Saya tidak menyangka, melalui buku ini, Cak Nun membawa pembacanya keliling "pelosok" dunia. Kesadaran sosial Cak Nun akan zamannya luar biasa, mengingat kebanyakan esai ditulis dalam kurun waktu 1980-an. Dari Carter, Reagan, Ninoy, Tembok Berlin, Perang Soviet-Afganistan, dan tentu saja kritik terhadap Orba, semua dibabat habis dengan gaya khas yang dilandasi nilai-nilai Islam.
Tidak hanya cakupannya yang luas, di dalam tiap esai, Cak Nun memberi banyak sekali referensi. Dari kearifan lokal hingga konflik mancanegara. Jujur, rasanya terlalu "ke mana-mana" ketika membaca buku ini. Namun, dengan kerendahan hati, mungkin saya sendiri saja yang kurang tahu banyak, sehingga tidak bisa memahami betul beberapa esainya, terutama esai-esai satir Orba. Meskipun begitu, gaya narasi yang dipakai Cak Nun konsisten. Sehingga saya masih bisa santai waktu membacanya, membiarkan kata-kata mengalir, mengikuti arus pikiran Cak Nun ke manapun perginya. Memang sebuah pengalaman membaca yang baru.
Secara pribadi, ada beberapa esai yang menohok bagi saya, salah satunya "Matahari Mematai-matai Hari". Esai ini mengontraskan dua keadaan, keadaan rakyat kecil yang hidupnya "gitu-gitu aja" dan keadaan akademisi yang hidupnya enak. Ironisnya yang diteliti oleh mereka adalah rakyat kecil, demi pembangunan katanya. Hanya bisa omong dan berteori saja. Tema tentang kesenjangan sosial menjadi premis dari sebagian besar esai dalam buku ini. "Jer basuki mawa bea", hanya saja yang dapat "basuki" kelas atas saja, sementara yang menanggung "bea"-nya ya kaum-kaum tertindas. Serta untuk topik perempuan, Cak Nun sangat "woke", tampak dari esai "Wanita-Wanita yang Tak Kita Bayangkan".
Hingga selesai membaca buku ini, rasanya kok malah tambah haus. Masih ingin terus membaca buku yang formatnya macam ini. Terima kasih Cak Nun, saya tidak sabar untuk membaca buku-buku panjenengan yang lain.