Banyu kesal. Libur kelulusan SD-nya berantakan gara-gara si adik lahir lebih cepat dari perkiraan. Ayah dan Ibu yang sudah berjanji akan mengajaknya melakukan banyak hal seru terpaksa mengungsikannya ke rumah Eyang! Untung saja Om Ge, sang paman, pulang dari berdinas. Dia membawa segudang cerita menarik dari tugasnya sebagai fotografer alam liar. Cerita seekor burung legendaris yang dikisahkan Om Ge rupanya sangat menarik perhatian Banyu. Dia jadi terpikir buat ikut Om Ge pergi demi mengamati burung itu di Taman Nasional Baluran lewat sebuah lomba. Masalahnya, perjalanan yang harus ia lalui tidak semudah yang dibayangkan. Bisakah Banyu berjumpa dengan si burung legendaris seperti yang ia harapkan?
Waktu remaja tanggung, pasti ada aja yang bikin penasaran sampai-sampai rela melanggar larangan orang tua demi memenuhi rasa ingin tahu. Banyu sama. Setelah adiknya lahir, semua orang sibuk pada si bungsu. Rencana liburan yang dijanjikan kedua orang tuanya terpaksa harus diundur. Untung ada Om Ge yang memantik keberanian (atau kenekatan?) Banyu untuk ikut ekspedisi ke TN Baluran.
Cerita Banyu dimulai dengan kenekatan yang bikin tekanan darah emak-emak manapun langsung meninggi. Bayangkan, remaja yang hampir masuk SMP nekat mencegat omnya di terminal dengan bermodalkan uang sedikit dan kondisi yang agak apes. Sudah begitu, Banyu nggak bawa perlengkapan yang memadai untuk memulai ekspedisi. Alhasil Om Ge langsung senewen.
Kurasa ini novel remaja bertemakan petualangan di alam terbaik yang pernah aku baca. Deskripsi soal tanaman dan hewan serta nama ilmiah mereka bikin pembaca serasa diajak belajar juga. Banyak banget nama serangga atau burung yang masih asing di telinga. Atau yah, tahu, tapi nggak tahu nama aslinya. Penjelasannya lengkap, pas, dan nggak info dump. Novel berisi banyak pengetahuan begini biasanya rawan jadi penumpukan informasi atau naratornya terlalu banyak ambil bagian, alih-alih membiarkan si karakter "belajar" mengenal hal yang masih asing baginya.
Poin plusnya lagi, meskipun fokus cerita lebih banyak di bagian petualangan Banyu selama di TN Baluran, latar karakter pendukungnya nggak lupa dikupas juga. Misalnya rahasia masa lalu Om Ge, keluarga langganan juara alias 4L yang ternyata nggak sesempurna yang Banyu pikirkan, dan masih banyak lagi. Oh, ini juga penting, meskipun ada remaja lain di buku ini, suara mereka berbeda. Masing-masing bisa dibedakan dan punya ciri khas. Karakterisasinya juga konsisten.
Bagiku yang bukan remaja lagi, buku ini menyenangkan. Bisa dibaca dengan niat relaksasi karena meskipun banyak berisi pengetahuan soal hewan, tumbuhan, dll, informasinya nggak akan bikin bosan. Malah berpotensi membangkitkan kekepoan lalu bergegas membuka Google untuk mencari tahu rupa hewan atau tumbuhan yang dimaksud. Oh iya, ini cocok buat kado anak, ponakan, sepupu, dll, yang masih remaja. Worth banget!
Mbak Penulis gue tandai sebagai auto-buy terbaru. Walaupun gue sangsi masih ada anak-anak kayak Lex, Banyu, dan Lumi di perkotaan, gue rasa buku ini bahkan bisa banget dijadiin referensi fiksi wajib untuk memantik rasa ingin tahu anak zaman sekarang supaya lebih peka terhadap fakta-fakta fauna Indonesia.
Kekurangan yg gue temukan mostly ada di sisi teknis aja, dan di POV Banyu yang kadang kurang cocok untuk profilnya. Selebihnya, buku ini layak dibaca semua umur. Sungguh bacaan yang ringan tapi tetap bikin berefleksi, dan somehow bikin gue berkabung untuk sebuah versi masa remaja yang nggak pernah gue punya.
Sisa pertanyaan gue cuma satu, jadi apa yang sebenarnya terjadi antara Ge, Kin, dan Damar? Kalau Mbak Penulis baca ini, tolong cerahkan saya~
BUKU INI BENAR2 SERUUUUUU dan aku harap ada lanjutannyaa sihh soalnya se seru ituu, kita di ajak berpetualang bersama Banyuuu. Buku ini juga menambah wawasan tentang dunia binatang, terutama jenis2 burung, kupu2, dan lain sebagainya. Bukunya juga sangat page turner sehingga worth to readdddd, selain berpetualang, buku ini juga sedikit menyinggung tentang kekeluargaan dan menampilkan persahabatan banyu, lumi, dan lex serta om Ge dan tante Kin. Pokoknyaa seruuuu, soalnya ada sketsanya juga di beberapa chapter
Besar harapanku Ekspedisi Peksi bisa dibaca banyak orang.
Plotnya sederhana dan dekat dengan keseharian karena ini buku middle-grade. Akan tetapi background ceritanya tidak main-main, padat dan menambah pengetahuan. Tentang birdwatching, sebuah tema yang jarang diangkat bukan?
Berkisah tentang seorang anak bernama Banyu yang "kabur" menyusul sang paman yang menjadi juri di lomba fotografi dan pengamatan burung di Taman Nasional Baluran. Banyu terpapar obsesi sang paman dalam dunia birdwatching dan berambisi untuk menemukan burung Tangkar Ongklet. Selain itu, keberanian menempuh perjalanan mandiri hingga ditemukan dalam keadaan kecopetan di Kampung Rambutan juga muncul sebab merasa diabaikan sejak adiknya, Hara, lahir ke dunia. Perhatian yang selama belasan tahun utuh untuk Banyu, kini harus dibagi. Konflik khas buku middle-grade banget, cemburu sama adek baru. Nantinya Banyu juga akan bertemu dengan temen baru dari keluarga 4L yang selalu jadi juara bertahan alias lo lagi lo lagi, bernama Lumi dan Lex. Mereka juga punya masalahnya tersendiri, menurutku agak rumit, semacam parental pressure.
Bersama Banyu yang penuh rasa penasaran, Lumi si penyuka kupu-kupu yang menggemaskan, juga Lex penyuka elang yang ngemong, kita diajak berkelana menjelajahi TN Baluran serta mengenal keunikan beserta flora dan faunanya, terkhusus burung-burung yang diamati. Aku salut dengan cara penulis menggambarkan keindahan dan keasrian Baluran ke dalam sebuah tulisan dengan deskripsi yang ciamik dan mudah sekali divisualisasikan. Ilustrasinya juga lucu, meskipun kurang lengkap krn aku berharap burung-burung yang disebutkan gambarnya bisa disertakan.
Karena jatuh cinta, aku berencana mencari buku fisiknya di kemudian hari. Menurutku kalau dijadikan cerita berseri juga bakal asik #ngarepbangetdotcom 😭✨️ habis dari Baluran trus jalan-jalan ke Bali melihat migrasi burung raptor di Karangasem boleh juga #ngayal
Suka banget dengan ide ceritanya. Seorang anak yang ikut pamannya ke Baluran, berpetualang karena nekat ingin berlibur juga sebal dengan kedua orangtuanya. Di dalamnya dijelaskan mengenai aneka satwa, birdwacthing, menjelajah dan drama keluarga. Ceritanya juga dibumbui sedikit romansa antara Paman Ge dan Tante Kin. Super lengkap deh. Ga ngebosenin.
BUKU YANG ORANG-ORANG HARUS BACA‼️❤️🔥 Kalian akan diajak petualang sama Banyu mencari burung Tangkar Ongklek (cmiiw) di Taman Nasional Baluran. Kalian juga akan dikenalkan dengan banyak sekali jenis burung yang namanya sangat asing bagi aku pribadi (jujur ini mah aku gak apal juga:(). Bukan hanya burung, disini juga kalian akan dikenalkan oleh berbagai jenis hewan yang pastinya ada di Baluran tersebut. Ekspedisi Peksi ini diambil dari nama ekspedisi yang dilakukan oleh Banyu. Nama ini diidekan dari Om Ge. Peksi yang kalo kata Om Ge itu artinya burung (entah artinya atau nama burung aku kurang tau guys maaf). So much information, and this actually good for kids, even for me😸😻. Point plusnya tuh ternyata penulis buku ini sama seperti Om Ge, atau orang yang memang sering melakukan pengamatan burung. Gak heran ya semua penjelasan disini terasa nyata dan tersampaikan dengan baik kepada pembaca👏✨ Jadi menurutku ini bagus dari segala sisi sih. Aku suka semua hal dibuku ini. Aku suka penulisan dalam bukunya yang terasa ngalir, aku suka semua karakter dalam buku ini, aku suka gimana relationship antara Banyu dengan Om Ge, Banyu dengan Lumi dan Lex, dan sangat heartwarming dengan karakter development nya Banyu terhadap ibunya. Terakhir, aku naksir banget sama Om Ge🫣🫠❤️🔥🫰 Moral of the story, gak semua cita-cita tercapai hanya dengan sekali coba. Terkadang kamu harus kembali ke tempat yang sama sebelum akhirnya kamu benar benar bisa mencapai apa yang kamu inginkan.
Sama seperti judulnya: "Ekspedisi Peksi", buku ini betulan jadiin burung sebagai "raja" di sini. Maksud saya, betul-betul hal utama yang dibahas di sini selalu tentang burung, walaupun kadang-kadang ada hewan lain yang ikut dibahas.
Ada satu kalimat yang bikin saya yakin buat lanjut baca pas di awal-awal cerita. Kalimatnya: Dan aku tak mau berhenti gila cuma karena aku ragu-ragu. Rasanya kayak dikasih validasi pas baca kalimat ini, jadi saya semakin yakin buat lanjut baca.
As animals lover, bacanya saya seneng banget karena kayak diajak ke hutan betulan. Banyak banget juga pengetahuan-pengetahuan tentang hewan yang ditulis di cerita ini. Lumayan buat menambah insight buat pembaca-pembacanya.
Di sisi lain, novel ini juga ngasih semacam 'warning' kalau being too overprotective towards children itu nggak baik buat perkembangannya. Terlalu menuntut dan memberikan janji kosong juga parah betul dampaknya.
Karakter-karakter di sini cukup oke, sih. Tapi, yang paling bikin saya agak sebal itu katakter Lumi, since she often underestimated others, padahal masih kecil. Tapi setelah menuju akhir cerita dan ada character development, cukup bisa dimengerti.
Novel ini juga mengangkat isu pemburuan hewan yang mengancam punahnya hewan-hewan (baik yang masih banyak atau sudah langka). Ini jadi nilai plus buat saya pribadi sebagai pembaca.
Ohiya, ada satu quote menarik juga yang berhasil menarik hari saya. Quote-nya: That's why I go birdwatching. It's about enjoying, observing, and chasing less—a way of being part of nature. (p. 182)
Eksekusi akhir cerita, for me personally, juga cukup bikin penasaran tapi nggak bisa dibilang terlalu menggantung juga. Setengah-setengah kali, ya, kalau boleh dibilang.
Secara keseluruhan, buku ini bagus banget buat dibaca anak-anak dan remaja. Tapi selain anak-anak dan remaja, orang dewasa atau orangtua juga bisa nih baca ini sebagai insight menambah pengetahuan parenting (meskipun tersirat).
Ini sih buku middle grade lokal favoritku. Agak lupa detail ceritanya karena sudah bertahun-tahun lalu, yang jelas Banyu si tokoh utama 'minggat' dari rumah demi berpetualang mencari burung eksotis yang katanya cuma ada dalam legenda. Tentu dia nggak dilepas gitu aja sih, soalnya masih bocah. Ada oomnya yang sering kelayapan keliling endonesa buat mencari burung juga. Itu aspek yang penting dalam cerita anak dan remaja sih menurutku. Meskipun si anak yang jadi tokoh utama bakal mengarungi perjalanan mengubah hidup, tetap ada pengasuh/mentor yang jadi jaring pengaman secara fisik atau minimal secara mental, jadi nggak nyasar dan malah berakhir menemukan makna kehidupan yang salah. Kalau kasus si Banyu ini kan dia baru punya adik dan kayaknya cemburu sama perhatian orangtuanya yang diberikan kepada si adik. Setelah mblandang ke mana-mana di taman nasional, akhirnya dia menemukan apa yang dia cari, tapi bukan si burung legenda.
Nggak enak emang dari tadi ngomong burang burung. Jadi ngerti kenapa mbak penulisnya memilih diksi "peksi" buat judulnya, bukan "burung" atau "unggas" karena ndak estetis sama sekali. Hawa petualangan buku ini cocok buat jiwa-jiwa liar yang terkungkung di dalam kandang sepertiku. Semoga mbak penulisnya segera hadir kembali dengan petualangan Banyu (atau Om Ge deh 🤭) yang lebih seru, mungkin mencari burung migrasi eksotis di kepulauan enggres karena beliau lagi reside di sana.
Bercerita tentang Banyu, seorang remaja yang kesal libur kelulusan SD-nya menjadi gagal karena adiknya lahir lebih cepat dari perkiraan. Namun, semua itu berubah karena kedatangan pamannya — Om Ge. Berawal dari Om Ge yang menceritakan tentang penemuannya dengan burung legendaris "Tangkar Ongklet", maka Banyu dengan kenekatannya ikut serta pamannya pergi ke Taman Nasional Baluran untuk mencari burung legendaris tersebut. Dan disana, mulailah petualangan Banyu bersama Om Ge serta teman barunya — Lex dan Lumi.
Suka sekali dengan buku ini, karena membahas tentang kondisi dan situasi di Taman Nasional Baluran. Tempat yang begitu banyak menyimpan keanekaragaman flora dan fauna Indonesia, terutama berbagai jenis Burung dan Kupu-kupu. Selain itu, di buku ini juga dijelaskan mengenai beberapa tumbuhan/pohon yang ada di Taman Nasional tersebut.
Konflik dibuku ini juga sangat ringan. Hubungan antara Banyu dengan keluarganya, sahabatnya serta dengan alam. Tidak hanya bercerita tentang petualangan Banyu dan kawan-kawannya saja, tetapi diceritakan juga tentang hubungan antara anggota keluarga. Bagaimana sudut pandang Banyu dan Lex sebagai anak sulung, sudut pandang Lumi sebagai anak bungsu, sudut pandang seorang anak ke orang tua nya dan sebaliknya.
Setelah membaca buku ini, aku jadi mengetahui kalau di Indonesia banyak sekali ragam jenis flora dan fauna, tapi sayangnya... mereka semua sudah terancam punah akibat oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Worth to read! Rasanya aku juga diajak ikut serta berpetualang bersama Banyu. Berpetualang mencari hewan-hewan endemik Indonesia.
Novel ini bercerita tentang Banyu, seorang anak kelas 6 SD yang nekat ikut Om Ge (pamannya) ke Taman Nasional Baluran untuk melakukan ekspedisi peksi—burung. Dan kisah petualangan Banyu pun dimulai.
Meskipun ini novel bercerita tentang anak kelas 6 SD, tidak menjadikan novel ini kekanak-kanakan atau hanya cocok dibaca oleh remaja tanggung. Tidak, bahkan aku yang telah dewasa pun sangat menikmati dalam membacanya. Banyak informasi tentang burung dan serangga yang aku dapatkan di novel ini. Informasi itu pun nggak menjadikannya info dump. Aku pun ikut kepo dan menelusurinya di internet. Oh, ini ya ... Oh, ternyata begitu, ya. Ini jadi pengen ke Baluran beneran, haha.
Nggak hanya berkisah soal Banyu, tapi intrik keluarga dan juga peran-peran lainnya pun ikut dibahas. Setelah membaca A Publicity Stunt, aku jadi membaca ini dan aku dapat benang merah bahwa penulisnya memang senang mengeksplor banyak hal dan banyak peran. Satu hal yang menarik dan bagus.
Akibat bosan saat liburan sekolah dan merasa orang tuanya lebih perhatian kepada adiknya, Banyu memutuskan kabur dari rumah untuk mengikuti Om Ge yang akan menjadi juri pengamatan burung di Baluran. Di sana kita akan bertemu Tante Kin, yang menurut Banyu there’s something between Om Ge dan Tante Kin. Ada Lex yang langganan juara dalam pengamatan burung dan seperti ensiklopedia berjalan. Dan Lumi yang usil dan hobi rage baiting Banyu. Bersama mereka kita diajak bertemu banyak pohon-pohon dan hewan-hewan, especially burung dan tak lupa dibawa tersesat di hutan🤣
SUKA BANGEEET. Walaupun ini 300 halaman tapi aku rasa bisa dibaca sekali duduk karena cukup besar jarak antar baris tulisannya, juga bahasa dan bahasannya mengalir aja gitu, nggak sadar tau-tau kelar. I wonder what books Lex reads karena dia tau banyak hal banget keren. Terima kasih penulis sudah melahirkan Ekspedisi Peksi, aku jadi tau banyak jenis pohon-pohon dan hewan-hewan 🫰🏻
Kereeen! Penulisnya lulusan Jurusan Biologi dan pernah mendalami birdwatching. Pantes detail banget dalam menggambarkan perilaku hewan dan keanekaragaman lingkungan.
Sayang ilustrasi hewan-hewan yang disebutkan minim. Jadi agak susah bayangin hewan-hewannya. Aku baru tahu kalau elang itu sebutan lainnya adalah raptor. Apakah raptor adalah nenek moyang elang seperti T-Rex adalah nenek moyang ayam?
Tokoh paling menjengkelkan di sini: Lumi! Tiap dia nyebut Banyu sebagai Penyu dan mengatainya dengan kata cemen, aku ingin menamparnya. Huuuh! Tapi Banyu terlalu pemaaf nih. Protagonis harus kasih teladan yang baik sih, ya.
Seru banget! Gemes sama interaksi Banyu-Lumi. Sambil dengerin lagu Petualangan Sherina, jadi berasa baca novel waktu kecil 😆 Novel ini banyak banget ilmunya bagiku yang masih asing dengan pengamatan burung. Tapi ini bisa jadi kegiatan menyenangkan untuk anak2 supaya mereka tuh ga main gadget terus. Bayangin aja kalau banyak anak2 yang sekeren Lex, pengetahuan tentang burung smape nama2 latinnya. Terus dia juga paham soal bertahan hidup di alam. Aku aja yang belajar dari pramuka kayaknya belum tentu bisa tahan menerjang semak belukar wkwk. Tapi aku jadi pengen ke Baluran baca ini!
Banyak buku fiksi yg merefleksikan interest, hobi, nilai/value, keprihatinan penulisnya. Buku ini salah satunya. Karya yang dituangkan dalam buku ini sangat ringan tapi kaya pengetahuan tentang flora dan fauna di Indonesia. Menurut saya, buku ini juga jadi sentilan bagi anak muda yang minim ketertarikan pada dunia flora fauna. Padahal, banyak hal yang bisa dinikmati dan dipelajari dengan demikian bisa mendorong empati kita pada sesama makhluk hidup. 🤍
Ini bagus banget please????? buku ini kenapa jarang dibahas yah padahal bagus banget T______T aku banyak belajar jenis jenis burung dari sini. Terus agak relate sama Lumi dan Om Ge karena kita sama sama anak bungsu jadi aku agak relate lah sama nasib mereka. Terus apa lagi Lumi sama Banyu, lucu sekali??? berantem muluuuu. Ga kebayang sih anak 12 tahun kabur dari rumah??? Aku juga dulu kepikiran kabur pas bocah tapi ga sampe beneran kejadian 😭😭😭
Seru bacain selipan fakta2 menarik tentang alam di novel ini, minusnya cuma 1 buat saya yaitu masalah diksinya Banyu, Banyu disini diceritakan sebagai anak laki laki berusia 12 tahun tapi di novel ini Banyu terdengar seperti perempuan berusia 18-20 tahun jadi rasanya kurang pas aja.
Overall okelah untuk novel dengan latar petualangan alam
wah... aku takjub, selain karena covernya yang super duper cantik, narasi di dalam buku ini dapat membuat aku turut merasakan keseruan Ekpedisi Peksi bersama Banyu dkk. menurut aku, buku ini cocok banget untuk kalian yang butuh bacaan ringan! 🦜
seruuuu.. ceritanya ringan rapi serasa dibawa ke hutan hutan sambil belajar banyak soal flora dan fauna di Indonesia, pengetahuannya bakal bertahan lama ngga di otak itu no 2
page turner banget bukunya berasa ikut berpetualang di Baluran, isinya seru banget nambah pengetahuan tentang alam, flora dan fauna huaaa seneng banget bacanya
Buku ini bercerita tentang Banyu yang kesal libur kelulusan SD-nya berantakan sebab adiknya lahir lebih cepat dari perkiraan. Banyak janji yang tidak ditepati kedua orang tuanya, serta terpaksa harus mengungsi ke rumah Nenek membuat Banyu diserang bosan. Namun, semua itu berubah ketika sang paman pulang dengan membawa segudang cerita menarik dari tugasnya sebagai fotografer alam. Salah satu cerita mengenai seekor burung legendaris membuat Banyu tertarik untuk ikut Om Ge pergi mengamati burung tersebut. Tapi ternyata, perjalanan yang harus dilalui Banyu tidak semudah yang ia bayangkan. Bisakah Banyu berjumpa dengan burung legendaris itu seperti yang ia harapkan? -
Ceritanya dibuka dengan kenekatan Banyu mendatangi Om Ge untuk ikut ke Taman Nasional Baluran dengan bermodal uang tabungan yang pas-pasan, tapi malah mengalami hal gak terduga setelahnya.
Buku yang berlatar belakang di Taman Nasional Baluran ini menggunakan alur maju dan dijelaskan melalui sudut pandang Banyu. Narasi yang digunakan ringan dan nyaman banget dibaca, tipikal buku yang page turner. Konflik ceritanya cukup ringan tapi penyelesaiannya menurutku terlalu cepat dan kurang dijabarkan.
Yang aku suka penulis mendeskripsikan mengenai tempat, suasana dan tokoh-tokohnya dengan detail, jadi pas baca buku ini aku berasa diajak menjelajah sekaligus mengamati flora dan fauna di Taman Nasional Baluran. Apalagi di dalamnya juga ada beberapa ilustrasi yang berkaitan dengan hal itu.
Di buku ini juga ada beberapa nama-nama hewan maupun tumbuhan yang baru aku dengar, ditambah penyebutannya menggunakan bahasa ilmiah. Jadi pas baca buku ini aku sambil searching juga karena penasaran seperti apa wujud aslinya😂
Cerita di dalam buku ini juga gak hanya berisi petualangan, tapi juga mengangkat isu tentang hubungan antar anggota keluarga. Seperti orang tua yang kurang mengapresiasi pencapaian non akademik anaknya, kakak yang merasa kurang di perhatikan setelah memiliki adik, dan adik yang ingin pendapatnya juga didengar.
Menariknya lagi penulis juga menyelipkan mengenai kerusakan alam dan fauna yang terancam punah akibat oknum-oknum tidak bertanggung jawab melalui interaksi antar tokohnya. Baca buku ini membuatku menyadari betapa pentingnya menjaga kelestarian alam maupun yang hidup di dalamnya.
Aku merekomendasikan buku ini untuk semua kalangan karena cocok dibaca dari usia remaja sampai dewasa banget. Recommended.