Punya saudara kembar identik pasti asyik? Menurut Erika Guruh sih tidak. Seumur hidup, dia selalu dibandingkan dengan Eliza, adik kembarnya yang nyaris sempurna.
Gawatnya lagi, dia dan Eliza naksir cowok yang sama. Ini bikin Erika di-bully teman-teman Eliza.
Untunglah ada Ojek, cowok aneh seperti pengangguran, yang rajin menemaninya. Dia juga tahu-tahu berteman dengan Valeria, si cewek cupu.
Lalu, insiden mengerikan menimpa Eliza, dan Erika menjadi tersangka utama. Erika mulai meragukan diri sendiri. Apakah sebenarnya dia memang psikopat yang tega mencelakai adik kembarnya sendiri? Apakah selama ini Eliza yang sungguhan anak baik dan dialah si penjahat? Apakah dia memang pantas dijuluki Omen?
Lexie Xu adalah penulis kisah-kisah bergenre misteri dan thriller. Seorang Sherlockian, penggemar sutradara J.J Abrams, dan fanatik sama angka 47. Saat ini Lexie tinggal di Bandung bersama anak laki-lakinya, Alexis Maxwell.
So I read it because, "Yeaaaay! Some new books in iPusnas" and "Whoa, the manga version of Omen? Haven't read the novel. Let's try it on!". Lagipula kovernya terlihat keren. Jadi aku pun tergoda membacanya.
Hasilnya? Kualitas gambarnya bagian dalamnya nggak sebanding ama bagian kovernya. Style-nya masih terasa belum matang, gerakannya kaku, meski untungnya tetap lumayan rapi dan background-nya juga bagus, sih. Sekilas style kover dan bagian dalamnya tampak sama, tapi perbedaan kualitas yang jomplang ini bikin aku bertanya-tanya apakah kovernya digarap oleh artist yang berbeda.
Ceritanya juga felt so rushed. Ada layout halaman yang ketuker pula. Mana banyak. Banyak juga hal yang nggak masuk akal dalam cerita ini.
Ceritanya adalah dua anak kembar, Erika dan Eliza yang bersekolah di SMA yang sama. Erika si tomboy yang badung dan dianggap sebagai biang masalah. Sedangkan Eliza adalah murid teladan yang feminin dan disukai banyak orang. Keduanya bagaikan langit dan bumi. Perlakuan orangtua mereka terhadap keduanya pun bagaikan langit dan bumi. Tebak, siapa yang lebih disayang. Namun, hanya Erika yang tahu bahwa kelembutan dan kebaikan hati Eliza itu hanya topeng. Sejak dulu Eliza suka sekali berbohong lalu playing victim agar Erika yang terkena masalah. Nah, keduanya ini sama-sama menyukai ketua Osis, Kak Ferly. Namun, Ferly tampaknya lebih condong pada Eliza dan nyaris semua anak di sekolah mengetahuinya. Yang mendukung Erika hanya para anggota gengnya yang semuanya laki-laki dan seorang tukang ojek misterius tampan yang hanya ia panggil sebagai "Jek".
Di daerah itu, terjadi kasus penculikan yang korbannya sampai 20 orang. Bahkan ada anak sekolah Erika yang jadi korban. Orang-orang menduga ini adalah isu penjualan organ manusia. Isu ini dikesampingkan, kita kembali pada Erika dan Eliza. Eliza menjebak Erika dengan mengirimkan surat palsu kepada saudara kembarnya. Dia membuat seolah surat itu dibuat oleh Kak Ferly yang ingin menemuinya di luar sekolah. Maka ia pun bingung ketika Kak Ferly menemuinya sambil membawa surat yang seolah ditulis oleh Erika, yang isinya juga mengajak bertemu secara rahasia di luar sekolah. Tiba-tiba, muncul seorang pengendara motor ugal-ugalan yang nyaris menabrak Erika. Kak Ferly dengan sigap menarik Erika sehingga ia tak sengaja memeluk gadis itu. Tanpa setahu keduanya, adegan itu difoto dari jauh dan besoknya foto itu disebar di mading. Semua orang yang menyukai Eliza menuduh Erika tega menggoda Kak Ferly meski tahu sang ketua OSIS berhubungan dengan Erika. Erika langsung tahu siapa dalang di balik semua kekonyolan ini, tapi tentu saja tak ada yang percaya padanya kecuali para anggota gengnya.
Nah, konflik sebenarnya dimulai ketika suatu ketika Erika mengikuti acara karyawisata yang mengadakan acara sulap hipnotis. Padahal, ia tak memasukkan nama aslinya ke keranjang di awal acara, tapi anehnya sang pesulap malah memanggil namanya sebagai salah satu sukarelawan untuk dihipnotis di atas panggung. Di panggung, sang pesulap meminta Erika membayangkan dirinya akan bertemu dengan orang terdekat dan ia bebas melakukan apa saja padanya. Seharusnya pesulap itu membuat Erika membayangkan orang yang paling ia suka, tapi anehnya yang muncul di hadapan Erika malah Eliza. Dalam pengaruh hipnotis, Erika "membunuh" sosok Eliza dalam bayangannya, kemudian menjerit ketakutan karena semuanya terasa begitu nyata baginya. Begitu disadarkan, seluruh penonton hening karena heran melihatnya. Erika pun memanggil si Ojek dan pulang ke rumah.
Setelah itu Erika sering merasa hilang kesadaran dan berpindah tempat tiba-tiba. Di sebuah acara ultah yang diselenggarakan oleh musuh Erika, si tomboy bertengkar dengan Eliza sehingga semua tamu jadi heboh. Setelah itu Erika pulang dan lagi-lagi kehilangan kesadaran. Tiba-tiba, ia mendapat kabar bahwa Eliza dilukai orang-orang sehingga harus dirawat di RS. Anehnya orangtua Erika malah memarahi Erika dan berkata seharusnya Erika saja yang menggantikan Eliza di RS. Kocak banget, deh. Ni orangtua supertoksik sampai pingin kurajam rasanya.
Lalu akhirnya malah Erika yang jadi tersangka penyerangan Eliza. Semua orang di sekolah menuduhnya. Bahkan para anggota gengnya pun memercayai hal yang sama karena mereka menemukan jaket Erika yang penuh darah di dekat lokasi pesta. Mereka yakin jika diperiksa, itu adalah darah Eliza. Yang percaya pada Erika hanya dua orang: Valeria, cewek yang pernah ia tolong dari perisakan dan si Ojek. Entah kenapa si Ojek ini sungguh setia pada Erika. Hal yang kemudian akan dibuka di akhir cerita (dengan cara yang enggak banget).
Erika pun kabur dari rumah lewat jendela karena orangtuanya mengurungnya di kamar dan hendak memanggil polisi. Ia dibantu oleh si Ojek yang entah bagaimana sepertinya bukan orang biasa. Si Ojek bahkan mengaku dirinya punya perusahaan sehingga Erika tertawa terbahak-bahak mengira itu hanya candaan.
Akhirnya terkuaklah siapa dalang di balik penyerangan Eliza. Ternyata kasus hilangnya dua puluh orang itu berkaitan dengan kasus Eliza. Dalangnya sama. Hanya saja ternyata ia dibantu oleh orang-orang yang tak terduga. Bisa dibilang para tokoh psikopat dikumpulkan jadi satu di sini untuk bahu-membahu membuat skenario hanya untuk menjebak seorang Erika yang cuma gadis SMA. Oke, twist-nya memang sangat tidak diduga, tapi nggak bisa dibilang bagus juga. Banyak sekali kejanggalan dalam cerita komik ini.
1. Rasanya enggak masuk akal kalo konglomerat kaya Viktor Yamada bisa sesantai itu, kelayapan, dan selalu stand by tiap dipanggil-panggil. Tapi yeah, I never know the real life of a conglomerate though. Lagian... age-gap-nya bukannya banyak? Grooming? *PRIIIT!
2. Lalu pertemuan Erika dengan si Ojek juga gak digambarin dengan baik. Cuma dibuka dari beberapa dialog menjelang akhir cerita. Jadi, kerasa gak masuk akal gimana si Ojek bisa seloyal itu ama Erika. Chemistry dan ikatan batin keduanya tidak kuat sama sekali.
3. Lagian motif kejahatannya aneh. Yang diculik ada banyak orang. Sampai dua puluh. Buat apa? Gak jelas. Maksa banget kalo disambungin ama muslihatnya sang Villain.
Masak iya versi novelnya pun seaneh ini logika ceritanya? Begitulah. Setahuku ini yang ketiga kalinya GPU membuat versi komik dari novel-novel populernya. Ada Touche, Jingga dan Senja, Jingga dalam Elegi, dan Omen. Dari sekian adaptasi itu, hanya Touche yang menurutku digarap secara maksimal, baik dari segi cerita maupun artwork. Lainnya? Meh. Serial Jingga yang bagus adalah artwork-nya, ceritanya sendiri? Cringe. Dan Omen ini malah lebih parah lagi. Aku heran, dari sekian banyak komikus Indonesia dengan artwork yang lebih stabil dan pernah bekerja sama dengan Koloni (penerbit komik lokal Indonesia di bawah M&C Gramedia), kenapa akhirnya yang dipilih justru yang gambarnya begini? Ayolah Gramedia, yang serius dong kalau bikin adaptasi novel jadi komik. Huffh.
Ketika melihat sampul komik ini, saya berpikir, wah bagus sekali! Apakah cerita dan alurnya akan sebagus sampul komiknya?
Tentu tidak.
Pacing, alur hingga penokohan sangat bland seperti oatmeal. Beberapa halaman harus saya baca berulang kali supaya paham karena gambar adegannya seringkali lompat dan tidak beraturan sama sekali.
Mari kita bicarakan tentang plot utamanya, Erika adalah seorang berandal sekolah yang suka membully teman-temannya di sekolah. Ia memiliki seorang saudara kembar identik bernama Eliza. Berbanding terbalik dengan Erika, Eliza adalah seorang seorang murid berprestasi yang disegani di sekolah.
Permasalah utamanya adalah mereka menyukai cowok yang sama, yaitu Ferly. Konflik mulai runcing ketika karyawisata, di mana Erika mengajukan diri menjadi sukarelawan pada suatu pertunjukan ilusionis. Sejak saat itu, hidup mereka berubah.
Ketika membaca komik ini, saya berpikir mengapa saya harus mendukung tingkah laku Erika yang buruk ini? Dan itu tidak dijelaskan sampai akhir cerita secara detail. Saya sangat tidak menyukai Erika sama sekali. Tidak ada backstory dan akibat dari tingkah buruknya itu. Seolah kita boleh menjadi urakan dan tukang bully, karena tidak ada ganjarannya.
Saya justru menyukai Eliza karena tindakannya sangat di luar nalar namun memikat. Tokoh Jek juga hadir sebagai ksatria baja hitam dan kebetulan selalu ada untuk Erika. Saya bingung mengapa Jek setia sekali dengan Erika? Padahal Erika selalu ngutang dan bersikap kasar? Apakah Jek seorang maso?
Lalu, tokoh lain seperti Valerie, Martinus dan geng Erika (saya sama sekali tidak ingat nama mereka) bertindak seolah wayang-wayangan. Sifat mereka hanya dikotak-kotakkan pada satu troupe saja. Misalnya Valerie berambut panjang hitam dan berkacamata, maka dia introvert yang sering di-bully namun memiliki rahasia besar. Martinus berbadan besar maka dia pembully di sekolah.
Untuk penggambaran antar panel sangat membuat saya harus berpikir keras karena tidak runtut dan cenderung lompat. Penggambaran karakternya juga tidak proporsional, misalnya lengan tiap karakter cenderung lebih panjang. Beberapa efeknya juga tidak membuat kesan yang menegangkan.
Ketika akhir buku dan konflik makin memanas, saya justru tertawa melihat plot twist yang aneh dan tidak masuk akal. Penjelasannya hanya diucapkan langsung dari penjahat utamanya. Tidak dijelaskan mengapa dia melakukan itu? Mengapa harus sejauh itu? Saya sangat tidak paham.
Bahkan ketika akhir halaman, saya sangat cringe. Bagaimana bisa dia menembak Erika untuk jadi pacarnya? Dia adalah seorang konglomerat terkenal, usianya terpaut jauh dan tertarik dengan anak SMA? Sebentar, saya sangat mual dan butuh udara segar untuk menyegarkan mata dan pikiran dari komik ini.
Masih nyenengin baca Omen (walau memang beda format).
Yang agak parah dari komiknya ada halaman2 yang ketuker-tuker 🤦🏻♀️ Harusnya ada di bab 4, malah muncul di bab 3, jadi ngebingungin banget. Kasian yang ga baca novelnya, semoga tetep paham ya.
Kalo gambarnya bagi gue oke-oke aja, lucu juga kalo muncul Erika & Vik versi gambar chibi-chibinya gitu (duh ga tau apa istilahnya). Gemes!
Waw, selama ini cuma liat covernya doang, tapi sekarang akhirnya baca juga. Aku udah lama baca Omen series, pas baca ini jadi kangen dan pengen baca ulang.
Komik ini lumayan. Bacanya cuma berapa jam dan langsung selesai. Cuma ya gitu, karena kebiasa baca yang detail dan dijelasin banget pas dibuat komik gini berasa banget lompat-lompatnya, tapi cukup kok. Komik ini udah ngegambarin semua cerita yang ada di Omen.
Cukup kecewa ke ilustratornya. Emosi situasi dan penokohannya gak dapet. Padahal, aku merasa banyak yang bisa digali. Kebetulan masih proses baca "How to Make Comics", ternyata benar: komik gak cuma tentang gambar tapi bagaimana pengekspresiannya. Ga harus jadi ilustrasi realistis, asal pesannya sampai. Tapi, sayang, komik ini ga nyampaiin isi novelnya 🥲
Meski art style-nya kaku dan ceritanya agak terlalu simpel (karena kalau betulan ngikut novelnya, pasti jadi jauh lebih tebal dan mihil pula harganya wkwkwk), Omen versi komik ini tetap oke dibaca, kok. Bisa dihabiskan sekali duduk juga. Nais lah~