Seorang perempuan mencari pahlawannya sambil mendendangkan kisah. Barangkali, kau pun pernah mendengar salah satu cerita itu karena dia adalah bidadari yang keluar dari kepala Scheherazade. Dia adalah bidadari yang mengembara merintih dengan iringan musik rebana sambil berkata lantang, “Aku mencarinya sebab akulah sempalan rusuknya dan ia menyebutku bidadari.”
Syahdan, seorang lelaki memetik kisah-kisah itu. Dan, ini adalah cerita yang dirangkainya dari penggalan-penggalan omongan orang tentang Alit….
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.
Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.
Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.
Penggabungan antara ilmu sastra dan teknik hipnosis...AS Laksana yang mendalami Ericksonian Hypnosis membuat cerita-cerita yang dituturkannya terasa seperti berada di ruang hipnosis dengan penulisnya sendiri berperan sebagai terapis...
Tak pernah bosan membaca cerpen-cerpen A.S Laksana, selalu rapi, dengan narasi indah dan twist plot yang tak terpikir sebelumnya. Semakin mengokohkan A.S Laksana sebagai salah satu cerpenis Indonesia terbaik yang pernah ada.
Jadi bayi dalam perutmu itu kau ambil dari udara lalu kau masukkan ke dalam perutmu?"
Memukau... Kekuatan cerita AS Laksana terlihat dari peranan interteks. Dia mengembara dalam tubuh sosial pada suatu keluarga. Kadang irasional, dan menyembunyikan maknanya dibalik perintah-perintah dialog. Dalam "cerita ibu yang menunggu" AS Laksana bermain dalam ujaran-ujaran biasa namun terbuka untuk tawa.
"Tapi kau pernah bilang, manusia berasal dari tanah."
Perempuan itu kesulitan meneruskannya. Disuruhnya anaknya itu bermain-main di jalan. "Kau sudah ditunggu teman-temanmu," begitu katanya. Anak itu melesat ke jalanan. Berminggu-minggu ia tidak pulang.
Berminggu-minggu perempuan hamil itu menunggu anaknya pulang. Sendirian saja dia. Suaminya seperti setan yang datang dan pergi sesukanya. Dan sebagaimana setan lebih menyukai tempat-tempat gelap, suaminya pun lebih menyukai tempat-tempat gelap. Mungkin lelaki itu sekarang sudah mati. Begitu banyak ia mendengar teradi pembunuhan di mana-mana. Mungkin suaminya menjadi salah satu korban pembunuhan. Atau mungkin sebelum dibunuh ia sempat membunuh seseorang terlebih dulu. Ia tidak peduli benar. Lelaki itu toh tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia menjadi milik siapa saja. Menjadi milik tempat-tempat gelap yang disukainya.
cerita ini bermain-main dengan ilusi dan konvensi. Lantas kekuatan cerita difungsikan sebagai imajinasi. Ranah kisah macam ini terguris juga dalam kisah-kisah lain. jadi dapat dikatakan buku ini memiliki karakter yang kuat, cerpen yang yang menjadi pembaharu dalam sastra Indonesia. Kisahnya melebihi kisah itu sendiri. Untuk segala umur patut dimiliki.
Kumpulan cerpen yang penuh dengan mitologi, saduran kehidupan sehari-hari, dan komponen filsafat dan agama mengarahkan kita untuk memilih akhir terbaik bagi kehidupan para tokohnya.
A.S. Laksana menyuguhkan dua belas cerpen: Menggambar Ayah, Bidadari yang Mengembara, Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang, Burung di Langit dan Sekaleng Lem, Seekor Ular dalam Kepala, Telepon dari Ibu, Buldoser, Seto menjadi Kupu-kupu, Bangkai Anjing, Rumah Unggas, Peristiwa Pagi Hari, dan Cerita tentang Ibu yang Dikerat
Di antara kedua belas cerpen, cerpen favoritku jatuh kepada Burung di langit dan Sekaleng Lem dan Buldoser. Sementara itu, ada beberapa kategori yang sepertinya harus kupertimbangkan karena sudah menjadi cerpen yang membuatku cukup terkejut dan berpikir cukup lama. Hal ini dapat diartikan sebagai sesuatu yang unik: Menggambar Ayah, Seekor Ular di Dalam Kepala, Rumah Unggas, dan Cerita tentang Ibu yang Dikerat.
Dua cerpen favoritku mengisahkan tentang orang-orang pinggiran yang berusaha menjadi orang jalanan yang patuh terhadap negaranya dan mereka yang digusur dari rumah gubuk mereka kemudian kesulitan mereka untuk menemukan tempat-tempat baru.
Namun satu hal yang pasti. Cerita ini mengingatkanku pada kisah Scheherazade dengan aliran yang kental dengan tradisi Jawa. Basi premisnya sama-sama menggunakan pola pengembaraan perempuan di kehidupan modern. Namun tidak lupa pula, kisa-kisah dalam cerpen tersebut juga mengajak kita untuk memahami rangkaian penggalan-penggalan omongan atau rumor dari tokoh laki-laki.
meski sepertinya saya lebih menyukai gaya penulisan dan cerpen-cerpen karya Linda Christanty, tapi cerita-cerita yang ditulis oleh A.S. Laksana pada buku ini sangat indah. saya suka sekali cerpen pembukanya, Menggambar Ayah. sungguh cerpen yang berani dan asyik. Buldoser juga saya sukai, ada rasa sedih yang terkandung dalam cerpen itu. cerpen yang mengandung kesedihan lebih mudah saya rasakan. kalau tidak salah ada dua belas cerpen dalam buku ini yang kesemuannya membuat saya geleng-geleng kepala karena salut.
Cerpen kedua A.S. Laksana yang saya baca. Cerpen ini sudah diterbitkan pada 2004, tapi saya baru membacanya di tahun 2019. Saya bisa dibilang cukup telat.
Berisi cerita-cerita khas A.S. Laksana yang mengusung realisme magis. Beberapa ceritanya pun bisa dibilang terinspirasi dari kisah-kisah yang ada di kitab suci, seperti pada judul 'Seekor Ular dalam Kepala'. Tapi yang menjadi favorit saya adalah 'Menggambar Ayah' karena membuat saya takjub dengan cara penceritaan yang disajikan di dalam cerita tentang seorang anak yang bertanya-tanya tentang siapa ayah kandungnya.
Biasa aja. Tulisan A.S. Laksana sangat rapi, tapi dia bukan pencerita yang andal. Menurut saya, cerita-ceritanya kurang menarik untuk dibaca. Saya lebih suka membaca kumpulan cerpen Eka Kurniawan yang judulnya Corat-coret di Toilet. Hmmm, ini pendapat subyektif saya, toh saya nggak terlalu paham tentang sastra.
Bidadari yang Mengembara punya 12 cerita pendek yang berbeda, tetapi ketika membacanya sampai akhir, saya menemukan benang merah dari keseluruhan ceritanya, Nama Alit mendominasi hampir di banyak cerita pendek di dalam buku ini. Hingga saya berpikir kalau Alit ini memang tokoh utama dan menjadi penyambung antara cerita satu dengan yang lainnya.
Membaca kumpulan cerpen ini saya merasa kayak dibawa menelusuri gang-gang kecil yang penuh rahasia; penuh cerita-cerita yang sudah umum terjadi, tapi masih dianggap hal menjijikan atau mengganggu bagi sebagian orang. Rasanya seperti kena tampar sekaligus caci maki di muka karena terlalu banyak pengabaian pada hal-hal demikian. Ironi memang.
Ketika cerpen pembuka yang berjudul Menggambar Ayah saya baca, jujur saja saya jadi merasa kalau banyak orang di luar sana yang melakukan hal semacam itu memiliki kerinduan yang teramat besar pada ayahnya. Entah, kenapa A. S. Laksana bisa sedemikian jeli membuat narasi seapik ini dalam cerpennya.
Sampai pada cerpen Bidadari yang Mengembara yang diambil sebagai judul kumpulan cerpen ini, saya merasa kalau-kalau cinta itu memang rumit sekali. Sialan, apa pula jenis cinta yang dicari oleh Nita? Saya nggak paham, tapi merasa terusik dengan pencarian Nita untuk seorang kekasih yang menganggap dirinya sebagai bidadari?
Sampai di cerpen terakhir berjudul Cerita Tentang Ibu yang Dikerat sungguh punya alur yang mindblowing buat saya. Beberapa kali saya bergumam, “Jangan-jangan si ini teh itu, ya?” atau “Jangan-jangan bener dugaan gue tadi. Ah, kan kenapa jadi gini?”
Secara keseluruhan, saya suka buku ini, tapi saya katakan dengan jujur, saya belum sepenuhnya memahami. Jadi, kalau ulasan ini tidak sesuai, ya mohon dimaafkan saja. Mungkin buku kumpulan cerpen ini akan saya baca ulang saat ada waktu luang nanti dan mencoba mencari makna tersiratnya.
“Kau pikir, kenapa perempuan itu ingin melumatku? tanyaku kepada mereka. “Ia takut melahirkan serigala,” jawab salah satu. “Ia menganggapku seekor serigala?” “Perempuan itu mendapatkanmu dari jalanan.” “Karena itu aku dianggapnya serigala?” “Karena itu kau dianggapnya serigala.” ("Menggambar Ayah", halaman 2)
Bermain-main dengan diksi sehingga membuahkan narasi yang apik lagi elok dan indah membuat kumpulan cerpen ini menjadi sebuah buku unik sebab gaya bertuturnya yang sarkas, satire, dan mengesankan sekaligus. A.S. Laksana kerap sekali menggunakan metafora, meski demikian, barisan-barisan kata-katanya cenderung sederhana dan mudah dipahami sehingga enak dibaca dan rapi. Selain itu juga deret kalimat-kalimat panjang yang beranak pinak membuat cerita-cerita dalam buku ini kian detail dan kuat.
Bidadari yang Mengembara merupakan kumpulan 12 cerpen karya A.S. Laksana yang mengulik tema-tema sederhana, meski kecenderungan isu dominannya adalah keluarga, tokoh-tokohnya biasa saja, kebanyakan adalah dari sudut pandang anak (baik masih anak-anak, remaja, maupun telah dewasa). Bukan perkotaan, perdesaan, atau rumah-rumah mewah, penulis mengajak pembaca untuk berjalan-jalan menelusuri gang-gang kecil yang kelam dan penuh rahasia: pelacuran, anak tidak diharapkan, gelandangan, rasa penasaran, mistis, ketidakpercayaan, kebodohan, rumor, kemarahan dan dendam anak-orangtua, dan hal-hal janggal lainnya. Rasa-rasanya, jika pembaca membuka lembar demi lembarnya bekal kena tampar-caci maki-tercengang secara beruntun.
Pertama kali baca waktu buku ini diletakkan di pojok baca pribadi milik kelas 8 SMP. Sumbangan kawan dekat saya, katanya punya kakaknya. Saya kaget sekaget-kagetnya waktu membaca gaya tulis demikian. Entah apa yang membuat saya terus membaca pun saya kurang paham. Semula saya merasa tidak begitu nyaman membacanya. Namun, tidak terasa, eh sudah di halaman terakhir saja.
Unik. Singkat. Absurd. Padat.
Saya kemudian ingat bahwa antologi cerpen A. S. Laksana ini yang memancing imaji liar saya untuk berkisah lewat fiksi, dengan diksi-diksi di luar nalar yang umumnya tabu untuk disebutkan. Cerita yang bagus. Kedepannya saya akan coba baca esai milik beliau.
Membaca cerpen karya A. S. Laksana ini seperti tersedot dalam sebuah diari orang asing yang sangat personal layaknya aku seakan-akan mengenal para tokoh ini. Memang, kelakuan mereka sungguh ajaib dan bisa dikatakan tidak masuk akal; contohnya seperti unggas setengah bebek, setengah kalkun, dan berkotek seperti ayam yang diciptakan oleh pensiunan tentara. Apalah maksudnya ini?! Seringkali aku merasa ingin terus bertanya, “Woi, aku dimana?!” setiap kali membaca di tengah-tengah cerita.
Well, poin plusnya, narasinya selalu dibungkus dengan apik, jadi aku harus berterima kasih pada penulis bahwa aku bisa bangkit dari reading slump!
Setiap kali menemukan buku bacaan yang punya daya tonjok kuat, saya selalu bertanya: Peristiwa atau keadaan seperti apa yang telah membentuk si penulis?
Dua belas cerita yang dimuat dalam buku ini memikat saya sekaligus timbul rasa iri setelah membacanya. Cara penulis membangun karakter tokoh-tokohnya cukup berani, dan berhasil. Di luar kenyataan bahwa ada beberapa tokoh yang bernama Alit, tetapi mereka tetaplah masing-masing.
Di antara dua belas cerita itu, favorit saya: Menggambar Ayah, Seto Menjadi Kupu-Kupu, dan Peristiwa Pagi Hari.
Lebih asyik dari Herucakra, tapi masih lebih bagus Murjangkung. 3,5 * mau ngasih 4* tapi urung karena aku gak terlalu suka ilustrasi sampulnya.
Dalam balon-balon dunia surealis yang meledak di sana sini dalam kumcer ini, aku lebih suka kekacauan Seto daripada Alit. Metamorfosis Seto lebih mudah dicerna dibanding kefanaan Alit (apaaah??!). Tapi bagaimanapun, cerpen favku di buku ini tetap Bidadari yang Mengembara, Burung di Langit dan Sekaleng Lem, dan Rumah Unggas.
Faktanya adalah saya lebih sering membaca esai-esainya A.S Laksana yang tersebar di berbagai media daring di bandingkan bukunya. Saya selalu menyukai tulisannya yang sarkas dan satir. Apalagi jika ia sedang menyeru tentang buku dan ketidak-gemaran masyarakat Indonesia pada kegiatan membaca. Cerpen-cerpen ini merupakan cerpen yang menyatukan kisah realis dan realisme magis. Kisah yang membicarakan yang liyan.
Membaca setiap bagian dari cerpen di buku ini, seperti membuka cerita sekumpulan orang-orang irasional. Bagaimana perasaan kesepian, jatuh cinta, horny, nasib buruk bisa begitu menjadi hal yang tidak masuk akal dan menyimpang.
Favorit saya ialah "Bangkai Anjing" dan "Buldoser". Kejutan-kejutan di akhir ceritanya luar biasa.
Buku ini membawa pembaca berimajinasi dan bertanya-tanya dengan setiap karakternya sekaligus dibuatnya termenung. Bravo!
Ini kumcer yang bikin saya betah duduk dan membacanya nyaris tanpa jeda. Realisme magis yang diusung A.S. Laksana membuat saya berpikir tentang hal-hal yang barangkali tidak terlintas di pikiran pembaca (kebanyakan orang). Tak jarang menjumpai istilah-istilah sarkas, namun saya menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah. Sebab jika dipahami betul, setiap cerpennya punya makna yang sepadan. Dari selusin cerpen dalam buku ini, yang menjadi favorit saya: "Menggambar Ayah", "Bidadari yang Mengembara", "Buldoser", dan "Bangkai Anjing". Selebihnya, kumcer ini amat mengesankan.
Kacau dan indah. Imajinasi ugal-ugalan A.S. Laksana yang masih menyentuh tapak-tapak realitas membuat ceritanya terasa dekat sekaligus asing.
Penuturannya pun halus, bukan sehalus awan, tapi sehalus pasir yang nikmat dimainkan jemari tangan. Ada tekstur kasar dari amarah dan kepedihan tokoh-tokohnya yang menggerus saat membaca buku ini.
Favoritku, tentu saja "Menggambar Ayah", "Bidadari yang Mengembara", "Bulldozer", "Burung di Langit dan Sekaleng Lem", juga "Seekor Ular Salam Kepala".
Judul: Bidadari yang Mengembara Penulis: A. S. Laksana Penerbit: GagasMedia ISBN: 979-780-699-5 Dimensi: iv + 160 hlm; 13 x 19 cm
Merupakan kumpulan cerpen yang terdiri dari dua belas karya A. S. Laksana. Bergenre surealis.
Saya akan menuliskan inti tiap cerpen: 1. Menggambar Ayah Bercerita tentang seorang aku yang berusaha mencari ayahnya dari kecil hingga dewasa. Lalu ia mulai menciptakan imajinasi dengan menggambar ayah.
2. Bidadari yang mengembara Bercerita tentang Alit dan tukang urut, yang dikira bidadari.
3. Seorang ibu yang menunggu atau Sangkuriang Bercerita tentang anak yang dipenuhi rasa ingin tahu tentang "Dari mana bayi keluar?" dan seorang ibu yang kesulitan menjelaskannya.
4. Burung di langit dan sekaleng lem Bercerita tentang "aku", yang hidup dan menahan lapar dari sekaleng lem.
5. Seekor ular di dalam kepala Bercerita tentang suami istri, Rob dan Lin. Lin mendapati seekor ular di dalam kepalanya dan upaya Rob mengeluarkan ular tersebut.
6. Telepon dari Ibu Bercerita tentang Yun yang sedang hamil dan ibunya yang sudah pikun.
7. Buldoser Bercerita tentang ayahnya Alit, yang selama hidup hingga matinya selalu dikejar buldoser.
8. Seto menjadi kupu-kupu Bercerita tentang Seto yang melahap beragam jenis buku demi memikat seorang wanita. Lalu ia berubah menjadi kupu-kupu.
9. Bangkai anjing Bercerita tentang ayah yang ditinggalkan istri dan ketiga anak lelakinya. Dan salah satu anaknya menempuh jalan hidup sebagai banci.
10. Rumah unggas Bercerita tentang Seto yang mengganti air embun pagi ayahnya dengan air kakus. Dan Jono (ayah seto) yang gemar mengawinsilangkan unggas-unggas
11. Peristiwa pagi hari Bercerita tentang Alit yang mengharap ayahnya memahami dirinya sebagai seorang lelaki, di setiap pagi hari.
12. Cerita tentang ibu yang dikerat Bercerita tentang "Aku" (kakak Alit) yang memiliki ingatan terbatas tentang keluarganya. Tanpa sadar, bahwa ia yang telah menghancurkan keluarganya.
Secara cover: saya kurang suka, karena dipenuhi dengan tulisan full halaman. Berlatar pink. Seperti buku yang membosankan.
Secara isi: saya amat menyukai ide-ide Sulak yang sebenarnya sehari-hari, namun dia berhasil mengemasnya dengan apik. Alurnya lincah, sudut pandangnya menarik. Ciri khas Sulak adalah pada pergantian PoV (sudut pandang) yang begitu halus. Tanpa sadar memainkan logika kita, dari tokoh "aku" ke Alit, lalu balik lagi ke "aku" sebagai pencerita si Alit. Campurannya pas! Bahkan banyak sekali cerpennya yang bercerita "aku" tanpa pernah diterangkan siapa "aku" di sini. Pun penokohannya. Yang menjadi ciri khas Sulak adalah Alit dan Seto. Terutama Alit, ia menggunakannya di beberapa cerpen, tanpa ada keterkaitan. Alit yang diceritakan di cerpen satu tidak sama dengan Alit di cerpen dua. Surealis sekali, tapi berhasil meyakinkan saya bahwa kesemua itu logis. Dan mungkin terjadi.
Ditambah nukilan-nukilan dari kitab suci, dan beragam tulisan lainnya yang disertakan sebagai foot note. Terasa tidak mengganggu, dan membuat saya agak tercengang, mendapati Sulak memaknai sebuah peristiwa dalam ayat suci. "Wow... Gila!" Itu ekspresi saya tiap kali tersadar apa yang ia maksud.
Kelebihan: saya sangat suka penokohan dan sudut pandang yang digunakan. Judul yang dibuat pun, seringkali membuat saya bertanya di awal dan memunculkan ketertarikan. Sulak selalu menyampaikan secara implisit keterkaitan judul dengan isi cerpennya.
“INI cerita yang kurangkai sendiri dari penggalan-penggalan omongan orang tentang Alit ...,” begitu ungkap narator dalam salah satu cerpen A.S. Laksana di buku Bidadari Yang Mengembara (2004).
‘Penggalan-penggalan omongan orang’ ingin saya generalisir sebagai ‘rumor’, sebuah kata serapan dari bahasa Inggris, rumour. Menurut Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English, rumour diartikan sebagai berikut:
general talk, gossip, hearsay, (statement, report, story) which cannot be verified and is of doubtful accuracy.
Saya ingin garis bawahi keterangan terakhir dari definisi di atas, bahwa rumor tidak dapat diverifikasi kebenarannya dan akurasinya diragukan. Baur dan memang seperti itu lah, saya kira, A.S. Laksana ingin mengarakterkan beberapa tulisannya. Narator dalam beberapa cerpen di buku ini diposisikan olehnya sebagai pihak kesekian yang mendengar kisah-kisah melalui pihak kesekian-pihak kesekian lain, kemudian mengisahkannya kembali kepada pembaca.
Berbeda dengan perilaku narator yang biasa hadir dalam teks-teks fiksi umum yang kerap saya temukan, narator milik A.S. Laksana sama tidak yakin-nya dengan pembaca akan akurasi kisah yang tengah ia sampaikan sendiri. Beberapa kali, sang narator mengungkapkan keraguan-keraguannya seperti tertulis dalam cerpen Bidadari Yang Mengembara : “Di hari ketiga, kudengar seribu kunang-kunang membimbingnya ke sebuah muara yang tak pernah dikunjungi orang. (Kalimat ini agak meragukan sebenarnya. Sebuah muara tak pernah dikunjungi orang, sedangkan bulan sudah diinjak-injak orang. Tapi aku hanya menuturkan apa yang kudengar.)”
Hal itu menarik karena eksistensi narator menjadi begitu kuat dengan sifat yang subyektif dan memiliki banyak peranan. Narator tidak lagi hanya sekedar menjadi perpanjangan tangan penulis untuk mengisahkan sesuatu yang sangat definitif tapi justru membaurkan kisah tersebut sambil sesekali juga mengingatkan pembaca untuk bersikap awas saat alur cerita yang dibuat oleh penulis mulai rumit. Dalam cerpen-cerpennya, A.S. Laksana membuat narator menjadi sangat aktif, bukan sebaliknya.