What do you think?
Rate this book


312 pages, Paperback
First published February 15, 2023
Rasanya seperti pekerjaan rumah telah menyelamatkannya.
"Identitas Unmong inilah yang akhirnya tercapai setelah perjalanan panjang penghancuran diri, pengunduran diri, dan penerimaan."
"Hal positif membawa harapan. Harapan menjadi perisai yang menghalangi kegelisahan dan kekhawatiran yang datang dari ketidaktahuan. Malam itu, Unmong, yang dipersenjatai dengan perisai harapan, mampu mempertahankan senyumannya yang tampak seperti senyuman Bodhisatwa meskipun Jaeyoung melakukan kekerasan dan mengucapkan sumpah serapah kepadanya."
"Unmong berpikir, adakah seseorang yang ingin kulihat lagi dan lagi tanpa mengalihkan pandanganku sampai saat-saat terakhir? Tidak ada. Apakah ada seseorang yang akan meninggalkan segalanya dan tetap tinggal untuk melindungiku sampai akhir? Tidak ada juga."
"Seperti penjahat dalam banyak cerita, Jaeyoung menunjukkan kemampuan untuk membuat orang-orang di sekitarnya resah tanpa melakukan apa pun."
"Bukan menular, tetapi dibagi, atau empati. Berbagi dan mengurangi beban satu sama lain akan membuat kesedihan terasa sedikit lebih ringan. Memahami dan dipahami. Mengetahui bahwa kita tidak sendirian."
"Kau tahu, Kangseo. Terkadang kita mendapatkan jawaban atas hidup ini melalui kemungkinan yang konyol dan mustahil. Anggap saja kejadian ini hanya seperti itu."
"Memang apa susahnya, sih, mengirim pesan, 'aku tidak pulang' atau 'aku pulang terlambat,' hah? Mereka benar-benar tidak menghargai aku yang sudah susah-susah memasak, masih harus juga menunggu!"
"Mungkin kau tidak tahu ini karena tidak pernah mengasuh anak, tapi 'sebentar' yang dikatakan orang dewasa terasa sangat lama bagi anak kecil. Mereka akan cemas dan bingung, lalu melupakan perintah untuk diam menunggu sebentar."
"Jika Unmong yang melakukan pekerjaan rumah tangga, itu dianggap membantu--seperti bonus. Sedangkan, jika kakak-kakaknya yang melakukan pekerjaan rumah itu seperti gaji pokok--kewajiban yang harus mereka lakukan."
"Kalau dipikir-pikir, kata yang sering digunakan Jaeyoung akhir-akhir ini adalah, "semua ini berkatmu." Jaeyoung mengatakan dia mengubah 'karena' menjadi 'berkat' untuk melatih rasa syukur."
"Kalau itu membuatmu nyaman, ayo lakukan."
"Setiap orang pernah memiliki masa saat dirinya mengajukan pertanyaan bodoh dengan jawaban salah. Jawaban salah yang muncul dari pertanyaan bodoh. Apa yang salah dalam hidupnya? Seberapa sering seseorang terjerumus pertanyaannya sendiri dan tercebur ke kubangan-mencela-diri-sendiri? Karena itulah, ubah pertanyaannya. Apa yang akan dilakukan sekarang? Ajukan pertanyaan. Kalau ada yang bisa dilakukan, lakukan saja itu."