Atmosfer kebebasan yang tumbuh pesat di Era Reformasi dewasa ini tak selalu berbuah manis. Banyak yang ternyata menjadi "korban". Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI pertama yang dua kali terpilih secara demokratis, mungkin yang paling terkena dampak pahit dari ekspresi kebebasan yang membara itu. Bagi SBY, sepertinya tiada hari tanpa kritik, pemberitaan negatif, bahkan fitnah dan serangan-serangan yang bersifat pribadi. Sebagai Presiden yang memimpin di era transisi dan era politik gaduh ini, tentu tak sedikit pula permasalahan dan tantangan yang dihadapinya.
Di penghujung masa kepresidenannya, SBY menulis sendiri pengalaman dan suka-dukanya selama memimpin negeri ini. Ia juga ingin berbagi dengan para pemimpin masa depan dan para pencinta demokrasi tentang pengalamannya menjalankan roda pemerintahan dan sekaligus mengikuti dua kali Pemilihan Presiden, sebagai sebuah pembelajaran. Pandangan dan pemikiran-pemikiran SBY untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan juga disampaikan secara terbuka dan jujur, sebagai refleksi dari penugasan dan pengabdiannya selama lebih dari sembilan tahun ini.
Diharapkan, buku yang ditulis dengan bahasa yang ringan dan penuh cerita ini bisa membuka mata dan hati rakyat Indonesia tentang pikiran, karakter, dan tindakan Presiden SBY, serta apa saja yang telah dilakukan dan dihasilkan oleh pemerintahan yang dipimpinnya. Memang, seperti yang diakui SBY sendiri, segalanya tak selalu mudah dan indah. Masih banyak kekurangan dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tetapi, SBY optimistis, bahwa dengan kebersamaan dan kerja keras, di abad ke-21 ini Indonesia akan menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.
Buku ini telah saya tunggu-tunggu sejak awal pemberitaan Desember silam, Pak SBY ingin menerbitkan sebuah perihal pengalamannya menjabat sebagai Presiden RI. Pada Januari 2014, buku setebal 808 halaman akhirnya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas untuk dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Selalu ada pilihan sesungguhnya adalah pengalaman tidak ternilai dari Pak SBY yang dibagikan dengan tulus kepada semua rakyat Indonesia.
@SBYudhoyono menuliskan isi pemikirannya selama menjabat sebagai kepala pemerintahan NKRI selama hampir 2 periode berturut dengan 4 bagian besar dengan bahasa yang mudah dicerna (tidak terkesan buku ilmiah,red), pertama adalah keadaan riil Indonesia saat ini (Bab 1 "Inilah Negara Kita Saat Ini"), kedua adalah tentang sharing pengalaman saat menjabat sebagai Presiden (Bab 2 "Asalkan Tahu, Beginilah Jadi Presiden), ketiga mengenai berbagi kiat dan tips untuk menuju kursi presiden (Bab 3 "Ingin Jadi Presiden Menangkan Pemilihan Mendatang), terakhir adalah wejangan dan arahan kepada Presiden di masa kerja beriktunya (Bab 4 "Semoga Menjadi Presiden yang Sukses"). Dari keempat bahasan diatas merupakan hal yang relevan untuk diikuti karena selain berkaitan dengan persiapan Pemilihan Umum 2014, Pak SBY selama 2 masa jabatannya belum pernah "berbicara" perihal berbagai tudingan, masalah, maupun topik-topik yang "panas" dibicarakan di Indonesia, misalkan kasus Century, penyadapan oleh negara tetangga, kasus Demokrat. Pak Beye turut memberikan pandangannya soal Presiden RI selanjutnya lewat sebagian besar isi tulisan di buku Selalu Ada Pilihan.
Membaca Selalu Ada Pilihan (SAP) membuka wawasan saya akan sebuah perjalanan seseorang ketika memasuki Pilpres, menjabat sebagai Presiden, dan menyiapkan Pilpres berikutnya dengan kondisi negara tetap OK. Disini kita pertama-tama akan dibawa kepada kondisi riil yang tengah dialami Indonesia. Pak SBY dengan lugas memberikan pendapat dan juga saran untuk perbaikan kondisi Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Beberapa hal yang saya tangkap disini yang menjadi poin-poin yang ingin dibawa lewat buku SAP adalah kondisi politik saat ini mengalami sedikit pergeseran, ketika DPR telah mendapat beberapa amunisi lebih ketimbang DPR di masa orde lama dan orde baru. Presiden tidak lagi bisa dengan mudah membuat kebijakan tanpa melalui tangan DPR. Presiden di masa ini tidak bisa main "keras" atau sedikit "otoriter", jelas ini bukan lagi masanya. Stabilitas politik merupakan perhatian utama dari kerja Presiden. Lewat kondisi yang kondusif, meskipun juga ada gejolak politik disana-sini, niscaya roda pemerintahan dapat berjalan lancar sehingga kebijakan dieksekusi dengan baik. Hal inilah merupakan salah satu alasan Pak Beye tidak reaktif ketika diserang maupun dilecehkan lewat serangan politik maupun pemberitaan yang tidak fair. Modal diatas pun menjadi bekal buat pertumbuhan ekonomi dan gerbang masuknya investasi asing. Kita juga diminta untuk tidak bersikap anti asing.
Di bagian lain Pak SBY mengungkapkan bahwa perubahan yang dirasakan ketika menjadi presiden, pengalaman masa bulan madu saat awal periode kepresidenan dengan media. Sudah merupakan hal lumrah untuk pemberitaan yang ada bisa fair dan ada pula yang hanya menyorot sisi negatif dari istana. Media merupakan teman dalam membangun negara ini. Hal berikutnya yang disinggung adalah ketika memasuki masa Pilpres ini, hendaknya capres tidak memberikan angin surga kepada rakyat, semua kampanye untuk pencitraan hendaknya menampilkan keadaan sebenarnya sosok tersebut. Jadilah diri sendiri adalah bekal positif menuju kursi no.1 di Indonesia. Keunggulan lainnya dari buku SAP adalah kita bisa mengetahui lebih dekat peristiwa-peristiwa yang terjadi saat SBY menjabat, baik interaksi dengan para tokoh di Indonesia maupun pemimpin negara di dunia. Tentunya ini dapat menambah khasanah berpikir kita. Sebagian besar artikel terdapat petikan percakapan membuat pembaca dapat mengerti lebih dalam pemikiran SBY.
Bila dapat disimpulkan, isi dalam buku ini merupakan perenungan dan perhatian Pak Presiden untuk bagaimana Indonesia dapat lebih maju, mensejahterakan rakyat dan berkontribusi pada dunia internasional. Buku ini di layak dibaca bagi semua kalangan, baik dari pelajar hingga politikus. Semua berhak untuk membaca sharing pengalaman dari Pak SBY, dan mungkin untuk anda yang memiliki keinginan luhur menjadi Presiden RI berikutnya.
Sistem pemerintahan Indonesia sekarang sudah sama sekali berbeda dengan Indonesia dulu. Dulu otoriterian, sekarang demokrasi. Dulu wewenang presiden tidak terbatas. Bisa seenaknya menetapkan konstitusi. Punya wewenang membubarkan parlemen/DPR. Punya hak mengumumkan perang dengan negara lain. Sekrang tidak lagi. Undang-undang ditetapkan oleh legislatif, presiden hanya mengusulkan. Tidak berwewenang membubarkan parlemen, bahkan parlemen yang punya hak memberhentikan presiden. Mengumumkan perang harus dengan persetujuan parlemen. Hal-hal yang menunjukkan bahwa sejatinya sistem pemerintahan kita bergerak menuju semi parlementer. Bukan mutlak presidensial lagi.
Hal diatas adalah sedikit dari banyak hal yang dibahas oleh SBY dalam bukunya, “Selalu Ada Pilihan”.
Secara umum buku ini terbagi dalam 4 bab: “1. Inilah Negara Kita Saat Ini”; “2. Asal Tahu, Beginilah jadi Presiden”; “3. Ingin Jadi Presiden, Menangkan Pemilu Mendatang”; dan “4. Semoga enjadi Presiden yang Sukses”; ditambah dengan pendahuluan “Sudah Siapkah Kita?” dan penutupan “Melangkah ke Depan: Peluang dan Pilihan Selalu Ada.” Sesuai dengan judul keempat babnya, SBY melalui buku ini mengajak Pecinta Demokrasi dan Para Pemimpin Indonesia Mendatang untuk melihat realitas di Indonesia pada masa kini, lalu berkisah tentang suka duka beliau selama menjadi presiden, dilanjutkan dengan nasihat-nasihat untuk para penerus bangsa yang ingin menjadi pemimpin masa depan Indonesia.
Sempat saya berharap—meskipun sebenarnya sadar bahwa itu tidak mungkin—dalam buku ini SBY akan membocorkan sedikit hal-hal yang sifatnya dirahasiakan oleh pemerintah selama ini. Dan seperti yang saya duga, tidak ada. Kecuali beberapa hal yang sifatnya rahasia pribadi atau beberapa hal yang bukan rahasia tapi salama ini saya belum tahu. Misalnya sebelum menuju pilpres 2009, SBY terlebih dahulu menanyakan kesediaan anggota keluarga beliau—istri(Ani Yudhayono), anak-anak (Agus Harimurti dan Edhie Baskoro), serta menantu (Anisa Pohan)—untuk mengijinkan beliau mencalonkan lagi sebagai presiden. Pasalnya selama 5 tahun majasa batan pertama beliau, keluarga mau tidak mau juga menerima pedasnya kritik miring, bahakn fitnah keji dari pers dan lawan politik. Sebut saja Ibu Ani dibilang nasrani, Agus Harimurti dibilang sempat meninggalkan tugas ketika menjadi bagian pasukan perdamaian di Lebanin, hingga Ibas (Edhie Baskoro) dikatakan suka memakai pakaian lengan panjang karena tangannya penuh bekas jarum suntuk dan silet (artinya pemakai narkoba). Selain itu, ada pula cerita ketika DK PBB membahas resolusi mengenai isu nuklir Iran (2007)—saat itu Indonesia menjabat sebagai anggota DK PBB—Prsiden RI sempat menolak menerima telepon dari Presiden Iran, Presiden Ahmadinejad, dan Presiden Amerika Serikat, Presiden Bush.
“Pak Presiden, barangkali Bapak adalah Presiden pertama di dunia ini yang tidak mau menerima teleponnya Presiden Amerika Serikat.” {SBY mengutip kelakar Dr. Dino Patti Djalal (Staf Khusus Presiden Hubungan Internasional) dalam Selalu Ada Pilihan: 165)
Ditanya idealisme yang disampaikan SBY dalam buku ini, jelas. Sama dengan sikap dan ucapan beliau selama ini. SBY mendukung demokrasi di Indonesia beserta seluruh proses yang harus dijalani. Sekalipun, justru sebenarnya selama 9 tahun ini beliau adalah korban dari demokrasi kebablasan di Indonesia. Kritik, kecaman, hujatan, cacian dari pers, lawan politik, maupun para demonstran. Beliau hanya berharap Indonesia akan mencapai demokrasi yang lebih matang pada masa mendatang. Beliau mengharapkan peran pers yang debih seimbang dalam menyambaikan berita, juga sikap dewasa dari para elit politik di Indonesia.
Mengenai politik luar negeri, tetap dengan politik bebas aktif. Yang selama pemerintahan beliau diwijudkan dalam kebijakan thousand friends zero enemy.
Ada yang menarik mengenai rahasia bagaimana beliau bisa tahan menghadapi cacian, hujatan, dan makian selama ini. Salah satunya adalah karena beliau percaya bahwa ucapan-ucapan miring itu tidak mewakili kebanyakan isi hari rakyat Indonesia. Semuanya kelihatan besar hanya karena diblow up oleh media-media besar. Buktinya nyata. Pada 2004, sekalipun saat itu SBY dihajar oleh media-media besar dengan hujatan dan cacian, nyatanya tetap terpilih kembali dengan jumlah suara dan presentase kemenangan lebih besar. Selain itu, beliau melihat pula hasil survey dari 3 lembaga (tidak disebutkan namanya), SMS dan surat yang masuk ke Presiden, serta spontanitas rakyat ketika beliau berkunjung ke daerah. Tiga hal di atas menunjukkan positif, SBY dicintai rakyatnya.
Satu lagi review yang ingin saya bagikan. Awalnya SBY tidak berpikir untuk menjadi presiden. Beliau hanya menginginkan beberapa jabatan lain yang tidak setinggi itu. Itupun ternyata gagal dia raih. Pada saat menjadi bagian Angkatan Darat TNI, beliau sangat ingin mencapai jabatan KepalaStaf Angkatan Darat (KSAD). Tidak kesampaian. Meski namanya sudah diusulkan oleh Panglima TNI saat itu ( Jendral Wiranto), Presiden Gus Dur menolaknya. Alasannya Gus Dur meminta SBY menjadi menteri. SBY terpaksa mengalah meski sebenarnya beliau jauh lebih menginginkan jabatan KSAD dibanding menjadi menteri. Bahkan pada dua masa pemerintahan sebelumnya, SBY sebenarnya juga sempat diajak menjadi menteri tapi dia tolak demi mengejar impian menjadi KSAD. Pada masa selanjutnya, SBY juga sempat ingin menjadi wakil presiden. Yakni pada pemilihan wakil Presiden Megawati, yang pada akhirnya SBY kalah dari Hamzah Haz. Dua kali SBY gagal mencapai cita-citanya. Tapi dia ikhlas menerima. Akhirnya, tidka jadi wapres dia malah jadi presiden. Tidak jadi KSAD malah jadi panglima tertinggi TNI. SBY berharap pemimpin masa depan Indonesia belajar darinya. Mau jadi presiden, harus siap ikut pemilu. Ikut pemilu, harus siap kalah dan siap menang. Toh, asalkan mau menerima dengan legowo dan belajar dari kesalahan, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda.
Ada bnyak hal lagi yang disampaikan di sana. Tapi gak mungkin saya sebutkan semuanya.
Setelah membaca buku ini saya jadi tau, bahwa seorang presiden pun sama seperti kita. Terkadang rapuh karena diterpa berbagai tekanan. Namun pelan-pelan kita belajar, seperti yang pak SBY bagikan di dalam buku ini. Pelan-pelan mulai memahami bahwa kita perlu untuk terus teguh dan bersabar. Selain itu, saya jadi sedikit lebih memahami pandangan Pak SBY mengenai bagaimana beliau melihat kehidupan.
Menurut saya buku ini sangat layak untuk dibaca, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan hidup Pak SBY. Ketika membaca buku ini, saya pun banyak mendapati kisah-kisah yang ternyata relate dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari bagaimana beliau menghadapi dilema dalam mengambil keputusan, atau menyikapi berbagai ketidakpastian yang seringkali terjadi di kehidupan. Saya rasa buku ini bisa menjadi warisan pemikiran yang segar untuk generasi-generasi mendatang.
Buku ini menawarkan perspektif yang berbeda. Ketika keputusan seorang pemimpin tertinggi diambil, tak banyak literatur yang menggambarkan bagaimana situasi di sekeliling pengambil keputusan. Apa pertimbangan dan latar belakang keputusan tersebut diambil.
Buku ini menggambarkan secara detail tantangan yang dihadapi oleh seorang presiden. Dengan membaca buku ini, paling tidak kita sadar bahwa menjadi presiden tak selamanya enak. Misalnya, anggapan bahwa seorang presiden bisa berbuat apa saja ternyata tak sesuai kenyataan. Kekuasaan presiden tidak tak terbatas. Begitu pula ketika seorang menjadi presiden, maka keluarganya juga akan mendapat spotlight, lampu sorot. Keluarga tersebut tidak akan pernah menjadi keluarga normal lagi.
Buku ini juga bagus untuk pelajaran bagi pemimpin Indonesia selanjutnya. Ada beberapa bagian yang pasti akan dialami oleh semua Presiden Indonesia. Ada satu bagian dalam buku ini yang menceritakan realita bagaimana ternyata dukungan seseorang terhadap calon presiden tidaklah tulus. Ada harapan untuk menjadi pejabat melalui presiden tersebut. Jika tidak dipenuhi, orang tersebut akan mati-matian melawan dan menantang sang presiden. Apapun yang dilakukannya akan salah. Kita bisa melihat itu akhir-akhir ini, bukan.
Dari perspektif lain, buku ini juga semacam buku putih yang berisi pembelaan SBY atas serangan - serangan yang ditujukan kepadanya selama menjabat sebagai Presiden 2 periode.