Di dalamnya, tubuh perempuan bergaun putih panjang itu masih bersimpuh di lantai dingin. Posisi bersujud. Rambut gimbalnya memanjang dan menutupi seluruh tubuhnya. Bowo duduk dengan posisi sila di belakang raga yang terkulai tadi. Direntangkannya kedua tangan. Gumpalan-gumpalan putih memasuki raga tadi.
Kedua tubuh tadi seperti terselubungi lingkaran energi alam. Warna-warni dunia sempat singgah di sekelilingnya. Jagat maya mengitari dunia. Perempuan itu bertubuh dingin seperti dialiri listrik. Ia tersentak-sentak. Pelan-pelan perempuan tadi, Astria membuka mata. Waktunya tiba. Kembali. Empat puluh hari. Perjalanan lama yang seperti sedetik hitungan cahaya.
Fira Basuki (born June 7, 1972) is a well-known Indonesian novelist. Arguably her most famous work is her trilogy debut consisting of Jendela-Jendela (The Windows), Pintu (The Door) and Atap (The Roof). The trilogy concerning the journeys of Javanese brother and sister Bowo and June; from graduating high school, studying abroad in the US, their meta-physical experiences (especially Bowo's "second sight" and aura-reading capabilities), relationships with people of different nationalities (especially June's Tibetan husband), and their return home to Indonesia.
Her novel, Brownies, was adapted to a movie which was nominated for Best Picture at the 2005 Indonesian Film Festival, eventually losing out to Gie (though Brownies did earn a Best Director Citra award for Hanung Bramantyo). She recently launched to widespread media acclaim a popular biography on media person Wimar Witoelar, her first work in non-fiction.
Her latest novel, scheduled to be published July 2007, is entitled Astral Astria. As per August 2007, she works as Chief Editor at the Indonesian edition of Cosmopolitan Magazine.
yang jelas buku ini kental dengan budaya jawa. tokoh utamanya yang bernama astria sima adalah keturunan jawa dari pasangan suami isteri yang tinggal di pegunungan yang disebut2 keramat oleh orang jawa, yaitu dieng. astria sima dilahirkan dengan rambut gimbal keemasan dan disebut sebagai titisan dewi sehingga ia serig disebut kanjeng ratu oleh penduduk setempat maupun keturunan jawa yang masih kental dengan kebudayaannya. ia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, yaitu mata ketiga. mata ketiganya itu dapat melihatkan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa dan dapat mengetahui masa depan. selain itu ada beberapa tokoh dominan yang diceritakan di novel ini adalah indah si novelis, kasih si penyanyi, marni, dan tidak ketinggalan pasangan suami isteri yang haus akan kekayaan.
Mbak Fira novelist yang cerdas. Itu yang (lagi-lagi) terlintas dibenak saya ketika baca novel ini. Gimana tidak? Alur cerita dibuat tidak mainstream dan tidak bikin bosan. Walaupun punya karakter banyak di novel ini, setiap karakter punya latar belakang cerita yang sama menariknya. Seolah tidak pernah habis ide cerita Fira Basuki. Untuk membuat satu novel saja, perlu stok cerita banyak. Begitu juga dengan novel dia yang lain, Biru contohnya. Sama dengan pembaca lain awalnya saya bingung menarik benang merah dari banyak karakter yang punya cerita masing-masing. Tapi saya tetap lanjut membaca karena penasaran. Mbak Fira selalu punya kejutan. Kira-kira 50 halaman terakhir saya baru mengerti, ternyata Marni, Kasih, Indah, Kirmin, dll merupakan arwah-arwah yang ditemui Astria dalam perjalanan astralnya. Mereka saling bercerita masing-masing kehidupan mereka di dunia sampai mereka menemui ajalnya. Buku-buku mba Fira yang saya baca selalu menambah pengetahuan saya, misalnya tentang sejarah. Dari buku ini, saya baru tau klo ada fenomena anak gimbal dieng, peristiwa gas beracun dieng, ataupun tempat-tempat bersejarah yang belum pernah saya datangi. Atau sekedar membayangkan menjadi anak indigo, melakukan perjalanan spiritual, perjalanan astral, dll seperti sudut pandang Astria, membuat saya cukup berpetualang! (Nb: 4 Astria untuk buku ini)
Review: Tokoh sentral, Astria, merupakan anak yang sejak lahir memiliki keajaiban. Saat desa kelahirannya di Dieng terkena gas beracun dari kawah Dieng, hanya Astria yang selamat. Sedangkan penduduk desa termasuk orang tuanya meninggal.Astria dewasa lama kelamaan menyadari kalau dirinya berbeda dari yang lain, Astria memiliki Sixth Sense. Dan dengan kemampuan yang dimilikinya ini, Astria melakukan Astral (Perjalanan).
Comment: (+) Astria diceritakan sangat manusiawi dengan kemampuan yang dimilikinya. Ada rasa takut terhadap kemampuan yang dimilikinya. Bahkan dgn kemampuannya itu pun gak membuat Astria menjadi sempurna. Astria tetap manusia yang bisa saja berbuat dosa (+) Ada penyisipan agama didalam novel ini. Seperti ziarah kubur yang lama kelamaan di masyarakat malah menjadi ajang utk meminta sesuatu (-) Terlalu banyak tokoh pendukung, seperti Marni, Kasih dll. Yang pada akhirnya (menurut aku) gak mendukung ending cerita (-) Sampai pertengahan buku, baru ngeh deh alur ceritanya, saking banyak tokoh yang bercerita
Alur ceritanya ada dua dan yg satu agak maju-mundur, jd awalnya agak ngebingungin...tp masih bisa diikutin. Mungkin ini masalah selera aja ya, karena gw kurang tertarik sama budaya spiritualitas Jawa (dan ga ngerti juga) jadi kurang menikmati aja bacanya. Buat yg lebih paham budaya Jawa mungkin bisa lebih mudah mencernanya.
Yang diangkat disini sebenarnya masalah spiritualitas seorang Astria. Tapi entah kenapa terasa seperti terlalu banyak hal-hal yang ingin dimasukkan jadi agak cape bacanya. Kidung-kidung, potongan cerita Majapahit, puisi-puisi Kahlil Gibran, dsb. Tapi di sisi lain novel ini menunjukkan adanya riset yang cukup mendalam.
Btw, ada bagusnya membaca trilogi Fira yang Jendela-jendela, Pintu, dan Atap, karena sebagian ceritanya berkorelasi ke situ, juga ada potongan-potongan artikel Fira untuk majalah Spice yang diedit seperlunya dan dijadikan inspirasi untuk novel fiksi ini.
Fira Basuki, cemerlang. Novel ke-17 nya Astral Astria bagi saya semakin mengukuhkan dirinya sebagai seorang sastrawati Indonesia.
Agak harus mengingat-ingat novel Fira terdahulu (Jendela, Pintu dan Atap) karena cerita Astral Astria berelasi dengan novel-novel tersebut. Saya mungkin bukan orang yang rajin membaca buku sehingga saya sempat kesulitan menangkap arti cerita novel Fira di bab-bab pertama. Tapi ketika saya berhasil menangkap apa yang sedang diceritakannya, saya seperti tenggelam dalam dunia Astria.
Mengagumkan, karena Fira begitu piawai menggabungkan fiksi dan non fiksi. Sejarah kerajaan Jawa, gunung Dieng, dan berbagai ilmu pengetahuan lain mampu Fira ramu dengan takaran yang pas dan mendetail. Saya selalu mendapatkan pengetahuan baru dari hasil karyanya.
She has been one of my inspiring people and she still is.
Mba Fira Basuki ini sedikit membantu saya untuk bisa tahu budaya jawa. Kalau saya perhatikan selalu disisipkan gimana seorang jawa berperilaku dari mulai panggilan nama, perhitungan kelahiran, cerita pewayangan sampai upacara adat kejawen. Seperti dalam novel Astral Astria ini. Astria seorang anak gimbal turunan ratu sima. Perjalananya ke dunia lain funtastis penggambarannya. love it so much...
Ini novel ada terusannya Paris Pandora dan ini juga asyik tapi bahasa yang digunakan kok ya agak kurang sreg kurang pas karena ada kata-kata gaul yang bisa keluar dari seorang nogosari hihihi dari namanya juga aneh yah...kalau yang belum baca hmmmhmm should be in to your TO READ inbox.
Baca ini waktu jaman tingkat tiga. Dan tergolong ngga habis baca juga sih, hehe Kisah spiritualitas Astria Sima ini...saya merasa sulit untuk menyelaminya. Selama bagian-bagian awal komentar saya cuma "Hmm... hm? ...???" makin lama makin ngga sampai otak saya buat menciptakan imajinasi yang diisyaratkan buku ini. Ngga cocok aja..mungkin karena saya bukan orang jawa jadi sulit untuk menyelami cerita?
isi ceritanya nih kyaknya gabungan beberapa cerpen2 dari kumpulan cerpen Alamak!, perempuan hujan n serial miss B... gak semuanya sih dmasukin, tapi ada benang merahnya..
tapi gak tau knapa yah, tokoh2 yg dia tulis di tiap novel atopun cerpen slalu "dilema" (gantung) hepi ending
Complicated, sangat perempuan, dan berbau mistis :). Sebuah kombinasi yang unik dari novel terbaru Fira Basuki. Tokoh utamanya seorang perempuan yang diyakini memeliki kekuatan ESP, dan juga anal 'ajaib' karena dia tetap gimbal sampai dewasa (gimbal anak-anak Dieng). Terbukti, Astria bisa melihat makhluk halus dan mampu membiarkan jiwanya mengembara.
aku kecewa sama buku ini. kemunculan cerpen di alamak! yang dimuat ulang lalu dikembangkan di dalam buku ini membuat alur jadi tidak jelas dan tidak menarik. terlalu banyak tokoh yang memusingkan. ditambah lagi adanya pemaksaan masuknya beberapa hal.
saya jadi malas, lalu melompati bagian alam tidak tenang itu..
Menyenangkan sekali membaca buku walaupun pada awalnya kurang 'ngeh dengan alur cerita. Tetapi setelah beberapa halaman lewat, mulai merasa asik. Dalam sehari tamat membaca novel ini. Senang karena bisa nambah pengetahuan tentang jaman Raja-Raja dahulu dan bisa belajar beberapa kosa kata baru di Kromo Inggil.
Opini : Untuk pertama kalinya, saya kecewa dengan Fira Basuki, salah satu novelis favorit saya. Setelah membaca 6 dari 14 bab novel ini, saya belum bisa memahami alur ceritanya. Mistis dan kental dengan spiritual Jawa. Mungkin karena saya bukan orang Jawa, jadi saya sulit memahaminya. Maaf. :(
Always enjoy the way Fira tell the story.... Seperti biasa, mengalir dan bikin terbawa sama ceritanya..Well prepared & well written....dengan riset dan muatan budaya yang ok.....And as always....Full with wisdom...^_^
membingungkan, baru bisa menangkap benang merah ceritanya menjelang akhir cerita. dan tentu saja butuh konsentrasi untuk menyambung bahwa karakter ini berhubungan dengan karakter di cerita selanjutnya.
Ini pertama kalinya aku baca karya Fira Basuki. Buku ini alur ceritanya membingungkan. Lompat sana lompat sini. Terlalu banyak tokoh yg diceritakan jadinya mirip kumpulan cerpen yg digabung jadi satu cerita. Masing2 cerita kurang nyambung. 2 bintang aja deh...
Rada nggak ngerti ama ceritanya. Lompat2 dan kebanyakan tokoh yg tiba2 datang dan tiba2 ngilang. Novel2nya Fira yang lain juga lompat2 sih, tapi masih bisa dimengerti, yang ini susah banget.
gw tertarik banget sama cerita tentang dieng di dalam buku ini. apalagi gw abis dari sana. jadi makin pengen ke dieng lagi. ternyata banyak tempat yg belum gw kunjungin