“Sebuah dongeng klasik tentang tukang tenung, hutan kutukan, peramu sihir, juga desa yang dihantui mitos-mitos kuno. Kutukan itu hanya ada untuk mereka yang mempercayainya.” KazViolin, penulis novel Violin & Negeri Salju Abadi
“Romansa yang penuh dengan petualangan dan intrik politik yang seru. Hati-hati sulit berhenti membaca sampai akhir!” Orinthia Lee, penulis novel Why Always Me?
“Membaca novel ini, saya takjub (dan minder sekaligus). Ternyata tulisan penulis muda bisa bagus begini. Settingnya kuat dan kebayangnya indah.” Kaeri Esa, penulis novel 13 Kaku
“Ditulis dengan bahasa fantasi yang mengagumkan dan menghanyutkan. Dian Iriana sungguh berhasil membawa saya terlena ke dalam kisah-kisah tiap bab yang ia tuliskan.” Jee, penulis novel Because It’s You
gilaaaaa, yang menarik dari buku ini, setelah tadi mencoba menguak apa itu Lignite Sand, yang sampe saya kudu memanggil master Anagram, akhirnya saya bisa tau. misteri itu malah jadi sesuatu yang sangat amat menarik, terlepas dari novelnya yang juga menarik ini.
bagi yang mau beli, kalian ntar harus mikir juga ya, apa itu Lignite Sand! kelunya, itu adalah anagram yang jika disusun ulang akan menunjuk sebuah tempat/negara di bumi ini >.<
lepas dari sana, Pearl mengisahkan tokoh cewek yang namanya dijadiin judul, yang... yah... seperti kebanyakan tokoh cewek di novel2, enggak mau dikekang. dia pergi ke tepi hutan, kena racun semak-semak, dan akhirnya terseret sampai ke hutan Apagore, yang ditakuti semua penduduk di Lignite Sand. di sana, dia melihat rumah tua yang konon adalah milik Tukang Tenung (bukan tukang tenun!!) yang selalu menebarkan kutukan. dipercaya, yang udah pernah ketemu si Tukang Tenung akan membawa kutukan jika bisa kembali ke desa. nah, dan dengan susah-payah, sampe keseret arus sungai segala, si Pearl alias 'anaknya Tuan Crab di Spongebob' bisa sampai ke desanya lagi. dan kabar sudah menyebar kalau si 'anaknya Tuan Crab' ini kembali dari Hutan Apagore, dan dibully (maksudnya bukan kayak di sinetron2 itu loh)
semenjak itu, kesialan mulai menjamah seluruh desa. mulai dari kalahnya Dawn (si kuda pacu jagoan) sampek kakinya patah, terus bahkan tentang 'naga' yang muncul dari sumur di perbatasan desa, dan membuat banyak warga mati, termasuk sodaranya si 'anaknya Tuan Crab' sendiri.
intinya, nanti semua itu (kutukan itu) sangat berkaitan dengan masa lalu sang Duke yang telah melakukan tindak kejahatan (hadeh) yang disembunyikan dari siapa pun, sehingga kutukan itu ada.
tapi sekali lagi, kutukan hanya ada bagi mereka yang percaya!!!
Well, entah kenapa malah nangis gara-gara pernyataan salah satu tokoh di halaman 342, dan sejak halaman itu sampai akhir bab 18, sulit untuk berhenti nangis. Yah... emang dari awal udah telanjur suka plus bersimpati sih, sama tokoh ini. (Nggak nyebut nama ya, biar nggak spoiler, hehe.) :’) Dari segi gaya bahasa, sastranya jelas kerasa. Majas dan metafora bertebaran di mana-mana, dan jujur, kadang-kadang aku butuh konsentrasi tinggi untuk bisa paham apa makna tersirat di dalamnya. Cuma, awal paragraf di bab pertama dimulai dengan pembahasan tentang Matahari. Bukan hal baru mengingat banyak novel “pendahulu” yang selalu diawali Matahari, layaknya pagi yang baru menjelang aja. Tapi yah, itu cuma saran biar karya pengarang lebih baik lagi ke depannya. Konfliknya sih, sederhana. Dan pengarang berhasil ngasih “kutukan” sedemikian rupa sampe alur dan klimaksnya bisa jadi sempurna, dan terutama, effortless. Dramatis, tapi juga nggak lebay. Aku paling suka kalo udah ngebahas pakaian-pakaian yang dikenakan sama para tokoh di sana. Surcote (ini yang paling aku inget) dan temen-temennya itu udah jadi added value tersendiri buat aku selama ngikutin kisahnya Pearl. Soal pembahasan politik, aku bersyukur karena topiknya masih bisa dinalar dan dikira-kira, istilah-istilah kayak uskup dan sebagainya, juga tata pemerintahannya berhasil aku cerna. >_< Sayang, aku kehilangan delapan halaman di bab 17, mulai halaman 305 sampe 320. Dan beruntungnya lagi, aku baru sadar waktu novelku baru selesai aku kasih tanda kepemilikan (gawd!). Pengen dituker, tapi... masih ragu. :3 Overall udah bagus kok. Seneng bisa kenalan sama Pearl, Henry, Rosedale, juga Ace (eh, sekarang baru inget plus penasaran, kenapa kakak Ace belum punya nama—atau aku aja yang kelewatan?). Worth it for four stars! =)
Baru kali ini baca novel indo yang dongeng-like banget <3
Ceritanya bagus, ngga klise, fantasi, dan settingnya juga dapet, tapi harusnya di awal halaman ada peta wilayahnya Lignite Sand! Yang simpel gitu cuma buat ngebantu pembaca ngebayangin setting tempatnya.. Oya Lignite Sand itu anagram dari ** ** ****** ya :")
Gaya bahasanya beda dari novel-novel indo yang biasa, agak kayak novel terjemahan, dan dongeng klasik gitu. Pas awal sampe sepertiga saya masih belum kebiasa sama kalimat-kalimat yang hampir semuanya panjang, tapi lama-lama setelah mulai masuk ke intrik dan serunya, jadi ngga ada masalah, dan malah ngerasa gaya bahasanya ngebantu pembaca banget buat bayangin situasi dan settingnya.
Terus jujur aja, pas di awal berasa kebanyakan nama.. nama tempat, nama orang, nama kaum, nama moyang.. it's fine sih sebenernya, biasa novel fantasi emang gitu, cuma saya aja yang rada susah inget dan kadang jadi bingung . .)
Alur ceritanya di awal bikin saya wondering ini mau dibawa ke mana, tapi trus mulai penasaran dan hanyut sama cerita :") Seru dan gak klise, good job! Trus suka juga gimana authornya tega matiin karakter-karakternya. Buat saya kalo sekalian mau sedih ya sedih, jahat ya jahat, jangan tanggung-tanggung, jadi puas :")
BIARPUN SEDIH, KENAPA HENRYNYA ANU??? T___T
Kekurangan dikit: karakter-karakternya kadang menurut saya kurang kuat, dan kadang suka ada kalimat atau adegan yang menurut saya bisa diolah lagi lebih bagus dan enak dibaca buat pembaca..
Btw, oot, Rosedale nama tengahnya Carol, jadi... <3
Rasa novel terjemahannya berasa banget padahal ini karya penulis lokal lho. Kemarin di toko nemu pengujung yang galau mau beli atau nggak, dan berhubung dia cewek ya udah aku bilangin ini novel romantis abis dengan setting Eropa abad pertengahan, jarang2 ada novel beginian karya penulis lokal. Langsung deh dimasukin ke tas belanjaan. Yes, promosi berhasil semoga postingan ini dibaca redpel fiksi #eh
Setelah membaca boxset X&V yg kalimat-kalimatnya membawa kita ke arena pertempuran dengan kecepatan penuh, maka cerita 'Pearl' kali ini kalimat-kalimatnya... entahlah, rasanya lambat. Mungkin karena kalimat-kalimatnya panjang-panjang dan mendayu-dayu? Sebenernya engga lamban juga sih, tapi kadang saat sudah terbawa alur lamban, tiba-tiba dihadapkan pada: 'si X mati', atau 'si Y ternyata bukan si Y yang sebenernya', dan seterusnya.
Ceritanya Pearl, gadis yang suka berkeliaran ke mana-mana (padahal di masa itu gadis yang sudah cukup umur dilarang keluar rumah kecuali ditemani) dan sialnya malah tersesat di hutan Apagore, hutan yang membawa kutukan. Pulang-pulang diantar dua pemuda kaum Revier, kaum terkutuk juga. Belum selesai, muncul peristiwa demi peristiwa yang semakin mempertegas bahwa dia, Pearl, adalah gadis yang dikutuk...
Ada banyak kematian di sini. Ada banyak kejadian seolah kutukan demi kutukan memang sedang mengiringi.
Mungkin memang gaya berceritanya bukan 'gaya saya' sehingga bacanya sampai harus 10 hari, dan disalip buku lain XDD
Aduh, saya benci sistem rating goodreads... Kenapa sih bisanya cuma bilangan bulat? Huh!
Sebenarnya mau ngasih tiga setengah bintang... Jadi saya galau nih itu masuk bintang tiga atau empat? *penting*
Sudahlah.
Intinya cuma mau bilang kalau saya ngerasa gak rugi beli novel pertama Maup Didi ini. Ceritanya menarik meskipun terlalu banyak kemalangan yang terjadi di awal sampai akhir cerita. Saya suka dan enjoy (sekaligus kasihan) membaca nasib buruk yang menyertai Pearl Haven ini. Universe-nya mudah dibayangin, aura magisnya juga kerasa karena deskripsinya jelas dan panjang (kadang ngerasa di beberapa bagian terlalu panjang dan bertele-tele sih). Cara membangun konfliknya dari awal menuju klimaks hingga akhir smooth.
Overall, baguuuus. Nice debut, Up! Ditunggu karya berikutnya.
Diceritakan dengan gaya novel terjemahan, cukup menarik. Settingnya kuat. Masih nemu beberapa typo. Terus juga ada beberapa kalimat yang gak ada spasi antarkatanya.
Bagus sekali! saya sampai bisa membayangkan setting waktu dan tempat serta detil tokoh2nya... dan tentunya pada beberapa bab terakhir, hal tak terduga pun terkuak. Berlatarbelakang periode klasik di Inggris, seakan2 novel ini ditulis oleh penulis luar, luar biasa!! dan jika diangkat ke layar lebar, mungkin mirip film King Arthur atau Robin Hood! 😀😀😀