Pada 17 Agustus 1950, di Jakarta, sejumlah seniman dan politikus membentuk Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Melalui konsep seni untuk rakyat, Lekra mengajak para pekerja kebudayaan mengabdikan diri untuk revolusi Indonesia.
Hubungannya yang erat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) menyeret lembaga ini ke tengah pusaran konflik politik. Ketika PKI digdaya, yang bukan Lekra diganyang. Sebaliknya, ketika zaman berubah, khususnya pasca Geger 1965, yang Lekra dihabisi.
Inilah sepenggal sejarah gagasan Indonesia, ketika seni amat digelorakan sekaligus dikerangkeng.
Buku ini lumayan memberikan pandangan yang berbeda mengenai Lekra itu sendiri dimana ia dibentuk dengan tujuan mendukung revolusi dan kebudayaan nasional. Dulu selalu diberikan stigma bahwasan nya Lekra organisasi yang bersifat negatif karna polemik politik tak hanya di Indonesia tapi dunia sedang menguncang terkait dengan paradigma komunisme. Tapi disini dipaparkan banyak sekali informasi yang membuatku tercengang dimana seniman Lekra juga mengait pekerja seni yang bisa diandalkan untuk mengerjakan proyek besar seperti menghiasi beberapa Hotel besar dengan membuat relief, pembuatan Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Pembebasan Irian Barat, dan masih banyak karya besar yang merupaka bagian dari perjuangan mereka terhadap Indonesia. Banyak juga gaya jurnalisme Harian Rakjat memang sesuai dengan Marxisme dan Leninisme yang mana mudah dimengerti petani dan buruh yang menjadi basis massa PKI. Well, Terima kasih Tempo 👍🏻
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2017
3,3 dari 5 bintang!
Tadinya saya menganggap 'Lekra' adalah organisasi momok yang mengerikan karena lekat akan nuansa PKI dan 1965. Saya sadar akan betapa kuatnya pengaruh cuci otak di jaman orde baru dan setelah membaca buku ini ternyata organisasi ini tidak seburuk yang saya sangka
Memang organisasi ini didirikan oleh DN Aidit dan Nyoto salah satu pentolannya PKI. Akan tetapi organisasi ini tidak pernah secara resmi menyatakan berdiri dibawah oleh PKI. Saat itu hanya Lekra yang menjadi satu-satunya wadah tempat seniman berkarya dengan aliran sosialis realisnya. Saya baru tahu kalau jaman itu dibentuk lawannya Lekra yaitu Manikebu (Manifesto Kebudayaan) yang lebih mengarah kepada humanisme universal dan Salah satu tokohnya H.B jasssin dan juga Goenawan Mohammad .
Terbitan buku sejarah dari tim Majalah Tempo selalu menarik untuk dibaca. Kali ini karya bertema seni budaya pada era 60an mengenai sejarah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang saat itu disebut-sebut menjadi onderbouw PKI.
Majalah Tempo merupakan media milik Goenawan Muhammad, yang bisa dikatakan sosok ini bagian dari “Manifes Kebudayaan”, suatu Manifes tandingan dari Lekra. Namun, bagi saya hasil liputan ini menunjukkan hasil yang objektif.
Saya sangat tersentuh dengan semangat pendirian Lekra, sebut saja konsep turba (turun ke bawah) yang dapat memberikan “view” langsung bagi para seniman untuk merasakan hidup bersama Masyarakat sekitar dan bertujuan untuk menjadi karya seni yang dapat dinikmati seluruh rakyat.
Secara keseluruhan, liputan kali ini memberikan wawasan baru bagi saya mengenai sejarah seni dan kebudayaan di Indonesia era 60an. Liputan yang layak untuk dijadikan perenungan bagi para seniman saat ini dan yang akan datang.
Menindaklanjuti keingintahuanku tentang "seni dan rakyat tahun 1960-an" yang termuat dalam Ronggeng Dukuh Paruk, aku memutuskan untuk membaca buku ini. Yep, tulisan-tulisan dari TEMPO sepertinya sudah jadi 'makananku' untuk urusan buku-buku sejarah yang ringan dan ditulis dalam narasi yang populer. Maka dari itu, aku memutuskan untuk membaca buku ini dan kuselesaikan dalam waktu 4 jam, termasuk waktu untuk melakukan anotasi dan eksplorasi mandiri atas informasi yang termuat dalam buku ini.
Salah satu hal mendasar yang kudapatkan setelah membaca buku ini adalah fakta bahwa seni dan sastra bisa menjadi elemen yang berpengaruh besar dalam pergerakan politik. Termasuk di dalamnya indoktrinasi, propaganda, maupun aksi-aksi provokatif. Lekra membuktikan hal tersebut melalui beragam sepak terjangnya sejak tahun 1950 dan berakhir pasca "geger 1965". Buku ini mengulas dengan begitu apik mengenai asal muasal pembentukan Lekra, strategi pergerakannya hingga ke daerah-daerah, bahkan seteru antara Lekra dengan Manifesto Kebudayaan yang melibatkan Pramoedya Ananta Toer dan Sapardi Djoko Damono. Banyak sekali hal-hal baru yang baru kuketahui lewat buku ini. Bisa dibilang, dengan ketebalan 180 halaman (di iJakarta), buku ini sangat padat dengan informasi dengan data-data yang akurat, bahkan kebanyakan menggunakan data primer berupa wawancara langsung dan arsip-arsip sezaman.
Seperti buku-buku TEMPO lainnya, bagian akhir dalam buku ini juga diberi suplemen berupa kolom yang ditulis oleh tokoh yang berkaitan dengan topik. Adanya kolom ini membantuku untuk mendapatkan perspektif baru mengenai Lekra dari berbagai kalangan; baik dari mantan anggotanya, dosen seni rupa, bahkan kubu 'kontra' yaitu golongan Manifesto Kebudayaan. Melalui kolom ini juga aku ingin mengetahui lebih jauh mengenai gagasan "realisme sosialis" yang menjadi basis ideologi Lekra dalam menjalankan perannya sebagai salah satu "alat revolusi rakyat".
Terlepas dari layout foto para narasumber atau tokoh yang terkesan 'dipaksakan' karena hanya dipotong di bagian wajah dan diletakkan di sudut halaman, aku memberi buku ini 5 bintang karena konten yang insightful berbasis data akurat, dan penulisan yang tidak bertele-tele.
Menurutku, seri tempo adalah salah satu buku sejarah terbaik yang sangat efektif untuk berkenalan dengan topik/tokoh tertentu. Penuturannya yang dituliskan melalui sudut pandang jurnalistik memberikan sebuah pemaparan yang detail dan kronologis, dibantu berbagai foto dan infografis yang menurutku sangat menarik, buku ini juga mendorong pembacanya untuk mengulik literatur lebih banyak lagi.
Aku sudah sejak lama jatuh cinta dengan Lekra. Menurutku, Lekra adalah sebuah lembaga kesenian yang sangat efektif memberdayakan anggotanya--yang tidak ada gantinya dewasa ini. Prinsip dan strateginya jelas dan efektif (Politik sebagai Panglima dan 1-5-1) memberikan seni dan rakyat menjadi satu nyawa. Aku tidak pernah menyangka, jauh sebelum aku lahir, ada masa di mana sastra demikian diperhitungkan. Majalah Bintang Timur (asuhan Lekra) dan majalah Sastra (HB Jassin) saling perang ideologi, mendefinisikan seni menurut sudut pandang mereka sendiri. Perang karikatur, sindiran, artikel, aku tidak pernah menyangka seni dan sastra pernah sebegitu ributnya setelah sekarang sastra dan seni demikian bebas bahkan cenderung dipinggirkan menjadi karya estetis saja.
Aku tidak bermaksud naif dengan bilang aku ingin lembaga dengan ideologi demikian hadir kembali. Ideologi semakin lama mengakar akan semakin korup dan rakus, lama-lama kebebasan itu sendiri yang akan terberangus. Seni bukan lagi ekspresi, seni menjadi alat politik dan agitasi. Hal ini terbukti sejak kemunculan kritik berupa Manikebu, yang jadi bentuk kejengahan para seniman yang karyanya dikekang. Tetapi, mungkin terkadang perkembangan masif harus dibayar dengan harga semahal itu. Lewat Lekra, geliat kebudayaan demikian tumbuh lebat dan kekar. Seni dan budaya yang terasa mahal di zaman sekarang justru diinisasi oleh masyarakat akar rumput tahun-tahun tersebut.
Lekra, lepas dari ideologi politiknya, menurutku adalah sebuah lembaga jenius yang lewat 10 tahun berdirinya mampu mencengkram kuat keberlangsungan seni dan budaya di Indonesia. Entah kapanlagi kita bisa bangkit demikian besar setelah semua proses sejarah sampai hari ini. Tapi buat aku, Lekra masih memiliki tempat tersendiri sebagai lembaga yang luar biasa atas pedulinya terhadap seni dan sastra.
LEKRA dan Geger 1965 menceritakan tentang sejarah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra sendiri sering disebut menjadi onderbouw PKI, tetapi dari buku ini kita mengetahui fakta bahwa tidak sedikit tokoh Lekra yang menolak organisasi mereka menginduk ke PKI.
Dijelaskan juga mengenai konsep yang dianut Lekra yaitu konsep 1-5-1 dan metode turba (turun ke bawah), lalu cerita tentang latar belakang kehidupan para pendiri Lekra sampai hubungan Lekra dengan PKI. Selain sejarah tentang masa kejayaan Lekra, di buku ini juga terdapat konflik tentang hak kebebasan mencipta, dimana tidak ada kebebasan bagi para seniman untuk berkarya. Lalu kejamnya pemerintahan Orde Baru pada organisasi ini, yang dimana para aktivis Lekra dihabisi; mereka ditangkap, dibunuh, dipenjarakan, atau "lenyap".
Buku yang sangat bagus karena dari buku ini kita mengetahui fakta-fakta yang mungkin belum diketahui oleh sebagian orang terutama fakta mengenai Lekra, disertai juga dengan ilustrasi atau gambar-gambar tokoh dan kejadian pada masa itu.
Lerka dan Geger 1965 adalah sebuah buku yang mengajak kita untuk menelusuri salah satu periode paling kontroversial dalam sejarah Indonesia: peristiwa 1965 dan apa yang terjadi di baliknya. Diterbitkan oleh Tempo, buku ini memberikan perspektif mendalam tentang bagaimana peristiwa tersebut mengubah arah sejarah negara ini.
Buku ini menarik karena menggabungkan kisah pribadi dan narasi sejarah dengan cara yang mudah dipahami, mengungkapkan fakta-fakta yang mungkin belum banyak diketahui orang. Lerka mengacu pada sebuah cerita yang menyentuh tentang pengalaman individu yang terlibat dalam pergolakan itu, sementara Geger 1965 menggambarkan kekacauan sosial dan politik yang terjadi.
Bagi kamu yang tertarik dengan sejarah Indonesia dan ingin memahami lebih dalam tentang peristiwa 1965, buku ini sangat cocok. Lerka dan Geger 1965 memberikan pembaca wawasan baru tentang peristiwa yang mengubah wajah Indonesia dengan cara yang menarik dan penuh makna.
LEKRA, berdiri 5 tahun setelah revolusi agustus 45. kehadiran LEKRA menjadi magnet seniman muda kala itu. Karya-karya seniman LEKRA sangat kental akan nuansa politik, berbeda dengan karya-karya seniman pencetus manifes kebudayaan yang menganut kebebasan dalam berkesenian, sehingga tak mengherankan apabila perseteruan dua kelompok ini begitu intens kala itu.
Sebagai kelompok yang lahir dari tangan-tangan tokoh partai komunis, LEKRA sering diafiliasikan dengan PKI, namun anggapan itu ditolak oleh petinggi LEKRA. Hingga akhirnya LEKRA dibubarkan menjelang peristiwa G30SPKI. Para seniman LEKRA di buru dan di babat habis, dan akhirnya selesai sudah eksistensi LEKRA dikancah kebudayaan dan kesenian Indonesia.
Liputan dari Tempo tentang peran Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada masa awal-awal kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dijelaskan juga tentang konflik antara Lekra dengan Manifes Kebudayaan. Meskipun beberapa tokoh Lekra sudah "hilang" dan dibunuh oleh Pemerintahan Orba, di sini kita mendapatkan kesaksian langsung dari tokoh-tokoh yang masih hidup (ketika liputan ini dibuat pada September 2013).
bacaan bagus buat tau sejarah LEKRA dan kenapa disangka unitnya PKI..jaditau beda LEKRA sama manifes kebudayaan dan nyadar kalo pada suatu waktu kebudayaan pernah sangat dibanggakan dan digarap serius.
Bukunya informatif dan bagus, akan tetapi agak susah bagi saya mengingat beberapa nama karena kurang jelas segemnnya dibagi atas dasar apa dan tidak disusun secara kronologis. Buku ini juga kurang mendetail mengenai segmen perfilman lekra.
Membaca buku ini, saya jadi tahu kalau LEKRA Dalam sejumlah hal begitu provokatif. Sialnya, hal-hal provokatif inilah yang kemudian terus diingat, dibesar-besarkan, dan terus direproduksi oleh mereka yang anti-PKI.
Cukup banyak informasi yang bisa saya dapatkan dari buku mengenai Lekra, walaupun beberapa hal tidak dijelaskan secara detail, namun hanya dengan mengambil garis besarnya cukup menggambarkan betapa ketegangan perihal kebudayaan di era 1950-1965.
Read harder challenge 2016 #14: Read a book about politic in your country and another (fiction or nonfiction)
Tantangan baca GRI bulan September: Buku dari perpustakaan
Buku tipis ini gw selesaikan dalam waktu hampir sebulan. Berulang kali pinjem gonta-ganti dari hp ke pc, dari pc ke hp. Saking leletnya baca. Maaf kalo ada yang antri baca. :p
Gw yang besar di zaman Orba, tahunya Lekra itu underbouw PKI. Dan agak enggan sebenarnya untuk mencari tahu karena begitu kuatnya indoktrinasi bahwa PKI=Jahat berkat penayangan film tentang peristiwa 30 September 1965.
Lekra yang terbentuk pada 17 Agustus 1950 ini, meskipun turut didirikan oleh beberapa tokoh besar PKI, seperti Nyoto dan Aidit, sebenarnya tidak pernah menyatakan diri sebagai underbouw PKI. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa keduanya memilihi hubungan simbiosis mutualisme. PKI tidak mungkin bisa menang Pemilu tanpa Lekra, dan Lekra sendiri tidak bisa besar tanpa PKI. Hal itu dibuktikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir menjelang 1965, mereka kerap diajak kerja sama untuk melakukan propaganda dengan PKI. Walaupun demikian perlu diketahui bahwa dalam mukadimah Lekra, sama sekali tidak ada kata-kata tentang sosialis, realisme sosialis, dan sebagainya. Namun terlepas dari itu, Lekra juga menjadikan politik sebagai panglima.
Karena konsep seni pro-rakyat, dengan prinsip turba (turun ke bawah) yang harus dilakukan para anggotanya dalam menciptakan sebuah karya seni, Lekra menjadi begitu dekat dengan rakyat. Perkembangan kebudayaan yang gegap gempita di masa itu, membuat banyak para seniman yang bersimpati dan menjadi bagian dari Lekra. Namun tak sedikit pula yang justru antipati, yang kemudian membentuk faksi Manikebu atau Manikebo--olok-olokan Lekra terhadap oposisinya itu.
Kedekatan dengan Soekarno semakin memperbesar pengaruh Lekra, dan mungkin menjadi penyebab utama mengapa kiprah Lekra nyaris tidak terdengar sama sekali pada masa Orba.
Saat ini kesulitan dalam menulis sejarah yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia dan onderbouw-nya adalah bagaimana menjadi kritis tanpa terkesan menjadi 'revisionis'. Nyatanya semua tulisan baru yang menghakimi PKI sebagai dalang gerakan G30S cenderung dianggap mengamini mitos yang dibangun oleh Orde Baru --- sesuatu yang tidak populer saat ini. Jadinya ada semacam keseragaman tema dalam buku-buku baru yang membahas sejarah PKI: bahwa mereka adalah korban tak bersalah dalam pertarungan politik antara Soekarno / militer / CIA / alien dll. Tokoh-tokoh yang dahulu pernah dekat dengan PKI ramai-ramai membantah keterlibatan langsung dengan PKI atau mengetahui rencana G30S.
Untuk adilnya, pemberantasan PKI oleh rezim Orde Baru memang dilakukan dengan represif, brutal, berlebihan dan tanpa pandang bulu. Bisa dibilang ini adalah kejahatan kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Tantangannya jadinya adalah bagaimana membuat analisis yang berimbang tentang sejarah PKI.
Seri buku Tempo termasuk yang lumayan berhasil dalam hal ini. Dalam buku ini kengerian rezim Orde Baru banyak ditampilkan dengan nyata lewat kesaksian orang-orang yang menjadi korban operasi militer pemberantasan PKI. Di lain pihak kegiatan agitasi dan propaganda PKI masa itu diceritakan pula dengan gamblang.
Seperti bisa ditebak beberapa tokoh yang menjadi sumber tulisan di buku ini membantah bahwa Lekra terkait langsung dengan PKI. Benar bahwa tidak ada dokumentasi yang menguatkan tuduhan ini. Tetapi fakta-fakta tentang kedekatan prinsip dan keselarasan tindakan Lekra dengan agenda PKI tidak bisa dipungkiri di sini. Tetap perlu dicatat bahwa tidak terlihat hubungan langsung antara Lekra dengan G30S, tuduhan pihak militer yang membawa sebagian besar anggotanya mati diburu atau meringkuk di belakang jeruji tanpa melalui proses pengadilan yang layak sebelumnya.
Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat adalah organisasi kebudayaan yang dibentuk oleh D.N Aidit dan Njoto, Ketua I dan II Comite Central Partai Komunis Indonesia.
Awal dibentuknya merupakan suatu rencana besar yang dimana Bung Karno pun ikut berintervensi guna mendukung gerakan revolusioner untuk memusnahkan secara utuh kolonialisme. Seniman Lekra lebih merupakan perkerja budaya ketimbang sekedar seniman. Mereka turba (turun kebawah), membaur dengan masyarakat dan mengaspirasikan suara rakyat lewat seni.
Lekra adalah suatu Lembaga Kebudayaan yang kompleks menurut saya, Pada zaman Orde Lama para seniman Lekra menolak Manifestasi Kebudayaan dan ikut mendukung dilarangnya Manifestasi tersebut karena dianggap Kontrarevolusi. Namun sebaliknya saat zaman berubah mereka menjadi buron, ditangkap, disiksa, dibunuh, karena mereka dianggap dekat dengan Komunis. Lekra disini diceritakan dalam konsep yang abu-abu. Suatu saat mereka salah, suatu saat mereka benar.
Buku ini merupakan kumpulan liputan yang ditulis oleh satu tim dari TEMPO. Dalam pendahuluannya Seno Joko Suyono sebagai Redaktur Pelaksana Majalah TEMPO memberikan pendapat bahwa buku ini dibuat bukan bermaksud untuk mengorek luka lama, tapi sebagai bagian lain dari sejarah kelam 1965.
Buku ini menceritakan data-data tentang Lekra yang jarang saya temui di buku sejarah di sekolah. Data mengenai bagaimana Lekra terbentuk, "Turba" yang dipegang oleh seniman-seniman Lekra, dan pendapat mengenai pemisahan antara Lekra dengan PKI dibahas dalam buku ini.
Ah ya, buku ini menceritakan pergesekan yang terjadi Lekra dengan Manifes Kebudayaan. Sayangnya, bagian mengenai itu tidak diceritakan dengan lengkap dan hanya selintas saja.
Pada akhir buku ini, terdapat satu bagian yang menceritakan gerakan-gerakan pada tahun 1990-an yang menyerupai Lekra. Walau serupa, mereka tidak mau dibilang sebagai ahli waris tapi terilhami.
Lekra menganggap seni harus bersifat realisme-revolusioner yang menuntut kepedulian para seniman terhadap kondisi sosial. Selanjutnya hal ini membuat para seniman yang bertentangan dengan Lekra mencetuskan Manifes Kebudayaan yang tidak menyetujui aturan Lekra.