidakadilan dalam diri AKU tumbuh ketika masuk penjara dan bertemu dengan si Jonny Gila dan kisah perempuan kembar yang membalas dendam.
Perempuan kembar yang diciduk karena kasus PKI juga, dituduh gila dan dimasukkan rumah sakit jiwa. Di sana ternyata bukan disembuhkan, justru jadi bulan-bulanan para pegawai RSJ sebagai budak seks dan dianiaya hingga meninggal. Arwahnya membalas dendam lewat tubuh saduara kembarnya, dan SI Jonny lah yang jadi kambing hitam.

Lalu permasalahan muncul bukan hanya pergesekan ideologi antara PKI dan Nasionalis, tetapi masalah kesenjangan antara penduduk lokal tempat AKU dan para pemilik modal yang hendak membunihanguskan hutan bambu untuk dijadikan mall. (Jujur belum diketahui mengapa AKU sampai dipenjara, tetapi dari cover belakang bisa diketahui kalau ia perampok bank.) Apakah mermapok bank adalah protes atas kesenjangan antara mall gegap gempita dengan kampungnya yang terkepung nasib tidak baik?

Makhluk bernama njing diburu manusia untuk menyambung hidup penjual maupun pembelinya, sedang makhluk bernama manusia diburu sesama manusia untuk diakhiri hidupnya, entah demi apa. TUhan, selamatkanlah bangsa kami!

Seno pandai mengakhiri novel, tidak perlu dijelaskan bagaimana nasib AKU, Jhonny si Malin Kundang, atau si kembar yang memeram dendam. Tapi ini kan tentang KALATIDHA, yaa cukup dijelaskan bagaimana ending dari kekisruhan zaman, cukup dijelaskan bagaimana kisruhnya negara ini sejak zaman 1965 hingga 2000-an yang menyisakan bindam dan jurang perbedaan yng dalam. Konflik 1965 didasari jurang ideologi, sedang 2000an disebabkan oleh beda ekonomi dan kesejahteraan.

FYI: Kalatidha bukanlah karya Rangga Warsita yang terpanjang. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait dalam metrum Sinom. Kala tidha secara harafiah artinya adalah "zaman gila" atau zaman édan seperti ditulis oleh Rangga Warsita sendiri. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga panutup atau "pujangga terakhir". Sebab setelah itu tidak ada "pujangga kerajaan" lagi. (Sumber wikipedia)

Sungkem ke Seno Gumira Ajidarma!!
3 reviews
August 4, 2019
Kalathida mengingatkan kita agar tidak melupakan sejarah bangsa ini. Sekelam apapun sejarah yang pernah dialami, kita harus menerimanya. Menurut saya, peristiwa yang digambarkan oleh SGA begitu epik mengenai kondisi di zaman orba, terlebih lagi dengan ditambahkannya beberapa klipingan koran, membuat imajinasi pembaca makin lekat dengan kondisi-kondisi yang terjadi pada masa itu. Juga bukan tanpa alasan dalam novel ini SGA memuat "Kematian Marat", yang menurut saya hal itu menggambarkan korban pembantaian 1965 dan di hal 197, in my opinion that "the issues on caricature continue to exsist in our country."

Kiranya, memang Kalatidha adalah edisi kritis yang wajib dibaca! Ada kata-kata bijak: "bangsa yang tidak mau belajar pada masa lalunya, akan terkutuk untuk mengulanginya (hal 226)".
Profile Image for Tums.
4 reviews
July 14, 2019
Membawa kita pada kejadian dimana banyak pelanggaran dan kekerasan terhadap sesama, dengan penderitan dari kedua tokoh, karya yg bagus dari SGA. Dalam Kalathida sangat kaya akan pesan moral dan pengetahuan sejarah masa lalu bangsa kita.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 26, 2012
Begitulah resminya aku bersalah, tetapi sesungguhnya aku merasa mendapat berkah.
Dunia di luar memang jauh lebih mengerikan karena para penjahat dari jiwa yang tergelap dan hati yang terdingin berkeliaran bebas dalam jubah kesucian mereka yang menyilaukan.



Membaca Kalatidha seperti membaca sebuah kolase dalam kolase, kumpulan kliping koran tahun '65 yang dibalut dalam kisah kelabu ingatan seorang dalam penjara. Si tukang kibul ini, saat tubuhnya berada dalam kungkungan sel, pikirannya bebas menembus ruang dan waktu, mengembara ke negeri cahaya. Dan yang menjadi titik berat memorinya adalah seorang gadis cilik yang keluarganya dituduh PKI. Kisah gadis ini, berselang-seling dengan lamunan negeri cahaya dan catatan gila si Joni, terjalin dalam alam surealis yang sendu. Menikmatinya, janganlah dengan logika dan mengharap kejelasan, tapi dengan ikut menyusuri nuansa-nuansa yang diberikannya.



Biarlah kabut itu untukku, biarlah rahasia itu untukku dan hanya untuk diriku, supaya aku memiliki sesuatu yang seolah-olah memang diciptakan untukku dan hanya untukku.

Biarkanlah kabut itu tetap saja begitu, seperti puisi yang penuh misteri, yang setiap kali dibaca kembali akan menjadi baru.

26 reviews5 followers
July 10, 2008
Seno seperti kehabisan nafas dalam menulis novel.

membaca novel Seno seperti membaca kepingan-kepingan cerita pendek yang dirangkaikan. ada lebih dari dua cerita yang sengaja disuperimposisikan. kesemua cerita itu sepertinya tidak berhubungan tetapi tetap berhubungan. masing-masing tokoh (sang tokoh utama dengan harta berupa kliping berita milik kakak perempuannya) akhirnya bertemu gadis keturunan cina korban penyiksaan di dunia cahaya. dunia dimana setiap makhluk tertampil sebagai cahaya.

lalu ada si orang gila yang berpura-pura gila yang bertemu gadis cina dalam dunia nyata di rumah sakit jiwa.

lalu ada potongan berita dalam kliping yang menceritakan peristiwa sepetember 1965.

gadis cina yang dirasuki nyawa saudara kembarnya _dalam bentuk cahaya yang melesa_sibuk membalas dendam kesana kemari dengan kostum mirip pendekar perempuan masa lalu.

dengan komposisi dan alur penceritaan yang meloncat-loncat, novel ini cukup absurd. dan cukup melelahkan.

Semo Gumira Ajidarma gemilang ketika menulis cerpen, tapi tidak dalam menulis novel.
Profile Image for Wikupedia.
65 reviews29 followers
Read
November 10, 2007
belum selsai di baca, jadi belum bisa ngasih rating...
tapi ntuk sementara buku ini memang butuh konsen yang cukup lumayan dalam membacanya...
memadukan dua tema ceritera utama, tentang kebusukan politik serta dunia awang-awang yang surealis khas seno...
yang paling saya tunggu justru tidak ada di novel ini...yaitu kata pengantar...
seno selalu menyenangkan jika menulis kata pengantar, maka novel ini sebetulnya akan lebih menarik jika seno menulis sebuah kata pengantar..mungkin menungu cetakan kedua...dan yang pasti menunggu novel ini jadi best seller....
tau kan kebiasaan penerbit kita??
Profile Image for Wildan.
36 reviews
May 29, 2012
Kalatidha = zaman rusak

Sebuah syair karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita yang ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi.

Menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
bagaimana akan mendapatkan bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Membaca novel ini kita seperti disuguhi gambaran dari syair tersebut. Di tilik dari kacamata realita yang terjadi saat ini.
1 review
December 24, 2008
Ketika aku baca ni novel, saya menemukan sebuah penggambaran yang cukup bagus mengenai fakta sejarah yang selama ini sering diperdebatkan dalam forum-forum ilmiah. Terlepas apakah isu mengenai keterlibatan PKI dalam pembunuhan Dewan Jenderal penting atau tidak, novel ini memberikan ulasan sejarah yang cukup menarik dengan gayanya yang cukup apik pula. Saya melihat, nampaknya Seno Gumira Ajidarma sedang asyik masyuk dengan sejarah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
September 13, 2013
rhe memang belum pernah baca tulisan SGA. tapi yang terasa cdari cerita ini adalah, tokoh yang loncat-loncat, penceritaan yang loncat-loncat, menikmati na yang sambil loncat-loncat. penulis na seakan tidak mau mabil alur pembaca umum dan membawa pembaca na ke dunia imajinasi baru. disuguhi cerita atau dihadapkan muslihat.

hanya saja penulis na juga seakan loncat-loncat, bukan girang tapi loncat-loncat congkak dengan tulisan na

-18 '13-
Profile Image for Miranda Harlan.
Author 124 books11 followers
December 28, 2007
I've expected too much from this book. It is about someone who lived around year 1965 and was affected by communist holocaust back then. Including some clippings from some newspaper (Kompas and Berita Yudha were several names I could remember). But the story itself wasn't really a 'clear' one. I love the former SGA's writing better; they were simpler and, thus, became more beautiful.
Profile Image for Rina.
116 reviews37 followers
October 17, 2013
Sedikit kangen sama Oom ini, dan cukup terobati setelah baca halaman-halaman pertama sampai setengah buku.

Masih tetep romantik seperti dulu, magis, dengan nuansa kepedihan. Tapi terlalu surreal. Sehingga saya suka kesulitan berusaha memahami alur ceritanya.

Dan gak sanggup menyelesaikan baca. Mungkin kapan-kapan.
Profile Image for Ceisarpurba Purba.
36 reviews5 followers
June 22, 2011
Buku yang sangat detail... Untuk nyeritain pepohonan bambu aja bisa 1 halaman A5. Pucuk daun hijau dan berembun di ujungnya yang runcing, digoyang oleh angin yang pelan berhembus...beugghh...lovely...

Imajinasinya nabrak2 dah. tapi kaya dengan kata2 bermakna.
SGA...love u much.
Profile Image for Fakhrul Muslim.
33 reviews
July 24, 2014
perpaduan antara realis dan surealis yang agak aneh menurut saya,
anyway saya tetep suka buku ini karena mengangkat tema sejarah G30S dengan gayanya Seno. tapi sayang beberapa bagian surealisnya kurang masuk ke inti cerita.
Displaying 1 - 30 of 50 reviews