Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dari Rahim Ini Aku Bicara

Rate this book
Bila perempuan perlahan berhasil merebut kembali otaknya, yang selama ini dianggap milik laki-laki, tidak mudah mengambil kembali tubuhnya yang dierotisasi patriarki. Lebih mudah memang mendekatkan diri pada karakter maskulin seperti “punya otak” dibanding mengapropriasi tubuh yang feminin. Kita mengira bahwa untuk setara dengan laki-laki, perempuan harus menjadi seperti laki-laki dengan menyangkal tubuh femininnya.

Padahal tubuh perempuan adalah tubuh perempuan. Tubuh dengan organ kelamin dan reproduksinya, juga dengan atribut femininnya. Pengalaman kebertubuhannya tidak sama dengan laki-laki. Meski diatur, didefinisikan, dikontrol, dikuasai, dan didominasi, tubuh perempuan tetaplah tubuh yang feminin.

Perempuan harus kembali pada kekuatan tubuh femininnya tanpa terjebak pada gagasan kodrat ataupun superioritas dibandingkan laki-laki. Maka bicaralah dengan tubuh kita, tubuh perempuan. Agar tubuh ini menghasilkan suara yang bebas dari hegemoni dan polemik, agar tubuh ini menghasilkan suara emansipatif: suara perempuan sendiri, yang selama ini telah dibungkam monster bernama patriarki.

248 pages, Paperback

Published January 1, 2024

9 people are currently reading
151 people want to read

About the author

Ester Lianawati

6 books18 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
33 (58%)
4 stars
22 (39%)
3 stars
1 (1%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
February 12, 2024
Kejenuhan terhadap ketidakadilan, pertanyaan, serta kemarahan ditampilkan Ester Lianawati dengan kritis, tajam, dan berani di dalam Dari Rahim Ini Aku Bicara. Buku ini bicara tentang patriarki yang "mengontrol" tubuh perempuan. Seperti yang penulis lakukan di buku-buku sebelumnya, ia seakan-akan tak ingin sendiri. Ia mengajak perempuan lain untuk bangun dari nina bobo patriarki melalui buku ini.

Dari Rahim Ini Aku Bicara berfokus pada tubuh perempuan mulai rahim, payudara, klitoris, kulit, hingga vagina. Bagian-bagian tubuh itu selama ini bahkan begitu asing bagi pemiliknya sendiri karena sibuk didefinisikan oleh patriarki sesuai dengan kepentingan laki-laki.

Rahimlah di mana patriarki mulai menjangkit dan membuat perempuan menjadi korban atas berbagai bentuk ketimpangan, diskriminasi, bahkan kejahatan. Kesalahan ini ada pada patriarki yang berevolusi, menjadikan rahim sebagai sarana politik kekuasaan, bukan sebagai organ tubuh dari seorang perempuan yang perlu dihargai.

Jika laki-laki bisa hidup dengan "begitu saja", perempuan masih harus dibebani dengan tuntutan-tuntutan yang tak terlihat namun membatasi di segala sisi karena ekspektasi terhadap tubuhnya.

"Perempuan hanya punya dua pilihan : terperangkap dalam tubuh femininnya yang telah dikonstruksi patriarki atau sebaliknya, kehilangan tubuh femininnya demi kebebasan dan kesetaraan dengan laki-laki." (hlm X I)

Ester Lianawati juga mengetuk kesalahpahaman yang banyak diadopsi selama ini, bahwa menjadi setara artinya sama dengan harus "menjadi laki-laki".
"Kita mengira bahwa menjadi feminis adalah menyangkal apa yang feminin. Menjadi feminis disamakan dengan menjadi tubuh maskulin dan meninggalkan tubuh feminin kita." (hal X v)

Rahim yang membuat perempuan mengandung dan melahirkan penerus dianggap sebagai sumber dari berbagai penindasan terhadap perempuan. Penulis menyebut ini disebabkan ketakjuban dan ketakutan yang sama-sama dimiliki laki-laki terhadap rahim. Anggapan itu membawa perempuan ke berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan. Mulai fungsi rahim yang dibebani harus optimal untuk melahirkan generasi baru dan melanjutkan keberlangsungan kehidupan, hingga mitos bahwa rahim adalah sumber kemalangan.

Penulis juga mengantar kita pada asal mula bentuk-bentuk diskriminasi terhadap tubuh perempuan. Apabila dikenal hari ini, hal itu terdengar sungguh aneh, namun nyatanya di masa lampau laki-laki menganutnya sebagai paham yang valid. Misalnya tentang pelarangan aborsi yang ternyata awalnya didasarkan pada alasan "aborsi melanggar hak seorang ayah untuk punya keturunan" tanpa mempertimbangkan perempuan sebagai si pemilik tubuh.

Selain itu, bapak psikoanalisis Freud juga mengutarakan, "Keperawanan menjamin keotentikan paternitas dan mengesahkan hak kepemilikan eksklusif suami atas istrinya (1918)." (hal 57)

Tubuh perempuan juga mengalami status yang berbeda ketika sudah menikah, di mana banyak orang yang menganggap bahwa tubuh istri sepenuhnya dimiliki suami ketika sudah menikah. Ini yang menyebabkan adanya KDRT, berbagai tindakan tanpa consent, sampai perempuan yang berujung kehilangan keberhargaan diri.

Ada juga perlakuan-perlakuan yang berbeda dari masyarakat terhadap pelaku perzinahan laki-laki dan perempuan, yang ujung-ujungnya "hukuman" jauh lebih sulit harus ditelan perempuan. Sampai pada menstruasi yang juga dimanfaatkan patriarki untuk memberikan berbagai stigma negatif pada perempuan yang kita sadari membatasi kita hari-hari ini. Dianggap emosional dan tak bisa memimpin karena menstruasi bukankah sangat melelahkan?

Diskriminasi-diskriminasi pada tubuh perempuan itu juga merentet ke berbagai hal lain. Salah satunya beban pada ibu rumah tangga yang diberikan ilusi menguasai rumah, yang pada akhirnya membebani tanpa adanya pembagian tugas dengan laki-laki.

Konstruksi-konstruksi patriarki yang terus berlanjut dari waktu ke waktu itu menjadikan laki-laki punya kecenderungan untuk menguasai.

Perlakuan-perlakuan patriarki terhadap tubuh perempuan akhirnya juga membawa ke tindakan pemerkosaan yang tak dianggap serius. Sering dihaluskan penggunaan katanya, hingga hukum yang tak berpihak pada korban. Awal mulanya, bahkan kata "pemerkosaan" tak ada. Ia hanya disebut sebagai penculikan. Ini menunjukkan bagaimana sejak awal perempuan dikuasai agar tak sanggup membela diri.

Ester Lianawati juga tajam menyorot misoginis dan pelemahan perempuan, "Sesungguhnya laki-laki takut pada kecerdasan perempuan dan laki-laki takut perempuan mengambil wilayah yang sudah mereka kuasai sejak lama." (hal 164).

Perendahan pada tubuh perempuan juga sampai pada standar kecantikan yang dianut publik. Misalnya stereotip seorang perempuan hanya cantik saja, namun hatinya buruk atau bodoh. Perempuan yang seakan berkurang jauh nilai dirinya ketika sudah menjadi tua atau tak memenuhi standar-standar feminitas yang diharapkan, hingga bagaimana kapitalisme menunggangi patriarki untuk membuat perempuan bisa memenuhi standar-standar kecantikan yang ada.

Di buku ini, Ester Lianawati menyampaikan dengan cara yang tidak membosankan. Meski banyak referensi, namun buku ini tetap menyenangkan karena minim catatan kaki. Catatan kakinya pun tak kaku, menyenangkan untuk dibaca.

Dari Rahim Ini Aku Bicara seakan jadi upaya penulis dalam merebut kembali tubuhnya dari patriarki. Buku yang memunculkan rasa miris dan pedih, namun juga penting untuk diketahui dan diresapi.

Buku ini tentu bukan ajakan tentang kebencian terhadap laki-laki, namun menyorot patriarki yang selama ini bisa diadopsi siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki. Patriarki yang selama ini diadopsi orang lain, maupun diri kita sendiri. Penulis menawarkan kesadaran-kesadaran baru tentang tubuh perempuan yang pantas kita semua renungi. Bukan meletakkan perempuan dalam lampu sorot untuk meminta keistimewaan, tapi merebut hak perempuan yang selama ini tak pernah cukup mendapatkan kesetaraan. Penulis seakan menyalakan bara kesadaran yang mungkin hampir mati atau menunggu angin untuk menyala lagi dan membesar. Membaca buku ini seperti mendengar seorang saudara perempuan yang berbicara pada kita, memaparkan fakta tentang diri kita sendiri yang meski pedih harus diterima, namun juga mengajak kita membuka mata untuk kehidupan setara.
Profile Image for dinda ☁️.
149 reviews15 followers
January 7, 2026
“Perempuan di mana pun berada sesungguhnya disatukan oleh tujuan bersama; yakni merebut kembali tubuhnya sendiri.”

Selalu ada kepuasan tersendiri membaca tulisan Ester yang tegas, lugas, dan tidak buang-buang kata. Ia menulis dengan tujuan yang jelas, lalu menuntaskannya tanpa basa-basi. Buku ini terasa “ringan”, bukan karena dangkal, tetapi karena cara Ester menyampaikan gagasannya yang jujur dan langsung mengena. Cocok untuk pembaca yang ingin membaca tentang perempuan tanpa harus bergelut dengan bahasa yang rumit atau terlalu berputar-putar. Semangat Ester yang membara terasa konsisten, mengalir dari halaman ke halaman, seperti dorongan halus tapi tegas untuk berani berdiri, bersuara, dan mengambil ruang.

Akan selalu menantikan karya-karya Ester yang lain.
Profile Image for Meutia Faradilla.
26 reviews4 followers
February 15, 2024
Buku "Dari Rahim Ini Aku Bicara" melengkapi pembahasan tentang patriarki dari dua buku sebelumnya. Dalam buku ini dijelaskan bagaimana pengambilalihan tubuh dan ketubuhan perempuan oleh sistem patriarki. Pengambilalihan ini juga menyebabkan terjadinya persaingan antarperempuan dan juga kebingungan serta kerendahdirian pada perempuan. Tidak hanya itu, Bu Ester juga menjelaskan bagaimana dalam setiap aspek ketubuhan perempuan, perempuan dibuat malu terhadap dirinya sendiri. Dan dengan rasa malu itu ia dibuat tunduk terhadap kejantanan.

Penulisan dalam buku ini begitu jelas dan lugas sehingga sangat mudah dicerna dan ditangkap maksudnya. Menurut saya, buku ini hadir untuk mengangkat kembali kesadaran para perempuan agar mampu dan mau mengambil alih kembali tubuh dan ketubuhannya yang telah dirampas oleh sistem kejantanan.
Profile Image for Ms.TDA.
251 reviews5 followers
January 30, 2026
Patriarki? Such a strong word indeed. 😖

Buku ini menjabarkan betapa penindasan dan eksploitasi ranah privasi perempuan begitu kompleks dari zaman dulu kala😔😵‍💫😮‍💨

“Rahim, yg hanya dimiliki tubuh perempuan dan karenanya membedakan tubuh perempuan dan tubuh laki-laki. Rahim yg telah dijadikan jantung penindasan patriarki. Kemudian dijadikan sbg sumber kejelekan perempuan yg kemudian mengkonstruksi tuntutan kecantikan dg dampak yg luar biasa menghancurkan. Kapasitas reproduksi dijadikan penghambat perempuan utk menikmati seksualitasnya. Rahim dibuat sedemikian rupa utk memenjarakan perempuan dlm tubuhnya sendiri.”

In the end, rahim bukan utk dieksploitasi, bukan utk dieliminasi. Menjadi ibu ataupun childfree hendaknya menjadi pilihan, bukan tuntutan dan bukan kewajiban. Bukan pula dinilai baik atau buruknya tp sudah saatnya kita menghentikan pembangkitan rasa bersalah pd perempuan, bersama rasa takut dan rasa malu yg di semaikan patriarki dlm jiwa perempuan. 😔
4 reviews
February 5, 2026
Pengalaman ketubuhan perempuan sangat kompleks bukan hanya biologis, tapi juga psikis dan sosial. Dari zaman ke zaman, perempuan terus disudutkan hanya karena ia perempuan.
Melalui buku ini, Ester mengajak pembaca memahami ketubuhan perempuan: bagaimana rahim dipuja karena dianggap indah dan sakral, namun sekaligus dijadikan alat untuk mengontrol dan menyudutkan perempuan.
Lewat institusi perkawinan, tubuh perempuan dilegitimasi seolah milik laki-laki. Lewat penetrasi, garis keturunan dipastikan. Dalam sistem ini, tubuh perempuan terus diatur: standar cantik, larangan bersuara, bahkan korban perkosaan masih disalahkan.
Sebagai laki-laki yang tidak mengalami langsung ketubuhan perempuan, membaca ini membuat saya berhenti dan bertanya: kenapa tubuh perempuan begitu sibuk diatur oleh laki-laki?
Profile Image for Syaira Miranti.
16 reviews
December 23, 2025
BAGUSSS BGTTTT😭😭😭 membahas semua hal tentang patriarki dari jaman romawi kuno..gw gatau lagi dah ini buku feminis yang menurut gw worth it bgt buat dibaca. penulis bener bener bahas semua hal tentang ketidakadilan bagi perempuan, patriarki dari segala sisi, terus bahas tentang kekerasan seksual dan pemerkosaan juga. ga bakal nyesel sih baca ini, trust meee!!!
Profile Image for moonfav.
24 reviews
January 13, 2025
"Tubuh perempuan menyimpan sejarah, menyimpan cerita. Sebab itu, tubuh ini bisa bicara dan hendaknya dibiarkan bicara."

Dari rahim ini aku bicara, bukan hanya untuk melahirkan, tetapi untuk memberi suara pada setiap perempuan yang selama ini terdiam dalam penderitaan. 💌
Profile Image for Z Zahira.
8 reviews
October 21, 2025
a great GREAT book for starting to read tentang penindasan dan eksploitasi ruang privat perempuan
Profile Image for meisana.
27 reviews
December 31, 2025
Buku feminis pertamaku. Semangat penulis sangat amat terasa dalam setiap kata yang ia gunakan. Sangat amat membuka mataku terhadap posisiku sebagai perempuan.
Profile Image for Haifa Chairania.
158 reviews7 followers
January 15, 2025
Sebagai perempuan, tubuh kita terasa asing. Terlalu banyak standar ganda tentang apa yang boleh diperlihatkan dan ditutupi, kapan kita boleh mengatakan sesuatu atau lebih baik bungkam, dan seringnya tubuh kita tidak diciptakan untuk merasa cukup: kurang putih, kurang ramping, berbulu, jerawat sialan.

Dulu aku jarang mempersoalkan kerumitan ini. Toh bukankah semua perempuan berpikir begitu? Tapi kenapa, siapa yang membelenggu kita untuk terus mendikte tubuh ini?

Dari Rahim Ini Aku Bicara membeberkan fakta bahwa kita semua adalah korban dari patriarki yang mengkonstrusi perempuan sedemikian rupa. Subordinasi perempuan tidak tiba-tiba muncul. Mulanya, rahim justru digambarkan sebagai sumber dari peradaban dan kelahiran manusia. Kehadirannya dikagumi namun juga ditakuti oleh laki-laki. Sebab tanpa rahim, mereka tidak bisa menghasilkan keturunan untuk mewariskan nama (catat, nama laki-laki, bukan perempuan). Seperti logika pencuri, patriarki memutuskan bahwa “tidak bisa memiliki = merebut otoritas tubuh perempuan”. Di sinilah awal mula perempuan kehilangan jati diri.

Perempuan dilihat secara sempit melalui trinititas perawan, ibu, dan pelacur. Cantik, subur, naif, muda, dan suci? Tempatmu di kotak perawan. Sepantasnya lekas dinikahi agar tidak “tercemar”, supaya bisa berbakti dengan mulia sebagai ibu dan istri. Di sisi lain, pelacur ibarat kotak aib untuk menampung perempuan yang tidak menikah, tidak memiliki anak, atau, sederhananya, bertentangan dengan norma feminitas klasik yang diagung-agungkan.

Buku ini menarik pengalaman ketubuhan perempuan melalui garis sejarah, budaya, agama yang secara turun temurun membentuk tatanan sosial saat ini. Label benar dan salah bagi perempuan berlandaskan pada seberapa besar keuntungan yang bisa diraup laki-laki. Puncak keberhasilannya adalah ketika nilai-nilai patriarki terinternalisasi, membuat perempuan meyakini bahwa standar tidak realistis yang dibebankan pada mereka bersifat sah dan normal.

Di luar pengemasannya yang padat dan tidak bisa dilahap dengan instan, aku melihat buku ini sebagai kumpulan trivia yang menyingkap rahasia-rahasia perempuan–suatu bahasan kompleks yang justru terasa intim, seolah menyodorkan apa yang selama ini kita cari-cari. Betapa identitas sejati kita sebagai perempuan telah dilucuti dan sekarang giliran kita merebutnya kembali untuk menjadi manusia utuh yang tidak diliputi rasa bersalah, malu, dan takut.
Displaying 1 - 11 of 11 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.