Jump to ratings and reviews
Rate this book

Scarlet Preludium

Rate this book
Aku belum mau mati. Tidak hari ini.

Seandainya waktu bisa diputar kembali, Scarlet pasti tidak akan menyesali keadaannya sekarang. Meski mati-matian berusaha merelakan masa lalunya, Scarlet masih saja merasa belum pantas untuk bahagia.

Scarlet mencintai musiknya, walau tampaknya tak semua orang mengerti permainannya yang terlalu rumit. Tak apa, ia tidak butuh apresiasi ataupun tepuk tangan.

Bertemu Devon karena insiden yang tidak menyenangkan, membuat Scarlet memusuhi pria itu. Apalagi dengan sifat playboy dan sikap Devon yang suka seenaknya. Tapi, di balik sifat yang saling bertolak belakang, Scarlet dan Devon sama-sama menyimpan luka yang dalam.

Scarlet akhirnya luluh atas kegigihan Devon untuk berbaikan dan bersahabat, bahkan perlahan ia terbuai kehangatan dan ketulusan pria itu. Sayangnya kenyataan pahit harus Scarlet hadapi, yang membutnya berpikir... mungkin ia memang tak pantas bahagia.

296 pages, Mass Market Paperback

First published March 6, 2014

4 people are currently reading
46 people want to read

About the author

Silvia Arnie

4 books14 followers
Seorang penggemar kopi, yang sangat mencintai Starbucks, yang selalu berhasil mendatangkan inpirasi. Paling sering nongkrong di Starbucks Thamrin atau Plaza Indonesia.
Hobinya: Art. She's doing art juz lyk drinking coffee... Waktu bosan ia menari. Ia refleks menggambar setiap ada pensil dan kertas. Ia membentuk apa saja yang bisa dibentuk. Dan ia membuat hidup lebih berarti lewat musik, terutama dengan klasiknya piano dan biola. Tapi, selain klasik ia juga suka jazz. Love Dave Coz, love Diana Krall...
Berpuisi dan bersastra sering ia lakukan, tapi itu cuma sekedar iseng dan nggak pernah nyangka akan menjadi sesuatu yang berarti.
Suka buku-buku Meg Cabbot, Sophie Kinsela, Lauren Weisberger, Jennifer Weiner, Jane Green, etc, etc, etc...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (15%)
4 stars
22 (31%)
3 stars
29 (41%)
2 stars
6 (8%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
April 2, 2019
Scarlet memiliki masa lalu yang kelam. Masa lalu itu seakan mengikatnya sehingga Scrlet tidak bisa terlepas darinya. Scarlet pernah mengalami masa kejayaan sebagai pemain band, hingga terjerumus ke dunia narkoba. Bahkan dia harus kehilangan bundanya karena narkoba itu. Meski saat ini Scarlet sudah bersih, namun bayangan gelap itu masih terus muncul.

Aira, sahabatnya memberikan pekerjaan sebagai pianis di lounge tempatnya bekerja. Tapi posisinya mulai tergeser oleh live band pendatang baru. Bukan itu saja, Devon si vokalis malah membawa sial. Mobil Scarlet dirusak oleh mantan Devon yang mengira mobil itu milik Devon. Devon berusaha mendekati Scarlet sampai akhirnya Scarlet mulai merasa nyaman dan membuka hatinya untuk Devon. Tepat saat itu, Devon dan Aira justru mengumumkan status mereka yang kini pacaran.

Saya tertarik membaca novel ini karena sampulnya yang beda dari biasanya. Ternyata kisahnya cukup "dark". Kegundahan Scarlet, upayanya terlepas dari rasa kehilangan, rasa beralah dan tidak layak membuatnya jatuh bangun. Scarlet selalu memilih jalan sunyinya agar tidak kehilangan sahabatnya. Ketika orang-orang yang di dekatnya mempertanyakan pilihannya, dan Scarlet mencoba jujur pada mereka, justru orang-orang itu menyalahkan Scarlet. Poor Scarlet.

Saya suka dengan pilihan nama Scarlet ini. Entah disengaja atau tidak, panggilan Scar sangat cocok untuk karakter Scarlet yang penuh luka. Saya bahkan ikut merasakan kesedihan Scarlet, dan juga kelegaan saat dia memilih untuk melepaskan segalanya. Buat kamu penikmat dark story, bolehlah mencicipi novel ini.
Profile Image for Maria Elysabet.
244 reviews22 followers
April 17, 2019
Melalu kisah scarlet ini mengajarkan untuk belajar memaafkan diri sendiri, jangan terus melihat kebelakang dan berjuang untuk terus maju
Salah satu metropop yang bagus banyak pelajaran yang kita ambil bukan hanya kisah cinta semata
Yang kurang aku suka kenapa harus ada pov devon ditengah cerita
Tapi secara keseluruhan Aku sukaaa 😊
Profile Image for Yacita Aditya.
230 reviews2 followers
June 20, 2019
-Scarlet Preludium- (3/5)
penyesalan memang selalu datang terakhir. Scarlet insyaf pasca kematian ibunya. tapi berujung trauma mendalam.
kisah ini ga hanya mengangkat konflik batin mantan pecandu narkoba. ada pertaruhan cinta dan sahabat, di dalamnya.
Benar2 kelam dan menyentuh!

Hadirnya Devon setidaknya menambah semarak cerita ini. Alur yg tadinya lambat sempat membuat sedikit jenuh
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
December 19, 2020
actual rating: 2,5 star

hampiiir saja jatuh hati sama buku ini. bab-bab awal dan para karakternya berpotensi menjadi menakjubkan. namun, di satu titik konflik, semuanya berbalik ke membenci buku ini. percobaan membaca pertama tulisan silvia, not bad untuk gaya menulisnya, tapi ya itu, ada belokan kisah yang ngerasa aneh.
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
April 13, 2014
The loneliest moment in someone’s life is when they are watching their whole world fall apart, and all they can do is stare blankly

Scarlet, pianis lounge yang sedang menjalani serangkaian kejadian hidupnya dengan monoton bertemu dengan seorang Devon. Pria bertipe playboy yang kemudian menggeser jadwal tetapnya. Pertemuannya dengan Devon malam itu adalah satu momen yang paling tidak menyenangkan sepanjang karirnya di lounge. Mantan pacar Devon menghancurkan mobil putih kesayangannya malam itu. Wanita itu tidak tahu kalau ada dua mobil berwarna putih di parkiran. Satu milik Scarlet, satu milik Devon.

Cerita terus berlanjut ketika Scarlet menyadari bahwa ia mulai jatuh cinta pada sosok Devon. Pada hari ulang tahunnya, Scarlet mendapat kejutan yang sangat spesial dari Devon. Sebuah perayaan kecil sengaja dibuat oleh Devon untuk Scarlet. Devon beralasan, barangkali dengan kejutan kecil darinya Scarlet bisa mulai memaafkan Devon atas insiden yang melibatkan mobilnya.

Scarlet sebenarnya tahu bahwa Devon adalah kekasih sahabatnya, Aira, yang juga manajer lounge. Bila memang benar cinta itu buta, maka cinta telah membutakan Scarlet hingga akhirnya Scarlet tersadar bahwa ia tidak mungkin mencintai kekasih sahabatnya sendiri. Setelah bergulat dengan segenap penyesalan di masa lalu, Scarlet kembali melawan penyangkalan terbesarnya, jatuh cinta kepada Devon.

Keadaan menjadi semakin tidak mudah ketika Scarlet datang ke resepsi pernikahan sahabatnya semasa SMA. Segenap ingatan tentang kesalahan terindah di masa lalu menguasainya. Tekanan itu Scarlet alami kembali karena teman-temannya yang juga hadir di pesta pernikahan itu masih menganggap dirinya sebagai seorang pemadat dan pembunuh. Scarlet kembali teringat pada kelam semasa menjadi pecandu narkotika, satu momen yang mengakibatkan kepergian seseorang yang dikasihinya, Ibu.

Devon yang datang bersama Scarlet mampu meyakinkan Scarlet bahwa ia sudah berubah dan memintanya untuk tidak terlalu serius menanggapi celotehan semacam itu. Pertemuan kembali dengan mantan kekasihnya, membuat luka lama Scarlet kembali menganga. Sejenak, Scarlet mulai memvonis dirinya sendiri bahwa ia memang tidak layak bahagia.

Ketegangan demi ketegangan mulai mengalir dalam jiwa Scarlet hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bermain di lounge. Scarlet menerima ajakan mantan kekasihnya untuk bergabung bersama band terbarunya. Scarlet merasa harus melanjutkan hidupnya dengan jalan yang baru ia pilih ini. Terlebih, dengan kenyataan HIV yang diderita mantan kekasihnya itu. Scarlet menjalani hidup barunya sebagai penulis dan pencipta lagu untuk band itu.

Scarlet baru saja menyelesaikan sebuah lagu sebelum ia akhirnya ditemukan pingsan. Tekanan bertubi-tubi membuat ia overdosis obat tidur. Beruntung, nyawanya masih bisa diselamatkan. Tidak. Scarlet tidak mati hari ini.

Kenyataan semakin memburuk ketika Aira membuka percakapan dengan Scarlet usai tidur panjangnya. Aira kecewa pada sikap Scarlet yang tidak mau bercerita masalahnya dengan Devon. Aira meninggalkan Scarlet yang masih penuh tanya. Scarlet kini benar-benar sendirian.

Usai tragedi yang hampir mencabut nyawanya, Scarlet kembali pada guru musiknya. Scarlet kembali memainkan musiknya sekaligus mulai belajar membuat komposisi. Hingga tiba waktunya untuk melakukan resital piano pertamanya.

Kisah Scarlet tidak lantas berhenti disitu. Devon tiba-tiba muncul sesaat sebelum Scarlet tampil. Devon memaksa untuk menjelaskan sesuatu pada Scarlet. Scarlet tetap tidak bergeming. Devon lantas naik panggung dan memperkenalkan dirinya sebagai pianis pembuka.

Devon memainkan lagu yang Scarlet tulis pada malam ia kehilangan kesadarannya. Lagu berjudul ‘Penantian’ ia membius Scarlet. Scarlet tidak pernah tahu bahwa Devon menemukan lagu ciptaannya itu hingga memainkannya dengan sangat indah. Scarlet hanya tahu bahwa malam resitalnya ini adalah malam yang paling indah.

Catatan Personal

Personally, saya jatuh cinta sejak pertama kali bertemu buku ini apalagi desain sampulnya. Sangat mewakili emosi yang menjiwai seluruh cerita. Silvia Arnie berhasil membangun sebuah karakter Scarlet yang tangguh dan kuat (and i love it!). Penulisnya sukses membuat sebuah kisah hidup yang kelam. Cerita yang menggebrak sejak awal mampu membuat penasaran dan menggiring pembaca untuk terus mengikuti kisah Scarlet dan Devon.

Dari sampulnya, saya berharap bahwa saya akan mendapat cerita tentang sebuah resital piano dalam pembacaan buku ini. Scarlet Preludium sedikit menyinggung hal ini ketika Scarlet memainkan resital pianonya di bagian akhir cerita. Walau tidak menjadi satu bab tersendiri, saya rasa sudah cukup sebagai pembuktian bagi Scarlet. Bukankah resital piano adalah mimpi setiap pianis?

Overall, Scarlet Preludium adalah metropop terbaru yang saya baca setelah Blackjack (Clara Ng & Felice Cahyadi). Remarkable point dari keduanya adalah bahwa hidup ini tidak selalu penuh dengan kisah-kisah cinta paling indah sepasang kekasih atau persahabatan yang everlasting. Bahwa cinta adalah entitas yang mampu mempercepat kelam. Betapa pun cinta menjatuhkanmu, kelak cinta pula yang membangunkanmu.

Paninggilan, 13 April 2014.
Profile Image for Alfin Rafioen.
181 reviews8 followers
March 5, 2018
Saya suka banget novelnya, mengajarkan saya untuk memaafkan masa lalu dan move on.
Profile Image for Anastasia Cynthia.
286 reviews
March 12, 2014
Kisah ini memang terlalu pahit kalau ingin dilanjutkan, tapi apa boleh buat Scarlet memang tak pernah bisa memilih titian untuk menyebrangi satu per satu kisah menyakitkan dalam hidupnya. Pertemuannya dengan Devon mungkin salah satu yang paling menyebalkan. Devon, pria playboy yang berhasil menggeser kedudukannya sebagai seorang performer di lounge yang dimanajeri oleh Aira. Tepat di malam ketika mereka berjumpa, Scarlet tahu kalau mantan pacar Devon yang sinting itu salah meneror mobil Ford miliknya. Ia pasti lupa kalau di parkiran lounge malam itu ada dua mobil Ford putih yang sama. Namun, lantaran insiden itulah Devon dapat mengenal sosok Scarlet lebih jauh. Jauh di balik dialognya yang itu-itu saja. Jauh di balik segudang jadwal yang nyatanya terasa monoton bagi Scarlet. Scarlet selalu hidup dalam penyesalan. Menyesal akan hidupnya yang sekarang. Dan tak pernah bisa memaafkan masa lalunya.

Scarlet dan Devon punya sifat yang berkebalikan. Devon punya jiwa yang opitimis, berbeda dengan Scarlet yang bolak-balik masuk psikiater dan menyimpan kedukaan bersama koleksi obat penenangnya. Namun, di saat keduanya dekat, Scarlet tahu, Devon tidak seberuntung yang ia kira. Devon punya masa lalu, pun semua orang. Dan di saat Scarlet menemukan titik cerahnya bersama Devon, perempuan itu harus menerima kenyataan pahit yang tak pernah ia harapkan sebelumnya ... lantas, apakah ia memang tak pernah pantas untuk bahagia?


"Scarlet Preludium" merupakan novel pendatang baru yang nongkrong di rak toko buku di pertengahan Maret. Sekilas menyembul, semua orang sudah pasti terbuai dengan sampulnya yang menarik. Dan memang benar, isinya pun sudah dipastikan dapat menggelitik hati. Sedari halaman pertama, Silvia Arnie sudah dapat meneguhkan karakter utamanya, Scarlet, dengan sangat sempurna. Dengan sudut pandang "aku" yang ia angkat, pembaca seolah dirasuki angan dan kesan kelam yang menghantui Scarlet tentang masa lalunya. Terbangun di ruang psikiater bernama Dokter Tasya, semuanya pun berjalan menjadi satu. Terus menggiring pembaca membuka satu per satu tabir kelam yang ada dalam Scarlet.

Gaya bahasanya yang simpel, "Scarlet Preludium" memang pas dimasukkan ke dalam golongan metropop. Namun, satu yang perlu disimak, metropop yang kerap membahas tentang percintaan antar teman sepekerjaan atau teman sepermainan, kali ini dibalut Silvia Arnie dengan kain hitam alias mengangkat tema dari dunia yang sering dikucilkan masyakarat.

Devon dihadirkan sebagai pangeran berkuda putih. Memang terlihat klise, dari bagaimana gerak-geriknya mendekati Scarlet. Sikap sok ramahnya dengan Aira, namun semua imaji itu dengan lekas dapat terhapus jika menyimak hingga ke tengah cerita.

Sebagai kesimpulan, "Scarlet Preludium" menghadirkan konflik yang sederhana, empiris, namun tetap penasaran untuk disimak. Kehidupan Scarlet yang sedih tidak dapat ditebak begitu saja hingga bab-bab awal dan pertengah, semuanya masih menyimpan rahasia hingga di kertas terakhir.

"Scarlet Preludium" adalah novel pertama yang Silvia Arnie yang pernah gue baca. Namun, di kali pertama ini, gue amat sangat tidak kecewa dengan apa yang ia suguhkan kepada pembaca. Bagaimana dengan kecakapannya menghandle sebuah percakapan, itulah yang paling gue suka. Dari narasi, memang semuanya terasa biasa, namun dari dialog, dan terutama dialog Scarlet dengan Devon itulah yang menjadi nyawa dari "Scarlet Preludium". Jika dibandingkan dengan karya lain, gue rasa, "Scarlet Preludium" mirip dengan novel-novel karya Mira. W dan Andrei Aksana. Masih berlatarkan roman sebagai basis utama, namun gaya penceritaannya begitu sendu dan terkesan sangat dewasa. Walau sekilas terbaca sangat mengada-ngada, namun itu bisa ditepis jika melihat kepiawaian Silvia Arnie dalam mempermainkan konflik.

Dari lima, entah, sepertinya ini terlalu asyik untuk dilewatkan. Terutama dengan sampul yang sangat apik, dipastikan para calon pembaca tidak akan tidak meliriknya barang sejurus. Namun, kali ini, gue yakin, sampul terkadang mencerminkan isinya yang memang ... sangat apik dan sayang untuk tidak dilirik.

Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
March 24, 2014
Judul: Scarlet Preludium
Penulis: Silvia Arnie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 296 halaman
Terbitan: Maret 2014
Bisa dibeli di: Buku Beruang. Obral: Rp 30.000. Baru: Rp 44.200

Scarlet mencintai musiknya, walau tampaknya tak semua orang mengerti permainannya yang terlalu rumit. Tak apa, ia tidak butuh apresiasi ataupun tepuk tangan.

Bertemu Devon karena insiden yang tidak menyenangkan, membuat Scarlet memusuhi pria itu. Apalagi dengan sifat playboy dan sikap Devon yang suka seenaknya. Tapi, di balik sifat yang saling bertolak belakang, Scarlet dan Devon sama-sama menyimpan luka yang dalam.

Scarlet akhirnya luluh atas kegigihan Devon untuk berbaikan dan bersahabat, bahkan perlahan ia terbuai kehangatan dan ketulusan pria itu. Sayangnya kenyataan pahit harus Scarlet hadapi, yang membutnya berpikir... mungkin ia memang tak pantas bahagia.

Review. Mengandung spoiler.

Tertarik untuk baca novel ini karena saya suka dengan karyanya Silvia Arnie yang terdahulu, A Life.

Secara plot, saya suka. Bercerita tentang Scarlet, seorang wanita muda yang mengalami depresi karena sesuatu yang dia alami di masa lalu. Dia merasa hidupnya stuck, pekerjaannya tanpa masa depan, dan dia tidak punya pacar. Tambah sial lagi karena mobil yang dia miliki dirusak oleh seorang gadis karena si gadis mengira itu adalah mobil mantan pacarnya.

Di sinilah dia bertemu Devon, si pria mantan pacar gadis perusak mobilnya. Devon ini ternyata penyanyi dari grup duo yang diundang untuk mengisi acara di lounge tempat Scarlet bekerja. Kebaikan hati Devon membuat Scarlet suka padanya, tapi tidak diduga ternyata Devon malah berpacaran dengan Aira, teman sekaligus bos Scarlet di lounge.

Saya sih suka ya dengan plot dan karakternya, hanya saja saya kurang suka dengan banyaknya bahasa Inggris di novel ini. Bahasa Inggrisnya bukan cuma 1-2 kata yang terselip pula, tapi bisa mencapai beberapa kalimat (biasanya dalam percakapan).

Hal lain yang saya kurang suka adalah barang bermerek yang nyelip di tengah-tengah cerita. Jadi pas di awal, ada cerita Devon beli tas Prada seharga 40 juta. Ini bikin saya mikir, masa iya penyanyi lounge bisa punya pendapatan sebesar itu? Apalagi si Devon ini tidak (atau belum?) diceritakan sebagai orang kaya.

Terus hal lain yang bikin bingung adalah waktu Devon dan Scarlet berkelahi di bagian akhir, saat Devon mengetahui satu rahasia Scarlet. Di situ saya merasa, WTH just happened?

Habis, si Devon terlihat tidak punya dasar untuk mengarah ke situ, tiba-tiba dia meledak. Jadinya saya agak-agak bingung gitu.

Secara keseluruhan, Scarlet Preludium adalah sebuah novel yang baik. Hanya saja tidak semembekas A Life buat saya sih. Saran saya sih bahasa Inggrisnya lebih baik dikurangi. Soalnya percakapan dalam bahasa Inggrisnya toh tidak terlihat keren atau menggunakan kata-kata yang indah, jadi untuk apa?
Profile Image for Nurul.
83 reviews2 followers
February 27, 2017
Awalnya aku nikmati cerita novel ini. Ada kesan misterius gitu. Tapi entah kenapa semakin ke sini, aku merasa bosen. Sorry to say. Banyak tokoh, tapi penggambaran karakternya kurang kuat. Terus alurnya menurutku jadi tiba-tiba cepet. Seenggaknya, novel ini pakai bahasa baku. Aku selalu seneng baca yang begitu.
Profile Image for Caca Venthine.
372 reviews10 followers
April 14, 2014
Tumbuh besar tanpa sosok ayah? Jadi junkies pas masih sekolah? Dikhianati sahabat sendiri? Membunuh ibunya dengan gk sengaja? Hidup dengan tekanan batin dan masih terselubung oleh masa lalu? Ya itulah kehidupan Scarlet.. Kesannya emang drama banget, tapi gue yakin ada beberapa orang yang ngalamin kehidupan kya si Scarlet ini. Amit-amit jangan sampe -___-

Scarlet pernah jadi junkies pas dia masih SMA, sampe teman2 di sekolahnya pun ngejauhin dia dan anggap dia benalu. Di satu sisi, ada temannya Lena yang selalu support dia, hanya aja suatu ketika Lena khianatin Scarlet. Mau tau? Baca dong ciinn makanya..

Yauda intinya si Scarlet ini punya masa lalu yang kelam banget, sampai dia berumur 21 tahun dan menjadi seorang pianis di salah 1 bar pun, dia tetep inget sama masa lalunya.

Biar ceritanya cepet, si Scarlet ini kenal sama Devon. Agak gk ngenakin sih kenalnya juga. Jadi ada mantan nya si Devon yang bisa dibilang agak stress gitu, dia hancurin mobil Scarlet yang disangaknya mobil Devon. Karena kebetulan mobil mereka sama.. Nah dari situ akhirnya mereka kenal, ditambah lagi Devon yang penyanyi ini juga sering kali dating ke bar dimana Scarlet kerja, dan Devon sendiri juga salah 1 penyanyi yang ngisi acara di bar tersebut.. Hingga suatu saat, Scarlet sadar dia jatuh cinta sama Devon. Hanya aja dia harus nerima kenyataan pahit kalo Devon pacaran sama sahabatnya sendiri. Jadi dia berusaha ngalah gitulah..

Inti ceritanya mah begitulah, ya namanya cerita kan ending nya pasti bahagia, eh ada juga sih yang gk ya. Yauda pas di ending mah tetep si Devon ngelamar Scarlet ^^

Oke awal nih novel terbit emang gue agak naro ekspetasi yang agak tinggi ya, ditambah gue suka sama judulnya, yang entah kenapa malah terkesan unik aja, dan juga cover nya keren.. Warna hitam yang mencerminkan kehidupan Scarlet yang kelam aja.. Awal baca sih gue dibikin bingung dan bosen, tapi udah baca pas seperempat kesana-sananya gue mulai bisa nikmatin..

Lagi dan lagi ini adalah karya pertama dari penulis ini yang gue baca novelnya. Dan yapp, gue terkesima dan dibikin bengong sama ceritanya. Kok keren yaa? Ceritanya emang nyentuh hati banget, dimana seseorang yang punya masa lalu buruk tapi bisa bangkit lagi.. Memang ada juga sih beberapa kejadian yang bisa dibilang agak sinetron banget, tapi tetep aja ceritanya keren..

Suka dan sukaa, dan gue rekomenin ini buat yang bingung mau beli novel apaan, you must read!! Oke, gue kasih 4 bintang bulat –bulat untuk cerita ini ^^
Profile Image for Lili.
67 reviews
June 12, 2014
3.5 stars

Same old. Same old. Jenis cerita yang sering aku temukan di mana-mana. A broken girl yang berusaha untuk melawan the demons inside her. Bergelut dengan masa lalunya yang kelam dan berpikir bahwa masa depannya telah hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi sinar harapan untuk menerangi hatinya yang terluka, rusak dan sekarat.

Hidup seperti tak bermakna, tak adanya gairah untuk menjalani kehidupan. Hasrat terdalamnya pun terkubur dalam peti dan terjerembab di dalam kegelapan.

Sampai Scarlet mulai berdekatan dengan Devon. Mereka dapat kesempatan bertemu melalui sebuah insiden. Dan juga karena Devon berkerja di tempat yang sama dengan Scarlet. Perasaan awal Scarlet yang dipenuhi kebencian berubah seiring waktu karena mereka berdua mulai menunjukkan kepedulian satu sama lain. Tapi...

Daaaannnn twist selanjutnya mudah ditebak. Tak usah aku ceritakan lebih lanjut juga pasti kalian sudah bisa menebak kisah selanjutnya. Semuanya memang sudah jelas melaui sinopsisnya. Tapi memang kita bisa melihat masa lalu Scarlet yang kelam. Kepahitan hatinya yang telah menjerumuskannya beberapa kali.

Tapi tidak semuanya cliche, hanya sebagiannya saja. Ada beberapa bagian yang memang membuat aku bingung. Walaupun pada akhirnya mengerti juga.

Aku sudah sangat sering membaca cerita semacam ini. Jadinya kurang dapat menikmati karena ceritanya juga predictable. Tapi tidak seburuk seperti yang kalian pikirkan, lumayalahn untuk mengisi waktu luang.
Profile Image for Jenny Faurine.
Author 18 books181 followers
July 18, 2015
Hiks.
Bisa nggak gue nulis review ini setelah nangis meraung-raung?
Oke, it sounds too much. But I really mean it.
Scarlet Preludium ini novel keempatnya Kak Silvia Arnie--penulis favorit gue dan gue udah baca semua novelnya dia. Inspiring banget! Dari dulu, cerita Kak Silvia dengan caranya sendiri bisa bikin gue tersentuh. :')
Well, dari dulu nunggu kapan nih terbitnya novel terbaru Kak Silvia. Pas buka Instagram, ngeliat foto yang di-share--fotonya pas photoshoot untuk novel ini. Metropop yang satu ini mungkin emang agak beda dari metropop yang lain. Dari covernya aja udah keliatan. Dan ceritanya yang dark dan seirama dengan alunan sendu piano-nya Scarlet bener-bener bikin gue nggak sanggup untuk tutup buku sebelum selesai.
Nggak mengecewakan, udah lama nggak baca novel dan sekalinya baca langsung yang touchy gini. :"
Baca novel ini bikin gue sadar, bahwa tiap manusia emang punya cacatnya. Kesempurnaan yang diliat cuma sebatas di mata. Kak Silvia berhasil menjabarkan itu semua tanpa kesan basa-basi kalo menurut gue.
Gue bingung mesti ngomong apa, fufufu. Yang pasti, bener-bener jatuh cinta sama sosok Scarlet yang rapuh tapi kuat dalam waktu yang bersamaan.
Walaupun ada beberapa typo dan pemborosan penggunaan simbol (-), novel ini tetep worth it. Love this novel a lot♥
Ditunggu terus ya karyanya, Kak Silvia :3 Always love your story!
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
April 4, 2014
"Aku tak pernah berpikir aku akan sanggup melalui ini, aku sudah tidak pulang berhari-hari. Aku bahkan rela membunuh untuk mendapatkan obat laknat itu. Tapi kini semua berubah, aku harus sembuh. Aku harus bersih. Aku ingin hidup normal lagi."

Kehidupan Scarlet sudah hancur berantakan, dan meskipun ia berusaha keras untuk membenahinya, masalah terus datang bertubi-tubi. Ia bekerja sebagai seorang kolumnis yang memberikan saran kepada para pembaca mengenai masalah mereka (meskipun ironisnya, kehidupan Scarlet sendiri tidak bisa dikatakan luar biasa baik) dan juga menjadi seorang pianis di sebuah lounge. Sepulang kerja dari lounge, ia menemukan mobilnya dalam keadaan menyedihkan - kaca pecah, wiper patah, hingga bumper yang terlepas dari tempatnya. Ternyata kesialan tersebut berawal dari sebuah kesalahpahaman, menyangkut seorang lelaki bernama Devon - penyanyi dari band yang juga tampil di lounge. Hari itu adalah awal mula segalanya; perubahan dalam hidup Scarlet yang telah hampa setelah bertahun-tahun lamanya...

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2014/0...
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
August 19, 2014
3.5 bintang!
Ya ampun, aku suka banget bacanya.
Aku menikmati banget hari-hari dan waktu yang aku luangkan buat baca novel ini.
Bukan gombal nih, serius :D

Sejak awal baca aja aku udah ngerasa "klik" sama gaya penulisan sekaligus tema yang dipilih mbak Silvia.
Apa ya.. Ceritanya emang sedih banget dan udah pernah dipake orang lain, tapi beneran not-another-sad-story deh.
Menurutku mbak Silvia berhasil meraciknya sedemikian rupa jadi cerita sedih itu nggak sebatas menye-menye klise nggak mutu gitu.
Great work, mbak Silvia!

Aku paling suka sama cara mbak Silvia yang bisa keren banget mengolah konflik sedemikian rupa meskipun karakternya itu-itu aja.
Dan hebatnya itu nggak terasa membosankan sama sekali.
At least for me, hehe.

Yang aku nggak suka cuma satu scene di ending yang menurutku drama banget deh :p

Oh ya, typo juga!
Banyak banget typo di novel ini.
Awalnya termaafkan, tapi lama-lama kok makin brutal aja typo-nya sampe bikin jengkel.
Duh.

http://thecloudsinautumn.tumblr.com/p...
Profile Image for Nia Githa.
28 reviews8 followers
July 18, 2014
This story is quite heavy for me, gue gak begitu suka dengan cerita2 berat kayak gini yang gue pasti tahu ntar ujung2nya bakalan bikin nangis. Tapi cerita ini bener2 beda , ceritanya bikin gue tau kalo misalnya seorang mantan junkie kayak scarlet itu emang bener2 susah buat ngerasa hidup kayak orang normal, gue suka dengan gimana pembawaan mba silvie nyeritain tentang scarlet. Suka dengan caranya ngegambarin gimana perasaan scarlet sama dunia ini. Awalnya gue gak suka sama novel melankolis kayak gini , gue gak suka sm penulis yang ngebuat dialognya itu terlalu indah, terlalu melankolis untuk hal2 yang emang gak penting terus kaku tapi pas baca novel scarlet ini , gue suka bangettt !! Menurut gue pembawaanya emang pas dengan tokohnya sama jalan ceritanya. Pokoknya novel ini menarik banget untuk dibaca dan ceritanya emang bener2 real gitu !! ❤️❤️❤️
Profile Image for Delisa sahim.
274 reviews13 followers
April 7, 2014
Sebenarnya gue bingung mau membeli novel ini dari pertama kali terbit. Awalnya mau langsung beli secara gue anak metropop. Hahaha.

but, gue inget bakalan ada diskon di ulang tahun gpu. Akhirnya dengan sabar gue menunggu. Lagi-lagi gue gak ambil ini novel karena gue sudah membeli beberapa novel yang dulu inceran gue.

Finaly, gue membelinya saat KG fair di JCC.

Bagi gue novel ini membuat berfikir bahwa tidak ada yang sempurna. setiap manusia memiliki kesalahan di masa lalunya yang membuat manusia itu belajar dari kesalahan dan membuat kehidupan itu berwarna.

Dari cerita ini gue menyukainya dan nilai plusnya di sini. ada selipan fotonya.
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
August 3, 2014
Akhirnya saya mengkhatamkan buku ini. Sebagai penyuka dark story, buku ini sayang untuk dilewatkan. Meski tidak banyak menyimpan harapan, tetapi saya cukup kurang puas dengan buku pertama dari penulis yang saya baca ini.
Beberapa hal yang mengganjal--baik teknis atau lainnya--sudah saya ocehkan.
Endingnya, saya pikir penulis terlalu memaksakan, entah karena terlalu cepat atau kenapa. Hanya, bagian-bagian Devon terasa banyak bolongnya. Oke, buku ini dituturkan melalui sudut pandang orang pertama, tetapi kurangnya petunjuk membuat akhir buku ini serasa tiba-tiba.
Profile Image for Emilya Kusnaidi.
Author 3 books40 followers
October 6, 2014
Entah kenapa nggak bisa connect dengan Scarlet. Dengan Aira. Dengan Devon juga - uhm, entah kenapa saya nggak suka Devon sih. Apalagi pas bagian dia marah-marah sama Gala. Mungkin maksudnya baik, tapi jadinya berkesan marah nggak terarah.
Satu-satunya tokoh yang saya suka disini mungkin Yedi. Atau Gala.

Entahlah, mungkin ada yang salah dengan saya mengingat beberapa periview mengatakan bahwa ceritanya sangat menyentuh. Mungkin hati saya yang terbuat dari batu :|

Overall, ceritanya sih mengalir. Cuma rasanya ada yang nyangkut di beberapa bagian.
Profile Image for Retha Aryudhanti.
253 reviews17 followers
March 31, 2014
jujurlah kepincut gara2 covernya, tumben2an banget metropop covernya orang hidup (apalah ini istilahnya lupa).
ide ceritanya lumayan bagus, cewek mantan pencandu narkoba yang berjuang buat ngelupain masa lalunya, nerusin impiannya yang pengen jadi pianis.
tapi, aduh capeeeeeek bacanya ga tau kenapa. bagian depan sampe banyak yg di skip.
Profile Image for Natha.
780 reviews73 followers
May 3, 2014
Covernya cakep! *harus kuakui, aku tertarik pada covernya dulu baru tertarik baca sinopsisnya*
Dan sinopsisnya...

Membuatku berpikir ini bukan sebuah kisah ber-ending bahagia.
*yang malah bikin semangat buat baca*
Profile Image for Bonia.
176 reviews
March 30, 2014
mau nunjukin kalo hidup Scarlet itu super depressing tapi yang ada malah bikin boriinnggg parah. ok dia bermasalah ini dan itu? so what?! people have problems
Profile Image for Nur Saidatunnisa Widiatti.
55 reviews28 followers
May 29, 2014
Sebenarnya novel ini heartwarming. Mengajarkan kita menikmati Scar, bekas luka. Aura novel ini, yang kelam, menjadi kesukaanku. Hanya saja tidak meninggalkan kesan mendalam. Biasa saja.
Profile Image for Riany Moessa.
136 reviews2 followers
December 31, 2014
seperti melihat diri sendiri yang di tuang kedalam suatu kisah

yang selalu ingin mncari seseorang yang dapat berbagi apapun dan apa adanya, namun terlalu takut untuk melangkah ke depan
Displaying 1 - 24 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.