Ni Lan rela membuang keabadian agar dapat bersama dengan manusia yang dia cintai. Dia pun rela menjalani ujian cinta di tujuh kehidupan, menjalani berbagai kesedihan dan perpisahan. Di kehidupan ketujuh, Ni Lan bereinkarnasi menjadi Lila Julietta, seorang mahasiswi. Sang kekasih, Cai Cheng, menjadi Jonathan Rafael. Mereka telah jatuh cinta sejak kecil. Namun, permusuhan keluarga menjadi penghalang.
Di dunia atas langit, Nareswari menolak perjodohan dengan Pangeran Asgard, karena dia tidak mau mengalami kegagalan cinta untuk yang kedua kalinya. Bunda Niwa, ratu para bidadari, menugaskannya untuk membantu Lila berdamai dengan Jonathan dalam tiga puluh hari. Jika gagal, Nareswari harus menerima perjodohan itu. Sagara, Sang Raja Musim Dingin, memutuskan turun ke dunia untuk melindungi Nareswari. Untuk membuktikan bahwa cintanya kepada Nareswari memang kekal.
“Bunga-bunga akan gugur pada saatnya, Namun hatiku akan tetap menjagamu. Rembulan kadang hilang kadang purnama, Namun kasih akan tetap abadi.”
Bidadari Biru telah jatuh hati pada manusia. Sebagai hukuman, mereka akan melalui tujuh kehidupan yang menyakitkan dan berakhir dengan perpisahan.
Bidadari Merah sedaya upaya membantu adiknya itu. Beliau akhirnya diberi syarat oleh Ratu Bidadari. Berjaya membantu Bidadari Biru dalam kehidupan ketujuhnya atau bernikah dengan Putera Mahkota Asgard. Maka turunlah Bidadari Merah ke bumi sebagai manusia biasa.
Bagi yang kerap menonton drama remaja romantis dari China, tentu sekali sudah dapat membayangkan latar sekolahnya ibarat drama Meteor Garden.
Cinta tujuh kehidupan Bidadari Biru malahan cinta tiga segi Bidadari Merah, keduanya menarik, walaupun terlalu klise. Malahan selain kisah mereka, turut disentuh secara ringkas kisah cinta bidadari yang kehilangan pakaiannya, The Fairy and The Woodcutter, dan juga kisah cinta Resti dan Bram.
gimana ya??? haduh, jujur, aku beli novel ini dengan harapan bakal nemu kisah manis kayak di novel Fleur-nya mbak Fenny, soalnya menjanjikan kisah cinta yang bak Dongeng (sebagaimana kebanyakan orang ngerti #atau mungkin tidak juga# saya ini suka donngeng) jadi ya, dengan pedenya, meski duit tinggal 50 ribu pas, saya rampas buku ini dari raknya. untung hari itu hari kamis, dan di Togamas lagi ada diskon 25 persen khusus novel di hari kamis, jadi yaaaaa.... nggak terlalu mahal (abaikan ini)
pertama kali aku baca (sambil nunggu Trans Jogja yang dengan kurang ajarnya lama banget) aku menkimati prolognya. mengisahkan legenda Tiongkok tentang dewi yang turun ke bumi dan memilih menikah dengan manusia. aku langsung mikir, wah, ini pasti asik, secara jarang banget cerita fantasi (karena ini menurutku ada bau fantasinya) yang menggunakan setting Tiongkok.
dan akhirnya Trans Jogja menjemputku. aku lanjut baca di dalem bus sambil menikmati dinginnya kipas angin (atau AC). dan di bab pertama masih bisa nikmati alur ceritanya, tentang gadis yang kuliah (atau entah apa namanya) di perguruan Cakrawala Mega (maap kalo salah) yang ternyata adalah dewi yang dulu dihukum menjalani tujuh kehidupan dengan derita cinta tiada akhir (ingat temennya Anoman #eh# Sun Go Kong. bedanya, si Pat Kai dihukum seribu kehidupan, kalo di sini cuman tujuh) nah lo, masih kerasa nuansa Tiongkoknya kan ^.^, sayangnya, ini settingnya di Bali. Indonesia. gamasalah sih sebenarnya. ceritanya jadi kayak sinetron semenjak itu. ada adegan ketika seorang cewek menujukkan senyum iblisnya ketika orang lain berpaling, dan gitu2an. oke, masih bisa dinikmatin.
TUAPIIIIIIIIIIII, aku sebel banget ketika mendadak dikisahkan dewi-dewinya di kahyangan. nggak masalah kalo yang diceritain itu si dewi-dewi di mitologi China (karena itu pas) nah ini, dewi-dewinya DIOPLOS loh. bayangin aja, ketika ada dewi... sapa sih namanya, Nara(?) yang punya adik Ni Lan. dan di sana ada juga Nawang Wulan (dikisahin jugak kisahnya dengan Jaka Tarub) dan ketemu dengan Bidadari Yuki (woakakaka, woakakaka) dan dioplos lagi sama mitologi Nordik tentang Asgard. dikisahkan juga tentang Olympus. dan mereka semua hidup dengan damai??? WWWOOOOOIIIIYY, semua mitologi itu jangan dioplos. kalok dioplos, perang dewa bakalan terjadi. dan di sini, si dewi Nara, katanya mau dijodohin dengan pangeran Asgard. itu harusnya perang dulu. dan di sini entah bagaimana, kedamaian itu bisa terjalin, padahal jelas-jelas kebanyakan mitologi itu ada yang bertolak belakang. misalnya ntar, si Nara #uhukspoilerdikityak# mau menukar nyawanya. dan dia minta sama Sang Hyang sapa gitu. pokoknya mitologi bali. dan hey, tiba2 Sagara, yang entah dari kerajaan kahyangan mana, yang kayaknya masih ada hubungan dengan Olympus meski namanya jauh banget, datang menyelamatkannya. hoiy, di Olympus (maksudnya mitologi Yunani) kan ada si Tukang Perahu yang mengantarkan orang2 mati ke Tartarus, nah, kalo di cerita ini yang berperan adalah dewa di mitologi Bali, si Tukang Perahu nganggur dong. dan pembagian tugas2nya juga bagemana cobak?
kalok mbak Dya Ragil (soalnya aku denger pertama kali istilah ini dari dia) namanya Cross Mythologi, ato entah tulisannya bagemana. itu nggak bakal adem ayem kayak begini. apalagi ntar si pangeran Asgard ndak terima karena Nara lebih memilih Sagara si raja musim dingin. ini harusnya Odin dan kawan2nnya nggak terima dan terjadi perang. soalnya, dewa2 itu emang kurang ajar (kadang2)
ini kalok cuman nggunain mitologi Tiongkok, pasti bakalan dahsyat banget. udah risetnya nggak lama ketimbang harus riset tentang mitologi tentang Asgard, Olympus, dan lain2.
aduuuh, kenapa harus dioplos gini sih mitologinya, Mbak Putu. kan jadi aneh.
jadi ya maaf, apa boleh buat, saya terpaksa ngasih dua saja deh bintangnya :'(
yup. Hanya tidak terlalu memikirkan saja bagaimana beberapa mitologi dari beberapa tempat dijadikan satu dalam sebuah buku. Selama diriku merasa fine-fine aja membacanya, itu tidak masalah. Karena terkadang aku membaca buku untuk mendapatkan hiburan. Dan, aku cukup suka dengan gaya bahasa Putu Felisia ini. Mudah dipahami. Tim Pangeran Asgard. :p :)
Saya kebetulan lagi suka sama cerita yang berbau sejarah yang dihubungkan dengan masa kini. Walau jujur saja nggak percaya sama yang namanya 'reinkarnasi' tapi saya salut sama penulis yang bisa nyambung-nyambungin sejarah sama cerita, secara susah nyambungin kayak begitu