Apa jadinya jika dua buah benda angkasa bertemu dan bertabrakan? Dan, apa pula jadinya jika dua buah mobil bertubrukan? Kerusakan! Itu jawabannya. Tapi, apa yang terjadi jika yang bertabrakan adalah dua buah pasang mata dari seorang lelaki dan perempuan? Jatuh cinta.
Dinda adalah pusat semesta bagi Zora. Mereka adalah Galaksi Bima Sakti yang memuat cinta berdua.
Pada senja yang menggaris nama mereka di langit, sebenarnya mereka tidak pernah menyatu. Cinta yang tidak pernah sempurna saat kesedihan memisahkan mereka.
Pada senja yang selalu menunggu cinta, apakah mereka akan benar-benar bersatu?
Sesungguhnya, senja yang selamanya menyatukan mereka adalah pengharapan yang tak pernah ada habis-habisnya: sebuah cinta sejati.
"Hidup ini terlalu misterius untuk dimengerti. Tapi, dalam setiap kejadian, pasti ada alasan untuk dimengerti."
Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya penulis, sehingga aku tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi terhadap novel ini. Namun, ketika menutup novel ini, aku cukup puas dengan novel ini, yang jauh lebih baik dan menarik dari 2 novel sebelumnya yang pernah kubaca.
Dengan covernya yang "kuning menyala" dan tagline "Cinta yang tak pernah mati", aku mulai menebak kali ini penulis menawarkan kisah cinta seperti apa lagi.
Masih seperti 2 novel sebelumnya, kali ini penulis masih mengambil tema cinta. Mengisahkan tentang kisah cinta Dinda dan Zora yang penuh perjuangan, air mata, kepedihan dan luka. Cinta yang harus terpaksa terpisahkan karena embel-embel status sosial, bibit bebet bobot yang tidak setara. Semua harapan dan janji yang pernah terukir di pulau Dewata,Bali dikala sunset harus hancur berkeping-keping karena perjodohan Dinda dengan pria pilihan orangtuanya.
Demi kehormatan dan nama baik keluarga, hingga keselamatan bisnis ayahnya yang hampir bangkrut, Dinda harus menerima kenyataan melepas semua kebahagiaan dan cintanya terhadap Zora dan menerima pernikahannya dengan Gary. Namun, tak seindah khayalan, Gary bukanlah pria baik seperti dugaan orangtuanya. Gary hanyalah suami yang kasar, egois bahkan tidak sungkan-sungkan menyiksa dan melakukan KDRT terhadap Dinda.
Dilain sisi, Zora yang patah hati pun memutuskan untuk pergi jauh dan menetap di Bali. Zora ingin membuka lembaran baru kehidupannya dan melupakan Dinda. Tapi, walau 2tahun berlalu sosok Dinda tidak pernah hilang dari hati Zora, apalagi ketika melihat sunset, Zora selalu teringat Dinda dan janji yang terukir diantara mereka. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, tapi dalam keadaan yang kurang baik, ketika Dinda telah divonis menderita "kanker otak".
Bagaimana akhir kisah Zora dan Dinda? Akankah mereka saling menemukan kebahagiaan dan mewujudkan janji mereka di kala sunset di Pantai Kuta?
"Setelah hari ini, aku berharap akan kembali menikmati sunset bersama kamu, di sini, di Bali. Dan aku ingin setiap sunset datang, itu berarti kamu. Dan hanya dengan kamu, aku ingin melihat matahari tenggelam lagi."
"You will, I Promise...."
Novel ini dari segi ide cerita mungkin sederhana bahkan sudah sering kita jumpai, ya cerita cinta ala sinetron, tapi sejak awal membaca novel ini hingga akhir aku bisa merasakan chemistry dan feel dari para tokoh. Alur yang mengalir lancar, konflik yang sederhana tapi begitu kuat membuatku sama sekali tidak bosan membaca novel ini, walau aku agak sedikit kecewa dengan endingnya. Benar-benar diluar dugaanku ^^
"Cinta sejati tak pernah memiliki garis akhir. Dan, selama matahari masih terus terbit di timur dan akan terbenam di barat, cinta sejati juga akan tetap setia bertahan di posisinya."
“Have I told you lately that I love you. Have I told you there’s no one else above you. Fill my heart with gladness, take away all my sadness, ease my trouble that’s what you do…” Have I told you lately – Rod Stewart (hal 59)
Life is tough, babe. Nggak setiap hal yang kita harapkan jadi kenyataan. Kejutan! Terkadang, kenyataan jauh beda dengan harapan. But at least, dengan harapan, kita bisa merangkai masa depan sehingga memaksimalkan usaha untuk mencapai tujuan yang benar-benar kita inginkan.
Baca novel Forever Sunset ini, ngenes banget rasanya. Serius. Cobaan sepertinya enggan pergi dari kisah-kasih Dinda dan Zora. Bikin geregetan juga. Sekali lagi, kenapa uang selalu jadi penghalang? Money can buy power. Banyak uang, banyak kuasa. Apa bener? Seperti mereka berdua yang beda kasta. Dinda dari golongan kelas atas. Sedangkan Zora dari kalangan menengah.
Jadi gini, kedua anak manusia itu saling mencintai. Tapi nggak dapat restu dari keluarga Dinda. Ya, karena kasta itu tadi. Semua bermula ketika Dinda baru pulang dari Australia. Ia langsung menuju Bali untuk menemui kekasihnya, Zora. Di sana, Zora melamar Dinda. Habis itu, Dinda balik ke rumahnya di Jakarta. Sedangkan Zora, ke NTB. Nah ternyata, sesampainya di Jakarta, Dinda dijodohin sama orang tuanya. Padahal, Dinda udah bilang iya atas lamaran Zora di Bali. Tapi Dinda nggak bisa mengelak, orang tuanya ngotot banget buat jodohin Dinda sama pria bernama Gary, anak teman orang tuanya.
Walhasil, Gary dan Dinda merried. Zora down banget pastinya, ketika tahu cintanya diambil orang dengan paksa begitu. Apalagi ketika Zora tahu siapa Gary sesungguhnya.
Karena suntuk, Zora balik lagi ke Bali buat… istilahnya kabur kali ya, dari sakit hati itu. Zora dan Dinda pun udah kayak lost contact. Dinda dengan kehidupannya sendiri. Begitu pula dengan Zora. Hingga pada suatu masa, waktu mempertemukan mereka. Ciee… Ya, jodoh enggak akan kemana. Sayangnya, ending-nya sad euy.
Mau tahu kenapa Dinda nggak bisa nolak perjodohan itu? Kenapa sih orang tuanya Dinda ngotot banget jodohin Dinda sama Gary? Apa iya cuma perihal kasta yang berbeda? Oh ya, terus Gary emang siapa sesungguhnya? Lalu, kok bisa Dinda sama Zora ketemu lagi? Nah kok justru sad ending? Mau tahu, beli dan baca novelnya! Haha :D
Baiknya dari novel ini, kesannya itu menyorot kawasan-kawasan yang ada di Indonesia. Terutama Bali. Lumayan memuaskan dalam hal ekplorasi tempat. Nambah pengetahuan juga.
Sebenarnya agak skeptikal dengan buku-buku karangan penulis Indonesia karena beberapa kali kecewa dengan tulisannya yang terlalu dangkal, tapi berhubung buku ini dijual murah pas lagi ada cuci gudangnya gramedia, jadi dibeli juga deh. Dan....bener aja, terlalu roman picisan. Untuk buku yang lumayan tebal, bisa dibilang isi ceritanya gak ada. Terlalu drama-drama ala sinetron dengan tokoh utama wanita yang katanya anak orang kaya, berpendidikan luar negeri, punya pendirian yang kuat, tapi kok....bodoh, penakut dan terlalu gampang menyerah; tokoh-tokoh pemeran pembantu yang hampir semuanya gak jelas apa fungsinya di cerita itu; dan untungnya tokoh utama pria yang agak lumayan. Ya udah, gitu ajalah reviewnya...