Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Rate this book
“Dia korban perkosaan,” bisikan lelaki berjas putih itu menyakitiku.
Korban perkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam itu menghempaskan aku kepada jurang kenistaan.
“Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala.
“Kenapa?” tanya seorang wanita, juga berpakaian serbaputih.
“Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stress, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”
……………
Huru-hara 1998 tak sekadar telah menimbulkan perubahan besar di negeri ini. Sebongkah luka yang dalam pun menyeruak di hati para pelakunya. Mei Hwa, gadis keturunan Tiong Hoa adalah salah satunya. Dalam ketertatihan, Mei Hwa berusaha menemukan kembali kehidupannya. Beruntung, pada keterpurukannya, dia bertemu dengan Sekar Ayu, perempuan pelintas zaman yang juga telah terbanting-banting sekian lamanya akibat silih bergantinya penguasa, mulai dari Hindia Belanda, Jepang, hingga peristiwa G30S PKI. Sekar Ayu yang telah makan asam garam kehidupan, mencoba menyemaikan semangat pada hati Mei Hwa nan rapuh.
Dalam rencah badai kehidupan, berbagai kisah indah terlantun: persahabatan, ketulusan, pengorbanan dan juga cinta. Lewat novelnya ini, Afifah Afra kembali mengobrak-abrik emosi pembaca lewat novel bergenre fiksi sejarah yang sarat konflik, diksi menawan dan pesan yang sangat kuat.

368 pages, Paperback

First published December 1, 2013

10 people are currently reading
112 people want to read

About the author

Afifah Afra

62 books222 followers
Afifah Afra telah aktif menulis sejak kecil. Hingga sekarang, telah menghasilkan lebih dari 50 judul buku, serta ratusan cerpen, artikel dan syair yang dimuat di berbagai media. Aktif di Forum Lingkar Pena, sekaligus menjadi pendiri dan CEO di PT Indiva Media Kreasi (penerbit buku).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
50 (36%)
4 stars
60 (43%)
3 stars
24 (17%)
2 stars
4 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 41 reviews
Profile Image for Thomas Utomo.
Author 7 books5 followers
May 5, 2014
Isinya JAUUUUUUUUUUUUUUH lebih bagus dan menarik menarik dari Katastrofa Cinta--bukan berarti Katastrofa Cinta nggak menarik, ya.
Bahasa yang digunakan lebih halus, mengandung satir dan guyon yang ironis (bagian tukang sampah Sutoyo). Bagian-bagian yang terlalu cepat di Katastrofa Cinta, ditambah sedemikian rupa jadi lebih komplit. Pergeseran pemahaman yang ada di novel ini, yaitu Sekar Ayu Kusumastuti bukan anggota Gerwani, melainkan sekadar simpatisan yang kemudian malah terseret masuk ke Kamp Plantungan.
Salut dan ucapan terima kasih buat Afifah Afra yang terus menunjukkan peningkatan mutu di tiap novel terbarunya (dulu saya kira, novel Kesturi dan Kepodang Kuning--yang terbit 2013--merupakan novel terbaik Afifah Afra dibandingkan novel-novel yang ditulis tahun-tahun sebelumnya, tapi ternyata, novel Mei Hwa ini--yang terbit Januari 2014--memiliki mutu yang lebih baik dari Kesturi dan Kepodang Kuning). :)

Beginilah resensi saya:

Uraian sejarah dalam buku teks atau jurnal ilmiah sering kali disampaikan dalam bahasa yang terlalu resmi dan cenderung kaku, karena berisi urutan-urutan kejadian beserta titimangsa-nya yang disambung dengan pendapat tokoh atau pakar tertentu. Akibatnya uraian sejarah dari dua jenis karya tulis tersebut kurang dapat dinikmati kalangan awam maupun kaum muda. Padahal, untuk dapat menjejak masa depan dengan lebih mantap, orang perlu menengok masa lalu untuk belajar daripadanya—bila sejarah itu baik maka dapat diteruskan atau malah dikembangkan, sebaliknya jika sejarah itu buruk maka perlu koreksi dan perbaikan.

Lalu bagaimana jika teks sejarah itu sendiri sukar dicerna atau kurang diminati, karena penyajiannya yang tidak menarik? Jawabannya adalah lewat karya sastra.

Lewat karya sastra berupa prosa—cerpen atau novel—ber-genre sejarah, orang dapat belajar menelusuri dan menghayati sejarah sesuatu kelompok masyarakat atau bangsa. Justru dengan belajar sejarah lewat sastra, orang dapat lebih mendalami sisi kemanusiaan para pelaku sejarah. Tentu saja karena karya sastra menyajikan pengalaman-pengalaman para pelaku sejarah secara lebih personal dan partikularis. Tokoh-tokoh itu bergerak, berbicara, bersenyawa dalam benak imajinasi pembaca, sehingga pembaca dapat turut merasakan, meresapi, dan bahkan berempati dengan peristiwa yang menimpa para tokoh imajinatif itu—yang sesungguhnya kalau ditelusuri jejaknya pasti ada tokoh yang serupa di alam nyata. Berbeda dengan teks sejarah yang lebih mengemukakan urutan kejadian dan cenderung mengabaikan sisi kedalaman psikologis. Tentu saja ini berkaitan erat dengan teknis penyajian.

Kaitannya dengan paparan tersebut, salah satu alternatif karya sastra yang dapat digunakan sebagai bahan untuk menelusuri serta mendalami sejarah bangsa—dalam hal ini bangsa Indonesia—adalah novel ini. Novel karya Sekjend Forum Lingkar Pena Pusat ini mengemukakan riuh rendah sejarah bangsa Indonesia sejak menjelang runtuhnya kekuasaan Hindia-Belanda, kedatangan tentara Nippon, peristiwa G30S/PKI, sampai huru-hara Mei 1998. Tokoh utamanya sendiri dua perempuan lintas generasi—lahir dan tumbuh besar di zaman yang berbeda, namun sama-sama menjadi korban politik dan kekuasaan. Tidak kurang, keduanya juga memiliki latar belakang etnis, ideologi, kelas sosial, dan kecenderungan politik yang berbeda.

Adalah Sekar Ayu Kusumastuti—sang perempuan pertama. Ia lahir menjelang masa akhir pendudukan Belanda. Orang tuanya berasal dari dua etnis yang berbeda: sang ayah dari Hadramaut, Yaman; keturunan kaum pedagang, sedang ibu asli Surakarta dan masih ber-trah ing kesumo rembesing madu—keturunan bangsawan Jawa (halaman 43). Perbedaan latar belakang itu membuat perpecahan di kalangan keluarga Sekar Ayu, karena pasangan tersebut dianggap tidak sepadan, tidak cocokbibit, bebet, dan bobot-nya.

Pada akhirnya kedua orang tua Sekar Ayu berpisah dan korban utama dari perceraian ini adalah Sekar Ayu sendiri—anak malang yang tidak mengerti duduk “persoalannya”. Beberapa tahun berselang dari waktu perpisahan orang tuanya, tentara Jepang datang menjejak tanah Jawa, menggantikan kekuasaan Belanda. Kedatangan bangsa penjajah ini menyeret Sekar Ayu dalam perbudakan syahwat bernama jugun ianfu (halaman 132, 153). Lepas dari cengkeraman bangsa kulit kuning berperawakan cebol, Sekar Ayu kembali terjerembab. Kali ini ke Kamp Plantungan, karena kedekatannya dengan anak seorang petinggi Partai Komunis Indonesia (halaman 268-280).

Perempuan kedua bernama Mei Hwa; gadis keturunan Tionghoa. Sedari kanak-kanak, Mei Hwa dididik untuk tidak bergaul dengan kaum pribumi. Ia dididik untuk mencukupkan diri bergaul dalam lingkaran etnisnya sendiri saja. Kita barangkali sudah mafhum, bahwa hubungan kaum pribumi dengan Tionghoa memang seperti seutas tali getas. Salah satu ingatan sejarah seperti geger pecinan yang menyebabkan jebolnya dinding keraton Kartasura barangkali sukar dimaafkan dan tidak dapat mengelupas begitu saja dari benak. Namun persinggungannya dengan Firdaus; seorang aktivis kampus berdarah asli pribumi, berangsur-angsur menimbulkan simpati Mei Hwa pada kaum yang sebelumnya dihindarinya setengah mati. Bentuk simpati Mei Hwa barangkali baru serupa kuncup ketika Soeharto; sang pemimpin diktator militeristik, lengser keprabon dan disusul huru-hara 1998 yang menyebabkan penjarahan dan pembakaran toko dan rumah milik kaum keturunan Tionghoa, termasuk pula keluarga Mei Hwa. Lebih dari itu harga diri Mei Hwa lahir-batin bahkan turut menjadi korban: ia diperkosa beramai-ramai oleh kawanan bengal beraut muka pribumi (halaman 62, 103, 123, 183).

Hampir sama dengan karya Afifah Afra yang lain—ialah Da Conspiraḉẫo—novel ini pun merupakan representasi pagelaran keanekaragaman dan keberbagaian penduduk dalam sebuah naungan rumah besar bernama Indonesia—dalam novel ini antara lain disajikan tokoh-tokoh keturunan asli Jawa, Sulawesi, keturunan Tionghoa, keturunan Yaman beserta persinggungan dan pergumulan keyakinan mereka.

Novel ini juga menyuguhkan kenyataan getir betapa semboyan bhineka tunggal ika (berbeda tapi bersama, berbagai-bagaai dalam kesatuan, beraneka tapi satu jua) adalah semboyan olok-olok belaka, karena perbedaan yang berada dalam naungan Indonesia justru tidak dipahami sebagai rahmat—sebagaimana firman Tuhan—namun lebih kerap menjadi pemicu sengketa dan membuat berbagai episode sejarah bangsa ini menjadi merah oleh darah.

Akhirnya, membaca novel ini adalah cara asyik dan menyenangkan untuk belajar sejarah perjalanan bangsa. Tidak hanya menghibur, segi informatif serta sisi kemanusiaan para korban dan pelaku sejarah pun dapat pembaca temukan daripadanya. Pembaca dapat turut merasakan kemudian berempati dengan perempuan-perempuan korban ketamakan politik dan kekuasaan. Lebih dari itu, pembaca dapat mensyukuri keadaan sekarang ini—yang meskipun belum stabil dan terus diisi silang-sengkarut urusan korupsi, namun tidak lebih mengerikan dari peristiwa perjalanan bangsa di masa silam yang banyak melelehkan darah, air mata, juga keringat.

Judul : Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Pengarang : Afifah Afra

Penerbit : Indiva Media Kreasi

Cetakan : Pertama, Januari 2014

Tebal : 367 halaman

ISBN : 978-602-1614-11-2

Resensi ini ditayangkan juga di http://www.nabawia.com/read/4291/mene....
Profile Image for ❦.
202 reviews6 followers
September 23, 2025
Apakah kehancuran besar yang menimpa bangsaku bisa terhapus hanya karena usaha-usaha perdamaian?
Pertemuan dua perempuan dari generasi yang berbeda. Keduanya merupakan penyintas dari beberapa peristiwa sejarah kelam yang telah terjadi di Indonesia.

Mbah Ayu yang semasa hidupnya telah merasakan asam garam kehidupan, mulai dari masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga peristiwa 30 Septemper 1965. Sedangkan, Mei Hwa, seorang perempuan cerdas keturunan Tionghoa yang menjadi korban tumbal atas nama perubahan pada peristiwa kerusuhan di tahun 1998.

Ketika dua perempuan itu berjuang demi kemerdekaan untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain, justru nasib mengkhianati usaha mereka dengan menjadikan mereka sebagai korban tumbal atas nama perubahan.
"... Begitulah peradaban. Di satu sisi selalu berhasil memunculkan tokoh-tokoh besar, tapi di sisi lain dengan semena-mena akan menceburkan orang-orang yang berlawanan ideologi ke kubangan lumpur."
p. 164
Lantas, kemanakah nasib kehidupan akan membawa mereka pergi? Apakah akhirnya mereka berdua pada akan mendapatkan kehidupan yang aman atau justru sebaliknya, menderita hingga di penghujung hayat?
"Orang menjadi takut untuk berkorban, karena tanpa berkorban pun, mereka telah menjadi korban. Korban-korban ketidakadilan, kezaliman, kebengisan..."
p. 314
Novel ini menghubungkan tema identitas dan diskriminasi dengan konteks historis Indonesia, terutama yang dialami oleh mantan tahanan politik G30S dan komunitas etnis Tionghoa. Dalam sejarah Indonesia, kedua kelompok ini sering mengalami kesulitan dan perlakuan tidak adil. Para mantan tahanan politik seringkali dicap sebagai pengkhianat, sementara etnis Tionghoa menghadapi diskriminasi karena identitas budaya mereka. Melalui novel ini, penulis mengilustrasikan bagaimana kedua kelompok tersebut berjuang melawan stigma dan pencitraan negatif yang melekat pada diri mereka.

Aku suka dengan konsep ceritanya. Pantas saja berjudul 'Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman', karena novel ini tidak hanya menceritakan perjalanan hidup Mei Hwa, namun juga kehidupan seorang pelintas zaman bernama Sekar Ayu. Nggak menyangka kalau di akhir cerita, tiap tokoh di novel ini saling berkaitan, layaknya benang kusut yang belum sempat terurai. Atau mungkin tidak akan pernah terurai...

Aku juga suka dengan diksi-diksi yang digunakan penulis saat menggambarkan isi hati dan pikiran Mei Hwa dan Sekar Ayu. Diksi yang indah serta memikat hati mampu membuatku merasa tersihir dan masuk ke dalam ceritanya. Sayangnya, aku menemukan beberapa kali kesalahan kepenulisan yang cukup menganggu.

Novel ini cocok dibaca untuk kalian penikmat genre historical fiction karena tidak hanya menawarkan cerita menarik tetapi juga menggugah kesadaran pembaca tentang isu-isu penting seperti identitas, diskriminasi, dan sejarah.
Profile Image for Afifah.
Author 62 books222 followers
January 27, 2014
Novel ini adalah republish dari Katastrofa Cinta, direvisi, tambal sana-tambal sini, serta ditambahi beberapa bab. Jadi, lebih tebal, lebih fresh, dan mudah-mudahan lebih menarik. Selamat membaca :-)
Profile Image for Frida .
10 reviews
April 2, 2014
Setelah beberapa kali membaca novel-novel mbak Afra, jadi terasa sekali gaya bahasanya mbak Afra banget :). Lugas tetapi halus, tegas tetapi santun, satire tetapi indah (nyastra).

Sudut pandang penokohan tertata matang, apik dan konsisten. Tokoh Mei Hwa diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama (aku) dan Sekar Ayu -sang perempuan pelintas zaman- diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Tokoh Mei Hwa sebagai tokoh yang mengalami tekanan mental yang berat memang lebih menarik dan lebih tepat jika penceritaannya menggunakan sudut pandang orang pertama. Pembaca jadi memahami apa sebenarnya yang dipikirkan dan dirasakan sang tokoh yang sakit jiwa.

Sayangnya, tokoh Sekar Ayu jadi kurang dalam tereksplor apa yang sebenarnya dirasakan olehnya. Marahkah ia pada keadaan yang membuatnya terjun ke dalam lembah kenistaan, menyesalkah ia, atau malah justru menikmati perannya sebagai perempuan penghibur.

Sebagai penyuka novel-novel sejarah, sebelum membaca buku ini saya membayangkan porsi sejarah mendapat bagian yang cukup seperti ketika membaca "De Winst", "De Liefde", maupun "Da Conspiracao". Ternyata saya harus menelan sedikit kekecewaan, karena porsi sejarah dalam novel ini tidak digali lebih mendalam.

Apapun itu, novel-novel Afifah Afra selalu nikmat dikunyah sampai lumat tak bersisa :)
Profile Image for Riawani Elyta.
Author 33 books103 followers
April 23, 2014
Novel ini tetaplah menjadi pembuktian akan kepiawaian penulisnya mengolah latar sejarah, mengombinasikannya dengan nilai-nilai idealisme dan religius dalam sebuah fiksi yang berbobot, memiliki “kelas”nya tersendiri dan menyajikan rangkaian plot dan alur yang rumit dalam cara yang brilian. Banyaknya tokoh cerita, tak membuat penulis lalai menyertakan latar belakang mereka, siapa, dan apa kontribusi perannya dalam kisah ini.

Resensi selengkapnya di : http://www.riawanielyta.com/2014/04/k...
Profile Image for Syakila.
6 reviews
April 7, 2014
Tenggelam dalam lautan diksi yang khas mbak Afra banget. Tetapi sedikit terantuk karang-karang yang berserakan. Ah, ya... Mbak Afra terlalu hobi menata karang-karang, sehingga novel ini menyerupai sebuah terumbu karang yang indah. Tetapi aku menunggu sebuah kedalaman dari palung yang semakin menyelam aku semakin terpana dan menari bersama pikirannya. Banyak merenung ya, Mbak Afra. Piiis :-D
Profile Image for Menik Pratiwi.
29 reviews7 followers
May 8, 2014
pilihan diksi yang menawan dan tak biasa, membuat saya tertegun dan terkadang ngintip kamus bahasa indonesia online saat membaca buku ini.
Meski terkadang menjumpai suatu hal yang cenderung dipaksakan dan membuat kening sedikit berkerut, tetapi saya menyukai jalinan cerita dan karakter dalam cerita ini.
Profile Image for Sandyakala.
15 reviews2 followers
January 27, 2014
Pada novel ini terpadu semua unsur yang mendukung keindahan sebuah novel. Bahasa yang keren banget, alur yang penuh liukan, penokohan yang mendalam, dan pesan yang sangat kuat.
Pokoknya mbak Afra banget deh...
Profile Image for Ziyy.
644 reviews24 followers
March 4, 2015
it's a good novel.
the story is good. the writing is, without doubt, well done.
it's just that it was not up to my recent liking.
Profile Image for Juinita Senduk.
120 reviews3 followers
July 3, 2024
Buku ini bercerita tentang Mei Hwa, gadis keturunan Tionghoa, yang menjadi korban pemerkosaan Mei 1998. Dalam pelariannya ke Solo dari sebuah RS. Jiwa di Jakarta, Mei Hwa ditolong oleh Sekar Ayu, seorang perempuan priyayi yang telah merasakan kegetiran hidup sejak ia masih anak-anak, dari mulai Hindia Belanda, pendudukan Jepang, G30 PKI, hingga reformasi.

Buku ini diawali dengan kisah pasangan pemungut sampah dan pemulung yang mendapat keuntungan dari penemuan mayat tak dikenal. Sebelum kemudian berjalan mundur ke tahun 1936, tentang sepasang keluarga priyayi yang memiliki seorang puteri, Gunarti yang menikah dengan seorang pria keturunan Arab, Mudroh. Pasangan suami istri yang kemudian memiliki seorang putri bernama Sekar Ayu.

Kisah yang kemudian bergulir menceritakan kehidupan Sekar Ayu, sejak zaman Hindia Belanda, pendudukan Jepang, Kemerdekaan, G30S PKI, danreformasi. Kehidupan yang penuh kepahitan sejak Sekar Ayu berusia 7 tahun, sehingga membentuk pribadinya menjadi seorang perempuan yang kerap memberontak terhadap hal-hal yang dianggap mengekang dirinya. Pemberontakan yang kemudian membuatnya melahirkan seorang anak di luar nikah.

Sedangkan Mei Hwa, perempuan Tionghoa, yang lahir dari seorang Tionghoa Hongkong dan Ibu Jawa - Menado, digambarkan sebagai perempuan yang berkebalikan dengan Sekar Ayu. Kehidupan Mei Hwa sejak kecil hingga sebelum peristiwa pemerkosaan itu terjadi, digambarkan tak berkekurangan. Nyaris tak ada cacat, mahasiswi kedokteran yang pintar dan disenangi para dosennya.

Saat menjadi mahasiswi di Solo, Mei Hwa bertemu dengan Firdaus, ketua Senat, yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan orasi menentang kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat. Pertemanan yang berlanjut menjadi persahabatan, karena keduanya tidak pernah benar-benar mengungkapkan isi hati masing-masing.

Hingga akhirnya terjadilah peristiwa Mei 1998 yang menghancurkan kehidupan Mei Hwa.

Cerita yang berpindah-pindah, maju mundur, antara Sekar Ayu dan Mei Hwa, begitu juga dengan plot twist yang terjadi di akhir cerita, benar-benar diluar dugaan.

Sayangnya, ada beberapa peristiwa yang menurut saya agak aneh, seperti saat Sekar Ayu yang menghadiri pernikahan Mei Hwa dan melihat kenyataan pahit bahwa kakek Mei Hwa adalah ayah dari Firdaus. Afifah Afra menyebutnya sebagai sepupu, sementara seharusnya Firdaus adalah paman dari Mei Hwa.

Begitu juga dengan Gerwani, Afifah tampaknya mencari jalan aman dengan menggambarkan Gerwani seperti Orde Baru menggambarkan tentang organisasi ini. Sementara sejarah pasca Orde Baru jelas-jelas menyatakan bahwa Gerwani adalah organisasi yang bertujuan agar perempuan menjadi lebih progresif. Hal ini menjadi tidak masuk akal saat digambarkan Sekar Ayu turut serta ketika Barisan Tani ikut menyerbu pesantren milik eyangnya.

Catatan saya, buku ini lebih menggambarkan tentang Sekar Ayu, Sang Pelintas Zaman. Kisah Mei Hwa dan peristiwa Mei 1998, hanyalah sebagai tambahan. Dan berkelindannya mereka berdua pun terasa seperti dipaksakan.
Profile Image for Eyiazzahra Fathurahman.
26 reviews4 followers
March 12, 2014
Judul Buku : Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Penerbit Indiva
Tahun Terbit : Januari 2014
ISBN :978-602-1614-11-2
Tebal Buku : 364 hlm
Ukuran : 19 cm
Harga : Rp55.000,-

Mengenang Tragedi Mei 1998
dan Lintas Peristiwa Sejarah di Indonesia

“Dia korban pemerkosaan,” bisikan seorang lelaki berjas putih itu menyakiti hatiku.
Korban pemerkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam menghempaskan aku kepada jurang kenistaan.
“Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala.
Kenapa?”tanya seorang wanita, juga berpakaian serba putih.
“Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stres, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”
“Aku tak mengerti, kenapa para manusia menjadi seganas itu. mereka telah kehilangan separuh jiwanya.” (dialog hlm.62)
Kerusuhan massal yang terjadi di ibukota negara dan sekitarnya pada 12-22 Mei 1998 merupakan tragedi bangsa paling memilukan dalam rangkaian peristiwa yang pernah terjadi di tanah air. Tragedi tersebut terjadi menyusul demo dan tertembaknya empat mahasiswa Trisakti, diakhiri dengan lengsernya Presiden Soeharto yang sekaligus mengahiri era Orde Baru yang telah lama berkuasa. Dalam dialog Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 dengan topik dari Keterasingan Menjadi Karib di Union City, San Francisco Bay Area pada tanggal 16 May 2010 meyatakan bahwa tragedi itu memakan 1.339 jiwa warga Indonesia, termasuk hampir seratus perempuan Indonesia etnis Tionghoa yang mengalami kekerasan seksual dan diperkosa, lebih dari 5.723 bangunan, 1948 kendaraan dan 516 fasilitas umum dibakar di beberapa kota besar di Indonesia. Sedangkan berdasarkan hasil investigasi AsiaWeek, dinyatakan bahwa setidaknya 1.188 orang tewas, sekitar 468 wanita diperkosa, 40 mal dan 2.470 toko ludes dimakan api, serta tidak kurang dari 1.119 mobil dibakar atau dirusak. Penjarahan, pemusnahan, pemberangusan dan pemerkosaan terutama ditujukan kepada para warga beretnis Tionghoa yang bermukim di ibukota dan sekitarnya.
Sayangnya, hingga kini tidak diketahui pasti siapa dalang di balik kerusuhan yang semestinya bertanggungjawab atas tragedi yang mengoyak citra bangsa tersebut. Peristiwa yang disinyalir didalangi oleh tokoh-tokoh besar dalam jajaran pemerintahan kala itu guna menimbulkan konflik bangsa untuk merebut kekuasaan. Peristiwa itu boleh saja telah berlalu bertahun-tahun lamanya, namun bagaimanapun akan selalu menyisakan luka dan duka mendalam di hati para korban, terutama bagi para wanita yang menjadi korban kekerasan seksual dalam peristiwa tersebut.
Berdasarkan fakta tersebut, penulis menuangkan kisah yang mengharukan dalam sebuah novel fiksi, mengusung tema kehidupan seorang gadis belia sekaligus mahasiswi cerdas di salah satu universitas terkemuka di Jakarta, seorang gadis keturunan Tionghoa, yang turut menjadi korban keganasan para pelaku kerusuhan. Suryani Cempaka Ongkokusuma atau yang bernama asli Ong Mei Hwa harus menjalani kehidupan yang berbeda pasca kerusuhan tersebut bahkan kehilangan separuh kewarasannya. Ayahnya mesti dirawat di rumah sakit jiwa, mamanya tewas bunuh diri, dan kedua kakak laki-lakinya hilang entah kemana.
Dalam keterpurukan dan kesuraman hidup, takdir mempertemukan Mei Hwa dengan Sekar Ayu, sang perempuan pelintas zaman, manusia separuh kayu, yang telah merasakan asam garam kehidupan bersama silih bergantinya penguasa negeri, mulai dari Hindia Belanda, Jepang, hingga peristiwa G30S PKI. Berbagai persamaan latar belakang dan kisah hidup membuat Mei Hwa dan Sekar Ayu menjadi dua sahabat akrab lintas usia. Keduanya menjalani persahabatan yang mengajarkan arti ketulusan, pengorbanan, dan juga cinta.
*****
Sebuah novel yang sangat menarik, disajikan dengan diksi yang indah dan sarat konflik, sekaligus menjadi pengingat bahwa di Indonesia pernah terjadi sebuah peristiwa besar yang menjadi tragedi paling memilukan dalam sejarah tanah air, juga dalam sejarah dunia. Sebuah tragedi yang mengoyak kehormatan bangsa.
Penulis novel ini, Afifah Afra, merupakan seorang penulis yang telah melahirkan sekian banyak novel bersetting ideologis dan sejarah. Begitu pula dengan novel ini, sangat sarat dengan informasi akan berbagai peristiwa yang menjadi bagian penting dari sejarah tanah air.
Tema yang diusung dalam novel ini menjadi nilai plus tersendiri di tengah-tengah maraknya novel yang melulu menyajikan kisah cinta. Dengan diksi dan tutur yang memikat khas Afifah Afra, dengan sendirinya novel ini mampu menyedot perhatian pembaca untuk merunut lembar demi lembar kisah yang disajikan. Sudut pandang yang digunakan dalam cerita pun unik karena menghadirkan dua tokoh perempuan berbeda generasi namun memiliki begitu banyak kesamaan luka serta keterkaitan dalam perjalanan kehidupan yang telah dilalui. Tokoh Mei Hwa bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu “aku,” sedangkan tokoh Sekar Ayu diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, yaitu “dia.” Masing-masing bercerita tentang peristiwa penting yang menjadi setting cerita kemudian dipertemukan dalam masa kini di tengah-tengah kesulitan dan kemuraman hidup yang justru membawa pada sebuah persahabatan yang unik.
Sayangnya, penulis tidak terlalu mengeksplor tentang peristiwa Mei 1998. Seandainya penulis menyajikan tragedi tersebut dengan lebih detail, saya yakin ceritanya akan menjadi lebih “greget” dan tajam. Apalagi peristiwa Mei 1998 merupakan peristiwa atau tragedi yang amat keji dan biadab, memilukan sekaligus memalukan dalam sejarah bangsa sehingga melalui novel ini pembaca bisa diingatkan, disadarkan, atau juga menyadari bahwa peristiwa tersebut memang benar-benar pernah terjadi dalam sebuah gambaran utuh yang jauh lebih tragis. Mungkin Mbak Afifah memang ingin lebih memfokuskan cerita pada Mei Hwa pasca peristiwa tersebut.
Peristiwa Mei 1998 yang diangkat dalam novel ini juga pernah diangkat dalam sebuah novel atau cerita fiksi Sekuntum Nozomi 3-nya Marga T. Dalam novel tersebut, Marga T. membahas lebih rinci gambaran peristiwa keji ini. Membangkitkan kegeraman tersendiri bahwa peristiwa keji itu benar-benar terjadi dan dirasakan sangat tidak adil terutama bagi mereka yang beretnis Tionghoa meski telah lama menetap di Indonesia.
Novel Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman ini memiliki kesamaan dengan novel-novel ideologis karya Afifah Afra yang sebelumnya. Persamaannya antara lain terletak pada peristiwa sejarah yang menjadi bagian dari setting dan alur cerita, misalnya pada Tetralogi De Winst (telah terbit 3 buku), juga Trilogi Bulan Mati di Javasche Orange. Namun, tentu saja cerita dan pesan yang disampaikan berbeda dengan novel-novel tersebut.
Mengingat bagusnya muatan nilai yang disampaiakn dalam novel ini, juga karena beragam nila plus yang dimiliki, juga dengan nama penulisnya, maka novel ini menjadi sebuah novel yang sangat layak untuk dimiliki guna menambah khasanah pengetahuan. Semoga pembaca dapat memetik hikmah dan nilainya. Juga berharap semoga tragedi Mei 1998 tidak akan pernah terulang lagi dalam sejarah bangsa.
Sekian resensi saya. Selamat membaca ^_^







Profile Image for R-Qie R-Qie.
Author 4 books9 followers
February 26, 2019
“Sebenarnya tak banyak penduduk negeri ini yang senang mengobarkan api kebencian. Hanya segelintir. Hanya saja, yang segelintir itu ternyata mampu menjadikan percikan api yang semula kecil menjadi kobaran neraka dunia yang meluluhlantakkan segalanya.” (Mbah Murong, hlm. 314)

Mei Hwa, gadis keturunan Tionghoa yang cantik, pintar, serta kaya, menjadi korban pemerkosaan pada peristiwa kerusuhan 1998. Jiwanya tergoncang. Ibunya bunuh diri dan sang ayah masuk rumah sakit jiwa. Sementara kedua saudara kandungnya menghilang entah ke mana. Di tengah keterpurukannya, Mei Hwa bertemu Sekar Ayu, wanita yang lahir pada zaman penjajahan Belanda dan memiliki kisah hidup tak kalah tragis yang memberi semangat pada jiwa rapuh Mei Hwa.

***

Kisah berlatar sejarah Indonesia mulai dari pendudukan Belanda dan Jepang, peristiwa G30S PKI, hingga kerusuhan 1998. Novel ini disajikan dengan rangkaian diksi indah dan bernas. Alur maju mundur dengan dua sudut pandang berbeda bisa dinikmati dengan baik. Alur, konflik, dan segala sesuatunya menarik. Adegan demi adegan terasa filmis. Twist ending yang dihadirkan juga terasa pas dan sedikit menghentak. Meskipun saya bisa meraba dari awal siapa sebenarnya Firdaus, namun kaitannya dengan Mei Hwa benar-benar di luar dugaan saya. Sayangnya, terdapat banyak kesalahan editing. Tak sekadar typo, kesalahan informasi juga mengurangi keindahan novel ini. Empat bintang.

***
Profile Image for dilla.
68 reviews
September 5, 2021
Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Novel dengan latar cerita peristiwa sebelum dan sesudah kemerdekaan, peristiwa G30S/PKI, sedikit di jaman Orba dan setelah Orba. Latar tempat banyak terjadi di Solo

Bercerita tentang 2 perempuan beda generasi yang memiliki permasalahan yang sama, sama-sama menjadi korban.

• Sekar Ayu, perempuan jawa dengan darah ningrat, yang telah dirampas harga dirinya sejak umur 7 tahun oleh tentara Jepang. Dan akhirnya dia juga menjadi Geisha saat berhasil kabur dari sang tentara. Yang akhirnya dia ikut bergabung kepada simpatisan Gerwani pada saat itu, yang mengakibatkan dia sebagai tapol.
• Mei Hwa, perempuan berdarah China dan Minahasa, seorang mahasiswi kedokteran yang telah dirampas juga harga dirinya saat peristiwa kerusuhan '98, yang membuat ia memiliki trauma yang sangat mendalam

Tidak terlalu banyak di ceritakan tentang kerusuhan '98, lebih banyak tentang PKI dan antek-anteknya. Yang benar-benar menghasut masyarakat.

Novel ini menunjukkan ke-bhineka-an menurutku karena tidak hanya orang pribumi atau jawa saja, tapi juga chinese. Unsur politiknya tidak terlalu dibahas dibuku ini, lebih membahas ke masalah personal individu yang mengalami akibat peristiwa keji tersebut. Unsur kemanusiaan sangat kentara.


Dan novel ini sangat plot-twist sekali akhirnya🔥


"Aku tak mengerti, kenapa para manusia menjadi seganas itu. Mereka telah kehilangan separuh jiwanya." Ha. 62
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
June 2, 2021
Seringkali kematian raga diawali dari terbunuhnya asa

Mei Hwa adalah sebuah novel fiksi sejarah Indonesia berlatar belakang peristiwa sebelum kemerdakaan, setelah kemerdekaan sampai peristiwa mei 98

Menceritakan dari 2 kehidupan wanita yang berbeda generasi yakni:

- Sekar ayu, wanita berdarah ninggrat yang harus jadi korban pelecehan seksual dari umur 7 tahun ketika Jepang menjajah ke Indonesia dan kedua orang tuanya ditangkah, dibunuh dan dijadikan geisha
- Mei Hwa, mahasiswi kedokteran berprestasi yang diperkosa bergilir oleh orang pribumi saat kerusuhan mei 98 akibat dia adalah seorang anak keturunan Chinese

dari dua sudut pandang ini, ada berbagai hal yang dapat diceritakan penulis, plotnya sangat kompleks tapi pembaca sama skali tidak merasa bingung.

ada banyak unsur politik, kemanusiaan yang dibahas di buku ini, penulis pun dengan berani menjabarkan mengenai PKI dan pergerakannya beberapa journal yang menjadi sumbernya.

sungguh novel fiksi sejarah yang cenderung tipis tapi dapat dengan apik memuat berbagai scene bersejarah dan pelajaran-pelajarannya dalam hidup. selain itu, karakter-karakter dalam buku ini dibuat se dalam mungkin dengan berbagai layer ciri khas dan background yang sangat apik

HIGHLY RECOMMENDED

Orang menjadi takut untuk berkorban, karena tanpa berkorban pun, mereka telah menjadi korban. Korban-korban ketidakadilan, kezaliman, kebengisan..
Profile Image for Fillah.
169 reviews
December 24, 2020
Novel ini terdiri dari dua kisah
1. Mei Hwa = Gadis cantik keturunan Tionghoa-Jawa-Minahasa yang harus menelan kenangan dan peristiwa pahit akibat kerusuhan yang membakar rumah dan merusak kehormatannya
2. Sekar Ayu = Gadis cantik keturunan Jawa-Arab yang sangat badung dan liar selama masa mudanya, termasuk bergabung menjadi anggota PKI yang menyerang pesantren sehingga membunuh kakeknya sendiri

Dalam buku ini, chapternya bergantian menjelaskan pandangan hidup kedua wanita ini. Pada akhirnya ditemukan benang merah yang ternyata menyambungkan kisah kedua wanita ini.

Buku ini mengajarkan saya untuk selalu bersyukur kepada apa yang saya miliki. Belajar dari Mei Hwa, perbedaan bukanlah hal yang bisa merusak kemanusiaan. Sementara dari Sekar Ayu, saya belajar bahwa hidup ini sementara, tolong pikirkan langkah langkah yang akan kau tempuh sebelum kau segera menyesal.
Profile Image for Booksterfly.
20 reviews1 follower
April 7, 2021
Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman
Afifah Afra

Ketika sibuk menentukan siapa yang paling berdosa, adakah sesuatu yang luput dari pandangan? Masa lalumu bukan hanya milikmu, ia juga merampas keluarga, kesucian, dan akal sehat orang yang tidak bersalah. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Secercah noda hitam di selembar kain putih, membuat bagian yang masih bersih tak dianggap apa adanya.

Meski tertarik maju-mundur oleh Sekar Ayu dan Mei Hwa tanpa tahu irisannya, tali yang kusut akhirnya terurai. Ejaannya yang belum sempurna, tertutupi oleh substansinya yang padat dan bermakna. Afifah Afra mampu merangkum peristiwa dari tahun 1936 hingga tahun 1999 dalam lingkaran etnis, agama, dan politik melalui kurang dari 400 halaman. Sekar Ayu yang melintasi zaman dan bertemu Mei Hwa, mengingatkan berkali-kali bahwa negara ini pernah diliputi kelam di masa sebelumnya.
Profile Image for Mare.
32 reviews1 follower
December 19, 2022
baca ini karena ceritanya soal dua wanita: yang satu adalah wanita keturunan Tionghoa yang jadi korban kerusuhan Mei 98, satunya lagi wanita lain yang udah hidup melewati zaman penjajahan, 65, sampe reformasi. kedua tokoh ini pada akhirnya ketemu di satu titik dan ternyata berkaitan.

sebenernya menarik banget. diksi dan jalinan kalimatnya juga bagus, enak dibaca. sayangnya, perwatakan tokoh sama plot ceritanya agak agak. this has soo much potential and some of it works but well... talking about sekar ayu, i was expecting more of a stronger woman who actually knows what shes doing--sure sure she is indeed strong, tegar menghadapi semua kejadian, tapi yg agak kupertanyakan adalah motif dan resolusinya. entahlah, tapi karena di bayanganku, andai aja dia memperjuangkan hak dan kebebasan enggak dengan cara memanfaatkan parasnya.

dan knp endingnya perlu ada plot twist seperti itu...,,,,
Profile Image for Aprilia April.
5 reviews
April 30, 2023
Buku dengan plot twist ter-asdfghjlkl!

'Kenal' nama Afifah Afra saat masih SMP, saat masih enjoy dengan teenlit-teenlit. Fast forward years later, lihat buku ini di ipusnas langsung pinjam, berharap baca buku enteng tanpa mikir macam teenlit. Eh ternyata salah! Buku ini cukup menguras energi (dan emosi), in a good way. Such a page turner.

Plot maju mundur namun tidak membingungkan. Gaya bahasa khas Afifah Afra yang penuh diksi dan kiasan namun tetap mudah dipahami. Jangan lupa dengan plot twist yang adanya di akhir buku yang bikin haaaah! A must-read book!
Profile Image for Dennisa .
160 reviews
October 17, 2023
Suka banget sama buku ini.
Meski konflik nya cukup rumit tapi ak menikmatinya.

Menceritakan tentang Mei hwa ( Cempaka) gadis keturunan Tionghoa
Yang kehilangan keluarga dan kehormatannya pada kerusuhan mei 1998.

Ditengah pelatianyaMei Hwa bertemu Sekar Ayu, wanita yang lahir pada zaman penjajahan Belanda dan memiliki kisah hidup tak kalah tragis yang memberi semangat pada jiwa rapuh Mei Hwa.

Endingnya plot twist sekali.
28 reviews
November 17, 2017
Novel yang cukup berat, alur yg maju mundur, dan konflik yang membuat penasaran. Sesuai judulnya, pelintas zaman (saat penjajahan belanda, jepang, orla dan orba), membuat sy banyak tau fakta sejarah saat pergantian rezim yg hampir dipastikan memakan tumbal. Recommended!
Profile Image for Dian Arta.
10 reviews
January 9, 2020
Suka sekali dengan novel ini. Sekali membaca halaman pertama, aku tidak ingin berhenti membuka lembar selanjutnya. Akhirnya ingin cepat-cepat menyelesaikan karena penasaran, tegang, dan fiuh, ending yang membuatku harus berkata, "Hah? Beneran?"
Profile Image for asami.
36 reviews1 follower
May 16, 2020
Baru pertama kali baca bukunya Afifah Afra. Kalau lihat darikovernya yang feminin, saya kira novel ini bergenre roman atau teen-lit, tapi pas baca isinya justru historical sekali. Gaya bahasanya keren dan khas, walau ada beberapa kata yang sulit dipahami.
Profile Image for VaaRida.
133 reviews6 followers
September 16, 2021
luar bisa ceritanya, kalau membaca cerita ini bukan lagi tentang bagaimana akhir kisah ini, tapi tentang bagaimana proses alur ceritanya. luar biasa keren,

review lengkap bakalan posting di blog www.blogbukuvaarida.my.id cooming soon yaa
Profile Image for Rira.
35 reviews5 followers
February 22, 2022
The plot is quite interesting but the chinese character isn't quite convincing. Still got a feeling it was an image projected by the outsider. Anyway, it's a brave experiment to portray characters with different ethnicities intertwined their fates in the midst of political unrest in Indonesia.
15 reviews
January 20, 2024
Buku yang sangat bagus. Pemilihan diksi yang begitu unik, berbeda dan begitu khas. Perasaan sungguh diaduk-aduk ketika sampai pada bab akhir. Best novel yang menyatukan gambaran tentang kejadian 1965 dan 1998.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ran.
36 reviews
December 7, 2020
Huhu 😭❤️ belajar banyak hal dari buku ini ❤️
Displaying 1 - 30 of 41 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.