Jump to ratings and reviews
Rate this book

Little Stories

Rate this book
Kumpulan cerpen ini ditulis oleh lima perempuan muda yang bersemangat untuk menulis fiksi secara baik dan benar. Di bawah bimbingan Maggie Tiojakin; Adeste Adipriyanti, Rinrin Indrianie, Vera Mensana, Faye Yolody, dan Rieke Saraswati, menjalani kursus menulis kreatif selama delapan minggu.

Buku ini terbagi menjadi empat bagian sesuai kategori latihan. Menulis cerita pendek bertema kuliner dan demonstrasi, menulis cerpen berbasis prompter (kalimat awalan yang telah ditentukan), serta menulis cerpen bertema bebas.

Little Stories bisa menjadi bahan pembelajaran untuk mereka yang memiliki keinginan untuk belajar menulis kreatif. Tapi jangan membayangkan kumpulan cerpen ditulis seperti buku panduan, setiap cerita pendek di sini menyuguhkan kenikmatan pada pembaca dengan caranya sendiri. Ada kisah yang menggugah haru, ada yang membangkitkan kengerian, dan tentunya ada cinta dan rasa manis yang menyisakan keinginan untuk membaca lebih banyak.

264 pages, Paperback

First published February 6, 2014

3 people are currently reading
25 people want to read

About the author

Adeste Adipriyanti

2 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (2%)
4 stars
6 (16%)
3 stars
25 (69%)
2 stars
1 (2%)
1 star
3 (8%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Carolina Ratri.
Author 26 books40 followers
December 26, 2014
Satu-satunya cerita yang paling buatku excited adalah "Nama untuk Raka" dan "Serunya Membunuh Orang Gila" *meski masih agak nanggung*. Yang lain masih antara standar dan lumayan. Agak mengecewakan di Bab pertama malah, yang tentang makanan. Nggak ada yang berhasil mengeksekusi dengan mengesankan.

Will review more in my blog. Hopefully, dalam waktu dekat :))))
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
March 24, 2014
Jujur saya membeli buku ini, karena Maggie Tiojakin, yang merupakan salah satu penulis dengan gaya paling fresh dan menarik. Secara buku ini ditulis lima penulis wanita baru (Rinrin Indiranie, Vera Mensana, Addeste Adipriyani, Faye Yolody, Rieke Saraswati) yang merupakan salah satu peserta Lotus Creative Project. Dan alasan kedua adalah Staven Andersen membuat gambar cover untuk buku ini, yang merupakan ilustrator kesukaanku.

Di buku ini ada empat bagian dalam proses pelatihan: 1 Menulis dengan tema makanan; 2 Menulis dengan Prompter (kalimat pembuka yang sudah ditentukan); 3 Menulis dengan tema demonstrasi; dan 4 Menulis dengan tema bebas.

Kita mulai membacanya....
TEMA MAKANAN

cerpen pertama Gohu Buat Ina karya Vera Mensana, menurutku makanan yang diceritakan yaitu gohu (yang dalam imajinasiku semacam rujak, dari Manado) masih kurang masuk, hanya sekadar tempelan. Meski sudah mendukung cerita dua tokoh yang sedang nyidam, tetapi makanan gohu hanya sekali lewat. Tetapi showing dari Vera sudah membuatku meneteskan liur karena kemecer, kepengen. (2/5)

selanjutnya ada, Bakcang Terakhir karya Faye Yolody, hampir sama sebenarnya makanannnya hanya sebuah elemen dari cerita bukan mendarah daging dalam cerita. Meski ceritanya sebenarnya unik, tokoh utama arwah yang hendak reinkarnasi dan akhirnya reinkarnasi kembali menjadi bakal keluarga yang sama. Penceritaan bakcangnya aku juga suka, sudah detail dan saya yang bukan orang peranakan mengerti arti bakcang sebenarnya. Tetapi ada kalimat yang menurutku agak rancu: "...lalu orang-orang membuat bakcang dan melemparinya ke sungai itu" (hal.32). Penanda -nya disini milik siapa? bakcang? atau seharusnya kalimat itu begini : lalu orang-orang membuat bakcang dan melemparkannya ke sungai itu. CMIIW (2/5)

Dan menurutku yang berhasil adalah Brongkos Mertua, karya Adeste Adipriyanti. Brongkos benar-benar menjadi sentra cerita dari kisah menantu dan mertua yang berusaha saling mencuri perhatian suami/anak dengan kelezatan brongkos. Terlebih ending yang mengejutkan yang cenderung open ending. (3/5)

Sup Suzie karya Rieke Saraswati, ada beberapa pertanyaan yang mengganjal? Bagaimana seorang ibu tidak mengetahui pacar anaknya? Tidak pernah bertemu? Bagaimana kalau tidak bertemu, si pacar anaknya mengerti kalau yang dipukuli dijotosi itu adalah ibu dari kekasihnya? Kembali sup jagung hanya sebagai ornamen di cerita. Jujur saya tidak suka ending cerita, mati, kecelakaan, dan semacamnya.(1/5)

mengakhiri dengan kematian kembali diulang di Semangkuk Bakso Tahu, karya Rinrin Indrianie. Jadi kurang sreg aja. (1/5)
Sampai bagian pertama saya belum menemukan kebaruan dalam teknik. Kecuali menjadi tantangan untuk membuat cerpen yang bertema makanan dan pingin coba gohu, bakcang, sama Bakso Tahunya...

TEMA PROMPTER

Bagian ini adalah bagian yang paling tidak kusukai. Entah mengapa banyak ketidakenakan dari kelima cerpen. Kurasa prompter yang disuguhkan seharusnya membawa banyak imajinasi: (a.Aku lemparkan buku itu ke sungai yang mengalir deras, dan b. Ezra menghunus pisau dapur ke arahku)

Cerpen Pisau, karya Rieke Saraswati, sebenarnya unik. Ambigu siapa membunuh siapa. Tetapi eksekusi kurang bagus, seolah seram tapi nanggung. (1/5)

Cerpen Lemparkan Saja Ke Sungai karya Vera Mensara, justru klise. Seorang anak merasa diperlakukan tidak adil oleh nenek, lalu berbuat ulah dengan membuang buku resep peninggalan leluhur nenek moyangnya. (1/5)

Di Melankolia, Adeste Adipriyanti berusaha membuat hal seru. Dengan adegan membunuh hal-hal buruk dalam pikiran Ezra. Lumayan seru. (2/5)

Mengapa sih Mbak Rinrin Indrianie kembali mengakhiri cerpen dengan kematian? di Sang Ilalang, pun demikian Gilang a.k.a Ilalang mati dan menyisakan sebuah buku catatan. Klise. Mengapa harus mengakhiri cerpen dengan kematian? BOSAN. (0/5)

Orang waras kalau semakin terdesak bisa berubah menjadi gila juga, demikian Faye Yolody ingin menyampaikan dalam Serunya Membunuh Orang Gila. Tetapi apabila kembali diakhiri dengan kematian terlalu klise.

TEMA DEMONSTRASI

Bagian ini menurutku yang paling BURUK. Kelima cerpenya kacau. Kurang mendalam. Apalagi Rinrin Indrianie kembali mengakhiri cerpennya dengan kematian. What? Kematian? Kalau boleh diibaratkan muntah saya pada bagian ini... Tetapi saya harus meneruskan, dan berharap pada tema bebas ada hal segar, yang menjadi desert terbaik.

TEMA BEBAS
Saya berkespektasi tinggi pada bagian keempat ini. Karena biasanya dengan tema bebas, kita benar-benar akan dibebaskan mengenai alur, pilihan tema, dll.

Cerpen pertama Nama Untuk Raka dari Rinrin Indrianie, sebenarnya agak takut kalau2 kembali diendingkan dengan kematian tokoh dalam cerpennya. Tetapi, ternyata sekadar mengetahui siapa membunuh siapa. Suster bernama Lindusari Dewi, berusaha mengetahu mengapa Raka menajdi gila. Dan ternyata seorang wanita bernama Kinara telah membuatnya gila, yang ternyata itu adalah ibu si pasien yang sudah dibunuh oleh Raka sendiri. Endingnya lumayan mengejutkan, tetapi tidak ada hal baru di sini.

Cerpen kedua Berdua Saja dari Vera Mensana, cukup berhasil membawakan karakter si anak, Nico. Ibu tiri baru bagi Nico.

Selanjutnya ada Pasien dari Rieke Saraswati, yang bercerita seorang pasien yang berselingkuh dengan dokternya. Kurang mantab menjelaskan bagaimana seorang istri bisa jatuh cinta dengan dokter yang cebol? lalu alasannya apa? Disini tidak dijelaskan barang sekalimat pun.

Paragraf pertama Lorong dari Faye Yolody, cukup menjanjikan. Tetapi kebetulan yang ingin disampaikan penulis terlalu kasar. Ketika bertemu dengan Aji pembaca sudah menebak pasti ini adalah satu dari metaofora lelaki berkajet merah yang memberi mawar di sebuah lorong dalam mimpinya, Kurang mulus.

Dan menurutku yang asyik adalah 12 Juli dari Adeste Adipriyanti. Meski sebenarnya sudah bisa diduga bakalan gagal ulang tahun neneknya, tetapi cukup menghibur meski pendek dengan karakter yang kuat dan narasai yang efektif.


Dari buku ini saya juga ingin belajar menulis cerpen dengan tema-tema yang sudah saya patok, dan sebuah prompter. Tetapi saya pernah menulis cerpen bahkan hanya dari judulnya saja, ini meniru Kurnia Effendi.

Selamat, meski sedikit kecewa dengan ekspektasi saya yang ketingiian untuk buku ini yang merupakan murid Maggie Tiojakin dengan ilustrator andal Staven Andersen.

Good Job!

Resensi saya atas buku ini, dimuat di Radar Surabaya, 23 Februari 2014.
bag.1

bag.2

bag.2
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
May 8, 2014
Seluruh cerpen dari buku Little Stories ini berasal dari sebuah kursus menulis untuk mengapresiasi para pembaca situs Fiksi Lotus yang dikelola Maggie Tiojakin. Kursus tersebut dibuka untuk lima orang yang terpilih setelah Maggie menyeleksi ceita pendek dari masing-masing calon peserta sebagai syarat mengikuti kursuf intensif Lotus Creative. Dari puluhan pendaftar akhirnya terpilih lima penulis wanita yang berhak mengikuti kursus yaitu Rinrin Indranie, Vera Mensana, Adeste Adipriyanti, Faye Yolody, Rieke Saraswati

Selama kursus intensif selama dua bulan kelima penulis dengan berbagai latar belakang ini diberi tugas latihan menulis empat buah cerita pendek dengan tema kuliner/makanan, tema demonstrasi, tema prompter (kalimat awal yang telah ditentutukan, dan satu cerita pendek dengan tema bebas. Dari apa yang ditulis oleh kelima penulis inilah lahir buku dengan cover indah karya Staven Andersen dengan judul Little Stories yang berisi 20 cerpen yang dibagi ke dalam empat bagian sesuai dengan tema-tema yang telah ditentukan. Inilah yang menjadi pembeda dengan buku-buku kumpulan cerpen lainnya. Di buku ini kita akan melihat bagaimana sebuah tema dikisahkan oleh masing-masing penulis sesuai dengan gaya, kekhasan dan interpretasi dari masing-masing penulis.

Dari tema kuliner cerpen favorit saya adalah Brongkos Mertua karya Adeste Apriyanti. Sebuah kisah sederhana tentang anak dan mertua dimana sang menantu mencoba membuat masakan brongkos untuk mertuanya. Di cerpen ini makanan tidak sekedar tempelan tapi menjadi sentral kisah lengkap dengan tahapan-tahapan membuat brongkos. Yang menarik ending dari kisah ini bersifat terbuka (open ending) sehingga ketika kita selesai membacanya kita diberi kesempatan untuk mengakhiri kisahnya sesuai dengan imajinasi kita.

Cerpen Suzie (Rieke Saraswati) yang juga merupakan cerpen terpendek dalam buku ini juga menarik karena walau pendek cerpen ini menghadirkan tokoh yang sangat kuat karakternya sebagai seorang ibu yang berusaha menggantikan posisi suaminya yang telah meninggal dunia sebagai koki andal ditengah keluarganya.

Untuk tema demonstrasi ada dua cerpen yang mencuri perhatian saya yaitu cerpen Teror di Kaki Bukit (Adeste Apriyanti) dan Aparat (Faye Yolody) Cerpen Teror di kaki bukit mengisahkan tentang eksekusi lahan yang akan dijadikan sebuah mega proyek. Uniknya lahan yang akan dieksekusi dan siapa yang melakukan perlawanan atas eksekusi itu bukanlah tanah biasa dan bukan pendemo biasa. Walau berupa kisah khalayan namun di akhir kisah kita diajak melihat sebuah kenyataan akan keserakahan manusia. Sedangkan cerpen Aparat menjadi menarik karena pembaca diajak melihat keseharian seorang aparat yang selalu dianggap arogan, dibenci dan jadi sasaran ejekan, pukulan, dorongan oleh para pendemo sebenarnya hanyalah seorang ayah yang begitu mencintai keluarganya.

Membaca cerpen-cerpen dengan Tema prompter (kalimat awal yang telah ditentukan) juga memberi keasyikan sendiri karena semua cerpen di bagian ini dimulai dengan kalimat awal yang sama yaitu "Aku lemparkan buku itu ke sungai yang mengalir deras" atau "Ezra menghunus pisau dapur ke arahku". Karena dua kalimat yang ditentukan itu terkesan muram maka seluruh cerpen di bagian inipun merupakan cerpen-cerpen yang suram namun seperti cerpen Serunya Membunuh Orang Gila (Faye Yoloday) dimana dikisahkan sang tokoh utama yang memiliki seorang adik pecandu narkoba yang depresi sehingga kerap mengancam dan melukai kakaknya sendiri. Atau cerpen Sang Ilalang (Rinrin Andrienie) tentang kenangan persahabatan yang tertuang dalam sebuah buku harian.

Setelah tiga bagian dimana penulis diasah kreatifitasnya membuat cerpen yang telah ditentukan temanya, di bagian akhir buku ini barulah tiap penulis mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi kemahirannya membuat cerpen dengan leluasa tanpa dibatasi tema atau apapun.

Di bagian ini cerpen pilihan saya jatuh pada cerpen karya Vera Mensana, Berdua Saja. Cerpen yang menarik tentang seorang ayah yang mencoba mengutarakan maksudnya untuk menikah kembali kepada anak laki-lakinya yang masih kecil di sebuah kedai bakso.Sebuah kisah sederhana namun menyentuh tentang masa lalu keluarga mereka yang suram dan bagaimana sebuah harapan baru ditambatkan pada kehadiran mama baru bagi sang anak. Cerpen ini semakin menarik karena penulis mencoba memasukkan unsur budaya Tionghoa-betawi yang manyatu dengan kisahnya.

Sebagai sebuah buku kumpulan cerpen yang dihasilkan dari sebuah workshop menulis saya rasa semua cerpen dalam buku ini tidak bisa dianggap remeh. Walau ini adalah karya pertama mereka yang berhasil diterbitkan namun karya-karya mereka sangat baik dan patut diperhitungkan sebagai penulis masa depan dalam ranah kepenulisan fiksi Indonesia. Saya sependapat dengan sebuah komentar tentang buku ini di sebuah media yang mengatakan bahwa;

"Membaca cerita-cerita di buku ini membersitkan harapan baru akan lahirnya penulis-penulis muda perempuan potensial dengan ide-ide yang segar dan membawa suara mereka masing-masing."

@htanzil
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
February 9, 2014

Judul buku : Little Stories
Pengarang : Rinrin I, Vera Mensana dll
Jumlah hal : 255
Jenis buku : Kumpulan Cerita Pendek
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978.602.03.0190.7

Ini bukan tentang kumpulan cerita pendek biasa, tentu saja. Bagaimana tidak, buku ini adalah kolaborasi dari 5 orang penulis yang dipilih Maggie Tiojakin untuk mengikuti proyek tentang kepenulisan bertajuk Lotus Creative.Sebuah proyek yang bermuatan bimbingan kepenulisan tatap muka, saling mengkritisi karya satu sama lain.Dan sebuah gagasan tercetus dari hasil proyek tersebut.Tentu saja masih di bawah supervisi MT dan menuliskannya berdasar latihan penulisan tersebut.

Kumpulan cerpen ini dibagi menjadi 4 bagian besar, dengan 4 tema, yakni kuliner, promter( sebuah kalimat awal yang sama dan sudah ditentukan), demonstrasi dan tema bebas, dengan masing- masing 1 tulisan untuk setiap tema bagi masing- masing penulis.Dan hasilnya adalah tulisan yang beragam, walau temanya sama. Menarik untuk mencermatinya,satu demi satu dan memilih beberapa di antaranya sebagai favorit.

Pada tema pertama yakni kuliner, masing- masing bereksplorasi dengan satu jenis makanan yang dipilihnya. Dan favorit saya untuk bagian ini adalah Brongkos Mertua( Adeste) dan Semangkuk Bakso Tahu( Rinrin I). Cerita 1 unik berkisah tentang seorang menantu yang tak suka masak, tapi punya suami yang begitu memuja masakan brongkos ibunya. Sebuah cerita yang dengan tepat membidik hubungan unik antara mertua dan menantu perempuannya. Sedang cerita ke 2 bercerita tentang seorang anak yang bersusah payah mengumpulkan uang untuk semangkuk bakso tahu kesukaan ayahnya dan ketika uang itu telah didapatkannya, sesuatu yang tragis terjadi.

Pada tema ke dua yakni prompter, terus terang merupakan bagian yang tidak saya sukai. Kenapa? karena sebagian besar ceritanya muram dan kelam, mungkin karena prompternya salah satunya adalah" Ezra menghunus pisau dapur ke arahku"Isi bagian ini, pertikaian, darah di mana- mana.

Pada bagian ke tiga yang bertema demonstran, cerita favorit saya adalah Aparat( Faye Yolody) yang secara unik memotret demonstran dari kaca mata seorang aparat. Jika biasanya yang ditampilkan adalah proses demonstrasinya, menuliskannya dari sudut lain amatlah menarik. Sedang cerita lain yang saya suka adalah Firasat Sang Ayah( Vera Mensana). Walau menurut saya, keterkaitan dengan tema utama tidak terlalu pekat tapi penulis berhasil melukiskan hubungan antara ayah dan anak, baik dari sisi bisnis dan hati nurani.

Bagian ke empat menjadi bagian yang paling menarik karena temanya bebas. Masing- masing pengarang bebas bereksplorasi sesuai dengan kata hatinya. Cerita favorit saya untuk bagian ini adalah Berdua Saja( Vera Mensana) dan 12 Juli( Adeste). Cerita pertama berkisah tentang percakapan seorang anak kecil dan ayahnya dengan setting sebuah warung bakmi. Sederhana tapi menyentuh. Juga tentang 12 Juli yang bertutur tentang persiapan seorang nenek yang menyiapkan banyak hidangan kesukaan cucu- cucunya untuk ultahnya yang ke 72, yang sayangnya berakhir tidak sesuai dengan harapannya.

Sebagai sebuah bacaan, buku ini menarik karena idenya juga eksekusinya. Apalagi buat para penulis pemula, cara- cara penggalian ide berdasarkan tema- tema yang sudah ditentukan sebelumnya sepertinya harus sering dipraktekkan. Tentu dengan menggali ide- ide lain seperti pemilihan beberapa kata untuk dimasukkan dalam satu karangan, penggunaan gambar sebagai media pemantik tulisan atau pun dengan memasukkan suatu bagian lagu/ puisi dalam tulisan.
Profile Image for Zelie.
Author 2 books13 followers
March 10, 2014
Well..
Hampir saja memberi buku ini dua bintang karena kebanyakan cerpen terasa 'terlalu berusaha untuk terlihat keren'.
Tapi mengingat saya menikmati cerpen-cerpen dari tema pertama dan akhirnya saya menemukan yang berkesan di tema bebas, rasanya buku ini masih layak mendapatkan 3 bintang.
Review lengkap akan menyusul :P
Profile Image for Nidos.
300 reviews77 followers
January 7, 2016
It took me so long to finish. And... disappointment at its best. The authors just tried to hard to impress their mentor, I think. Or they just had a bunch of brilliant ideas but failed to deliver it in a smooth way. The only one I found quite impressive was the one titled "Brongkos Mertua" for its "Oh, snap!" ending. One star only bcs give it another star is merely a lie--"It wasn't okay."
Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
March 25, 2014
Saya kecewa dengan ending yang cenderung biasa saja dan antiklimaks. Padahal mayoritas cerita pendek dalam buku ini punya konflik cerita yang menarik. Sayangnya, tidak ditutup dengan ending yang mengesankan.
Profile Image for Surya Anggara.
14 reviews
November 19, 2016
Awalnya beli buku ini gara2 ada big sale, dan harga bukunya cuma 10ribu.
Dari 20 cerpen yang ada, yg menurut saya bagus cuma 12 Juli. Cerita yang lain terasa ngambang dan ga jelas.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.