Kemahiran Aram perihal praktik korupsi teruji ketika menyuap Jaksa Ramli seorang diri. Kecamuk dalam dada kian rancu manakala bayang-bayang sel penjara yang menantinya menyusup di angan. Susah payah ia menenangkan diri, dan baru berhasil menjinakkan ketakutannya yang berapi-api, manakala sang Jaksa menyebut seransel uang yang ia panggul adalah mahar Hendri agar terlepas dari jerat pasal pengedar narkoba menjadi pasal pemakai. Pada saat bersamaan, ia mendengar kabar ibunya sakit di Tenap.
Tenap.
Keinginan Munawar untuk menguasai lahan di lereng Hyang Argopuro membuat Samhadi, si Bandit Tenap, murka. Ia pun mengajak Aram merampok rumah sang cukong. Pada malam buta, keduanya mengendap-endap, lantas menguras harta Munawar. Tenap gempar. Munawar gelagapan. Namun di tengah kekisruhan, Aram justru terusir dari Tenap karena menolak tradisi. Akankah Aram kembali pada kampung halamannya atau bertahan sebagai pengacara muda penyuap?
"Bisa-bisanya dia memperkosa. Dia kira selangkangan perempuan itu barang dagangan yang bisa dipakai seenaknya? Karena itu, kalau ada lelaki yang ingin melihat betapa perempuan dijunjung tinggi, lihatlah di dalam penjara. Pada pelaku asusila."
Buku ini resmi menjadi salah satu buku terbaik yang pernah aku baca. Setiap karakternya ada kelebihan, dan juga ada kekurangan. Aku jatuh cinta dengan cara penulis mendeskripsikan karakter Samhadi dan juga Cak Ra'i. Plot twist yang ditaruh di akhir-akhir bab juga membuatku lupa akan waktu saat menghabiskan buku ini.
Bukunya bagus, ceritanya lumayan seru. Menyuguhkan konflik batin, konflik agraria, konflik moral, kasih sayang ibu, tradisi vs logika, dan narasi yang menarik. Ditulis oleh emerging writers di ubud festival jadi poin yang mengundang pembaca untuk mencoba nya. Bukunya ringan, gak terlalu sulit dipahami