Novel ini benar-benar memmukau, sejarah panjang perjuangan ibunda Aisyah mulai dari kecil, lalu periode mendampingi Rasulullah dalam mengemban amanah kerasulan, hingga masa di mana Rasulullah wafat. Kisah disajikan dalam sudut pandang orang pertama membuat kita merasa dekat dengan Bunda Aisyah dan Rasulullah. Dalam novel, kisahnya terbagi menjadi lima periode di mana dijelaskan dalam kurun waktu shalat. Subuh, yakni masa kecil dan remaja Aisyah. Zuhur, masa di mana awal-awal dakwah Rasulullah dan masa pernikahan Aisyah dengan Rasulullah. Ashar adalah waktu di mana dakwah mulai berkembang, perkembangan Islam pada periode Madinah. Maghrib, adalah masa di mana jelang wafat Rasulullah SAW. Isya, adalah periode pasca wafat Rasulullah.
Nggak ada kata lain selain "mengagumkan" yang saya dapat dari membaca kisah ini. Sebenarnya kisah sirah yang membahas tentang ibunda Aisyah sudah cukup familiar apalagi di dalam kisah ini benar-benar pure menjelaskan tentang sirah nabawiyah dari sudut pandang Aisyah. Beberapa peristiwa dijelaskan dalam bentuk cuplikan, namun tentu saja familiar. Saya membaca ini seperti disajikan buku sejarah dalam paket yang memukau. Membacanya membuat terasa dekat dengan Rasulullah dan Bunda Aisyah itu sendiri yang mengambil sudut pandangnya dalam penceritaan. Ada juga informasi-informasi yang baru didapat dari membaca buku ini seperti tentang usia pernikahan Aisyah dan Rasulullah. Di buku sirah, kebanyakan menuliskan bahwa mereka menikah di usia 9 tahun atau bahkan ada yang menyebutkan 6 tahun. Saya jadi kroscek dengan membaca buku sejenis dan ternyata mendapatkan kesimpulan bahwa usia persisnya, banyak sejarawan yang memiliki pendapat berbeda. Tapi dikatakan bahwa usianya lebih dari 9 tahun. Hmmm, memang harus banyak menelaah lagi sih ya. Yang paling saya sukai adalah penjelasan mengenai perang Jamal. Sibel Eraslan mengemasnya dengan baik sekali terlepas bagaimana sebenarnya kebenaran yang terjadi. Saya sedih sewaktu membaca di beberapa sumber yang justru memperuncing jurang pemisah antara pihak yang berkepentingan di sana. Tapi di sini, argumen penguatnya benar-benar membuat saya terbuka pemahamannya.
Ah ada bagian yang benar-benar membuat saya terkesan di dalam buku ini adalah ketika dibahas tentang hubungan istri-istri Rasulullah. Gemes banget bacanya sampai blushing-blushing sendiri. Bagaimana hubungan mereka, kecemburuan yang membumbui kisah-kisah yang terjadi di antara mereka. Namun itu sama sekali tidak ada artinya dibandingan sumbangsih yang diberikan ummahatul muslimin dalam penyebaran dan dakwah agama Islam. Terutama bagi Aisyah RA. Segala kebaikan tercurah padanya.
Jadi di blog saya menjelaskan dengan cukup rinci tentang bagian yang spesial ini ♡♡♡♡. Dan sepertinya karena saya pribadi kurang puas, nanti saya berencana bakal bikin tulisan untuk masing-masing Ibundanya umat muslim ini. Yeah semoga gak sepik atau PHP doang (tapi untuk reviewan novel ini sudah 70% kok itu saya buatnya).
Kesimpulannya... Aisyah ini pencemburu banget, gemes deh xD Jadi kamu boleh jadi pencemburu kalau kualitas dirimu jauuuuh lebih besar dari sifat pencemburumu :p
Oh iya saya mungkin mau menambahkan, semoga Kaysa Media lebih baik lagi dalam hal terjemahan dan proses editingnya. Sayang banget kan ya novel sebagus ini, apalagi sehebat disuguhkan seorang Sibel Eraslan, harus sedikit merasa kurang nyaman di bagian penyuntingannya. Semoga jauh lebih baik lagi... kita semua butuh bacaan bagus yang ringan namun sarat makna dan pembelajaran.