Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rumah Ini Tak Lagi Sama: Melalui Duka Setelah Kematian Orang Tua

Rate this book
Bagi orang-orang yang ditinggalkan, kematian dan prosesi setelahnya bisa terasa sangat cepat. Pemakaman langsung dilakukan saat mereka masih syok, sedangkan emosi belum sepenuhnya menyala. Di saat bersamaan mereka harus menghadapi pertanyaan para peziarah tentang penyebab, waktu, dan detik-detik kematian.

Lalu saat peziarah terakhir pulang dan pintu rumah tertutup, tiba-tiba kesunyian menyergap dari berbagai penjuru. Rasanya seperti memasuki tempat yang asing. Mereka tahu ini rumah yang sama seperti sebelumnya. Namun ketiadaan orang yang mereka cintai membuat seluruh sudut rumah ini terasa berbeda.

Kematian adalah hal biasa bagi orang yang menyaksikan dari jauh, membaca dari berita, atau mendengar dari pengumuman di masjid. Setiap hari ada orang meninggal, setiap hari pula ada manusia lahir. Namun jika kematian itu menghampiri orang-orang yang kita sayangi, kita baru akan mengerti betapa ia bisa mengubah segalanya untuk selamanya.

Mungkin arti hidup kita berubah. Berbagai kebahagiaan pun tidak lantas menghapusnya. Jika hati serupa ruangan, duka menjadi penghuni tetapnya. Tidak mudah “mengusirnya” dan melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Buku ini ditulis berdasarkan penghayatan penulis atas pengalaman ditinggal orang tua. Ia mengajak kita melalui duka dengan menggenggam kenangan baik tentang sosok yang telah "pergi" sebagai penerangnya. Barangkali dengan begitu, kita bisa melalui terowongan kedukaan yang sangat panjang ini.

203 pages, Paperback

Published January 1, 2024

14 people are currently reading
88 people want to read

About the author

Urfa Qurrota Ainy

1 book2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
17 (70%)
4 stars
4 (16%)
3 stars
3 (12%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Tita.
6 reviews
December 23, 2024
Versi mini dari buku David Kessler yg berjudul finding meaning
Di tulis dengan apik dengan pendekatan islam.
Profile Image for Fhia.
497 reviews18 followers
December 26, 2024
Dibaca ketika acara Nusa Membaca bersama Gramedia Padang. Kebetulan dapar mystery book yang isinya buku ini. Selesai sekali duduk karena ringan dan tutur bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti.
Membaca buku ini menambah sudut pandang tentang berbagai emosi yang dilalui setelah kematian orang tua. Sayangnya buku ini tidak membuatku 'hanyut' seperti fiksi.
Profile Image for Hendi Basuki.
73 reviews
October 11, 2025
Buku ini mengingatkan kita pada hal yang menyedihkan bahwa kehilangan adalah hal yang tidak bisa dihindari.
Usai kehilangan, hidup takkan pernah sama lagi. Setiap momen menjadi lebih layak untuk dirayakan, setiap genggaman tangan menjadi terasa lebih erat, setiap kesempatan menjadi lebih patut diperjuangkan.
Profile Image for Siti Sarah.
16 reviews
August 8, 2024
Menangis sedih di setiap bab nya.
Pendekatan islami dari penulis yg juga ditinggalkan ayahnya.

Benar2 meresapi arti kata innalillaihi wainna ilaihi rajiun. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali.
Profile Image for Paulina.
2 reviews3 followers
October 4, 2025
Kalimat pertama sudah membuat mata berkaca-kaca. Saya mengangguk hampir di setiap kalimat yang saya baca, halaman per halaman. Berduka sejatinya sama, tentang kehilangan. Bagus sekali untuk yang sedang mengalami proses kedukaan, apapun itu.
9 reviews
August 18, 2024
Melewati hari" setelah kehilangan orang yang dicintai memang tak mudah.
Melalui buku ini jadi semakin sadar dan menerima semua kehilangan yg ada
Profile Image for Andi Lintang.
225 reviews17 followers
December 28, 2025
“Saat orang yang kita cintai meninggalkan dunia, kita masih memiliki semua cinta dan kenangan indah yang telah kita petik dan kita simpan di saku kita.”

#lintangbookreview
Rumah Ini Tak Lagi Sama | Urfa Qurrota Ainy

Kehilangan karena kematian tak benar-benar bisa dipahami sebelum kita mengalaminya sendiri. Tak ada pelajaran yang mampu menyiapkan, dan tak ada bayangan yang sanggup menggambarkan rasa sakitnya sebelum itu menjadi nyata dalam hidup kita.

Dengan cara yang mengagumkan, penulis berhasil merangkai pikiran dan perasaan yang sulit diungkapkan ke dalam tulisan di buku ini. Ia mengisahkan pengalaman kehilangan ayah di tengah pandemi COVID-19, serta bagaimana peristiwa itu mengguncang sekaligus membentuk kembali hidupnya, dari luka mendalam hingga akhirnya menemukan kekuatan untuk bangkit.

Selain berbagi pengalaman pribadi, penulis menyisipkan kisah-kisah reflektif yang membantu pembaca memahami makna duka secara lebih komprehensif. Beberapa teori psikologi dan perspektif Islami yang bersifat universal juga turut disertakan, membuat narasi terasa utuh dan mudah dicerna, itulah yang membuatku menikmati penyajiannya.

Tulisan dalam buku ini berhasil mengaduk emosiku, membuatku beberapa kali terdiam dalam renungan hingga menitikkan air mata.🥹 Lewat narasi yang hangat dan jujur, penulis mengajak pembaca menyelami makna duka; mulai dari gejolak perasaan, penyesalan, hingga bagaimana kehilangan bisa mengubah kita, ke arah yang lebih baik ataupun sebaliknya.

Aku merekomendasikan buku ini untuk siapa pun, baik yang sedang maupun pernah mengalami duka, karena isinya mampu menjadi penguat dan penghangat hati. Bagi yang belum pernah merasakannya, buku ini tetap penting, karena membantu kita memahami dan menumbuhkan empati terhadap mereka yang tengah kehilangan.❤️‍🩹
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.