Aruna merasa dirinya berada di puncak karier ketika baru ditunjuk sebagai branch manager. Namun, satu per satu rekan kerja Aruna menghilang, termasuk branch manager sebelumnya, Pak Arifin. Semua bukti dan tudingan mengarah kepada Aruna. Namun, Aruna bersikeras bahwa dia merupakan korban penculikan.
Jemmi meragukan penyebab kematian Pak Arifin yang ganjil, terlebih ketika kuburannya dibongkar dan tengkoraknya diambil oleh orang tidak dikenal. Sebagai polisi, Jemmi bertekad mengungkap kasus yang menimpa teman masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya.
Satu hal yang diyakini Jemmi adalah, semua kematian di sekitar Aruna berkaitan dengan ritual pesugihan Anggara Kasih.
Bukankah seharusnya hamparan teh yang hijaunya tidak terlihat karena malam bisa mendatangkan ketenangan jiwa? Atau, justru daun-daun teh bisu ini menjadi saksi bagaimana jiwa-jiwa yang tenang itu harus meluap karena nafsu manusia?
Aku nggak bisa relate dan bersimpati dengan Aruna si tokoh utama walau kisah hidupnya cukup tragis, karakternya nggak konsisten, dan kontradiktif dengan narasi yang berusaha dibangun. Aku juga moodnya lumayan ngedrop, susah balik, setelah disuguhi kalimat berulang tentang deskripsi rumah di paragraf kedua dan keenam DI HALAMAN PERTAMA, like... itu kan baru halaman-halaman awal ya, hellowwww editor?? hellooowww proofreader?? hellooooowww writerrrr??
Quite promising, but yeah. That's it. c4m4n94d eaaaaa
Idenya bagus dan unik, tapi pengemasannya kurang 🥲 terlalu banyak bagian yg kerasa ngebut, karakterisasi kurang dalem, tiap karakter kerasa aneh dan cringe sinetron (apalagi yg karakter2 di kepolisian: jemmi, aditya, temen2nya).
Kayak, apa banget kok segamblang itu jelasin ini itu. Baru juga dapet kasus, eh si polisi A udah tau kejadian secara detil bahkan dalam pov ketiga serba tahu 😔 padahal CCTV aja secara realistis bisa gak detil nangkep info, ini bisa sampe tahu isi pikiran tersangka2nya.
Bagian pengacara juga masa kayak langsung memojokkan Aruna ga pakai pembelaan apa gitu? 🥲😭 Kok rasanya buku ini perlu riset lebih mendalam lagi ya, terutama soal cara kerja orang2 di bidang hukum (polisi, pengacara, dll). Jadi gak asal gamblang gitu menyampaikan ini-itu dan jatuhnya kocak.
Pengembangan romance-nya juga aneh banget. Katanya Jemmi benci dibully, dikatain monyet. Lah Aruna dateng2 minta Jemmi belagak jadi monyet, kok si J bisa naksir???? Horornya juga kurang dapet. Karakter utama semacem gak punya pendirian, disuruh ini mau, disuruh itu mau. Karakter pendukungnya aneh. Gak ada keunikan yang bener-bener bikin si A, B, C "solid".
POV juga kayak gak kuat. Di awal-awal terasa solid dan rapih, makin ke belakang malah jadi "siapa aja boleh ngespill sebagai orang serbatahu". 🫣 Ada typo-typo juga di beberapa bagian yang lolos sensor.
Tumben sekali ini nemu karya GWP kayak gini wkwkw agak ngerasa zonk jujur. Karena sebelum-sebelumnya baca GWP bagus, jadi ekspektasi ini juga bagus. Mungkin emang bukan aku targetnya.
Baca buku ini beneran bingung. Penokohan ga ada, si Jemmi ini rasanya berlebihan menyusut kasus Aruna, Aruna yang ga konsisten, begitulah. Tapi yang paling bikin dahi mengernyit: ini editornya beneran kerja ga sih?
1. Ga bisa relate dgn semua tokohnya. Penokohan gak kuat -Aruna dgn narasinya yg katanya suka mengalah asal org2 tetep ada di dekatnya tp kenyataannya dia paling suka maki2 dan marah2in org trdekat dia. Yg katanya ambisius tp kok dah jadi BM di kantor mlh urusin cintacintaan? Org kalo ambisius, impian dr kecil jd bos ya sekalinya jd bos urusan cinta mah ntr dlu jg santuy😑 -Jemmi yg menjunjung tinggi martabat dan prinsip kepolisian tp malah ngurusin berkas org lain, tp berkas dan kasus2 dia sndiri dilimpahin ke juniornya. Like?? Hellow?
2. Ini editornya kerja gak ya? Kok byk typo, bahkan kalimat gak lengkap. “Obat ini terbukti menimbulkan yang menyebabkan terjadinya halusinasi”. Apa? Menimbulkan apa? APA YG DITIMBULKAN???
“Aruna bergegas mengambil jubah mandi, memaki jubah mandi dan segera berlari” Apakah jubah mandinya sejelek itu sampe harus dimaki maki oleh aruna? :”)
Masih byk lagi typo dan kalimat gk lengkapnya.
3. Aku ga bisa paham konsep waktu dan lokasi di buku ini. Setting waktu ga jelas, latar juga lompat2an gak rapi. Aku kira kasus Aruna hilang cuma hitungan hari, ternyata di salah satu narasi “setelah tujuh hari Aruna menghilang” LAH BUSET ITU 7 HARI ILANG LHO. Gak mati tuh org yg katanya mogok makan sama skali?
Di halaman awal, Aruna dan Jess habis kecelakaan krn ban mobil meletus. Tiba2 Susan ada di situ jalan kaki. Loh knp tiba2 kek setan tuh Susan ada di situ? Dr mana dia? Aneh betul tiba2 ada di situ Susan.
4. Ada riset dlu gak sih sebelum nulis jalannya persidangan dan investigasi kepolisian? Ini jd kocak bukan malah penasaran/tegang.
5. Susan di pertengahan cerita jd sorotan krn psikopat dan kasus lainnya, kenapa di akhir cerita fokus lgsg diubah ke dr Kori? Lah Susan gimana? Gak diungkit2 lg? Gak dibahas2 lg? Bahkan sampe akhir ga ada kejelasan si Susan gimana, padahal awal sampe tengah si Susan bener2 sorotan investigasi.
6. Sejujurnya belum sampai tengah buku udh ketebak siapa pelakunya, tp aku tetep paksain tamatin dgn harapan smg endingnya bisa “menutupi” segala kekecewaanku atas buku ini. Ternyata endingnya jg gitu aja, gak jelas :”)
7. Dari awal narasi udh banyak kalimat yg sama berulang ulang. Deskripsiin rumah aja pake 2 atau 3x pengulangan dalam paragraf berbeda. Banyak narasi gak penting juga, malah jadi cringey. Giliran narasi penting malah kaya lompat lompatan tiba2 semua orang jadi serba tahu. “Lah kok bisa kesimpulan begitu?” “Buktinya mana?” “Kok msh aja nanya sih kan dah jelas itu buktinya ada”
Lingkunganku nggak terlalu terpengaruh dengan weton. Dianggap ada, tapi cuma sebagai simbol, nggak ada yang spesial. Mungkin karena nggak terlalu berpengaruh jadi nggak selalu jadi patokan. Aku baru tahu ada weton yang dianggap "spesial" dan bisa mengundang kekuatan makhluk tak kasat mata baru-baru ini dan now I know arti kalimat yang selalu diucapkan para orang tua soal "jangan kasih tahu wetonmu ke orang asing, atau kamu bakal disantet".
Anggara Kasih has it. Ceritanya diawali dari kelahiran seorang anak yang memiliki weton "istimewa", lahir di malam 1 suro hari Selasa Kliwon. Pembaca diajak menebak siapa sosok yang punya weton dengan panggilan Anggara Kasih ini di bab pertama. Mengingat banyak yang ambis di kantor, banyak tebakan soal sosoknya, terlebih yang disorot pertama bukan MC.
Sebenarnya, kupikir di awal bakalan nebak terus siapa si bayi yang punya weton istimewa di awal. Jadi, tebakan pemanasan begitulah, tapi ternyata setelah bab dua langsung di-reveal orangnya. Dan dari sini alurnya mulai membingungkan. Eh, lebih ke karakterisasi semua karakternya yang bikin bingung. Sempat kaget dengan kecepatan alurnya sampai ngerasa kayak keseret mobil juga macam ilustrasi kovernya (eh, cuma perumpamaan, jangan sampe kejadian beneran, naudzubillah).
Kuakui premisnya oke dan mengangkat genre horor bercampur tema weton + pesugihan begini bisa dibilang berani. Well, kalau dibilang unik nggak juga ya karena kenyataannya banyak cerita horor yang kutahu memakai tema serupa. Tapi, sayang cuma satu, emosi karakternya sama sekali nggak sampai ke pembaca. Ini yang bikin aku sendiri merasa kayak cerita ini cuma bahas alur aja, tanpa penyokong unsur lainnya.
Kesan mencekam juga untuk ukuran horor agak kurang nendang. Kupikir karena bekejaran dengan alur, rasanya kesan mistis atau apa pun itu nggak bisa imbang. Oh, sebenarnya ada beberapa hole, sih, tapi kayaknya kalau aku reveal satu-satu bakalan spoiler banget. Aku sebut salah satunya aja deh yang nggak begitu spoiler amat, bagian Alana yang percaya banget sama Susan. Well, dia digambarkan jadi wanita mandiri selama bertahun-tahun, punya rasa engagement ke orang apalagi bener-bener percaya itu agak kurang sinkron. Harusnya dia curiga dulu, dong, sama Susan. Eh, ini di "penyelamatan" nggak sengaja malah langsung hooh-hooh aja.
Satu lagi, Jemmi kenapa annoying banget as partner kerja, ya? Caranya dia nyuruh handle kerjaan sementara dia bisa fokus ke kasusnya Aruna itu bikin geleng-geleng, sih. Aku sempat berpikir apa penulis sengaja bikin karakter Jemmi kayak gitu biar "mempermudah" jalan dia buat membantu Aruna. Soalnya kayak nggak mungkin, dong, kalau bukan ranah kasusnya si Jemmi bisa enak banget dapat kelonggaran menyelidiki kasus itu, padahal dia punya kerjaannya sendiri. Poor, Aditya, mesti ketiban beban kerja karena rekannya bulol :(
Mungkin kalau buku ini diangkat ke layar lebar bakal lebih kebentuk visualisasinya. Atau yang suka horor dengan campuran misteri begini bisa coba baca, siapa tau masuk ke selera. Ini kali pertama baca buku dari penulis, jadi kepengin baca buku-bukunya lain.
Anggara Kasih karya Tian Topandi kerap muncul sebagai rekomendasi wajib bagi para pencinta genre thriller. Banyak pembaca yang tertarik pada buku ini, terutama karena sampulnya yang memikat sekaligus penuh teka-teki. Sampul ini, hasil karya ilustrator Hasta Pena, pada pandangan pertama tampak menggambarkan suasana pedesaan atau perkebunan yang sejuk. Saya pun awalnya merasa demikian—serangkaian hamparan hijau yang tampak menenangkan. Namun, setelah banyak yang menyoroti adanya elemen yang lebih gelap di sampul tersebut, rasa penasaran saya terusik. Saat saya memeriksanya dengan lebih seksama, tiba-tiba saya menyadari adanya detail mengejutkan: sebuah mayat yang berlumuran darah tergeletak di bagian belakang mobil. Saya benar-benar terkejut! Penemuan kecil ini menambah rasa penasaran saya terhadap kisah yang ditawarkan buku ini, dan saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk membacanya.
Cerita dimulai dengan kehidupan Aruna, seorang wanita karier yang tampaknya baru saja meraih pencapaian terbesar dalam hidupnya. Saat ia diangkat sebagai kepala cabang di perusahaannya, ia merasa seolah berada di puncak dunia. Namun, kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Dalam waktu singkat, segalanya berubah ketika satu per satu rekan kerjanya menghilang tanpa jejak, termasuk Pak Arifin, sang kepala cabang sebelumnya. Kecurigaan pun segera tertuju pada Aruna, terutama ketika bukti-bukti mulai menunjukkan keterlibatannya. Meski Aruna bersikeras bahwa dia bukan pelaku di balik semua ini, sulit baginya untuk meyakinkan orang lain.
Di tengah kerumitan ini, muncul Jemmi, seorang polisi yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut. Aruna bukanlah orang asing bagi Jemmi; ia adalah teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya. Jemmi merasa ada sesuatu yang tidak wajar dengan kematian Pak Arifin. Kejanggalan demi kejanggalan terus muncul, terutama setelah makam Pak Arifin dibongkar dan tengkoraknya hilang dicuri oleh sosok misterius. Dengan tekad kuat, Jemmi memutuskan untuk menggali lebih dalam, tidak hanya demi mengungkap kebenaran, tapi juga untuk menyelamatkan nama baik Aruna yang tengah terpuruk. Dalam pencariannya, Jemmi menemukan bahwa semua kematian ini tampaknya terhubung dengan ritual pesugihan yang disebut ‘Anggara Kasih’. Bayangan gelap mulai menyelimuti jemari Jemmi saat ia mencoba mengurai misteri di balik ketenangan palsu perkebunan teh itu—apakah daun-daun teh yang tampak tak bersalah ini menjadi saksi bisu dari serangkaian pembunuhan yang mengerikan, atau ada kekuatan lain yang bersembunyi di balik hijau yang menenangkan?
Ketika saya mulai menyelami Anggara Kasih karya Tian Topandi, saya dihadapkan pada kejutan yang tak terduga. Alih-alih menghadirkan narasi yang sesuai dengan ekspektasi awal—sebuah kisah thriller yang penuh ketegangan dan permainan psikologis—buku ini justru menawarkan gaya bahasa yang terasa datar dan kurang menggigit. Dengan premis cerita yang begitu menarik, saya sebenarnya memiliki ekspektasi tinggi; saya berharap menemukan alur yang memukau, karakter yang kompleks, dan twist yang mengejutkan. Sayangnya, ekspektasi tersebut tidak sepenuhnya terwujud. Sejumlah elemen dalam buku ini terasa setengah matang dan kurang dieksekusi dengan baik.
Salah satu hal pertama yang menarik perhatian saya adalah penulisan wara di bagian belakang buku, yang menjadi semacam jendela awal bagi pembaca. Saya merasa penyusunan kalimat dan paragraf di bagian ini masih kurang padu. Ada beberapa paragraf yang tampak seolah-olah ditempelkan begitu saja tanpa ada transisi yang jelas, sehingga sulit bagi pembaca untuk mendapatkan gambaran yang solid tentang cerita yang akan dihadapi. Sebagai rekomendasi, saya merasa penyusunan deskripsi ini perlu dirapikan agar lebih bisa menggugah minat sejak awal, dan mampu memberikan bayangan yang lebih konkret tentang konflik utama yang diusung.
Selain itu, gaya bahasa yang digunakan sepanjang buku ini juga menjadi salah satu kelemahan yang cukup signifikan. Saya merasa gaya narasi yang dihadirkan tidak cukup untuk memancing rasa penasaran, apalagi untuk genre thriller yang biasanya sarat dengan suspense dan ketegangan psikologis. Kalimat-kalimatnya sering kali terasa terlalu sederhana dan datar, tidak memberi ruang bagi imajinasi pembaca untuk berkembang. Alur cerita pun tampak terlalu terburu-buru; ada momen-momen penting yang disampaikan begitu saja tanpa pengembangan yang memadai. Akibatnya, transisi antarbagian cerita terasa tidak mulus dan membuat beberapa kejadian terkesan terjadi secara tiba-tiba tanpa latar belakang yang kuat.
Penokohan dalam buku ini pun, menurut saya, kurang maksimal dalam menggali potensi konflik internal yang bisa memperkaya cerita. Misalnya, latar belakang Aruna, tokoh utama, terasa kurang kuat dan tidak cukup terbangun dengan baik sehingga sulit bagi saya untuk memahami bagaimana latar belakang tersebut membentuk kepribadiannya. Sebagai pembaca, saya merasa sulit untuk terhubung secara emosional dengan Aruna karena kurangnya detail yang membuatnya terasa hidup dan tiga dimensi. Lebih jauh lagi, beberapa karakter lain tampak memiliki perubahan sikap yang tidak konsisten dan cenderung membingungkan. Ada karakter yang tiba-tiba beralih dari sosok antagonis menjadi protagonis, dan sebaliknya, tanpa proses yang cukup mendalam atau penjelasan yang logis. Perubahan-perubahan ini seolah terjadi begitu saja, bukan sebagai kejutan yang terencana dengan baik, melainkan lebih karena kurangnya ketegasan dalam membangun karakterisasi.
Secara keseluruhan, meskipun Anggara Kasih memiliki premis yang menarik, saya merasa narasi yang disajikan kurang mampu menarik perhatian dan membangkitkan rasa penasaran saya. Gaya bahasa yang datar, alur cerita yang terburu-buru, dan penokohan yang tidak konsisten membuat pengalaman membaca terasa kurang memuaskan. Namun, selera membaca setiap orang berbeda, dan mungkin ada pembaca lain yang menemukan daya tarik dalam pendekatan naratif ini. Oleh karena itu, saya mendorong pembaca untuk menjelajahi buku ini sendiri dan mengevaluasinya dari sudut pandang mereka, karena siapa tahu, kisah ini mungkin menawarkan pengalaman yang lebih memuaskan bagi mereka yang memiliki preferensi berbeda.
Aruna merasa dirinya sedang berada di puncak kariernya, karena ia baru saja ditunjuk sebagai manager cabang. Namun, ini menjadi awal mula kejadian aneh menimpanya. Satu per satu rekan kerja Aruna menghilang, tak terkecuali Pak Arifin, manajer cabang sebelumnya. Seluruh bukti dan tuduhan mengarah kepada Aruna. Namun, Aruna memperjuangkan reputasinya, dan kenyataan bahwa ia juga menjadi korban penculikan.
Jemmi, polisi yang menyelidiki kasus ini, ragu dengan penyebab kematian Pak Arifin yang aneh, apalagi saat kuburannya dibongkar dan tengkorak tubuhnya diambil oleh orang tak dikenal. Sebagai polisi, Jemmi memiliki tekad untuk mengungkap kasus yang menimpa sosok cinta pertamanya yang juga teman masa kecilnya itu. Satu hal yang diyakini Jemmi, yakni semua kasus kematian yang terjadi di sekitar Aruna, terkait dengan ritual pesugihan Anggara Kasih.
Berbicara tentang ilmu hitam atau hal supranatural di Indonesia memang selalu menarik. Kepercayaan ilmu hitam di Indonesia yang sangat kental ini membuat kengerian yang ditimbulkan tak ada lawannya. Tian Topandi berhasil meramu naskah kisah ini menjadi cerita yang menarik nan penuh dengan naik turun. Pembaca akan merasa seperti sedang naik roller coaster sepanjang membaca kisah ini.
Kisah ini juga mengangkat kasus misteri yang cukup dikenal dekat oleh masyarakat, yakni kasus pesugihan. Buku ini menampilkan sisi baik dan buruk manusia yang dinilai sangat realistis. Penokohannya sangat mendukung premis cerita dan membuat pembaca terus penasaran dengan kisah ini. Penulis berhasil menyebarkan motif-motif yang bisa menjurus sebagai pelaku ke setiap tokoh, jadi pembaca kesulitan untuk menebak siapa pelakunya. Dan, plot twist kisah ini berhasil mengecoh pembaca.
Dari segi narasi, kisah thriller ini sangat kuat dengan misteri yang disajikannya. Unsur horor yang disajikan juga tidak terlalu mencolok, mengimbangi unsur misteri yang memang ingin ditonjolkan. Buku ini menjadi salah satu novel yang kental akan unsur-unsur budaya Indonesia. Hal ini pun dapat menjadi nilai tambah bagi novel ini, di mana pembaca bisa lebih mengenal budaya Indonesia melalui buku ini.
Judul dari buku yang satu ini diambil dari kalender Jawa yang merupakan hari Senin Wage atau malam Selasa Kliwon. Nah Selasa Kliwon dianggap punya aura mistis gt kira kira sama kayak Jumat Kliwon, orang yang lahir di hari Selasa Kliwon di sebut Anggara Kasih.
Anggara kasih ini bercerita tentang Aruna yang menjadi incaran para penganut sihir hitam dan sasaran empuk bagi para pelaku pesugihan karna, nyawa Anggara kasih bisa dituker sama kekayaan gt tapiiiii si Aruna ini istimewa karena selain lahir di Selasa Kliwon, dia juga lahir di malam 1 sura jadinya kekuatan yang Aruna punya bener bener besar untuk mengundang para pemilik sihir hitam.
Kalau ngomong soal ilmu hitam atau supranatural di Indonesia emng gak ada lawan bikin ngerii. Kalau kata gue teh SAKIT JIWAA TOKOH TOKOHNYA 😭🤌🏻 Tian seorang penulis yang juga menyukai film horor ini bener bener bikin kita ngerasa kayak role coaster.
Yang gue suka lagi buku ini gk cuma nampilin sisi baik manusia doang tp buruknya jg semacam yin & yang. Kalau gue pribadi horornya gak serem banget cuma mystery thrillernya woyy dapet abis! Buku ini juga memasukkan unsur unsur budaya Indonesia di dalamnya. Seperti terlihat dari dialog para tokoh dan mitos mitos yang beredar di masyarakat.
Pas di akhir ending gua merasakan vibes pagabdi setann gt, bersekutu sama setan karna udah gak ada harapan biar semua keinginan tercapai. Buat buku horor thriller pertama kak Tian yang diterbitkan, ini bagus kok walaupun ada adegan yang sesuai prediksi, dan beberapa part kecepetan tapi gak jadi masalah, namanya jg manusia gak ada yang sempurna karena kesempurnaan cinta hanya milik Rizky febian.
Satu lagi! Heartwarming nya masih tetep jadi ciri khas kak Tian walaupun horor thriller tetap dibalut dengan unsur religi dan pesan moral.
Secara pribadi awalnya aku tertarik dengan judulnya karena sudah cukup familiar dengan hari Anggara Kasih dan juga novel ini punya desain sampul yang menarik (kebun teh dan mobil dengan orang berdarah-darah di belakangnya). Bab-bab awal juga cukup menimbulkan rasa penasaran, tapi setelah membacanya hingga akhir, novel ini belum cukup memenuhi ekspektasiku. Tepat setelah cerita sampai di waktu Aruna mendadak cepat sekali akrab dengan Susan, semua hal yang awalnya membuat penasaran dan sisi menarik dari novel ini perlahan-lahan runtuh. Selain itu, tokoh-tokoh dalam novel ini tiba-tiba saja sifat dan perilakunya terasa tidak natural (terlalu dibuat-buat), beberapa tiba-tiba berperilaku sewot. Melihat itu seolah-olah para tokohnya seakan merupakan satu orang yang sama. Selain itu juga banyak informasi yang di-skip-skip, seperti pada salah satu percakapan di mana seorang polisi yang sedang menjelaskan sesuatu yang nampaknya penting tapi ia malah berkata, "... susah menjelaskannya."
Dari segi tata kalimat, ada beberapa susunan kata yang kurang serasi & kata tidak baku seperti 'cuman' di beberapa dialog (sepele sih tapi bikin risi), kalimat yang repetitif & ada pula kalimat rumpang. Sedangkan dari segi alur cerita (sebagai penyuka novel misteri), misteri-misteri di novel ini termasuk sangat mudah ditebak bahkan sejak awal munculnya keanehan-keanehan yang ada.
Waktu baca, aku langsung bayangin novel ini diadaptasi jadi film. Kayaknya bakalan seru. 🤩🤩🤩
Aku sendiri baru tahu ada yang namanya Anggara Kasih yang merupakan orang yang lahir pada Selasa Kliwon. Orang ini menjadi incaran penganut ilmu hitam dan pelaku pesugihan, apalagi jika dia lahir bertepatan dengan malam satu Suro.
Novel ini lumayan seru sih. Sepanjang cerita aku bertanya-tanya siapa dalang di balik semua tragedi ini dan apa motifnya. Terlebih lagi ada bumbu-bumbu horor yang bikin lumayan merinding meski hanya beberapa halaman, membuat ketegangannya makin bertambah. Gaya bercerita Kak Tian juga cocok di aku, jadi asyik ngikutin ceritanya.
Hanya saja, tokoh-tokoh ceritanya yang nggak ada yang loveable dan sikapnya yang nggak konsisten (terutama tokoh utamanya) membuatku jadi kurang klik aja sama emosi mereka. Sikap Jemmi yang semena-mena terhadap partnernya juga menjadikan dia bucin yang annoying, wkwk~
Pesan yang jleb banget di novel ini buatku adalah untuk selalu berikhtiar dan bertawakal kepada Allah dalam setiap keadaan. Selain itu, kita juga harus memelihara rasa syukur demi kedamaian diri, karena kufur nikmat bisa membuat hati kita mudah panas dan gelap.
Untuk cerita sih lumayan, tapi kayaknya lebih jelas kalau dibuat visual deh. Saya kurang sreg sih sama Jemmi yang kok seenaknya gitu nanganin kasus Aruna, padahal bukan tugasnya. Maksudnya kayak berlebihan aja. Dan dia membela diri dengan ucapan menolong rakyat? Padahal ada unsur romantisme di sana.
Untuk benang merah antar tokoh saya cukup suka, walaupun ribet. Makanya saya berpendapat kayaknya novel ini bakalan lebih nyampe kalau dibuat film.
Dan sebagai orang yang lahir di tanah Sunda, walau bukan yang aktif berbahasa Sunda, saya kaget kata "gandeng" diartikan diam. Karena arti sebenarnya kan berisik. Saya sampai nanya suami yang memang orang Sunda dan besar di Sunda, dengan keluarganya pake bahasa Sunda, dan... yah, walau memang maksudnya menyuruh diam, tetap aja sebenarnya arti 'gandeng' bukanlah 'diam'.
Ada lagi di bab berapa... "sorot lampu kecil yang membuat suasana kamar mandinya bertambah gamang." Gamang?
Ada beberapa lagi sih yang mengganggu, kayak bertekad ditulis bertekat, apartemen ditulis apatemen.
Yah begitulah. Btw, novel ini cukup bikin penasaran sih buat saya.
Di awal terasa banget kagok di gaya bahasa dan teknis tulisan. Banyak kalimat yang nggak nyaman dibaca dan artinya ngebingungin seolah-olah ini naskah yang belum diedit. Padahal aku menaruh ekspektasi yang besar melihat bagusnya kover, nama penulis, penerbit yang menaungi, dan jebolan GWP juga.
Dari premis cerita memang menarik, aneh, dan unik. Tapi eksekusinya kurang ciamik. Alurnya banyak bergerak dari dialog, suasana kurang terbangun, bahkan aku nggak merasa seram sama sekali. Penulis kurang mampu membangun emosi dan ceritanya ketebak banget. Karakter Aruna sangat reaktif dan gampang dipengaruhi, tapi jika nggak gitu maka ceritanya mungkin nggak ada. Hehe.
Cuma rating-nya aku naikkan karena di bagian menjelang akhir lumayan menarik ketika bagian Jemmi yang lebih menggerakkan cerita. Karakter dan tekadnya dia lebih menarik untuk diikuti.
Cerita ini mungkin akan lebih menarik kalau dijadikan film karena visualnya kan terlihat, tapi kalau untuk novel aja, penulis kurang mampu menyajikan yang memuaskan.
Dari segi tema cerita menarik. Jarang2 ada novel dgn tema cerita horor, thriller, misteri. Saya suka dgn genre seperti ini makanya buku ini memang pangsa pasarnya utk org2 seperti saya. Apalagi kalau dibaca pada malam hari, kesan mistisnya lebih terasa, terlebih bagi orang penakut seperti saya.
Tapi memang dari segi karakter, main character di buku ini gabisa dikasih respek sih. Apalagi pas dibagian berantem sama pasangannya, trus ngeyelan juga. Karakter lain kayak jemmi kesannya sampe segitunya banget, kurang realistis menurut saya. Emang kenyataannya polisi sampai sebegitunya apa mengusut kasus. Kalo iya, negara ini akan jadi negara damai, dan si jemmi juga kayaknya kalo bukan aruna yg kena masalah ga akan dibantu sampai segitunya 🙂↔️ endingnya juga udh ketebak dan ga jauh2 ternyata si itu2 juga dalangnya.
Overall bagus sih bukunya, utk pasar yg tepat. Biarpun masih banyak typo dan salah penempatan nama.
Awalnya menjanjikan, tapi makin ke belakang makin kacau. Konsep pesugihan anggara kasihnya kurang matang, prosedur kerja polisi dan psikolog terkesan asal-asalan dan tidak profesional. Penulisan juga berantakan, detail plot antara ada dan tiada; tiba-tiba terjadi begini, tiba-tiba tokoh itu berkesimpulan begitu seperti tanpa ada alasan. Belum lagi banyak kalimat yang kehilangan satu atau dua kata sehingga kalimatnya jadi aneh.
Aruna sebagai tokoh utama sangat tidak simpatik, malah mudah dibenci--sampai akhir, cengeng pula. Begitu banyak adegan air mata berderai yang sepertinya seharusnya emosional tapi terasa sangat tanpa emosi; tokoh-tokoh seolah langsung menangis begitu saja Dan Jemmi itu polisi macam apa? Sangat bias, dipengaruhi emosi, kerja berdasarkan firasat dan keyakinan pribadi. Dan di ending mudah sekali polisi mendapat bukti-bukti kejahatan pelakunya. Dan pemilik darah bisa diketahui dalam hitungan jam?
Alur cerita awalnya terlalu cepat menurutku, baru di bab sekian tiba-tiba udah naik pangkat, tiba-tiba udah cerita trauma, tiba-tiba udah sukses, kayak semua tiba-tiba banget deh, kayak nggak dikasih prolog untuk memahami karakter tiap orangnya tuh kayak gimana. Terus Jemmi kayaknya dibandingkan jadi polisi yang terikat instansi, kenapa kaga jadi detektif swasta aja wak, soalnya kayak isinya ngepoin hidup Aruna azza. Dari awal, clue soal pelakunya juga udah ketebak, jadi pas di ending kayak nggak kaget aja gitu, malah bingung kenapa tiba-tiba disuguhin cerita sedihnya pelaku dan Jemmi bak pahlawan, nolongin si pelaku, kayak... hm ape nih. Tapi bagian pencarian bukti-bukti itu mayan oke lah menurutku.
Premisnya keren banget, gabungan unsur misteri dan klenik Nusantara yang terasa kuat. Tokoh utamanya mengalami peristiwa di malam Selasa Kliwon dan satu Suro, yang membuatnya menjadi penarik kekuatan dari alam gaib. Konsepnya unik dan jarang diangkat di novel modern.
Sayangnya, masih ada banyak typo yang cukup mengganggu dan ending-nya terasa agak mudah ditebak, dan sepertinya butuh riset di beberapa karakterisasi tokog(kenapa psikiaternya langsung 'nembak' diagnosis dalam sekali pertemuan dan ga menimbulkan kecurigaan di benak tokoh utama, keterlibatan sang dokter yang terlalu jauh ke penegak hukum, dan job desk para polisi serta persidangan, supaya terasa lebih realistis aja gitu).
Tapi yang bikin penasaran banget justru cover-nya; latar kebun teh yang damai di Ciater, tapi ada mayat yang diseret mobil. Kontras banget dan langsung bikin mikir, “ada apa di balik ini?”
Sebagian besar cerita berlokasi di Jawa Barat, dari hiruk pikuk Bandung sampai kampung asal para tokohnya, dibalut bahasa Sunda yang bikin suasananya hidup dan autentik.
Gue suka premisnya tentang orang2 terlahir sebagai Anggar Kasih, Selasa Kliwon malam 1 Suro. sayangnya, eksekusi plot gedebag gedebug banget. tiba2 muncul kasus, tapi penyelesaiannya juga secepat kilat. simsalabim, jemmi tau tania cari duit dari apk dating. dan masih banyak lagi kujuk2 kebongkar. paling kesel sama karakter jemmi. dia polisi, nekat ikut campur kasus orang demi mantau cinta pertamanya. terus ada narasi jemmi waktu kecil sakit2an. bukannya klo udah sakit2an nggak bisa jadi polisi?
Ide ceritanya unik. Aruna, org yg lahir di selasa kliwon, yg diincar utk tumbal pesugihan. Banyak kematian mendadak di sekitar Aruna, dan ia tertuduh sbg dalang. Mistisnya dapet, misterinya dapet. Selesai baca otw tobat ini sih.
Salah satu quote yang berkesan: Satu-satunya yang bisa menolong kamu adalah kamu sendiri. Anggara Kasih bukan kekuatan jahat, tapi cinta terhadap dirimu sendiri. Bagaimana aura negatif bisa melepaskan dirimu kalau kamu membiarkan jiwamu kosong? Jiwamu kosong karena kamu tidak pernah berusaha mencintai dirimu sendiri.
.... sorry, I really don't like how it's written .... dan pada dasarnya saya tidak bisa menyukai satu pun tokoh-tokohnya (termasuk karakterisasinya), plotnya, dialognya, bahkan misterinya.... Terlalu banyak inkonsistensi, dan yaaa sekali lagi cara cerita ini dituliskan benar-benar annoying bagi saya... mungkin karena dituturkan dari sudut pandang Aruna dan Jemmi yang mana karakterisasinya sangat mengesalkan. Saya menyelesaikan baca sampai akhir karena udah kadung baca aja.... Untung bukunya tipis, kalau lebih tebal lagi mungkin DNF.
Usually I like mystery/thriller/horror books, but this one was.. underwhelming, to say the least. The first half is okay, cukup bikin penasaran tapi makin jauh ceritanya terasa agak berantakan, jadi terasa buru-buru menuju ending. Felt like reading a horror movie script from early 2000s, honestly. Although pembahasan tentang wetonnya cukup menarik, terutama buat orang Jawa yang masih percaya atau tinggal di sekitar orang-orang yang percaya hal-hal mistis. Cover artnya juga bagus.
Interesting plot, but bad execution. Have some great narration on the horror-jumpscare part like i could imagine the scene as a movie. But rest of the narration is just mmmmmmm
Was going to give it a 3 stars but dropping it to 2 as how Haryono dead is EXACTLY A WRITE OFF from k-drama The First Responders. Like..why.
Honestly, I really high expectation about this book and I thought it was a common murder mystery story. But it turned out to be a bit horror. And the plot it's a bit rush. Then, how the character be described was not strong enough. Nevertheless, this book has good cover and easy to understand, so I've could finished it less than a week.
Dari halaman awal okelah konfliknya udh dibuat tp trus kayak gmn ya, alur ceritanya kayak kurang halus, jadinya aku sebagai penikmat cerita thriller/misteri engga jd deg2an tp jadi puyeng krn konflik yg terjadi&dibangun dr awal itu terlalu cepet 🥲
Meskipun konflik sudah tercipta sejak awal, alur ceritanya kurang mengalir dengan mulus. Sebagai penggemar genre thriller/misteri, saya malah merasa bingung dan tidak terbawa suasana karena konfliknya berkembang terlalu cepat.
Tema nya rada dark dan beda daripada buku kebanyakan.
Yg gak biasa mendengar tentang weton dan klenik lainnya mungkin rada nggak relate, karena biasanya dipakai sama orang yang tinggal di pulau Jawa dan tradisi seperti ini sekarang sudah mulai luntur.