ma·ha·ja·na ark n orang yang amat ternama; orang besar.
Terbangun dan melanjutkan hidup sebagai remaja kembali. Hayam Wuruk hidup dengan beban masa lalu yang tak kunjung terlepas.
Waktu terus bergulir hingga suatu saat kesempatan kedua itu hadir. Kesempatan kedua juga menjadi kesempatan terakhir untuk mengatakan kata cinta yang tak pernah terucap sebelumnya.
Setelah baca Mada yang aku nobatkan sebagai buku romance favorite, aku punya ekspektasi yang cukup tinggi untuk buku yang satu ini. Sayangnya ekspektasi ku agak ketinggian. Bukan berarti bukunya jelek sih, NOOOOO, tapi memang prefrensi pribadiku saja yang lebih menyukai alur sat set. Alur di Mahajana cukup lambat dan sedikit berulang ulang saat Hayam terus menerus mengunjungi toko roti Sachi dan sebenarnya tidak ada masalah karena memang menceritakan kesempatan kedua dari Hayam Wuruk juga Sudewi di kehidupan sekarang untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Memang penilaian subjektif berdasarkan selera saja sih, karena eksekusi plotnya oke kok.
Tapi kenapa ratingnya agak rendah? Well ada beberapa hal yang cukup "kurang" dari buku ini mulai dari font nya yang kurang kusukai sampai banyak sekali typo di buku ini yang membuatku menebak nebak arti sebenarnya dari kalimat yang disampaikan, cukup banyak typo sehingga mengganggu kenyamanan saat membaca. Lalu ada juga kesalahan ketik di prolog dan di bab akhir yang berbeda, dimana di prolog Sachi menggenggam koper dengan erat tetapi di bab akhir akhir dia malah menggenggam ponsel dengan erat, mungkin di percetakan selanjutnya bisa diperbaiki hal hal yang masih menjanggal tersebut, tapi aku cukup menikmati waktu untuk membaca buku ini, karena dari buku ini aku jadi sering mengunjungi toko roti hampir setiap pulang sekolah dan juga mendengarkan lagu 'Sesuatu di Jogja' yang kini menjadi memori tersendiri bagiku.
This entire review has been hidden because of spoilers.
4.8⭐️ -0,2 karena typo nya lumayan mengganggu 😭 mungkin karena cetakan pertama kali ya. selain dari itu, semuanya perfect untuk ku 😭🥰🎀💕 suka banget ceritanya. beneran page turner sampe aku semalam nyelesaiin sekaligus. pas chapter masa lalu, bjirrr… nangis banget 😭😭😭 aku sayang banget sama Sudewi dan Sachi 😞 Hayam, I love you too tapi masa lalu lo bikin greget banget 😭💔 trope miskom yang akdsjkfkskdksksk 🫵🏼🧎♀️ Kemunculan Gendhis sama Mada sebagai side characters juga lucu banget, gemesss ✨ Aku juga suka relationship between Hayam-Arok-Raden 🫶🏼
Awalnya aku galau sih mau kasih 3 atau 4, tapi mengingat alurnya yang dikemas dengan sangat cantik serta beberapa bagian berhasil membuat perasaanku menjadi sangat sedih sampai menitikkan air mata, novel ini masih worth untuk aku kasih 4 bintang.
Merangkum keseluruhan cerita dari Mada sampai Mahajana, aku bakal refresh otakku dengan memahami bagaimana keempat tokoh ini dan jiwabnya,
Untuk case-nya Sachi, dia itu reinkarnasi. Semua yang ia alami, meskipun terasa sangat nyata sekalipun bentuknya adalah sebuah ingatan yang menjadi satu dengan ingatannya yang sekarang.
Untuk casenya Hayam, dia memang jiwanya serta tubuhnya "bertransport" ke masa lalu. Saat dia melakukan pendakian, dia hilang (dan itu semacam masuk ke portal) dan melempar tubuhnya ke masa lalu, kemudian dia hidup di dunia tersebut sampai ia tua dan kemudian tubuhnya terlempar kembali ke masa kini dalam tubuh anak SMP. Hayam tidak hanya mendapat ingatan, tapi ia mengalami keseluruhan kehidupan dari masa lalu sampai saat ini.
Gendhis mirip seperti Hayam, hanya saja kehidupannya di masa lalu tidak selama Hayam, sehingga ia tidak sampai harus melewati fase kehidupan yang sudah dilalui Hayam, dimana Hayam sempat mengalami fase dirinya "menua".
Untuk Mada, dia bisa dibilang Abadi karena ia diberkahi tubuh yang tidak menua selama ratusan tahun, sehingga ia mengalami semua kehidupannya.
Pada akhirnya, masa lalu di pikiran kitapun akan berakhir sebagai sebuah kenangan yang mirip dengan mimpi. Tapi bedanya, bagi Sachi perasaannya sudah dimurnikan terlebih dahulu sehingga ia tidak perlu berjuang untuk bisa mengetahui perasaan positif yang ia mudah rasakan saat ini. Kalau sachi mengalami hal yang sama seperti Hayam, Gendhis, Mada, mungkin ia merasakan banyak kompleksitas perasaan yang bahkan harus ia atasi dengan sabar terlebih dahulu untuk bisa mencapai fase seperti Sachi.
Bagi Mada maupun Hayam, kehidupan di masa lalu mereka membentuk satu pribadi 'saat ini', sehingga mereka tidak benar-benar terlahir baru kecuali mencoba beradaptasi. BEgitupun Gendhis, tapi untuk gendhis dia tidak perlu melalui waktu yang begitu panjang.
Daaaan itu sekilas ya tentang unek-unekku mengenai posisi mereka di masa lalu dan masa kini.
Untuk ceritanya sendiri aku suka banget sih sama cerita Mahajana. Mahajana tidak mencoba memberikan makna kesempatan kedua di masa lalu, meskipun penulis memiliki potensi untuk membuat cerita tetap fokus di masa lalu dan membuat tokohnya bahagia meskipun kemungkinan konfliknya lebih rumit, tapi dibuat seperti ini justru bagiku sangat fresh.
Sebenarnya masa lalu keduanya sangat sedih, jadi membaca masa lalu dan masa kini mereka terasa seperti kisah cerita yang sangat berbeda. Aku membayangkan betapa dingin hubungan mereka di masa lalu padahal sangat mencintai dan secara langsung mendapat perbandingan bagaimana mereka di masa kini. Jujur aja aku sebenarnya agak penasaran tentang bagaimana kalau Sudewi mengalami kondisi yang mirip seperti Hayam, bagaimana reaksinya.
Disisi lain aku sangat setuju dengan bagaimana penulis memutuskan untuk menceritakan kisah Hayam dan Sachi menjadi seperti ini.
Oya aku belum menyebutkan kenapa ga full star utk novel ini ya. Emmm dibagian gaya bahasanya sih, kurang konsisten. Kurang konsisten apakah mau mengambil gaya bahasa formal, santai, informal, gaul, atau mau yang adat. Jadinya aku baca kadang-kadang agak nggak dapet feelnya tapi aku berusaha adaptasi agar bisa tetap menikmati novelnya.
Buku Mahajana ini bukan bukan historical romance. Semua setting tempat dan waktu berada di masa depan. Kalaupun menceritakan masa lalu hanya dalam bentuk kilasan balik.
Buku ini sendiri Spin-off dari Mada. Untuk alurnya, personally aku lebih suka konflik Mahajana karena di sini menujukkan pendewasaan tokoh. Dimana tokoh gagal mencapai apa yang diinginkan di masa lalu tapi berhasil di masa depan.
Contohnya Hayam, dulu dia memerintah dengan banyak campur tangan sehingga tidak bisa duduk di atas singgahsana dengan nyaman, istilahnya dia dulu masih boneka. Tapi di kehidupan sekarang, Hayam berani melawan. Dia pun melawan ayahnya sendiri untuk bisa memimpin perusahaan dengan caranya sendiri.
Sedangkan untuk Sachi sendiri mungkin bukan tipe FL yang badass atau banyak aksi seperti Gendhis. Dia lebih lemah lembut, tenang, dan kalem. Pendewasaan Sachi yaitu berani mengambil langkah sendiri. Di masa lalu dia selalu dibayang-bayangi masa lalu juga selalu patuh tapi di masa depan Sachi belajar untuk bebas.
Jadi konsep utama dari buku ini adalah perjalanan kedua orang ini untuk memperbaiki masa lalu mereka masing-masing. Musuh mereka adalah diri mereka sendiri.
Dan untuk penulisannya sendiri aku menikmati penggambaran yang lebih detail. Dan aku puas dengan ketebalan bukunya. ❤
Buku ini spin-off dari buku Mada (FAVORIT GWEHHH), yang fokusnya ke tokoh lain yaitu Hayam Wuruk dan pasangannya. Dibandingkan Mada, buku ini lebih banyak ambil cerita di masa depan sih, jadi bukan hisfic hisfic amat.
❤️Aku suka character development tokoh-tokohnya, terutama Sachi. Dari yang awal 'tembok'nya tinggi banget, lama-lama keliatan sifat halus dan gemesnya ❤️ Aku juga suka gimana buku ini sering ngenalin museum-museum sejarah, yang jujur deskripsinya bikin pengen dateng ke sana ❤️Cover bukunya cantiiik✨
🙏🏻Tapi, jujur untuk ceritanya sendiri, ga sesuai ekspektasi sih karena fokusnya terlalu ke cinta-cintaan yang sangat bisa ketebak alurnya. Menurutku, ceritanya flat dan pacenya lamaaaaa bgt, sampe di titik aku cukup jenuh dan agak sulit nemu di mana klimaksnya😔 🙏🏻Typonya banyak banget sumpah dan beneran ngeganggu. Kayaknya hampir tiap 2 halaman bakal nemu deh typo😭 Typonya bukan salah huruf aja, tapi kadang pakai kata yg artinya beda jauh 🙏🏻Bukan cuma typo, banyak juga penempatan tanda baca yg salah. 🙏🏻Banyak juga kalimat yang belibet dan kayaknya kurang cocok aja pemilihan katanya 🙏🏻Dan oh iya, jujur awal-awal keganggu bgt pas Sachi manggil Hayam dengan sebutan "Tuan", padahal manggil pelanggan tokonya yg lain "Mas". Gue kek???????😖
I liked the rest 200 pages in this book (and kept crying btw) but the typos… man I couldn’t stand it. The author was slacking with her writing, it feels like she did it in hurry AND the editor seem didn’t even give a shit to give this book a proper editing.
Aside from that, the storyline was good. I was really invested with the plot and the characters. However, I’m still not a fan of author’s choice with how she wrote the dialogues.
at first i was concerned, like what went through ur mind when u wrote this, girl... i was hoping to get out of reading slump after i read this because i LOVED "Mada". but all i got was a bigger reading slump and i wasn't even halfway through the book. to put it roughly, the beginning of this book was KIND OF like every other basic indonesian romance AU novels. it was kinda boring and somewhat mainstream.
HOWEVER, this book was getting REAL when i was about like 200 pages in. like, YESSS THIS IS THE GIGREY THAT I KNOW. what happened in the first several chapters, girly? where have u been all that time? oh my days😭
i read this together with my friend and both of us literally had mental breakdown every 10 minutes as we went further into the book. EVERY TWIST IN THIS BOOK IS INSANE. i've squealed, yelled, giggled over this book. i've thrown it across the room. i've talked about this book to my imaginary cameraman like a mad person. i won't say anything that consists spoiler, i just wanna say that gigrey almost gave me a heart attack once again. and i meant that as a compliment.
but still, i can't ignore the fact that the writing in this book makes me a little lost and confused for MOST of the time (is ur editor even doing their job???).
kalau ditanya pelajaran paling kerasa dari novel ini?
KOMUNIKASI YA GAIS. KOMUNIKASI. jangan asumsi. jangan pendam. jangan nunggu “nanti”.
karena bisa jadi, kesempatan kedua itu… juga kesempatan terakhir.
✦𓂃𓈒⋆。˚ 𓏲𓂃
jujur ya… ini novel yang setelah selesai dibaca, kepalaku masih penuh sama tokohnya. kayak: “mereka sekarang gimana ya?” “nikahnya gimana ya?” “anaknya namanya siapa ya?”
HELP aku belum siap move on 😭
✦𓂃𓈒⋆。˚ ✿
Mahajana adalah novel historical fiction romance dengan tema reinkarnasi & kesempatan kedua. ceritanya tentang Hayam Wuruk—iya, RAJA MAJAPAHIT ITU—yang terbangun dan menjalani hidup lagi di masa kini sebagai seorang pemuda.
tapi hidup keduanya ini nggak datang dengan keadaan kosong. Hayam bawa penyesalan besar dari masa lalu. tentang cinta yang nggak pernah terucap. tentang perempuan yang terlalu lama dia abaikan karena ego dan miskom.
dan luka itu… ikut kebawa sampai sekarang.
✦𓂃𓈒⋆。˚ 𓆸
di kehidupan barunya, Hayam bertemu dengan Sachiandra Dewi. gadis lembut, introvert, baik banget, dan hidupnya nggak gampang sama sekali.
dan dari pertemuan itu, Hayam mulai sadar: Sachi punya terlalu banyak kemiripan dengan Sri Sudewi, istrinya di masa lalu.
apakah ini kebetulan? atau memang semesta lagi ngasih kesempatan kedua?
✦𓂃𓈒⋆。˚ 𓆸
yang bikin Mahajana kerasa hangat tapi nyesek adalah: ini bukan cerita cinta yang meledak-ledak, tapi slow burn yang dalem.
kisah Hayam & Sudewi di masa lalu tuh… JUJUR NYESEK BANGET 😭 bukan karena tokoh jahat, tapi karena miskomunikasi, asumsi, dan keberanian yang telat.
dan di situ aku sadar: kadang yang bikin hubungan hancur bukan karena nggak cinta, tapi karena nggak ngomong.
✦𓂃𓈒⋆。˚ 𓏲𓂃
di masa sekarang, konflik juga tetap ada. keluarga Hayam yang kelihatannya “sempurna” ternyata penuh tekanan dan manipulasi. jujur aku kesel banget sama papanya Hayam. seorang ayah bisa segitunya ke anak sendiri cuma demi ambisi? 😭
sementara Sachi… kehilangan orang tua, kakaknya, hidup sebatang kara, tapi tetap bertahan, tetap lembut, tetap baik.
dan aku suka banget perjalanan Sachi: dari yang sendirian, pelan-pelan nemu keluarga baru. INI PART YANG BIKIN TERHARU 😭🤍
✦𓂃𓈒⋆。˚ ✿
terus ya… kalau liat Mahajana (toko roti itu)??? AKU KEBAYANGIN TERUS 😭 pengen punya toko roti vintage, di dalemnya ada perpustakaan mini, terus ada taman bunga—
KEKKK KALIAN JUGA PENGEN GASIIHHH? 😭
✦𓂃𓈒⋆。˚ ✿
nilai plus besar novel ini:
narasinya rapi dan enak dibaca
alurnya maju–mundur tapi nggak bikin pusing
emosinya dapet: sedih, hangat, kesel, gemes
humornya tipis tapi pas
DAN ADA MADA & GENDHIS 😭🤍 interaksinya dikit, tapi cukup buat senyum-senyum sendiri 🫶
karakter-karakternya juga konsisten. Hayam di sini bukan cowok sempurna— dia galau, emosional, nyesel, tapi berusaha banget.
✦𓂃𓈒⋆。˚ 𓆸
walaupun masih ada beberapa typo dan kata yang kurang huruf di beberapa bagian. nggak ganggu besar ke cerita, tapi semoga di cetakan berikutnya bisa lebih dirapihin lagi 🤍
Mahajana adalah sebuah cerita spin off dari buku Mada. Setelah sebelumnya sukses mengulik kisah seorang Mahapatih Gajah Mada, kali ini penulis berfokus pada karakter Hayam Wuruk selaku maharaja termasyhur Kerajaan Majapahit, dengan latar masa modern. Seperti yang tercatat dalam sejarah bangsa ini, akibat Perang Bubat yang sempat diulas di buku Mada, Hayam Wuruk tidak berjodoh dengan Dyah Pitaloka dari Kerajaan Sunda. Akhirnya, Hayam Wuruk menikahi Sri Sudewi yang bergelar Paduka Sori, putri dari Bhre Wengker. Pernikahan ini merupakan bagian dari strategi Hayam Wuruk untuk memperluas pengaruh Majapahit ke wilayah-wilayah strategis lainnya karena leluhur Paduka Sori masih memiliki darah murni bangsawan Majapahit. Pernikahan ini tidak hanya memperkuat kendali atas daerah tersebut tetapi juga membuka jalan bagi ekspansi lebih lanjut.
Pernikahan mereka saat itu membuahkan kelahiran Kusumawardhani yang sempat digadangkan menjadi Maharani Majapahit berikutnya setelah Tribhuwana Wijayatunggadewi. Selama pemerintahan Hayam Wuruk, tidak sekali dua kali wanita lain diajukan oleh Bhre Wengker untuk diperistri oleh sang maharaja karena melihat Sudewi 'hanya' mampu melahirkan anak perempuan. Bahkan di masa lalu pun, keberadaan anak laki-laki dalam sebuah keluarga seringkali dianggap krusial untuk keberlangsungan penerus, terutama dalam konteks pewarisan nama keluarga, harta, dan tradisi.
Hayam Wuruk bukannya tidak ingin memperoleh anak laki-laki dari Sudewi. Namun sayang, buruknya komunikasi mereka satu sama lain ternyata membuat keadaan berlanjut menjadi kesalahpahaman, hingga membuat Sudewi memilih mengakhiri hidupnya. Ketika mereka 'terlahir kembali' di generasi yang berbeda, Hayam Wuruk menemukan sosok Sudewi dalam wujud Sachiandra. Ia berkeras untuk memperjuangkan kebenaran walau dengan banyak aral melintang.
Sisipan sejarah banyak menyertai buku ini dan membuatnya menarik untuk ditamatkan. Sayangnya masih ada banyak kesalahan pengetikan padahal sudah merupakan cetakan keempat. Tidak seserius buku Mada karena lebih banyak berlatar pada masa modern. Wajib untuk dibaca jika sudah sempat membaca buku Mada karena dua buku ini masih berkaitan. Selain itu, mengungkap tabir kebusukan Abimana Dwilaga, ayah Hayam Wuruk di masa modern juga merupakan hal yang menarik dan menegangkan untuk disimak.
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 kalimat buat Mahajana, SERU BANGET! Wajib ikutan PO sih guys!! 🤩✨️
── ♡‧₊˚🍞꒷꒦🥖˚꒱ ──
Mahajana ini spinoff dari Mada, fokusnya ceritanya ada di Hayam Wuruk yang udah kembali ke kehidupan masa kininya. Ia kini menjabat sebagai CEO di perusahaannya dan lagi ngalami kasus penggelapan pajak. Suatu hari Hayam healing ke Panti Jompo Werdha dan bertemu dengan Mbah Ainun, penghuni baru panti tersebut. Pertemuan itu mengantarkan Hayam bertemu dengan Sachi, cucu dari Mbah Ainun yang ternyata oh ternyata adalah reinkarnasi dari Sudewi, permaisuri si Hayam di masa lalu. Kisah mereka berakhir buruk di masa lalu dan Hayam bertekad membuat ending bahagia untuk dirinya dan Sudewi. Akankah Hayam berhasil? 🧐
── ♡‧₊˚🍞꒷꒦🥖˚꒱ ──
WOW! Aku sudah jatuh cinta sih dari awal proofreading Chapter 1 nya Mahajana, narasinya udah rapi dan bikin penasaran! Narasi khasnya kak Gigi yang khas dengan beberapa flashback ke masa lalu yang ditulis dengan baik, gak buat bingung sama sekali which made me enjoy this book a lot! Ditambah alurnya yang gak ketebak, alias banyak plot twistnya dan bikin deg-degan karena konfliknya kompleks sih kalo dibandingin sama Mada🤫 Konfliknya gak cuma antara Hayam dan Sachi tapi juga ada konflik perusahaan Hayam dan keluarga Hayam.
Kisah Hayam dan Sudewi (Sachi) di masa lalu bisa dibilang lebih tragis kalo dibanding Mada dan Gendhis. Nyeseknya kerasa banget, bagaimana kesalahpahaman antara mereka membuat semuanya runyam dan mereka gak bisa menikmati hubungan yang sebenernya bisa berjalan dengan baik dan bahagia🥹 aku tuh baca baca ini, takut sama endingnya, takut gak sesuai harapanku tapi syukurnya endingnya sesuai harapanku dan bikin aku puas!
Kalo vibe fantasy nya mungkin gak terlalu berasa seperti Mada, karena fokus cerita Mahajana ke kehidupan masa kini alias gak ada yang main ke masa lalu wkwkwk🤣 cuma tetep sih ada bumbu fantasy ttg Reinkarnasi
── ♡‧₊˚🍞꒷꒦🥖˚꒱ ──
Mahajana bisa kalian nikmati tanpa baca Mada, tapi menurutku bakalan lebih mantap bacanya kalo baca Mada dulu karena ada kejadian di Mada yang menjembatani kisah Hayam & Sudewi (Sachi)! 🤩🫵🏻
Cukup kecewa sama buku ini, padahal aku suka banget sama novel Mada 😔
Sebenernya premis cerita ini menarik banget, ttg reinkarnasi, kesempatan kedua, dan penebusan dosa. Tapi entahlah, eksekusinya gak sesuai ekspektasi aku.
Pertama, buku ini berasa gak di-proofreading. Banyak banget typo, penyusunan kalimat yang gak efektif, boros kata, dan beberapa isu teknis lainnya. Untuk aku jujur ini ganggu experience-ku saat ngebaca bukunya. Buat editor buku Mahajana, please do better.
Kedua, porsi "masa lalu" dan "masa depan" berasa jomplang banget. Penulis terlalu banyak ngabisin waktu di latar waktu masa depan padahal yang jadi poin penting cerita buku ini harusnya di latar masa lalunya. Menurutku pribadi, alur cerita lebih enak dibuat maju-mundur (tiap ganti chapter, ganti latar waktu) biar konflik dan chemistry tiap tokoh lebih kena. Fokusin ke cerita masa lalu biar tensi ceritanya kebangun pelan-pelan. Jadi pas balik ke latar masa depan, kita yang baca bisa lebih mahamin background tiap karakter. Kenapa aku bilang gini? Karna di awal, aku ngerasa momen-momen Hayam yang berusaha ngedeketin Sachi itu kaya mas-mas yang lagi berusaha buat ngedeketin dede-dede gemes aja. Kesan kalo Sachi adalah istri Hayam di masa lalu kurang dapet karna konflik mereka di masa lalu justru dibuka di tengah-akhir buku. Akhirnya pas baca pertengahan awal buku kerasa boring.
Ketiga, ada beberapa hal lain yang bikin aku agak.... hmmm.... gimana ya nyampeinnya, kurang nyaman? Kaya, perbedaan umur Hayam & Sachi. Di buku sempat disebut kalo umur Sachi masih di awal 20an (mungkin 22 atau 23). Sedangkan Hayam gak ada indikasinya, tapi diliat di beberapa dialog Hayam & Sachi, keliatannya Hayam nih umurnya antara late 20s atau early 30s ya? im sorry, but sbg orang yg gak suka pasangan beda umur terlalu jauh ini agak mengganggu pikiranku selama baca. Sebenernya ada hal lain yg ngeganggu pikiranku, tapi udah lah segini dulu aja review aku.
Kalo standar ekspektasi baca kalian ini bakal sama kayak Mada, stop! Ini Hayam bukan Mada dan ini Sachi bukan Gendhis, dan ini bukan Sudewi tapi Sachi. So lets begin..💥👋
Hmmm gimana ya buku ini tu bagus tapiiii aku nggak klop sama chemistry karakternya. Karakter Hayam di masa depan yang berubah itu bisa dimaklumi si karena emang dia dateng ke masa depan dengan harapan mau merubah hal yang udah kejadian di masa lalu. Untuk karakter Sachi, you are such a good girl, tapii agak aneh pas dia maafin masa lalu dengan segitu mudahnya tanpa adanya ngobrol-ngobril dulu dengan Hayam, mimpi-diem-mimpi-diem-mimpi-oke aku maafin dia (likee semudah itukah). Karakter Sachi ngga ada perubahan berarti di masa depan kayak lempeng aja, diajak oke, nggak diajak oke. Itu yang kubilang antara apatis, somnolen, koma #lah wkwkwk.
Jujurlyy aku paling suka pas mereka kilas balik masa lalu, kedua karakternya powerfull gilak, character development check 💯, aku bakal bilang semua karakter punya porsi masing-masing mulai dari Hayam, Sudewi, Wulan, Saka, Kusumawardhani, dan karakter tambahan lainnya. Bukan cuman yang ada gitu lo tapi masuk dengan storylinenya dan ada plottwist kecil-kecilan dari orang kecil 🤭.
Rada malas kalo udah masuk ke masa depan, tapiii banyakan porsi di masa depan kenawhyyyy 😵💫. Hiks semakin ending tu semakin malas baca kalo mereka di masa depan. Romantis cheezypeasy anak remaja 🫠🙃. Ini Sachi bukan Sudewi, 1 orang beda 180 derajat kepribadiannya wkwkwk gimana yaaa Sudewi sepowerfull itu lo sedangkan Sachi yaampun lempeng banget daah beneran anemia kayaknya ni anak. Hidup Sudewi 🙏💅
Jokesnya ngga sefresh jokes Mada hiks karena Gendhiskuuu hanya menjadi karakter tambahan disini. Yaampunn Mada dan Gendhis masih masuk disini loo 🫣.
Dah gitu aja. Bye. Stay in the middle love Mada a little dont want no riddle 🤘
Not a typical romance historical fiction, this book tell you more about the hardwork and the perseverance to reach your dream, make the peace with your past, and the process how would you start to accept yourself with the hardships you've been through in the past.
In my opinion the plot in this book not as quite as much and engaging as the first book (MADA) but indeed the main story of the book quite interesting, there is no a special climax of twisting plots as Mada had but this book literally not just a romance historical fiction. The pace is quite slow with the one main problem where the main character here, Hayam Wuruk trapped with engulfing feeling of guilt in the past until his current life towards his wife, Sudewi (whom in the current life reincarnated as Sachiandra Dewi). I also love how Gigrey packed the story of Sri Sudewi and the background of her story as a fiction, because in the internet itself the information about this figure is very limited but with that limited information, Gigrey managed to make a fictional history to tell who actually Sudewi is and it is not easy for author to made up such a fictional story about one of important figure in the history with limited amount of information. One thing that I am very irritated with this book is the typos, not just a mere typos of word but the typos of the characters. For example the chapter told you the story about Sachiandra daily routines in the bakery but suddenly the name of Gendhis appeared. I dont know why but seems neither the author and editor didnt managed the typos well in the writing process. Yet, I will give the rate 4 out of 5 for this book. Another witty works of Gigrey that you should definitely read!
Personally, alur ceritanya disusun dengan baik, penokohan, setting dan alurnya juga sudah sangat bagus. Ada beberapa karakter dari Mada; Gendhis, Mada, dan anak-anaknya. Tapi, fokus ceritanya lebih ke permasalahan Sudewi, Hayam, Sachi dan keluarganya Hayam.
---
(-) - Yang menjadi kekurangan dari novel ini masih ada beberapa typo yang agak mengganggu. Tapi, reading experience-nya masih sangat oke.
- alur ceritanya agak lambat dan fontnya agak kecil jadi harus sedikit menyipitkan mata.
(+) - Plot-twistnya keren banget sih, ini buku! Ga nyangka ternyata papanya Hayam setega itu, dan mamanya sampai bantu menceraikannya.
- Penokohan dan beberapa masalah yang diambil dari tokoh" Mahajana juga menambah kedetailan, dan mendalami setiap tokohnya (banyak backstory).
- Backstory dan penyesalan Hayam Wuruk bikin aku roller coaster emosi BANGET🥹🥹. Ada adengan yang menyedihkan sampai bikin nangis, terharu, bahkan ada yang bikin ketawa. Beberapa suasananya bikin merinding, apalagi yg tentang mendengar suara tangisan dan terjun ke air.
- Alurnya natural banget, detail pula. Kata-katanya juga gak rumit. Mudah dipahami.
---
Sebenernya novel ini tidak termasuk dgn historical fiction, karena bagian history-nya hanya ada di flashback doang. Tapi overall, spin-off Mada ini recommended banget buat dibaca, sihhh.
---
Karya Gigrey selaluu aja made my day! 🫶🫶She's one of my favorite authors, too. Tulisannya gak terlalu berat juga. Buku pertama yg dibaca SUJ. dari situ mulai ke Mada, (ini sebelum KKB terbit) terus ke sini, Mahajana.
This entire review has been hidden because of spoilers.
First of all, most importantly, for whoever pembuat cover page novel ini, I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK ❤️🌟 It’s soo prettyyyyyyy, like, kok bisa cakep gitu covernya?
I was expecting more historical session like what i found in MADA, but who am i to expect kan? Tapi gpp, termaafkan karena cover page nya cantik wkwkw
Ceritanya lebih banyak membahas masa modern setelah Hayam Wuruk & Paduka Sori reinkarnasi & yes agree with several reviews before mine, yg bilang bahwa lumayan banyak typo di novel ini kalau dibandingkan dengan MADA, but again, aku maklumi karena aku udh jatuh cinta banget sama cover page nya.
It’s so interesting that i found setiap ada part Mada di novel ini, selalu senyum senyum sendiri, like, karakternya Mada tuh bener bener sekuat itu sampai kebawa ke spin off novel nya.
A little bit exhaust dipertengahan cerita karena alurnya lumayan lama & muter, tapi melihat konfliknya yg juga lumayan kompleks, i’ll try to understand. Setidaknya both main characters ada self development and solved their own problems before the ending.
I will not give full ratings to this one karena aku terlalu bias (jatuh cinta) sama MADA duluan but gigi still did a great job for Mahajana. I also love the title anywayy, sounds sooo aesthetic somehow
Dear Gigi, if you read this, you need to know that because of your book, i flew to jogja to feel the vibes while reading the book tau gak wkwkwkw Good job as alwayss
sewaktu berkeliling di gramedia, aku menemukan dua buah buku yang covernya cantik, yaitu mada dan mahajana. awalnya sempat dibuat ragu memilih, tapi pilihanku jatuh ke mahajana, karena walaupun spin-off, blurbnya menarik, disamping aku suka cerita-cerita kerajaan indonesia apalagi yang berbau majapahit.
keseluruhan, alur dalam buku ini sudah bagus, menceritakan karakter dan emosi yang cukup detail. tapi yang benar-benar mengganggu, aku banyak menemukan saltik, pengulangan kata, penggunaan tanda baca yang minim (walaupun itu hanya koma, tetap harus diperhatikan), penggunaan tipografi huruf miring yang mana di awal buku sudah ditempatkan di pengisahan masa lalu hayam dan sudewi, namun, berangkat ke tengah buku, pengisahan masa lalu dengan tipografi huruf miring, hilang.
menurutku ini murni kesalahan penyunting, yang bisa dibilang, "lu baca nggak sih bukunya? atau lu main oke-oke aja?!" karena untuk sekelas buku cetak yang sudah dijual di gramedia, seharusnya sudah lebih rapi dari segi format penulisan.
(i'm sorry kak gigrey, but it was pure your editor's fault).
semoga untuk cetakan selanjutnya, penyunting bisa lebih memperhatikan keseluruhan isi buku, karena setahuku, penyunting itu adalah orang yang benar-benar pembaca naskah yang cermat, benar begitu?
Tadinya mau kasih 5⭐️ tapi ternyata bagian pertengahan sampai akhir banyak banget typo nya yang cukup mengganggu jadi seperti gak di edit, terus tata letak paragraph bukunya juga berantakan banget ini sebenernya di edit dulu gak sih sama editornya? Berantakan dan terlalu banyak typo.
Ceritanya menarik walau bagian konflik hayam sama ayahnya terlalu dramatic kayak sinetron😂 tapi overall oke sih walau penyelesainnya terlalu cepat. Masalah karakter awalanya aku pikir hayam ini untuk ukuran laki kaya dan dewasa terlalu lebay dan cringe dari cara ketikan dia ke sachi but tambah kesini aku sadar dia emang type loverboy dan jiwanya old kayak dijelasin di awal buku dan karakter sachi sometimes agak nyebelin tapi di akhir aku suka sama developmentnya.
Btw sebenernya aku lebih suka cerita hayam-sudewi dan plottwist masalah sudewi-saka agak kaget ternyata gitu...aku udah pernah baca di wattpad walau udah lama tapi aku sadar ada beberapa part di wp yang gak dimasukin ke buku.
Untuk penerbit akad saran aja maybe bisa kali diperhatiin editing bukunya ini berantakan banget malah kayaknya gak di edit melalui editor dulu kok bisa typo sebanyak itu bisa langsung lulus cetak langsung.
Hayam Wuruk, bertemu Sudewi di kehidupan yang sekarang. Ia ingin memperbaiki kesalahan yg ia lakukan di kehidupan sebelumnya. Sachi, Sudewi yang dulu kini menjadi Sachi. Wanita muda tangguh yg ingin mengejar mimpinya.
☘️☘️☘️
Entah ekspektasiku yg berlebihan setelah membaca Mada, atau Mahajana ini memang tidak sebagus Mada. Buku ini termasuk buku bantal ya menurut aku, halamannya 400 lebih. Tapi jalan cerita seakan dimolor-molorin.
Romance Hayam dan Sachi bener2 cringe buat aku. Hayam posesif, Sachi ga peka. Cape banget lah 😭😂
Yang paling bikin aku geleng2 adalah typonya. Jujur aku ga pernah masalahin typo di novel atau buku nonfiksi, ya karena human eror itu akan selalu ada. Tapi ini setiap bab ada typo dan typonya ngeganggu. Lagi enak2 serius baca, ada satu kata nyempil yg aku harus menerka2 artinya apa.. karena typo. Lagi enak-enak baca, ada kalimat yg kayak mbingungi gitu.. karena typo. Aku spill dikit dari typo-typonya yaa.
Kesel banget.
Entah Mahajana ini cerita yg dipaksakan untuk kelanjutan Mada atau gimana aku ga tau. Tapi ini seperti bukan Gigrey yg bikin aku jatuh cinta di cerita Mada.
baca ini karena selesai baca MADA, dan aku cukup ber ekspektasi tinggi sama buku ini, tapi ternyata buku ini ga sepenuh nya memenuhi ekspektasi aku, bukan berarti buku ini ga bagus ya, cuman yang salah ekspektasi aku aja
buku ini nyeritain dari sudut pandang hayam wuruk yang bikin kita bertanya tanya apa yang terjadi setelah mada meninggalkan majapahit, dan masalah apa yg belum diselesaikan hayam wuruk seperti perkataan mada di ending buku "mada"
selain dari sudut pandang hayam wuruk, ada juga sudut pandang dari sachi, aku suka banget sama karakter sachi disini, dia manis dan bener bener cewe yang pantang menyerah
pembawaan toko kue nya sangat sangat 💯💯 aku jadi pengen ngerasain masuk dan jadi pelanggan di mahajana nya sendiri tapi sayang nya buku ini di awal bikin aku bosen dan bahkan bener bener lama buat nyelesain buku ini , di awal menurut aku alur nya membosankan dan rada flat. tapi siapa sangka mendekati akhir jadi malah seru
sedikit kritik karna masih banyak bgt typo, sampe aku kaget karna bener bener banyak sekali typo berserakan disini. untuk segi alur sangat cantik, selalu suka karya dari kak gigrey✨
Ketika menemukan buku yang plot-nya bagus. Ceritanya seru. [Hampir] absolute cinema. Tapi, sayang banget typo-nya banyak banget, salah tanda baca, lupa tekan enter di paragraf, yang membuat pengalaman membaca jadi kurang nyaman. Ini antara proofread-nya secepat shinkansen atau lagi dikejar deadline jadi nggak sempat dibaca ulang.
Meskipun demikian, buku ini masih bisa dibaca (dengan segala t&c di atas). Bab 9 menurutku absolute cinema sih. Saat baca bab itu, aku membayangkan cross cutting atau editing paralel ketika masa majapahit Hayam Wuruk kepada Sri Sudewi di pasar dan Hayam Wuruk di masa sekarang saat car free day kepada Sachi.
Suka banget dengan pengembangan karakter Sachi. Di awal-awal dia bloody introvert yang gloomy banget dan perlahan menjadi perempuan tangguh yang tahu mimpinya dan berjuang serta bertekad untuk mewujudkannya. Momen bickering Hayam-Gendis pun masih ada di buku ini. Seru aja kalau mereka udah berdebat, berasa lihat kakak perempuan sama adik laki-lakinya.
Kalau suka hisfic-romansa bisa baca buku ini (ps. tapi kuat-kuatin aja dengan segala ke-typo-annya).
ap ya i purchased this book when i was so head over heels for sudewi and hayam wuruk (and still) but this book doesnt really move me. maksudnya i barely cried reading this book but maybe that's my personal taste. all i remember about was: sachi is so forgiveful (if the word even existed) no vengeance at all, kusumawardhani dynamics with sudewi (I BAWL MY EYES OUT FOR THIS BECAUSE MAAAAN THATS THEIR DAUGHTER!), and hayam wuruk's problem with his current family i think it's also about company matter. imo there's a big emotional gap between majapahit era and current era because i kid you not i CRIED reading the majapahit era. menurut gw this book should've include majapahit setting for like 50% of it because daaaamn bro HIDANGAN UTAMANYA ITU JUSTRU pas itu. the political intrics, kusumawardhani sudewi dynamics, hayam wuruk-sudewi dynamics---would love to see them more asli. however, this book is historically inaccurate maybe for plot purpose tp itu bikin kehidupan sudewi makin sedih sih jujyuuuuurrrrrrrrrrrrr............... ya intinya OK tp gak seemosional itu kecuali pas jaman majapahitnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
4.5/5⭐ Mungkin karena aku dari pembaca novel Mada, dimana aku nemu mada pas lagi hunting buku and ngerasa hectic banget pas pertama kali baca genre yg sebelumnya aku belum pernah baca samsek. Sebenernya ekspektasiku lumayan tinggi buat buku mahajana. Mungkin karena dibuku mada lebih banyak latar dijaman Majapahit nya dibanding dimodern, sedangkan mahajana sebaliknya. Jadi pas awal baca lumayan perlu nyesuain buat bisa ngikutin alurnya yang diluar ekspektasiku. Tapi selebihnya menurutku bagus kecuali tipoooo😭 sbnernya ada bbrpa tipo yg mnrutku pas baca otak langsung tau kata sebenarnya, masalahnya ada bbrpa kata yang harus mikir dulu itu kata apa. Overall bagus banget, mulai dari alur, POV setiap karakter, dan mulai masuk latar Majapahit dan modernnya tu ga bikin bingung, mungkin agak mengecewakan buat yang ngira ceritanya bakal sama sama Mada. Tapi menurutku karena penyampaiannya bener² beda jadinya tu novel mahajana ya jadi mahajana itu sendiri. Tanpa perlu embel-embel Mada pun Mahajana tu bisa sendirilah karena emang mereka beda.
Seneng banget dapet pinjaman buku ini, akhirnya baca juga spin off-nya Mada 😍
Salah satu hal yang disukai saat membaca hisfic tuh, nggak berasa belajar sejarah. Karena dikemas dengan cara unik dan menyenangkan, tau-tau paham aja.
Sayangnya, di buku ini unsur sejarah cuma jadi kilasan flashback saja. Tidak sedominan di buku Mada, yang menjadi latar utama.
Tapi aku tetap suka, banyak bagian yang membuatku senang. Seperti perkembangan karakter tokoh yang dibuat cantik, dari sosok Sachi yang pemalu, tertutup perlahan keluar sisi lembutnya, tekadnya yang kuat untuk merdeka, dan mampu bersikap dewasa saat mengetahui sejarah masa lalunya.
Aku juga menikmati sekali bagian saat sejarah Sudewi dan Hayam Wuruk dipaparkan, deep banget baca kisah cinta mereka yang terhalang takdir tuh 🥲
Jadi tau, salah satu tujuan adanya reinkarnasi adalah menyelesaikan apa-apa yang belum selesai di masa lalu. Kalau sudah selesai dan nggak ada kaitannya, meski bertemu di kehidupan selanjutnya pun, nggak akan terhubung.
Mahajana merupakan spin-off dari novel Mada. Buat kalian yang belum baca Mada, menurutku sih kayanya mending baca Mada dulu biar lebih ngerti detail universenya cerita ini. Kalau belum baca juga ga apa apa sih, apalagi kalau kalian lebih penasaran sama cerita ini daripada Mada.
Memakai latar masa kini dan masa lalu, cerita ini gak kalah keren dari Mada 🔥 (walau sebenarnya aku pribadi lebih suka sama cerita Mada) 😂 preferensi setiap orang sih beda. Alasan aku lebih suka Mada, karena Mada menjelaskan tentang sejarah penyatuan Nusantara. Sementara Mahajana fokus membahas kisah cinta Hayam Wuruk & Sachi.
Oh iya, versi yang ini menurutku masih banyak typo yang menurutku cukup mengganggu karena membuat arti kalimat jadi agak membingungkan. Makanya aku gabisa kasih ⭐️ 5
Yeay aku sudah selesai membaca Mada & Mahajana! Karya kak Gigrey bagus-bagus!! Sebenarnya aku sukaa banget sama novel ini, vibesnya hangat tapi agak dark juga disaat bersamaan. Hangat di masa depan, dark di flashback masa lalu. Kak Gigrey benar-benar bisa ngasih vibes yang tepat. Contoh, adegan romantis ya romantis, sedih ya sedih. Vibesnya berubah-ubah tapi smooth dan deep. Aku baca ini nyaman banget sama narasinya kak Gigrey.
Sayangnya ada banyak kata yang typo dan menurutku karena ini ceritanya dari masa depan terus flashback beberapa kali ke masa lalu, entah kenapa jadinya bukan history, kaya bahkan di flashback masa lampau-nya pun menurutku seorang Hayam Wuruk disini seolah menjadi tokoh biasa bukan seorang raja. Udah pudar vibes majapahitnya, ya memang seharusnya begini karena novelnya berlatar masa depan. Tetapi tokoh di dalam novel menjadi terasa asing menurutku.
This entire review has been hidden because of spoilers.
SERIUS DEHHH, novel mahajana ini (spinoff dari novel mada) sungguh gak kalah bagusnya dengan novel pertama. Masih berlatar belakang di kerajaan majapahit namun dengan tokoh utama yang berbeda yaitu Raja Hayam Wuruk dengan permaisurinya Sudewi. Menurutku pribadi, novel mahajana ini memiliki konflik yang lebih seru dibandingkan dengan novel Mada. Dimana pada novel ini fokus utamanya adalah antara dua insan yang saling jatuh cinta namun sering sekali terjadi kesalahpahaman antara satu dengan lainnya. Sehingga di masa kini, hayam wuruk berusaha memperbaiki hubungan dengan reinkarnasi dari permaisurinya. Pertanyaanya adalah apakah hayam wuruk di masa sekarang mendekati sudewi karena benar-benar cinta, atau hanya rasa kasihan dan ingin menebus dosa di masa lalu saja? wkwkwk
AAAAAAAAAAAAAAAAA POKOKNYA SERU BANGET NOVEL MAHAJANA INI, KALIAN SEMUA WAJIB BACA😊👌
Mahajana adalah novel fantasy-historical kedua yang saya baca, dan menurut saya, ini adalah karya yang sangat layak untuk diapresiasi. Bahasa yang digunakan sangat baik dan baku, tanpa campuran bahasa gaul seperti 'lo' dan 'gue', maupun penyisipan bahasa asing yang sering kali mengganggu alur dalam novel-novel masa kini. Saya sangat mengagumi penulisnya karena tetap mempertahankan penggunaan Bahasa Indonesia yang tertata dan indah. Sebuah sikap yang langka di tengah maraknya tren novel dengan gaya bahasa serampangan. Secara pribadi, saya memang cenderung menghindari novel yang menggunakan bahasa gaul karena membuat saya kehilangan minat membaca. Mahajana menjadi pengecualian yang menyegarkan.
Ceritanya bagus saya suka banget. Saya lebih suka romance di mahajana dari pada di buku pertamanya yang mada. Apa karna romance di mahajana latar waktunya lebih banyak di masa modern jadi feel nya lebih dapat?!
Part atau adegan yg paling sedih adalah saat mengetahui hayam wuruk ada selirnya saat permaisuri nya lagi nemanin anak mereka untuk belajar di luar istana. Kecewa banget bacanya. Tapi puas juga apa yg di lakukan permaisuri terhadap selir maharaja itu.
Walaupun di sejarah tertulisnya emang hayam wuruk memiliki selir dan punya anak cowo dari selir itu.
Intinya alur ceritanya best banget, wajib baca mada juga utk buku pertama lalu baca mahajana.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aku lupa kapan persisnya aku selesai baca buku ini, tapi aku ingat alurnya. Aku suka setiap ada scene yang mengisahkan masa lalu Hayam Wuruk dan Sudewi; entah kenapa aku seolah bisa merasakan sakit yang Sudewi rasakan.
Aku sebenarnya berekspektasi lebih akan ceritanya, tapi ternyata lebih fokus kepada usaha Sachi sebagai pemilik toko roti (sebenarnya gak apa-apa, cuma aku kira permasalahannya yang bakal kompleks gitu, melibatkan reinkarnasi banyak tokoh). Overall idenya sendiri udah bagus, sih. Cuma menurutku ini bisa dipoles lagii