Saat bertemu dengan anak-anak, apa yang Anda pikirkan?
Mereka berisik sekali! Suka berteriak di restoran.
Mereka tak kenal lelah, suka berlarian ke sana-kemari.
Mereka antusias, mempertanyakan semua hal!
Anak-anak terkenal dengan kepolosan dan kejujurannya, memperlakukan kita apa adanya. Namun, sebagai orang dewasa kita seringkali mengabaikan dan menyepelekan mereka.
Kim Sooyoung, seorang guru pembimbing kelas membaca, mencermati kehidupan anak-anak di dalam dan di luar kelas. Menurutnya, mengamati anak-anak adalah salah satu cara untuk melihat kembali diri kita; bagaimana kita seharusnya menyayangi diri kita sendiri untuk menemukan jalan kepada pemulihan.
buku dari perspective seorang guru ruang baca. cerita di buku ini pada dasarnya membuat pembaca belajar dari kehidupan anak-anak. pembaca yang pernah menjadi anak-anak, merasa lebih relate dengan setiap cerita dan kejadian. buku ini menyembuhkan perspective salah yang kita punya saat masih kecil. The World Called Children memang cocok dibaca untuk semua orang, karna menurutku setiap orang akan belajar banyak darinya.
Bagaimana pengalaman pertamamu memakai sepatu bertali saat masih kecil? Apakah selalu lepas talinya? Atau bahkan kau tak tau cara mengikatnya? Aku mau kasi tau kalian buku dengan cover hijau ini dengan judul The World Called Children merupakan essay yang ditulis oleh Kim So Young menceritakan dirinya sebagai guru kelas membaca anak-anak yang mengamati muridnya dengan membandingkan kehidupannya saat masih kecil. Dalam buku ini Kim Soyoung sebagai orang dewasa seharusnya lebih banyak mempunyai ilmu tapi sering kali malah banyak belajar dari anak2. Walaupun kita pernah kecil, tapi belum tentu saat dewasa kita memahami perasaan dan pemikiran anak-anak. Masa kecil sangat mempengaruhi kehidupan, tetapi kau tidak bisa mengubah, memperbaiki, atau melupakannya sesuka hati. Beberapa bagian masa kanak kanak justru baru tersampaikan maknanya saat kita menjadi dewasa. Buku ini sangat membuka wawasan kita dalam mengulas makna dari setiap perilaku anak-anak. Bahwa anak kecil juga ingin dihargai dan dihormati keberadaannya, hal ini berpengaruh sampai ia tumbuh dewasa, sering kali kita menyepelekan gagasan yang keluar dan ide brilian dari anak2 hanya karna tubuhnya yang kecil. Buku ini sangat membantu kita untuk lebih memperhatikan dan membandingkan diri kita saat masi kecil, bagaimana kita ingin diperlakukan, maka kita bisa memperlakukan anak kecil lebih baik sehingga ia merasa dihargai. Buku ini juga dilengkapi penjelasan apabila ada kata kata asing sehingga mudah untuk dipahami.Yuk baca buku ini juga supaya lebih mengerti batin kecil kita di masa lalu dan memahami anak kecil yang ada disekitar kita dari cara-cara yang sebagaimana kita juga ingin diperlakukan.
"Anak-anak bukannya baru bisa melakukannya nanti, sekarang pun mereka bisa melakukannya, hanya saja butuh waktu."
Buku ini berisi kumpulan esai yang ditulis berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru pembimbinh kelas membaca untuk anak-anak, yang mempertemukan ia dengan anak-anak dengan berbagai karakter.
Dari buku ini kita akan diajak untuk belajar tentang kehidupan dari anak-anak. Mereka yang polos dan lugu ternyata bisa mengajarkan tentang hal-hal yang seharusnya kita lakukan sebagai orang dewasa.
Membuat kita menyadari bahwa anak-anak sangat tulus memperlakukan orang dewasa, justru terkadang kita sebagai orang dewasa yang kurang tulus dalam memperlakukan anak-anak. Kita mengajarkan pada anak-anak bahwa mereka harus bersikap sopan dan menghormati orang yang lebih tua, tapi kita terkadang lupa untuk memperlakukan anak-anak seperti itu juga.
Banyak sekali kalimat-kalimat menohok yang akan membuat kita tersadar bahwa terkadang kita sebagai orang dewaaa lupa bahwa anak-anak juga perlu dianggap setara sebagai manusia.
Buku yang sangat heartwarming yang cocok dibaca siapa saja. Cerita-cerita didalamnya sangat menyentuh dan sangat dekat dan relate dengan apa yang sering terjadi di sekitar kita. Sangat-sangat recommended 👍👍.
sebuah kumpulan tulisan yang menghangatkan, menghadirkan sosok anak-anak sebagai tokoh utama yang harus dipandang sebagai manusia seutuhnya (bukan diremehkan dan dianggap masih kecil), juga sembari menyapa kembali sosok anak-anak yang pernah ada dalam diri kita, memaknai perjalanan yang pernah kita tempuh sebelum menjadi dewasa.
This time, I'd like to discuss a book titled "The World Called Children" by Kim Soyoung. This book is written by a reading teacher with 20 years of experience as an editor for children's books.
In this book, she shares her struggles as a reading teacher, such as how to choose which books to read in her class. Additionally, she shares her confusion about answering her students' questions. As a teacher, she has the responsibility to address the children's curiosity, but she is concerned that many topics may not be appropriate for children.
She argues many interesting topics related to children with a unique approach. In each argument, she introduces her own childhood stories and how they impacted her as an individual. This makes us, as readers, feel that we get to know her better as a person. She then adds her observations of her students in the reading class.
Additionally, this book criticizes social phenomena and assumptions about children. She discusses public space policies that are discriminatory by forbidding children from entering certain areas. She also challenges the assumption that children these days don't love playing, don't have friends, and prefer playing video games. From her observations of her students, she notices that children love playing and often invite their friends to join. Moreover, she argues that many social campaigns seem to care about children but lack attention to detail.
One important lesson from this book is that we need to understand that children are individuals. They have self-respect and their own thoughts. Just like adults, children can also feel worry and fear. Each child has a personality shaped by both innate traits and their surroundings. This realization highlights the diversity among people.
From reading this book, I feel that I now understand a bit more about why children behave in certain ways. If you want to learn more about the world of children, give this book a try.
The World Called Children adalah kumpulan esai yang menggambarkan pengalaman dan pemikiran penulis tentang dunia anak-anak, yang beliau temui melalui pekerjaannya sebagai editor buku anak-anak dan guru di kelas baca. Penulis menunjukkan rasa hormat dan empati terhadap anak-anak, yang sering dianggap sebagai makhluk kecil, lemah, dan tidak berdaya oleh orang dewasa. Penulis juga mengkritik fenomena “no kids zone” yang mengecualikan anak-anak dari ruang publik dan mengabaikan hak anak sebagai warga negara.
Buku ini mengajak pembaca untuk memperluas pandangan mereka tentang dunia anak-anak, yang bukan hanya masa lalu yang kita lalui, tetapi juga masa kini yang kita bagi, dan masa depan yang kita wariskan. Penulis berharap agar orang dewasa dapat belajar dari kejujuran, kreativitas, dan rasa ingin tahu anak-anak, dan memberi mereka ruang dan dukungan yang layak untuk tumbuh.
Buku ini menarik untuk dibaca karena memberi perspektif baru tentang dunia anak-anak. Cara penulis mengenang dan merangkum pengalamannya bersama anak-anak sangat menyentuh. Penulis mampu menangkap dan menggambarkan dunia batin anak-anak dengan baik. Buku ini mengingatkan orang dewasa untuk tidak meremehkan cara pikir dan perasaan anak-anak. Mereka sebenarnya memiliki cara tersendiri dalam melihat dunia. Buku ini cocok untuk calon orang tua, guru, dan mereka yang sering berinteraski dengan anak-anak agar bisa lebih memahami jiwa dan pikiran anak.
👨👩👧👦The World Called Children merupakan sebuah esai untuk memulihkan dan mencintai diri sendiri melalui dunia anak-anak yang telah terlupa. Penulis novel ini adalah seorang guru pembimbing kelas membaca. Novel ini adalah cerita dari anak-anak yang menjadi murid di kelas tersebut, dengan mencermati kehidupan mereka di dalam dan di luar kelas, maka lahirlah tulisan yang indah ini.
👨👩👧👦Ternyata dunia anak-anak begitu menyenangkan. Tanpa kita sadari, sebagai orang dewasa kita bisa belajar banyak hal dari mereka dan tentu saja kita pernah menjadi anak-anak. Apa yang pernah kita keluhkan di masa kecil, terlihat biasa saja bagi kita saat ini. Padahal ada banyak hal luar biasa yang terjadi pada masa itu, kita pernah menjadi anak-anak yang luar biasa.
👨👩👧👦Aku sangat menikmati bacaan ini, rasanya hangat dan menyenangkan. Aku kembali teringat masa kecil, apa dulu aku benar-benar sepolos itu, seperti apa ya aku memandang dunia waktu itu.
👨👩👧👦Novel ini terdiri dari tiga bab dengan 28 cerita yang mengembalikan kenangan masa kecil dan memberikan banyak pelajarna berharga untuk setiap pembacanya.
👨👩👧👦Buku ini cocok dibaca saat sedang bersantai dan beristirahat, melalui dunia anak-anak di buku ini, semangatmu akan kembali bangkit sama seperti semangat anak-anak yang diceritakan di sini. Mereka semua juga sangat menggemaskan!
Buku ini ditulis melalui sudut pandang dari seorang guru di ruang baca. Menurutku, Kim Soyoung berhasil membantuku kembali mengingat bagaimana pola pikirku saat masih anak-anak.
Setelah dewasa, aku sadar kalau aku memang nggak sesuka itu dengan anak kecil. Menurutku mereka berisik, terlalu banyak bertanya, bahkan aku nggak tahu bagaimana cara untuk berbicara secara akrab dengan anak kecil. Tapi ternyata, pola pikir anak-anak sebenarnya lebih simple dari yang aku pikirkan. Bagaimana mereka melihat dunia ternyata berbeda dengan saat dewasa, yang ternyata sudah dilupakan oleh orang-orang yang sudah dewasa ini. Bahkan banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari bagaimana sudut pandang anak kecil terhadap kehidupannya.
Terima kasih Kim Soyoung jakkanim. Buku ini sangat bagus sekali!
Buku yang terasa hangat saat dibaca. Buku ini mengajari aku banyak hal dalam mengetahui dunia anak-anak dan memahami mereka bahwa ternyata pikiran anak-anak itu cukup luas dan rumit tidak hanya orang dewasa.
👩🏻 Terima kasih sudah menerbitkan buku ini Penerbit Haru. Sebagai orang yang hari-harinya berhubungan langsung dengan anak-anak, buku ini cukup menambah ilmuku.
Berikut adalah beberapa hal yang menarik menurutku: 👶🏻 Seiring berjalannya waktu, hal yang dahulu sulit dilakukan oleh anak-anak, bisa menjadi lebih mudah diselesaikan. Contohnya mengikat tali sepatu atau membedakan antara sepatu kanan dan kiri. Bagi orang dewasa, kegiatan ini mungkin terasa sepele, tapi bagi anak-anak hal ini bisa saja mengesalkan.
👧🏻 Cobalah untuk lebih sabar menunggui anak, siapa tahu mereka bukannya sengaja menunda-nunda apa yang mereka lakukan. Hal ini berkaitan dengan poin pertama.
👦🏻 Anak-anak punya kecenderungan melebih-lebihkan cerita. Mungkin mereka tidak berniat berbohong, mereka hanya berusaha agar kedengaran lebih keren. (Ini cukup sering kutemukan pada anak-anak yang kutemui. 😀)
🧒🏻 Sepertinya ada kebanggaan tersendiri jika anak-anak berhasil membantu orang dewasa, seperti membukakan tutup botol selai misalnya. (Pernah terjadi padaku dan ketika kuperhatikan wajah si anak, terlihat ekspresi senang dan puas di sana. 🤭)
👧🏻 Di mata anak-anak, guru itu serba tahu. Jika tidak mengetahui sesuatu, maka guru akan mencari tahu untuk menjawab pertanyaan mereka. 😅
👶🏻 Pada umumnya orang tua menyuruh kakak untuk bersabar dan mengalah, lalu adik harus lebih mendengarkan kakaknya. Jarang terjadi hal yang sebaliknya. 😌
👩🏻🏫 Ada saja orang-orang yang terlalu banyak menuntut ini-itu dari guru. Mereka lupa bahwa guru pun hanyalah manusia biasa saja. 🥺
👩🏻 Membaca The World Called Children membuatku merefleksikan diriku sendiri. Bagaimana saya memperlakukan anak-anak yang berada di sekitarku. Menurutku, buku ini bisa menjadi pegangan, terutama bagi orang-orang yang ingin belajar untuk bisa lebih memahami dan memperlakukan anak.