Jump to ratings and reviews
Rate this book

SCHOOL #1

Chemistry

Rate this book
TANYA:

“Kak Editor, novel S.C.H.O.O.L: Chemistry-nya aL Dhimas ini tentang apa sih?” –Pembaca



JAWAB:

Tentang seorang adik yang selalu dibayang-bayangi prestasi kakaknya.

Tentang tim olimpiade yang dibentuk oleh sekolah.

Tentang seorang cewek yang merasa paling unggul dibandingkan anggota kelompoknya yang lain.

Tentang gebetan dari klub renang yang terlihat menakjubkan sekali dalam celana renang Speedo-nya.

Tentang cinta pada pelajaran Kimia.



POKOKNYA KAMU HARUS BACA!

(pssst, kalau ada yang penasaran tentang novel ini, bilang aja, “Ceritanya kayak yang pernah terjadi di sekolah kita lho!”)



Enjoy!

—Editor S.C.H.O.O.L.

236 pages, Paperback

First published January 13, 2014

6 people are currently reading
102 people want to read

About the author

aL Dhimas

6 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (9%)
4 stars
28 (23%)
3 stars
50 (41%)
2 stars
25 (20%)
1 star
6 (5%)
Displaying 1 - 30 of 33 reviews
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
March 10, 2014
Akhirnya beres bacanya. Kalau kamu pernah baca serial Glam Girls-nya Gagas Media, yang School ini setipe modelnya dengan Glam Girls. Bedanya lokasi School ini di Batam, tepatnya di Minerva School of Batam, sekolah yang terkenal dengan banyak prestasinya. Beberapa tokoh di VIS (sekolahan di Glam Girls juga disebut-sebut di sini).

Dari judulnya, Chemistry bisa ditebak kalau dalam novel ini ada sangkutannya dengan kimia. Marsha alias Icha, tokoh utama, memang berambisi untuk ikut olimpiade kimia se-Riau. Dia ingin mengikuti jejak kakaknya yang juara olimpiade Matematika se-Riau. Karena ada hubungannya dengan kimia, jadinya ada beberapa teori kimia yang disisipkan dalam novel ini. Meski ada kesalahan juga, misalnya unsur tembaga yang disimbolkan dengan Fe. Yah...kimia bukan bidang yang saya tekuni tapi pernahlah belajar Kimia Dasar pas kuliah dulu. Ada lagi yang mengganggu saya saat membaca "bagian kimia-nya". Diceritakan Icha sedang diwawancarai dalam seleksi olimpiade kimia di sekolahnya. Gurunya menanyakan cara untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa, sesuai kemampuan Icha. Icha menjawab, sesuai kemampuannya dia akan menggunakan indikator asam basa yang praktis dan mudah. Kemudian dia bilang, jika kemampuannya di bidang kimia sudah meningkat, dia akan menggunakan pHmeter. *hening sejenak*
Ehm... saya nggak tahu ya kalau di Batam, apalagi dengan sekolah yg deskripsi kondisi sekolahnya aja bikin ngiler (perpusnya lengkap nyaris mirip cafe, ekskulnua jg mencetak banyak prestasi). Di SMA saya dulu, yg letaknya terpencil, sudah punya pHmeter digital (itu tahun 1997). Jangankan siswa yang dipersiapkan untuk ikut olimpiade kimia, siswa biasa yang juga diajarkan make alat itu pas praktikum. So... aneh aja sih kalau Icha belum bisa make pHmeter. (Atau saya yang salah nangkap maksud kalimat di novelnya ya...?)

Soal ceritanya, standar cerita anak sekolahan. Ada geng2nya, ada pacaran diam-diam, ada fashion, ada ekskul olahraga, ada hangout ke mall, semua dimasukkan jadi satu. Membacanya bikin saya mikir, apa dulu waktu SMA saya pernah segitu ribetnya melihat masalah yang simpel yang terjadi di sekolahan ya? Masalahnya apa...baca aja deh. Saya lg malas ceritanya.

Menariknya novel ini dibikin ala agenda sekolahan. Sepertinya disediakan untuk dicoret/ditulisin. Ada 5 halaman macam buku tulis, ada juga halaman khusus seperti "jadwal pelajaran seminggu", "ceritakan pengalaman serumu di sekolah", dsb. Adanya halaman kreatif kayak gitu yang bikin saya nambahin 1 bintang untuk novel ini. Lucu aja sih, meski kalau saya punya bukunya ga bakalan dicoret2 juga (apalagi kalo cuman minjam :) )
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews297 followers
February 26, 2016
review lengkap http://kubikelromance.blogspot.com/20...

Kayaknya saya nggak perlu cerita panjang lebar tentang jalannya cerita novel ini karena persis dengan sinopsis di atas. Tentang seorang gadis yang nggak ingin kalah dengan sang kakak kemudian memilih menguasai bidang yang merupakan kelemahan si kakak, tentang clique yang dicemburui seseorang, tentang cinta pada tetangganya dan masalah sepele yang membuat clique mereka renggang. Garis besarnya itu.

Alasan kenapa buku ini 'minta ditendang' banget:

Saya pernah dengar entah dari mana saya lupa kalau seri School ini seperti seri Glam Girls tapi versi cowok alias pov dari para cowok. Begitu baca pada lembaran pertama, kok?
Di seri School ini bersetting di Batam dan ada sekolah kece namanya Minerva, mirip VIS tapi tanpa keglamorannya. Bedanya, semua murid sibuk mengejar prestasi, meraih popularitas bukan dengan membully tapi melalui prestasi. Pengaruh budaya Jakarta nggak kerasa tetapi lebih ke Melayu dan Singlish karena dekat dengan Singapura. Tapi saya tetap merasakan aura hedonnya melalui gambaran sang tokoh utama yang walaupun cerdas tapi juga fashionable, walau barang bermerk sudah cukup di rem di sini. Saya nggak pernah tinggal di Batam jadi nggak tau apakah sekolah di sana emang terkenal dengan prestasinya, ini juga merupakan pertanyaan besar saya kenapa Batam? Saya nggak merasakan aura Batam karena nggak dijelaskan juga secara detail dari segi settingnya.
Ceritanya emang cerita yang sering kita temui dikehidupan sehari-hari di sekolah, mungkin sebagian besar pernah mengalami, maka dari itu kesannya biasa aja, nggak ada yang beda, nggak ada sesuatu yang baru, tentang olimpiade Kimia-nya pun juga nggak kerasa, seperti tempelan saja, malah lebih fokus ke retaknya persahabatan Marsha -sang tokoh utama- dengan clique-nya karena masalah sepele.
Para karakternya kurang digambarkan dengan detail, alhasil, saya nggak hapal para clique-nya Marsha yang berjumlah.... lima orang kan?
Saya nggak pinter dalam bidang Kimia, saya juga sudah lupa sama pelajarannya, boro-boro pelajaran SMA, pelajaran waktu kuliah aja sedikit yang diingat, jadi kalau yang dikatakan mbak Desti di reviewnya benar, penulis melakukan kesalahan cukup fatal, sama saja dengan memberikan informasi yang nggak benar, kebohongan publik #tsah. Coba kalau yang membaca anak SMA dan baru mulai belajar Kimia, pengaruhnya bisa besar. Sarannya, kalau nggak ahli dibidang yang bukan keahlian kita, riset.
Kisah cintanya juga biasa aja, saya nggak mendapatkan chemistry diantara kedua tokoh utama.

Alasan kenapa buku ini 'minta dipeluk' banget:

Covernya kece.
Saya suka ilustrasi isinya, banyak yang bisa dicoret-coret dan seru banget, saya serasa kembali ke jaman SMA *emang kamu udah dewasa, Lis?* :p. Misal ada lembaran buku tulis, jadwal mata pelajaran, mata pelajaran yang kita sukai (kalaupun saya isi bagian ini pasti kosong), mata pelajaran yang tidak kita sukai (tiga kolom saja kurang!), menceritakan prestasi yang pernah diperoleh di sekolah (juara pertama berturut-turut lomba makan kerupuk dihitung tidak?), selain dicoret-coret, kita juga bisa menempelkan foto kita bersama para sahabat kita, dan masih banyak lagi, idenya bener-bener seru. Dan bagian terakhir ada games yang bisa kita jawab dan kunci jawabannya ada di seri selanjutnya. Bah, saya nggak perlu kunci jawaban, bisa semua dong (--,)
Saya suka Phil.
Saya suka bagian penulis mencampurkan pelajaran Kimia dengan kehidupan sehari-hari sehingga menjadi quote yang keren.

Ya. Para sahabatku adalah partikel koloid, elektroda adalah kesibukan mereka masing-masing, dan penggumpalan koloid adalah apa yang trjadi pada kami saat ini. Aku merasa, sekarang kami benar-benar mulai berpisah.

Selesai membaca buku ini saya masih belum menemukan jawaban sebenernya seri ini mau dibawa kemana? Beda dengan serial Glam Girls yang langsung kerasa kalau seri tersebut bercerita tentang popularitas dan cewek gaul, selain itu univers VIS jelas sekali. Sedangkan Minerva, saya masih belum mendapatkan gambaran lengkap sekolah itu seperti apa, apakah emang sekolah yang isinya orang-orang pintar dan sering ikut olimpiade? Kalau dari judulnya dan cerita di buku ini, mungkin seri ini berhubungan dengan keseharian kita di sekolah, tentang kecintaan kita terhadap salah satu pelajaran di sekolah, mungkin juga buku selanjutnya akan berhubungan dengan Matematika atau yang lain, yang jelas, saya belum menemukan yang special dari seri ini.

"Orang yang nggak pernah gagal itu sebenarnya orang yang nggak pernah nyobain apa pun."


Semoga seri berikutnya jauh lebih bagus dan universnya mulai jelas. Kabarnya bakalan ada Winna Efendi dan Nina Ardianti yang ikut menulis serial ini, saya suka tulisan mereka dan semoga saja saya nggak dikecewakan lagi. Btw, ketiga penulis yang menulis seri ini juga yang menulis seri Glam Girls, apakah akan ada enam atau tujuh seri? Apakah penulisnya sama dengan penulis seri Glam Girls? Kalau beneran, saya ingin baca karya Tessa Intanya lagi, dia lama banget vakum :p

Buku ini saya rekomendasikan bagi kamu yang masih unyu-unyu deh :p

2 sayap untuk chemistry.
Profile Image for inas.
389 reviews37 followers
October 28, 2017
Kekurangan paling fatal novel ini adalah: a) terlalu banyak tell, dan b) gagal bikin topik kimia jadi menyenangkan.

Terlalu Banyak Tell

Pertama-tama, jangan salahin pembaca kalo mereka nggak ngerti cerita ini mau dibawa ke mana. Dari bab pertama, penulis udah menjejalkan banyak deskripsi buat tiap tokoh, belum termasuk kedatangan dua orang di luar geng Icha, yang semakin menambah kebingungan. Padahal, deskripsi yang cenderung pasif itu potensial banget kalo diubah jadi adegan tersendiri. Mulai dari hobi, kebiasaan, sampe sifat masing-masing.

Misal, Icha lagi ngisi nama di tempat pendaftaran olimpiade, terus ketemu adonis, Tantri, sama temen-temennya. (Tetep aja kebanyakan sih. Yha pokoknya gitu lah.)

Nah, itu juga yang jadi masalah: terlalu banyak tokoh, sangkut-pautnya ke plot pun NOL BESAR.

Mulai dari Icha. Tujuan cewek ini sebenernya sederhana: pengin ikut olimpiade Kimia, karena tahun lalu gagal. Terus, di tengah jalan, dia galau nggak pengin ikut. (Entah kenapa, nggak dijelasin juga.) Buat memotivasi Icha, temen segengnya ikut-ikut daftar seleksi. Eeeh, pas mereka harusnya belajar bareng, yang satu keluyuran, yang satu nggak bisa, gini lah, gitu lah.

Dan, tanpa ngasih clue apa-apa mengenai keraguan Icha (rahasia kek, masa lalu yang nggak mau dia ungkap), Icha tetep nggak mau belajar. Aku langsung kayak, seriously girl??? Seleksinya sebentar lagi. Dan nggak peduli kamu sepinter apa, kamu tetep butuh belajar. Kalo mau nyepelein ya sepelein aja sekalian. =w=

Begitu juga dengan temen-temen Icha yang lain. Mel tuh suka main basket. Dia berusaha narik perhatian coach Galih. TAPI, setiap progres usahanya selalu ditunjukin lewat dialog. Kamu udah sampe mana, Mel? Ngapain aja, Mel? Ya bosen to dikasih begituan terus.

Alvie mungkin nggak separah Mel. Kecentilannya udah lumayan dibahas walau tetep aja pake tell. Yang ngeselin, cewek ini dikit-dikit ngelawak. Lawakannya nggak lucu, pula. Tapi ya temen-temennya tetep aja ketawa. Aku jadi miris. Kalo mau bikin guyon minimal yang natural dikit kek. Kayak Old School, misalnya.

Sarah ikut band sekolah. Tapi ya latihannya, lagi-lagi, cuma diomongin lewat tell. Sama kayak Roro yang pertemuan diam-diamnya sama Martin dibahas lewat tell juga. Padahal, kerjaan geng ini cuma ketemuan di pohon ikonik mereka tiap hari lho. Ngebahas pesta, ngebahas ayo-belajar-ayo-ke-mal-ups-ada-urusan-sori-nggak-jadi-ya. Mbok sekali-sekali kasih tau kek, pas mereka ekskul tuh gimana.

Parahnya, tiap ekskul ini nggak berhubungan. Ya, mau gimana lagi. Dari awal emang nggak ada konsep sampe nggak jelas mau dibawa ke mana. (Mungkin mau dibikin ala no-make up make up gitu yha, tapi jadinya kok plain.) Kan seru kalo Icha ini dibikin nyebelin sekalian: basket diikutin, band diikutin, sampe temen-temennya ngerasa kekurangan spotlight. Dan, bahkan, ngerasa Tantri—musuh bebuyutan Icha—ada benernya.

Omong-omong, Tantri aja nggak jelas kenapa tiba-tiba ngolok Icha—Icha terlalu gaul dan nggak cocok jadi nerd? Tantri kesepian sejak tahun pertama dan nggak punya temen? Lha rekan klub sains itu apa kalo bukan temen? Masa Tantri nggak punya apa gitu yang bikin dia ngerasa perlu ngeganggu Icha setiap saat? Kemunculan Tantri cuma pas Icha bikin kesalahan di kelas Kimia. Gerak-geriknya nggak jelas. Bener-bener cuma buat nunjukin: nih, Icha tu tokoh utama yang baik hati dan tidak sombong, nggak kayak Tantri yang pendendam dan cuma jadi boneka plot. Wwwwwww.

Jadi, sepanjang 19 bab bonus flashback dan epilog itu cuma ngebahas Icha yang ke sekolah terus ketemu temen-temennya dan pulang. Nggak ada dilema, nggak ada action, nggak ada klimaks yang gimana-gimana. Tiba-tiba aja semua orang tahu Roro berbohong, terus bubar, terus dua-tiga bab ke depan isinya pelukan-baikan ngalahin keakraban Teletubbies. :') #IniEmotTerharu #Suwer

Satu masalah lagi. Mereka ini nggak mau persahabatan mereka bubar karena cowok. Harusnya sih, dijelasin ya, kenapa kok Mel ngotot banget supaya temen-temennya nggak deket-deket cowok. (Sekali lagi, rahasia? Masa lalu yang ingin dipendam?) Jadi unsur genting dan mendesaknya tuh kerasa.

Tokoh-tokoh lain pun sebisa mungkin punya hubungan sebab-akibat yang jelas. Nggak sekadar muncul buat dijadiin boneka konflik macem Martin sama Arga yang jadi kambing hitam tidak berdosa. (Roro dituduh berbohong gara-gara punya cowok; Arga disiksa “cuma karena” pengin ciuman. Okelah, ciuman bisa jadi melecehkan. Tapi plis, mereka tuh nggak nambahin peran penting setitik pun lho ke plot. Bahkan, kalo semua tokoh itu dibuang juga nggak masalah.)

Salah satu contoh cerita yang tokohnya banyak tapi berhubungan tuh: Special A. Ada tokoh yang nggak suka pertemanan atas dasar status orang kaya. Ternyata, pas masih kecil, temen-temennya deket karena disuruh orangtua. “Si B ini kaya, Nak, jadi deketin dia, ya.” Nah, pas dia ketemu cewek yang temennya juga berteman kayak gitu, si B marah. Dan membesarlah masalah itu. Sampe berhubungan sama tokoh utama yang awalnya nggak tau apa-apa.

Kalo dipikir-pikir lagi, misal Icha belajar aja dari awal ya nggak masalah. Kan temennya ngedukung semua. Nggak ada halangan apa-apa, cuy. Konsep novel ini terlalu mentah sampe perkara cowok dan sahabat yang bertengkar itu terkesan dibuat-buat doang.

Topik Kimia

Pas ngebahas Kimia dan olimpiade, aku langsung bersemangat. Kupikir bakal kayak Starlight-nya Dya Ragil gitu. Bikin pembaca tertarik, bahkan inget, sama konsep pelajaran IPA yang njelimet. Apalagi, SMA Minerva itu semacam sekolah elit. Whoooo, makin semangat kan bacanya. Sekolah T-O-P-B-G-T gitu.

Lhaa ternyata. Sistem ngajarnya masih pake metode ceramah. Kupikir karena sekolah elit (dan novelnya terbit 2014), bakal dibikin ala K-13 gitu. Muridnya disuruh diskusi, browsing materi sendiri. Pokoknya guru cuma liat-liat doang. Dulu pas awal-awal K-13, banyak yang nggak paham dan kaget sama cara ini, soalnya.

Nah, kalo pake K-13, pernyataan “Icha jago Kimia” nggak bakal bertentangan sama “aku butuh belajar lagi” atau “semoga soal yang dikasih juri nggak sulit”. :')

Kalo memang mau dibikin persis dunia nyata nih, yang tanpa konsep belibet ala fiksi, ada lho murid yang ngerti Kimia. Meski gurunya galak atau neranginnya ngebosenin sekalipun. Murid ini nggak les. Di rumah kerjaannya main game. But still, dia masuk tim olimpiade Kimia dan ranking kelasnya bertahan di urutan pertama.

Tapi kenapa, Icha sangat terkesan “melawan” diri sendiri? Alias pinter sekaligus nggak paham? Bahkan sebelum olimpiade, dia yakin nggak ada soal yang sulit asal dia mau usaha. Eh, ujung-ujungnya dia juga cemas bakal dapet soal sulit. Apa maksudnya dia nggak mau berusaha? Terus, dia juga bilang Pak Frederick kompeten ngasih soal; sementara Bu Fira sama Bu Tania ngasihnya sesuai level murid aja. Apa maksudnya dua guru perempuan itu nggak kompeten? Ya kalo mau ngebahas pembina olimpiade yang bisanya ceramah doang, mending sekalian aja. T3T

Teori kimianya pun masih kayak copas LKS. Koloid adalah blablablabla, titrasi adalah blablablabla. Beberapa adegan make perumpaan kimia sih, tapi tetep aja: yang paham cuma Icha. Pembaca yang rada tulalit kayak aku, makin lama makin nggak ngerti nih cewek ngomongin apa. Istilah-istilah kayak titik ekuivalen, peptiasi, busur breida bukannya bikin pengin belajar tapi malah tambah males. Bahkan, bilangan kuantum, periode, sama golongan yang aku familier aja rasanya kayak... tell melulu.

Kenapa bisa gitu? Karena istilah-istilah kimia itu cuma buat ngasih kesan Icha pinter Kimia. Sangkut-pautnya ke plot—lagi-lagi—NOL BESAR. Coba kalo dibikin lebih sederhana, atau dimasukin adegan yang ngelibatin unsur kimia (kayak nitrogliserin yang bisa jadi bom di film action apa-gitu-aku-lupa), pasti bisa lebih diinget-inget.

Ya mau digimanain lagi kalo aku narik kesimpulan: buku ini sebenernya LKS Kimia salah kover.

Selain itu, ada beberapa tanda baca sebelum dialog tag yang nggak dikasih koma. Bahasa Inggris yang kurang partikel the atau a/an, dan kesalahan sepele kayak she’s always be di hlm. 156 atau he’s young, smart, and have no smile di halaman sama.

Sungguh, nggak ada yang jauh lebih melegakan dibanding nyelesaiin novel yang nggak punya konsep sama sekali.
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
June 18, 2015

Rating: 2.5/5


“Melayani orang yang nggak suka padamu cuma akan membuatmu menyia-nyiakan waktumu untuk belajar.”

Marsha Anandita Hariadie. Berstatus siswi di salah satu SMA di Batam. Menyukai pelajaran Kimia dan punya cita-cita untuk ikut mewakili sekolahnya di olimpiade Kimia antar SMA. Alasan Marsha suka pelajaran Kimia adalah karena dia sama sekali tidak ingin berada di bawah bayang-bayang sang kakak yang pintar dalam semua mata pelajaran kecuali Kimia.

Seperti remaja lainnya, Marsha juga punya kelompok pertemanan yang beranggotakan 5 orang yaitu Mel, Roro, Alvie, Sarah dan Marsha sendiri.

Kembali ke impian Marsha yang ingin menjadi salah satu peserta olimpiade Kimia, hal itu sama sekali tidak mudah walaupun Marsha sudah berusaha keras. Apalagi ada seorang siswi bernama Tantri yang selalu nyinyir dan menunjukkan sikap tidak suka terang-terangan pada Marsha. Menurut Tantri, siswi seperti Marsha tidak pantas menunjukkan minat pada Kimia.

Untungnya sahabat-sahabatnya selalu mendukung Marsha. Tapi kemudian persahabatan mereka rusak karena rahasia yang disimpan oleh mereka sendiri.

“Orang yang nggak pernah gagal itu sebenarnya orang yang nggak pernah nyobain apa pun.”

SCHOOL merupakan gebrakan terbaru dari GagasMedia setelah sebelumnya sukses dengan STPC. SCHOOL merupakan akronim dari Seven Compicated Hours of Our Life, mendengarnya saja sudah sangat menjanjikan bukan? ;)

Tapi… buat saya, buku ini sebagai pembuka dari seri SCHOOL cukup mengecewakan. Tulisan di cover belakang memang terlihat sangat menjanjikan dan menawarkan konflik remaja cukup rumit. Kenyataannya, kalau boleh saya simpulkan, buku ini bercerita tentang “geng remaja yang punya janji konyol untuk sepakat tidak berpacaran”. Selanjutnya sudah bisa ditebak dong apa yang terjadi selanjutnya? Klise memang.

Sebenarnya saya lebih menunggu persoalan yang katanya “seorang adik yang selalu dibayang-bayangi prestasi kakaknya” daripada tentang geng cewek itu. Tapi malah dikecewakan karena “seorang adik yang selalu dibayang-bayangi prestasi kakaknya” itu cuma muncul sedikiiiiiit sekali. Itu pun cuma dari pengakuan si Marsha -____-

Karakterisasinya menurut saya kurang. Apalagi teman-teman Marsha yang dikenalkan sekaligus satu-per-satu di bab awal. Iya, SEKALIGUS. Saking banyaknya info tentang teman-teman Marsha ini di bab itu, saya malah suka lupa siapa yang anu siapa yang itu.

Terus si karakter-utama-yang-namanya-Marsha ini, dia cerdas sik, tapi kok telmi amat kalo soal mendeteksi kebohongan dan mengendus hal tak wajar? Emang sengaja dibikin nggak peka kali yak? *positip tingking*

Saya pernah baca review orang di goodreads kalo ada sedikit kesalahan pada materi Kimia yang dibahas di buku ini *yang soal simbol unsur Tembaga ya kalo nggak salah?*. Dan karena saya sendiri nggak jago Kimia, jadi nggak sadar juga sik soal itu x))

Untuk sisi baiknya, cover dan konsep buku ini keren! Jadi ya, di dalam buku ini ada halaman khusus yang bisa kalian corat-coret seperti halaman kosong buku tulis, selain itu ada juga jadwal pelajaran, mata pelajaran favorit, first crush dan masih banyak lagi. Selain itu ada juga Games School: cari kata, cari jalan dan cari perbedaan.

Cocok untuk dibaca adek-adek yang masih SMA. Percaya deh, kalian pasti bakal suka! ;))

“Jawaban bisa datang kapan dan dari mana aja, perhatikan aja sekeliling kamu.”
Profile Image for Echa.
285 reviews78 followers
March 26, 2014
The one thing that kept me reading was... penasaran sama prolognya yang supergantung.

Apa ya. Jujur, awalnya seru. Atau yang saya kira begitu. Tapi makin ke belakang, frekuensi saya ngerutin dahi meningkat. Terlalu banyak deskripsi tokoh. Terlalu banyak telling instead of showing.

Saya bahkan mesti buka ulang semua halaman buat nyari janji yang diobral di cover belakangnya. Ada sih, tapi samaaar. Samar dengan tiga A. Kalo nggak teliti, bisa-bisa hint-nya kelewat. Dan saya bahkan nggak bisa nemu di mana "cinta pada pelajaran Kimia"-nya. Memang sih diceritain gimana suasana kelas Bu Tania dan segala tetek bengek rumus molekulnya, tapi seriously... selain oper-operan kertas, saya nggak ngelihat di mana interaksinya. One more thing, semua konflik di semua chapter punya ide dasar yang sama: rahasia dan cowok. Repetitif.

Dan nggak terhitung deh berapa kali scene Icha and her clique jalan di depan Owl. Tokoh Phil juga kemunculannya kok tanggung ya. However, he was my favourite, sih, besides Alisha yang bahkan nggak muncul directly.

Anyway, waktu pertama saya masukin buku ini ke tas belanja Gramed, saya nggak nyangka bakal setipis ini. Kisaran 200 halaman, bo. Saya tandas baca ini dalam empat jam, itupun udah disela makan, nonton TV, dan belajar. Plot-nya juga nge-rush banget, padahal saya yakin banyak hal yang bisa dikembangin dari konsepnya.

Frankly, rada kecewa soalnya saya udah lama nggak baca buku soal girls and their friendship, dan novel ini nggak menemui ekspetasi saya. Blame it on me, sih, I set my hope too high.

Tapi lumayan, lah. Memperkaya pengetahuan saya seputar Batam. Saya juga harus ngacungin jempol untuk keberanian penulisnya menyetel cerita ini di Batam dan menaburi bumbu-bumbu budaya sana.

2 stars.
Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
March 1, 2014
kaya sinopsis yang ditulis sebagai jawaban editor itu emang bener, cerita ini emang pernah terjadi disekolah dan BIASA aja. gue menyelesaikan novel ini hanya dengan waktu 3jam sambil main game dan gangguin seseorang *seperti biasa curhat-lagi*. kelemahan mungkin ada di karakter yang terlaku banyak (bold,underline,italic) yang gak dideskripsikan secara gamblang kaya kasus-kasus politik di indonesia. tsahhh... bahasa gue sok bijak *toyordirisendiri*. konflik yang disuguhkan udah banyak dipake, jd gak ada geregetnya dengan history the author yang sudah mengeluarkan banyak novel. ini typoses everywhere lah yah, mungkin bisa diedit dulu mas kalo cetak ulang, amin pake kalo tapi ya.. hehe.. selain itu ada juga nih dihalaman 10, mischa itu siapa ya?*miras-mikir keras*. penggunaan bahasa inggris atau istilah lain yang dibuat didalamnya malah memporakporandakan imaginasi gue-sangat. mungkin akan lebih baik kalo karakternya dikurangi ditambah cara penulis membuat adegan atau kejadian didalam cerita tidak membosankan. dan ini kenapa prolog ditulis lagi di epilog dan ditambah-tambahin ya?. trus si tokoh utama menang apa gak pas lombanya ya? kirain gue dengan baca prolog gue akan dapet jawaban diepilog eh ternyata tidak alias gantung. satu bintang ini gue persembahkan hanya untuk cover dan embel-embel lainnya *salut for mba levina lesmana*. dah itu aja walaupun msh banyak sebenernya yang mesti gue review dari novel ini. sekian dan terima kasih.
Profile Image for Acipa.
141 reviews12 followers
May 1, 2014
“Orang yang nggak pernah gagal itu sebenarnya orang yang nggak pernah nyobain apa pun,” (hal. 41)

Marsha Anandita Hariadie. Sophomore yang nggak hanya hafal mati tabel periodik Kimia, tapi juga nama-nama pemenang America’s Next Top Model. Penampilannya jauh dari geek, tapi juga nggak sehebat dua Olsen. Icha nggak pernah bikin keributan apalagi mem-bully hanya karena dia punya rambut hitam berpotongan bob Victoria Beckham. She’s just a plan vanilla yang cuma punya satu keinginan sebelum dia lulus, bergabung dengan tim olimpiade Kimia.

Adalah Icha yang merasa dirinya selalu dibayang-bayangi prestasi kakaknya, Alisha Wahyu Hariadie. Kakaknya ini jago di semua mata pelajaran, termasuk Matematika, tapi sayang Alisha nggak begitu halnya dalam Kimia. Makanya dia nggak mau disebut jadi pengikut kesuksesan kakaknya dengan mencintai dan berprestasi di pelajaran Kimia.

Icha bersahabat dengan empat orang yang punya sifat dan keahlian mereka masing-masing. Roro—Indira Woro Rahmi—sahabat yang jagonya masak, lebih tepatnya sih Roro ini pastry chef. Terus ada Nazaria Alvie Syahrie alias Alvie *with ‘e’*, anaknya ceria, semangat, dan centil. Kalau boleh bilang, dia ini anak drama—namanya Fame—makanya kemampuannya berakting selalu bikin Alvie jadi pemeran utama di setiap pementasan drama di sekolah.

Melani Adinia—Mel, anak basket yang tiap harinya ber-pony-tail dengan rambut hitam panjang kebanggaannya, dia baik, pemberani, dan penuh percaya diri. Lanjut ada Sarah Vilia Harianda, walaupun cenderung pendiam, ternyata Sarah berbakat lho dalam musik, khususnya bermain gitar bareng Kitty Cash, band sekolahnya ini.

Minerva School of Batam adalah tempat mereka semua bersekolah, kalau kebanyakkan sekolah-sekolah berkualitas baik sering membagi-bagi siswa ke dalam clique tertentu, Minerva nggak begitu halnya. Hampir semua muridnya sibuk mengejar prestasi, nggak ada deh yang namanya bully-bully-an, walau nggak menutup kemungkinan memang ada. Contohnya? Tantri, cewek yang juga jago dalam bidang Sains ini selalu merasa iri dengan Icha, hidup tanpa punya konflik dengan Icha serasa bukan hidup. Hmm...

Ceritanya kayak yang pernah terjadi di sekolah. Iya, hampir semuanya memang bisa dibenarkan, terlebih sinopsisnya pun mengatakan demikian. Tentang hubungan Icha dengan kakaknya, tentang hubungan Icha dengan sahabat-sahabatnya, tentang hubungan Icha dengan cowoknya, tentang hubungan Icha dengan gurunya, tentang hubungan Icha dengan frenemy-nya, dan nggak lupa tentang hubungan kecintaan Icha dengan pelajaran Kimia.

Dari setiap hubungan Icha dengan hal itu, pasti selalu ada masalah. Pasti. Terus, bagaimana kisah seputar Icha dengan ‘dunianya’ ini? I can’t describe it, so read it!

Pelajaran berharga dari semua ini adalah selalu ada orang-orang yang menyebalkan di sekolah yang nggak suka denganmu tanpa alasan yang jelas. (hal. 18)

Sekolah. Kimia. Sahabat. Cowok. Rival. Hmm... nggak aneh sih kalau seputaran dari kata kunci yang udah disebutin tadi. Kalau sinopsisnya bilang ini mirip dengan cerita yang pernah terjadi di sekolah, nggak bisa mengelak juga, karena memang ceritanya sama kayak yang pernah kita alamin semua, apalagi masa-masa SMA.

“Dengerin hal-hal nggak penting cuma bikin kita nggak maju-maju,” (hal. 41)

Konfliknya nggak ‘seberat’ apa yang kita kira seperti halnya novel kebanyakkan, karena seperti yang aku bilang tadi. Udah deh ini buku kayak apa yang pernah kita alamin! Bedanya, pasti selalu punya perbedaan, tinggal selidik dan baca sendiri aja ya :D

“...Boyfriends may come and go, but friends stay forever,” (hal. 48)

SCHOOL: Chemistry adalah salah satu wishlist aku, dan akhirnya terkabul karena dapat voucher 100K untuk beli buku di toko buku online dari Bang Helvry. Alhamdulillah...

Sebelum bukunya digenggam di tangan, aku pernah baca review-review di Goodreads, banyak yang kasih rating kurang memuaskan, paling mentoknya di 2 atau 3. Aku nyerah, awalnya mau batalin niat punya buku ini, tapi cerita nggak selamanya sama.

Dari review Goodreads aku membuktikan juga sih, jadi ceritanya gini lho, entah salah cetak, salah edit, atau salah tulis. Ceritanya Icha gagal seleksi olimpiade Kimia pertama hanya karena gugup sampai salah nulis simbol tembaga atau Fe menjadi He alias Helium. Lho? Ini aneh, karena lambang untuk tembaga kan Cu bukan Fe. Lebih aneh lagi, mengingat Icha katanya hafal mati sama tabel periodik Kimia, tapi kok...? Ya udahlah ya!

Nobody said it was easy, but no one ever said it would be so hard... rite?! (hal. 138)

Begitu baca reviewnya, menyangkal untuk nggak jadi pilih buku ini. Eeeh... malah akhirnya punya. Terlebih, katanya sih bakal ada edisi SCHOOL lain, dan salah satu penulisnya adalah Winna Efendi. Well, kita tunggu aja ya edisi berikutnya, semoga ceritanya lebih seru dan ada sisipan materi pelajarannya juga. Hehehe...

Kutipan favorit? Nih!
“Cuma yang aku takutkan, ya... girls will be girls... pas belajar bersama, kalian pasti akan lebih banyak bergosip daripada belajarnya,” (hal. 57)

“If you choose to fight, I think you’re gonna lose at all.” (hal. 114)

It can be called a social suicide, but I don’t care. I shouldn’t give a shit about what people are saying. (hal. 174)

“You have too much control! It’s gonna ruin all.” (hal. 187)

“Karena persahabatan adalah hal yang terpenting, udah saatnya kita harus bisa saling memahami satu sama lain,” (hal. 190)

Profile Image for Kurnia Hidayati.
5 reviews2 followers
September 12, 2015
REVIEW NOVEL: S.C.H.O.O.L: Chemistry – Al-Dhimas

Judul Buku : School Chemistry
Penulis : Al-Dhimas
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2014
Tebal Halaman: xv + 214

TANYA :
“Kak Editor, novel S.C.H.O.O.L : Chemistry-nya aL Dhimas ini tentang apa sih?” – Pembaca
JAWAB :
Tentang seorang adik yang selalu dibayang-bayangi prestasi kakaknya
Tentang tim olimpiade yang dibentuk oleh sekolah
Tentang seorang cewek yang merasa paling unggul dibandingkan anggota kelompok yang lain
Tentang gebetan dari klub renang yang terlihat menakjubkan sekali dalam celana renang Speedo-nya
Tentang cinta pada pelajaran Kimia
POKOKNYA KAMU HARUS BACA!
(pssst, kalau ada yang penasaran tentang novel ini, bilang aja, “Ceritanya kayak yang pernah terjadi di sekolah kita lho!”)
Enjoy!
--Editor S.C.H.O.O.L

***
Review:

Segala tentang sekolah memang tidak perna ada habisnya dijadikan sebuah cerita. Menarik dan unik. Apalagi masa High School seperti yang terjadi dalam novel School Chemistry-nya Al-Dhimas ini. Masa remaja yang penuh dengan gejolak ini butuh eksistensi dan pencarian jati diri. Hal itu dialami pula oleh tokoh utama yaitu Marsha. Ia berjuang keras untuk eksis buat ikutan seleksi olimpiade Kimia—pelajaran yang sangat disukainya. Tapi, apakah Cuma tentang Marsha saja isi dari novel ini? Nggak dong, ada kisah tentang empat sahabatnya yang punya karakter dan minat berbeda-beda. Seperti Roro yang hobi masak, Mel yang suka main basket, Alvi yang tergabung dalam klub teater, dan Sarah yang gape main gitar sama nyanyi. Kelimanya berbeda tapi mampu bersatu menjadi bestfriend. Happy Bodhi merupakan tempat mereka berkumpul saat jam istirahat. Ada pula kisah percintaan ala remaja, saling naksir satu sama lain, dan persaingan antar teman.
Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju dengan sudut pandang orang pertama; aku. Novel yang bersetting di Batam ini teras sangat mengalir. Al-Dhimas berhasil memasukkan teori-teori Kimia ke dalam cerita tanpa terkesan ‘kaku’ atau menggurui. Selain itu, pesan moral yang ingin disampaikan dalam novel ini pun tergolong bagus, seperti kerja keras Marsha yang ingin mendapatkan kursi dalam seleksi Tim Olimpiade Kimia, prestasi sahabat-sahabat Marsha dalam bidangnya masing-masing, serta tentang kisah cinta yang memang tak bisa lepas dari masa remaja. Tidak ada adegan ciuman, pelukan, atau adegan yang tidak pantas dalam novel ini, meskipun ada tokoh yang menjalin hubungan cinta. Yaitu Marsha. AL-Dhimas juga menitipkan pesan dengan apik usai bagian Alvie yang mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari Arga. Ia nyaris dicium Arga ketika acara masqurade tengah berlangsung.

Mendengar itu, aku langsung memeluk Alvie. Aku biarkan dia terisak di bahuku. Bagiku dia telah melakukan tindakan yang benar. Hal-hal kayak kissing dan bergandengan tangan, menurutku, butuh keyakinan yang sangat kuat bahwa kita menlakukannya dengan orang yang tepat di momen yang juga tepat. hal. 185

“Remaja rebel udah banyak, so, jadilah ramaja yang bertanggung jawab.” hal. 186

Aku memuji bagian Marsha dan Phil yang so romantic. Meskipun keduanya nyaris tak pernah bersentuhan secara fisik, namun adegan keduanya terasa sweet. Apalagi perlakuan Phil terhadap Marsha yang menurutku so hawt. hehe
Terlepas dari kelebihan novel yang sudah aku paparkan di atas, ada beberapa hal yang bikin aku kurang sreg sama novel karangan al-Dhimas ini. Pertama, agak membosankan. Hmm, memang kisah remaja di sekolah Cuma itu-itu aja, tapi apakah hanya itu? Ekspektasiku terhadap novel jebolan Gagasmedia ini lumayan tinggi. Aku berharap menemukan cerita remaja yang nggak mainstream dengan tokoh-tokoh yang nggak berasal dari kalangan “atas” seperti novel-novel remaja lain. Tapi, ternyata, sama aja. Meskipun memang di blurb buku dikatakan bahwa, “Ceritanya kayak yang pernah terjadi di sekolah kita lho!” namun, justru itu yang bikin aku jenuh. Sorry. Kedua, latar belakang tokohnya juga membosankan. Para remaja kaya yang hobi nge-mall, salon, dan bla-bla-bla. Ketiga, kurang greget bagian konfliknya. Emosi tokoh, hiks, kurang dirasakan pembaca. Keempat, setting Batam-nya kurang dieksplore lagi. Sayang banget, kan?
So far, aku menikmati novel ini. Kalau aku harus ngasih bintang, aku bakalan kasih 2,5 dari 5 bintang.
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews202 followers
October 22, 2014
"Ya, aku ingin segemilang kakakku – dengan sedikit perbedaan, tentunya. Alisha hebat dalam semua hal dan pelajaran, kecuali Kimia. Itu alasan kenapa aku mencintai pelajaran Kimia. Aku nggak mau disebut sebagai pengikut kesuksesan kakakku, makanya aku fokus mendalami Kimia. Buatku, ucapan semacam; ‘ya iyalah, dia kan, adiknya Alisha’ akan terdengar lebih bagus jika ditambahkan ‘tapi yang ini prestasinya di Kimia’. Aku butuh pengakuan tanpa harus menghilangkan kebanggaan pada kakakku." – halaman 7

Marsha Anandita Hariadie, yang biasa dipanggil Icha, menyukai pelajaran Kimia. Dia bercita-cita masuk tim olimpiade Kimia di Minerva School of Batam yang punya seleksi yang sangat ketat. Keinginan itu didasari prestasi kakak perempuannya, Alisha di berbagai bidang kecuali Kimia. Salah satu teman sekelasnya, Tantri, mengolok-olok tujuan Icha itu. Dia menilai Icha yang mempunyai fisik yang cantik tidak cocok dengan hal-hal yang serius seperti itu.

Icha mempunyai empat teman dekat, Mel, Roro, Alvie dan Sarah yang mendalami hal yang berbeda-beda. Mel dikenal jago basket, Roro pandai memasak, Alvie punya kemampuan akting sedangkan Sarah senang bermusik. Mereka berempat berniat mengikuti seleksi juga untuk menyemangati Icha. Tapi janji jadwal belajar yang mereka sepakati tidak berjalan lancar. Roro dan Alvie ketahuan berbohong demi menghabiskan waktu dengan Martin dan Arga. Ini membuat Mel kesal dan menekankan janji pertemanan mereka dulu. Sementara itu Icha diam-diam sedang dekat dengan Phil, anggota tim renang yang juga tetangganya.

--

S.C.H.O.O.L: Chemistry menghadirkan cerita remaja ringan yang diselipi beberapa teori Kimia yang bakal berguna di sekolah dan setting kota yang berbeda. Icha dan keempat sahabat ini menghadapi masalah klasik, teman atau cowok/pacar. Masing-masing dari mereka ternyata dekat atau paling tidak mulai memikirkan cowok. Konflik mereka cukup rumit mengingat mereka punya passion berbeda-beda. Konflik itu dibalut analogi dan penjelasan beberapa teori Kimia dengan jelas dan detail. Beberapa teori terdengar menarik dan menyakinkan, membuat aku berpikir penulisnya pasti belajar Kimia dengan serius sebelum menulis ini. Tapi ada beberapa yang aku lewat karena aku males mikir hehehe. Jadinya diskip, deh, beberapa paragraf. Nggak ngaruh ke cerita juga sih ;p Lalu pengambilan setting di Batam memberikan sedikit pengetahuan tentang bagaimana remaja di sana berprilaku. Gaya bahasa mereka yang jauh dari ‘elo-gue’ buatku menarik, juga fakta bahwa mereka lebih dekat ke Singapura. Remaja di sana sepertinya punya tujuan atau fokus yang berbeda dari remaja di atau dekat pulau Jawa.

Baca review selengkapnya di sini -- http://dhynhanarun.blogspot.com/2014/...
Profile Image for Jessica Ravenski.
360 reviews4 followers
March 15, 2014
3 bintang. Iya, beneran.

Menceritakan tentang Marsha -atau Icha- yang mempunyai 4 orang sahabat bernama Roro, Sarah, Alvie, dan Mei. Icha sendiri di sekolah sangat gila dengan Kimia, dan dari Kimia-lah ia mendapat musuh bernama Tantri yang sebenarnya iri kepadanya. Icha juga mempunyai seorang pacar bernama Phil tapi mereka tidak menunjukkan hubungannya di depan umum. Masalah dimulai ketika salah satu dari kelima sahabat itu berbohong terus-terusan dan mengakibatkan persahabatan mereka terancam hancur.

Buku ini masih punya banyak kekurangan. Salah satu yang paling fatal ya yang udah dibahas reviewer lain tentang Tembaga menjadi Fe (padahal seharusnya Cu, kejauhan itu typonya). Seharusnya penulis atau editor lebih meneliti tabel periodik lagi -yang dijual cebanan di Gramedia atau bisa diprint sendiri-. Dan pas aku baca entah halaman berapa ada persamaan reaksi tentang AuCl3, itu emang engga disetarain ya reaksinya? Kok jumlah masing-masing unsurnya ga sama? Atau mungkin itu cuma aku yang salah ngerti dan bacanya ya? Maklum Kimia-ku di sekolah ga bagus-bagus amat.

Harusnya sih kan buku ini membahas Chemistry, Kimia secara keseluruhan, jadi salah-salah begitu udah ga boleh ada lagi. Tau sih kalo setiap orang punya salah, tapi kesalahan itu sepele banget.

Trus di sini kenapa persahabatannya lebih ditonjolkan dibanding Ke-Kimia-annya? Mungkin perasaan aku aja kali ya..





Oke cukup membicarakan kekurangannya. Mari bahas kelebihannya..

1) Covernya cakep pollll.
2) Banyak halaman unyu-unyu, pas banget buat anak sekolahan (walaupun ada beberapa permainan anak TK di majalah Mombi).
3) Phil itu cowok idaman banget!!!!!!!!!!!! <- ga nyantai.
4) Percakapan antara kakaknya Icha dengan Ichanya. Tentang persahabatan. Itu bener-bener kujadikan pelajaran. Intinya bahwa di dalam persahabatan ada bentrok-bentrok itu wajar, itu tandanya persahabatan kamu sehat. Kalo adem ayem aja itu berarti ada apa-apa. Sabagai remaja, aku juga pernah ada bentrok-bentrok dengan temen (dan aku menganggap bahwa mereka bukanlah temen yang baik dan ga ngertiin aku juga sebaliknya). Tapi pas baca ini, aku jadi sadar mungkin bentrok-bentrok tadi menandakan persahabatanku sehat :')

Sudahlah.. Kelamaan jadi tjurhat.

Semoga seri selanjutnya lebih bagus lagi.
Profile Image for Deta Ariesandy.
48 reviews
August 18, 2014
Isi novel ini sangat ringan!
Tidak butuh fokus yang tinggi untuk menyelesaikannya. Tapi karena isinya ringan saya jadi agak malas malasan untuk membacanya. Ya, seperti yang diungkapkan editornya, novel ini bercerita tentang hal hal yang biasa terjadi di sekolah; sahabat, pacar, musuh, pelajaran dan obsesi pelajar.

aL Dhimas tampak tidak melebih lebihkan cerita yang ada, pun tidak mengurang ngurangkan. Sebagian besar anak sekolahan pasti pernah mengalami hal hal yang ia ceritakan di sini. Sehingga novel ini tepat untuk dijadikan penyegar ingatan tentang masa sekolah, terutama SMA. Pembaca mungkin bisa tersenyum senyum sendiri mengingat bagaimana rasanya di bully, punya haters, bertengkar sama sahabat, punya pacar yang selalu mendukung dan bla bla bla.

Cerita juga mengalir sangat lancar, mungkin karena ini cerita anak sekolahan, tak begitu ada bagian konflik yang wow! Puncak permasalahan pun tetap terasa datar, apalagi orang yang baca adalah anak kuliahan yang sudah diracuni masalah yang lebih berat - macam saya. Namun, gaya bahasa aL Dhimas yang renyah perlu diacungi jempol. Nggak ada kalimat yang terlalu puitis, tapi juga nggak terlalu meye meye. Sehingga, pembaca bisa dengan gamblang mengartikan tulisannya. Typo juga bersih. Takaran adegan juga saya rasa pas.

Kenapa saya berikan bintang empat? Karena konten dan cara penyampainnya sinkron. Sesuai juga sama temanya, school. Istilahnya, itu ringkasan cerita di belakang buku nggak php lah.

Minus satu bintang, karena saya nggak suka desain bukunya. Selipan selipan notes dan games di buku bikin novel ini agak mirip sama buku cerita anak anak. .-.

Psst, saya memutuskan beli buku ini setelah baca schoolnya Winna Efendi loh, :)
.
Profile Image for Moemoe Rizal.
Author 11 books100 followers
July 2, 2014
Sekalian ingin menegaskan, bintang dua nggak berarti buku ini jelek. Takutnya dianggap, "Aaahhh... jelek banget, dapet bintang dua!" Nope. Ada alasan sebuah buku diterbitkan satu penerbit. Alasan tersebut sudah pasti adalah keunggulan sang buku.

Yang bikin saya kasih bintang dua adalah karena saya kurang puas aja dengan ceritanya. Kritikan semua reviewers lain rasanya cukup untuk mewakili apa yang saya kurang puasi. Karena rata-rata saya sependapat ama yang lain.

So the book is just simply not my cup of tea, not that this one is bad or something.

*masih jet lag sama karakter, dan nama-nama mereka*
*beneran, saya juga bisa dibilang lupa si ini tuh yang mana, namanya siapa, semalam berbuat apa--semuanya blend*
*Bahkan yang sering ngomong engko-engko pun saya lupa orangnya yang mana*
*Anggap aja saya yang mulai pikun, jangan nyalahin penulisnya*
*Tapi kalau boleh berharap... mungkin next time anggota clique-nya nggak sebanyak ini, atau kalau harus banyak karakter dibikin berbeda sesignifikan mungkin, bukan dari cara bicara saja, tapi dari gestur juga*

Hal yang ingin saya puji ada dua:
1. Al Dhimas mampu menyelesaikan naskah ini tepat waktu
2. Novelnya bener-bener remaja

Itu adalah dua hal yang belum sanggup saya lakukan dalam setahun terakhir.
-_-
Dan saya iri, lho, Al...
Saya juga pengin SCHOOL saya bisa selesai dan terasa remaja kayak begini...

T.T
Profile Image for alia.
48 reviews
January 4, 2015
Secara keseluruhan sih buku yg saya lahap dalam beberapa jam ini udah bagus, soalnya remaja banget.
Tapi yang membuat saya hanya memberi bintang tiga pada buku ini ada beberapa hal yaitu
* kurang kenal sama tokoh2nya, kyknya gaada ciri khas yang natural dari tokoh2nya, perwatakannya kurang alami gitu dan mungkin cenderung dipaksakan.
* hmmm kurang cocok sama gaya "engko2"-an nya. bukannya apa2, sekolah Minerva itu adanya di tengah kota gitu kan, rasanya lain aja pakai engko2an tapi itu sih menurut saya, ya penulis mungkin pengen nunjukin ke-khasan orang Batam. Walau menurut saya yang tinggal di Pekanbaru dan deket sama Batam, biasanya kalo udh tinggal di kota besar sejak kecil, dan terbiasa di kota, logatnya ga kental2 amat hehe.. tapi ini bukan hanya Alvie yang logatnya kental, Tantri pun saya lihat agak kuat logatnya, kadang pakai engko kadang nggak.
* ga puas baca novelnya! serasa gantung dan pengennya bisa sampai 300an halaman gitu>.<

But overall, novel ini udah bagus banget dan 3 bintang bukan berarti novelnya jelek. Novel ini udah berhasil bikin saya hanyut dalam ceritanya karena memang mirip2 kejadian2 di sekolah gitu sih:D. Next time be better alDhimas!(y)
Profile Image for Dian Putu.
232 reviews9 followers
February 24, 2016
Chemistry, adalah salah satu Seri S.C.H.O.O.L. Lebih banyak membicarakan persahabatan, kemudian dicampur ciri khas cinta masa remaja dan impian.
Karakter tokoh-tokohnya terasa cukup kuat. Icha yang lebih tenang, meskipun kadang ada sisi childish juga. Mel yang cukup keras dan tomboy, Sarah lebih pendiam dan kalem, sedangkan Alvie diciptakan sebagai cewek centil.
Ada satu cowok yang menarik perhatianku meskipun dia hanya punya sedikit bagian di dalam cerita, Phil – anggota tim renang Minerva, tetangga Icha. Dia ini selalu bersikap manis yang tidak berlebihan saat berinteraksi dengan Icha. Ini malah bikin aku kesengsem.
Kalau ceritanya, mungkin karena ini bukan bacaan yang cocok untuk cewek seusiaku, jadi agak terasa bukan duniaku saja. Kalau yang baca anak SMP atau SMA mungkin akan lebih cocok. Makanya, aku merasa konfliknya sangat kurang sekali.

Baca selengjapnya >> http://dianputu26.blogspot.co.id/2016...
Profile Image for Rettania.
Author 5 books14 followers
July 24, 2015
Bintang dua bukan berarti buruk, ya. It was OK... cuma masalah selera saja, ini bukan my cup of tea. Walaupun saya penggemar cerita remaja, mungkin gaya penulisan dan jenis kisahnya saja yang kurang cocok buat saya :")

Salut sama penulis yang berani mengambil setting Batam dan menambahkan sedikit kearifan lokal. Juga karena berhasil menyuarakan Icha yang "remaja banget" itu, cuma "gawd"nya dai itu agak ganggu di saya. Menurut saya karena dalam narasi, lebih baik pake oh my god dengan ejaan biasa saja, but that's just me.

Konfliknya di belakang agak aneh. Kalau yang marahan Mel sama Roro, saya gak ngerti kenapa satu geng kudu bubar. Icha, Sarah sama Alvie kan harusnya masih nggak apa-apa... lalu konflik Icha dengan Tantri juga penyelesaiannya terlalu mudah.

Overall, buku ini ya... was okay for me but that's it. :")
Profile Image for Dina.
48 reviews
April 17, 2014
Hmm jadi mulai baca buku ini itu diawali sama kekecewaan gitu setelah liat review2 yg ada. Tapi pas pertama baca aja, mulai seneng liat cover depan sm halaman yg kaya buku tulis itu *kyaaa hahaha
Nah, mulai deh pas baca, sejujurnya sih aku ga terlalu terganggu kok, aku seneng-seneng aja malah bacanya hahaha daaaan phil itu memang sesuatu bgt, porsinya emang pas aja gitu, sweet hahaha
Kesimpulannya, mungkin aja aku suka buku ini karena aku masih muda (eaaa mulai) atau karena Seven Complicated Hours Of Our Life (SCHOOL) lucu bangetsss! Haha

In the end, i 'm sure want to read the next SCHOOL series ;)
Profile Image for Ruly Marifanti.
61 reviews20 followers
September 17, 2014
2,5 bintang.

Pertama kali baca karyanya Kak aL-Dhimas!
Suka sama gaya nulisnya, enak, ngalir. Tapi Chemistry ini ceritanya biasa aja, gampang ketebaknya, kayak sinetron-sinetron gitu ya hihi.

Tokoh-tokohnya kurang berkesan buatku. Apalagi di bab awal aku udah bingung duluan gara-gara diberondong sama nama-nama tokohnya. Susah buat bedain karakter-karakternya. Terus, masa iya Tantri bisa berubah secepat itu? :/

Layout novelnya lucu banget deh, banyak yang bisa diisi coret-coretan. Ada gamesnya juga loh!
Profile Image for Riyan Raditya.
Author 2 books
April 8, 2014
Hmm apa ya? Sehabis membaca buku ini saya berpikir apa gak terlalu dipaksakan? Dalam project SCHOOL Gagasmedia ini saya menanti penulis-penulis yang memang bisa menyederhanakan hal-hal yang berbau sekolah dengan caranya sendiri. Nah saya tidak merasakan hal itu untuk buku ini. Saya gak dapat hal-hal yang saya inginkan dalam antusias saya menanti novel-novel dari project SCHOOL ini. Saya hanya kurang menyukai buku ini. Kurang puas intinya.

Saya menanti novel dari project SCHOOL yang selanjutnya~
Profile Image for Aesna.
Author 3 books13 followers
May 12, 2014
Buat serial pembuka SCHOOL, pendapatku cukup baik.

Hanya saja, kurang apik dalam penggarapannya. Sayang, di beberapa bagian terlalu dramatis, bukan kesan empati yang di dapet, malah 'apaan sih nih'.

Pendeskripsian tentang Kimianya juga membosankan, meskipun aku juga sangat suka Kimia, tapi entah mengapa, di novel ini aku tidak tertarik membacanya, rasanya kurang aja gitu.

Well, aku masih berekspektasi tinggi sama serial berikutnya. :)
Profile Image for Desy Miladiana.
Author 10 books14 followers
June 13, 2014
This book makes me miss a moment when I was in SMA. Really miss everything :') lebih kangen lagi pas pelajaran Kimia yang isinya bukan lagi soal kekompakan kelas melainkan ajang indivudi. Kangen banget pas pelajaran Koloid juga, pelajaran kesukaanku. haha. Kaget banget sumpah kalau si Phill sama Icha udah pacaran 4 tahun -_-' sejak SMP dong, loh? mereka pindah sejak SMP juga? wkwk, kayaknya aku awal2 nggak baca bener deh haha
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books200 followers
March 25, 2014
S.C.H.O.O.L ini mengingatkan aku sama Glam Girls, apalagi pas ungkit2 soal VIS. Tapi justru itu aku suka. Besides, ide ceritanya bagus banget, cewek-cewek yang sophisticated tapi juga smart (in their own way, tentu saja). Oh, juga konsep bukunya, dan school game di belakangnya. I fee; young! (sekarang juga masih young, sih. Cuma udah nggak SMA lagi aja, kok :p). Liked it a lot ^^
Profile Image for Dayuledys.
21 reviews
April 20, 2014
Suka. Ceritanya bagus, dan bikin pengen cepet2 nyelesaiin. SMA bangetlah pokoknya :)
Terus materi materi kimianya itu, pas lagi aku pelajarin disekolah juga. Tapiiiii , pelajaran kimia yg buat anak olimpiade itu kyknya kegampangan ._.v
jadi kayak aku juga bisa ikut olimpiade kalo aku salah satu tokoh dalam cerita.
Profile Image for Vania Natasha.
25 reviews
August 25, 2014
2 bintang bukan berarti novel ini jelek. Mungkin seperti yang sudah terdapat pada comment comment yg ada bahwa semua ini terlalu biasa dan kebanyakan anak sekolah mengalaminya. Tetapi buku ini bener bener sekolah banget :))
Tokohnya terlalu banyak gitu sampe ga hafal tokoh tokohnya siapa aja. Bingung banget *otak lemot*
1 review
April 18, 2014
ceritanya 'kita' banget sbg seorang murid sma. Adanya bestfriend in clique, frenemy, adonis, cinta, dan tentunya kimia, membuat cerita ini makin menarik, wajib baca!^^ satu kalimat yg paling gue suka, "sahabat itu untuk saling mengerti, satu sama lain" love phil♥
Profile Image for Diego Christian.
Author 5 books127 followers
August 25, 2016
Tetap suka gaya khasnya Al-Dhimas, meskipun saya merasa kangen tulisannya yang mean dan cerdas di Magnificent. Di buku ini tetap ada sih gaya khas mean dari Marsha/Icha, tapi belum sedahsyat Magnificent. After all, this book is also good. :)
Profile Image for Rendi Febrian.
Author 5 books82 followers
April 16, 2014
Gue kasih empat bintang karena buku ini nggak menceritakan kisah hidup cewek menye--karena si Icha di POV pertama ini nggak gatal kayak Cessa di I For You. Jadi, yes! 4 bintang worth it kok!!!
Profile Image for Raya.
222 reviews19 followers
April 13, 2014
Lebih suka pas baca Glam Girls : Magnificent sih.
40 reviews2 followers
August 26, 2014
Seperti yang penulis bilang. ini adalah kisah yang biasa terjadi di masa sekolah. dan buat saya ceritanya benar-benar biasa
Displaying 1 - 30 of 33 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.