Jump to ratings and reviews
Rate this book

Unmong, a Youngman Become a Housemaker

Rate this book
Jika tidak mengejar senior yang mencuri uangnya, Unmong tidak akan mengalami kecelakaan. Ternyata, di dalam mobil yang menabrak Unmong ada kakaknya yang paling menyebalkan, Jaeyoung. Sementara yang menyetir adalah teman kakaknya, Kangseo. Untung saja kecelakaan itu tidak mengakibatkan luka serius. Keduanya lalu membawa Unmong ke rumah mereka. Rumah berpagar hijau itulah yang memberikan perubahan besar pada hidup Unmong.

Kangseo dan Jaeyoung memang wanita karier yang hebat, tetapi kondisi rumah mereka menyedihkan. Karena itu, selama tinggal di sana, Unmong bertugas untuk membereskan rumah dan menyiapkan makanan saat Kangseo dan Jaeyoung pulang kerja. Terdengar sederhana, tetapi kenyataannya tidak semudah yang disangka.

Gu Unmong yang tidak memenuhi keinginan ibunya untuk menjadi pengacara dan gagal menjadi pemain teater, profesi impiannya, menyadari bahwa dia punya keahlian lain: mengerjakan pekerjaan rumah tangga!

Kisah tentang keluarga, pekerjaan, mimpi, dan kehidupan diceritakan dengan menarik dalam Unmong, a Youngman Became a Homemaker. Sang penulis, Kang Seonwoo, menyebut novel ini “kisah pertumbuhan seorang pemuda yang menemukan bakatnya di bidang pekerjaan rumah tangga secara tidak disengaja, sebagai penghormatan kepada semua ibu rumah tangga hebat di dunia”.

312 pages, Paperback

First published February 15, 2023

4 people are currently reading
127 people want to read

About the author

Seonwoo Kang

2 books1 follower
See also: 강선우

Seonwoo Kang is a romance novelist from South Korea.

After graduating from the Department of Education at Hanyang University, she began writing scripts for preschool animation and later expanded into the drama genre.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (21%)
4 stars
37 (50%)
3 stars
20 (27%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for RaLav.
91 reviews21 followers
March 16, 2024
4.8/5🌟 Bener-bener definisi slice of life sih!! Kayak pas baca ini tuh kalian bakal ngeliat hidup Unmong dari bangun sampe tidur sampe bangun lagi wkkkwkw.

Menceritakan Unmong, cowo yang ditimpa ekspektasi seluas samudera sama emaknya. Sangat tipikal asian household. Ditambah, si Unmong ini anak cowo satu²nya diantara 5 bersaudara, udah gitu bungsu pula. Tapi sayangnya, ketika emak berkata, "kamu harus jadi pengacara!" Si Unmong malah pengen jadi anak teater. Lah iki piye.

Akibat terpaksa, akhirnya si Unmong ini tetep ngambil jurusan hukum terus berhasil dong ternyata beliau ini masuk Seoul Nasional University. Universitas top di Korea. Tapi walau udah masuk universitas sekelas SNU, si Unmong nih emang nyadar passionnya ada di teater cuman masalahnya dia gaada bakat di teater😭

Singkat cerita, si Unmong akhirnya keluar dari hidup perkuliahannya dan fokus teater. Pas siap mau pentas dan duit acaranya udah ada nih, uangnya malah kena colong bendahara acara. Emang apes banget dah hidup lu, Unmong. Pas ngejer yang maling, eh malah kena tabrak mobil yg isinya itu kakak Unmong yang kemusuhan sm Unmong plus temen kakaknya.

Alhamdulillahnya si Unmong ditolongin dan dibawa ke rumah kakaknya dan temen kakaknya ini (kebetulan mereka tinggal bareng). Dari sinilah hidup Unmong yang numpang rumah, menemukan bakatnya yakni BERSIH BERSIH RUMAHH WKWKWK. Jauh² ke SNU, ikut teater ternyata si Unmong gara-gara gaenak cuman numpang rumah kerjanya beres-beres karena 2 cewe yang tinggal di rumah itu gabisa bersih²🫠

Jujur aku ga expect bakal suka banget sama buku ini?? Kayak yaudah pas awal baca itu cuman miki "oh buku heartwarming gitu ya?" Ternyataa BOOMM⁉️ isinya sangat relatable dan memuat fakta, fergusoo. And not forget to mention how I LOooVEee Unmong character!! He's indeed a green flag🥹

Tokoh Unmong tuh sangat amat bapakable dan abangable. Walau dididik di rumah tangga yang patriarki, Unmong tumbuh jadi orang yang suka ngebantu pekerjaan rumah dan malah bukan suka lagi, emang otomatis aja gitu tangannya pasti beres². Ga cuman beres² tapi juga pinter masakk dan ngasuh anak?? Yuk kapan mau jadi nyata ya kamu🥰

Semua tokoh dan karakter yang ada disini juga berperan besaar!! Misalnya, Jaeyoung, kakaknya Unmong. Dia development characternya baguus bgt sih!! Dari awalnya sgt sangar jadi honey bunny sweetie pie👭 kemudian ada Kangseo, temennya Jaeyoung yang sangat sabar. Ada juga, YEONWOO, HUAAA MY FAV CHARACTER DI BUKU INII!! Ini adalah si kecil mungil anaknya si Kangseo yg chemistry gemashh skali sm Unmong😻 Lalu ada Woo Chanhee, temennya Unmong yang maling uang😭 dan beberapa temen Unmong yang lain serta orangtua Unmong dan Kangseo. Mereka smua punya peran masing-masing yang penting.

Dari segi alur, karena ya emang ini genre nya slice of life. Jadi kita ngebaca hidup si Unmong dari bangun sampe tidur lagi. Mungkin buat beberapa orang bakal ngebosenin tapi aku suka🫶🏻

Kemudian, ada beberapa flashback cerita jadi mungkin kamu bakal rada bingung pas baca apalagi ini buku terjemahan, jadi kadang tuh rada aneh gitu (?) Kadang narasinya baku tapi kadang juga gaul bgt😃 tapi aku suka bgtt gimana penulisnya ngedeskrisiin narasinya💗

Dari banyaknya tokoh, semuanya tuh ditampilin benang merahnya sama hidup Unmong dan gimana cara mereka nyelesain masalahnya. Ternyata gak cuman bahas status seorang pekerja rumah tangga yang sering dianggap remeh tapi buku ini juga ngebahas mental health, keluarga dan persahabatan🥹🫶🏻

Gimana susahnya menjadi seorang ibu dan single parent. Gimana susahnya juga jadi seorang anak yang dituntut maupun yang ga diperhatikan. Gimana kita mengelola emosi dan nemu passion serta bakat kita.

Ending buku ini juga diluar ekspektasi aku. Jujur greget bgt sm endingnya. Kepengennya si Unmong jodoh sama Kangseo🥹 tapi ternyata oh ternyata... Udah gituu ternyata buku ini juga ada plot twistnya sksksk. Tapi endingnya emang paling realistis dann aku sukaa💗

At the end, aku dapet beberapa pesan. Diantaranya adalah pertama, jangan berharap sama yang namanya manusia, jangan nuntut seorang anak dan kasih perhatian yang sama buat seluruh anak kita. Karena perbedaan sekecil apapun itu sangat bermakna bagi seorang anak😞💗

Kedua, apa yang kita lihat dan kita dengar itu belum tentu benar. Selalu crosscheck, pastiin lagi kebenarannya. Jangan liat sesuatu dari penampilannya aja. Bisa jadi apa yang kita lihat buruk itu sebenernya baik dan sebaliknya⚠️

Ketiga, validasi emosi kita. It is okay to feel sad, angry and happy. Jangan dipaksa untuk selalu 'baik-baik aja' kita harus bisa jujur sama setidaknya diri kita sendiri gimana perasaan kita🫂🤎

Keempat, bersih-bersih, masak dan pekerjaan rumah tangga itu lifeskill💯 pekerjaan rumah tangga itu bukan kerjaan perempuan tapi cowo harus bisa jugaa!! Karena pada dasarnya itu adalah keterampilan buat kita hidup.

Kelima, cari passion dan bakat kita. Fokus pada satu bidang itu baik tapi jangan eliminasi kemungkinan² lain. Bisa jadii, ada bidang lain yang ternyata kita lebih berbakat disana🔥

Sekian review panjaaaaaaang ini, smoga bisa membuat klian membaca buku satu ini👀🙇🏻‍♀️
Profile Image for Henzi.
227 reviews23 followers
January 19, 2025
Unmong—seorang pekerja rumah tangga—yang menjadi sorotan utama dalam buku ini, adalah seorang anak bungsu pria yang tak dielu-elukan oleh kakak-kakak perempuannya. Seperti keluarga yang masih menganut prinsip lama pada umumnya, selama anak gue belum ada yang lakik akan gol terus.

Sudah tidak menjadi hal yang aneh bila ia tidak disukai saudara sendiri, terutama kakak keempatnya. Tugas dapur sudah selayaknya adalah kewajiban perempuan (kakak-kakaknya), jadi laki-laki tidak perlu turun tangan. Meskipun dilatih demikian, Unmong sebenarnya tak segan-segan untuk ikut berkontribusi meringankan pekerjaan rumah mereka. Ibunya pun selalu memuji Unmong bila ia membantu, lain halnya kalau kakak-kakaknya yang melakukan ia tak akan melirik sedikitpun.

Sebagai yang termuda, Unmong tidak ujug-ujug dibebaskan untuk melakukan hal yang ia sukai. Ibunya menargetkannya untuk bisa expert di bidang hukum untuk menaikkan derajatnya. Sayangnya, Unmong memiliki cita-cita tersendiri, yaitu tampil di pertunjukan teater meskipun ia tak jago-jago amat. Naasnya lagi, ia tak berhasil 😥 yang berujung nganggur & numpang hidup dengan kakak perempuannya yang keempat.

Ah, andai saja kalau fokus ceritanya lebih digiatkan lagi pada Unmong dan keluarganya, akan lebih bagus lagi. Ada banyak sekali pemeran figuran yang ditambahkan di novel mungil ini, yang menurut hematku justru tidak membantu boost cerita si Unmong—malah jadi terkaburkan. Jadi sebagian besar ceritanya aku skimming, karena tak terlalu suka. Dari pertengahan sampai ending drop sih.
Profile Image for Ren Puspita.
1,509 reviews1,025 followers
January 11, 2026
3,5 bintang

Salah satu novel K-Lit dengan cover yg vibesnya rada menipu, meski ga sampai kayak Lemonade Granny sih. Kalau judul yang itu, covernya kan kesannya kayak cozy mystery yang hmm (mungkin) heartwarming, tapi abis baca be like "gue tadi abis baca apaa??"🤣

Buku Unmong sendiri termasuk slice of life, jadi bener - bener tentang kegiatan Unmong dan penghuni rumah gerbang hijau. Unmong yang naas ketabrak mobil akhirnya numpang di rumah Do Kangseo. Yang bikin tambah apes, Kangseo ini temen dekat kakak cewe Unmong, yaitu Gu Jaeyoung. Jaeyoung ini BENCI banget sama Unmong gegara Unmong sebagai anak bungsu ini terlahir sebagai satu - satunya anak lelaki yang sangat diidamkan ibu mereka, Nyonya Yang Geumji, karena Unmong dianggap penyelamat garis keturunan keluarga Gu. Dari sini saja sebenarnya udah mulai terlihat kalau penulisnya mulai menyisipkan kritik sosial dimana patriarki di Korsel masih sangat kental bahkan hingga sekarang.

Apakah bukunya bosenin? Hmm, ga juga. Beberapa bagian emang sangat sleep inducing sampai gue nyaris tidur bacanya wkwk. Tapi meski ada judul Unmong jadi Housemaker, ga lantas isinya cuma Unmong jadi bapak rumah tangga (atau babu buat si Jaeyoung) dan ngurusin rumah Kangseo yang berantakan padahal penghuninya cewek semua (ini agak nyindir gue juga, karena gue sangat berantakan orangnya wk). Banyak hal yang dibahas oleh Seonwoo Kang dan rerata kalau gue perhatikan baik - baik emang menyindir banyak norma yang mungkin dirasa lazim di Korsel. Ada pembahasan harapan orang tua kepada anaknya, dimana Yang Geumji ingin Unmong jadi pengacara padahal passion Unmong aslinya di dunia teater. Ada juga dinamika produksi drama film dan sisi gelapnya yang membuat Jaeyoung sempat terpuruk. Dibahas juga kisah di balik Kangseo dan putrinya, Yeonwoo, yang ternyata saat terungkap itu juga bikin sedih pas baca. Kayak, wow, emang patriarki di Korsel ini udah sangat mengakar dalam. Hal yang juga diperkuat dengan posisi Unmong yang dianggap berharga di keluarga sampai kakak - kakak perempuannya Unmong (terutama Jaeyoung) merasa jadi warga kelas dua.

Baca Unmong ini emang bikin gue teringat Hyunamdong Bookshop karena formatnya hampir sama. Kayak essai dari authornya tapi dibikin fiksi. Bedanya kalau di Hyunamdong itu karakternya kurang berkesan (gue heran kenapa booming juga. Mungkin karena bahas toko buku?), maka di Unmong ini karakter - karakter utamanya semua ditulis dengan bagus. Pembaca diajak untuk memahami keresahan Unmong, Jaeyoung dan Kangseo. Bahkan tokoh figurannya seperti Woo Chanhee yang membuat Unmong sempat bangkrut pun ternyata juga ditulis dengan bagus. Tidak ada antagonis di buku ini, kecuali 1-2 orang yang ga gue sebut karena jatuhnya bakal spoiler dan mungkin Jaeyoung karena sikapnya yang awalnya menyebalkan ke Unmong meski akhirnya kakak beradik semacam "baikan". Semua karakter memang diceritakan ada beberapa sisi jadi memantik simpati pembaca dan juga mengajak pembaca untuk merenungkan alasan dari sikap mereka.

Sayang juga Unmong ini gue lihat ga terlalu banyak yang baca, mungkin promosinya kurang wkwkw. Padahal menurut gue masih lebih bagus daripada Hyunamdong meski menjelang bab - bab terakhir authornya berasa kayak ngelantur. Ending untuk beberapa tokoh pun diserahkan kepada pembaca, jadi apakah happy atau sad ending, semua tergantung bagaimana pembaca menyikapi. Bagi gue sih, ini happy end karena Unmong akhirnya bisa memilih sesuai kata hatinya, Jaeyoung yang udah sedikit berkurang sikap semena - menanya dan Kangseo yang akhirnya mendapat kejelasan terkait masa lalu dari salah satu anggota keluarga yang dia sayangi. Mungkin yang jadi pertanyaan apakah Unmong yang naksir Kangseo ini bakal bersambut cintanya atau cuma jadi cinta sepihak aja, lel.
Profile Image for Utha.
827 reviews402 followers
March 19, 2024
Karakter Unmong kadang bikin geregetan. Tapi lebih nyebelin sikap kakaknya, haha.

2,5 bintang
Profile Image for Jess.
609 reviews140 followers
November 30, 2024
3.75/5

Rasanya seperti pekerjaan rumah telah menyelamatkannya.


Aku suka banget baca buku ini, nggak berhenti ketawa sama karakter-karakternya dan hubungan mereka satu sama lain. Paling suka bantering antara Unmong dan Jaeyong, Unmong dan teman-temannya. Tapi, walaupun banyak ketawa-nya buku ini juga ada unsur darknya yang buat ku sedih. Trigger warning for suicide dan suicide attempt.

Unmong, yang jadi pekerja rumah tangga sangat endearing dan cozy untuk dibaca, dia ngelakuin hal-hal yang menurut standard masyarakat adalah pekerjaan perempuan, aku suka pandangan Unmong tentang pekerjaan rumah tangga bukan hanya tanggung jawab perempuan. Ngeliatin kalo jadi ibu rumah tangga kadang jadi hal yang sering disepelekan padahal begitu penting dan berat untuk dijalani.

Suka family, sibling, friendship, dan self-discovery yang jadi tema di sepanjang cerita buku ini. Di tulis dengan gaya bahasa yang enak dan enjoyable untuk dibaca. Sangat ku rekomendasikan.
Profile Image for Aulia.
9 reviews5 followers
March 24, 2025
Buku yang menceritakan potongan hidup dari Gu Unmong—mahasiswa hukum yang berkecimpung di dunia teater tapi memilih untuk menjadi pekerja rumah tangga

Slice of life yang sangat mudah untuk dibaca, walaupun bagian awal sedikit membosankan dan butuh waktu untuk lanjut baca, tapi setelah chapter 7 ceritanya semakin menarik dan dibuat penasaran

Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga membuat pembaca jadi mengerti setiap struggle dan perasaan setiap tokoh, Buku ini sangat heartwarming.
Penulisan yang disisipkan referensi puisi / sastra Korea (part plesetan dari puisi Korea menurut aku lucu banget), bikin banyak belajar juga tentang itu

Sedikit kaget karena Balikpapan dan Lombok disebut dan menjadi suatu topik (?) penting di buku ini

Baca ini bikin respek sama pekerja rumah tangga di luar sana yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membuat rumah menjadi rapi, bersih, dan hangat

Overall rating aku 4⭐
Definisi slice of life yg easy to read
Profile Image for Readingwithhirai.
224 reviews6 followers
February 12, 2026
“Apa yang ada di pikiranmu ketika melihat seorang laki-laki muda memilih menjadi pekerja rumah tangga? Apakah hal tersebut menjadi sesuatu yang aneh dan perlu diperbincangkan?”
Unmong, a Youngman Became a Homemaker merupakan buku dengan alur santai yang memikat diselingi narasi komedi menggelitik sehingga tidak terlalu serius menyita waktu pembaca. Namun jangan salah, di balik genre slice of life buku ini juga memberikan nuansa fiksi kontemporer yang mampu menghangatkan hati pembaca lewat karakterisasi dan pilihan hidup tokoh di dalamnya. Buku ini bukanlah buku dengan konflik maupun plot twist menggebu-gebu melainkan datar dan sesekali menanjak. Pusat penggambaran ceritanya juga meluas mulai dari keluarga, hubungan antar saudara, pilihan pekerjaan sampai dengan penemuan jati diri yang terombang-ambing. Meskipun banyak sekali pembahasan yang dimasukkan namun ceritanya tetap menarik diikuti dan tidak melenceng dari topik utama yang dibahas yakni tentang pecah stereotipe gender. Bagaimana ketika seorang laki-laki mengambil alih pekerjaan rumah tangga dalam lingkup paham patriarki yang kental? Unmong adalah pemuda yang menjalani kehidupannya sebagai pekerja rumah tangga itu.
Aku suka bagaimana buku ini mengalir seperti realita pekat di sekitar kita tentang beban yang ditanggung anak laki-laki, beban kehidupan menjadi anak perempuan sampai bagaimana orang tua membedakan perlakuan pada anak perempuan dan laki-lakinya. Meskipun latarnya diambil dari Korea Selatan, menurutku banyak hal yang cocok dengan isu masyarakat yang terjadi di Indonesia. Tak perlu jauh-jauh bahkan akupun sendiri mengalaminya, baik tentang tekanan orang tua, perbedaan perlakuan ibu ke anak perempuan sampai dengan perasaan sepi dan mempertanyakan arah hidup yang tak tahu mau ke mana tujuannya. Dari tokoh Unmong kita seolah bisa melihat representasi dari banyaknya anak muda yang kebingungan bahkan ketika menemukan apa yang disukainya ternyata anggapan sekitarnya tidak bagus. Mereka hanya dituntut tanpa ada pemahaman yang bisa menenangkan setiap langkahnya.
Mengikuti perjalanan Unmong akhirnya aku memahami banyak hal mulai dari pentingnya adaptasi dari setiap hal yang terjadadi, kemauan belajar dan tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Menjadi anak bukanlah perkara mudah karena harus menyesuaikan dunia tempatnya lahir termasuk tuntutan-tuntutan sekitar, menjadi orang tua juga tak kalah mudah karena harus memilah prioritas di samping keinginan berkarir yang lebih besar tanpa meninggalkan tumbuh kembang buah hati. Ketika semua hal pergi jangan terlalu lama menangisi, segeralah bangkit dan ambil peluang bahkan untuk hal-hal yang terkesan remeh sekalipun jika ditekuni tentu akan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan.

Sekilas Mengenai Isi Novel
Buku ini menceritakan kisah tentang Unmong, seorang pemuda gagal dalam mencapai tujuan maupun impian hidupnya. Sampai akhirnya perjalanan panjang membawanya ke dalam keputusan menjadi seorang pekerja rumah tangga. Ada banyak beban yang dibawanya mulai dari ketakutan terhadap anggapan ibunya, orang sekitar dan juga mimpi-mimpi yang belum sempat diraihnya kembali. Dalam perjalanan menenangkan diri, Unmong mulai terbiasa dengan kesibukannya. Dia banyak belajar dan refleksi diri mengenai pekerjaan domestik yang kerap diremehkan dan hanya bisa dikerjakan perempuan itu. Pekerjaan yang terlihat remeh itu ternyata melelahkan dan membutuhkan pemikiran matang untuk bisa menyelesaikannya. Buku ini menggunakan alur yang ringan, mudah dipahami dan terjemahan nyaman dibaca. Ada tambahan footnote yang membantu pembaca memahami setiap istilah asing atau penyebutan judul karya di dalam ceritanya.

Ekspektasi dan Harapan Keluarga Terhadap Anak Laki-Laki
Kamu pasti sudah sering mendengar bahwa banyak keluarga memperjuangkan adanya anak laki-laki di dalam keluarga mereka? Bahkan sebelum mendapatkan anak laki-laki sang istri tak boleh berhenti hamil dan melahirkan. Bagi sebagian besar orang memiliki anak laki-laki seolah mendapatkan harapan baru dalam keluarga karena laki-laki dianggap sanggup melakukan banyak hal dan lebih mungkin mendapatkan pekerjaan bagus ketika dewasa. Selain itu, adanya anak laki-laki juga menjadi penguat generasi penerus dalam garis keluarga.
Diceritakan dalam buku ini bahwa Nyonya Jang Geumuyi (ibu Unmong) meskipun sudah punya banyak anak perempuan sampai melakukan pertapaan dan memanjatkan doa untuk mendapatkan anak laki-laki. Baginya anak laki-laki sangat penting untuk penerus garis keluarga Gu sehingga dia sangat mengusahakannya. Dari situ lahirlah Unmong, anak bungsu laki-laki yang diharapkan bisa menjadi orang sukses ketika dewasa. Halaman 35.
Ekspektasi dan harapan ini bisa saja meleset, bagaimana jika anak laki-laki yang diharapkan itu akhirnya tidak menjadi apa-apa? Tidak sanggup menyelesaikan tujuan dan tidak bisa mencapai mimpinya? Buku Unmong, a Youngman Became a Homemaker mencoba memberikan sudut pandang dari sosok laki-laki tersebut.

Toxic Maskulinity dan Beban Sosial di Punggung Laki-Laki
Pada kenyataannya Unmong tak bebas memilih tujuan dan impian hidupnya sendiri. Banyak beban yang diletakkan pada punggungnya untuk menuruti ekspektasi ibu dan keluarga besarnya termasuk kakak-kakak perempuannya. Melakukan sesuatu yang tidak kita sukai bukankah menjadi hal yang berat? Bahkan kita dilarang untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan karena dianggap tak mendatangkan keuntungan dalam karir. Unmong dipaksa mengambil kuliah bidang hukum dan tidak mendapatkan izin menjadi pemain teater. Di balik semua itu Unmong tak boleh sekalipun menolak maupun mengeluh dengan semua tuntutan yang diberikan. Bahkan untuk menunjukkan kelemahan maupun rengekan penolakan saja dia tak berkesempatan. Akhirnya Unmong menjalani kehidupan yang melelahkan karena harus sembunyi-sembunyi untuk tetap bisa bermain teater. Sampai masalah besar itu datang menghampirinya. Unmong dicap menjadi anak tak berbakti karena pilihan menyudutkannya pada pekerja rumah tangga. Ibunya tak mendengar kesulitan dan keluh kesah yang selama ini dilaluinya namun langsung memarahinya.
“Mungkin aku bukanlah anak kebanggaan yang bisa mewujudkan impian ibu. Namun aku ingin selalu dan selamanya menjadi anak baik.” Halaman 253.

Ketimpangan Perlakuan Orang Tua Terhadap Anak Laki-Laki dan Perempuan
Buku ini membahas ketimpangan perlakuan berbeda untuk anak perempuan dan laki-laki meskipun sudah lama tak berjumpa. Pada anak perempuannya Nyonya Jang Geumyi menyambut kedatangan mereka dengan pekerjaan rumah termasuk membuat jeon. Berbeda ketika Unmong yang datang, dia tak dimintai melakukan pekerjaan apapun malah disambut dengan camilan pollack asin. Ketika anak perempuan membantu pekerjaan rumah tangga maka dianggap sebagai kewajiban namun jika anak laki-laki yang melakukannya maka akan mendapatkan pujian besar.
“Betapa beruntungnya kau punya adik laki-laki sepertinya. Jika kakak perempuannya melakukan pekerjaan rumah maka disebut kewajiban sementara jika Unmong yang melakukannya dianggap sebagai bantuan dan bonus.” Halaman 247.
Banyak orang tua yang membeda-bedakan antara anak laki-laki dan perempuannya karena pengaruh persepsi patriarki yang menjamur. Bagi mereka anak perempuan memang sewajarnya bekerja untuk rumah tangga sebaliknya laki-laki harus menjadi orang sukses, posisi yang unggul dan membanggakan. Hal ini menjadi realita menyedihkan di sekitar kita dan memantik perseteruan sesama anak dalam keluarga, seperti yang terjadi antara anak-anak perempuan Jang Geumyi dan Unmong. Kebencian sang kakak yang terjadi juga karena perbedaan perlakuan yang hanya memihak pada Unmong saja. Tak bisakah orang tua tidak membeda-bedakan anak-anaknya berdasarkan gender?

Pengaruh Patriarki Terhadap Laki-Laki yang Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga
“Namun, dia mau aku jadi pekerja rumah tangga? Apa aku bisa melakukannya dengan baik? Kenapa mereka bilang begitu, kenapa pekeja rumah tangga?” Halaman 81.
Seolah sudah terpatri dalam diri Unmong sebagai laki-laki bahwa pekerjaan rumah tangga bukanlah passionnya dan juga tidak bisa menjadi pekerjaan yang menguntungkan. Sehingga sebagai lelaki dirinya tak merasa sanggup untuk menuntaskan semuanya. Selain itu dalam dirinya juga masih terbersit keinginan mengejar kembali dunia teater dan impian yang mungkin menyelamatkannya dari jeratan pekerjaan rumah tangga tersebut. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga menjadi beban berat untuk Unmong karena pengaruh patriarki yang menganggap dirinya menyalahi pandangan masyarakat.
Sebagai pendatang yang menumpang hidup di dalam rumah berisikan dua orang perempuan bekerja tentu saja Unmong harus mampu mengambil alih pekerjaan yang tak sempat mereka kerjakan. Dari situ dia mulai terbiasa membuat makanan, membersihkan rumah bahkan mengamati apa-apa yang sekiranya perlu dibereskan selama mereka pergi. Keadaan membuatnya harus bisa beradaptasi sambil mencari peluang untuk pergi. Faktanya memang tak masalah jika seorang laki-laki mengambil alih urusan domestik sementara perempuannya bekerja. Asalkan hal tersebut dirundingkan dan benar-benar disepakati jadi tak akan ada lagi ketimpangan maupun kesalahpahaman antara keduanya. Baik bekerja di luar maupun mengurus kebutuhan domestik sama-sama hal yang melelahkan.

Tentang Pencarian Jati Diri dan Impian Realitas Kehidupan
Ada saat ketika Unmong mulai mempertanyakan tentang dirinya sendiri. Kita semua pernah di fase lelah karena kegagalan dan jalan yang seolah buntu tak bisa mengantarkan kita ke mana-mana hanya diam di tempat itu saja. Sampai kita mempertanyakan apakah tak ada jalan lain? Apakah tak ada kesempatan untuk berkarir lebih baik atau menjadi orang lebih baik dari sekarang?
“Apakah aku bisa bersinar, atau apakah jalanku untuk bersinar sudah benar?” Halaman 150.
Unmong jelas sudah nyaman dengan pekerjaan rumah tangganya sekarang namun semakin dia tenggelam semakin dia diseret masuk dalam berbagai kebimbangan. Apakah benar dengan cara ini dia bisa bersinar atau mau sampai kapan tertahan di sini untuk menyembunyikan kilauan tersebut? Kita semua pernah mempertanyakan apa yang sedang kita kerjakan saat ini dan itu sangatlah wajar apalagi setelah mengambil keputusan besar. Buku ini mencoba membuat tokoh dengan karakter sangat manusiawi dengan masalah hidup mendalam membuat pembaca juga mempertanyakan pilihan Unmong itu sendiri. Pada akhirnya Unmong tertampar realitas kehidupan yang mengharuskannya untuk tinggal.

Pemahaman Mengenai Pekerjaan Rumah Tangga sebagai Basic Life Skill Bukan Tugas Perempuan Saja
Di dalam buku ini memang membahas banyak mengenai pecah stereotipe gender seolah mendobrak pandangan tradisional masyarakat mengenai pekerjaan rumah tangga yang melekat pada diri perempuan. Padahal perlu kita tahu bahwa sebenarnya pekerjaan rumah tangga bukanlah menjadi beban perempuan melainkan basic life skill atau kemampuan mendasar yang hendaknya harus mampu dilakukan oleh semua gender. Lagi-lagi semua karena pengaruh paham patriarki yang menumpahkan beban tersebut pada perempuan dan menganggap aneh jika ada laki-laki yang mengerjakannya.
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi suatu saat maupun perubahan besar apa yang bisa saja diterapkan dalam trend masyarakat. Untuk menyelamatkan diri sendiri memang sangat penting memahami kemampuan mendasar seperti mencuci baju, memasak makanan sederhana sampai dengan membersihkan rumah. Ketiga hal tersebut menjadi kunci penting untuk bekal bertahan hidup dalam situasi yang penuh adaptasi ini. Ketika perekonomian tak memungkinkan untuk menyewa jasa pembantu rumah tangga, bukankah kita memang seharusnya melakukan semua itu sendiri? Ketika beban mencari uang sudah diberikan pada perempuan, bukankah laki-laki juga harus mampu melakukan urusan rumah tangga?

Penerimaan dan Pemahaman Terhadap Kehidupan yang Berjalan
Awalnya Unmong merasa bingung dan kesulitan untuk menerima semua hal yang terjadi pada dirinya. Apalagi ketika harus ditambah mengurus anak angkat Kangseo, pekerjaan Unmong bertambah selain mengerjakan pekerjaan rumah dia juga harus mengikuti pertemuan ibu-ibu dan berdiskusi mengenai perkembangan buah hati mereka. Unmong adalah satu-satunya laki-laki dalam perkumpulan itu. Perjalanan Unmong menjelaskan pekerjaannya sebagai pekerja rumah tangga dan penulis pada ibunya juga tak mudah. Kemarahan dan kekecewaan itu meluap membuat Unmong tak tahu harus bagaimana. Dari proses perenungan dan kemampuannya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga ternyata justru membawanya pada tujuan hidup lebih baik. Unmong sadar, dia tak boleh selamanya berhenti pada pemikiran masa lalu dan hanya berangan-angan saja. Sampai akhirnya sampailah dia di titik penerimaan dan pemahaman terhadap kehidupan yang terus berjalan. Aku suka bagaimana akhirnya tokoh Unmong banyak menyerap setiap kejadian sebagai bekal hidupnya menjadi sosok lebih baik. Dibandingkan terus menyesali pilihannya, Unmong justru menulis banyak esai yang menceritakan kesehariannya sebagai lelaki yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Unmong juga menyematkan panggilan “Youngmn Homemaker” pada resume miliknya sebagai bentuk kebanggaan terhadap pekerjaan tersebut.

Point Menarik dan Unggul dari Buku:
Buku ini bercerita dengan cara santai namun pasti memasukkan setiap inci konflik dan permasalahan yang ingin diungkapkannya mulai dari pilihan hidup Unmong, harapan ibu Unmong sampai dengan perseteruannya bersama kakak-kakak perempuannya.
Ada banyak masalah yang dimasukkan namun perlahan mengerucut menemukan jalan keluar layaknya kehidupan yang mengalir seperti air. Membaca buku ini memberikan efek tenang dan lega sekaligus haru mengikuti perjalanan setiap tokoh-tokoh di dalamnya.
Di samping pembahasan yang serius dan mengangkat isu di masyarakat, gaya penceritaan dari penulis disisipi humor dan pelesetan yang lucu. Alih-alih tegang justru seolah ikut menertawakan apa yang telah terjadi.
Pembahasan yang dibawa cukup berani, mengaburkan anggapan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban perempuan. Apalagi buku ini menggunakan sudut pandang penceritaan langsung dari tokoh laki-laki di dalamnya. Rasanya jadi lebih dekat dan berbeda dibandingkan perempuan yang menceritakan kegiatan sehari-harinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena pengaruh patriarki.

Karakter Penting yang Perlu Dikenali dalam Buku Ini
Unmong: tokoh utama, seorang pemuda yang gagal belajar di bidang hakim dan teater. Dia berakhir menjadi pekerja rumah tangga dan banyak menulis esai. Karakternya lembut, mudah beradaptasi dan mau belajar hal baru (dia takut sama kakaknya yang bernama Jaeyeoung). Dia menyimpan perasaan pada Kangseo, teman Jaeyoung.
Jaeyoung: kakak perempuan Unmong yang sifatnya keras, memberontak, tegas dan terus terang. Jaeyoung banyak bersinggungan dengan sang adik dari kecil sampai dewasa. Sayangnya keinginan Jaeyoung untuk jauh-jauh dari Unmong tak pernah terkabul.
Kangseo: teman Jaeyoung dengan karakter disiplin, terus terang, baik, pintar dan penyayang. Dia mampu melakukan segala hal dengan baik namun terlalu keras dengan dirinya sendiri.
Nyonya Jang Geumyi: ibu dari Jaeyoung dan Unmong yang sangat mengagungkan anak laki-laki. Dia berharap Unmong menjadi pengacara atau pekerjaan bidang hukum yang menjanjikan.
Yeonwoo: anak angkat dari Kangseo, anak kecil yang membutuhkan perhatian khusus karena perundungan dari teman sebaya. Peran Unmong dan Kangseo di sini sangat penting dalam proses penyembuhannya.
Woo Chanhee: teman sekaligus musuh Unmoong yang membawanya dalam masalah besar sehingga gagal debut teater.

Penokohan, Alur Cerita dan Karakterisasi
Jujur aku suka dengan semua penokohan setiap tokoh dan karakter yang menempel pada mereka masing-masing. Awalnya memang kesal dengan sosok Unmong maupun Jaeyoung namun perlahan mengenal mereka lebih dalam ternyata setiap pilihan selalu ada alasannya. Mereka berdua bukanlah saudara yang sepenuhnya membenci namun karena perlakuan berbeda dari orang tua membuat Jeyoung iri terhadap kemudahan hidup sang adik. Hingga peristiwa itu membuat keduanya harus tinggal bersama. Alur ceritanya tidak bertele-tele meskipun slow sesuai dengan pengembangan karakter menuju arah lebih baik. Jaeyoung mengerti kepedulian Unmong, sementara Unmong banyak refleksi diri mengenai apa-apa yang dilaluinya selama ini. Begitupun dengan Kangseo dan juga tokoh-tokoh lain di dalamnya.

Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya?
Menurutku buku Unmong, a Youngman Became a Homemaker ini sepenuhnya mampu mencapai tujuan utamanya yakni menguarkan kisah seorang pemuda yang menjalani kehidupannya sebagai pekerja rumah tangga. Kita mendapatkan asal muasal mengapa Unmong terjebak dalam pekerjaan tersebut sampai bagaimana akhirnya dia mampu bertahan serta berkembang menjadi sosok lebih baik dari setiap masalah yang menghampirinya. Buku ini jelas mengajarkan pembaca untuk berani, bertahan dan berusaha sebaik mungkin menyelesaikan setiap hal yang menimpa.

Konsep dan Eksekusi Cerita
Sejak awal aku sudah suka dengan konsep yang ditawarkan dari buku ini namun tak tahu mau dibawa kemana konsep eksekusinya. Ternyata setelah menyelesaikan sampai tuntas penulis cukup lihai dalam mengembangkan konsep dobrakan anggapan skeptis mengenai lelaki yang mengerjakan pekerjaan domestik ini. Cara memasukkan konsep tersebut ke dalam alur cerita sangat halus mulai dari bagaimana patriarki dan anggapan anak lelaki adalah segalanya sudah disinggung sejak awal di dalam bukunya.

Apa yang Kurang dari Buku dan Harapan Pembaca:
Ada sedikit pergolakan batin ketika menyelesaikan bukunya, aku kira Unmong akan terus menekuni kehidupannya menjadi pekerja rumah tangga saja. ternyata Unmong menjadikannya semacam batu loncatan untuk meniti karir lain yang menjanjikan sekaligus sebagai penambah pengalamannya di dalam resume. Aku kira awalnya Unmong akan menjadi penyedia pekerjaan rumah tangga yang dilakukan laki-laki ternyata arah ceritanya berbeda dari ekspektasiku. Meskipun begitu aku tetap puas dengan akhir yang diberikan. Harapanku semoga tokoh Unmong ini bisa menjadi inspirasi untuk semua orang di luar sana agar tidak terbelenggu dalam kehidupan yang stuck namun mau melangkah lebih demi mendapatkan hal lebih baik dari sebelumnya. Semoga semakin banyak laki-laki yang mau belajar basic life skill agar kehidupannya sendiri bisa diselamatkan paling tidak untuk dirinya sendiri. Belajar basic life skill itu konsepnya beradaptasi dengan apapun yang terjadi sehingga kita mampu mengandalkan diri sendiri. Sehingga baik laki-laki maupun perempuan wajib melakukannya.

Perasaanku Saat Membaca Buku
Ada banyak perasaan berkecamuk mulai dari kesal, senang sampai terharu saat membaca bukunya. Buku ini mampu memadukan beberapa perasaan dari setiap masalah yang terjadi seolah tokoh yang dihadirkan memang merepresentasikan setiap polemik isu di masyarakat. Aku kesal dengan ketidak
Profile Image for Ovy Rama.
117 reviews3 followers
January 19, 2025
Unmong, a Youngman Became a Homemaker || Kang Seonwoo || Penerjemah : Dewi Ayu Ambar Rani || PT. Bentara Aksara Cahaya (BACA) || 320 Hlm ||  Cetakan Pertama, Februari 2024


"Biasanya manusia akan melakukan apa pun yang bisa dilakukan, entah itu masuk akal ataupun tidak. Katanya, keajaiban bisa saja terjadi saat kita benar-benar menginginkan sesuatu." - Hal. 36.


"Kebencian tidak bisa jadi kekuatan. Kebencian cuma membuatku lelah, tetapi rasa syukur memberiku kekuatan." - Hal. 229.


Dua quotes di atas menjadi quotes yang kusuka dari novel Unmong ini. Yang pertama terasa related dengan kehidupan sehari-hari dan yang kedua bisa menjadi bahan introspeksi diri.


Q : Jika kalian punya anak laki-laki apa kalian akan melarang mereka melakukan pekerjaan rumah?


Untukku pribadi nggak, malah sedini mungkin aku harus mengajarkan anak laki-lakiku untuk bisa melakukan pekerjaan rumah ataupun memasak karena memasak dan pekerjaan rumah itu termasuk life skill yang semua anak harus bisa entah itu anak perempuan atau laki-laki.


Di Korea Selatan masih banyak sekali yang menganut budaya patriarki di mana anak laki-laki bila mengerjakan pekerjaan rumah dianggap membantu seperti bonus. Sedangkan, jika anak perempuan yang melakukan pekerjaan rumah itu dianggap sebuah kewajiban yang harus mereka lakukan.


Ngomong-ngomong soal pekerjaan rumah tangga, novel Unmong, a Youngman Became a Homemaker berkisah tentang Unmong yang berakhir tinggal bersama Jaeyoung, Kakak perempuannya dan Kangseo, sahabat kakaknya tersebut di rumah berpagar hijau lantaran ia mengalami kecelakaan sewaktu mengejar senior yang mencuri uangnya.


Kangseo dan Jaeyoung adalah wanita karier hebat, tetapi kondisi rumah mereka menyedihkan. Karena itu, selama tinggal di sana, Unmong bertugas untuk membereskan rumah dan menyiapkan makanan saat Kangseo dan Jaeyoung pulang kerja. Terdengar sederhana, tapi kenyataan tidak semudah yang disangka. 


Unmong yang gagal memenuhi keinginan ibunya untuk menjadi pengacara dan gagal menjadi pemain teater, profesi impiannya, menyadari bahwa dia punya keahlian lain; mengerjakan pekerjaan rumah tangga! Apakah Unmong akan tetap menjalankan perannya membereskan rumah dan memasak? Atau malah menemukan pekerjaan yang lain? Kalo penasaran bisa langsung baca novelnya!


Awal novel ini mau terbit, aku penasaran banget sama kisah dalam novel ini karena jarang sekali ada penulis yang mengangkat tema laki-laki yang memiliki keahlian dalam pekerjaan rumah tangga. Apalagi ini berlatar di Korea Selatan, yang kutau kalo tingkat patriarkinya lumayan tinggi. 


Novel terjemahan Korsel ini membawaku seperti menonton drama keluarga korea yang terkenal memiliki episode yang banyak ketika aku membaca novel ini. Kenapa aku merasa seperti sedang menonton drama keluarga korea? karena novel yang memiliki tebal 320 halaman ini nggak hanya berfokus menceritakan tentang Unmong aja, tapi beberapa tokohnya pun juga ikut andil diceritakan lumayan detail. Meski ikut diceritakan, tapi tidak membuat novel ini kehilangan fokus karena masih saling berkaitan dan jika dihilangkan akan terasa kurang digali ceritanya.


Konflik dalam novel ini tuh complicated menurutku, terbilang berat, tapi karena terjemahannya lumayan enak dan nggak baku jadi terasanya nggak begitu berat, cuma agak kesal karena tingkah beberapa tokohnya. Konfliknya nggak jauh dari seputar konflik keluarga, mimpi atau cita-cita dan pekerjaan. Aku suka bagaimana penulis menempatkan konflik-konflik yang ada, memang nggak sampai bikin darah tinggi, tapi kerasa pas.


Tokoh dalam novel ini nggak begitu banyak, karakternya kuat dan memorable. Aku suka dengan perubahan positif yang dialami oleh beberapa tokohnya. Di novel ini nggak ada tokoh yang menjadi favoritku, tapi nggak ada juga yang kubenci.


Unmong, sebagai karakter utama dari novel ini sempat beberapa kali bikin aku gedeg ketika membahas soal teater, meski aku paham kalo itu impian dia. Bisa dibilang Unmong ini masih dalam proses mencari jati diri menurutku. Yang kusuka dari Unmong adalah ketika dia mau belajar dan mencoba hal baru. Apalagi sikap kepedulian yang dia tunjukkan.


Jaeyoung, kakak perempuan Unmong. Awalnya aku sebel sama sikap yang Jaeyoung tunjukkan pada Unmong, tapi setelah semakin jauh mengikuti kisah mereka akhirnya aku paham kenapa Jaeyoung berlaku seperti itu. Interaksi Jaeyoung dan Unmong ini terbilang interaksi alami seorang kakak dan adik yang ada masa berantem dan berbaikan.


Kangseo, sahabat Jaeyoung. Kemunculan Kangseo sedari awal malah membuatku kagum padanya. Sosoknya yang lebih mengayomi ke Unmong menjadi nilai tersendiri buatku. Apalagi Kangseo ini ternyata juga memiliki luka yang sama beratnya seperti Jaeyoung hanya berbeda kasus aja.


Nyonya Jang Geumyi, Ibu Unmong dan Jaeyoung. Melihat beliau di awal aku seperti melihatku ketika menjadi pejuang garis dua, meski bedanya Nyonya Jang ini berusaha untuk mendapatkan anak laki-laki untuk meneruskan marga keluarga. Namun, perlakuan yang beliau berikan ke anak-anaknya membuatku nggak setuju dan berpikir nggak mau melakukan seperti yang beliau lakukan. Memang kecewa ketika anak tidak bisa mencapai apa yang kita inginkan, tapi sebagai orang tua kita juga harus ingat kalo anak juga pasti memiliki impian dan kita sebagai orang tua seharusnya memberikan dukungan selama itu hal positif bukannya mendikte anak untuk melakukan apa yang tidak membuat anak nyaman. Sikap Jaeyoung yang menyebalkan itu belum seberapa dibandingkan dengan sikap Nyonya Jang yang kurang bisa berpikir modern atau tidak mengikuti zaman.


Selain 4 tokoh tadi, masih ada beberapa tokoh pendamping yang perannya bukan hanya tempelan aja, tapi juga punya kontribusi besar dalam membangun cerita dalam novel ini. 


Bukan hanya cerita tentang kehidupan para tokohnya aja yang dijelaskan detail, pekerjaan tokohnya pun juga nggak kalah detail dijelaskan. Dari awal aku suka nonton drakor selalu takjub sama pekerjaan tokoh-tokohnya yang unik dan terbilang cukup asing di Indonesia dan ketika mengikuti kisah Unmong ini, aku mendapatkan pengetahuan baru tentang beberapa pekerjaan tokoh-tokoh di novel ini yang bikin aku pengen juga menjajal pekerjaan tersebut.


Mengikuti kisah Unmong ini juga sering kali bikin aku lapar dan ingin makan masakan Unmong. Banyak masakan khas korea yang muncul di beberapa scene ketika Unmong masak. Nggak hanya itu aja, novel ini juga menyuguhkan beberapa tradisi yang ada di Korsel, pepatah yang terkenal di sana dan juga beberapa alat makan yang sering mereka gunakan.


Semakin dalam aku mengikuti kisah Unmong, semakin banyak plot twist yang tersingkap. Ada yang berhasil kutebak dan ada pula yang tebakannya salah. Twist yang paling bikin aku kaget adalah penulis yang juga menyisipkan beberapa daerah yang ada di Indonesia serta destinasi wisatanya. Seperti tidak menyangka kalo penulis akan menyuguhkan itu dalam cerita. Penyelesaian tiap-tiap konflik yang ada terbilang realistis menurutku, meski aku masih kurang puas dengan apa yang didapat oleh beberapa tokohnya setelah mereka berlaku yang bikin aku greget.


Novel Unmong, a Youngman Became a Homemaker ini menggambarkan slice of life dari orang-orang Korsel, entah itu dalam urusan rumah dan pekerjaan. Menggambarkan bagaimana seseorang dalam menghadapi kehilangan karena kematian dan juga menggambarkan beberapa kasus kejahatan yang sering terjadi di sana.


Dalam novel ini, aku juga menemukan pembahasan tentang gigi bungsu yang ketika baca scene tentang ini bikin aku ingat dengan temanku yang juga punya pengalaman sama berhubungan dengan gigi bungsu.


Dari novel Unmong aku belajar banyak hal, mulai dari bagaimana memperlakukan anak dengan baik, bagaimana menjadi orang tua yang paham akan impian anak, belajar untuk keluar dari zona nyaman kita atau mencoba hal lain, belajar untuk mengasah bakat yang ada, belajar untuk nggak terlalu percaya dengan orang lain atau lebih tepatnya waspada, belajar memberikan apresiasi atas apa yang dicapai oleh anak, belajar bersosialisasi, belajar untuk menyayangi diri dengan berani memperkenalkan diri menggunakan nama sendiri alih-alih dengan nama anak serta masih banyak lagi pelajaran hidup dari novel ini yang bisa kuterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Meski diceritakan dengan alur yang lambat dan bisa sering menghadirkan rasa bosan, novel ini berhasil selesai kubaca dalam beberapa hari karena disambi juga dengan mengurus pekerjaan dan urusan di real life. Aku suka cover novel ini entah itu yang versi Korea Selatan atau versi Indonesia karena menggambarkan isi novelnya dan layout di awal setiap bab selalu menarik mataku. Font-font yang dipakai untuk mengisi cerita dan percakapan serta ukurannya dalam novel ini membuat mata nggak sakit selama mengikuti kisah Unmong. Selesai baca novel ini, aku merasa lega sekaligus ada rasa hangat yang menjalar dalam hatiku.


Novel ini juga memberikan bonus 7 Life Hack ala Unmong dan Pembaca yang alhamdulillah salah satu hackku juga turut masuk ke dalamnya. Novel Unmong bisa didapatkan di marketplace kesayangan kalian.


Aku rekomendasikan novel ini buat kalian yang suka baca novel terjemahan Korea Selatan, buat yang suka baca novel slice of life, buat yang suka baca novel dengan vibes drama korea, buat laki-laki yang ada bibit patriarki, serta buat calon dan para orang tua.
Profile Image for Rizkana.
252 reviews29 followers
March 30, 2024
"Identitas Unmong inilah yang akhirnya tercapai setelah perjalanan panjang penghancuran diri, pengunduran diri, dan penerimaan."


Ada perasaan hangat setelah menamatkan buku ini. Saya suka!

Pertama-tama, saya juga punya adik laki-laki yang seolah semesta bagi ibu. Jadi, saya bisa mengerti perasaan Jaeyoung :DD Ketika bertengkar, kami mungkin saling melemparkan ledakan serupa big bang, tapi sesungguhnya kami tetap mengkhawatirkan dan memikirkan masa depan satu sama lain, tarik-menarik selayaknya gelombang pasang surut. Kadang, kami sama gilanya, sama salah dan sama benarnya. Jadi, sebaiknya tidak usah dibela, tidak pula perlu dikhawatirkan.

Nah, sekarang, apa yang ada di pikiran saya setelah menamatkan buku ini?

1. Cara berceritanya mengandung unsur komedi. Begitu dikontraskan dengan situasi atau latar yang sedang dihadapi oleh para tokoh, jadinya terkesan satire. Cukup sering membuat tawa berubah jadi ringisan.
"Hal positif membawa harapan. Harapan menjadi perisai yang menghalangi kegelisahan dan kekhawatiran yang datang dari ketidaktahuan. Malam itu, Unmong, yang dipersenjatai dengan perisai harapan, mampu mempertahankan senyumannya yang tampak seperti senyuman Bodhisatwa meskipun Jaeyoung melakukan kekerasan dan mengucapkan sumpah serapah kepadanya."


2. Saya suka narasi berbagai resep yang dimasak Unmong untuk 'keluarga' di rumah berpagar hijau. Tepuk tangan untuk usaha penerjemah menerjemahkan bagian ini yang saya yakin cukup menantang karena banyak mengandung unsur budaya. Selain perihal masakan, ada juga pembahasan berkonteks budaya, seperti budaya peringatan, hari libur nasional, dan istilah yang terbentuk karena gaya hidup masyarakatnya.

3. Saya juga suka adegan Unmong bersih-bersih. Ini bias, tapi bebersih buat saya mirip terapi. Ketika menyingkirkan sampah atau benda-benda yang tidak diperlukan lagi, bahkan ketika melakukan pekerjaan berulang seperti mencuci piring, rasanya menenangkan, terutama ketika pikiran sedang berantakan ke mana-mana. Jadi, saya suka semua bagian Unmong bersih-bersih, termasuk perihal menghapus kerak dari panci.

4. Semua masalah terselesaikan. Ada akhir untuk konflik yang dimunculkan. Konfliknya sendiri terbilang banyak, antara lain:
- Unmong dan masa depan yang diinginkannya--antara teater atau menjadi pekerja rumah tangga, bagaimana menyampaikan keputusannya untuk menyudahi harapan orangtua dan keluarga, dan bagaimana perasaannya. Saya puas dengan akhir kisah romansanya. Pembaca diberi ruang untuk berandai-andai sendiri.
"Unmong berpikir, adakah seseorang yang ingin kulihat lagi dan lagi tanpa mengalihkan pandanganku sampai saat-saat terakhir? Tidak ada. Apakah ada seseorang yang akan meninggalkan segalanya dan tetap tinggal untuk melindungiku sampai akhir? Tidak ada juga."


- Jaeyoung dengan pekerjaannya juga hubungan kekeluargaannya dengan Unmong, bahkan ia diberi potensi perkembangan cerita di bagian akhir. Saya merasakan keterikatan khusus dengan karakter Jaeyoung. Mungkin karena kami sama-sama punya Unmong, mungkin juga karena penggambaran karakternya yang seperti ini :D:
"Seperti penjahat dalam banyak cerita, Jaeyoung menunjukkan kemampuan untuk membuat orang-orang di sekitarnya resah tanpa melakukan apa pun."


- Kangseo dengan rasa penasarannya terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada Yeonseo dan Yeonwoo. Saya mengagumi tanggung jawab besar yang sukarela ia ambil.
"Bukan menular, tetapi dibagi, atau empati. Berbagi dan mengurangi beban satu sama lain akan membuat kesedihan terasa sedikit lebih ringan. Memahami dan dipahami. Mengetahui bahwa kita tidak sendirian."


- Kekacauan yang ditimbulkan Woo Chanhee pun diberi akhir yang manis-pahit. Meskipun Unmong babak belur hidupnya karena tingkah Chanhee, tetapi memang tidak bisa dimungkiri, keputusan dan kemantapan hati Unmong tidak akan terjadi kalau tidak didorong Chanhee. Ini mungkin contoh berkah terselubung.

5. Secara keseluruhan, narasi cerita berjalan mulus dan penokohan realistis sehingga, sebagai pembaca, saya bisa mengikuti cerita ini dengan cepat. Alur memang agak sedikit terasa melebar, tetapi lewat Jaeyoung pengarang sudah membela diri dengan mengatakan,
"Kau tahu, Kangseo. Terkadang kita mendapatkan jawaban atas hidup ini melalui kemungkinan yang konyol dan mustahil. Anggap saja kejadian ini hanya seperti itu."


6. Beberapa adegan membuat saya berefleksi, beberapa bagian lainnya, saya ingin orang lainlah yang ikut berefleksi juga :'D Contohnya:
- Unmong membuat saya mengerti perasaan orang rumah saat lupa mengabari kalau akan pulang terlambat atau perasaan kesepian seorang ibu saat anaknya mulai beranjak sibuk dengan kehidupannya sendiri.
"Memang apa susahnya, sih, mengirim pesan, 'aku tidak pulang' atau 'aku pulang terlambat,' hah? Mereka benar-benar tidak menghargai aku yang sudah susah-susah memasak, masih harus juga menunggu!"


- Gejala awal ketika Saebyuk didiagnosis menderita gangguan obsesif kompulsif juga membuat saya berefleksi.

- Keputusan Unmong untuk memilih Yeonwoo di antara kepentingannya mengingatkan saya akan insiden 'hilang di pasar' sewaktu kecil dulu :')
"Mungkin kau tidak tahu ini karena tidak pernah mengasuh anak, tapi 'sebentar' yang dikatakan orang dewasa terasa sangat lama bagi anak kecil. Mereka akan cemas dan bingung, lalu melupakan perintah untuk diam menunggu sebentar."


- Pengamatan Unmong terhadap praktik pekerjaan rumah tangga yang dipengaruhi pandangan patriarki.
"Jika Unmong yang melakukan pekerjaan rumah tangga, itu dianggap membantu--seperti bonus. Sedangkan, jika kakak-kakaknya yang melakukan pekerjaan rumah itu seperti gaji pokok--kewajiban yang harus mereka lakukan."


- Dedikasi mengirimkan pesan singkat setiap pukul sembilan pagi yang dilakukan Unmong untuk Nyonya Jang Geumyi. Wah! Saya terharu. Saya ingin melakukannya juga, se-random apa pun topiknya.

- Keputusan Jaeyoung untuk mengubah pilihan diksinya. Saya juga ingin melakukannya.
"Kalau dipikir-pikir, kata yang sering digunakan Jaeyoung akhir-akhir ini adalah, "semua ini berkatmu." Jaeyoung mengatakan dia mengubah 'karena' menjadi 'berkat' untuk melatih rasa syukur."


7. Seluruh bagian saat Unmong membuat versinya sendiri dari berbagai karya sastra Korea yang ia ganti ke dalam konteks pekerjaan rumah tangga, seluruhnya saya suka dan menikmatinya! "Barangsiapa yang Tidak Bersih-Bersih Saat Ini, Mereka Bersalah" gubahan dari "Barangsiapa yang Tidak Mencintai Saat Ini, Mereka Bersalah." :D

Terakhir, saya merasa perlu mencantumkan juga beberapa kutipan menarik dari buku ini. Kalau kamu punya kesempatan membaca buku ini, saya pikir jangan dilewatkan.

"Kalau itu membuatmu nyaman, ayo lakukan."


"Setiap orang pernah memiliki masa saat dirinya mengajukan pertanyaan bodoh dengan jawaban salah. Jawaban salah yang muncul dari pertanyaan bodoh. Apa yang salah dalam hidupnya? Seberapa sering seseorang terjerumus pertanyaannya sendiri dan tercebur ke kubangan-mencela-diri-sendiri? Karena itulah, ubah pertanyaannya. Apa yang akan dilakukan sekarang? Ajukan pertanyaan. Kalau ada yang bisa dilakukan, lakukan saja itu."
Profile Image for Tika Andriani.
70 reviews18 followers
June 19, 2025
Unmong adalah seorang pemuda berusia 30 tahun yang nampaknya kesulitan menentukan arah hidupnya. Ia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, dimana 4 kakaknya adalah perempuan. Jadi, ibu Unmong ini sangat mengharapkan anak laki-laki serta menaruh harapan yang tinggi pada Unmong. Sang ibu ingin Unmong berkuliah di Fakultas Hukum dan bekerja di bidang tersebut. Unmong pun berhasil masuk Fakultas Hukum di universitas top di Korea. Namun saat menjalani kuliahnya, Unmong merasa minatnya bukanlah di bidang hukum dan ia tertarik pada bidang teater. Sayangnya, Unmong ternyata tidak terlalu berbakat di bidang teater. Biarpun begitu, Unmong tetap berusaha mengejar karir di bidang teater dan mengesampingkan kuliahnya di bidang hukum, sampai merelakan uangnya untuk kebutuhan grup teaternya. Sayangnya, uang milik Unmong malah dibawa kabur oleh seniornya di grup teater tersebut. Unmong berusaha untuk mengejar seniornya tapi malah tidak sengaja tertabrak oleh Jaeyoung dan Kangseo. Jaeyong sendiri adalah kakak ke 4 Unmong, yang hubungannya tidak terlalu baik dengannya. Jaeyoung sering iri pada Unmong yang sangat disayang oleh ibu mereka. Jaeyoung tinggal bersama sahabatnya, Kangseo di sebuah rumah milik keluarga Kangseo. Kangseo menawari Unmong untuk tinggal bersama mereka di rumah tersebut, karena belakangan sedang marak terjadi tindak kejahatan di daerah rumahnya. Ia berharap dengan adanya laki-laki di rumah mereka akan bisa menghalau penjahat yang berniat masuk ke rumah. Unmong yang tidak memiliki pilihan lain pun menerima tawaran tersebut. Unmong mulai membereskan rumah (karena Jaeyoung dan Kangseo tidak pandai mengurus rumah) dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Lama-lama Unmong menyadari bahwa ia menyukai pekerjaan mengurus rumah tersebut. Kangseo memiliki seorang putri bernama Yeonwoo, yang selama ini tinggal bersama orangtua Kangseo. Yeonwoo akhirnya ikut tinggal bersama Kangseo di rumah tersebut, dan bertambahlah tugas unmong untuk mengurus Yeonwoo karena Kangseo harus bekerja. Lalu bagaimana kehidupan Unmong selanjutnya? Bagaimana juga reaksi ibunya Unmong saat tahu anaknya meninggalkan kuliah demi teater (dan gagal pula)? Apakah Unmong bisa mendapatkan uang yang dibawa kabur oleh seniornya itu?

Buku ini kebanyakan menceritakan kesehariannya Unmong mengurus rumah tangga (sesuai judulnya). Selama ini, pekerjaan rumah tangga kan identik dengan perempuan, jadi ya menarik juga ada cerita seorang pemuda yang menyukai pekerjaan rumah tangga seperti Unmong ini. Selain itu, diceritakan juga tentang pekerjaannya Jaeyoung dan Kangseo. Arah ceritanya sendiri termasuk realistis. Paling suka dengan interaksi Unmong dan Yeonwoo, yang seperti paman dan keponakan, dan juga interaksi Unmong dengan perkumpulan ibu-ibu di sekolahnya Yeonwoo. Jarang-jarang kan pemuda ikutan perkumpulan ibu-ibu. Di cerita ini juga ada bagian yang membahas Balikpapan, salah satu kota di Indonesia, yang ternyata memiliki peran penting dalam mengungkap latar belakang salah satu karakternya. Buku yang cocok dibaca untuk yang suka genre slice of life.
Profile Image for Enia.
311 reviews106 followers
January 24, 2025
"Pekerja rumah tangga, sebuah profesi yang mengurus segala pekerjaan rumah tangga, melibatkan sedikit keterampilan dan pengetahuan profesional. Bisa langsung bekerja tanpa harus melalui semacam gerbang seperti mendapatkan sertifikat atau mengikuti ujian, tetapi sebagian besar tidak menerima upah.Istilah profesi ini juga sering disinonimkan dengan bibi, ibu atau istri, dan dapat diartikan sebagai pekerjaan yang seringkali membutuhkan tanggung jawab dan pengorbanan yang berlebihan."

Wah, novel ini lucu banget! Tidak perlu membaca terlalu lama untuk saya bisa menyukai Unmong. Seorang laki-laki biasa yang memiliki dilema besar di hidupnya yaitu antara memenuhi impian sang Ibu untuk menjadi jaksa atau hakim dan impian dirinya sendiri sebagai pemain teater. Apa mau dikata bukannya bisa meraih salah satu impian tersebut dia malah 'dikerjain' oleh semesta karena justru kecurian uang oleh orang yang dipercayainya sekaligus ditabrak mobil. Double combo banget.

Saya suka banget interaksi antara Unmong dengan kakaknya, Jaeyoung, yang judes dan galak banget. Masing-masing punya alasan tersendiri kenapa tidak saling menyukai. Saya sering banget ketawa saat membaca interasi dua bersaudara ini apalagi saat saya mengetahui histori 'ayo, pulang' mereka berdua.

Novel ini juga banyak mengeksplor tentang pekerjaan rumah tangga, khususnya Ibu Rumah Tangga, yang seringkali terabaikan padahal pekerjaan ini sangat esensial di hidup setiap orang. Rasanya lewat Unmong yang secara natural menyukai pekerjaan rumah tangga, novel ini memberikan kritik sosial secara halus tentang kehidupan para Ibu Rumah Tangga.

"... Ia diliputi harapan agar setiap tulisannya yang memuat karya dan kecintaan para pekerja rumah tangga, akan mengangkat derajat sosial pekerja rumah tangga dan membuka era empati bagi para pekerja rumah tangga."

Selain Unmong saya juga sangat menikmati kisah hidup Jaeyoung, Kangseo dan Yeonwoo. Masing-masing memiliki porsinya sendiri dalam novel ini dan masing-masing berjuang dalam menjalani keseharian mereka. Secara general memang tidak ada tokoh yang jahat disini, memang ada tokoh yang melakukan perbuatan merugikan (mencuri uang Unmong) namun bahkan dia juga memiliki alasannya sendiri untuk melakukan kejahatan tersebut dan menimbulkan empati saya sebagai pembaca saat mengetahui alasannya.

Untuk novel ini saya berikan bintang 3,5 terutama karena tokoh Unmong, laki-laki baik yang walaupun dibesarkan di keluarga patriarki namun memiliki jiwa kesetaraan gender yang cukup kuat.

"Ambisi itu berat. Ambisi dapat membakar niat dan membuat seseorang menjadi terobsesi, dan tak habis-habisnya membebani diri sendiri. Jika ambisi itu diproyeksikan kepada orang lain, untuk sesutu yang tidak dapat dicapainya sendiri bebannya jadi sangat besar, bahkan itu tak terhingga beratnya. "
Profile Image for Day Nella.
279 reviews5 followers
April 18, 2025
"Bahwa hal melahirkan dan membesarkan anak adalah tugas yang paling sulit; bahwa tidak ada orang tua yang dapat mengalahkan anaknya; bahwa orang tua melahirkan tubuh anak-anaknya, tetapi bukan pikiran dan batinnya." Hal 314
-
Unmong a Youngman Became a Homemaker
Kang Seonwoo
@penerbitbaca 2024
Penerjemah Dewi Ayu Ambar Rani
Tebal 320 Halaman
ISBN 978-623-8371-12-9
-
Covernya begitu memikat dan terakhir membaca blurbnya yang bikin penasaran akut. Dan berujung aku suka dengan cerita yang disuguhkan penulis, satu lagi karena ini kali pertama baca karya penulis ini.
-
Setuju kalau pekerjaan rumah tangga itu nggak mudah. Nggak ada aturan pakem atau SOP sebagai pekerja rumah tangga. Ditambah profesi itu identik dengan perempuan, jadi membayangkan lelaki yang melakoni pekerjaan rumah tangga cukup menggelitik dan sebagai validasi kalau pekerjaan itu jauh lebih melelahkan dari pekerja kantoran biasa yang memiliki jam operasional sendiri. Hanya yang beda dikerjakan dengan ikhlas maka semua menyenangkan pada akhirnya.
-
Unmong pemuda lajang 30 tahun yang memiliki mimpi sendiri di luar dari harapan sang Ibunda untuk masa depan serta marwah keluarga karena harapannya bertumpu pada Unmong yang merupakan satu-satunya lelaki dari empat saudara perempuannya. Memilih menggeluti bidang teater yang berakhir menyedihkan dan berujung terjebak dalam urusan rumah tangga yang nyatanya nggak sederhana kelihatannya, tapi banyak sekali pesan kehidupan dan hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita, perempuan.
-
Aku rekomendasikan buku ini buat kalian baca.
Personal rate 3,9/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
February 11, 2026
🧸 : คูอุนมงเป็นลูกชายคนเล็กที่มีพี่สาวสี่คน เป็นลูกหัวแก้วหัวแหวนของแม่ และเป็นเด็กที่เติบโตมาด้วยความรักและเอาใจใส่ของพี่สาวทั้งสี่(เพื่อความสุขของแม่) เขาจึงต้องแบกความหวังของครอบครัว ที่บ้านคาดหวังให้เขาเรียนกฎหมายและกลายเป็นอัยการหนุ่ม เป็นที่เชิดหน้าชูตาให้ครอบครัว แต่สิ่งที่คูอุนมงหลงใหลกลับเป็นการแสดงละครเวที

คูอุนมงพยายามตามความฝันนั้นโดยปกปิดไม่ให้ที่บ้านรู้ แม้จะล้มลุกคลุกคลานและดูจะยังไม่สำเร็จเขาก็ยังคงมีความรัก ความหวัง ในความฝันนี้อย่างเต็มเ��ี่ยม จนกระทั่งเขาโดนหลอกเชิดเงินไป แล้วพี่สาวคนที่สี่แจย็องก็มาเจอเขาเข้า

ในบรรดาพี่สาวทั้งหมดแจย็องเป็นคนที่ร้ายกาจกับอุนมงมากที่สุด ชีวิตเปลี่ยนเมื่ออุนมงต้องก้าวเข้ามาอาศัยภายในบ้านประตูเขียวกับแจย็อง คังซอเพื่อนสนิทแจย็อง และหนูน้อยย็อนอูลูกสาวของคังซอ

อุนมงล้างจาน เก็บบ้าน เตรียมอาหาร ไปรับส่งย็อนอู คอยถามเรื่องที่รรในแต่ละวัน คิดเมนูสารพัดแบบที่เด็กๆจะชอบ ไปชุมนุมแก๊งคุณแม่กลุ่มหิ่งห้อย และออกหนังสือเกี่ยวกับบทบาทคุณค่าของแม่บ้าน(บทความที่นางเขียนดีงามทัชใจมาก เข้าถึงใจแม่บ้านเสือตัวนี้สุดๆ) OMG 😳

🧹 : อุนมงมาไกลมากนะ นางเรียนรู้และเติบโตในทุกๆวัน จนไปถึงช่วงเวลาที่เรียกตัวเองว่าพ่อบ้านวัยหนุ่ม เรื่องไม่ได้มีอะไรพีคมากมาย อ่านได้เรื่อยๆ Slice of life แต่อ่านแล้วเอ็นดูอุนงมากๆอ่ะ

ตอนจบเป็นแบบปลายเปิด อาจจะขัดใจนิดนึงที่ไม่ได้รู้บทสรุปของตัวละครแต่ละตัว แต่คิดไปคิดมาก็นี่แหล่ะเนอะชีวิต เราค่อยๆใช้ชีวิตไปทีละวัน ค้นพบทีละอย่างว่าเราชอบอะไรไม่ชอบอะไร ลองทำไปทีละเรื่อง แค่วันนี้มีความสุขพร้อมกับได้เติบโตทีละเล็กละน้อยก็พอแล้วเนอะ 💕

🧺 : อยากเม้าท์นิดนึงว่ายัยอุนมงแก้แค้นได้แซ่บมากสะใจยิ่งนัก อยากรู้ว่าการแก้แค้นของอุนมงแซ่บแค่ไหน ชีวิตยัยอุนมงน่าเอ็นดูเอ็นใจขนาดไหนต้องไปอ่านกันนะฮะเพื่อนๆ
Profile Image for sanu.
11 reviews
September 30, 2024
wah akhirnya selesai juga baca buku ini.. butuh banyak waktu menyelesaikannya, karena jujur di awal tuh agak membosankan huhu sampe aku terkena reading slump cukup lama. tapi ini bukunya menghangatkan hati sekali 🥰

berikut poin plus dari buku unmong ini:
1. ringan, seru, ide ceritanya fresh dan menarik.
2. menghangatkan sekaligus menghibur karena ada unsur komedinya.
3. tema umumnya tentang keluarga, mimpi, dan kehidupan, sehingga bisa relate dengan banyak orang.
4. banyak situasi yang relevan dengan keadaan masyarakat indonesia. misalnya tentang keberadaan laki-laki yang dibutuhkan di rumah agar rumah dianggap aman, kehendak orangtua yang mengikat anaknya, atau anak laki-laki yang menjadi anak kesayangan di keluarga.
5. unmong mematahkan stereotipe bahwa pekerjaan rumah harus dikerjakan oleh perempuan. dengan penyampaian yang asyik, unmong mengedukasi bahwa pekerjaan rumah termasuk basic life skills yang bisa dikerjakan siapa pun, tanpa memandang gender.
6. buku ini cocok banget untuk para pembaca muda yang tidak terlalu suka nonfiksi, atau yang lebih suka fiksi tetapi ingin juga “dipeluk” hangat seperti saat membaca esai self-improvement.
Profile Image for Alifa Dzulfiadevi.
38 reviews
February 8, 2025
Salah satu buku terbaik sebagai pembuka tahun 2025 menurutku!

Buku ini menceritakan tentang Gu Unmong, seorang pekerja rumah tangga. Cerita bermula dari kesialan yang terus menimpa Unmong dan menyebabkannya harus berakhir menjadi seorang pekerja rumah tangga dan tinggal bersama kakaknya, Jaeyoung, dan teman kakaknya, Kangseo.

Buku dengan genre slice of life ini menurutku cukup relate dengan kehidupan banyak orang Asia. Ekspektasi orang tua terhadap anak, budaya patriarki, dan memandang sebelah mata terkait pekerjaan rumah tangga. Salah satu cerita menarik menurutku adalah bagaimana ibu-ibu di sekolah Yeonwoo, anak Kangseo, yang akhirnya bisa saling memanggil nama masing-masing, karena selama ini orang hanya memanggil mereka dengan “ibu dari nama anak”😔

Sayangnya, karena buku ini adalah buku terjemahan, ada beberapa bagian dan tata bahasa yang agak sedikit membuatku kebingungan. Selain itu, beberapa konflik menurutku juga kurang dibahas dengan jelas. Tapi secara keseluruhan, aku suka sekali buku ini. Meskipun ada beberapa plot twist menjelang akhir cerita, tapi buku ditutup dengan sangat hangat.
Profile Image for Fitri.
213 reviews
February 20, 2024
Truly an example of a slice of life genre.

Buku ini menarik, banyak mengangkat isu sosial dalam kehidupan sehari-hari (tentang menjadi ibu, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pandangan masyarakat (khususnya korea selatan karena settingnya di negara tsb) tentang anak laki-laki) dan permasalahan hidup sehari-hari (pekerjaan, duka di keluarga, dan cita-cita). Tapi yaaaa gitu, kayak ngeliat orang hidup, saling berinteraksi, dan saling berpengaruh aja) tanpa ada konflik yang heboh banget dan penyelesaiannya juga mengalir seiring dengan penerimaan masing-masing tokoh sama keadaannya.

Yang agak mengganggu justru bahasanya yang nggak terlalu nyaman untuk dibaca (antara karena memang dari sananya udah begitu dan aku nggak cocok aja sama gaya ceritanya atau memang terjemahannya kurang enak 🤔). Tapi kalo suka sama genre slice of life dan emang suka fiksi dari korea selatan sih bolehlah coba dibaca.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book275 followers
January 17, 2025
Unmong mengejar rekannya di grup teater yang membawa kabur uangnya. Saat itulah dia tertabrak oleh sebuah mobil. Ternyata di dalam mobil itu ada kakak perempuannya, Jaeyoung dan temannya Kangseo. Merasa bersalah karena sudah menabrak Unmong, Kangseo mengajak Unmong untuk tinggal di rumah yang ditempatinya bersama Jaeyoung. Awalnya agar rumah itu ada penghuni laki-laki sehingga terhindar dari bahaya pencurian yang mengincar rumah gadis lajang. Tetapi karena melihat rumah menjadi lebih bersih dan makanan mereka terjamin, dia mempersilahkan Unmong tinggal lebih lama. Awalnya Jaeyoung tidak setuju, namun akhirnya dia bisa melihat sisi lain keberadaan Unmong di rumah itu yang menguntungkannya. Maka dimulailah perjalanan hidup Unmong sebagai seorang housemaker.

Sebenarnya novel ini hanya menceritakan kisah hidup Unmong sebagai anak laki-laki yang ditunggu-tunggu di keluarganya. Namun kepiawaian Unmong dalam mengurus rumah dan memasak itu punya daya tarik sendiri.
Profile Image for Hujan Buku.
136 reviews2 followers
January 18, 2026
Kisah slice of life mengenai Unmong yang ingin mengejar karirnya sebagai pemain teater ketimbang mengikuti jalan karir impian keluarganya yaitu jaksa atau hakim. Dipersimpanganjalan hidupnya, Unmong kembali bertemu dengan Kak Jaeyoung yg dia juluki Perempuan Gila dan sahabatnya Kangseo.

Apakah pertemuan tak direncakan ini membawa Unmong pada masa depan yang cerah?
.
Well sebenarnya buku ini berbeda dari yang kubayangkan. Karena berpusat pada slice of life dan keluarga serta mengangkat isu isu seputar rumah tangga dan peran ganda wanita, jadi yah... Endingnyakurang memuaskanku namun realistis sih.
Profile Image for Seunghyunjee.
70 reviews2 followers
May 27, 2024
Unmong, A Youngman Become A Homemaker | Kang Seon-woo, Dewi Ayu Ambar Rani | Penerbit Baca | 320 halaman | 5/5 stars |
.
Aku selalu memberikan bintang 5 sempurna untuk setiap buku bacaan yang meninggalkan kesan mendalam untukku, salah satunya adalah novel karya Kang Seon-woo ini. Mulai dari ide penceritaan yang unik, gambaran realistis dari para tokoh, hingga ending yang cukup mulus dan tidak dipaksakan. Salah satu daya tarik dalam novel ini adalah tentang bagaimana karakter Unmong diceritakan dengan polos, sederhana dan juga sangat apa adanya.
.
Seperti judulnya, novel Unmong, A Youngman Homemaker menceritakan kisah Unmong, lelaki berumur 30 tahun yang mengejar mimpi di bidang teater, tetapi ia malah ditipu oleh temannya sendiri. Ketika mengejar si penipu, Unmong ditabrak oleh sebuah mobil yang dikendari oleh kakak perempuannya, Jaeyoung dan temannya yang bernama Kangseo. Sebagai bentuk tanggung jawab, Kangseo membawa Unmong ke rumah berpagar hijau, tempat tinggal dirinya dan juga Jaeyoung. Meskipun sang kakak menentang keputusan Kangseo, pada akhirnya Unmong tetap tinggal di rumah itu dan bertugas sebagai "sepasang sepatu". Dari ke hari ke hari, tugas Unmong ternyata tidak hanya menjadi "sepasang sepatu" di rumah yang hanya ditinggali oleh dua orang wanita itu, tetapi tugasnya mulai merembet ke pekerjaan rumah tangga. Unmong tidak menyangka bahwa ia memiliki bakat luar biasa sebagai "pekerja rumah tangga".
.
Aku cukup takjub dengan penceritaan di novel ini yang terkesan realistis, sederhana dan juga dekat dengan kehidupan para pembacanya. Awalnya, aku sempat mengira kalau novel ini hanya akan berkutat pada Unmong sebagai tokoh utama, tentang bagaimana Unmong, sebagai seorang laki-laki berumur 30 tahun yang masih menganggur dan belum memiliki tujuan hidup jelas, ditipu oleh temannya dan kemudian menjadi pekerja rumah tangga. Tetapi ternyata, ada side-story dari tokoh lain -Kangseo dan Jaeyoung yang menceritakan tentang problematika menjadi wanita karir. Dari sini pembaca bisa mengambil kesimpulan mengapa rumah berpagar hijau itu slalu berantakan setiap waktu dan kehadiran Unmong di sana bagaikan seorang "penyelamat". Insting dan kepekaan Unmong terharap pekerjaan rumah tangga benar-benar luar biasa, sehingga aku sempat berpikir, "Emang ada laki-laki model begini di Korea Selatan?" Penggambaran karakter Unmong juga tidak terkesan "biasa saja", meskipun Unmong kelihatan sederhana, polos dan bisa melakukan apapun yang dia bisa lakukan tanpa meminta bantuan.
.
Unmong, A Youngman Became A Homemaker memang bukan tipikal novel dengan alur yang cepat dan konflik yang rumit. Alur penceritaannya cenderung pelan dan teratur, konflik para tokoh bisa dengan mudah ditemukan di kehidupan sehari-hari, dan penyelesaian konflik yang realistis dan tidak dibuat-buat. Meski demikian, aku cukup terkejut dengan sebuah plot-twist yang hadir di bagian akhir novel ini sehingga menciptakan another side-story selain dari pov tokoh Kangseo & Jaeyoung. Aku sempat khawatir kalau ending novel ini akan dibuat "clear" untuk para tokoh, tetapi untungnya ending novel ini memberikan akhir yang melegakan, terutama bagiku sebagai pembaca.
.
Nah, bagi teman-teman yang ingin "healing" sambil baca buku, novel ini sepertinya cocok untuk masuk reading list. Kalau kalian bertanya apakah ada "love-line" di novel ini, aku akan dengan senang hati menjawab: "Ada sih, tetapi beneran lebih tipis dari selembar tisu..."
Displaying 1 - 23 of 23 reviews