Review Omniscient Reader’s Viewpoint
Omniscient Reader’s Viewpoint bukan sekadar cerita — ini adalah pengalaman emosional dan intelektual. Bagi saya, cerita ini terasa seperti sebuah mahakarya (masterpiece) karena keberhasilannya menggabungkan aksi, misteri, hubungan antar karakter, dan tema eksistensial yang dalam. Yang membuat ORV begitu istimewa adalah fakta bahwa selain menghibur, ia juga membuat kita merasakan.
Kim Dokja sebagai tokoh utama adalah contoh karakter yang sangat kompleks: manusia biasa dengan jiwa yang penuh kesedihan, kepintaran yang dingin, tetapi juga kasih sayang yang tak terucap terhadap orang-orang di sekitarnya — terutama Yoo Joonghyuk. Saya menyukai bagaimana hubungan mereka dibangun: bukan sekadar kata-kata manis, tetapi melalui tindakan, pengorbanan, dan rasa saling percaya yang terbentuk dari penderitaan. Setiap interaksi antara Dokja dan Joonghyuk terasa berarti, bahkan ketika mereka bertengkar atau membisu.
Keindahan ORV juga terletak pada cara setiap karakter berkembang bersama waktu. Karakter-karakter pendukung seperti Han Sooyoung, Jung Heewon, Yoo Sangah, bahkan para konstelasi, semuanya berubah, belajar, dan berjuang. Cerita ini menunjukkan bahwa setiap karakter memiliki makna, bukan hanya sebagai pelengkap narasi utama.
Yang paling menyentuh adalah tema “siapa pembaca, siapa penulis, dan siapa karakter.” ORV berhasil membuat kita mempertanyakan hubungan antara manusia dengan cerita — dan bagaimana seseorang bisa diselamatkan oleh sebuah kisah, seperti Dokja diselamatkan oleh TWSA, dan kemudian ia menyelamatkan orang lain melalui versinya sendiri dari cerita itu.
Dari sisi artstyle, jujur saya sangat menyukai artstyle periode pertengahan manhwa, dimana anatomi karakternya terlihat sangat presisi dan proporsional. Pengambilan sudut pandang panel-panelnya kreatif, penuh dinamis, dan membuat adegan terasa hidup. Color theory-nya juga terasa matang — palet warna yang digunakan mampu menyampaikan emosi adegan dengan kuat. Dan ya: pada periode itu Kim Dokja benar-benar terlihat ganteng banget. Bukan sekadar menarik, tapi punya aura misterius yang khas.
Sedangkan pada artstyle yang lebih baru sekarang, fokus pada pose kompleks dan sudut perspektif yang dramatis memang sedikit berkurang. Dokja terlihat lebih halus, hampir cantik, dengan garis wajah yang lebih lembut. Buat saya, terlepas dari perubahan style ini, Dokja tetap karakter pria paling tampan di seluruh seri — karena daya tariknya bukan hanya dari wajah, tapi dari kepribadian dan pengalamannya sebagai pembaca yang menjadi pemeran utama.
Pada akhirnya, Omniscient Reader’s Viewpoint adalah cerita yang memeluk pembacanya — terutama pembaca yang pernah merasa sendirian. Sama halnya termasuk saya, saya melihat Dokja sebagaimana Dokja melihat Yoo Joonghyuk sebagai karakter. Cerita ini tidak sekadar dibaca, tapi dihidupi. Dan bagi saya, tidak ada kata lain yang lebih tepat selain: ini adalah sebuah masterpiece