"Gimana, Ta?" usik Mama. "Bagus, kan? Sama sekali nggak kampungan, kan?"
Tasya mengangkat bahu. "Lumayanlah!" sahutnya tak peduli.
"Bersih, rapi. Udaranya juga segar. Nggak berpolusi seperti di Jakarta. Di sini kamu bisa belajar dengan tenang," kata Mama lagi.
Tasya melihat ke langit-langit ruangan yang berwarna putih. Kalo gitu, Mama aja yang tinggal di sini. Kan Mama yang suka sama tempat ini, gerutu Tasya dalam hati.
(hal. 19)
*
Banyak dialog lincah yang sangat lucu. Beberapa contohnya:
"Diaaan...! Cepatlah sikit kau mandi! Apa pulak yang kau lakukan di dalam?" teriak Riama.
"Luluran dulu, kali...."
"Hah? Luluran?" Riama terkejut. "Alamakjaaang...! Macam mana pulak kau iniiii?"
"Bukan! Bertapa!"
"Cari ilham!"
"Cari wangsit letak harta karun Prabu Siliwangi!"
(hal. 34)
atau
"Ya ampun, Tasya! Kapan datang? Kok langkah lo nggak kedengaran? Berjalan atau melayang? Kirain.... salah satu penunggu taman ini...."
(...)
"Pagi-pagi sudah merumput aja, As!" kata Tasya.
Astri tertawa. "Buat persediaan. Nanti di kelas, kan, tinggal memaham biak," ujarnya tanpa merasa tersindir. "Dikeluarkan lagi, terus dikunyah lagi. Lumayan, biar nggak ngantuk."
(Astri dan Tasya, hal. 39-40)
*
"Uang memang seperti air laut, semakin diminum justru membuat semakin haus."
(hal. 231)