(Bab 1: Fakta Tentang Otak)
Otak lantai atas atau otak logika, yang secara ilmiah disebut prefrontal cortex, merupakan bagian otak yang mengontrol perilaku kita agar lebih terarah. Prefrontal cortex membuat seseorang mengambil keputusan dengan bijak, menyusun rencana, berpikir kritis dan rasional, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan "logika". Prefrontal cortex juga bertugas untuk meregulasi emosi. Meregulasi emosi artinya mengontrol emosi. Seseorang awalnya marah, sedih, kesal, takut, bisa menjadi tenang kembali ketika emosinya telah teregulasi. Menurut penelitian, prefrontal cortex baru mulai berkembang di usia 3-4 tahun, berkembang pesat di usia remaja, dan akhirnya matang di usia sekitar 25-30 tahun. Jadi, sangat dimaklumi kenapa anak-anak yang usianya sangat kecil kelakuannya "tidak masuk akal". Begitu pula dengan anak-anak remaja yang perilakunya tidak jarang membuat orangtua mengelus dada. Ya, karena otak anak-anak ini masih dalam tahap pembangunan. Belum sepenuhnya selesai. Pasti ada kendala dalam mengontrol emosi mereka.
*
Pada zaman modern ini, ancaman yang datang bukanlah binatang buas, melainkan berbagai suasana dan situasi sosial yang bisa membahayakan eksistensi diri. Selain kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, ada empat hal yang bisa menjadi ancaman atau sumber stres dan mengaktivasi otak emosi yang dalam bahasa Inggrisnya biasa disingkat dengan NUTS, yaitu sebagai berikut.
- Novelty: suatu hal yang baru atau asing.
- Unpredictability: suatu hal yang tidak bisa diprediksi atau berjalan tidak sesuai prediksi.
- Threat to ego: saat kemampuan, status, dan kepintaran kita dipertanyakan.
- Sense of low control: merasa tidak mampu mengontrol sesuatu atau adanya hal-hal di luar kontrol.
*
Selain otak atas dan bawah. ada juga otak kiri dan kanan. Istilah ilmiahnya hemisfer kiri dan kanan. "Anakku dominan otak kiri, nih! Jago Matematika!", "kalau anakku dominan otak kanan, jiwa seninya mengalir deras!"
Ungkapan seperti ini sebenarnya mitos. Kedua bagian otak ini punya potensi yang sama tetapi memang kerjanya berbeda. Otak bagian kiri terlihat lebih aktif ketika kita menyusun kata, melihat fakta, memperhatikan urutan dan angka, dan berpikir ke depan. Sedangkan otak kanan lebih banyak memberi warna seperti memperhatikan ekspresi wajah, melihat sesuatu sesuai konteksnya, mengatur intonasi saat berbicara, seperti menikmati momen saat ini. Pada anak-anak, otak bagian kanan lebih dominan.
Tidak heran, anak-anak melompat ke sana kemari saat berjalan ke sekolah, tidak peduli mereka bisa terlambat. Namun sayangnya, kita hidup di dunia yang memaksa otak kiri bekerja dominan. Misalnya, terus berpikir tentang masa depan, rencana, melihat semua sesuai fakta atau urutan. Akibatnya, ketika dewasa, kita tanpa sadar terus berpikir ke depan tanpa menikmati hari ini. Kita cenderung fokus ke fakta tanpa melihat konteks. Kita bahkan lupa memperhatikan raut wajah lawan bicara karena hanya fokus dengan isinya.
Semua bagian otak, baik otak logika maupun otak emosi serta otak kiri dan otak kanan sebaiknya digunakan secara seimbang. Otak berkembang dengan cara membangun koneksi antarself saraf. Koneksi ini akan terbentuk melalui pengalaman hidup. Sehingga, ketika otak emosi sedang membara, kita bisa meredakannya dan mengakses otak logika dengan cepat untuk berpikir jernih: apakah ini benar-benar bahaya yang mengancam nyawa? Begitu pula dengan koneksi antara otak kiri dan kanan yang harus dibangun dengan kuat. Antara otak kiri dan kanan terdapat corpus calosum sebagai jembatan antara dua area ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa corpus callosum ini mengalami penurunan volume dan koneksi saraf pada anak yang mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun mental di masa kecilnya.
Memangnya apa dampak dari gangguan pertumbuhan corpus callosum? Gangguan pada corpus callosum berkaitan dengan gangguan fungsi sosial, gangguan kemampuan bahasa secara komprehensif, gangguan mendeteksi ekspresi wajah, bahkan gangguan kesehatan mental seperti bipolar.
Bagi anak-anak, lingkungan tempatnya tumbuh dan berkembang memegang peran penting dalam "pembangunan" otak. Proses pembangunan ini tentu dimulai dari lantai bawah dulu (sistem limbik atau otak emosi), baru ke lantai atas (prefrontal cortex atau otak logika). Jadi, jangan buru-buru ingin anak berlogika jika kebutuhan emosinya belum terpenuhi. Sebagai orangtua, kita membantu anak untuk membangun fondasi yang kuat dalam perkembangan otaknya. Sebelumnya dijelaskan bahwa prefrontal cortex orang dewasa sudah berkembang sempurna (fully-developed). Namun, mengapa kita sering menemui orang dewasa yang tidak bisa mengontrol emosi, berperilaku tidak bijak, dan arogan? Ibarat memasak kue, ketika adonan dimasukkan ke oven selama 15-20 menit, kue pasti matang. Namun, apakah kuenya enak? Belum tentu! Adonan bahan yang kita campurkan saat membuat kue sangatlah penting untuk memastikan kue tersebut enak.
Nah, masa kecil anak akan sangat menentukan perkembangan struktur otak dan perilakunya saat dewasa. Yuk, kita cek fakta-fakta berikut ini.
- Kesulitan-kesulitan yang dialami anak pada masa kecil berkontribusi pada perilaku negatif di kemudian hari seperti pelaku kriminal, penggunaan alkohol, dan obat-obatan, rendahnya pencapaian akademik.
- Trauma masa kecil (pengabaian secara fisik dan emosional, kekerasan seksual) memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental dewasa pada masa dewasa.
- Pola asuh sangat berkaitan dengan kemmapuan kognitif anak seperti perencanaan, kemampuan memori, dan belajar.
Lingkungan tempat anak tumbuh menentukan bagaimana perilakunya saat dewasa. Jadi, apa yang kita tanamkan kepada anak saat ini akan menjadi fondasi bagi hidupnya kelak. Apakah kelak anak kita bisa menghadapi dunianya dengan baik? Semua bergantung pada fondasi yang kita bangun.