Jump to ratings and reviews
Rate this book

Relung Rasa Raisa

Rate this book
Relung Rasa Raisa: Semua Butuh Kesempatan Kedua

Mimpi Raisa adalah pergi ke Jerman. Dikirim pergi ke Frankfurt Book Fair? Ini melebihi mimpinya. Tapi ini adalah mimpi yang bersyarat, karena Raisa harus mendapatkan hak terbit novel best seller agar bisa menyelamatkan kantornya, AhA Publishing dari kebangkrutan.

Raisa menemukan Cedar Incense, novel best seller berlatar kerusuhan Mei 1998 yang pengarangnya, Jan Marco, sama sekali tak mau novel tersebut terbit di Indonesia. Raisa berkeras mengejar Jan Marco hingga ke Aachen, kota tua di pinggiran Jerman.

Kini hati Raisa terus larut dalam kisah Cedar Incense dan pengejarannya ternyata juga membawanya kembali kepada cinta masa lalunya. Dia yang namanya tak layak disebut.

320 pages, Paperback

First published December 1, 2013

4 people are currently reading
70 people want to read

About the author

Lea Agustina Citra

13 books58 followers
Lea Agustina Citra is an active woman with many hands to do anything she likes.

Really like singing, reading fantasy, hate melodramatic novel but love romance movie with much tears indeed.
Love to do some little things like scrap booking or jewelry designing.

Writing is not just about her hobby, it’s recently her life. Always want to write with ‘heart’ and get success with a humble thought.

She’s a psychologist and always put her psychologist mind on her novel: “My novel contains a story about human relationship, so that we need psychology”

Always hopes that one day can write as genius as J.K.Rowling, romantic but smart as Marga T and as out of the box as Neil Gaiman.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (11%)
4 stars
51 (40%)
3 stars
49 (38%)
2 stars
11 (8%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 42 reviews
Profile Image for Amaya.
749 reviews58 followers
January 6, 2023
Reread rating: 3.8

Setelah baca lagi, ternyata lebih greget. Masih seputar Raisa yang mati-matian dapetin copyright Cedar Incese buat menyelamatkan AhA Publishing, kantor penerbitan tempatnya bekerja.

Hal yang paling kusoroti soal kesempatan keduanya Caesar. Hmm, kalo dilihat-lihat sih, emang orangnya rada red flag, yah. Agak, bukan fixed. Apa yang dia perbuat di masa lalu emang salah banget, apa pun alasannya, tapi ini nggak aneh karena dia masih remaja, emosinya labil. Nah, aku agak kesel sama Raisa nih, yang hobi nuduh Caesar terus. Ya, kesel aja seolah-olah masalahnya cuma karena Caesar.

Ending-nya agak kurang memuaskan sih, bagiku. Kayak ada sesuatu yang ganjal gitu. But still, buku ini tetep seru!

***

Baru tahu ternyata Triple R (alias Relung Rasa Raisa) pernah diterbitkan di penerbit yang berbeda. Sepertinya aku pernah membaca cerpen Kak Lea, tapi baru membaca buku ini sudah dibuat jatuh cinta dengan gaya penulisannya. So smooth. Karakter preman tobat macam Caesar pun dibuat menarik dan aku masih gak percaya dia sebucin itu sama Raisa, ha!

Kisah mereka tak jauh seperti kisah pelik (tetapi kepelikan di buku ini berhasil membuatku kaget dan terbengong sejenak) buku lain, tetapi banyak sekali hal-hal yang bisa dipetik. Lontaran kata-kata manis karakter utama nggak begitu saja diterima oleh antagonis. Yah, intinya oke bangetlah. Cucok yang kepengin tahu dunia editor kalau lagi memperjuangkan copyright karya penulis luar negeri tuh bagaimana, hahaks.

Satu yang masih jadi pertanyaan: Orang sepintar Raisa bisa lupa juga sama bahasa Jerman? Padahal udah belain kursus gitu .-. but again and again, semua ini karena ****** (baca langsung aja kalau penasaran, haha).
Profile Image for Halida Hanun.
325 reviews13 followers
May 19, 2016
Buku ini bercerita tentang Raisa, seorang editor di AhA publishing. Sebagai seseorang yang bekerja di bidang literasi tentu mempunyai impian untuk bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair. Ketika mimpinya terwujud, Raisa tidak serta merta langsung senang. Dalam kepergiannya Raisa membawa misi untuk mendapatkan hak cipta dari novel best seller berjudul Cedar Incense. Novel yang bercerita tentang kejadian Mei 1998 itu sudah diterbitkan di banyak negara tetapi tidak di Indonesia, negara yang menjadi latar cerita juga kelahiran sang penulis. Raisa bertekad untuk mendapatkan hak terbit buku ini. Bukan saja karena ceritanya yang bagus, tetapi juga untuk menyelamatkan tempatnya bekerja dari kebangkrutan. Sayangnya, tidak hanya harus berurusan dengan Marco, penulis buku Cedar Incense, yang keukeuh tidak ingin menerbitkan bukunya di Indonesia, Raisa juga harus berurusan dengan masa lalunya yang selama ini coba dihindarinya.

Buku ini mengajak kita untuk berdamai dengan masa lalu dan melangkah untuk meraih kebahagiaan kita di masa depan. Meski tidak mudah, seperti apa yang dialami oleh Raisa dan Marco, tetapi masa lalu tetaplah masa lalu. Tidak bisa diubah. Jangan sampai hanya karena itu masa depan kita pun tidak berubah dan tetap sekelam masa lalu.
Mungkin buku ini sudah lumayan sulit ditemukan di toko. Saya membelinya di toko buku online. Entah karena memang penerbitnya yang sudah tutup atau karena apa, buku ini dibandrol hanya seharga 1o atau 15 rb *lupa*. Murah bukan? Karena itu kalau nemu buku ini, boleh lho dimasukkan keranjang belanjaanmu.
Profile Image for Acipa.
141 reviews12 followers
December 9, 2021
jujurly di awal sebelum 16 chapter mulai menikmati ceritanya, begitu throwback duuh agak stonk nih ya maap gimana ya… kucuma suka part soal Frankfurt Book Fairnya aja, sisanya agak hmm…

dan oh jujur aku gak suka banget pas penulis deskripsiin Alena kek “ikan yang pake bikini blah blah”, kayak… i mean, walaupun mau ngajakin pembaca untuk anggap tokoh ini centil, agak gimana gitu ya…
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
September 1, 2014
KESEGARAN TULISAN LEA DALAM RELUNG RASA RAISA

Judul Buku : Relung Rasa Raisa
Jenis : Novel
Penulis : Lea Agustina Citra
Penerbit : PlotPoint Publishing
Cetakan : Pertama, Desember 2013
Tebal : vi + 314 halaman
ISBN : 978-602-9781-54-9
Peresensi : Stebby Julionatan *)


Jika semua penulis muda menulis seperti Lea, saya berani jamin, dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia bakal kembali mempunyai kandidat (atau bahkan peraih) Nobel Sastra –selain Pramoedya Ananta Toer, yang tentunya bisa dibanggakan. Kenapa begitu? Sebab meski renyah dan tergolong bergenre metro-pop, Relung Rasa Raisa ternyata juga tak hendak menisbihkan persoalan-persoalan sosial –termasuk juga politik, seperti yang senantiasa berlaku atau kita jumpai pada tema novel-novel sastra yang serius.

Saya terbiasa menggunakan istilah “tulang” untuk menyebut tema atau bahan dasar cerita. Dengan kata lain, tak seperti umumnya penulis novel bergenre popular yang senantiasa hanya bermain-main pada tampilan “daging” (baca: kemasan) semata, rupanya Lea juga cukup memperhatikan pentingnya memiliki “tulang” yang kuat untuk menyusun struktur bacaan yang berkualitas. Perempuan kelahiran Jakarta, 18 Agustus 1981 ini mengemas keduanya –“daging” maupun “tulang” dengan baik, dengan takaran dan komposisi yang pas sehingga menjadikan Relung Rasa Raisa bacaan yang tak hanya “enak untuk dinikmati” namun juga “sehat” karena kandungan gizi di dalamnya.

Sebagaimana metro-pop, Relung Rasa Raisa sangat mudah dicerna oleh siapa pun pembacanya. Termasuk saya, yang tak butuh waktu berhari-hari untuk menandaskannya. Tapi uniknya –boleh dikata bahwa hal ini adalah kelebihan dari Relung Rasa Raisa, novel ini tidak menyajikan persoalan yang kata anak sekarang itu menye-menye (baca: picisan). Penulis yang pernah memenangkan penghargaan Ide Cerita Terbaik Sayembara Penulisan Seknario FTV Musikal 2006, mengangkat persoalan yang bisa dikatakan berat untuk novel bergenre metro-pop. Mulai dari kerusuhan Mei 1998, problematika remaja harus menjalani pernikahan dini dan kehamilan di luar nikah, ujian untuk kesejatian cinta, sampai persoalan gegar budaya. Semua itu berkelindan secara apik di dalamnya.

Novel kedua Lea Agustina Citra setelah Flavia de Angela (GPU, 2011) ini bercerita soal pengalaman Raisa yang dikirim oleh perusahaan tempatnya bekerja, AhA Publishing, ke Frankfurt Book Fair di Jerman. Bayangkan, penggila buku mana yang tak lantas histeris dan tak suka jika dirinya bisa menghadiri salah satu pameran buku terbesar di dunia secara gratis?! Hal tersebut tentu saja melebihi impian Raisa dan jutaan para kutu buku di seluruh dunia. Tapi ternyata, ini adalah impian yang bersyarat. Sebab selama di Jerman, Raisa harus mendapatkan hak terbit novel best-seller, Cedar Incense agar bisa menyelamatkan AhA Publishing dari kebangkrutan.

Meski sempat jetlag plus kelaparan akibat perjalanan lebih dari dua belas jam di atas pesawat dan kurangnya persiapan, Raisa akhirnya memukan Cedar Incense, novel best seller berlatar belakang kerusuhan Mei 1998 yang pengarangnya, Jean Marco, sama sekali tidak mau novel tersebut terbit di Indonesia.

Dibantu oleh Lilo, orang Indonesia yang ia temui dan menyelamatkannya dari bencana kelaparan di Frankfurt Book Fair, Raisa berkeras mengejar Jan Marco hingga ke Aachen, sebuah kota tua di pinggiran Jerman yang merupakan tempat tinggal Jan Marco.

Bagai pepatah, malang tak dapat ditolak, mujur tak hendak di raih, rupanya, penelusuran Raisa ke Aachen tersebut justru membuatnya harus turut larut dalam kisah Cedar Incense itu sendiri. Raisa harus kembali berhadapan dengan cinta masa lalunya. Ia, yang namanya seperti Lord Voldemort –tokoh jahat dalam serial Harry Potter karangan JK. Rowling, tak layak untuk disebut.

Don’t judge a book by it’s cover, merupakan kata-kata bijak yang sepertinya harus saya benamkan setiap saat ke benak, setiap kali saya berkunjung ke toko buku. Seperti apa yang saya sampaikan di awal, semula saya tidak menyangka bahwa novel ini, Relung Rasa Raisa akan digarap sebagus ini. Ia punya landasan yang kuat dan yang terpenting adalah tidak picisan.

Kelebihan lain, meski bebarapa clue bertebaran di tiga bab awal, seperti: gelang kupu-kupu, gadis kecil Mama, tatto kupu-kupu, lagu Adrian Martadinata, cincin berwarna hitam, rambut yang tetap dibiarkan panjang agar tetap mudah dikenali, Lea sepertinya tak rela untuk membiarkan pembacanya dengan mudah menebak-nebak bagaimana nasib tokoh-tokohnya (Raisa, Lilo dan Jan Marco) sampai di akhir cerita. Apakah Raisa yang seorang editor nantinya akan melabuhkan cintanya pada Jan Marco yang penulis? Atau justru Raisa jadian Lilo, sang juruselamatnya di negeri milik Hitler tersebut? Meski mungkin Anda seperti saya, yang tak sabar untuk mengintip halaman akhir dari novel yang sedang saya baca, saya jamin, Anda pasti terkaget-kaget dengan setiap kejutan yang ditawarkan Lea di kesetiap babnya.

Relung Rasa Raisa juga menawarkan gurauan-gurauan satir ala drama seri Korea. Selalu saja ada yang bisa ditertawakan dalam setiap kesedihan. Seperti kekhawatiran Viny, kawan SMA Raisa, saat melihat Raisa memakan lima bungkus permen karet Wringley’s sekaligus untuk memulai sesi curhatnya. Ini emergency, pikir Viny. Sebab ketika Raisa putus dari Zaki, Raisa mengawali ceritanya hanya dengan mengunyah tiga bungkus permen Wringley’s.

Meski kita tahu, tak ada gading yang tak retak, begitu juga Relung Rasa Raisa pun tak luput dari lubang. Saya merasa aneh saja dengan kesetiaan lelaki terhadap seorang perempuan selama bertahun-tahun tanpa pernah menoleh pada perempuan lain senantiasa menemani dan ada di dekatnya selama ini. Dalam dunia yang nyata, lelaki tetaplah “kucing” yang tak akan menampik bila di sebelahnya hanya digelar ikan asin (bukan ikan segar). Untuk sebuah kasus lelaki normal, di saat “musim kawin”, dimana pengaruh hormon dan libido mulai ningkat, lelaki pasti butuh kehangatan tubuh seorang wanita untuk ia segamai. Mampukah Cesar, adik Jan Marco menahan pengaruh hormonal itu dan berselibat selama delapan tahun perpisahannya dengan perempuan yang ia cintai?

Di luar lubangnya, Relung Rasa Raisa merupakan bacaan yang bagus dan pantas dibaca oleh para remaja agar mereka memahami konsekuensi dari hubungan di luar batas-batas pernikahan. Kenapa? Sebaiknya Anda membacanya sendiri, sebab saya tidak ingin mengurangi intensitas suspens yang ditawarkan Lea dalam novel ini. Jadi tunggu apa lagi, selamat membaca dan menikmati alurnya yang ciamik. Salam!


*) Stebby Julionatan, penulis, tinggal di Probolinggo - Jawa Timur, aktif dalam Komunitas Menulis (Komunlis) dan KSSI. Dapat disapa melalui akun twitter @sjulionatan atau email: sjulionatan@yahoo.com
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
February 20, 2014
Semua butuh kesempatan kedua. Barangkali, itu benar adanya.

Pada akhirnya, Raisa benar-benar memberikan kesempatan kedua untuk Caesar, yang selalu dibencinya selama 8 tahun ini. Bagaimana Raisa bisa selalu membencinya adalah teka-teki tersendiri yang disajikan dalam novel terbaru Lea Agustina Citra ini.

Raisa punya misi besar dalam kunjungannya ke Frankfurt Book Fair. Sebagai editor Aha Publishing, Raisa harus memanfaatkan waktunya disana. Menemukan dan membeli hak cipta penerbitan buku agar Aha Publishing tetap survive.

Serangkaian peristiwa kebetulan mengiringi langkahnya. From being a stranger until meets her destiny, Caesar. Perjalanan ini malah mempertemukan kembali Raisa dengan Caesar. Satu hal yang dibencinya tapi malah kemudian mendekatkannya pada Jan Marco, penulis 'Cesar Incense' yang sedang ia kejar hak penerbitannya.

Bukan tanpa alasan Raisa berusaha sekuatnya untuk dapat menerbitkan buku itu di Indonesia. Segenap pertentangan atas sebuah tragedi Mei 1998 mengungkap cerita tragis dibalik tragedi kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah Republik. Raisa mau tidak mau harus bersekongkol dengan Caesar untuk mendekati Jan Marco. Bahkan, Raisa sempat menyelamatkan Jan Marco dalam usahanya untuk bunuh diri.

Raisa hanya perlu berkaca dan berdamai dengan dirinya sendiri. Raisa harus menyelesaikan segala amarah dan penyesalan yang terlanjur berkecamuk selama petualangannya di negeri Angela Merkel ini. Raisa pun akhirnya tidak terlalu ngotot lagi soal 'Cesar Incense'. Kedamaian dan kebahagiaan yang ia cari selama ini hanyalah semu belaka. Raisa berkompromi dengan takdir, ketika hidup akhirnya menyuguhkan sepaket kesempatan yang tidak mungkin ia lepaskan.

Novel ini punya latar yang kuat. Khususnya di kota Aachen, tempat semua kejadian ini berlangsung. Hal itu pula yang menambah intensitas kedekatan antara realita dengan fiksi. Mengajak pembaca seakan menikmati satu persatu adegan dengan alur yang beragam. Menjadikan permainan alur yang berloncatan jadi satu kelebihan cerita.

Membaca novel ini kita dibuat percaya bahwa when you brings out the best of you, life will give you the best of it.
Profile Image for Sarah Ratu Annisa.
34 reviews
August 31, 2014
Relung Rasa Raisa. Judul yang unik. Judul dengan awalan huruf yang sama. Ketika membaca sinopsisnya di cover belakang, tanpa pikir panjang aku langsung bawa ke kasir. Benar saja, ketika sampai di rumah, aku ketagihan baca dan rasanya nggak mau berhenti baca.

Menceritakan Raisa, seorang Editor Profesional di salah satu penerbit terkenal di Indonesia yang nasibnya sudah diujung tanduk. Andrew, atasannya, menugaskan Raisa untuk pergi menghadiri Frankfurt Book Fair di Jerman dan memilih satu buku yang paling bagus dan diharapkan bisa menyelamatkan AhA, dan kebetulan juga Indonesia jadi Guest of Honor tahun ini. Di Frankfurt Book Fair ia bertemu seorang lelaki baik asal Indonesia bernama Lilo, yang membantunya saat kelaparan. Namun siapa sangka juga musibah menimpanya. Ketika ia sudah menemukan buku yang keren untuk diterjemahkan, Cedar Incense, eh malah penulisnya bersikeras tidak mau bukunya diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, padahal dengar-dengar penulis buku Cedar Incense yang bernama Jan Marco itu juga keturunan Indonesia. Sedangkan waktunya di Jerman hanya sebentar.
Seakan kebetulan atau takdir, perjuangannya mendapat copyright Cedar Incense mempertemukan lelaki yang pernah menyakitinya di masa lalu. Dan lebih parahnya lagi ternyata lelaki di masa lalunya itu punya hubungan darah dengan Jan Marco. Raisa tak mau berurusan dengan lelaki itu lagi, tetapi sepertinya hanya lelaki itu yang bisa membantunya...

Keren. Ide ceritanya nggak mainstream. Dan kebetulan-kebetulannya masih bisa dibilang logis. Cerita flashback di tengah-tengah cerita pun makin bikin gregetan dan penasaran. Aku suka ceritanya, tapi aku kurang puas di endingnya. Seharusnya kan diceritakan lagi kehidupan Jan Marco setelah kembali ke Indonesia, lalu Cedar Incense jadi bestseller atau nggak di Indonesia. Jadi agak kayak nanggung gitu. Tokoh favoritku? Lilo;;), sepertinya Lilo cowok yang cool dan berkarisma gimanaaa gitu. Kalau difilmkan pasti juga bagus hehe :D.
Sukses terus, tante Lea =)
Profile Image for Oktabri.
147 reviews4 followers
February 17, 2014
Suka!Sangat suka! Gak nyesel memutuskan untuk memperluas bacaan, gak cuma dari satu penerbit saja. Berharap akan sering menemukan buku bagus semacam ini pada petualangan berikutnya. ;)
Profile Image for Fidia .
354 reviews7 followers
July 19, 2022
Keberpihakan kita dalam karya fiksi adalah cerminan diri sendiri.

Penggalian relung hati Raisa dimulai melalui situasi yang tidak terduga. Raisa adalah seorang editor yang memiliki misi untuk mendapatkan hak terbit novel "Cesar Incense", novel bertema kerusuhan Mei 1998 karya Jan Marco. Novel tsb. memenangkan Man Booker Prize dan terbit terlebih dahulu di Jerman. Misi itu menjadi urgensi yang mampu menentukan hidup-matinya AhA Publishing. Tapi, berawal dari sana, Raisa dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang berusaha ia kubur: selesaikan atau hentikan selamanya. Bagaimana pun, masa lalu yang menggantung menghadiahkan kebahagiaan palsu.

Terlepas dari masa lalu Raisa, kita dihadapkan pada Marco yang mati-matian menolak bukunya terbit di Indonesia. Pertanyaan yang muncul: "Mengapa begitu benci Indonesia?" Di kepalaku, pengarang menulis bisa untuk 2 hal: menghidupkan atau membunuh dirinya. Apapun itu, pengarang dalam setiap tulisannya telah 'menyodorkan' diri. Ia memberikan kepingan hidupnya terlepas dari nyata atau tidaknya karya.

Ambisi Raisa untuk melahirkan karya berkualitas dan bertanggung jawab secara sosial justru -sempat- meletakanku di persimpangan:

1. Berempati pada Jan Marco terkait alasan "sensitif"nya
2. Mendukung kerasionalan Raisa
3. Setuju/tidaknya pada pilihan Raisa terkait masa lalunya

Buku ini sebenarnya tidak menyuruh keberpihakan (aku kepikiran saja), tapi ada yakin di dlm fiksi selalu kondisi di mana kita harus mengkritik atau mendukung protagonis utama. Aku ingat isi buku ttg empati yang kubaca -/+ mengatakan kita cenderung mengecilkan jiwa "dalam" orang lain dan merasa paling "dalam" sendiri. Berlaku saat aku mengenal Raisa dan Marco.

Kode situasi tersebut ada di ucapan Marco: "Kamu bilang aku harus memikirkan orang lain yang menyayangi aku, yang mungkin mau mengorbankan hidupnya untuk kebahagiaanku, tapi apakah kamu juga melakukannya, Raisa? Membiarkan orang lain membahagiakanmu? Atau kita berdua hanyalah sekumpulan orang egois cengeng yang cuma minta dikasihani?" - hlm. 220-221
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
April 19, 2014
"Cedar Incense" mungkin satu-satunya harapan Raisa beserta kru aHa Publishing lainnya untuk menyakin papa Dru kalau aHa masih dapat dipertahankan. Bergelung dengan masalah utang-piutang, Dru akhirnya menyerah dan pasrah pada masalah yang satu itu, namun sebaliknya, Raisa dengan semangat menggebu-gebu pergi ke Frankfrut Book Fair demi mendapatkan hak cipta penerbitan ulang "Cedar Incense", novel best-seller berlatar belakang kerusuhan Mei 1998. Satu kendala bagi Raisa; mendapatkan hak cipta tidak semudah membalikkan telapak tangan, terlebih pengarannya Jan Marco, yang separuh sinting, enggan membiarkan novel best-sellernya dicetak ulang di Indonesia. Raisa tidak hanya diperhadapkan pada kesintingan Jan Marco seorang, di balik sebuah misi merebut hati pengarang "Cedar Incense", Raisa mau tak mau harus kembali membuka rahasia kelamnya yang ia tutup rapat-rapat di masa lalu.


"Relung Rasa Raisa"; frasa tiga kata yang nyaman sekali untuk dipermainkan, sebagaimana sampulnya juga menarik saat ditilik. Ada paduan kuas ala pen tablet untuk menerjemahkan pemeran utamanya sebagai Raisa, cewek berpotongan rambut pendek chic, berkulit eksotis. Dan membuat jemari gatal ingin membawanya ke meja kasir.

Saat melihat sampulnya, jelas memang ciri khas Plot Point, sebuah publishing house yang ya ... dari kebanyakan buku yang diterbitkannya memang sangat memerhatikan penampilan sampul utama. Tapi, jauh melebihi kesan buku Gagasmedia, gue menaruh satu ekspektasi tinggi pada buku-buku Plot Point, melihat "Blue Romance" yang bulan lalu sempat gue beli versi bekasnya.

Um, "Relung Rasa Raisa" punya ide cerita yang sederhana. Lagi-lagi. Dengan tokoh seorang perempuan Indonesia, juga cast-cast Indonesia lainnya yang dipindahkan latar ke negeri Jerman. Dengan konflik dari era nostalgia hingga digiring ke masa kini. Tapi, satu berbeda, cara pengemasannya yang sungguh tidak sederhana, juga latar belakang tokohnya yang tidak biasa. Pertama kalinya membaca buku karya Lea Agustina Citra dan satu rasa yang menguar dari kalimat-kalimatnya, yaitu: "nge-pop". Mungkin perlu ditambah "banget". Ada sekilas hawa teenlit dengan segala tetek-bengeknya yang kadang menjurus ke "lebay", tapi um, gak juga sih, ada juga hawa dewasa yang menggiring, melihat permainan diksi yang lumayan, tapi gue suka dengan fungsi sudut pandang orang ketiga yang coba digiring Lea ke mana-mana. Kebanyakan novel yang gue baca (dalam dan luar negeri), pengarangnya ibarat meletakkan sebuah kamera pada satu pemeran utama, yaitu tokoh yang menjadi kunci atas segalanya, namun dalam "Relung Rasa Raisa", Lea mencoba untuk menyorot kedua benda, yaitu kunci dan gembok; berganti-gantian, diselingi sedikit flashback di saat dulu SMA, lantas menjadikan dua karakter utama, Raisa dan Caesar sama-sama membuka kejadian yang di masa lalu.

Overall, dari seluruh narasinya, Lea bisa dikategorikan sebagai seorang yang tidak pelit mencari tahu. Dari sebuah konflik-konflik klise, Lea mencoba menyelipkan sejuta hal-hal yang sangat paradoks ke dalam narasinya, dari membahas sikap seorang karakter Raisa yang cengeng, keras kepala, juga jual mahal, Lea terkadang menganalogikannya ke berbagai hal, mulai dari film, public figur, dan sebagainya. Sebaliknya ada juga Caesar. Sekilas saat membaca di bagaian depan, Caesar digambarkan sebagai cowok yang sangat dewasa, pengertian, seolah dia memang seorang yang sempurna, tapi ups, di belakang, sepertinya terasa agak jomplang, namun di situlah semua cerita tersebut harusnya berawal.

Seperti bermain kronologi, itulah yang gue suka dari "Relung Rasa Raisa" dan lebih baik lagi kalau ini diterjemahkan dalam sebuah film. Pasti lebih asyik. Seperti (kalau pengin dibandingkan dengan novel luar negeri) Safe Haven, di mana sebuah jawaban terlontar terlebih dahulu sebelum pertanyaannya didendangkan. Namun demikian, "Relung Rasa Raisa" bukan novel yang mudah ditebak lho... ya, mungkin ada di satu per empat bagian buku gue sempat menebak-nebak kalau jalan ceritanya bakal agak sedikit langsir ke Lilo (spoiler ya: Lilo, cowok playboy, lagi sekolah S2 di kampus yang sama dengan Caesar, dan hobi ngajakin cewek-cewek buat dinner superromantis biar jatuh hati sama dia). Tapi, ya siapa sangka kalau perjalanan cinta Raisa gak semulus itu, bahkan ibarat naik rollercoaster terus jungkir balik, jatuh ke spot yang seharusnya gak ia hindari dari dulu.

Terlepas dari hal-hal seru, ada beberapa hal yang gue kurang suka dari "Relung Rasa Raisa", yaitu dengan beberapa klimaks yang dia hadirkan sangat baik dalam konfliknya, Lea malah memberikan sebuah episode solusi dengan sangat kilat seolah-olah itu sangat mudah untuk dilalui. Um, gak salah sih, tapi rasanya sedikit jomplang aja, apalagi kalau dua karakternya sudah saling bentak dan para pembaca tahu, kalau dua-duanya sama-sama keras kepala. Efeknya jadi sedikit kurang rill. Kepenginnya sih Lea memperpanjang konfliknya sedikiiit lagi :)

Dari 5, gue kasih 4.5, buat sampul kece, cerita yang fantastis, gaya bicara yang supeeel banget, terus buat acara tour keliling Anchen-nya yang luar biasa nyata. Sayang kalau melewatkan novel satu ini di rak buku Gramedia, rasanya bakal rugi deh, gak menikmati satu lagi hal yang unik dari pengarang lokal :D



Profile Image for Fadila setsuji hirazawa.
350 reviews4 followers
January 14, 2022
"...Kita tidak bisa menyamaratakan kesedihan orang lain dengan kesedihan kita: menyamakan kemampuan kita untuk survive dengan kemampuan orang lain..., Kamu terlalu mengasihani dirimu sendiri, dan berharap orang lain memaklumi kedukaanmu yang berlarut-larut..." (Hal.218-219)
.
.
.
❤ Desain kover terbitan baru ini terasa lebih segar. Sebelumnya novel ini pernah diterbitkan oleh penerbit Plot Point.
Dan juga, info pada ulasan yg ditulis oleh kak Lea,ada beberapa detail yg ditambahkan pada terbitan baru ini. Menyenangkan mendengar kabar ini bukan? Dan katanya lagi, ada karya beliau yang menyangkut tentang Lilo (salah satu karakter dalam novel ini yang kayak Pangeran Kuda Putih-nya Raisa) dan kayaknya agak sedikit menceritakan beberapa kelanjutan dari novel ini. Penasaran? Yes, kita sama!

❤ Relung Rasa Raisa menggunakan POV maju-mundur dgn sudut pandang orang ketiga,sehingga pembaca dapat lebih mengerti bagaimana kisah Raisa dan Jan Marco dan masa lalu yang mereka pendam juga mereka hindari.

❤ Kak Lea berhasil meramu lebih dari satu konflik didalam novel ini, yang menurut saya menjadikan kisahnya mengaduk aduk emosi. Juga,bagaimana konflik antara Raisa dengan Jan Marco secara alami menjembatani konflik Raisa dengan masa lalunya.

❤ Romansa dan adanya cinta segitiga cukup menambah keseruan novelnya.

❤ Setiap karakter dalam novel ini ditampilkan memiliki lebih dan kurangnya sehingga sulit menentukan karakter yang saya suka. Namun, daya juang Raisa tuk bangkit dari masa lalu cukup berkesan tuk saya.

❤ Saya merasa kisah novel Cedar Incense yang berlatar kerusuhan 1998 yang diceritakan sebagai karya Jan Marco yang diganjar penghargaan bergensi namun menolak untuk diterbitkan di Indonesia adalah kisah menarik yg dapat menarik minat para pembaca terutama setelah membaca sinopsisnya, hanya saja bagian ini masih membutuhkan eksplorasi, tetapi karena lagi-lagi kisah intinya berkaitan dengan Raisa, jadi barangkali dapat dimaklumi bahwa Jan Marco dan kisahnya tidak begitu di eksplorasi.

❤ Berkaitan dengan novel ini, saya cukup setuju dengan opini beberapa pengulas buku ini, bahwa beberapa dialog dan tindak serta pemikiran Raisa yang cenderung bertentangan dengan karakternya yang tangguh dan keras kepala, terutama pada keputusannya ketika Caesar, masa lalunya, datang kembali kedalam hidupnya.

❤ Berdamai dan memaafkan diri sendiri adalah pelajaran berharga yang saya dapatkan dari novel ini. Dan juga, berdamai dengan masa lalu, memaafkan, dan mungkin memberikan kesempatan kedua... Bagi saya pribadi adalah hal yang tidak mudah dilakukan.

❤ Novel yang secara keseluruhannya, menurut saya, menyajikan kisah yang berakhir dengan menghangatkan hati pembacanya. Terus berkarya, bu Psikolog :)
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
February 25, 2015
Relung Rasa Raisa mengikuti perjalanan solo Raisa Nathaya Candrakirana ke Jerman untuk menghadiri Frankfurt Book Fair. Dia berencana membeli copyrights novel yang bisa diterjemahkan dan dijual oleh penerbitnya yang hampir bangkrut, AhA Publishing. Raisa bertemu Lilo, orang Indonesia yang sedang berkuliah di sana. Lilo dengan senang hati menemani Raisa berburu buku bahkan sampai ke depan pintu rumah Jan Marco, pengarang novel Cedar Incense, yang jadi incarannya. Walaupun sudah ditolak dua kali, Raisa tidak mau menyerah. Dia menginap di kamar teman se-flat Lilo yang katanya sedang liburan dan menyusun cara untuk membujuk Marco. Tak disangka, teman Lilo pulang lebih cepat dan dia adalah Caesar Soeprobo, seseorang dari masa lalu yang telah menghancurkan semua cita-cita Raisa. Lebih parahnya lagi Caesar dan Marco ternyata bersaudara. Raisa tak punya pilihan selain membuang gengsinya dan mengantungkan masa depannya pada cowok itu, sekali lagi.

Tiga bab awal Relung Rasa Raisa sukses membuatku tertidur di siang hari yang terik. Entah karena terlalu banyak informasi ‘terselubung’ dan deskripsi yang agak membosankan di bab-bab tersebut atau aku memang kecapekan setelah mencuci baju hehehe. Setelah berhasil mengumpulkan nyawa, kupasang lagu Can’t Remember to Forget You dan membuka bukunya lagi. Bab-bab selanjutnya tak disangka sangat menarik dan membuatku tak rela melepaskan buku ini. Buku yang awalnya aku anggap ‘gagal beli’ pun beres sebelum tengah malam, di hari yang sama aku membaca halaman pertama! Ternyata novel ini bagus banget, romantis, mengharukan dan bisa bikin aku ketawa ngakak! Emosiku sebagai pembaca dinaik-turunkan lewat penuturan tiap karakternya, terutama Raisa dan Caesar. Sebelumnya aku menganggap sudut pandang seperti ini mengurangi ‘kemisteriusan’ plot. Tapi tidak pada novel ini. Raisa bikin aku ngakak dengan caranya mengasosiasikan segala peristiwa yang terjadi padanya dengan legenda seperti Dayang Sumbi dan Sangkuriang, novel bestseller seperti Harry Potter, film seperti The Notebook dan juga kartun seperti Ninja Hatori. Aku juga seneng bisa tahu apa yang dipikirin Caesar tentang perasaannya terhadap Raisa. So sweet. Aku sempet geregetan dan bingung kenapa Raisa terus menghindari cowok yang menjadikannya sebagai putri ini. Lalu sedikit cerita flashback kehidupan Raisa dan Caesar di masa lalu muncul dan menjawab semuanya. Nyesek banget baca bagian itu! :’(

Baca review selengkapnya di sini --> http://dhynhanarun.blogspot.com/2014/...
Profile Image for Desti Rachmadyah.
125 reviews4 followers
January 9, 2022
Dari tahun lalu ragu terus mau beli novel ini; karena judulnya menarik, covernya (sedikit) lucu, tapi takut sama ekspektasi sendiri. Takut kecewa. Ya, ya, manusia kadang lebih sering kecewa karena ekspektasinya sendiri, bukan?

Tapi Raisa dan Caesar sukses membawaku melebihi ekspektasi itu! Dibalut alur maju-mundur, kita disajikan kisah Raisa yang sedang memperjuangkan keberlangsungan kantor penerbitan tempanya bekerja, yang membawanya ke Frankfrut dan menghadapi Jan Marco, seorang penulis yang tidak ingin tulisannya diterbitkan di Indonesia. Perjuangan Raisa menghadapi Marco, membawanya menghadapi hantu masa lalu. Kita akan dibawa menjelajahi kisah tak terselesaikan antara Raisa dan Caesar di masa lalu, yang masih menjerat mereka ke masa kini. Kunci masalah yang terbuka satu per satu membuat novel ini nggak terduga, yang disangkanya konfliknya 'sepele' ternyata seberat itu buat Raisa.

But, finally, Raisa bisa berdamai dengan dirinya dan mengakui apa yang selama ini tersimpan di relung rasanya X)

Ah, iya. Baru tahu (tadii banget, pas abis nyelesain novel ini dan langsung cek di Goodreads), kalau novel ini adalah novel terbitan tahun 2013 yang sudah direvisi. Kurang tahu novel lamanya gimana, yang pasti suka sama beberapa punchline di novel ini.

Salah satunya, saat Caesar debat sama Raisa dan Raisa seolah terus mementahkan argumennya, Caesar menggerutu dalam hati:

"Kenapa di depan Raisa ia selalu serbasalah?" 🤣🤣
Profile Image for Sucia.
28 reviews324 followers
July 3, 2025
Baru berkesempatan nulis review setelah membaca novel ini. Jujur pas baca ini banyak kalimat-kalimat yang aku skip. Mungkin karena di bab-bab pertama aku sudah menebak jalan ceritanya, dan yap benar sekali setiap patahan konflik, menebak jalan cerita yang akan diambil penulis, dan yap benar dugaanku. Tapi aku mendapatkan pengetahuan terkait pekerjaan Raisa di penerbit, ada pengetahuan baru yang aku dapatkan dari novel ini. Selain itu, aku kaget loh ternyata hubungan Raisa dan cowoknya ini begini (?) kebingungan, kok tiba-tiba bisa gini. Agak kaget pas konflik seperti ini, apalagi Raisa yang digambarkan sebagai seseorang yang teguh pada pendirian, tetapi ada suatu saat dia mengambil keputusan yang salah ((agak bingung tapi mencoba untuk memahami)). Pas ending merasa sangat kurang gregeeeet. Oke, mungkin bukan tipe buku yang aku suka, tapi cocok dibaca buat hiburan xixixixi

Profile Image for Eva.
Author 24 books121 followers
September 16, 2014
3,5 bintang

Mengharukan, bikin nangis bombay :')
Penuh makna.
Lucu dan fresh.

Bagian Frankfurt book fairnya informatif. Seting Jermannya kerasa. Dramanya dapet. Ditambah kaya dengan konflik Mei 98. Masalah pacaran remajanya juga.

Meskipun begitu ada bagian-bagian yang ganjil. Seperti kenapa Raisa merasa enggak dianggap orangtuanya hingga nyaman dengan perhatian Caesar pas remaja. Sebelumnya enggak dijelasin apa-apa. Justru katanya orangtuanya protektif. Dan beberapa keganjilan lain. Seperti ada bagian hilang. Lea hanya menjelaskan secara singkat di depan saja. Tetapi jadi terasa ada yang patah.

Selebihnya suka :D
Jadi penasaran dengan novel Lea yang lain.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews69 followers
May 10, 2014
Plot maju mundur, bikin buku ini jadi enak dibaca. Memang nggak terlalu runut, tapi dengan beberapa pemilihan kata yang cenderung jadi sesuatu yang misterius, cerita waktu plot maju, bisa jawab semuanya.

Konfliknya cukup oke, dengan beberapa kali dilematis. Nggak terlalu dipaksakan. Perjuangan Caesar, cara menghindar Raisa, cara menghindar ala Marco. Well, perkara move on memang nggak pernah ada habisnya buat dibahas.

Akhir cerita yang bahagia, bikin semua-muanya makin apik. Great!
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
December 8, 2016
3.5 bintang dari aku.
Buku #JumatKePerpustakaan jilid 4.
Ini pertama kalinya aku baca tulisan mbak Lea dan aku suka.
Temanya bagus, pemilihan karakter bagus, penulisannya juga bagus, hampir semua bagus.

Cuma aku agak nggak suka endingnya aja sih.
Gimana ya.. Kok rasanya cepet banget gitu Raisa memutuskan setelah dinasihati Marco.
Aku termasuk orang yang nggak bisa menoleransi kekerasan sih, jadinya sebel aja ahahaha.

Lepas dari itu semua, oke kok.
Jadi makin semangat nyari beasiswa #lho :p
Profile Image for Rina Suryakusuma.
Author 17 books111 followers
March 21, 2014
Suka mengikuti kisahnya Raisa.
Campuran konflik yang dibubuhkan penulis untuk bikin perasaan Raisa teraduk-aduk pas takarannya :)
Profile Image for Leila Rumeila.
1,000 reviews28 followers
December 4, 2023
1st read (by ebook) & 2nd read (by audiobook) : solid 4-star!

Bagus. Engga ekspek konflik di baliknya ternyata seintens itu.
Profile Image for Erma Aulia.
73 reviews4 followers
June 29, 2022
Pergi ke Jerman adalah impian Raisa, apalagi tujuannya ke Jerman adalah menghadiri Frankfurt Book Fair, untuk berburu copyright yang mungkin bisa menyelamatkan AHa Publishing dari keterpurukan. Disana dia menemukan buku Cedar Incense yang ternyata ditulis oleh orang Indonesia yang tinggal di Jerman! Tapi sayangnya, Jan Marco, penulis Cedar Incense tidak menginginkan bukunya terbit di Indonesia, wah kenapa yaa? Bisakah dalam 7 hari Raisa mendapatkan copyright Cedar Incense?

Satu lagi nih buku yang aku pilih baca karena cover dan tanpa baca blurb 😂 yaaa walaupun nggak begitu kaget sih dengan dunia perbukuan yang dibahas, karena udah terpampang jelas di cover nya, ceritanya relate buat temen-temen yang bekerja sebagai editor.

Dan diantara kepusingan Raisa bujuk Jan Marco supaya mau jual copyright nya, rupanya di Jerman, Raisa malah ketemu dengan seseorang dari masa lalu nya yang berusaha keras dia lupakan, nah aku fikir hubungan Raisa dengan orang ini tuh hanya sekedar mantanan gitu yaa kan, rupanya malah dapet plot tidak terduga, dan itu malah menjadikan buku ini lebih terasa 'ngena'. Ah, aku dibuat nangis terharu dengan perjuangannya Raisa :')

Hal yang menarik dalam buku ini menurut ku adalah, tentang buku Cedar Incense itu, dalam buku ini disebutkan, kalau buku Cedar Incense menceritakan kisah tragis dibalik kerusuhan di Indonesia pada Mei 1998, dan tentu aja itu berkaitan langsung dengan penulis nya, Jan Marco. Jelas aja sih, Raisa berusaha keras buat bisa dapetin copyright nya.

Lewat Raisa dan Jan Marco, buku ini mengajarkan supaya kita bisa menerima masa lalu apapun itu, karena alih-alih dengan berusaha melupakan, yang serupa lingkaran nggak putus-putus, lebih mudah untuk menerima dan terus maju kan?

3.9/5⭐
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
February 26, 2016
review lengkap http://kubikelromance.blogspot.com/20...

Sebagai editor buku, impian Raisa untuk pergi ke Frankfurt Book Fair, Jerman akhirnya terwujud juga. Frankfurt Book Fair adalah acara tahunan yang mempertemukan kalangan profesional penerbitan, pemasar buku, agen naskah, sampai produser film yang berminat mengadaptasi buku-buku yang dipamerkan. Tujuan Raisa memang bukan untuk jalan-jalan semata atau membeli buku idaman-nya, tetapi mengemban tugas yang cukup berat dari AhA Publishing, tempatnya bekerja. Raisa harus bisa menemukan buku yang bisa diterjemahkan dan akan booming di Indonesia, kalau tidak, nyawa penerbitan tersebut akan mati karena sekarang saja sudah diambang kebangkrutan. Dengan sisa tabungan Dru, atasannya dan tabungan pribadinya sendiri, Raisa bertekad akan menemukan satu buku yang bisa membawa AhA Publishing kembali eksis.

Cedare Incense, itulah buku yang dilirik Raisa, dia yakin buku itu akan meledak di pasaran, Raisa sudah membacanya berkali-kali dan terkesima akan cerita yang dibuat oleh Jan Marco, penulis Jerman yang mempunyai darah Indonesia. Cedare Incence bercerita tentang kisah cinta orang Tionghoa dan gadis Betawi, berlatar kerusuhan Mei 1998. Raisa tidak menyangka buku yang best seller di luar sana ternyata bercerita tentang negaranya, apalagi selama pameran buku tersebut laris manis dan Jan Marco menjadi buah bibir, Raisa harus bisa mendapatkan hak cipta untuk diterjemahkan di Indonesia. Sayangnya, permintaan Raisa untuk membeli copy right buku tersebut ditolak mentah-mentah oleh agen Cedar Incense dengan alasan Raisa adalah orang Indonesia. Agen buku tersebut mengatakan kalau sang penulis sama sekali tidak memperbolehkan buku tersebut diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia.

Tentu saja menjadi tanda tanya besar bagi Raisa kenapa buku tersebut tidak boleh diterbitkan di Indonesia, dia tidak mau menyerah. Dengan sisa uang dan waktu yang tidak banyak, Raisa mengejar Jan Marco, untung saja ada Lilo yang menemani dan membantu selama di Jerman. Raisa tidak pernah menyangka kalau perburuan Jan Marco mengantarkannya pada seseorang, pada masa lalu Raisa.

Awalnya ketika membaca sinopsis buku ini, Frankfurt Book Fair lah yang menjadi sorotan utama, ternyata bagian itu hanya permulaan saja. Membaca penjelasan penulis di blog, saya jadi tahu cikal bakal novel ini. Saya pun suka dengan ide bagaimana penerbit Indonesia bisa mendapatkan hak cipta buku luar, jujur saja saya baru tahu kalau salah satu caranya adalah mengunjungi pameran buku yang cukup terkenal itu. Konfliknya sendiri si penulis tidak mau menjual hak cipta ke editor tersebut. Sampai sini sudah cukup membuat saya penasaran, kemudian saya dibawa ke bagian lain, yang menjadi fokus utama buku ini. Penulis benar-benar membuat saya hampir tidak bisa menebak akhir cerita.

Yang gampang ditebak, saya langsung tahu kalau Caesar pasti punya hubungan dengan Raisa dan pasti akan bertemu tanpa sengaja. Yang tidak bisa saya tebak adalah masa lalu mereka, yang ternyata menjadi konflik utama buku ini. Alur yang dipilih penulis adalah maju mundur, cukup menambah rasa penasaran. Saya juga suka gaya bercerita Lea, cukup ngepop dan ringan, nggak belibet atau ada kata-kata yang susah dipahami. Ini kali kedua saya membaca tulisan Lea, pertama adalah ketika membaca cerpennya di buku Autumn Once More (iya, reviewnya belum ada). Untuk cover, PlotPoint emang nggak pernah mengecewakan, saya suka ciri khas cover-nya yang seperti sketsa dan lukisan, enak dipandang mata :D.

Sebenernya, saya lebih suka konflik si penulis yang tidak mau menjual hak cipta ke editor kemudian mereka saling jatuh cinta, emang gampang ditebak sih, hehehe. Soalnya penulis mengecoh saya, seperti yang saya bilang tadi, tertarik dengan buku ini karena Frankfurt Book Fair dan si editor mengejar penulis, ditengah-tengah cerita Lea beralih haluan memfokuskan cerita ke masa lalu Raisa dan menyisipkan sedikit misteri yang berhubungan dengan kerusahuan Mei 1998, padahal kalau digali lagi pameran buku tersebut dan fokus di sana, akan informatif sekali. Saya juga kurang merasakan aroma Jerman-nya. Salah satu yang membuat saya terganggu adalah, ketika penulis mendeskripsikan tokoh yang dia buat, dia selalu menyebut tokoh nyata sebagai gambarannya, cukup mengganggu sih, apalagi kalau saya nggak tahu orang yang dimaksud dan males kalau harus googling. Lebih efektif dan mempunyai ciri tersendiri bila penulis mendiskripsikan orangnya secara detail, misalnya saja matanya seperti apa, rambutnya dan postur tubuhnya gimana, mendorong pembaca untuk berimajinasi secara bebas.

Untuk karakternya sendiri, saya cukup menyukai Raisa, dia pantang menyerah dan punya pendirian yang kuat, sedangkan Caesar, dia agak nyebelin tapi penulis membuat kedua tokoh utama buku ini mengalami perkembangan karakter seiring dengan perkembangan konflik yang dia ciptakan. Bisa dipahami akan keputusan yang diambil keduanya untuk menentukan kehidupan masing-masing.

Walau terkesan memaksakan memasukkan tiga unsur penting ke dalam satu cerita; Frankfurt Book Fair yang bersetting di Jerman, masa lalu Raisa-Caesar, dan masa lalu Jan Marco yang berujung kerusuhan Mei 1998, cukup diapresiasi karena penulis membuatnya saling berkaitan alias nyambung. Apalagi ada rasa petualangan dan misteri yang penulis tambahkan, membuat banyaknya konflik di buku ini cukup nikmat untuk diikuti.

Buat yang pengin baca kisah cinta yang agak ruwet, buku ini bisa menjadi pilihan :D

3 sayap untuk Cedar Incense.
Profile Image for Ana Shofiya.
47 reviews4 followers
January 26, 2023
Menarik karena menceritakan dunia penerbitan, walau cuma sekilas. Kadang ceritanya cringe abis, mugnkin gara2 saya mendengarkan audiobooknya di storytel hehehe. Jalan cerita juga mudah ketebak. Mungkin ini perasaan saya saja tp penulis sering 'telling' seharusnya lebih 'showing'.
Profile Image for Novella Dwisri.
213 reviews11 followers
May 29, 2022
Ini nih yg namanya novel romansa dng latar belakang penerbitan yg gak ngambang kek ceritanya Nuna & Rengga di buku tetangga yg duh sudahlah..
Saya suka saya suka..
Gemes banget sama Raisa di sini.. Ketemu Lilo udah anugerah eh dihadapkan musibah ketemu masa lalu yg menyakiti tapi harus dihadapi karena ia keponakan penulis incarannya untuk menyelamatkan kantornya dari kebangkrutan. Di sini sisi profesional Raisa bakal diuji juga bagaimana ia menghadapi masa lalu yg yakin belum selesai antara dirinya dng Caesar karena saat Caesar bertemu Raisa lagi ia bilang ia masih mencintai Raisa..
Bagi Caesar sulit menjangkau Raisa dng cara biasa makanya pake modus tutor ini.. Raisa gak peduli omongan Rafa yg iri akan kedekatan Raisa-Caesar.
Entah kenapa suka pas Caesar sama Raisa begitu pun sebaliknya.. Flashback masa lalu mereka menarik juga meski masih jadi misteri hal apa yg membuat Raisa segitu bencinya pada Caesar..
Coba baca keempat kalinya, Ra, terus kunjungi lagi Marco, katakan kenapa novelnya harus diterbitkan di Indonesia bukan untuk bisnis tapi menolong orang lain untuk paham kejadian dibalik tragedi 98. Penasaran sih alasan Marco membenci Indonesia segitunya? Kekasihnya diperkosa dan mati atau kenapa sih dia yg punya darah Indonesia malah benci Indonesia?Penelusuran Raisa akan kisahnya Marco lewat ponakannya, Caesar, memberi ide buat menyelinap ke rumah Marco untuk menemukan bahan demi meyakinkan Marco agar mau menerbitkan bukunya di Indonesia, tidak membenci Indonesia, dan kembali bersama keluarga yg mencintainya tanpa syarat..
Raisa ketemu Alena, cewek yg dekat dng Caesar, dia bilang gak suka haha cemburu ya, Ra?
Caesar sadar Raisa emang masih mencintainya tapi kesalahan masa lalu membuat mereka terpisah jauh.. Duh belum dibuka aja cerita perpisahan Raisa-Caesar kek gimana..
Tuh, kan, cemburu ya, Ra! Gak rela pengganti dirinya itu, Alena. Padahal di hati Caesar masih kamu, Ra!
Raisa bohong ke Dru soal novel Marco bakal selamatkan kantor penerbitan mereka padahal belum tentu Marco mau.
Masih banyak yg perlu diurai, di eksplorasi ya, Ra, terutama hubungan kamu dng Caesar..
Wah wah apaain nih? Lilo beneran jatuh cinta pada Raisa. Pas nyatain perasaannya belum juga dijawab Raisa, Caesar muncul setelah mengantar Alena pulang. Langsung nyeret Raisa dari Lilo dng bilang Raisa istrinya! Gila! Sinetron macam apa ini? Wkwk..
Raisa & Caesar sempet nikah? Kenapa Caesar pake sebutan "wife" buat Raisa di depan Lilo?
Wah wah kejutan yg gak bikin terkejut karena saya nyontek secara acak beberapa halaman bahwa kisah Raisa-Caesar ini semacam sinetron Agnes Monica-Sahrul Gunawan juga film Reza Rahadian-Adinia Wirasti based on novel metro pop juga..
Raisa lupa berdamai dng masa lalu, ia terlalu sering memupuk benci dan membuat kebahagiaan semu..
Suka banget sama Raisa karena dia juga suka kupu2 meski gak dijelasin detail secara filosofis (ya buat apa juga ya ini bukan Blue Morpho--eh)..
Caesar sabar banget ya.. Bisa jadi sabar itu nama tengahnya makanya wah gila sih otaknya, modusnya, privilegenya, usahanya, kesabarannya, & rasa sayangnya pada Raisa.
Sahabat tokoh utama selalu memainkan peranan yg menarik perhatian saya, ya.. Oh Viny, makasih sudah menemani Raisa di awal2 kehancuran hatinya..
Meski ada kesan "pertolongan" yg sepadan untuk memudahkan tujuannya Raisa tapi lumayan kok ngasih gambaran secara general susahnya berjuang mendapatkan hak penerjemahan sebuah buku ya.. Senengnya penjelajahan hatinya Raisa ini saya tidak merasa dicurangi.. Ngalir dng dampak yg kadang bikin emosi ini ikutan beraksi: ketawa dan sedikit panas berurai air mata.

Ah reviewnya masih belum rapi bahasannya nanti balik rapihin lagi aja..
Profile Image for Ardina Alth Mora.
487 reviews16 followers
March 1, 2023
“Kita tidak bisa menyamaratakan kesedihan orang lain dengan kesedihan kita: menyamakan kemampuan kita untuk survive dengan kemampuan orang lain”__ *lupa menit keberapa yang dikatakan Raisa ke Marco.
.
Ini menceritakan tenta Raisa, seorang editor di AHA Publishing. Dan Raisa punya mimpi bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair *aku sampai nyari tau ni book fair hihiih. Raisa punya kesempatan bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair yang udah pasti senang bangat dengan terwujudnya mimpi itu. Tetapi Raisa juga punya misi penting demi kelangsungan AHA Publishing kedepannya yang sedan diambang kebangkrutan yaitu dengan membawa pulang copyright dari novel best seller yang berjudul “Cedar Incense” yang ternyata penulisnya orang Indonesia. Novel yang berlatar kejadian di tahun 1998 dan sudah diterbitkan di berbagai negara kecuali Indonesia.
.
Jujur awalnya kurang menarik dengan ceritanya sempat mikir bakal cerita romance yang menye-menye gitu. Tapi beda banget setelah masuk part dimana penulis “Cedar Incense” yang bernama Jan Marco menolak mentah-mentah permintaan Raisa untuk membeli copyright novelnya. Ceritanya malah semakin menarik dan semakin penasaran dengan masalalu Raisa ketiak bertemu dengan Sesar setelah sekian lama Raisa berusaha menghindarinya dan menghapus Sesar dari hidupnya.
.
Raisa tidak hanya berjuang untuk mendapatkan copyright novel “Cedar Incense” dari Marco yang bersikeras tidak akan membiarkan novelnya terbit di Indonesia, tetapi Raisa juga harus menghadapi masa lalunya yg selama ini dihindarinya. Dari awal gak nyangka ternyata konfliknya cukup “wow seintens itu ternyata ya". Ya, dari cerita masa lalu Raisa, Sesar, Marco kita belajar untuk yg namanya kebahagiaan kita harus lebih dulu berdamai dengan masa lalu kita. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa berdamai dengan segala bentuk cerita masa lalu, butuh perjuangan yg tidak mudah untuk bisa sampai kesana. Seperti kata Raisa “…Kita tidak bisa menyamaratakan kesedihan orang lain dengan kesedihan kita: menyamakan kemampuan kita untuk survive dengan kemampuan orang lain”.
Profile Image for Theresia.
108 reviews5 followers
October 21, 2017
beberapa flashback menceritakan masa lalu yang menjadi sumber pertengkaran mereka di masa kini. Pernikahan dan keguguran. Dalam resah dan takut, mereka mengucapkan perpisahan.
💍 Kabar buruk dari Dru semakin membuat kepala Raisa pusing. Dengan putus asa ia menemui Marco, bukan untuk Cedar Incense tapi untuk menyadarkan Marco dari masa suramnya. Ia berniat menasehati Marco tentang apa yang telah ia lewati selama ini. Tapi bukan Marco yang menyesal, Raisa lah yang merasakannya. .
✈ Jarang sekali penulis yang menyenggol peristiwa Mei 98 dan aku selalu menghormati penulis yang berani membawa hal teraebut dalam tulisannya
✈ alur cerita yang maju mundur tidak membuatku bingung, dan bahasa asing yang digunakan pada posisi yang tepat dan tidak kebanyakan.
✈ Cerita cinta yang misterius hingga akhir. aku terkaget sendiri sama penyelesaian konflik yang sangat cepat. Its okay, tapi aku berharap Raisa dan pasangannya berkumpul lagi di Indo bersama keluarga lengkap mereka. It will make me more happy. .
Profile Image for Lea Citra.
Author 13 books58 followers
March 20, 2014
Ide novel ini berawal dari pemikiran tentang, bagaimana sih penerbit-penerbit di Indonesia bisa mendapatkan hak edar/terjemahkan novel-novel import? Pasti kan mereka pergi ke suatu pameran internasional dan mencari buku-buku yang sedang booming untuk diterbitkan di Indonesia.

Iseng aku tanya ke Marcom sebuah penerbit di tanah air, kemana sih biasanya editor mereka suka mengunjungi pameran? Tercetuslah nama Frankfurt Book Fair.

Sampai situ ada ide untuk bikin kisah tentang editor yang pergi ke pameran buku di luar negeri dan waktu mau beli hak edar suatu novel ternyata ada masalah, yaitu si penulis tidak mau menjual hak edarnya khusus ke dia, karena sebab-sebab khusus (waktu itu belum kepikiran apa). Tadinya sih ceritanya mau dibikin si editor dan penulis akhirnya jadian, tapi kayaknya ketebak banget ya.

Lengkapnya, silakan klik ini http://mellamocitra.weebly.com/4/post...
Displaying 1 - 30 of 42 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.