Ketika pria mencintai wanita dia mencari kesatuan atau kesatuan akhir yang terjadi dalam cinta. Dan tidak ada kesatuan dalam bentuk konfigurasi elemental yang lebih besar dariapda pernikahan sebab hakikat penciptaan wanita adalah ketika Tuhan memisahkan dari pria seseorang dalam bentuk yang dinamainya wanita maka ia itu terwujud dalam bentuknya. Maka dia merindukannya itu sebagaimana merindukan dirinya sendiri, dan wanita itu pun merindukan tempat asalnya. (Al-Qaysari)
Novel ini banyak berbicara tentang lintasan-lintasan hati sepasang da'i dan da'iyah muda dalam pernikahan mereka. Sesuatu yang barangkali sering terlewatkan untuk kita cermati sebagaimana kita sering enggan mencermati diri sendiri.
Keinginan untuk dicintai, dimanjakan, dikasihi, diperhatikan adalah sesuatu yang fitri bagi setiap orang maka semestinya kita juga berlatih untuk melakukannya bagi suami atau istri kita. Ketika seseorang bisa mengembangkan diri maka ia cenderung bisa menghargai dan lebih mencintai dirinya dan juga sekaligus orang-orang yang di sekelilingnya. KOnflik-konflik itulah yang terjadi pada Laras dan Bayu. Keinginan untuk mencintai dan dicintai, keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi pasangan, dan juga anak-anak mereka, akan menimbulkan energi besar untuk menghamba pada Sang Perkasa melalui beratnya ujian dakwah. Melalui pengorbanan atas kepentingan pribadi dan kepentinga keluarga. Berhasilkah mereka berdua mengeratkan genggaman tangan menghadapi semuanya?
Sungguh indah menyimak semuanya, bagi Anda yang menuju persiapan pernikahan, bagi Anda yang tengah mengarungi awal pernikahan dan bagi Anda yang ingin bersnostaliga dalam pernikahan.
Izzatul Jannah adalah nama pena dari Setiawati Intan Savitri.
Karya pertamanya dimuat di majalah Ananda ketika duduk di kelas V SD. Mulai menulis cerita Islami pada tahun 1992, sejak berinteraksi intens dengan kajian dan dakwah Islam. Telah menulis sekitar 50 cerpen lebih yang dimuat di Annida, Ummi, Ishlash, dan belasan artikel lepas tentang keislaman. Pernah menjadi juara III LMCPI I Annida, juara harapan LMCPI IV Annida, serta termasuk nominator cerpenis favorit versi Annida.
saya tidak habis pikir kenapa larasati sampai pergi dari serangkaian upacara pernikahan itu atas dasar syirik dan tega membiarkan ayahnya malu dengan gagalnya pernikahan, saya juga dari keluarga kejawen dan ayah saya sering mempersulit untuk sholat tapi itu bukan alasan untuk boleh menyakitinya......tapi itu kan menurut saya yaaa dan orang lain bisa memiliki pemikiran yang lain.
Btw, sepanjang novel ini bikin nyesek liat larasati-nya..... yang pengen dingertiin tapi ga ngomong, yang kangen ortu nya tapi belum diterima, dan suaminya larasati yaa memang cowok kebanyakan kalee ya sampai sekarang
"Disinilah cara indah penulis menggambarkan dimana letaknya cinta yang sesunggunya. Jalan da'wah adalah nomor satu, meski kadang harus menomorduakan ego dan perasaan. Walaupun 'wanita' lebih mudah tersentuh perasaannya, maka disinilah Larasati menunjukkan betapa kuatnya hati seorang wanita. hasrat ingin dimengerti, hasrat ingin dimanja, hilang seketika kala panggilan da'wah berkumandang. Buku ini bisa jadi teman duduk Anda yang mengasyikkan, selamat membaca! :)" Ar
Perjuangan cinta yang mengharukan, banyak yang bisa diambil dari kisah di sini. Adat, cinta dan agama, sesuatu yang marak di negeri kita terbingkai dalam potret sang tokoh