"Membaca pesan dari Guru yang menyebut kalau luka akan sembuh bila diobati oleh orang yang tepat, dan orang yang tepat itulah yang disebut dengan rumah, sekarang aku jadi paham, mengapa aku dan Kak Sani berbeda? Ternyata, rumah itulah yang membedakan aku dengannya. Meski aku dan Kak Sani sama-sama anak broken home, tapi aku memiliki rumah yang membuatku mengerti, apa itu dicintai dan mencintai. Aku memiliki Guru Hashina dan kalian berdua sebagai rumah. Sementara Kak Sani, dia tidak memiliki siapa pun untuk disebutnya sebagai rumah," kata Naray sembari mendekap naskah itu.
"Kita tetap rumahmu, Ray. Rumah kita semua. Sekarang dan selamanya," jawabku. (Penggalan bab-bab terakhir dalam novel Berapa Jarak Antara Luka dan Rumahmu)
Setiap orang pasti menginginkan rumah yang nyaman dan damai untuk tempat berteduh dan melepas penat. Rumah juga sering diibaratkan sebuah keluarga. Tempat di mana, kita bisa menceritakan banyak hal, mengeluarkan emosi, entah itu bahagia, sedih, kecewa, dan lain-lain. Namun sayangnya, tidak semua rumah bisa memberikan hal-hal tersebut, seperti yang dialami 4 tokoh dalam novel Berapa Jarak Antara Luka dan Rumahmu karya Nurillah Achmad.
Ketika membaca lembaran awal dan melihat daftar isinya, aku kira hanya menceritakan satu tokoh saja, ternyata tidak. Novel itu menggunakan POV 1 dengan sudut pandang tokoh-tokoh yang berbeda di setiap babnya, seperti:
🍁Suara Kinar yang menceritakan tentang Kinar saja. Di mana, ia mengalami ujian yang luar biasa yaitu kehilangan sosok ibu saat hendak menyantru di sebuah pondok pesantren. Ia sempat menolak, tetapi bapaknya menyuruhnya untuk tetap nyantri karena itu salah satu cita-cita almarhumah ibu. Tak sampai disitu, ujiannya bertambah dengan kematian bapaknya. Sehingga, ia memilih untuk meninggalkan salat selama satu bulan. Karena perbuatannya itu, Naray ikut kena hukuman sebab telah membantunya mengelabui pengawas keamanan pesantren.
🍁 Suara Naray. Bab ini lebih membahas tentang kehidupan Naray sebagai anak korban perceraian ayah dan ibunya. Awalnya, ia ikut sang ibu, tetapi setelah ibunya menikah lagi. Ia diminta melanjutkan sekolah ke pesantren atas permintaan ayah sambungnya dengan tujuan agar ia bisa jauh dari ibunya. Meski begitu, Naray berusaha untuk terlihat cerita hingga ia bertemu dengan Guru Hashina, Kinar, dan Ruth.
🍁Suara Ruth. Orang tua Ruth memiliki impian untuk menyekolahkannya setinggi mungkin meski pekerjaan mereka hanya seorang petani. Namun, ia mendapat perundungan dari teman-temannya di sekolah yang membuatnya nekad bunuh diri. Beruntung, ibunya menemukannya yang bersimbah darah. Karena kejadian ini, Ruth memutuskan untu mengikuti ajakan seseorang untuk melanjutkan sekolah ke pesantren dengan harapan tidak diejek dan dihina lagi.
Harapan hanya tinggal harapan. Di pesantren, Ruth mendapatkan perundungan lagi, tetapi kali ini, ia mendapatkan teman baik yaitu Naray dan Kinar yang membantunya bangkit dari rasa trauma.
🍁Suara Guru Hashina. Hidup dalam keluarga poligami, membuat Hashima harus rela berbagi kasih sayang ayahnya. Kadang, ia juga harus mengirit karena nafkah yang ayahnya berikan pada ibu tidak cukup. Bahkan, ia juga terancam putus sekolah. Kondisi rumah yang tidak nyaman, membuatnya memutuskan untuk mengambil beasiswa di sebuah pesantren dengan syarat setelah lulus di sana harus mengabdi. Ia pun memilih jalur ini.
Kisah dalam novel ini, banyak terjadi dalam kehidupan di lingkungan sekitar. Kadang rumah menjadi tempat paling enggan untuk disinggahi karena banyak memberikan luka dalam hati. Namun, semua terpatahkan, rumah bukan hanya tentang keluarga, tetapi tempat dimana kita diterima, didengar, dan dirangkul dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Rumah bisa berupa guru dan teman yang selalu ada untuk kita baik dalam suka maupun duka serta selalu mengingatkan kita saat terperosok dalam kubangan nestapa.
Alurnya pun runut. Biasanya, jika ada kisah yang saling terjalin, ada bab-bab tertentu yang sama. Namun, penulis mampu mengemas ceritanya jadi simple dan pesan dalam novel ini tersampaikan dengan baik. Di dalam novel ini juga ada beberapa bagian Naray yang melakukan hal di luar nalar yang bikin aku tertawa.