Pertama kali jatuh cinta dengan karya-karya Kak Yachi saat baca komik Satan's Method yang diunggah di FB dulu. Aku enggak main FB, sih, sampai kesana juga karena nemu link-nya di X. Waktu itu kondisiku sedang menyelesaikan revisi skripsi (aku udah sidang dan langsung yudisium hari itu juga, jadi sudah terhitung lulus walau ijazah fisik baru bisa diambil kalau revisi akhirnya sudah dikabulkan). Karena enggak merasa ada urgensi untuk menyelesaikan revisi, aku jadi menunda-nunda walaupun di dalam hati tetap terbersit perasaan mengganjal.
Pas nemu Satan's Method, DEG! Kok perasaan malasku saat skripsian dan pasca-sidang seperti dihamparkan di sini semua? Selama baca aku mengangguk-angguk setuju. Bener banget bahwa bentuk kenyamanan semu yang ditawarkan syaiton and the gang adalah "terlena dalam penghiburan diri." Bukannya istirahat sedikit tapi malah dikit-dikit istirahat. Ujung-ujungnya kebablasan 😇
Selesai baca aku sampe rekomendasiin link-nya kesana kemari, termasuk temen yg juga masih skripsian. (Maafkan aku temanku, tapi supaya kamu enggak terjerumus ke masalah si tokoh utama yang juga sempat menimpaku dulu 🥲). Aku juga berusaha lebih mindful kalau mulai muncul bisikan "enggak papa~" di dalam hati, "INI AKU YG NGOMONG ATAU RAG YG NGOMONG NIE?" Alhamdulillah cambukan Rag menjadi salah satu doronganku untuk menuntaskan revisi skripsi 🫶🏻
Sejak saat itu, aku selalu menantikan karya-karya baru dari Kak Yachi. Mulai dari Satan's Daily Report yg debut di CF 2022 sampai akhirnya komik ini! 🥳
⚠️ SLIGHT SPOILERS ⚠️
Ada tiga manusia yang jadi target Rag di komik ini. Manusia sekaligus cerita pertama berasal dari Satan's Method. Manusia kedua dan ketiga baru debut di komik ini. Dua-duanya memberikan tamparan pengingat dengan cara yang berbeda. Setelah membaca cerita manusia kedua, aku jadi instrospeksi diri. Biasanya kalau kesal akan sesuatu (umumnya ulah netizen yang ngeyel), aku melampiaskan kekesalan dengan misuh-misuh dalam hati. Enggak jarang kata kotor dan bernada merendahkan ramai berdentang di kepala, karena kukira lebih baik aku meluapkan marah sekalian ー sekalipun hanya diriku sendiri yang tahu ー dibanding orang lain kena getah dari emosiku.
Tetapi selesai baca kisah si manusia kedua, aku jadi ragu. Apakah benar enggak masalah aku memaki dan merendahkan orang-orang nyebelin sekalipun hanya ngebatin? Jangan-jangan selama ini si Rag jungkir balik bahagia? Akhirnya aku mulai mengubah caraku merespon kejadian-kejadian mengesalkan yang kubaca atau kudengar. Sekarang dibanding ngedumel dalam hati, "IH BODOH BANGET, SIH!" aku coba mengubahnya menjadi, "Hm mungkin orang ini dikelilingi orang-orang yg juga enggak mengerti soal topik ini, jadi enggak ada yg mengoreksi kesalahan berpikirnya. Makanya saat ada orang lain yang mengabarkan kebenaran, dia sulit menerima kebenaran itu karena terlanjur percaya pada narasi pertama." Ternyata setelah dipraktekkan, hatiku jadi lebih...plong? Mungkinkah ini yang disebut manajemen emosi yang baik? 👀 Mungkin harusnya komik ini masuk genre self-development ya
Ketika mulai memasuki kisah manusia ketiga, aku mulai overthinking karena melihat pejuang manusiaku sudah banyak berjatuhan di bawah was wis wus syaiton. Ada perasaan, "Huhu kok gampang banget ya jatuh ke kubangan dosa. Apa kabarku yang pikirannya sering liar dan masih suka berleha-leha..." Tapi begitu sampai pada halaman tentang taubat, perasaan tersentuh langsung menyeruak. Seakan menenangkan sekaligus mengingatkanku bahwa manusia memang lemah dan gampang dihasut untuk berdosa oleh setan, namun sebegitu sayangnya Tuhan pada kita, semelenceng dan serusak apapun diri ini, kita akan tetap diterima oleh-Nya pada detik niat bertaubat itu muncul. Dan ilustrasi di halaman terakhir dimana papan "Human" jatuh lalu digantikan kata "Satan" itu kreatif dan kesimpulan cerita yang bagus, sih.
Btw aku agak kasihan sama Rag tapi masa aku rooting for satan. Enggak dulu ya, Rag 🙏🏻