Terbagi dalam 7 bagian (kumpulan puisi): 1. Lingkungan Kita si Mulut Besar (48 puisi) 2. Ketika Rakyat Pergi (18 puisi) 3. Darman dan Lain-Lain (16 puisi) 4. Puisi Pelo (29 puisi) 5. Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi) 6. Yang Tersisih (9 puisi) 7. Para Jenderal Marah-Marah (23 puisi)
Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.
Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampung.
Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkah sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah menjadi tukang koran, tukang semir mebel, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan.
Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul di berbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antologi 4 Penyair Solo. Kumpulan puisi Suara diproduksinya sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: ”Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”
Awal 1990-an terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang menjadi anak organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai independen yang didirikan oleh kaum muda dan mahasiswa sebagai partai oposisi rezim Orde Baru.
Tahun 1995 Thukul nyaris kehilangan penglihatannya akibat kebrutalan polisi saat ia memimpin pemogokan buruh-buruh tekstil Sritex. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996, di mana PRD dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan oleh pemerintahan Orde Baru, Thukul bersama anggota-anggota sentral PRD harus bersembunyi. Kontak terakhir dengan rekan-rekannya masih terjalin pada 1998. Sejak itu keberadaannya tidak diketahui, dan Thukul dikategorikan sebagai "orang hilang", korban-korban penculikan pemerintahan militer Orde Baru.
Tahun 2002 Thukul secara in absentia menerima Yap Tiam Hien Award atas perjuangannya di bidang penegakan HAM.
Membaca sajak-sajak Wiji Thukul adalah membaca sejarah indonesia pada jaman orde baru. dimana semua penguasa, pemerintah dan antek-anteknya adalah diktator (walau kita lihat sekarang ini juga belum banyak berubah) tetapi yang berani seperti Wiji Thukul barulah satu. Semakin hari, semakin kapitalis negeri ini, semakin kita tidak boleh berharap lagi "akankah ada Wiji Thukul selanjutnya?" bukan untuk melawan kediktatoran pemerintah tetapi melawan kapitalisme, melawan paham diri sendiri. mau sampai kapan kita jadi bangsa yang diperbudak konsumsi? sehingga orang berlomba-lomba mencari jati diri yang bukan dirinya sendiri. dan memunculkan penindasan lainnya.
Membaca Wiji Thukul hari ini saya seperti sedang diingatkan, ada pemimpin-peminpin yang sebaiknya dihindari, karena Juni nanti kita akan memilih presiden baru yang menentukan masa depan. jika ingin perubahan, maka lawan!
kuterima kabar dari kampung rumahku kalian gedah buku-bukuku kalian jarah tapi aku ucapkan banyak terima kasih karena kalian telah memperkenalkan sendiri pada anak-anakku membentuk makna kata penindasan sejak dini
ini tak diajarkan di sekolah tapi rezim sekarang ini memperkenalkan kita kepada semua kita setiap hari di mana-mana sambil nenteng-nenteng senapan
kekejaman kalian adalah buku pelajaran yang tak pernah ditulis!
Siapa suka puisi? Aku!! Siapa yang jago berkontemplasi dengan makna-makna puisi? Bukan aku. Hehehe
Walaupun suka puisi, tapi kalau boleh jujur nih... Aku sama sekali gak jago untuk berkomentar banyak soal puisi. Ntah takut salah tafsir, ntah takut terlalu berlebihan, atau takut salah menangkap maknanya.
Jadi, aku cuma mau bilang... Puisi-puisi Wiji Thukul adalah puisi aneh, lucu, menyeramkan, mengerikan, mencekam, satir, gelap, syahdu, bahkan gak jelas. Kalau mau menyelami pikiran-pikiran beliau, mungkin buku ini layak dicoba.
Buatku? Worth to read! Apalagi tulisan beliau adalah salah satu saksi tragedi berdarah sejarah kita.
derita sudah matang, bung bahkan busuk tetap ditelan?
Wiji Thukul. Nama Anda terasa sangat berharga setelah saya membaca buku ini. Saya melepaskan topi saya dan tunduk kepada Anda, namaste. Hormat sedalam-dalamnya dari saya, abang Wiji Thukul.
Sayang oh sayang, namamu sudah tidak diucap-ucapkan hari ini. Mungkin namamu masih terpajang di papan pengumuman kampus di suatu universitas dan membuat para mahasiswa mengerutkan dahi, "Siapakah orang ini?". Sayang, sayang oh, sayang, namamu kini hanyalah sebuah nama.
Namun, bagi saya, barulah saya tahu bahwa Wiji Thukul memiliki kontribusi lebih dalam melawan para kapitalis. Bayangkan saja, seorang penyair, aktivis, dan tukang becak! Kurang jenius apalagi?
Mungkin tak perlulah beli buku-buku mahal untuk mengenali seorang Wiji Thukul. Baca kumpulan puisinya saja yang disusun sedemikian rupa bak buku cerita fiksi, para pembaca sudah mampu membayangkan kehidupan sang Wiji Thukul.... Apalagi dengan penyedap kata pengantar dari Munir.
Singkat kata, Wiji Thukul, yang awalnya saya kenal sebagai aktivis, lalu pandangan saya berubah jadi 360 derajat gara-gara kepandaiannya menghidupkan jiwanya lewat kata-kata walaupun dirinya sudah bungkam karena senjata.
Saya rasa semua orang perlu membaca buku ini. Selain untuk makanan otak ataupun sekedar pengin tahu Wiji Thukul, cobalah rasakan gejolak arus bawah sekali-kali. Jangan terlena sama arus atas.
Puisi perlawanan yang benar-benar berani. Melalui bait-baitnya, pembaca diajak marah dan tak gentar dengan penguasa tirani. Seperti memiliki daya magis untuk bisa menggerakkan massa. Pengalaman baca puisi yang beda dari yang lain.
Wiji Thukul Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi Gramedia Pustaka Utama 248 halaman 9.1 (Best Book)
Lewat kata-katanya yang sangat sederhana, menyentuh, dan berani, Wiji Thukul menyampaikan suara dari rakyat kecil. Nyanyian Akar Rumput merekam rintihan, pekikan, seruan, dan teriakan kaum akar rumput terhadap kelaliman penguasa dan pemerintah.
Saya menghormati Wiji Thukul, karena kegigihannya dan ketulusannya membela kaum buruh. Saya baca profil yang diulas Tempo Edisi Khusus Wiji Thukul, Mei 2013 lalu. Meski saya tidak bisa menilai puisi dan tidak bisa menulis puisi sampai sekarang (mungkin nanti kalau belajr pasti bisa), saya menikmati buku ini.Dan satu kata yang terus teringang sejak kenal organisasi kampus dan aksi di jalanan adalah:
Hanya ada satu kata: LAWAN!
Semoga dirimu baik, Wiji Thukul. Meski dirimu tidak masuk dalam 33 tokoh sastra paling berpengaruh, tapi puisi-puisi sudah bikin aparat negeri ini ketakutan. Terimakasih.Pernah kepikiran kalau nanti masa hisab di akhirat,mau lihat persidangan Wiji Thukul. Dan bakal tahu siapa yang selama ini menghilangkan Wiji Thukul).
"Apa gunanya banyak baca buku Kalau mulut kaubungkam melulu"
Ngasih banyak pencerahan dan semangat buat ngelanjutin perjuangan bangsa. Realistis, jujur, polos. Kayak diajak buat berdiri di balik jendela seorang Wiji Thukul. Dan kagum karena jendela tempat dia memandang dunia benar-benar bersih. Jadi segalanya tampak jelas. Meski keadaan udah lebih baik sekarang, nggak lantas perjuangan berakhir. Suka sekali.
Puisi tahun 80-an yang lebih banyak mengandung makna denotasi dibanding konotasi. Banyak sindiran untuk pemerintahan. Tiap zaman sebenernya punya masalah masing-masing. Dulu miris, bukan berarti sekarang nggak miris. Cuma beda aja masalahnya.
Thanks to iJakarta. Aku jadi bisa baca puisi-puisi lama gini di sana.
jangan kaupenjarakan ucapanmu jika kau menghamba pada ketakutan kita akan memperpanjang barisan perbudakan
Sedih rasanya membaca puisi tentang penindasan oleh rezim dan pembungkaman suara rakyat yang ditulis 30 tahun silam masih relevan dengan kondisi saat ini.
Wiji Tukhul. Namanya sering disebut-sebut semasa saya masih duduk di bangku sebuah Universitas berjuluk Reformasi. Acap digunakan di setiap diskusi, orasi, basa-basi para organisiatoris paling kini. Beberapa kutipan puisinya sering saya temui, tapi baru kali ini membaca semuanya secara lengkap.
uang sepuluh ribu di sakuku di sini hanya dapat dua buku untuk keluargaku cukup buat makan seminggu p.26
Membaca puisi-puisi WT membuat bulu kuduk saya berkali-kali naik. Saya tertegun, terdiam, dan harus meletakkan buku untuk menyesap apa yang baru saja terjadi. Beliau memang tidak memiliki kata-kata yang jungkir balik. Tidak. Puisinya bisa dibilang lugas. Ada kekuatan dalam setiap kata-katanya. Berat di dalam kalimatnya. Tulisannya jujur, menyampaikan kejujuran dalam kegetiran--dengan kobaran api sebagai akarnya.
sajakku adalah kebisuan yang sudah kuhancurkan sehingga aku bisa mengucapkan dan engkau mendengarkan
sajakku melawan kebisuan p. 210
Buku ini dibagi menjadi 4 bab. Masing-masing diatur agar rapi berdasarkan waktu penulisan, dan tema yang dibicarakan. Seperti pada BAB I, yang dimana fokusnya adalah soal kemiskinan. Dalam kacamata WT, kita bisa melihat kegetiran dan kegundahan beliau akan kemiskinan rakyat. Kesenjangan masyarakat. Kesulitan menjadi seorang buruh.
kita ini lumut menempel di tembok-tembok bangunan berkembang di pinggir selokan di musim kemarau kering di terjang banjir tetap hidup p.55
WT juga membahas persoalan tanah. Tanah yang tetap menjadi permasalahan anak muda sampai saat ini. Bahwasannya tanah harganya mahal, sulit dimiliki, terutama untuk kaum kecil.
di tanah negeri ini milikmu cuman tanah air p. 104
Memasuki Bab V ke VII, Tulisan WT memasuki era 94-97 di saat pemberontakan dan aktivis semakin memanas dan menggeliat.
o sia sialah kekuasaan memasang palang menghalang ilalang tetap hidup tumbuh dan menang p. 172
Judul-judul puisinya kuat menyampaikan perlawanan, seperti pun bait-bait di dalamnya. seperti "merontokkan pidato" dan "puisi menolak patuh"
Diceritakan juga, masa-masa beliau di penjara, di siksa, untuk lalu kemudian diakhiri di BAB VII puisi-puisi terakhirnya saat telah menjadi buron. Kerinduannya akan rumah. Dukanya akan teman-teman, korban, yang ditindas dan dibunuh oleh negara sendiri. Kesepiannya bersembunyi, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tetap penuh dengan api.
habis cemasku kaugilas habis takutku kau tindas aku masih tetap waras! p. 227
aku menulis, aku menulis terus menulis sekalipun teror mengepung P.166
Beristirahatlah kata-kata, Beristirahatlah Wiji Tukhul. Perjuanganmu, karyamu hidup dan kekal abadi.
disini tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi juga kemiskinan ini, juga keasingan ini tapi setiaku sampai bungkuk akan melahirkan percakapan panjang lewat tulisan dan puisi p.93
kuterima kabar dari kampung rumahku kalian geledah buku-bukuku kalian jarah tapi aku ucapkan banyak terima kasih karena kalian telah memperkenalkan sendiri pada anak-anakku kalian telah mengajari anak-anakku membentuk makna kata penindasan sejak dini
ini tak diajarkan di sekolahan tapi rezim sekarang ini memperkenalkan kepada semua kita setiap hari di mana-mana sambil nenteng-nenteng senapan
kekejaman kalian adalah buku pelajaran yang tak pernah ditulis!
***
Saat membaca kumpulan puisi "Nyanyian Akar Rumput" ini, saya seperti membaca buku tentang sejarah pemerintahan Indonesia yang tak pernah saya temukan pada buku-buku pelajaran sekolah. Puisi-puisinya satire, frontal, sangat minim kiasan dan apa adanya. Rasanya perih setiap membaca lembar demi lembar puisi-puisinya. Sebelum membaca buku yang dilabeli "Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Tukul" ini, saya tidak mengenal satu pun puisinya. Kecuali saat saya sampai di halaman 85, ada puisi berjudul "peringatan", larik terakhirnya saya kenal, mungkin larik ini pula yang paling dikenal dari puisi-puisi Wiji Tukul, yaitu: "maka hanya ada satu kata: lawan!"
Mengawali tahun 2023 dengan bacaan, yang tidak disangka-sangka, bakal membuatku merenungi banyak hal.
Sebagai orang yang tidak terlalu nyastra, puisi-puisi di buku ini dengan mudah membuatku tenggelam. Lugas, tidak berbelit, tidak mengumbar banyak kata indah, namun mampu "bersuara" secara lantang dan berani.
Setelah menyelesaikan buku ini, aku pun mengambil kesimpulan secara mantap. Nyanyian Akar Rumput bukanlah sekadar puisi. Melainkan juga bukti keberanian seorang Wiji Thukul yang berusaha menyampaikan penderitaan, ketidakadilan, sekaligus perlawanan di tengah kejinya negeri tempat ia berdiam.
kalau kelak anak-anak bertanya mengapa dan aku jarang pulang katakan ayahmu tak ingin jadi pahlawan tapi dipaksa jadi penjahat oleh penguasa yang sewenang-wenang
kalau mereka bertanya "apa yang dicari?" jawab dan katakan dia pergi untuk merampok haknya yang dirampas dan dicuri
Lamanya saya baca buku ini karena butuh banyak merenung setelah satu sajak usai. Di suatu interview saya pernah ditanya "Siapa penulis yang paling ingin kamu temui kalau dia masih ada?". Jawab saat itu adalah "Wiji Thukul." Saya penasaran bagaimana sunyinya dia hidup dengan segala keheningan tanpa harus bungkam dengan kata-katanya. Lalu di buku ini, saya perlahan menemukan titik terang dari rasa penasaran saya itu.
Terima kasih sudah bersuara lewat kata-katamu, Bung. Semoga teka-teki ganjil yang selalu kau cari itu bisa kau temukan sekarang di sana, di mana pun kau berada.
kumpulan puisi yang sangat lugas menurut saya, penggunaan diksi yang tidak belibet serta mudah dimengerti, betul2 memperlihatkan kondisi indonesia pada era kemerdekaan awal sampai beberapa tahun sebelum lengsernya orde baru
Medio 2018, saya rasa selalu jadi masa formatif dalam kehidupan pra-dewasa saya. At least, dalam kehidupan pembaca.
Keputusan untuk ikut dunia pers mahasiswa paska membaca Bumi Manusia, mengarah kepada peruntukkan karya, dan buku-buku yang lain. Sebagai, seorang certified FISIP people, yang ̶c̶o̶n̶d̶e̶n̶s̶c̶e̶n̶d̶i̶n̶g̶ idealis. Buku Widji Thukul, dalam biografi seri tempo menjadi salah satu.
Apa yang tersisa dari penjunjungan yg maha tinggi dan idealis itu tentu saja, romantisme dan saya masih teringat pikiran untuk ngamen puisi ala Widji Thukul itu, terus dan tetap ada.
Di masa kesepian-kesepian itu, tentu saja, pembayangan akan glorifikasi dari sosok Widji Thukul, puisi beliau yang saya temui dalam liputan hari buruh, penggalan dari "Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa", "Istirahatlah Kata-kata", dan masih banyak lagi.
Atau bagaimana saat saya berkunjung ke Solo, di tempat buku-buku loak, dekat Benteng Vastenburg, saya mencoba untuk mencari buku puisi blio, dst dst yang menjadikan postlude ini terlampau panjang, serta terlalu mirip menjad mini-biografi.
Kemudian yang tiba, pada pembacaan kumpulan buku puisi ini, adalah peluruhan dari segala yang berarti dan esensial dari penyair ini. "Ketakutan, rindu, dan duka" kalau mengutip penyair favorit saya, yang terlampau sering dan klise saya kutip itu.
Bagaimana "Puisi di Dalam Kamar" membuat saya terisak. And how his reality and everything around him, hidup dan bertenaga dalam karya-karyanya.
Puisi tentang kemiskinan/nyanyian akar rumput, dalam selera, dan keberpihakkan saya untuk menulis, atau mengkritisi karya-karya yang saya konsumsi, adalah sebuah Kitsch, yang saya tidak berbakat, untuk menjelaskan/berkata-kata.
Namun yang tersisa dari karya Wiji Thukul, dan unmistaken radikal act of rebel atasnya, bukanlah glorifikasi dan survival bias. Hanya cara untuk menuntut dan berani hidup.
And as always beliau akan selalu jadi bukti nyata dosa negara, dan hantu omnipresent yang bergantayangan. Hadir dalam rezim sekarang, dan akan terus berjalan layaknya bola Salju, lepas dari ratusan edisi kamisan.
Kamu tahu atau pernah mendengar Wiji Thukul? Karyanya dirayakan tapi nasibnya masih dipertanyakan. Beliau adalah penyair, aktivis buruh, martir reformasi, yang sekarang hilang, penuh ketidakjelasan. "... apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: lawan!" (Peringatan, Wiji Thukul) Kutipan puisi itu mungkin sering kamu dengar atau temukan waktu negara dan para politikus bikin kesal atau saat demonstrasi. Buku ini adalah kumpulan lengkap puisi Wiji Thukul. Judul bukunya diambil dari salah satu puisinya. Kata-katanya sederhana dan mudah dimengerti. Isinya kebanyakan tentang kemisikinan dan kehidupan rakyat, penderitaan dan perlawanan. Didukung latar belakang Wiji Thukul, semakin terasa maksud-maksud puisinya. Lanjut lah nonton Istirahatlah Kata-Kata setelah membaca buku ini (bisa ditonton secara legal di @bioskoponlineid)—judulnya juga diambil dari salah satu judul puisinya. Filmnya bercerita waktu Wiji Thukul dalam persembunyian, buron Orde Baru (sampai lari ke Kalimantan). Sesekali diceritakan kondisi istrinya (Marissa Anita berperan baik sekali). Filmnya intens dan bikin nafas engap. Beberapa puisi yang dibacakan membuat mengerti maksud penyair pelo (cadel) yang sering dilabelkan pada Wiji Thukul. Tetapi semakin tidak mengerti kenapa barisan kata-kata, dibacakan oleh penyair pelo, sangat ditakuti kekuasaan. Saya baru-baru ini saja tahu tentang beliau dan tidak menyangka seterkenal ini di kalangan aktivis (apalagi dengan menonton filmnya, sepertinya cukup banyak koneksi perjuangan, ya). Yah, buku sejarah zaman saya sekolah tidak menyembutkan nama beliau—dan pejuang lain yang tidak tercatat. Bagaimana, ya sekarang? Mengetahui (atau tidak mengetahui?) nasib Wiji Thukul, puisinya yang berjudul 'Catatan' terasa sedih sekali.
Membaca Nyanyian Akar Rumput, ternyata benar-benar membuat diriku bernyanyi dalam sengguk. Bagaimana bisa sajak yang rata-rata dibuat pada sekitaran tahun 85-90-an masih tetap relevan pada kondisi negeri sekarang ini?
Sejak 27 Juli 1998 hingga detik ini, Wiji Thukul masih menghilang. Pokoknya, sajak-sajaknya tetap menjadi bacaan wajib yang akan memberikan semangat baru bagi kaum muda untuk melawan rezim dan menegakkan keadilan.
tanah tanah mestinya dibagi-bagi jika cuma segelintir orang yang menguasai bagaimana hari esok kamu, tani? tanah mestinya ditanami sebab hidup tidak hanya hari ini jika sawah diratakan rimbun srmak pohon dirobohkan apa yang kita harap dari cerobong asap besi hari ini aku mimpi buruk lagi seekor burung kecil menanti induknya di dalam sarangnya yang gemeretak dimakan api
Pernah memang membaca puisi Wiji Thukul ya beberapa aja, tapi kali ini bukunya tebal dan semua puisinya beliau.
Salut. Puisinya memang juara banget, mudah banget untuk disukai. Hampir semua puisi dalam buku ini saya suka dan beberapa malah suka banget, sampe saya salin di notes hp. Buku ini patut dikoleksi sih ya, bukan karena bagus aja tapi buku puisi ini lebih tebal dan memang edisi koleksi, gak seperti buku kumpulan puisi lainnya.
Jika kau tidak berani lagi bertanya Kita akan jadi korban keputusan-keputusan Jangan kaupenjarakan ucapanmu Jika kau menghamba pada ketakutan Kita akan memperpanjangan barisan perbudakan.
Buku ini ditulis oleh salah satu pejuang HAM & aktivis sosial Indonesia yang hilang, yaitu Wiji Thukul. Buku ini adalah kumpulan puisi yang berisi suara-suara masyarakat bawah yang kerap terabaikan, seperti akar rumput yang sering diabaikan.
Aku suka dengan bahasanya yang sangat sederhana, tetapi memiliki kekuatan yang bisa menyentuh perasaanku. Terus, aku juga suka dengan semua puisinya yang mengalir dengan ritme kuat & mengandung makna yang mendalam.
Menurutku, buku ini berhasil membentuk kritik sosial yang tajam terhadap berbagai isu yang dihadapi oleh masyarakat pada saat itu dan sampai sekarang. Contohnya saja, penderitaan & ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat kecil.
Sebelumnya, aku tidak mengenal beliau, bahkan tidak tahu persis perjuangannya seperti apa. Namun, melalui puisinya, aku bisa merasakan idealisme yang tinggi, hati yang memberontak & semangat perjuangan bang Wiji sebagai aktivis Indonesia. Yang kusuka darinya adalah beliau tidak hanya berbicara tentang masalah sosial saja, melainkan menggerakkan kita untuk peka, tidak apatis, berani speak-up, bangkit & berjuang melawan ketidakadilan.
Sungguh! Buku ini benar-benar menyiratkan kritik tajam terhadap pemerintahan dari segala bentuk apapun. Beliau cerdas mengungkapkan ketidakpuasan terhadap kebijakan & tindakan pemerintah yang merugikan masyarakat.
Saya dibesarkan dengan lantunan musik Iwan Fals, larik-larik puisi Rendra, dan artikel mengenai Munir. Ya, ayah saya memang pengagum mereka yang lantang bersuara melawan pada masa Orde Baru dan Reformasi. Belakangan juga beliau mengagung-agungkan nama Wiji Thukul, saya sebagai anak lumayan ikut terpengaruh. Di hadiahkannya saya sebuah buku kumpulan sajak ini dua tahun lalu, tapi hilang. Entah dimana.
Nyanyian akar rumput Rumput saja sudah rendah Di injak-injak Belum lagi akarnya Mau jadi apa? Di lindas Di cabut paksa Di singkirkan dari pinggir selokan Pedih, ya pedih Tapi takkan pernah cukup Untuk membuatmu bungkam
Pedih. Kumpulan sajak ini adalah catatan kelam akan noda dari penguasa bangsa kita dimasa lalu. Mengingatkan kita pada kediktatoran sebuah rezim, bernama Orde Baru. Sungguh, belajar sejarah tidak harus dari buku pelajaran sejarah saja. Puisi-puisi Thukul adalah bukti dari pelajaran yang tidak pernah ditulis. Potret-potret permasalahan yang banyak sekali itu, sampai sekarang pun masih terus kita lihat dan kita alami. Ketimpangan sosial, kemiskinan, kelaparan, penindasan terhadap rakyat kecil, hukum yang bisa dibeli, pelanggaran HAM dan masalah moral, pelaksanaan otoritas yang sewenang-wenang, gaji murah bagi kaum buruh, itu semua belum selesai. Belum pernah selesai.
Senang mengenalmu, Wiji Thukul. Jasadmu boleh jadi lenyap, dihapus, meninggalkan pertanyaan. Tapi tak begitu dengan semangatmu. Riwayatmu takkan pernah punah. Kata-katamu akan selalu utuh, takkan pernah mati, tak akan pernah bisa di bungkam, lagi. Terima kasih.
setidaknya ada lima metafor yang digunakan Wiji Thukul untuk mengumpamakan rakyat kecil ketika berhadapan dengan pemerintahan otoriter yang sangat berkesan buat saya.
yang pertama adalah 'rumput' (hlm 25):
kami pindah-pindah menempel di tembok-tembok dicabut terbuang kami rumput butuh tanah
lalu ia memakai 'lumut' (hlm 55):
kita ini lumut menempel di tembok-tembok bangunan berkembang di pinggir-pinggir selokan
kemudian juga 'bunga' (hlm 81):
seumpama bunga kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh
lalu ada juga 'ilalang' (hlm 172):
aku melihat ilalang o sia sialah kekuasaan memasang palang penghalang ilalang tetap hidup tumbuh dan menang
walau seratus kali digaru
dan yang paling saya suka, 'kupu-kupu' (hlm 190):
seperti kupu-kupu sayapnya tetap indah meski air kali keruh
Sajak ini lebih jujur ketimbang buku sejarah saya, yang hanya membahas Pelita dan swasembada beras, tapi melupakan kesenjangan dan kelaparan jutaan. Seperti kata Wiji Thukul, puisinya adalah "kabar buruk buat penguasa" yang membuat para jenderal dan presiden marah-marah. Sebabnya cuma satu: karena dia berani menyuarakan akar rumput, yang sebelumnya terkubur dan terinjak. Wiji Thukul dan siapapun yang setuju kepadanya akan dicap sebagai subversif atau komunis, sebuah manipulasi bahasa khas rezim tirani. Tapi bukan, dia hanyalah seorang humanis.
Tidak ada kata terlambat untuk membaca. Mungkin, jauh ketinggalan dari teman-teman yang lain karena baru menamatkan puisi dari pejuang HAM, Wiji Thukul. Namun ucap syukur tetap dipanjat karena hari ini telah selesai membacanya dengan penuh haru sakit. Puisinya mencakup semua kalangan, semua kelas, semua orang di Indonesia kecuali para penguasa jajarannya.
Hingga saat ini, namanya tetap abadi, puisinya tetap hidup dan membara. Merajalela tertanam dalam ingatan sebagian banyak orang untuk bangkit tidak tunduk pada kenyataan juga kekuasaan yang sebelah pihak. Kita dilarang bungkam dan memilih diam atas kekejian yang terjadi, keanehan yang tidak masuk akal, peraturan-peraturan yang disalahgunakan oleh para penguasa.
Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi karya Wiji Thukul, pribadi aku sangat menyukai puisi yang ada di dalamnya. Walaupun hanya sebatas puisi, ajaibnya puisi-puisi di dalamnya benar-benar bisa menggambarkan keadaan rezim dijamannya.
Bagaimanapun juga, setiap puisinya sangat bermakna, sejarah yang terkandung di dalamnya sangat kental. Sangat terasa bagaimana banyak orang berjuang untuk mengubah negara yang ditinggalinya menjadi lebih baik. Wiji Thukul adalah tokoh yang puisinya akan selalu menjadi simbol perjuangan dan keadilan.
"Penyair haruslah berjiwa "bebas dan aktif", bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya." - Wiji Thukul
Entah mengapa sa merasa harus memberi lima bintang untuk buku puisi Wiji Thukul ini. Tersebab melalui buku ini sa merasa lebih mengenal sosok si penyair. Ia seorang penyair yang oke, ternyata.
Sa merasa senang mendapati puisi-puisi berjudul sederhana, tetapi isinya mengejutkan. Dan beberapa di antaranya bahkan sangat mengejutkan.
Cobalah baca puisi-puisi ini: 1. Ayolah, Warsini; 2. Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai; 3. Lagu Persetubuhan; 4. Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa; 5. Penyair.
Lima puisi itu adalah contoh betapa mengasyikkan sekaligus memilukannya lukisan yang dilukis puisi-puisi Wiji Thukul.
Puisi satir yang jujur dan menyayat hati, perih sekali sampai-sampai hampir dnf, karena isinya bukan hanya sajak perjuangan, tapi juga kemiskinan, penderitaan buruh sampai penganiayaan yang semua dialami penulis sendiri
Wiji Thukul menggambarkan semuanya dengan sangat jelas dengan kata-kata sederhana dan apa adanya tapi tajam.
di ujung sana ada perusahaan daging abon setiap pagi kami beli kuahnya dimasak campur sayur -gumam sehari-hari
“si penceng muntah-ngising, perutku malah sudah isi lagi dan suk selasa pon ana sumbangan maneh si sebloh dadi manten!” -nyanyian
beberapa puisinya masih relavan dengan keadaan saat ini huhuuu sediih sekalii