"Kita bukan satu-satunya pemeran utama, bahkan dalam hidup kita sendiri. Bukan hanya kamu yang dicintai-Nya. Bukan hanya kamu yang tersusah. Kamu tidak seistimewa itu."
Paling suka sama tulisan dengan judul Kamu Tidak Istimewa. Ruang Hijau dan Surat Cinta Untukmu sangat menyentuh, apalagi waktu dibacakan langsung oleh Aca.
:') Sebagai publik figur yang kehidupan pribadinya diekspos di media, selama ini sosok Natasha Rizky yang kita tahu ya cuma yang di media itu aja... termasuk ujian rumah tangganya yang kemarin sempat jadi trending topic. Kita selaku penonton cuma bisa mengira-ngira rasa sakitnya... tapi melalui buku ini, rasa sakitnya itu diuntai dalam kata-kata dengan hati-hati, penuh emosi. Makanya nuansa buku ini sedih dan pilu sekali... karena kita jadi mendapat sedikit gambaran betapa luka beliau sebenarnya dalam dan penuh darah. Baca ini rasanya perih, sakit, hati kayak ditoreh-toreh... tapi di bagian akhir dikasih obatnya berupa kata-kata lembut tentang Tuhan Yang Mahabaik.
Di bagian awal yang menceritakan tentang lukanya itu saya udah ngerasa supernyesek... tapi sungguh yang paling bikin mbrambang justru bagian-bagian akhirnya itu. Saya diingatkan kembali konsep-konsep akidah tentang keyakinan kepada Tuhan, tentang cinta Tuhan kepada hamba-Nya, tentang kasih sayang Tuhan berupa ujian, tentang betapa manusia tidak istimewa di antara miliaran hamba-Nya yang punya penderitaan masing-masing, dan... tentang hal yang paling mendasar bahwa Tuhan-lah tempat seharusnya manusia berpaling untuk menceritakan kegundahan dan luka-lukanya. Sudah seharusnya manusia merangkak, bersujud, dan memohon untuk dipeluk Tuhan, hanya Tuhan semata tak ada yang lain....
Bukunya tipis, tapi maknanya dalam sekali, membekas lama. Ilustrasinya cantik banget, warna-warna dan gambar-gambar simbolisnya pas merepresentasikan larik-larik puisi yang menyertainya. Tata letaknya juga smart, tiap halaman nggak padat jadi memberikan komposisi seimbang antara puisi dan gambar. Terus saya suka sekali diksi-diksi dalam tulisannya, bahkan saya sampai buka KBBI karena tidak familier dengan beberapa kata (senangnya bisa belajar kata-kata baru: rengsa, lokawigna, ancala, pawana, manasuka, atma).
Terima kasih Natasha Rizky sudah menulis buku ini, terima kasih atas keberaniannya untuk berbagi. Semoga bisa menjadi katarsis untuk laranya. :')
Natasha Rizky membagi buku ini ke dalam tiga bagian: 1) Perasaan, 2) Realitas, dan 3) Istimewa?
Sebagian besar isi buku ini seperti curahan hati Natasha Rizky sendiri. Beberapa orang bahkan berasumsi Ruang Hijau sebagai pengalamannya ketika proses perpisahannya dengan mantan suami. Tetapi sebagian besar juga mengajak kita untuk selalu mengingat rahmat dan kasih sayang Rabb kita.
Ilustrasinya cakep. Bakal lebih puas kalau baca buku fisiknya. Apalagi di akhir ada ruang untuk kita pembacamencurahkan isi hati. Cocok!
potret penyair sebagai influencer emosi klise, bukan peretas bahasa
yang membuat orang menulis puisi sebagai curhat alih-alih sebagai seni bahasa berpangkal pada dominannya ideologi ekspresif dalam budaya kontemporer yang mengafirmasi perasaan pribadi sebagai pusat otoritas makna, ditambah gagalnya pendidikan sastra mengenalkan puisi sebagai sistem formal dengan konvensi estetik dan logika komposisional yang otonom; akibatnya, banyak penulis—dan tak sedikit pula yang mengklaim diri penyair—memahami puisi bukan sebagai konstruksi semiotik yang menantang batas bahasa, melainkan sekadar wadah pelampiasan afeksi, sehingga puisi tereduksi menjadi catatan harian dalam bentuk baris-baris pendek tanpa kesadaran metrik, enjambemen, ambiguitas, musikalitas, atau intertekstualitas; dalam kondisi ini, bentuk dianggap ornamen, bukan mesin makna, dan diksi tak dipilah sebagai strategi, tapi dibebaskan liar sebagai emosi yang dimetaforakan serampangan; semua ini diperparah oleh algoritma media sosial yang mempromosikan keterbacaan instan dan kepalsuan kedalaman lewat kesan rapuh yang dikapitalisasi, sementara tradisi kritik dan pembacaan tekstual yang mendisiplinkan estetika justru disingkirkan demi etika apresiatif yang terlalu lunak: maka lahirlah anggapan bahwa semua yang menyentuh pasti puitis, padahal dalam seni bahasa, sentuhan hanya sah jika dibangun dari tensi antara yang dikatakan dan tak dikatakan, antara bentuk dan isi, bukan dari air mata yang dituang begitu saja ke dalam metafora klise, dangkal, usang, dan karbitan.
buku ini adalah contoh terang benderang atas hal tersebut.
Sebetulnya tertarik baca ini karena judulnya, karena kukira isinya lebih kepada motivasi/self-help dalam bentuk sajak. Ternyata lebih ke puisi liris tentang kisah hidup penulisnya. Mungkin akan lebih kena ke mereka yang paham siapa penulisnya dan mengikuti lika-liku perjalanan hidup mereka, karena kalau baca tanpa paham hal tersebut (sepertiku), puisinya banyak yang nggak kena.
Penulisan bait lirikalnya bisa dibilang sangat sederhana dan nyaris seperti curhatan dipenggal-penggal seperti bait puisi--ada yang menggunakan diksi yang indah, tapi ada juga yang bahasa sehari-hari. Beberapa pemilihan kata juga menurutku sedikit dipertanyakan, seperti pemilihan kata 'diagnosa' untuk bait yang menjelaskan tentang tuduhan, atau penggunaan kata 'diksi' untuk bait yang menjelaskan tentang opini/pendapat/kata orang. Karena hal-hal ini jadinya aku semakin sulit untuk merasa relate. Baru setelah selesai baca akhirnya googling siapa penulisnya, oh ya okelah. Saya ternyata kurang kenal, jadi memang kurang bisa paham struggle beliau dan berakhir di kurang bisa menyerna maksud dari bukunya.
So it's an okay book, only and if only you know whose the author is. Jangan kegocek seperti saya yah, ini bukan buku self-help. Oh, dan mungkin akan lebih relate juga bagi pembaca yang punya kecenderungan atau background kuat dalam agama Islam, karena di sini banyak referensi terhadap surat-surat tertentu dalam Al-Qur'an. Jadi bagi yang bukan Islam mungkin juga akan lebih sulit untuk paham.
Judul: Kamu tidak istimewa Penulis: Natasha Rizky Ilustrator: Gayatri Putri Penerbit: Elex media komputindo Dimensi: 92 hlm, cetakan pertama 2024 (edisi gramedia digital) ISBN: 9786230055874
Saat Allah mencintai hambaNya, IA akan memberi ujian pada mereka. Sayangnya, saat manusia diberi ujian seringkali kita merasa paling nestapa sendirian. Padahal kita tidak seistimewa itu. Bukan hanya satu-satunya.
Itulah gagasan yang dibawa kumpulan sajak ini yang dibagi menjadi 3 bab besar: perasaan, realitas, dan istimewa?
Permainan diksi penulis memang menarik, namun belum semuanya membuat jatuh hati. Ada beberapa kata yang baru saya pahami dan perlu dicari tahu lewat tesaurus sebab jarang dipadupadankan (atau mungkin memang saya kurang gaul berbahasa indonesia yang benar). Namun keterpaduan antara diksi dan ilustrasi berwarna membuat buku ini amat menarik. Rasa dan pesannya sampai, sebab diperkuat gambar. So lovely!
Tidak jauh berbeda dari buku sebelumnya, Catatan Kronik. Kali ini Natasha Rizky kembali membingkai berbagai perasaannya melalui puisi dengan diksi indah. Tapi yang berbeda mungkin yaa, nuansa buku ini ya. Karena rasanya sih, kalau mau pakai ilmu sok tahu, buku ini ditulis saat Natasha Rizky masih struggling dalam pernikahannya dengan Desta. Tapi jujur, justru ini berhasil membuat saya salut. Daripada bersliweran di podcast-podcast, seperti kebanyakan selebriti, Natasha Rizky lebih memilih mencurahkan perasaannya lewat cara yang "glamour". Satu hal yang aku suka, kak Aca, selalu berusaha mengingatkan kita tentang Allah, hampir di semua puisinya. Jadi ya bisa kita anggap sebagai reminder juga. Yang tidak boleh ketinggalan di apresiasi adalah ilustrasinya! Cantik, manis, instagramable hahaha Semoga yang membaca buku ini cukup tertampar seperti aku ya. Barakallahu fiik kak Aca, semoga menjadi amal jariyah 🌻
Ikut naik turun emosinya baca buku ini hehe. Mungkin aku ga paham keselurahan setiap katanya, tapi halaman-halamannya grafiknya naik naik lalu perlahan landai. Di awal seperti menceritakan kekesalan, kemarahan, frustasi, kecewa dsb lalu perlahan mulai menerima berlapang dada. Mungkin emang fase manusia seperti itu (?) Semoga ka Aca dan anak-anaknya selalu berada dalam lindungan Allah.
Aku Suka "Bagaimana Ya" dan "Lemah"
Lemah bukan berarti tidak bisa memenangkan kehidupan. Dekati yang punya dunia.
Di buku ini aku bisa lihat dengan jelas bagaimana kak Aca sudah jauh lebih dewasa dari buku beliau sebelumnya. Tergambar jelas dari cara beliau yang sudah berserah dan percaya sepenuhnya akan semua takdir-Nya, dan tidak lagi menaruh harap pada sesama. Buku ini mengingatkan aku lagi untuk melihat hal-hal yang sudah aku miliki, mengingatkan aku bahwa luka yang aku alami adalah bentuk dari rasa sayang-Nya, mengingatkan aku bahwa aku hanya salau satu dari sekian banyak makhluk-Nya. Terima kasih kak Aca 🤍
Sedikit membingungkan karena tidak ada pemaparan untuk meningkatkan kemampuan diri ataupum tulisan yang bersifat memotivasi. Sehingga rasanya kurang tepat jika termasuk buku Self-Improvement seperti yang tertulis di bagian belakang buku. Namun, mau dikategorikan sebagai buku puisi pun rasanya kurang cocok juga. Berisi tulisan-tulisan lepas atau curahan hati penulis dengan menggunakan diksi yang indah dan (sekali-sekali) populer. Meskipun begitu, aku suka ilustrasinya. Well, maybe it's just not my cup of tea.
Buku ini isinya kumpulan puisi. Banyak sekali yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, banyak diksi yang digunakan sulit untuk dipahami oleh pembawa awam. Aku sering juga dikit-dikit cek di google untuk beberapa diksi yang gak aku paham. Tentu, ini isinya dengan nuansa islami sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh penulisnya. Demikian, review singkat untuk buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kumpulan puisi yang asik dan santai dibaca dalam sekali duduk, ditemani ilustrasi yang membuatku tidak bosan.
Berdasarkan pengalaman penulis yang dituangkan dalam buku ini menurutku semua puisinya bagus dan penuh makna tersembunyi karena ada beberapa part yang sulit dipahami dalam kiasan bahasanya.
Bagus banget.. bikin sadar semua di dunia ini diuji.. bukan cuma aq... karna aq tidak seistimewa itu... sama dengan semua hamba Allah yang ada di dunia..
Cuma ada beberapa yg kurang ngerti karna bahasanya terlalu puitis utk ku yg g puitis..
Semua orang punya porsi ujiannya masing-masing. Ujian hidup kita hanya milik kita dan harus diri kita yang menyelesaikannya. Kalau Allah menitipkan ujian itu berarti Allah percaya kalau kita bisa melaluinya.
Jangan ngerasa paling sedih sedunia, bukan hanya kamu yang diuji
buku puisi modern. tulisannya tidak terlalu sulit untuk dimengerti dan lebih personal, ada beberapa bagian mengandung unsur agama juga sehingga bisa lebih personal.
sayangnya, belum ada tulisan yang melekat dan berkesan meski sudah menyelesaikan seluruh halaman.
Buku ini dihadiahkan oleh seorang teman. Menjadi pengingat bahwa kamu tidak istimewa. Bukan hanya kamu yang menderita. dan Allah selalu mengurus hambaNya
Banyak puisi yg sulit kupahami awal2, sulit untuk menikmati puisi2nya. Kayanya lebih ke diary yg di encode ke dalam kata2 yg sulit. Pas masuk part Istimewa ? Itu baru mulai dapat dinikmati, mungkin karena bercerita ttg Allah lebih niqmat drpd ttg luka yg dikasih sama manusia.
Puisi yg paling kusuka :
Alkisah bukan kenangan, tapi luka yg belum selesai