Jump to ratings and reviews
Rate this book

God Gives Me You

Rate this book
Bagi Aria, membahagiakan eyangnya adalah tujuan hidupnya. Apa pun dia lakukan, termasuk menikahi Satriya.

Bagi Satriya, menikah atau tidak menikah sama saja. Menikahi Aria atau orang lain, tidak ada bedanya.

Pernikahan mereka berjalan dengan baik tanpa drama. Tidak ada perbedaan setelah menikah atau saat masih melajang. Mereka hidup masing-masing. Aria di Yogyakarta dan Satriya di Jakarta.

Namun, bagaimana jika akhirnya Satriya memutuskan hidup di Yogyakarta dan mereka tinggal serumah, bahkan bekerja di kantor yang sama?

460 pages, Paperback

Published December 5, 2023

6 people are currently reading
71 people want to read

About the author

Pritha Kurniasih

4 books8 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
25 (53%)
4 stars
19 (40%)
3 stars
3 (6%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Liliyana Halim.
309 reviews238 followers
February 13, 2024
“Tapi akhirnya bisa, kan? Di dunia ini gak ada yang sempurna, Aria, gak semua yang kita inginkan, bisa kita dapatkan. Introspeksi diri itu perlu.” (Hal 373).
.
Selesaiiiii! Dan sukaaa 😍😍😍. Ini novel pertama Kak Pritha Kurniasih yang aku baca. Aku cukup suka cara berceritanya, manis, hangat, cukup bikin ketawa, bikin gregetan juga was-was. Sayangnya font di novel ini sedikit kecil buatku apalagi kalau chapter baru kertasnya kerasa lebih gelap gitu 🙈 apa cuman perasaanku aja tapiiii tentu saja nggak mengurangi nilai cerita. Meskipun novel ini berbau orang kaya banget tapi masih bisa aku terima dengan baik karena menurutku ceritanya memang nggak terlalu berlebihan. Aku suka Aria 😍. Juga suka Satriya, cara Satriya memperlakukan Aria juga bikin baper 🫣. Suka Satriya yang selalu bawa oleh-oleh untuk Aria, padahal kadang laki-laki kan suka malas ribet. Aku suka Wangsa juga Bhre 🤭. Suka Desta, Enno, Arga dan Ryan. Kalau kalian suka novel perjodohan dan pernikahan masukkan novel ini ke dalam list kalian ya 😉.
.
“Bapak selalu bilang sama aku, ‘Le, wani ngalah, luhur wekasane’. Intinya, mengalah itu gak berarti kita kalah, Aria, apalagi untuk tujuan yang mungkin lebih tinggi. Marah sewajarnya, jangan samoai membutakan mata kita dan akhirnya malah merugikan diri kita sendiri.”— “Nduk, memaafkan adalah salah satu bentuk menghargai ketidaksempurnaan.”
Profile Image for Lina | Adlina H.
414 reviews20 followers
December 2, 2025
God Gives Me You | 460hlm | Pritha Kurniasih | ⭐️5/5 (personal rate)

Trope: Marriage of Convenience · Slowburn Romance · Second Chance · Pregnancy
Isu Utama yang diangkat: prioritas, kepercayaan, komitmen

Novel ini menyentuhku dengan cara yang berbeda dibanding novel tema pernikahan lain. Selama membacanya, aku secara tidak sadar lebih banyak memaknai tentang cinta dalam pernikahan. Oleh karenanya, kesanku terhadap novel ini akan banyak berfokus kesana.

✨✨✨

Pernikahan emang gak cukup cuma pakai cinta. Tapi.. kalau semua hal ada—kecuali cinta?

Begitulah hubungan pernikahan Aria dan Satriya. Hubungan yang tampak bagus dan mulus. Terasa tidak bermasalah di awal: akrab, chill, tenang, semua terasa baik-baik saja. Menghormati satu sama lain, memenuhi kebutuhan materi, saling support, tapi semua dilakukan tanpa cinta, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab. Meski demikian, mau tidak mau, semakin lama rasa terbiasa itu pasti hadir, dan ketika perasaan mulai mengambil alih, apakah kemudian mereka bisa saling mengaku jatuh cinta?

Aria merasa bahwa ia memaksa Satriya ke dalam pernikahan ini ketika laki-laki itu belum ada kesiapan dalam berumah tangga dan bahkan belum siap memulai cinta yang baru.

Satriya juga mengafirmasi dirinya sendiri bahwa dia memang tidak mencintai Aria, dan berfikir bahwa toh Aria sendiri tidak mau memberikan hatinya untuk dia. Padahal Aria hanya melindungi hatinya agar tidak terluka jika jatuh cinta pada Satriya. Aria merasa Satriya tidak akan bisa mencintainya, padahal ia sadar bahwa mudah sekali untuk jatuh cinta pada laki-laki itu.

lanjut di kolom komentar

✨✨✨

Aku melihat hubungan pasutri ini lebih kepada hubungan FWB yang dikemas dalam bungkus komitmen dan pernikahan. Tapi semakin ke tengah cerita, kita akan menyadari bahwa mereka bahkan sedang membohongi diri mereka sendiri. Mati-matian berkata ke diri sendiri bahwa mereka bisa dan mampu menjalani kehidupan pernikahan yang sehat dan harmonis tanpa cinta, tapi keduanya diam-diam berekspektasi lebih.

✨✨✨

Inilah novel slowburn yang aku butuhkan!
.
Benar-benar terasa sekali tahapan dan transisi saat perasaaan keduanya perlahan tumbuh melalui kebiasaan. Dan bagaimana keduanya keukeuh tidak mau mengakui kalau mereka jatuh cinta satu sama lain, hanya demi melindungi perasaan mereka sendiri di pernikahan ini (karena takut tidak berbalas), tapi akhirnya mereka malah menjadi saling membutuhkan tanpa disadari.
.
Konflik-konfliknya pun bertahap. Mulai dari bagaimana hubungan kedua tokoh utama dibuat untuk semakin erat, sebelum akhirnya diberikan konflik yang seolah sudah membayangi sejak awal cerita, yang mana itu menjadi sebuah bom waktu.
Aku cukup suka bagaimana penantian kita terhadap konflik utama ini benar-benar dijatuhkan pada bagian klimaks cerita sehingga aku merasa sangat, amat, bisa merasakan sakit hatinya Aria. Dan membuatku kecewa sampai ke ubun-ubun dengan apa yang dilakukan Satriya pada Aria.
.
Padahal aku biasanya membenci salah paham dan miss komunikasi, tapi lucunya aku justru membutuhkan konflik itu dalam cerita ini. Kedua tokoh utama terlalu menghargai privasi masing-masing. Jadi aku sangat appreciate bagaimana penulis bisa memunculkan konflik ini bukan sekedar sebagai bumbu cerita tapi memang relevan dan dibutuhkan untuk mendorong perkembangan karakter dan hubungan dua tokoh utama itu sendiri.
.
Aku menyukai bagaimana penulis memunculkan isu prioritas sebagai konflik di momen yang menurutku sudah dipertimbangkan kapan sebaiknya muncul. Ini membuat efek dramatis dalam cerita menjadi sangat berdampak.
.
Mana aku bacanya pagi sebelum memulai hari, perasaanku masih sensitif, jadi gampanglah aku dibuat menangis dengan perasaan Aria yang merasa tidak diinginkan, apalagi dengan ketakutannya akan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya yang sudah jadi makanannya selama ia hidup.
.
Keberadaan peran-peran pendukung juga tidak kusangka akan sangat membantu alur cerita dan perkembangan karakter dalam cerita ini.
.
Penolakan terhadap cinta bukan karena benci, melainkan karena asing. Cinta yang sehat butuh keberanian—terutama bagi mereka yang terbiasa hidup dalam cinta yang melukai.
.
Pemaknaan Cinta dalam Pernikahan di Novel Ini (Opini Pribadi)

Melihat hubungan Aria dan Satriya membuatku lebih menyelami makna cinta secara universal, dewasa, dan relevan.
.
Satriya, bukanlah seseorang yang asing dengan luka. Ia mengenal cinta lewat patah hati, kehilangan, dan emosi-emosi ekstrem yang mengguncang jiwanya. Baginya, mencintai berarti deg-degan tak menentu, penuh keraguan, ketakutan, dan tarikan magnetik yang menyakitkan tapi adiktif. Ia lebih terbiasa dengan cinta yang intens—memicu badai dalam hati, merasa sangat hidup tapi juga sangat lelah. Dan dari situ, ia membentuk keyakinan bahwa cinta itu harusnya seperti itu. Harusnya penuh gejolak. Intens. Menyakitkan. Maka ketika seseorang datang dengan ketenangan, perhatian, dan konsistensi yang tak pernah ia minta, ia ragu. Ia merasa datar. Bukan karena hatinya mati, tapi karena tubuh dan pikirannya belum mengenali cinta dalam bentuk yang tidak melukai.
.
Dan Satriya juga mempertanyakan ini pada dirinya sendiri: Kenapa ia tidak merasakan cinta yang meluap-luap seperti cinta yang ia rasakan sebelumnya?
.
Karena begitulah tokoh Aria datang dalam hidup Satriya. Meskipun Aria tidak bermaksud bermain hati dalam pernikahan ini (karena ia sendiri berusaha melindungi diri), tetapi apa yang dia lakukan kebanyakan berlandasan cinta yang universal: Yang lembut, sabar, tenang, stabil. That's what makes me lovesss Aria so much.
.
Dan di sinilah penulis melakukan sesuatu yang jarang aku temukan: menyelami keraguan emosional yang lahir dari trauma cinta itu sendiri. Bahwa kadang, yang membuat kita menjauh bukanlah karena kita tidak ingin dicintai—tapi karena kita tidak tahu bagaimana caranya merasa aman saat tidak disakiti. Karena dalam hidup pun, kadang kita sulit percaya kalau sesuatu yang baik datang tanpa menyakitkan. Kita jadi curiga. Bukan karena orang itu salah, tapi karena kita belum terbiasa merasa aman.
.
Cerita ini menjadi insight untukku pribadi: tentang bagaimana luka masa lalu bisa mendistorsi definisi kita tentang cinta. Dan betapa sulitnya mempercayai seseorang yang hadir tanpa menyakiti, hanya karena kita belum terbiasa bahwa yang seperti itupun, adalah cinta.
.
Rekomen untuk kamu yang mau bacaan santai dimana hubungan tokoh utama dibikin seolah tidak ada masalah, tapi selalu ada perasaan mengganjal yang bikin penasaran terus sama kelanjutan ceritanya.

Profile Image for Bana_Ez.
235 reviews1 follower
July 28, 2024
3.8/4

Novel ini beneran melodrama sih, vibesnya seperti drakor yg slowburn romancenya.
Kalo buat aku pribadi sih lama2 bosen ya.

Untuk gaya penulisannya nyaman di baca. so far enjoy aja sih, yaa b aja la.
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.