Jump to ratings and reviews
Rate this book

Filosofi Teras

Rate this book
Аракаh kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? Baperan? Susah move-on? Mudah tersinggung dan marah-marah di media sosial maupun dunia nyata?

Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

352 pages, Paperback

First published November 1, 2018

2461 people are currently reading
11458 people want to read

About the author

Henry Manampiring

12 books1,221 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5,766 (59%)
4 stars
3,033 (31%)
3 stars
648 (6%)
2 stars
133 (1%)
1 star
70 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 1,651 reviews
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
December 21, 2018
Saya senang sekali ketika menemukan buku ini di GD. Meski saya bukan penggemar buku non fiksi terutama buku self-help, saya penasaran dengan buku ini yang katanya menjelaskan filsafat Stoa dengan bahasa yang mudah dipahami. Stoa itu apa saya juga belum tahu sebelum mwmbaca buku ini.
Dan setelah membacanya, saya seperti dikasih lampu menghadapi hari-hari penuh stres yang saya hadapi belakangan ini. Bisa jadi karena saya merasa menemukan satu jalan keluar yang bisa saya tempuh sebelum saya benar-benar divonis hipertensi oleh dokter.
Sebenarnya buku ini bukan bacaan sekali duduk (saya bacanya dalam waktu 3 hari, karena saya mau meresapi apa yang tertulis dengan baik). Berangkat dari survey nasional tentang kekhawatiran, penulis menyampaikan satu filosofi yang bisa diterapkan untuk menghadapi kekhawatiran.
Siapa sih di dunia ini yang tidak pernah khawatir? Bahkan depresi menjadi satu kata yang sering kita dengarkan (atau alami) apalagi dalam situasi politik yang memanas. Inti dari buku ini adalah memahami batasan hal-hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan.
Meski ditulis oleh seseorang yang bukan ilmuwan di bidang filsafat, saya merasa buku ini bisa jadi referensi untuk mengenal tentang Stoa. Plus saya jadi penasaran mau baca buku Marcus Aurelius yang banyak dikutip dalam buku ini (semoga ada penerbit yang mau menerjemahkan).
Highly recommended lah buku ini.
1 review2 followers
June 17, 2020
Imagine you are stranded thousands of miles from your own country without money or belonging.

Many people will despair and curse their bad luck because of that.

But for Zenon from Cyprus, that became the basis of his life's work and legacy.

Formerly wealthy traders lost everything when stranded in Athens around 300 BC.

He was unemployed; he wandered into the bookstore, then became interested when reading about Socrates, then search and study with famous philosophers in the city.

When Zenon started teaching his students, he gave birth to a philosophy known as the Stoics, whose teachings of virtue, tolerance, and mastery have inspired thinkers and leaders of many generations.

The book titled Filosofi Teras, is quite rarely heard, especially among young people today. The term ‘teras’ is taken from the Greek "Stoa" which means pillared terrace. That book said, there used to be a philosopher who liked to teach his philosophy on a pillared terrace named Zenon, then the terms Filosofi Teras was used by the writer to facilitate the mention of "Stoicism" or "Stoics". Henry Manampiring, ‘selebtwit’ of the @newsplatter account, who is the author of the Filosofi Teras, wrote this book and put it into a simple philosophical concept. Starting from visiting a psychiatrist because he referred to his friends, he is known as an individual who is full of negative thinking. From someone with full of negative thoughts, he’s now able to apply a much better life--far from negative emotions. Henry Manampiring was inspired to write this book while reading How to Be a Stoic, written by Massimo Pigliucci. His eyes opened and found a therapeutic pathway without medicine that can be practiced for life, with a note of ongoing practice every day. Stoicism helped him to be more calm, peaceful, and able to control negative emotions.
This book is fascinating for me because several chapters discuss many concepts of Stoicism such as Premeditatio Malorum (or what the writer calls as Mental Immunization), Amor Fati (love your fate), and Poverty Practices (the practice of suffering). Premeditatio Malorum is a technique to strengthen mentally by imagining all the unfortunate events that might occur in our lives today and in the future—the worst thing that can be possible to happen. While Amor Fati teaches us not only to accept events that are beyond our control but also to love that destiny. Finally, the practices of poverty, in my opinion, it's suitable to be a continuation of premeditatio malorum. In premeditatio malorum, we are invited to imagine things that have the possibilities to happen, the practice of poverty is to force that lousy possibility in our lives so that we know what it's like to be in a position of distress. This can be done by fasting (training hunger) or doing digital detox (training for life without the internet), etc.

As I read it more, I also felt that this concept of Stoicism was indeed very much in line with my personality without obstructing my principles and views on how the world moves. In fact, among them, I have already practiced, and it worked well to reduce the negative emotions of mine.
The burden of life feels increasingly heavy at this time, especially when a pandemic due to coronavirus. We are hit by stress on the road due to not being able to work normally, and the workload is piled up because of Work From Home, not to mention having to face the possibility of getting a coronavirus when we leave the house.

Not to mention having to face economic problems due to all prices of basic necessities rising, while salaries did not go up even cut due to the pandemic.

For students, the situation does not make any better. Parents pressure to pursue their children' grades, stress when working on a thesis to personal problems with a boyfriend or friend, and can only be overcome remotely due to physical distancing regulations, make students and students easily triggered by their emotions.

Those are all problems in the real world. In the virtual world, the problem is no less complicated. Looking at friends' social media whose contents are traveling solely when it is clear that the regulations are prohibiting it for the sake of people’s safety, looking at those friends who can eat well in cafes and restaurants can also trigger depression—feeling unhappy compared to others.

To simplify our lives amid complicated problems during the pandemic of coronavirus, this book recommends that we have to focus on anything we can control so that we will feel happy. While unhappiness comes precisely from things that we feel it under our control, while in fact, they are not.

Henry Manampiring also presents interviews with psychiatrists, child psychologists, as well as several people who have practiced Stoicism, what they conveyed greatly enriched this book.
Henry's speaking style in his book is easy to read. Once you start reading, it is hard to put this book down before it closes. Stoicism is peeled layer by layer, from the matter of behaving on social media to how stoics view death.

Learning philosophy turned out to be fun, you know! After all, this book is worth reading.
Profile Image for Sulin.
331 reviews56 followers
August 18, 2019
"Saat kita terus-menerus ingin menyenangkan orang lain, ingin memenuhi ekspektasi orang lain, mendapatkan approval orang lain, meraih sebanyak-banyaknya likes dan views, tanpa sadar kita sudah diperbudak pendapat orang lain. Jika semuanya dilakukan tidak dengan kebebasan, melainkan untuk menuruti pendapat orang lain, apa bedanya kita dengan budak?"
-hlm. 73


BUKUNYA BAGUS BANGET OYYYYYY!

Kali ini saya mempelajari bahwa tidak baik antipati pada rak bestsellers di toko buku. Bahwa pada realitanya selera pasar masyarakat Indonesia selalu berkembang ke arah yang lebih baik dan positif dalam segi literasi! Yay! Buku populer, joss!

Berawal dari kegelisahan saya yang selalu migrain karena merasa beban hidup ini makin tua kok makin unbearable, datanglah saya menuju toko buku untuk memborong self-helf karena diri ini sejatinya sudah minta help dari beberapa bulan lalu. Salah satu buku yang saya beli adalah Filosofi Teras dari Henry Manampiring atau Om Piring. Sudah cetakan ketujuh di bulan Mei 2019 padahal bukunya baru rilis tahun ini. Luar biasa!

Filosofi stoa atau teras yang diajarkan adalah jenis filosofi yang tidak muluk-muluk. Teorinya sederhana tapi menuntut penerapan sehari-hari supaya bisa berhasil. Setelah membaca sambil berbuat, terasa sekali bahwa semakin hari saya semakin chill dan kepala tidak kepingin meletus lagi. Woah macam betul!

Sebelum memasuki poin penting bukunya saya ingin mengomentari bukunya secara tampilan terlebih dahulu. Ilustrasi dari mba Levina Lesmana, pemilihan font, dan warnanya bagus, sangat nyaman untuk penglihatan karena tidak melulu tulisan-tulisan. Waktu awal beli sempet jiper karena ukuran fontnya yang kecil tapi ternyata bahasa yg dipakai Om Piring sangat mengalir dan enak dinikmati. Runtutan bab dan konsep sub-sub babnya bagus. Apalagi di setiap bab ada simpulan dan di akhir ada contekan ulasan keseluruhan buku. Pokoknya nampak kali wak, ini buku yang well-written dan ditulis pakai riset. Mantul

Beberapa hal yang mengubah hidup saya, dalam poin:
1. Pernah denger happiness comes from within? Ya persis. Stoa mengajarkan kedamaian dari dalam diri, walau pada masa sulit sekalipun. Saya diajak untuk menjadi manusia yang bisa senang tanpa faktor eksternal, tapi dari pengubahan persepsi. Kebahagiaan adalah sesuatu yang berakar, bukan hal yang bisa direnggut, berubah, dan hancur karena hal eksternal. Bila bahagia hanya bergantung pada hal di luar kendali, sama halnya dengan menyerahkan kebahagiaan/kedamaian pada suatu benda/orang lain;

2. Semua hal yang terjadi saat ini, memiliki mata rantai. Semuanya adalah jejaring dari konsekuensi semesta. Misalnya kita hari ini bisa nafas itu tidak serta merta bisa nafas, tapi karena kita dibesarkan dengan baik, dilahirkan, orang tua kita membuat, orang tua kita bertemu, dan seterusnya. Dengan berpikir secara gambaran besar, maka akan terlihat kadangkala sebuah masalah di hidup itu sangat sepele dan layak diabaikan. Orang tidak perlu berlagak seperti kiamat besok;

3. Orang lain tidak bisa membuat kita merasa terganggu jika kita tidak memberikan izin. Kata-kata cemooh yang dilontarkan orang lain tidak serta merta mereduksi realita. Terkadang orang juga memberi komentar, dengan lingkup terbatas, pengetahuan terbatas, dan sudut padang yang terbatas dan bisa jadi keliru. Layakkah kita meladeni itu?;

4. Kemarahan mempengaruhi kewarasan kita hahahaha. Orang yang sedang berang biasanya kehilangan akal sehat dan menyemburkan apa saja. Bisa terjadi juga pada kita. Hal yang perlu dilakukan adalah melatih kepala untuk membedakan peristiwa yang sesungguhnya terjadi dan persepsi otomatis. Biasanya kita dibikin marah itu bukan karena peristiwanya, tapi karena bumbu-bumbu di kepala sendiri. Metode yang ditawarkan adalah STAR. STOP (jangan reflek memutuskan atau melakukan aksi pascaperistiwa), THINK & ASSESS (dipikir dulu, terus dipertimbangkan dan dinilai. No more pikir keri, dude! , baru deh RESPOND (ngasih feedback. Mantap kan?;

5. Dikotomi kendali/Trikotomi kendali. Ini yang paling saya suka! Jangan pusing sama hal yang di luar kendali a.k.a mau sampe kita nyemplung sumur juga ga ngaruh apa-apa. Lebih baik menghabiskan energi untuk hal yang memang berada di bawah kendali kita baik buruknya. Atau pada versi satu lagi, hal yang setengah hasilnya di bawah kendali kita. Jangan mau dibikin pusing sama urusan yang penyelesaiannya ngga di tangan kita. Nyapek-nyapekin~;

6. Melawan 3P yang destruktif saat mendapat masalah. Personalization, menganggap semua musibah yang terjadi adalah salah kita. Pervasiveness, menganggap musibah di satu aspek hidup adalah musibah di seluruh aspek hidup. Permanence, meyakini bahwa akibat dari musibah/kesulitan akan dirasakan terus-meneurs. Hmatekkkkk siapa tuh yang karena diputusin pacar atau dimarahin bos aja dramanya merembet ke seluruh aspek kehidupan dan percikannya mengenai orang yang salah gara-gara 3P ini?;

7. Amor fati . Hidup selaras dengan alam. Bukan pasrah, tapi ikuti arusnya untuk memudahkan hidup. Contohnya; tidak takut dengan mati. Waaah kalo kepo baca bukunya ya yg soal ini.

8. Premediatatio malorum. Simulasikan kemungkinan terburuk supaya kita senantiasa siap menerima kenyataan. Selain itu, latihan hidup susah juga direkomendasikan. Hal ini mudah buat saya, karena saya paling suka latihan susah (kedok antara memang hemat atau pelit). Memang kadang cara untuk mensyukuri apa yang dimiliki saat ini paling enak dan mengena dengan menghilangkannya sementara waktu. Misalnya, biasa naik taksi, jadi naik angkutan umum yang umpek-umpekan. Lebih bisa bersyukur!

Begitu aja sih, lumayan mengangkat beban yang ada di kepala setahun belakangan ini. Semoga semakin siap menjalani hidup. Ingat ya gaeeesss, kalau sudah merasa ada yang tidak beres dalam your way of living, bisa ditempuh 2 jalan: 1) Kalau udah parah banget cepetan ke psikiater, tes mental, 2) Misal masih idup biasa tapi ngerasa kayaknya salah deh caranya bisa back to root ke filosofi supaya prinsip-prinsip dasar dalam berkehidupan bisa direnovasi :)

Sehabis membaca buku ini serasa baru menetas dari Kinderjoy!
Profile Image for Puty.
Author 8 books1,381 followers
January 12, 2019
Untuk saya yang nggak terlalu banyak baca buku filsafat, buku ini memenuhi tujuannya untuk mengenalkan Stoicsm kepada pemula dan atau millennials. Walaupun menjelaskan sejarah dan latar belakangnya, buku Filosofi Teras ini terasa aplikatif dengan contoh-contoh kasus yang relatable dengan problematika kita, seperti kena macet atau banding-bandingin diri sama selebgram. Ada bab yg membahas soal parenting juga dan lumayan jleb.

Personally, nilai-nilai Stoicism yang dijelaskan di sini nggak ada yang baru. Seperti dijelaskan di buku ini juga, banyak value-value Stoicism yang sudah kita kenal dengan bahasa lain, seperti mindfullness, zen, ataupun prinsip-prinsip dalam Agama Islam seperti kejujuran dan menjadi apa adanya.

Namun saya merasa buku ini perlu dibaca lebih banyak millennials yang terobsesi punya feed Instagram sempurna sampai bela-belain ngutang.😅😅😅😅
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,037 reviews1,963 followers
December 18, 2018
Filosofi Teras ternyata lebih condong menjadi buku self help karena bahasanya yang populer sehingga membuat topik filsafat tidak harus membuat dahi berkerut.

Resensi lengkapnya bisa dibaca di Jurnal Ruang
Profile Image for Baskoro Indrayana.
15 reviews2 followers
December 29, 2018
tl;dr Good intro to stoicism, but not good enough as a whole.

+ Pengenalan yang bagus buat Stoicism, dan berbagai sumber & perspektif.
+ Millennial-friendly, terutama buat yang mau belajar stoicism tapi ora mudeng bahasa Inggris. Tapi ya tolong sampean ada usaha belajar dong biar bisa dapet pelajaran full ttg stoicism dan many other books. Jangan males.
- Ada beberapa bagian yang misinterpreted, jika dibandingkan dengan quote atau sumber aslinya.
- Humornya jayus, not my type. Mungkin biar millennial-friendly.
- Buat yang bisa bahasa Inggris dan mau dalemin stoicism lebih lanjut: buku ini ga bakal kasih lo depth yang cukup (sendirinya Gan Henry mengajak pembaca biar explore text Seneca, dkk). Dari gw sih rekomen ke website Daily Stoic dan beli buku Stoicism nya The Daily Stoic dr Ryan Holiday, atau buku terjemahannya Seneca atau Marcus Aurelius, atau Epictetus kalau lo sabar baca filosofi yang rada panjang.
Profile Image for Hanif.
110 reviews71 followers
March 28, 2019
There is actually nothing new for me about stoicism in this book. But it worked as a self-help book. I slow-read this book and did self-reflection and evaluation. Manampiring wrote it just to make this topic to be accessible and easy-to-read for Indonesians. One thing that really bugs me is that he often said "Pasti beberapa dari kalian menganggap kalau....." No, sir. We don't need to be judged like that. I like how he put some perspectives of people from different backgrounds. The layout and illustrations sugarcoat this book so that non-reading people will like this book.
Profile Image for Mariskova.
Author 11 books46 followers
April 5, 2019
Penulis berusaha menjelaskan topik yg belum terlalu dikenal di masyarakat dng bahasa yg sederhana dan mengalir. Tapi beberapa bahasan dan contoh diulang-ulang membuat beberapa bagian jadi membosankan.
Profile Image for Rudy yanto.
5 reviews5 followers
December 25, 2021
Buku ini saya beli saat po edisi terbatas merayakan cetakan ke-25 dan senangnya karena buku tsb ditandatangani langsung oleh penulisnya yaitu Om Piring. 😊👏

Buku dengan judul filosofi/filsafat (yang saya kira akan lumayan berat) tapi ternyata dikemas dengan ringan dan bahasa seperti diberikan saran oleh seorang teman/sahabat, bisa dibilang buku ini menolong banyak hidup saya terutama melalui prinsip-prinsipnya seperti: premeditatio malorum, trikotomi kendali dan S-T-A-R.

Buku yang recommended banget untuk dibaca dan berpotensi membuat para pembaca menjadi orang yang jauh lebih kalem, layak untuk 5 bintang.
Profile Image for Virna.
13 reviews5 followers
December 6, 2018
This book reminds me to realize that there are some things beyond my control. As a negative thinker who despises a lot of 'self-help' or 'positive thinking' book, I found myself quite enjoyed reading the book. I won't claim that stoic is the best philosophy ever, but I do find some good things from it. Thank you Om Pir for writing this book.
Profile Image for Marina.
2,038 reviews359 followers
February 23, 2019
** Books 15 - 2019 **

4 dari 5 bintang!

Buku ini sebenarnya menjawab apa yang lagi aku rasakan akhir ini bagaimana berdamai dengan rasa kekecewaan, kemarahan dan kecemasan yang tiada berujung melanda didiriku akhir-akhir ini. I will try do it then especially S-T-A-R's step. Somehow i felt relieved after read this philosophy books :)

Terimakasih Gramedia Digital Premium!
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
September 29, 2021
Buku tentang filsafat rasa religi. Barangkali begitulah kesan saya setelah membaca buku karya Om Piring yang satu ini. Bukunya enggak tebal-tebal amat. Hanya 312 halaman. Bisa ditamatkan mungkin kurang dari sepekan. Namun, untuk betul-betul memahami dan menyerap wejangan dari buku ini, pembaca perlu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari -sepanjang hidup.

Filosofi Teras mengajak kita untuk hidup selaras dengan alam yang artinya hidup dengan menggunakan nalar/rasio. Contoh kasusnya nih, kita baca status/postingan di media sosial yang menyinggung perasaan. Terus, kita marah-marah, berkomentar asal, dan membagikan postingan itu tanpa mencari tahu kebenarannya. Ini jelas enggak sesuai sama konsep para stoic, penganut mazhab stoisisme alias Filosofi Teras.

Belajar Filosofi Teras bukan berarti belajar agar tidak memiliki emosi sama sekali. Yang namanya emosi seperti senang, sedih, bahagia, kecewa itu manusiawi. Tapi, emosi negatif perlu dikendalikan agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Seperti kata Om Piring di halaman tiga puluh, tujuan utama dari aliran filsafat Yunani-Romawi purba ini adalah hidup dengan emosi negatif yang terkendali, dan hidup dengan kebajikan (virtue). Dengan kata lain, kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi manusia.

Untuk sampai ke sana memang butuh pengalaman panjang. Bahkan seorang stoic -sejati- saja enggan menahbiskan dirinya sebagai stoic. Bagi mereka, stoisisme itu proses belajar menjadi lebih baik yang tiada henti. Artinya, selama hayat masih dikandung badan selama itu pula mereka akan berupaya mengamalkan teori-teori stoisisme. Oleh karena itu, orang yang menerapkan ajaran ini lebih cocok disebut prokopton atau progressor, alih-alih stoic.

Selain mengajarkan hidup selaras dengan alam, buku ini juga mengajarkan tentang rasa syukur dan hidup untuk fokus hanya pada apa yang bisa kita kendalikan, yaitu persepsi, opini, penilaian, dan tindakan sendiri. Bukan fokus pada apa yang dikatakan/dilakukan orang lain. Pokoknya, banyak banget poin pembelajaran dari buku ini yang relevan dengan permasalahan manusia atau situasi pandemi.

Well, terima kasih Om Piring sudah meramu beragam teori ribet filsafat dan menjadikannya sebagai sajian yang lezat dan nikmat untuk otak dan sanubari generasi masa kini. Selamat dan sukses!

Profile Image for icih.
28 reviews13 followers
September 30, 2020
Baca buku ini setelah bertanya-tanya buku apa yang cocok bagi aku yang sering marah-marah over little things. Temperamen, ga sabaran, mudah frustrasi, panikan, selalu pesimis terhadap sesuatu, dan hal lain yang setahun belakangan sedang dirasakan karena tingginya tingkat stress. Karena tau perasaan-perasaan itu ga baik buat kesehatan mental, dan dari sinopsis buku ini kelihatannya dapat menjawab dan menyediakan solusi terhadap kebutuhanku, aku baca buku ini meskipun pertamanya takut bahasan filsafatnya bakal ribet.

Ternyata nggak sama sekali. Buku ini bener-bener berguna dan berdampak sangat besar buat aku setelah baca. Isinya tentang filsafat stoa, filsafat yang ternyata udah dipake ribuan tahun lalu oleh banyak filsuf maupun pemimpin kekaisaran. Kalo takut ga ngerti sama bahasannya, what I can convince you is the philosophy is not anything like that. Filsafat di sini filsafat praktis yang emang dipake dan dipraktikkan dalam kehidupan. Om Henry sebagai orang yang masih cukup muda juga menulisnya dengan bahasa yang sangat dimengerti oleh pembaca di awal umur 20 seperti aku.

Bagaimana dengan remaja? Apakah tetap relevan? Tentu. Filsafat stoa pada dasarnya bisa digunakan oleh semua kalangan karena emosi negatif tidak pandang umur. Bahkan anak kecil pun bisa merasakannya. Justru dengan belajar stoa lebih awal, kita bisa jadi lebih bijak juga dalam menyikapi masalah hidup. Buku ini menyediakan tips dan nasihat bagi semua kalangan umur, untuk anak, orang tua, apapun pekerjaannya. Menurutku, buku ini wajib dibaca oleh semua orang, supaya mereka terbantu melihat hal-hal apa yang perlu perhatian dan mana yang tidak.

Buku ini sangat lengkap sebagai pengantar terhadap filsafat stoa. Ada contoh dan latihan mental yang bisa langsung applicable kalau kita mau terus ingat buat makenya. Buat aku pribadi, karena buku ini menyediakan solusi yang kubutuhkan, pesan-pesan dalam buku ini akan terus aku ingat setiap kali merasakan emosi yang negatif.
Profile Image for Kenny.
19 reviews1 follower
December 29, 2018
Beli buku ini dari hasil PO di Kompas bulan November lalu, ada 6 poin menarik yang bisa saya implementasikan di kehidupan sehari hari:

1. Sebagaian hal ada di bawah kendali kita, sebagian tidak di bawah kendali kita, jangan menggantungkan hal-hal yang tidak di bawah kendali kita, karena yang ada malah bikin kamu capek sendiri.
2. Semua kesusahan yang kita rasain, datang dari pikirian kita sendiri, dan kita bisa mengendalikan pikiran kita sendiri, jadi stop overthinking.
3. STAR (Stop-Think & Assses-Respond) selalu lakukan ini di saat emosi negatif datang.
4. Premeditatio Malorum - melatih diri dari membayangkan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita sehingga kita bisa lebih siap.
5. Kita adalah Citizen of the World, jangan mendiskriminasi!
6. Kematian adalah bagian dari alam, tidak perlu ada yang ditakutkan.

Setelah baca bukunya, saya juga tertarik untuk lebih mempelajari Stoisisme, om piring merekomendasikan beberapa buku seperti: Meditations karya Marcus Aurelius, Enchiridion dan Discourses karya Epictetus, Letters to A Stoic dan On The Shortness of Life karya Seneca, How To Be a Stoic karya Massimo Pigliucci dan A Guide to The Good Life karya William Irvine.

Terima Kasih sudah menulis buku ini Om Pir, buku ini adalah referensi awal saya untuk mempelajari Stoisisme.
7 reviews1 follower
April 16, 2020
I don't think I can go on and on reading this book. I stopped at like 3/4 of the book. Well, it teaches really well enough about Stoicism but I can't take this much theory. It makes me even more questioning myself everytime I kind of lose control, like "come one syifa try to remember what it says in the book" and that doesn't make me content.

But it's a great introduction of Stoicism one can probably read after all. How Filosofi Teras is not an ideology, but a way of living. It also serves interview results with people who have applied the idea of Stoicism in their lives and how it changed them. It somehome tells things in an effective way too, on how to apply this philosophical way of life. Maybe when you jot down the important points and parts, and bring with you everywhere you go as a reminder, it might be working. But, I dont know, maybe it is just not for me.

I have (and am) day by day turned into a Stoic, nevertheless :p
I am still learning and (by far) is a really GOOD ride.
Profile Image for Kahfi.
140 reviews15 followers
November 16, 2019
Penilaian singkat kita terhadap filsafat didominasi oleh penilaian yang berbau tidak kooperatif yaitu pembahasan yang rumit, mengawang-awang, tidak menapak dan lain hal. Semua penilaian tersebut berhasil dipatahkan oleh buku populer ini, kelebihan yang dominan dalam buku ini yaitu mampu membuat filsafat diterima tidak dalam tataran teori melainkan dalam tataran praktis.

Filsafat dalam buku ini tidak melulu berbicara mengenai konsep dan strategi, melainkan aplikasi-aplikasi teori tersebut yang lebih ditonjolkan sehingga bagi siapapun yang membaca merasa akan senasib dan sepenanggungan.

Pemisahan filsafat dari pemahaman yang menakutkan sekaligus menjemukkan baik dalam kaitannya dengan menambah konstituen minat pembaca pada ilmu pengetahuan ini, sehingga tidak perlu deretan gelar bejibun untuk memahami bagaimana filsafat bekerja.
Profile Image for Bimo Tyasono.
16 reviews15 followers
May 22, 2020
Sebagai buku yang membawa judul filosofi, buku ini ringan sekali. Kita dibawa untuk bersama-sama belajar dengan penulisnya, bersama-sama membaca referensi dari Marcus Aurelius, Seneca, dan Eupectitus yang tulisannya berulang kali dikutip dalam buku.

Didukung dengan ilustrasi yang ditempatkan dengan tepat dan tidak berlebihan, buku ini cukup baik untuk menjadi pemantik awal bagi orang yang awam dengan filsafat stoa/stoisisme agar dapat menggali lebih dalam.

Baca buku ini di kala arahan pandemi di rumah aja, merupakan pilihan yang tepat agar bisa tetap berdamai dengan diri sendiri.
Profile Image for Rina April.
72 reviews3 followers
December 21, 2018
Finally a book from Om Piring that I can really relate to. I would be happy to recommend it to everyone I know.

Sedikit minus teknis karena agak terganggu dengan teks yang ngga rata kiri-kanan dan lingo interview yang agak Jakarta sentris.
Profile Image for Dzata Iffah.
46 reviews1 follower
January 28, 2022
Awal tahun 2022 berhasil menuntaskan buku ini dengan bangga wkwk.. Puas banget setelah membaca buku Filosofi Teras ini hingga habis. Banyak insight yang aku dapatkan dari buku ini yaitu yang membahas mengenai Filosofi stoa / Stoisisme dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang yang tak mempelajari filsafat secara mendalam. Pokoknya recommend banget deh..
FYI : aku dapat buku Filosofi Teras edisi ke 25 dengan bonus jaket cover yang di buat terbatas loh
Profile Image for Prinska Sastri.
86 reviews7 followers
December 19, 2018
Sebagai orang yang lagi penasaran dengan konsep Mindfulness, buku Filosofi Teras ini adalah suatu hal yang baru bagi saya. Stoisisme dan juga Mindfulness adalah konsep yang sama hanya saja dibedakan dari segi letak geografis dan juga penemunya. Intinya sama, melatih kita untuk sadar penuh pada apa yang kita lakukan, non judgmental, melatih menerima emosi negatif dan juga melakukan aktivitas pasrah pada apa yang terjadi diluar kendali kita. Buku ini bagus untuk kehidupan sekarang. Nice book :)
Profile Image for Veny.
17 reviews2 followers
April 29, 2019
Buku yang cukup ringan dibaca tapi sangat bermanfaat. Walaupun sudah sedikit banyak tahu soal “stoicism”, buku ini menjabarkan filosofi ini dalam bahasa yang mudah dimengerti, diselipi humor juga, dan praktis untuk penerapannya sehari-hari. Saya juga suka dengan cara Henry menampilkan obrolan dengan pakar-pakar di bidang yang dibahas di buku ini. Sesudah selesai baca buku ini, saya “lungsurkan” ke mama, yang juga kebetulan suka dengan topik ini. Great job, Henry, thanks for writing this book!
Profile Image for Anatasya Rafelinda.
35 reviews
May 22, 2020
Literally changing my life. This book is definitely describe my quo situation which i had no idea what it's called (used to call it : calm face/positive thinker).
What i've got from this book are :
- stop over thinking about things you can't control
- questioning your bad emotion
- put yourself in someone else's shoes, look at their perceptive (getting improved)
- being tolerance with every humanbeing
- don't be scared with that
- live in a path with nature
Profile Image for Agnes Oryza.
56 reviews62 followers
February 11, 2022
Pertama kalinya aku membaca tentang Filosofi Teras alias Stoicism, wah pilihan tepat deh baca buku Om Piring ini. Narasinya bagus sekali, teori selalu dipasangkan dengan contoh yang relatable dengan keseharian kita. Bener-bener ringan juga dan mudah dicerna, untuk aku yang sering merasa khawatir berlebihan buku ini bagus sekali dan sangat membuka pikiran. Jadi ingin baca buku stoic lainnya!
Profile Image for cozyreading.
50 reviews11 followers
January 21, 2023

Beneran bagus sih emanggg👍🏻👍🏻✨4,5/5⭐️
Buku yang punya aku aja ini udah cetakan ke 47 (Agustus 2022)serame itu yg baca🥲🤝
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
August 16, 2023
Sudah lama saya mencurigai bahwa buku ini overrated, kebanyakan digoreng sehingga ramai dibicarakan dan dipuja-puji. Makanya saya bertahan untuk tidak baca buku ini, ntar-ntar aja deh kalau keriuhannya mulai sepi.

Namun baru-baru ini muncul versi cetakan ke-50. Hmm, hebat juga ya dalam waktu 5 tahun aja buku berbasis filsafat ini bisa diterima pembaca Indonesia? Dengan rasa penasaran, akhirnya luluh juga hati ini untuk membelinya.

Yang saya dapatkan cetakan ke-50 Juli 2023. Berbeda dengan desain sebelumnya, kali ini formatnya hardcover, berwarna tosca dengan ilustrasi yang lucu.

Yang menarik tidak hanya nama penulis yang dicantumkan, tapi nama ilustratornya juga ditulis di cover. Begitu juga di halaman akhir, terdapat profil Levina Lesmana sebagai ilustrator.

Versi terbaru ini nggak dapet pembatas buku, adanya pembatas pita doang. Sebagai gantinya ada bonus gantungan kunci.

Lalu ada tambahan bab spesial tentang “Catatan Tahun Politik” menjelang tahun politik 2024. Di mana saat menjelang pemilu sering kali ada pihak yang ingin memprovokasi kita. Buku ini diharapkan bisa menjadi semacam vaksin yang membantu kita melawan hoaks, ujaran kebencian dan berbagai upaya murahan untuk mendulang suara di pilkada maupun pilpres.

***

FILOSOFI TERAS vs POSITIVE THINKING

Jika terbersit dalam pikiran, “Hidup kok gini-gini aja”, itulah pertanda awal depresi. Salah satu cara woles untuk menyingkapinya adalah dengan mempraktekkan Stoisisme atau Filosofi Teras.

Lalu apa bedanya Filosofi Teras dibanding positive thinking atau tips-tips self help lainnya?

Kebanyakan tips-tips tersebut memfokuskan kita pada hal-hal diluar kendali kita, yang belum kita dapatkan atau kita raih. Menurut penulis, pola pikir seperti itu adalah jalan menuju ekspektasi yang tidak realistis dan bisa kecewa berat ketika hal yang kita idam-idamkan tidak terwujud.

Ini maksudnya mungkin semacam teori Law of Attractions kali ye.

Percuma kita hidup 100 tahun, jika isinya mengejar hal-hal di luar kendali kita. Bisa stres lama-lama, bahkan kalau kelamaan, nanti kita nggak sadar bahwa kita sedang stres, saking sudah biasa hidup dalam stres. Gitu katanya.

Filosofi Teras lebih memprioritaskan hal-hal di dalam diri kita yang bisa kita kendalikan : pikiran dan persepsi.

Caranya dengan menyadari 3 hal :

DISCIPLINE OF DESIRE
Disiplin mengendalikan keinginan, ambisi, nafsu.

Salah satu prinsip utama Stoisisme adalah mengajak kita untuk hidup selaras dengan alam.

Maksudnya tuh ya kalo kita manusia, ya jadi manusia aja. Gunakan nalar, jangan menuruti nafsu kebinatangan kita. Kebutuhan manusia menurut yang ditetapkan Alam tidak besar, tapi ketidakpuasan manusialah yang ingin mengejar hal-hal yang lebih banyak lagi.

Bisakah kita fokus dengan apa yang telah kita miliki?

Lalu ada tips untuk latihan. Coba luangkan dalam setahun untuk melepaskan kenyamanan yang bisa kita nikmati selama beberapa hari.

Bagi yang bisa naik mobil pribadi ke sana kemari, cobalah untuk merasakan naik angkot. Yang biasa pake smartphone cobalah untuk puasa internet, Yang biasa pakai AC, cobalah untuk tidur tanpa AC.

Stoisisme mengajak untuk tidak terlalu melekat pada hal-hal tersebut. Karena kenikmatan itu semua diluar kendali kita dan bisa lenyap kapan aja.

Dengan rutin "mengguncang" base level diri sendiri alias hidup prihatin, kita kembali menghargai apa yang telah kita miliki.

Sebaliknya, dalam situasi yang paling menyakitkan, Filosofi Teras bisa jadi obat hiburan supaya merasa hidup masih punya makna. Kita tidak bisa memilih nasib, tapi kita bisa menentukan sikap atas situasi yang sedang dialami.

Hidup selaras dengan Alam artinya menerima apa yang sedang terjadi, dan belajar menyesuaikan diri kita dengan kenyataan yang ada. Jika kita menerima realita, kita bisa berhenti bersusah hati dan stres, karena toh kita hanya menjalani kehidupan dan hukum Alam.

Stoisisme melihat segala sesuatu di alam semesta ini saling terkait, termasuk semua peristiwa di dalam hidup kita sehari-hari. Tidak ada peristiwa kebetulan, semuanya nyambung dari peristiwa masa lalu sampai detik ini.

Coba dirunut, rentetan peristiwa apa aja penyebab kamu bisa baca review saya sekarang di goodreads? hehe.

DISCIPLINE OF ACTION
Disiplin dalam bertindak & berperilaku supaya lebih woles.

Drama kehidupan yang kita jalani ini kalau dipikir-pikir sebenarnya tidak istimewa, semacem titik debu dalam keseluruhan perjalanan sejarah dunia? Jadi kenapa harus direspon secara berlebihan?

Banyak masalah sepele tidak perlu dicari solusinya, cukup dihindari dan dilupakan. Rugi banget kalau waktu dan energi untuk memusingkan hal-hal yang nggak sepadan.

Sering kali kita pelit soal harta benda, tetapi begitu soal membuang-buang waktu, kita justru boros. Padahal waktu adalah harta yang terus menerus berkurang.

Sayang kalau dihamburkan untuk berkutat pada hal-hal yang tidak penting. Karena toh akhirnya, dalam beberapa hari, minggu, bulan atau tahun, semua akan terasa remeh dan biasa aja lalu kita sendiri mungkin melupakan atau menertawakan masalah tersebut.

Jadi inget quotenya Gus Dur yang populer, “Gitu aja kok repot?”

DISCIPLINE OF ASSENT / JUDGEMENT
Disiplin menyangkut kemampuan kita mengendalikan opini, interpretasi, value judgement.

Bagi kita yang hidup di Indonesia, tekanan opini orang udah jadi makanan sehari-hari. "Apa kata orang?" adalah ucapan yang sering kita dengar.

Kita yang selalu (katanya) lebih mencintai diri sendiri daripada orang lain, justru lebih peduli pada pendapat orang lain daripada pendapat diri sendiri.

Lalu tanpa kita sadar, berencana dan bertindak karena mengikuti pendapat orang lain, baik itu keputusan-keputusan besar sampai keputusan kecil.

Itu tanda kita sudah diperbudak oleh orang lain. Trus mau sampai kapan hidup kayak gitu?

***

Buku ini cocok buat orang yang overthinking dan pikirannya mbulet, seperti penulisnya.

Kentara banget dari tulisannya yang muter-muter, diulang-ulang, bertele-tele dan kurang sistematis. Mungkin diulang-ulang maksudnya untuk penekanan supaya menancap di ingatan pembaca.

Bukunya memang ringan, tidak seberat buku filsafat pada umumnya, namun untuk saya, pengulangan-pengulangan tersebut bikin lelah dan gemes pengen meringkas buku ini.

Buat saya buku ini biasa aja, serba nanggung. Saya ga dapet perspektif baru, beberapa hal juga udah kadaluwarsa.

Bintang 2 untuk buku ini.
Profile Image for Brenda Waworga.
667 reviews695 followers
October 12, 2025
Truely deserved all the hype! buku yang bakalan kubaca berulang kali buat melatih dan mengingatkan diri & cara berpikir menghadapi hidup 😂 it’s as simple as STAR (stop,
think, assesed & react)

Memang benar kadang-kadang kita “jauh menderita” karena pikiran kita sendiri ketimbang realita hidup sesungguhnya

“10% masalah dalam hidup kita adalah masalah itu sendiri, 90% adalah reaksi kita sendiri”
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,430 reviews72 followers
Currently reading
October 8, 2025
Bab Dua: Sebuah Filosofi yang Realistis

Artikel "The Tyranny of Positive Thinking Can Threaten Your Health and Happiness" (Tirani Berpikir Positif Dapat Mengancam Kesehatan dan Kebahagiaan Anda) di Newsweek menyatakan bahwa positivie thinking justru bisa menyebabkan sebagian orang gagal dan merasa depresi, karena secara implisit "menyalahkan" diri sendiri jika mereka merasa tidak bahagia. Misalnya, kita sedang merasa terpuruk karena tidak lulus ujian. Kesedihan ini masih ditambah lagi kita menjadi merasa bersalah karena merasakan kesedihan itu sendiri ("Saya harusnya bisa positive thinking, kenapa saya masih merasa sedih?"). Ini bagaikan kena tinju dua kali, dan tinju kedua --merasa bersalah karena tidak bisa bahagia--justru yang lebih merusak dibandingkan kegagalan ujian itu sendiri.

Julie Norem, Profesor Psikologi dari Wellesley College yang menjadi narasumber artikel tersebut, meneliti mengapa beberapa orang justru memberi respons lebih baik terhadap peristiwa negatif, sebuah sikap yang disebutnya sebagai "pesimisme defensif". Penelitiannya menunjukkan bahwa dengan memikirkan segala sesuatu bisa berjalan tidak sesuai rencana, orang-orang ini justru mengurangi kekhawatiran mereka dan sering kali sanggup untuk mengantisipasi hambatan-hambatan tersebut.

Dalam artikel yang sama, penulis Barbara Ehrenreich menyalahkan krisis finansial 2008 kepada para investor yang menolak untuk memikirkan kemungkinan yang buruk (berinvestasi hanya membayangkan untung besar saja, tidak mau memikirkan bahwa investasi bisa juga merugi).

(...)

Bagaimana dengan Agama? Tidakkah agama (seharusnya) menawarkan cara memperoleh kedamaian dunia (selain di surga)?

Walaupun di atas kertas memang demikian, tetapi dari pengamatan pribadi saya banyak orang masih menjadikan agama hanya sebagai "tiket ke surga", di mana ritual keagamaan menjadi sekadar daftar yang harus dicentang untuk memenuhi syarat masuk surga, tetapi para penganutnya tidak memahami dan menerapkan substansinya sebagai pedoman kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, sering kali (interpretasi) agama dijadikan alasan untuk bertengkar dan menyakiti orang lain.

Selain itu, identitas agama sering dijadikan dasar untuk "membedakan", bukan untuk mencari kesamaan yang mempertemukan (commond ground). Boro-boro mencari kesamaan antar-agama dan keyakinan yang berbeda, bahkan di dalam agama dan keyakinan yang sama saja kita bisa mencari-cari perbedaan interpretasi, mazhab, dan ritual untuk dipertengkarkan.

(hal 19-21)


"Seorang praktisi Stoa seharusnya merasakan keceriaan senantiasa dan sukacita yang terdalam, karena ia mampu menemukan kebahagiaannya sendiri, dan tidak menginginkan sukacita yang lebih daripada sukacita yang datang dari dalam (inner joys)"

(Seneca -- On Happy Life)

(hal. 26)


Yang terutama ingin dicapai oleh Stoisisme adalah:

1. Hidup bebas dari emosi negatif (sedih, marah, cemburu, curiga, baper, dan lain-lain), mendapatkan hidup yang tenteram (tranquil). Ketenteraman ini hanya bisa diperoleh dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.

2. Hidup mengasah kebajikan (virtues). Ada empat kebajikan utama menurut Stoisisme:

a. Kebijaksanaan (wisdom): kemampuan mengambil keputusan terbaik di dalam situasi apa pun.

b. Keadikan (justice): memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur.

c. Keberanian (courage): keberanian berbuat yang benar, berani berpegang pada prinsip yang benar. Ini bukan "berani" dalam makna sempit, seperti bernyali masuk kandang singa (walaupun jika kita membaca kisah hidup para filsuf Stoa, rasanya mereka juga akan berani masuk kandang singa jika memang perlu....).

d. Menahan diri (temperance: disiplin, kesederhanaan, kepantasan, dan kontrol diri (atas nafsu dan emosi).

Saat saya mempelajari Stoisisme, saya menemukan bahwa "kebahagiaan" (dalam pengertian umum) bukanlah tujuan utama yang dicari dalam filosofi ini. Para filsuf Stoa lebih menekankan pada mengendalikan emosi negatif, dan mengasah virtue (kebajikan, atau terjemahan lainnya, "keutamaan"). Virtue dalam bahasa Inggris diambil dari bahasa kata dalam Bahasa Latin virtus, dan kata ini sendiri diambil dari bahasa Yunani arete. Dalam proses penerjemahan berlapis ini tentu ada makna yang hilang, dan penting untuk kita mengetahui makna asli dari kata arete.

Dalam bukunya, Stoicism and The Art of Happines, Donald Robertson menerangkan bahwa arete bermakna menjalankan sifat dan esensi dasar kita dengan sebaik mungkin, dengan cara sehat dan terpuji. Atau, kalau saya mencoba mengunakan kata-kata saya sendiri, hidup sebaik-baiknya sesuai dengan peruntukkan kita.

(...)

Filosofi Teras percaya bahwa hidup dengan arete/virtue/kebajikan ini yang harus dikejar oleh kita semua. Bersama-sama dengan kemampuan mengendalikan emosi negatif, maka hidup yang tenteram, damai, dan tangguh akan hadir sebagai konsekuensi.

(hal. 27-28)


tujuan utama dari Filosofi Teras adalah hidup dengan emosi negatif yang terkendali, dan hidup dengan kebajikan (virtue/arete)--atau bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi manusia.

(hal. 33)


*

Bab Tiga: Hidup Selaras Dengan Alam

Satu prinsip utama Stoisisme adalah bahwa kita harus "hidup selaras alam" (in accordance with nature). (...) Di dalam Stoisisme, "Alam" Nature --dengan huruf pertama kapital( di sini lebih besar dari "lingkungan hidup", serta mencakup keseluruhan alam semesta dan selruh penghuninya.

Dalam konteks nature dari manusia, Stoisisme menekankan satu-satunya hal yang dimiliki "manusia" yang membedakannya dari "binatang". Hal tersebut adalah nalar, akal sehat, rasio, dan kemampuan menggunakannya untuk hidup berkebajikan (life of virtues).

Jadi, menurut konsep arete, manusia yang hidup dengan arete/virtue/kebajikan adalah ia yang sebaik-baiknya menggunakan nalar dan rasionya, karena itulah esensi, nature mendasar dari menjadi manusia.

(hal. 36)


Jadi, jika ingin hidup bahagia, bebas dari emosi negatif, kita harus hidup selaras dengan alam yang berarti menggunakan nalar. Jika kita tidak menggunakannya, berarti kita tidak ada bedanya dengan binatang.

Selain memiliki nalar, Stoisisme percaya bahwa sifat alami (nature) manusia adalah social creatures (makhluk sosial). Artinya kita harus hidup sebagai bagaian dari kelompok yang lebih besar. Jadi, seorang praktisi Stoa seharusnya tidak mengisolasi dirinya dari manusia, dan juga berhubungan dengan orang lain secara rasional.

*

Bab Empat: Dikotomi Kendali

Dalam Enchiridion, Epictetus berkata bahwa ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita. Prinsip ini disebut "dikotomi kendali" (dichotomy of control). Apa saja yang masuk ke dalam dua definisi ini menurut Stoisisme?

TIDAK di bawah kendali kita:

- Tindakan orang lain (kecuali tentunya dia berada di bawah ancaman kita).

- Opini orang lain.

- Reputasi/popularitas kita.

- Kesehatan kita.

- Kekayaan kita.

- Kondisi saat kita lahir, seperti jenis kelamin, orangtua, saudara-saudara, etnis/suku, kebangsaan, warna kulit, dan lain-lain.

- Segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca, gempa bumi, dan peristiwa alam lainnya.

- Ada banyak hal yang belum ada di masa para filsuf Stoa hidup, tetapi dapat kita kategorikan di sini, seperti harga saham, indeks pasar modal, razia, sepeda motor, dan nilai tukar rupiah.

DI BAWAH kendali kita:

1. Pertimbangan (judgment), opini, atau persepsi kita.

2. Keinginan kita.

3. Tujuan kita.

4. Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Epictetus menjelaskan dalam Enchiridion,

"Hal-hal yang ada di bawah kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat; tetapi hal-hal yang tidak di bawah kendali kita bersifat lemah, bagai budak, terikat, dan milik orang lain. Karenanya, ingatlah, jika kamu menganggap hal-hal yang bagaikan budak sebagai bebas, dan hal-hal yang merupakan milik orang lain sebagai milikmu sendiri... maka kamu akan meratap, dan kamu akan selalu menyalahkan para dewa dan manusia."

(hal. 48)


Namun, apakah dua dikotomi tersebut adalah mutlak? Bukankah kekayaan bisa datang dari kerja keras dan ide-ide brilian kita? Bukankah ketenaran bisa dibangun dengan jerih payah kita seperti misalnya memposting karya kita secara konsisten dan mempromosikannya di media sosial? Kita juga bisa memelihara kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga. Bukankah itu berarti kekayaan, ketenaran, dan kesehatan adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan?

Di sinilah pentingnya memahami bahwa "kendali" bukan hanya soal kemampuan kita "memperoleh", tetapi juga "mempertahankan". Kenyataannya, kekayaan, ketenaran, dan kesehatan memang bisa diusahakan untuk dimiliki, tetapi apakah kita yakin bisa sepenuhnya mempertahankannya?

hal. 50)


Kekayaan bisa lenyap. Misalnya jika rumah, mobil, atau harta kita terbakar habis. Bisnis juga bisa bangkrut. Bencana alam bisa melenyapkan properti kita dalam sekejap. Pasar saham dan investasi bisa merosot mendadak.

Ketenaran yang dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun bisa lenyap hanya karena salah omong/salah posting di media sosial. Fitnah juga bisa menghancurkan ketenaran.

Persahabatan melibatkan orang lain sehingga ini di luar kendali kita. Meskipun kita sudah mempertahankannya dengan segala upaya, hati teman kita bisa saja berubah.

Kesehatan, meskipun sudah menjaga kesehatan, ternyata tetap bisa terkena sakit seperti kanker karena masalah genetik. Atau bisa saja kita mendadak kecelakaan karena kecerobohan orang lain.

"Siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang di luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa setia pada dirinya sendiri, tetapi akan terus terombang-ambing terseret hal-hal tersebut," ujar Epictetus dalam Discourses.

Epictetus menyebutkan dua sikap yang biasa kita lakukan terhadap hal-hal di luar kendali kita: mengingininya (seperti menginginkan kekayaan, popularitas, kecantikan, dan lain-lain) dan juga menghindarinya. Kita juga bisa terobsesi menghindari hal-hal buruk seperti kemiskinan, kesusahan hidup, kejahatan, kematian, dan lain-lain.

Manusia yang rasional diharapkan bisa menahan diri dari keinginan akan hal-hal di luar kendali kita (harta benda, reputasi, kenikmatan ragawi seperti makanan, minuman, seks, dan kesehatan). Sebaliknya, keberanian timbul karena kita sadar kebahagiaan kita tidak tergantung pada hal-hal di luar kendali kita. Jika kekayaan, reputasi, kesehatan diambil dari kita, kita bisa tetap bahagia, jadi mengapa takut?

(hal. 53-54)


WAH! Ngomong sih mudah. Siapa yang mau coba ngalamin kehilangan semua hal?

Dikotomi kendali tidak mengajarkan kita untuk pasrah dengan keadaan. Di semua situasi, bahkan saat kita merasa tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi.

(hal 54)


Filosofi Teras mencontohkan kisah Vice Admiral James Stockdale, pilot AL AS yang terjun ke perang Vietnam. Pada September 1965 pesawatnya ditembak jatuh ke wilayah musuh. Dia selamat dengan terjun keluar memakai parasut. Namun, setelahnya dia ditangkap dan dipukuli hingga pincang seumur hidup. Dia kemudian menjadi tawanan perang selama 7,5 tahun. Lebih dari 4 tahun di antaranya dia habiskan di dalam sel isolasi.

Selama ditawan, dia terus disiksa sampai 15 kali. Namun, Stockdale tetap berusaha menyemangati dan menghibur para tawanan lain. Akhirnya dia dibebaskan dan kembali ke AS lalu menuliskan pengalamannya ke dalam buku berjudul "Courage Under Fire: Testing Epictetus' Doctrines in A Laboratory of Human Behavior". Dia menulis soal bagaimana Stoisisme bisa membantunya melalui episode tergelap dalam hidupnya.

Victor Frankl, seorang psikiater yang hidup di Austria pada Perang Dunia II juga mengalami banyak tragedi. Ayah, ibu, saudara laki-laki, dan istrinya yang sedang hamil mati dalam waktu yang berdekatan di kompleks tahanan (ghetto) Yahudi. Selama di kamp konsentrasi, Frankl tetap menyediakan kelas pengajaraan dan layanan kesehatan bagi sesama tahanan hingga akhirnya dia dibebaskan setelah pasukan AS datang. Frankl lalu menulis buku Man's Search For Meaning tentang pengalamannya. Buku itu menjadi salah satu buku psikologi paling populer sepanjang masa dan menjadi basis terapi psikologi Frankl yang disebut Logotherapy.

Dari pengalamannya, Frankl menyimpulkan bahwa dalam situasi yang paling menyakitkan dan tidak manusiawi, hidup masih bisa memiliki makna, dan karenanya, penderitaan pun dapat bermakna (meaningful). Kita tidak bisa memilih situasi kita, tetapi kita selalu bisa menentukan sikap (attitude) kita atas situasi yang sedang dialami.

(hal. 57)


"Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan, dan labil."

(Epictetus, Discourses, hal. 61)


Kisah Cinderella ternyata juga mengandung nilai Stoa. Sebelum meninggal, ibu Ella berpesan, "Have courage and be kind". Ibu tirinya digambarkan tak bisa menerima kenyataan saat suaminya (ayah Ella) yang selama ini menopang hidupnya meninggal. Dia takut akan jatuh miskin. Sementara Ella menghadapi hal ini dengan tabah dan tetap ramah pada orang lain, bahkan kepada para binatang. Ella tidak terobsesi pada hal di luar kendalinya (kekayaan keluarga) dan bersikap "berani serta ramah" (yang ada di bawah kendalinya).

*

Trikotomi Kendali

William Irvine dalam bukunya, A Guide to Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy merevisi dikotomi kendali menjadi trikotomi kendali, yaitu:

- Hal-hal yang bisa kita kendalikan, seperti opini, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri.

- Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan seperti cuaca, opini, dan tindakan orang lain.

- Hal-hal yang bisa SEBAGIAN kita kendalikan. Irvine mengusulkan bahwa sekolah, pekerjaan, perlombaan, hubungan dengan pasangan, bisa dimasukkan ke dalam kategori ketiga (SEBAGIAN dalam kendali). Bagaimana cara penerapan kategori yang ketiga ini di dalam hidup sehari-hari? Dengan memisahkan tujuan di dalam diri (internal goal) dari hasil eksternalnya (outcome).

(hal 63)
Profile Image for Lilian.
168 reviews11 followers
March 22, 2021
2.5 stars rounding up. it's not bad, but it's not that good for me personally. ku bahas sisi teknisnya dulu. aku suka ukuran bukunya, pas dan nyaman di tanganku yg agak kecil. lalu ilustrasinya bagus sekali, meriah tapi tidak berisik. tapi, layout-nya agak mengecewakanku. tulisannya sangat mepet ke sisi luar dan paragrafnya kenapa tidak di-justify? plus, rapat sekali spacing antar barisnya. dan satu lagi, terlalu banyak penggunaan quote-unquote, kalimat yg dikurung, dan pengulangan istilah dalam bahasa inggris.

lalu, mari kita bahas isinya. buku ini bukan buku filsafat, lebih ke self-help atau self-improvement. kenapa judulnya filosofi teras? karena metode self-help didasari filsafat stoa yg arti harfiahnya adalah teras. filsafat stoa dijelaskan dengan cukup detail dan diberi contoh kehidupan sehari-hari dengan selipan jokes -- yg beberapa terkesan agak dipaksakan. ada konsep yg menurutku di-oversimplify dan ada juga yg tidak berimbang -- penulis menyertakan teori yg mendukung opininya tanpa disertai sudut pandang lain. tapi secara keseluruhan, ini adalah buku yg sangat baik untuk mengantarkan anak muda dalam mengenal ilmu filsafat dan mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari.

inti dari filsafat stoa adalah mencapai tranquility dengan terus melatih pikiran kita melalui dikotomi kendali : apa-apa saja yg bisa kita kendalikan vs apa-apa saja yg di luar kendali kita. harapannya adalah kita bisa memusatkan energi untuk mengoptimalkan hal dalam kendali kita dan tidak mudah terusik dengan hal yg di luar kendali kita. latihan mental yg sangat berguna dalam menghadapi kegagalan dan ketidaknyamanan.

Kamu sungguh sial jika kamu tidak pernah tertimpa musibah. Karena artinya kamu menjalani hidup tanpa pernah menghadapi lawan. Tidak ada yg tahu kemampuanmu sesungguhnya -- bahkan dirimu sendiri tidak. (Seneca - On Providence)


Displaying 1 - 30 of 1,651 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.