Dari bangku taman, ke kebun karet tua, ke rimba raya, lalu kembali menyusuri kota dan perkampungan kumuh. Menyaksikan seorang kekasih yang tergila-gila, pemuda yang menyimpan trauma, ibu tunggal yang dirundung gebalau, dan mereka yang terus bergulat dan mempertaruhkan hidupnya setiap saat.
Kita akan melihat dari dekat, mendengarkan bisik-bisik, percakapan, umpatan, hingga teriakan, membaui masa lalu, masa kini, masa depan, dan ikut merasakan kedukaan, kegembiraan, hingga kehampaan.
Masih ada banyak lagi cerita seru dan menarik lainnya pada buku antologi kumpulan cerpen Getah Basah dan Cerita Lainnya ini. Semoga dapat menyentuh Anda sekalian, memberi kejutan dan efek-efek tertentu bagi diri para pembaca.
Izinkan saya memperkenalkan salah satu karya dari Komunitas Kota Kata Palembang. Getah Basah dan Cerita lainnya ... kemudian dibuat berdecak ingin mengetahui seperti apa Kumcer cover putih dan penasaran tulisan tentang palembang seperti apa yg akan di tulis...sampai pada cerpen pertama ... -_-" siapa yg mematikan lampu disini . Hal hal yg aku fikirkan berubah menjadi liar dengan cerita cerita kumcer berikut. Berbalik drngan cover yg cerah isi dari buku ini gelap semua wkwkwkwk asem banget. Akan tetapi aku nyaman ketika membaca buku berikut font yg disajikan sangat sejuk di mata . untuk cerpen sendiri aku suka sekali dengan ceprpen dengan judul HARI RAYA.
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Sudah Mak bilang, kau, kan dak biso makan duren. Sudah pantangan dari kecik. Inget, kan, kejadian waktu kelas enam SD? kau sakit tujuh hari tujuh malam gara-gara makan duren dari Wak Hasan." Hal.1
Konon, terhadap duren atau durian orang akan terbelah menjadi suka atau benci sekali. Begitu pun Rian, yang sejak lama udah pantang makan si raja buah itu. Berbagai cara dilakukan, misalnya dengan mencicipi hidangan olahan durian dalam bentuk kue atau permen. Tetap saja, badannya menolak.
Namun herannya, setelah dewasa, dalam satu kesempatan tiba-tiba Rian mampu lagi memakan durian. "Namun, tetap, semua daging buah durian yang dimakannya adalah pilihan si pujaan hati. Rian sampai meneteskan air mata senang..... Semua rekan kerja termasuk Bos Besar menyoraki tingkah laku Rian." Hal.7.
Ironisnya, Rian yang tiba-tiba mau makan durian lagi memunculkan memori yang lama terkubur. Termasuk "Alasan (Sebenarnya) Rian Tak Suka Durian" yang kemudian dijadikan judul cerpen yang menjadi pembuka di buku "Getah Basah dan Cerita Lainnya ini."
"Tolol! kenapa kalian tidak menggali lubang untuk menampung darahnya supaya tidak menggenang?"
"Kau tak bilang!"
"Kapan kau pakai otakmu kalau semuanya harus diberi tahu?" Hal.60.
Ketegangan dan dialog-dialog lincah itu hadir di cerita "Kambing Guling" yang menghadirkan para pencuri kambing di tengah galian minyak (ilegal) yang memang banyak ditemukan di Sumatra Selatan. Saya cukup relate dengan cerita ini sebab kenal beberapa orang yang melakukan pengeboran minyak ilegal ini. Mengerikan sebab harus kucing-kucingan dan juga risiko nyawa.
Kisah menarik lain ada di cerpen "Klub Bunuh Diri" yang bercerita tentang pembuat racun yang hidupnya melarat namun dapat hidup senang karena racun yang ia buat digemari oleh orang-orang yang terkumpul di kelompok bunuh diri itu.
Di cerpen "Martabak Lebaran" kisah cinta dihadirkan dengan cara sederhana namun juga ngenes, ya sebagaimana kisah percitaan orang-orang kebanyakan.
Sungguh kumpulan cerita yang beragam dan menarik. Dibandingkan dua kumcer Komunitas Kota Kata lainnya, buku "Getah Basah dan Cerita Lainnya" ini bisa dibilang yang paling bagus. Saya gak bisa sebutkan semua cerpen sebab semuanya hampir seragam secara kualitas. Ada beberapa cerpen yang ide dasarnya udah oke tapi eksekusinya kayak terburu-buru. Contohnya cerpen "Di Bawah Jembatan Tua" yang berkisah tentang kehidupan Herman yang bergelut dengan kemiskinan dan bayang-bayang ibunya yang hendak jadi TKI di luar negeri.
Tapi sekali lagi, ini kumcer yang enak banget untuk disantap :)
Buku ringan yang menyenangkan saat dibaca, ditulis oleh teman-teman dari Komunitas Kota Kata Palembang, sehingga semua cerita yang ada didalamnya memuat latar belakang dari ragam daerah di Sumatera Selatan.
Setiap penulis memiliki keunikan dan gaya penceritaan yang khas, secara umum banyak yang memuat unsur komedi, sekalipun banyak cerita bernuansa gelap tapi baluran komedi membuat berbagai cerita terasa fun saat dibaca.
Terdapat 19 cerita pendek dari 12 penulis, cerita pendek favorit saya "Klub Bunuh Diri karya M. Agung Triwijaya, saya hendak menginterpretasikan sedikit tentang cerpen ini, saya menyukainya, karena klub bunuh diri menyentil ironi sosial, dimana ada satu tokoh yang menjual racun kepada orang-orang yang hendak mengakhiri hidup, pada akhirnya dengan penuh kesadaran penuh justru kelak meminum racun yang dia buat sendiri.
Saya juga ingin menapresiasi cerita pendek yang paling saya suka dan ditulis dengan epik oleh teman-teman saya, dimana saya juga suka karya Kak Husna yang berjudul "Bujang Lapuk", karya Kak Fadilah yang berjudul " Aku Paling Suka Matanya, serta "Alasan (Sebenarnya Rian Tak Suka Durian) karya Kak Heru, dan " Tipsani" karya Kak Betuah Lepus.
Terima kasih telah menulis tulisan ini, teruslah berkarya, semoga kelak saya bisa membaca tulisan keren dari kalian lainnya.
Dengan sampul buku yang menipu, nyatanya antologi kumcer beberapa penulis Palembang ini cukup berhasil membawa pembacanya ke cerita-cerita suram yang terkadang juga terasa miris. Dari kisah pilu korban pedofilia, korban trauma masa kecil, duka pecinta muda-mudi hingga isu lingkungan hidup, tema-tema yang digulirkan terasa segar, walau beberapa cerpen terasa terlalu ringkas dan buru-buru untuk dituntaskan. Dua cerpen yang secara pribadi dianggap menonjol dibanding yang lain adalah Majun dan Pada Suatu Hari yang bercerita secara intim dan mengorek emosional karakter utamanya dengan baik. Terima kasih komunitas Kota Kata untuk cerita-cerita istimewa tentang kota kita tercinta ini.