Jump to ratings and reviews

Hijab For Sisters : Jadi Anak Pesantren

Lulus SMP, Tasya yang awalnya punya kehidupan bebas ala remaja ibu kota, resmi jadi anak pesantren! Pesantrennya sih tipe modern yang superluas dan superlengkap. Sayangnya, masuk ke sana tuh kayak menempati luxurious jail. Kehidupan lamanya sebagai anak gaul kota sirna hanya dalam sekejap. Berganti dengan kehidupan asing yang menjadikannya serba teratur.

Bahkan, kamarnya yang luas pun berubah jadi kamar sederhana yang harus dibagi dengan tiga santri lainnya. Astri, si anak barbar yang berisik dan suka manjat-manjat pohon. Dini, si anak kampung yang pintar tapi minderan. Dan Sarah, si bule Jerman yang kesasar. Bisa nggak sih Tasya bertahan di pesantren, menjalani kehidupan yang serba berbeda dari kebiasaannya? Terus, gimana dengan Astri, Dini, dan juga Sarah, saat menghadapi Tasya yang suka seenaknya sendiri?

264 pages, Paperback

Published January 1, 2022

Loading...
Loading...

About the author

Triani Retno A.

44 books17 followers

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (42%)
4 stars
2 (14%)
3 stars
5 (35%)
2 stars
1 (7%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,662 reviews78 followers
October 12, 2025
"Gimana, Ta?" usik Mama. "Bagus, kan? Sama sekali nggak kampungan, kan?"

Tasya mengangkat bahu. "Lumayanlah!" sahutnya tak peduli.

"Bersih, rapi. Udaranya juga segar. Nggak berpolusi seperti di Jakarta. Di sini kamu bisa belajar dengan tenang," kata Mama lagi.

Tasya melihat ke langit-langit ruangan yang berwarna putih. Kalo gitu, Mama aja yang tinggal di sini. Kan Mama yang suka sama tempat ini, gerutu Tasya dalam hati.

(hal. 19)


*

Banyak dialog lincah yang sangat lucu. Beberapa contohnya:

"Diaaan...! Cepatlah sikit kau mandi! Apa pulak yang kau lakukan di dalam?" teriak Riama.

"Luluran dulu, kali...."

"Hah? Luluran?" Riama terkejut. "Alamakjaaang...! Macam mana pulak kau iniiii?"

"Bukan! Bertapa!"

"Cari ilham!"

"Cari wangsit letak harta karun Prabu Siliwangi!"

(hal. 34)


atau

"Ya ampun, Tasya! Kapan datang? Kok langkah lo nggak kedengaran? Berjalan atau melayang? Kirain.... salah satu penunggu taman ini...."

(...)

"Pagi-pagi sudah merumput aja, As!" kata Tasya.

Astri tertawa. "Buat persediaan. Nanti di kelas, kan, tinggal memaham biak," ujarnya tanpa merasa tersindir. "Dikeluarkan lagi, terus dikunyah lagi. Lumayan, biar nggak ngantuk."

(Astri dan Tasya, hal. 39-40)

*

"Uang memang seperti air laut, semakin diminum justru membuat semakin haus."

(hal. 231)
Profile Image for Nabila.
45 reviews5 followers
January 15, 2025
Ngikutin petualangan Tasya dan kawan-kawan jadi ngingetin aku juga waktu masih di pesantren. Keseruan dan drama kehidupan yang dijalani selama di sana emang banyak nyimpan hal lucu, sedih, bahagia, dan lainnya. Alur cerita ini runtut, jadi enak dinikmati sebagai bacaan yang ringan dan tentunya bisa sekali duduk.
Profile Image for nadinosaurus.
370 reviews8 followers
September 3, 2026
NIBS persis banget sama pesantrenku dulu ketika di Subang. Sepanjang cerita aku bener-bener diajak nostalgia lewat suasana, keseharian, dan perhatian karakternya satu sama lain. Salah satu bagian yang bikin aku tersentuh adalah ketika Sarah mengambilkan baju untuk Dini dan Astri saat mereka sedang sakit dan harus menginap di klinik—teman sekamar adalah keluarga kedua.

Sebenarnya aku agak bingung dengan fokus ceritanya. Kukira karakter utamanya Tasya aja, ternyata gonta-ganti. Sayangnya, entah mengapa bagiku seperti tanggung dan kurang tuntas. Harusnya kemarin beli buku lanjutannya sekaliaan 😭

Karakter Astri di sini memorable banget! Sebagai pembaca aku kayak diajak temenan beneran saking "hidup"nya.

Sebagai orang Wonogiri aku relate bgt sama jawaban Dini ketika ditanya soal wilayah asal, "Dari Solo, Bu. Tepatnya dari Wonogiri." harus bawa-bawa Solo dulu biar lawan bicara tidak bingung.
2 reviews
December 15, 2024
Sebenarnya banyak hal menarik yg bisa dikulik lewat satu per satu karakter. Mulai dari Tasya si anak Jakarta, Sarah si bule, Asri si tomboi, dan Dini si pintar.
Saya sendiri menyayangkan arc Tasya berakhir tanpa kejelasan, padahal kehidupan masalalu tasya sebelum mondok dan backstory nya kurang jelas. Hingga tiba2 tokoh utamanya diganti ke Asti
Displaying 1 - 4 of 4 reviews