Walau udah nggak berstatus sebagai pegawai kantoran, aku masih berteman baik dengan beberapa ex rekan kerja dulu. Sampai sekarang masih suka ketemuan (eh lebih tepatnya masih sering aku repotin buahaha).
Termasuklah si X ini, yang tengah galau memilih antara jadi ibu pekerja atau ibu rumah tangga. Suaminya, juga teman satu kantor dulu. Tapi, mas nikah, salah satu harus mengalah. Sang suami kini memiliki karir cemerlang di kota lain dan karena terpisah, suami meminta X untuk resign.
"Gimana ya Yan, tahu sendiri kan kamu kalau aku cinta banget pekerjaan ini."
Kurang lebih setahun bergelut dengan kegamangan, kini sudah masuk injury time. Eh, pas banget, saat X curhat, aku lagi baca buku ini. Di mana, si penulis (Mbak Jihan) juga sempat berada di titik gamang yang sama.
Lalu, aku kasihlah beberapa quote yang ada di buku ini. Diantaranya:
"Kalau sudah menjadi istri, tempat terbaik itu di samping suami." Hal 52.
"Dari anak pertama sampai adikmu dulu, Mama selalu melahirkan di samping bapak. Tidak pernah pulang ke kampung. Jangan dipikir-pikir, tapi hadapi saja. Kalau tiba waktunya, kau nanti kaget sendiri, betapa mudahnya semua bisa dilewati."
Well, sebagai (calon) bapak-(bapak), aku gak akan banyak komen soal ibu pekerja VS ibu rumah tangga. Udah banyak banget yang bahas haha. Toh, masing-masing keluarga juga kondisinya beda. Apapun pilihannya, selagi dijalani dengan baik, maka sah-sah saja.
Nah, di buku berjudul The Davincka Code ini, mbak Jihan banyak sekali bercerita tentang kehidupannya yang lahir di keluarga besar, sejak usia muda sudah merantau.
Bahkan, ketika menemukan jodoh, nasip mengiringi beliau dan keluarga untuk berpindah ke belahan negara lain. Diantaranya Jeddah, Saudi Arabia yang lumayan mendapatkan porsi di buku ini.
Btw, saat baca aku kepikiran kenal Mbak Jihan ini dari mana ya? haha. Lupa, antara kesasar duluan di blognya baru kemudian temenan di FB, atau sebaliknya.
Yang jelas, tulisan-tulisan Mbak Jihan enak banget diikuti. Banyak pandangan-pandangannya yang mashoook ke aku. Dalam artian, dalam banyak hal, aku sejalan dengan apa yang ia rasakan terhadap banyak hal. Termasuk... soal pilpres hehehe.
"Mbak, bukunya lagi didiskon di toko buku online nganu," sahutku melalui DM beberapa waktu lalu. Aku ngabarin, ya kali-kali Mbak Jihan mau mempromosikan gitu hehe. Tapi tanggapan beliau, "Gak usah lah, itu lagian ada di blog semua isinya hihihihihi."
Oh ternyata diangkat dari blog (sebagaimana banyak buku lain, termasuk bukuku yang terbaru juga hehehe). Tapi, ya aku tetap beli. Soalnya gak semua tulisan di blog ya aku lahap. Dan, di mana-mana, baca tulisan di buku itu jauh lebih seru ketimbang di layar hape/komputer, kan?
Ada banyak sekali pelajaran yang aku ambil dari buku ini. Isinya random walau ada benang merahnya sebagaimana sub judul buku ini: How travelling Inpires You.
Kekurangannya? mungkin karena diambil di blog, ada hal-hal yang dibahas berulang antara satu bab dan bab lain walaupun di bab lainnya dijelaskan lebih rinci. Tapi, soal ini nggak mengganggu kok.
Hmm apa lagi ya yang mau dicelotehin soal buku ini? hehe. Gak ada, cukup.
Skor 8/10