Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi

Rate this book
Terbagi dalam 7 bagian (kumpulan puisi):
1. Lingkungan Kita si Mulut Besar (48 puisi)
2. Ketika Rakyat Pergi (18 puisi)
3. Darman dan Lain-Lain (16 puisi)
4. Puisi Pelo (29 puisi)
5. Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi)
6. Yang Tersisih (9 puisi)
7. Para Jenderal Marah-Marah (23 puisi)

248 pages, Paperback

First published January 1, 2003

84 people are currently reading
1101 people want to read

About the author

Wiji Thukul

7 books130 followers
Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.

Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampung.

Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkah sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah menjadi tukang koran, tukang semir mebel, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan.

Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul di berbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antologi 4 Penyair Solo. Kumpulan puisi Suara diproduksinya sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: ”Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

Awal 1990-an terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang menjadi anak organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai independen yang didirikan oleh kaum muda dan mahasiswa sebagai partai oposisi rezim Orde Baru.

Tahun 1995 Thukul nyaris kehilangan penglihatannya akibat kebrutalan polisi saat ia memimpin pemogokan buruh-buruh tekstil Sritex. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996, di mana PRD dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan oleh pemerintahan Orde Baru, Thukul bersama anggota-anggota sentral PRD harus bersembunyi. Kontak terakhir dengan rekan-rekannya masih terjalin pada 1998. Sejak itu keberadaannya tidak diketahui, dan Thukul dikategorikan sebagai "orang hilang", korban-korban penculikan pemerintahan militer Orde Baru.

Tahun 2002 Thukul secara in absentia menerima Yap Tiam Hien Award atas perjuangannya di bidang penegakan HAM.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
298 (41%)
4 stars
322 (44%)
3 stars
76 (10%)
2 stars
12 (1%)
1 star
13 (1%)
Displaying 1 - 30 of 142 reviews
Profile Image for Aprijanti.
139 reviews22 followers
May 5, 2014
Membaca sajak-sajak Wiji Thukul adalah membaca sejarah indonesia pada jaman orde baru. dimana semua penguasa, pemerintah dan antek-anteknya adalah diktator (walau kita lihat sekarang ini juga belum banyak berubah) tetapi yang berani seperti Wiji Thukul barulah satu. Semakin hari, semakin kapitalis negeri ini, semakin kita tidak boleh berharap lagi "akankah ada Wiji Thukul selanjutnya?" bukan untuk melawan kediktatoran pemerintah tetapi melawan kapitalisme, melawan paham diri sendiri. mau sampai kapan kita jadi bangsa yang diperbudak konsumsi? sehingga orang berlomba-lomba mencari jati diri yang bukan dirinya sendiri. dan memunculkan penindasan lainnya.

Membaca Wiji Thukul hari ini saya seperti sedang diingatkan, ada pemimpin-peminpin yang sebaiknya dihindari, karena Juni nanti kita akan memilih presiden baru yang menentukan masa depan. jika ingin perubahan, maka lawan!

kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian gedah
buku-bukuku kalian jarah
tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan sendiri
pada anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini

ini tak diajarkan di sekolah
tapi rezim sekarang ini
memperkenalkan kita kepada semua kita
setiap hari di mana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan

kekejaman kalian
adalah buku pelajaran
yang tak pernah ditulis!
Profile Image for Buddy The Book.
158 reviews16 followers
November 6, 2021
Siapa suka puisi? Aku!! Siapa yang jago berkontemplasi dengan makna-makna puisi? Bukan aku. Hehehe

Walaupun suka puisi, tapi kalau boleh jujur nih... Aku sama sekali gak jago untuk berkomentar banyak soal puisi. Ntah takut salah tafsir, ntah takut terlalu berlebihan, atau takut salah menangkap maknanya.

Jadi, aku cuma mau bilang... Puisi-puisi Wiji Thukul adalah puisi aneh, lucu, menyeramkan, mengerikan, mencekam, satir, gelap, syahdu, bahkan gak jelas. Kalau mau menyelami pikiran-pikiran beliau, mungkin buku ini layak dicoba.

Buatku? Worth to read! Apalagi tulisan beliau adalah salah satu saksi tragedi berdarah sejarah kita.
Profile Image for Aya Prita.
171 reviews21 followers
October 18, 2015
semua bengkok
mana yang lurus?
juga hukum

/

derita sudah matang, bung
bahkan busuk
tetap ditelan?


Wiji Thukul.
Nama Anda terasa sangat berharga setelah saya membaca buku ini. Saya melepaskan topi saya dan tunduk kepada Anda, namaste. Hormat sedalam-dalamnya dari saya, abang Wiji Thukul.

Sayang oh sayang, namamu sudah tidak diucap-ucapkan hari ini. Mungkin namamu masih terpajang di papan pengumuman kampus di suatu universitas dan membuat para mahasiswa mengerutkan dahi, "Siapakah orang ini?". Sayang, sayang oh, sayang, namamu kini hanyalah sebuah nama.

Namun, bagi saya, barulah saya tahu bahwa Wiji Thukul memiliki kontribusi lebih dalam melawan para kapitalis. Bayangkan saja, seorang penyair, aktivis, dan tukang becak! Kurang jenius apalagi?

Mungkin tak perlulah beli buku-buku mahal untuk mengenali seorang Wiji Thukul. Baca kumpulan puisinya saja yang disusun sedemikian rupa bak buku cerita fiksi, para pembaca sudah mampu membayangkan kehidupan sang Wiji Thukul.... Apalagi dengan penyedap kata pengantar dari Munir.

Singkat kata, Wiji Thukul, yang awalnya saya kenal sebagai aktivis, lalu pandangan saya berubah jadi 360 derajat gara-gara kepandaiannya menghidupkan jiwanya lewat kata-kata walaupun dirinya sudah bungkam karena senjata.

Saya rasa semua orang perlu membaca buku ini. Selain untuk makanan otak ataupun sekedar pengin tahu Wiji Thukul, cobalah rasakan gejolak arus bawah sekali-kali. Jangan terlena sama arus atas.
Profile Image for raafi.
932 reviews451 followers
February 7, 2017
Ulasan lengkap bertajuk "Istirahatlah Kata-Kata Bersama Nyanyian Akar Rumput": http://bibliough.blogspot.co.id/2017/...

Puisi perlawanan yang benar-benar berani. Melalui bait-baitnya, pembaca diajak marah dan tak gentar dengan penguasa tirani. Seperti memiliki daya magis untuk bisa menggerakkan massa. Pengalaman baca puisi yang beda dari yang lain.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
January 25, 2020
Wiji Thukul
Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi
Gramedia Pustaka Utama
248 halaman
9.1 (Best Book)

Lewat kata-katanya yang sangat sederhana, menyentuh, dan berani, Wiji Thukul menyampaikan suara dari rakyat kecil. Nyanyian Akar Rumput merekam rintihan, pekikan, seruan, dan teriakan kaum akar rumput terhadap kelaliman penguasa dan pemerintah.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
March 27, 2014
Saya menghormati Wiji Thukul, karena kegigihannya dan ketulusannya membela kaum buruh. Saya baca profil yang diulas Tempo Edisi Khusus Wiji Thukul, Mei 2013 lalu. Meski saya tidak bisa menilai puisi dan tidak bisa menulis puisi sampai sekarang (mungkin nanti kalau belajr pasti bisa), saya menikmati buku ini.Dan satu kata yang terus teringang sejak kenal organisasi kampus dan aksi di jalanan adalah:

Hanya ada satu kata: LAWAN!

Semoga dirimu baik, Wiji Thukul. Meski dirimu tidak masuk dalam 33 tokoh sastra paling berpengaruh, tapi puisi-puisi sudah bikin aparat negeri ini ketakutan. Terimakasih.Pernah kepikiran kalau nanti masa hisab di akhirat,mau lihat persidangan Wiji Thukul. Dan bakal tahu siapa yang selama ini menghilangkan Wiji Thukul).
Profile Image for Nindya Chitra.
Author 1 book22 followers
August 12, 2018
"Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kaubungkam melulu"

Ngasih banyak pencerahan dan semangat buat ngelanjutin perjuangan bangsa. Realistis, jujur, polos. Kayak diajak buat berdiri di balik jendela seorang Wiji Thukul. Dan kagum karena jendela tempat dia memandang dunia benar-benar bersih. Jadi segalanya tampak jelas. Meski keadaan udah lebih baik sekarang, nggak lantas perjuangan berakhir. Suka sekali.
Profile Image for Rezza Dwi.
Author 1 book277 followers
April 25, 2017
Puisi tahun 80-an yang lebih banyak mengandung makna denotasi dibanding konotasi. Banyak sindiran untuk pemerintahan. Tiap zaman sebenernya punya masalah masing-masing. Dulu miris, bukan berarti sekarang nggak miris. Cuma beda aja masalahnya.

Thanks to iJakarta. Aku jadi bisa baca puisi-puisi lama gini di sana.
Profile Image for literatu._.reclub.
44 reviews
May 7, 2025
jangan kaupenjarakan ucapanmu
jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan


Sedih rasanya membaca puisi tentang penindasan oleh rezim dan pembungkaman suara rakyat yang ditulis 30 tahun silam masih relevan dengan kondisi saat ini.
Profile Image for Alifa Imama.
133 reviews10 followers
June 16, 2022
6/5

Wiji Tukhul.
Namanya sering disebut-sebut semasa saya masih duduk di bangku sebuah Universitas berjuluk Reformasi. Acap digunakan di setiap diskusi, orasi, basa-basi para organisiatoris paling kini.
Beberapa kutipan puisinya sering saya temui, tapi baru kali ini membaca semuanya secara lengkap.

uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat dua buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu
p.26


Membaca puisi-puisi WT membuat bulu kuduk saya berkali-kali naik. Saya tertegun, terdiam, dan harus meletakkan buku untuk menyesap apa yang baru saja terjadi. Beliau memang tidak memiliki kata-kata yang jungkir balik. Tidak. Puisinya bisa dibilang lugas. Ada kekuatan dalam setiap kata-katanya. Berat di dalam kalimatnya. Tulisannya jujur, menyampaikan kejujuran dalam kegetiran--dengan kobaran api sebagai akarnya.

sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan
p. 210


Buku ini dibagi menjadi 4 bab. Masing-masing diatur agar rapi berdasarkan waktu penulisan, dan tema yang dibicarakan. Seperti pada BAB I, yang dimana fokusnya adalah soal kemiskinan. Dalam kacamata WT, kita bisa melihat kegetiran dan kegundahan beliau akan kemiskinan rakyat. Kesenjangan masyarakat. Kesulitan menjadi seorang buruh.

kita ini lumut
menempel di tembok-tembok bangunan
berkembang di pinggir selokan
di musim kemarau kering
di terjang banjir
tetap hidup
p.55


WT juga membahas persoalan tanah. Tanah yang tetap menjadi permasalahan anak muda sampai saat ini. Bahwasannya tanah harganya mahal, sulit dimiliki, terutama untuk kaum kecil.

di tanah negeri ini milikmu cuman tanah air
p. 104


Memasuki Bab V ke VII, Tulisan WT memasuki era 94-97 di saat pemberontakan dan aktivis semakin memanas dan menggeliat.

o sia sialah
kekuasaan memasang
palang menghalang
ilalang
tetap hidup tumbuh
dan menang
p. 172


Judul-judul puisinya kuat menyampaikan perlawanan, seperti pun bait-bait di dalamnya.
seperti "merontokkan pidato" dan "puisi menolak patuh"

Diceritakan juga, masa-masa beliau di penjara, di siksa, untuk lalu kemudian diakhiri di BAB VII puisi-puisi terakhirnya saat telah menjadi buron. Kerinduannya akan rumah. Dukanya akan teman-teman, korban, yang ditindas dan dibunuh oleh negara sendiri. Kesepiannya bersembunyi, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tetap penuh dengan api.

habis cemasku
kaugilas
habis takutku kau tindas
aku masih tetap waras!
p. 227


aku menulis, aku menulis terus menulis
sekalipun teror mengepung
P.166


Beristirahatlah kata-kata, Beristirahatlah Wiji Tukhul. Perjuanganmu, karyamu hidup dan kekal abadi.


disini tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi
juga kemiskinan ini, juga keasingan ini
tapi setiaku sampai bungkuk akan melahirkan
percakapan panjang lewat tulisan dan puisi
p.93
Profile Image for Nufira S..
56 reviews22 followers
September 18, 2014
kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian geledah
buku-bukuku kalian jarah
tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajari anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini

ini tak diajarkan di sekolahan
tapi rezim sekarang ini
memperkenalkan kepada semua kita
setiap hari di mana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan

kekejaman kalian
adalah buku pelajaran
yang tak pernah ditulis!

***

Saat membaca kumpulan puisi "Nyanyian Akar Rumput" ini, saya seperti membaca buku tentang sejarah pemerintahan Indonesia yang tak pernah saya temukan pada buku-buku pelajaran sekolah. Puisi-puisinya satire, frontal, sangat minim kiasan dan apa adanya. Rasanya perih setiap membaca lembar demi lembar puisi-puisinya.
Sebelum membaca buku yang dilabeli "Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Tukul" ini, saya tidak mengenal satu pun puisinya. Kecuali saat saya sampai di halaman 85, ada puisi berjudul "peringatan", larik terakhirnya saya kenal, mungkin larik ini pula yang paling dikenal dari puisi-puisi Wiji Tukul, yaitu:
"maka hanya ada satu kata: lawan!"
Profile Image for Haifa Chairania.
158 reviews7 followers
December 31, 2023
Mengawali tahun 2023 dengan bacaan, yang tidak disangka-sangka, bakal membuatku merenungi banyak hal.

Sebagai orang yang tidak terlalu nyastra, puisi-puisi di buku ini dengan mudah membuatku tenggelam. Lugas, tidak berbelit, tidak mengumbar banyak kata indah, namun mampu "bersuara" secara lantang dan berani.

Setelah menyelesaikan buku ini, aku pun mengambil kesimpulan secara mantap. Nyanyian Akar Rumput bukanlah sekadar puisi. Melainkan juga bukti keberanian seorang Wiji Thukul yang berusaha menyampaikan penderitaan, ketidakadilan, sekaligus perlawanan di tengah kejinya negeri tempat ia berdiam.

kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
katakan
ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa jadi penjahat
oleh penguasa
yang sewenang-wenang

kalau mereka bertanya
"apa yang dicari?"
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok
haknya
yang dirampas dan dicuri
Profile Image for Valerie Patkar.
Author 8 books422 followers
January 24, 2021
Lamanya saya baca buku ini karena butuh banyak merenung setelah satu sajak usai. Di suatu interview saya pernah ditanya "Siapa penulis yang paling ingin kamu temui kalau dia masih ada?". Jawab saat itu adalah "Wiji Thukul." Saya penasaran bagaimana sunyinya dia hidup dengan segala keheningan tanpa harus bungkam dengan kata-katanya. Lalu di buku ini, saya perlahan menemukan titik terang dari rasa penasaran saya itu.

Terima kasih sudah bersuara lewat kata-katamu, Bung. Semoga teka-teki ganjil yang selalu kau cari itu bisa kau temukan sekarang di sana, di mana pun kau berada.
Profile Image for Ray Hamonangan.
Author 1 book17 followers
August 13, 2016
kumpulan puisi yang sangat lugas menurut saya, penggunaan diksi yang tidak belibet serta mudah dimengerti, betul2 memperlihatkan kondisi indonesia pada era kemerdekaan awal sampai beberapa tahun sebelum lengsernya orde baru
Profile Image for Septyawan Akbar.
111 reviews13 followers
October 7, 2025
Medio 2018, saya rasa selalu jadi masa formatif dalam kehidupan pra-dewasa saya. At least, dalam kehidupan pembaca.

Keputusan untuk ikut dunia pers mahasiswa paska membaca Bumi Manusia, mengarah kepada peruntukkan karya, dan buku-buku yang lain. Sebagai, seorang certified FISIP people, yang ̶c̶o̶n̶d̶e̶n̶s̶c̶e̶n̶d̶i̶n̶g̶ idealis. Buku Widji Thukul, dalam biografi seri tempo menjadi salah satu.

Apa yang tersisa dari penjunjungan yg maha tinggi dan idealis itu tentu saja, romantisme dan saya masih teringat pikiran untuk ngamen puisi ala Widji Thukul itu, terus dan tetap ada.

Di masa kesepian-kesepian itu, tentu saja, pembayangan akan glorifikasi dari sosok Widji Thukul, puisi beliau yang saya temui dalam liputan hari buruh, penggalan dari "Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa", "Istirahatlah Kata-kata", dan masih banyak lagi.

Atau bagaimana saat saya berkunjung ke Solo, di tempat buku-buku loak, dekat Benteng Vastenburg, saya mencoba untuk mencari buku puisi blio, dst dst yang menjadikan postlude ini terlampau panjang, serta terlalu mirip menjad mini-biografi.

Kemudian yang tiba, pada pembacaan kumpulan buku puisi ini, adalah peluruhan dari segala yang berarti dan esensial dari penyair ini. "Ketakutan, rindu, dan duka" kalau mengutip penyair favorit saya, yang terlampau sering dan klise saya kutip itu.

Bagaimana "Puisi di Dalam Kamar" membuat saya terisak. And how his reality and everything around him, hidup dan bertenaga dalam karya-karyanya.

Puisi tentang kemiskinan/nyanyian akar rumput, dalam selera, dan keberpihakkan saya untuk menulis, atau mengkritisi karya-karya yang saya konsumsi, adalah sebuah Kitsch, yang saya tidak berbakat, untuk menjelaskan/berkata-kata.

Namun yang tersisa dari karya Wiji Thukul, dan unmistaken radikal act of rebel atasnya, bukanlah glorifikasi dan survival bias. Hanya cara untuk menuntut dan berani hidup.

And as always beliau akan selalu jadi bukti nyata dosa negara, dan hantu omnipresent yang bergantayangan. Hadir dalam rezim sekarang, dan akan terus berjalan layaknya bola Salju, lepas dari ratusan edisi kamisan.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
April 5, 2021
Kamu tahu atau pernah mendengar Wiji Thukul?⁣
Karyanya dirayakan tapi nasibnya masih dipertanyakan. Beliau adalah penyair, aktivis buruh, martir reformasi, yang sekarang hilang, penuh ketidakjelasan. ⁣

"...⁣
apabila usul ditolak tanpa ditimbang⁣
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan⁣
dituduh subversif dan mengganggu keamanan⁣
maka hanya ada satu kata: lawan!"⁣
(Peringatan, Wiji Thukul)⁣

Kutipan puisi itu mungkin sering kamu dengar atau temukan waktu negara dan para politikus bikin kesal atau saat demonstrasi. Buku ini adalah kumpulan lengkap puisi Wiji Thukul. Judul bukunya diambil dari salah satu puisinya. Kata-katanya sederhana dan mudah dimengerti. Isinya kebanyakan tentang kemisikinan dan kehidupan rakyat, penderitaan dan perlawanan. Didukung latar belakang Wiji Thukul, semakin terasa maksud-maksud puisinya. ⁣

Lanjut lah nonton Istirahatlah Kata-Kata setelah membaca buku ini (bisa ditonton secara legal di @bioskoponlineid)—judulnya juga diambil dari salah satu judul puisinya. Filmnya bercerita waktu Wiji Thukul dalam persembunyian, buron Orde Baru (sampai lari ke Kalimantan). Sesekali diceritakan kondisi istrinya (Marissa Anita berperan baik sekali). Filmnya intens dan bikin nafas engap. Beberapa puisi yang dibacakan membuat mengerti maksud penyair pelo (cadel) yang sering dilabelkan pada Wiji Thukul. Tetapi semakin tidak mengerti kenapa barisan kata-kata, dibacakan oleh penyair pelo, sangat ditakuti kekuasaan. ⁣

Saya baru-baru ini saja tahu tentang beliau dan tidak menyangka seterkenal ini di kalangan aktivis (apalagi dengan menonton filmnya, sepertinya cukup banyak koneksi perjuangan, ya). Yah, buku sejarah zaman saya sekolah tidak menyembutkan nama beliau—dan pejuang lain yang tidak tercatat. Bagaimana, ya sekarang?⁣

Mengetahui (atau tidak mengetahui?) nasib Wiji Thukul, puisinya yang berjudul 'Catatan' terasa sedih sekali.
Profile Image for weirdniss.
39 reviews5 followers
September 15, 2020
Membaca Nyanyian Akar Rumput, ternyata benar-benar membuat diriku bernyanyi dalam sengguk.
Bagaimana bisa sajak yang rata-rata dibuat pada sekitaran tahun 85-90-an masih tetap relevan pada kondisi negeri sekarang ini?

Sejak 27 Juli 1998 hingga detik ini, Wiji Thukul masih menghilang. Pokoknya, sajak-sajaknya tetap menjadi bacaan wajib yang akan memberikan semangat baru bagi kaum muda untuk melawan rezim dan menegakkan keadilan.

tanah
tanah mestinya dibagi-bagi
jika cuma segelintir orang
yang menguasai
bagaimana hari esok kamu, tani?
tanah mestinya ditanami
sebab hidup tidak hanya hari ini
jika sawah diratakan
rimbun srmak pohon dirobohkan
apa yang kita harap
dari cerobong asap besi
hari ini aku mimpi buruk lagi
seekor burung kecil menanti induknya
di dalam sarangnya yang gemeretak
dimakan api

(hlm. 56)
Profile Image for Nike Andaru.
1,645 reviews112 followers
October 4, 2018
112 - 2018

Pernah memang membaca puisi Wiji Thukul ya beberapa aja, tapi kali ini bukunya tebal dan semua puisinya beliau.

Salut. Puisinya memang juara banget, mudah banget untuk disukai. Hampir semua puisi dalam buku ini saya suka dan beberapa malah suka banget, sampe saya salin di notes hp. Buku ini patut dikoleksi sih ya, bukan karena bagus aja tapi buku puisi ini lebih tebal dan memang edisi koleksi, gak seperti buku kumpulan puisi lainnya.

Jika kau tidak berani lagi bertanya
Kita akan jadi korban keputusan-keputusan
Jangan kaupenjarakan ucapanmu
Jika kau menghamba pada ketakutan
Kita akan memperpanjangan barisan perbudakan.

Ucapkan Kata-Katamu
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
June 30, 2017
Kalau ada teman-temanmu tanya kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja
karena bapakku orang berani.

Hanya ada satu kata: Lawan!
Profile Image for Lola.
183 reviews8 followers
August 18, 2023
Buku ini ditulis oleh salah satu pejuang HAM & aktivis sosial Indonesia yang hilang, yaitu Wiji Thukul. Buku ini adalah kumpulan puisi yang berisi suara-suara masyarakat bawah yang kerap terabaikan, seperti akar rumput yang sering diabaikan.

Aku suka dengan bahasanya yang sangat sederhana, tetapi memiliki kekuatan yang bisa menyentuh perasaanku. Terus, aku juga suka dengan semua puisinya yang mengalir dengan ritme kuat & mengandung makna yang mendalam.

Menurutku, buku ini berhasil membentuk kritik sosial yang tajam terhadap berbagai isu yang dihadapi oleh masyarakat pada saat itu dan sampai sekarang. Contohnya saja, penderitaan & ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat kecil.

Sebelumnya, aku tidak mengenal beliau, bahkan tidak tahu persis perjuangannya seperti apa. Namun, melalui puisinya, aku bisa merasakan idealisme yang tinggi, hati yang memberontak & semangat perjuangan bang Wiji sebagai aktivis Indonesia. Yang kusuka darinya adalah beliau tidak hanya berbicara tentang masalah sosial saja, melainkan menggerakkan kita untuk peka, tidak apatis, berani speak-up, bangkit & berjuang melawan ketidakadilan.

Sungguh! Buku ini benar-benar menyiratkan kritik tajam terhadap pemerintahan dari segala bentuk apapun. Beliau cerdas mengungkapkan ketidakpuasan terhadap kebijakan & tindakan pemerintah yang merugikan masyarakat.
Profile Image for Shinta Amelia.
49 reviews19 followers
April 15, 2016
Saya dibesarkan dengan lantunan musik Iwan Fals, larik-larik puisi Rendra, dan artikel mengenai Munir. Ya, ayah saya memang pengagum mereka yang lantang bersuara melawan pada masa Orde Baru dan Reformasi. Belakangan juga beliau mengagung-agungkan nama Wiji Thukul, saya sebagai anak lumayan ikut terpengaruh. Di hadiahkannya saya sebuah buku kumpulan sajak ini dua tahun lalu, tapi hilang. Entah dimana.

Nyanyian akar rumput
Rumput saja sudah rendah
Di injak-injak
Belum lagi akarnya
Mau jadi apa?
Di lindas
Di cabut paksa
Di singkirkan dari pinggir selokan
Pedih, ya pedih
Tapi takkan pernah cukup
Untuk membuatmu bungkam


Pedih. Kumpulan sajak ini adalah catatan kelam akan noda dari penguasa bangsa kita dimasa lalu. Mengingatkan kita pada kediktatoran sebuah rezim, bernama Orde Baru. Sungguh, belajar sejarah tidak harus dari buku pelajaran sejarah saja. Puisi-puisi Thukul adalah bukti dari pelajaran yang tidak pernah ditulis. Potret-potret permasalahan yang banyak sekali itu, sampai sekarang pun masih terus kita lihat dan kita alami. Ketimpangan sosial, kemiskinan, kelaparan, penindasan terhadap rakyat kecil, hukum yang bisa dibeli, pelanggaran HAM dan masalah moral, pelaksanaan otoritas yang sewenang-wenang, gaji murah bagi kaum buruh, itu semua belum selesai. Belum pernah selesai.

Senang mengenalmu, Wiji Thukul. Jasadmu boleh jadi lenyap, dihapus, meninggalkan pertanyaan. Tapi tak begitu dengan semangatmu. Riwayatmu takkan pernah punah. Kata-katamu akan selalu utuh, takkan pernah mati, tak akan pernah bisa di bungkam, lagi. Terima kasih.
Profile Image for Bimana Novantara.
281 reviews29 followers
May 28, 2016
setidaknya ada lima metafor yang digunakan Wiji Thukul untuk mengumpamakan rakyat kecil ketika berhadapan dengan pemerintahan otoriter yang sangat berkesan buat saya.

yang pertama adalah 'rumput' (hlm 25):

kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah

lalu ia memakai 'lumut' (hlm 55):

kita ini lumut
menempel di tembok-tembok bangunan
berkembang di pinggir-pinggir selokan

kemudian juga 'bunga' (hlm 81):

seumpama bunga
kami adalah bunga
yang tak kau kehendaki tumbuh

lalu ada juga 'ilalang' (hlm 172):

aku melihat ilalang
o sia sialah
kekuasaan memasang
palang penghalang
ilalang
tetap hidup tumbuh
dan menang

walau seratus kali digaru


dan yang paling saya suka, 'kupu-kupu' (hlm 190):

seperti kupu-kupu
sayapnya tetap indah
meski air kali keruh


Profile Image for Devina Heriyanto.
372 reviews253 followers
July 24, 2016
Sajak ini lebih jujur ketimbang buku sejarah saya, yang hanya membahas Pelita dan swasembada beras, tapi melupakan kesenjangan dan kelaparan jutaan. Seperti kata Wiji Thukul, puisinya adalah "kabar buruk buat penguasa" yang membuat para jenderal dan presiden marah-marah. Sebabnya cuma satu: karena dia berani menyuarakan akar rumput, yang sebelumnya terkubur dan terinjak. Wiji Thukul dan siapapun yang setuju kepadanya akan dicap sebagai subversif atau komunis, sebuah manipulasi bahasa khas rezim tirani. Tapi bukan, dia hanyalah seorang humanis.

Tulisan di blog mengenai Nyanyian Akar Rumput:
- Pintar, atau kaya? Tentang pendidikan dan privilege
https://dvnheriyanto.wordpress.com/20...
- Untuk apa menulis? Mencoba mengenal Wiji Thukul lewat 'Nyanyian Akar Rumput'
https://dvnheriyanto.wordpress.com/20...
Profile Image for Istiqomah Iftha.
20 reviews
January 16, 2020
Tidak ada kata terlambat untuk membaca. Mungkin, jauh ketinggalan dari teman-teman yang lain karena baru menamatkan puisi dari pejuang HAM, Wiji Thukul. Namun ucap syukur tetap dipanjat karena hari ini telah selesai membacanya dengan penuh haru sakit. Puisinya mencakup semua kalangan, semua kelas, semua orang di Indonesia kecuali para penguasa jajarannya.

Hingga saat ini, namanya tetap abadi, puisinya tetap hidup dan membara. Merajalela tertanam dalam ingatan sebagian banyak orang untuk bangkit tidak tunduk pada kenyataan juga kekuasaan yang sebelah pihak. Kita dilarang bungkam dan memilih diam atas kekejian yang terjadi, keanehan yang tidak masuk akal, peraturan-peraturan yang disalahgunakan oleh para penguasa.

Panjang umur keadilan! Panjang umur Wiji Thukul!
Profile Image for Andita.
311 reviews3 followers
September 19, 2020
Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi karya Wiji Thukul, pribadi aku sangat menyukai puisi yang ada di dalamnya. Walaupun hanya sebatas puisi, ajaibnya puisi-puisi di dalamnya benar-benar bisa menggambarkan keadaan rezim dijamannya.

Bagaimanapun juga, setiap puisinya sangat bermakna, sejarah yang terkandung di dalamnya sangat kental. Sangat terasa bagaimana banyak orang berjuang untuk mengubah negara yang ditinggalinya menjadi lebih baik. Wiji Thukul adalah tokoh yang puisinya akan selalu menjadi simbol perjuangan dan keadilan.

"Penyair haruslah berjiwa "bebas dan aktif", bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya." - Wiji Thukul
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
December 21, 2016
Entah mengapa sa merasa harus memberi lima bintang untuk buku puisi Wiji Thukul ini. Tersebab melalui buku ini sa merasa lebih mengenal sosok si penyair. Ia seorang penyair yang oke, ternyata.

Sa merasa senang mendapati puisi-puisi berjudul sederhana, tetapi isinya mengejutkan. Dan beberapa di antaranya bahkan sangat mengejutkan.

Cobalah baca puisi-puisi ini:
1. Ayolah, Warsini;
2. Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai;
3. Lagu Persetubuhan;
4. Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa;
5. Penyair.

Lima puisi itu adalah contoh betapa mengasyikkan sekaligus memilukannya lukisan yang dilukis puisi-puisi Wiji Thukul.
Profile Image for nadinosaurus.
273 reviews5 followers
June 13, 2021
Puisi satir yang jujur dan menyayat hati, perih sekali sampai-sampai hampir dnf, karena isinya bukan hanya sajak perjuangan, tapi juga kemiskinan, penderitaan buruh sampai penganiayaan yang semua dialami penulis sendiri

Wiji Thukul menggambarkan semuanya dengan sangat jelas dengan kata-kata sederhana dan apa adanya tapi tajam.

di ujung sana ada perusahaan daging abon
setiap pagi kami beli kuahnya
dimasak campur sayur
-gumam sehari-hari

“si penceng muntah-ngising, perutku malah sudah isi lagi
dan suk selasa pon ana sumbangan maneh si sebloh dadi manten!”
-nyanyian

beberapa puisinya masih relavan dengan keadaan saat ini huhuuu sediih sekalii
Displaying 1 - 30 of 142 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.