.. Malala (bhs. Minangkabau) artinya “pergi ke mana-mana tanpa tujuan jelas". Dimulai di sekitar rumah, pasar, dan seterusnya sampai jauh, tidak hanya secara ruang, tetapi juga waktu. Setiap puisi memuat ruang-waktu tertentu tempat aku lirik menyampaikan sekaligus merespons-berbagai gambaran peristiwa dan kondisi penting yang pernah terjadi dalam sejarah perjalanan umat manusia. Manuskrip ini menarik untuk konteks hari ini sebagai counter terhadap narasi perjalanan sebagai suatu pencarian spiritual dan perjalanan pulang, misalnya dalam travel writing yang marak belakangan ini, atau yang bahkan bisa dilacak sampai ke wiracarita Odysseia karya Homeros. Manuskrip ini tampak ditulis dengan kesadaran bahwa perjalanan adalah sesuatu yang bisa dilakukan tanpa tujuan ... (Juri Sayembara DKJ Puisi 2021)
Seperti judulnya “Malala”: keluyuran, kita dibawa kemana-mana dengan referensi-referensi yang menyenangkan. Saya mengerti kenapa ini menjadi puisi pilihan juri sayembara DKJ. Membacanya seperti menjelajah, saya juga suka pemilihan kata dan diksinya. Tipikal puisi yang fresh & fun, mudah dipahami tapi tetap dalam. Kepiawaian sastra penulis tidak diragukan dengan memainkan segala aspek yang tidak bikin bosan, pembahasan kritik sosial, politik, teknologi hingga dakwah agama semuanya ada. Saya suka!
I found this book not as interesting as what that “jury’s choice manuscript” pic/words told on its cover. The stories in poetry he wrote were just dull asf. Bye