Bukan salah takdir ketika Alila dan Sho dipertemukan dalam situasi yang membuat mereka tak mungkin bersama, karena masih ada penebusan dosa dan tanggung jawab yang tarik-ulur berdialog dan menjelaskan dirinya masing-masing untuk dimenangkan.
Bukan salah takdir ketika Alila dan Naka dipertemukan di antara pergulatan cinta dan politik yang membangun sekat-sekat dan membenturkan perjalanan Alila dan Naka yang tidak sempurna namun khidmat dengan ketidakbahagiaan.
Bukan salah Alila, ketika ia bisa melihat masa depan dan masa lalu seseorang hanya dengan menyentuh tangan sekilas saja.
Namun apakah sesungguhnya bahagia, jika selalu saja ada pergerakan lain yang lebih memiliki kuasa dalam menciptakan kisah yang sempurna? Hidup mereka semua berubah ketika segala ruang kemungkinan untuk bahagia dipaksa untuk memahami batas absolut. Pada akhirnya, mereka tak bisa mengelak saat takdir juga yang menjawab berbagai tanda tanya besar dalam perjumpaan mereka, mengenai kebersatuan dan keberpisahan cinta...
Jarang-jarang saya membaca cerita romance yang dibalut unsur science-fiction untuk novel indonesia. Endingnya pun ternyata tidak berakhir indah hahaa makanya saya berikan bintang lebih :3
Saya juga suka dengan covernya yang nuansa biru muda dan hijau membuat mata menjadi cerah XD
3/5 ⭐️⭐️⭐️ overall okay lah ceritanya menarik ada unsur sci-fi gitu kereendd daaaan cukup bikin aku tercengaang shshs TAPIIII buat aku yang kurang suka sama cerita dengan alur fast-paced(untuk aku pribadi) jadi kurang dapet feelsnya gregetnyaaaaaaa semua terasa cepet banget:"D
Nggak banyak novel Indonesia yang mengangkat soal science fiction plus romance, jadi aku menghargai usaha penulis mengangkat tema ini. Aku lumayan menikmati ceritanya. Bahasa penulisnya juga lumayan oke. Aku membacanya tanpa derita dan terus penasaran sampai akhir cerita.
Yang bikin kaget adalah ketika ada adegan ML, nggak jelas sih dan nyaris terlewatkan kalau saja aku nggak membaca adegan tiba-tiba mereka bangun tidur berdua. Terus endingnya juga beda, nggak terduga Alila jadian dengan siapa.
Aku nggak begitu tahu tentang virus dan segala macamnya intrik pemerintah, jadi bagian itu aku ho-oh aja dengan tulisan penulis. Yang bikin aku rada terganggu justru ketika ibu Alila memutuskan bunuh diri. Aku nggak terbayang perempuan hamil macam apa yang memutuskan bunuh diri di depan suaminya setelah tahu suaminya selingkuh. Maksudku, bunuh diri itu adalah hal yang ekstrim dan kecuali sebelumnya si cewek itu punya masalah kejiwaan, rasanya sulit dipercaya tiba-tiba bunuh diri gitu.
Tapi overall, okelah. Semoga Agustina terus menulis tema-tema yang nggak umum seperti ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Inti buku ini sebenarnya hanya membahas tentang cinta dan masa lalu. Saya mendapatkannya sebagai hadiah sayembara yang digagas oleh Grasindo. Meski membahas tentang cinta, novel ini disisipkan pesan-pesan idealisme, nasionalisme, dan bagaimana manusia berubah seiring teknologi.
Tidak terlalu buruk,tapi tidak juga terlalu spesial. Karena bukunya yang tipis, hanya 144 halaman, saya membaca buku ini sambil menikmati perjalanan Bandung - Jakarta. Mungkin, kalau novel ini lebih mengedepankan kisah Naka yang mencipta sebuah virus komputer mematikan (seperti Israel yang menciptakan stuxnet, novel ini saya rasa akan jadi berbeda, tidak seperti novel percintaan Indonesia yang temanya itu-itu saja.
Kecantol sama cover waktu memutuskan beli buku ini. Hmmm genre science-fiction yang oke-lah. Kisah dramatis dan gak hepi ending seleraku banget. Gaya penulis cukup asyik bertutur. Tapi kayaknya terlalu tipis ya hingga kurang ngena aja. Jadi cukup 3 bintang aja.