Fenomena Ivanka Trump yang membayangi kemenangan capres 'underdog' di Amerika Serikat memang belum terjadi ketika buku ini ditulis. Namun, bagi generasi yang tidak merasakan langsung realita Orde Baru, mungkin itulah situasi teranyar yang mendekati gambaran kekuasaan Ibu Tien Soeharto di rezim Presiden Soeharto. Tanpa bermodal posisi formal dalam pemerintahan, ia berhasil mengusahakan pembangunan Taman Mini Indonesia Indah di tengah situasi ekonomi yang mencekik. Semata, karena keteguhan hati seorang Ibu negara.
Kesenjangan antara kuasa formal dan nonformal inilah yang dibahas dalam 'Kuasa Wanita Jawa'. Mengacu pada sejumlah tokoh-tokoh dalam karya sastra seperti Nyai Ontosoroh dan Ken Dedes, berikut berbagai cuplikan curhat istri-istri Jawa, buku ini secara apik menggambarkan kepiawaian wanita Jawa menarik benang di balik kehidupan politik suaminya. Melalui paparan konteks yang gemuk dengan narasi budaya dan sistem kepercayaan masyarakat Jawa, gerak-gerik yang kerap dinilai 'pasif-agresif' itu memperoleh pemaknaan baru menjadi perilaku spiritual.
Di sisi lain, kelokalan buku ini menjadi respon budaya tandingan bagi kaum feminis yang percaya pada revolusi struktural sebagai jawaban untuk memperbaiki harkat hidup wanita. Layaknya Nyai Ontosoroh yang memilih untuk belajar dari Tuan Mellema ketimbang marah-marah pada masyarakat yang melekatkan status 'Nyai' padanya, juga Ken Dedes yang menyelami kuasanya sebagai permaisuri alih-alih terus mengutuki Tunggul Ametung yang tengah menculiknya, kita belajar bagaimana seseorang dapat beroleh kemenangan tanpa perlu mengalahkan.
I havent read it yet.I found out about book through this tweet by user @joyyydoll
"I have read something similar to this: the book called Kuasa Wanita Jawa, which basically talking about how Javanese women control and influence men with their "inferior" looks/behavior." quoting @MadelaineLucyH
"I asked my mother how she put up with insane levels of misogyny in the 70s/80s and she rolled her eyes and told me men are much easier to control and manipulate when they are convinced that you’re not as smart or able as them"
Stereotype tentang perempuan Jawa menjadi topik utama dalam buku ini. Termasuk bagian peran seorang wanita (Jawa khususnya) dalam kesuksesan karir suaminya.
Wanita Jawa, yang hampir selalu digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut, konco wingking serta berbagai stereotype lainnya. Seperti apa yang saya bayangkan, buku ini mencoba membalik makna dari apa yang selama ini orang gambarkan mengenai sesosok wanita jawa. Kekuatan dan kuasa yang dimiliki orang jawa, ternyata tidak hanya di sektor domestik saja, namun juga sektor publik meskipun tidak mendapatkan banyak sorotan.