Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hoppipolla

Rate this book
Surealisme yang mengawang-awang, abu-abu, dan (seolah) jauh dari jangkauan, menurut saya adalah dunia yang seksi, selalu menggoda untuk diteruka dan dijamah. Karena kehidupan kerap tidak menghadirkan keabsurdan dengan cara yang vulgar dan pasaran, membaca—dan menuliskan—cerita-ceritanya pun menjadi alternatif yang menarik dan selalu menawarkan cara pandang dan tebakan baru. Pendapat saya tentang surealisme yang bisa jadi sangat permukaan itulah, yang menjadi dasar saya memilih Hoppipolla. (Benny Arnas)

140 pages, Paperback

First published January 27, 2014

1 person is currently reading
13 people want to read

About the author

Dedek Fidelis Sinabutar

5 books8 followers
DEDEK Fidelis Sinabutar adalah penulis yang menjadikan Dewi ‘Dee’ Lestari, M Aan Mansyur, Norman Erikson Pasaribu dan Ardy Kresna Crenata sebagai empat penulis idolanya. Tambahan lagi: Haruki Murakami dan Andina Dwifatma, perlahan menjadi warna baru di dunianya.

Penulis bisa dihubungi melalui email: vi2_de2k@live.com.

Dian N. Anggraini dan Stella C. Winarto adalah dua perempuan yang menjadi alasan mengapa penulis masih terus berkarya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (46%)
4 stars
4 (30%)
3 stars
3 (23%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Dedek Sinabutar.
Author 5 books8 followers
August 26, 2014
Hoppipolla—Sebuah Omnibus Surealis yang Mencoba untuk Menjadi Antimainstream

Hoppipolla adalah sebuah buku kumpulan cerpen—atau yang sering disebut dengan omnibus—yang diterbitkan oleh sebuah grup kepenulisan online, yang lebih aktif di Facebook, bernama Grup Untuk Sahabat—Grup Unsa; yang diprakarsai oleh Dang Aji Sidik. Setiap tahunnya, Grup Unsa aktif mengadakan sebuah lomba pemilihan cerpen bulanan dengan tema yang berbeda setiap tahunnya, sehingga pada akhir tahun, terkumpullah sejumlah cerpen pemenang bulanan yang telah diseleksi oleh para juri di Grup Unsa, yang kemudian pada tahun berikutnya akan diterbitkan menjadi sebuah buku kumpulan cerpen.

Hal pertama yang terlintas ketika mendengar projek pemilihan cerpen bulanan Grup Unsa adalah, bahwa Grup Unsa sedang berusaha menjadi semacam pemrakarsa ajang pemilihan cerpen-cerpen terbaik sebagaimana yang lazim kita ketahui dilakukan oleh Kompas, Tempo, Republika, dengan menentukan standart kualitasnya tersendiri, tentunya. Hal berikutnya yang terlintas: dengan tema yang unik setiap tahunnya, buku kumpulan cerpen pemenang Grup Unsa bisa menjadi karya yang antimainstream. Tapi, harus diingat pula, bahwa antimainsteam bukanlah patokan bahwa sebuah karya akan serta-merta berkualitas. Tema yang antimainstream saja tidak cukup, sebab pada akhirnya, bagaimana sebuah karya dikemaslah yang akan menjadi penentu apakah pembaca akan menyenangi sebuah karya/tidak.

Jadi, mari kita berbincang-bincang tentang buku Hoppipolla—Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Grup Unsa 2013.

Hoppipolla berisikan duabelas cerpen, dengan tema surealis sebagai benang merah keseluruh cerpennya, dengan duabelas penulis yang berbeda, dan diterbitkan pada tahun 2014 oleh deKa Publishing. Hal paling saya suka dari buku Hoppipolla adalah dengan kemunculan duabelas penulis berbeda, saya bisa menikmati duabelas gaya menulis yang memiliki keunikannya masing-masing dalam mengeksplorasi tema surealis, sehingga, seperti mendengarkan sebuah album musik kompilasi, saya bisa mendapatkan ‘kepuasan’ tersendiri setiap kali selesai menamatkan satu cerpen.

Dalam Hoppipolla, pembaca akan disuguhkan dengan beragam subtema. Pada Hoppipolla, misalnya—cerpen yang terpilih sebagai cerpen utama, pembaca akan disuguhkan oleh sebuah kisah seorang pemuda tanpa-nama yang mengalami kisah asmara ganjil dengan mantan kekasihnya dan pengalaman absurd dengan seekor ikan mas koki berukuran raksasa. Melalui cerpen Hoppipolla, Dedek Fidelis Sinabutar, si penulis, seakan ingin menyampaikan bahwa kisah percintaan—yang kerap kali dikaitkan dengan tema picisan, klise dan sudah-sangat-umum—pun bisa menjadi menarik bila dikemas dengan gaya yang berbeda.

Demikian pula pada cerpen-cerpen berikutnya, ‘Karnaval Cinta’ oleh Zhaenal Fanani. ‘Tangan Penyembuh’ oleh Marlina. ‘Watu Loreng’ oleh M. Hasbi AS. ‘Mimbar Tua Baitur-Rahim’ oleh Enik Iis. ‘Sang Pelopor’ oleh Sutanto Ari Wibowo. ‘Tumbal’ oleh Dedul Faithful. ‘Selendang Ungu Negeri Trawang Jagal’ oleh Anung D’Lizta. ‘Beruang di Mimpiku’ oleh Jacob Julian. ‘Sayrah Tujuh Ruh dalam Raga yang Satu’ oleh Eni NN. ‘Titisan Khidir’ oleh Sandza. Kesebelas cerpen lainnya mengangkat subtema yang berbeda-beda sebagai kerangka cerita. Ada yang mencoba mengekplorasi horor dengan gaya surealis, seperti pada cerpen ‘Watu Loreng’, dan ‘Tumbal’. Di antara keduabelas cerpen di dalam Hoppipolla, bila diminta untuk satu yang paling menarik—selain cerpen sendiri, tentunya—saya akan memilih cerpen ‘Karnival Cinta’, sebab, setiap kali membaca cerpen ‘Karnival Cinta’, saya merasa ada hal magis yang membuat saya lebih menikmatinya setiap kali membaca ulang cerpennya. Apalagi, untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan, entah mengapa, cerpen ‘Karnival Cinta’ mengingat saya kepada sosok Kuntowijoyo.

Akhir kata, sebagai sebuah bacaan alternatif, saya merekomendasikan Hoppipolla untuk dapat Anda nikmati di saat senggang, sebab Anda akan disuguhkan oleh interpretasi yang bermacam-macam dari keduabelas penulis di dalamnya akan ‘makna’ surealisme. Kalaupun ada satu hal yang disayangkan dari Hoppipolla, adalah resolusi ilustrasi yang terdapat pada setiap bab cerpen yang terlampau kecil, sebab, saya percaya, untuk lebih memasuki sebuah dunia dalam cerpen, ilustrasi terkadang dibutuhkan.

Salam.

Rantau Prapat, 26 Agustus 2014

Nb: Untuk pemesan buku Hoppipolla, bisa menghubungi inbox Dang Aji Sidik ( link ) atau sms ke (nomor) a.n. Dang Aji Sidik.
Profile Image for Edotz Herjunot.
Author 5 books14 followers
April 17, 2015
Jujur aja gue enggak terlalu tertarik sama covernya. Judulnya juga enggak terlalu bikin penasaran.

Begitu mulai baca, gue bener-bener betah. Ceritanya semuanya keren, endingnya selalu nonjok. Dan bikin gue tersentak. Sukses buat buku ini!
Profile Image for Arief Mulyanto.
Author 8 books1 follower
April 29, 2014
Kumcer ini sangat menarik, terlebih temanya yang beda dari yang ada di pasaran. Realisme magis. Masih ada kesalahan dalam pengeditan, terutama pada kata sambung dalam dialog.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.