Imung sudah makin besar, sudah beberapa bulan resmi jadi anak SMP. Temannya sudah semakin beragam. Kasus yang harus dia hadapi juga semakin gawat dan aneh-aneh.
Kolonel Suyatman, “bapak angkat”-nya di Jakarta, mau tak mau harus membiarkan Imung membantunya karena polisi kebingungan. Kasus-kasusnya: dari penyiletan gadis-gadis cantik, pembunuhan berantai keluarga pengusaha batik terkenal, dan lainnya.
Imung bersama Kolonel Suyatman, Kapten Simatupang, Sopir Jayus, Mayor Sulaeman dan Helena - sahabat yang Imung suka -, terlibat dalam berbagai petualangan. Termasuk saat ayah Imung yang tak sengaja turut serta dalam petualangan Imung.
Seorang yang sangat terkenal di bidang jurnalistik, penulisan dan sinetron. Lahir di Solo 26 November 1948. Sempat kuliah di IKIP Solo selama beberapa bulan, lalu mengikuti program penulisan kreatif di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat (1979). Prestasinya sungguh luar biasa. Banyak karyanya yang telah disinetronkan dan mendapat penghargaan, di antaranya Keluarga Cemara dan Becak Emak, yang terpilih sebagai Pemenang Kedua Buku Remaja Yayasan Adikarya IKAPI 2002. Bahkan karena prestasinya pula, dia sempat masuk penjara selama lima tahun!
Kini ia mengelola penerbitan sendiri yang diberi nama Atmo Group. Ia tinggal di Jakarta dengan seorang istri yang itu-itu saja, tiga orang anak yang sudah dewasa, seorang cucu yang lucu, seekor anjing setia, ratusan lukisan buatan sendiri selama di penjara, serta sejumlah pengalaman indah yang masih akan dituliskan.
Di buku 02 seri Detektif Imung ini, ceritanya lumayan beragam. Tidak melulu soal kriminalitas. Memang banyak sekali repetisi indormasi seperti halnya kamar yang ditempati Imung merupakan bekas garasi Kolonel Koboi. Namun jika kita mau mengingatnya, seri Detektif Imung ini merupakan kumpulan cerpen yang diterbitkan di sebuah majalah tiap periodenya. Saya mewajarkan jika ada pengulangan informasi semacam itu. Meskipun, ada beberapa kasus yang memang terlalu berlebihan bagi seorang anak kecil seperti Imung.
Rupanya, saya menyelesaikan buku 2 lebih cepat daripada yang saya harapkan… ya, saya agak sedih sih, karena niatnya buku ini inginnya dibaca pelan-pelan, dinikmati pelan-pelan, dan bukannya terburu-buru karena penasaran dengan jalan ceritanya.
Masalah yang Imung hadapi dengan sangat pelan mulai pelik—ya, pelan sekali, tetapi tetap saja… menghibur dan masih bikin saya nostalgia (seperti buku pertamanya). Sepertinya susah buat saya untuk tidak menyukai Imung. Dia sungguh tokoh utama yang, terkadang, naif… tetapi menjengkelkan dan sungguh keras kepala. Dia bukan tokoh yang sempurna, ya, coba lihat saja korengnya. Tetapi justru karena ketidaksempurnaannya itu, apalagi betapa bocahnya Imung pada beberapa saat tertentu, saya semakin menyukainya!
Dulu baca tentang Imung saat masih SMP (ketahuan deh umurnya) Terbitan awal kalau tidak salah hanya memuat sedikit kisah dalam sebuah buku. antara 4-6 kisah (sekali lagi, kalau tidak salah), Maka ketika buku ini muncul rasanya senang juga. Ada beberapa kisah yang sepertinya belum sempat saya baca.
Dalam buku ini dikisahkan Imung sudah bukan anak SD lagi. Ia sudah menjadi anak SMP dan tinggal di Jakarta dengan Kolonel Suyatman bapak angkatnya yang juga seorang polisi. Makin berkembanglah bakat dan kemampuannya.
Dalam buku ini ada 10 kisah, asyik kan makin puas bacanya. Nomor kisah dimulai dari 16 hingga 25. Judul kisah selain Matinya Raja Batik yang dipergunakan sebagai judul buku juga terdapat Pameran Permata, Ke Mana Poznansa, Tamu dari Jauh, Pembajakan Bus Kota dan lainnya.
Di akhir bagian terdapat penggalan buku ketiga. Bisa membuat penasaran yang membaca
Imung 2 merupakan buku seri Imung yang pertama kali saya baca. Iya. Saya nggak bisa menemukan Imung yang pertama. Karena di toko buku nya nggak ada...
Imung. Detektif cilik yang korengan(?) namun memiliki otak yang azik ketika memecahkan masalah dari kasus-kasusnya. Bahkan polisi aja kalah sama doi. Pokoknya di dalam buku ini doi keren lah pas memecahkan kasusnya itu.
Oh iya, di dalam buku ini ada 10 kasus, dan kasusnya beragam. Namun kasus "Matinya Raja Batik" yang paling yahud menurut saya..... (kenapa? baca aja sendiri :D)
Punya juga seri Detective Conan-nya Indonesia. Pertama kali terbit tahun 80'an. Masih asik dibaca jaman sekarang meskipun ada kalimat "Kamu tahu berapa biaya untuk tes sampel darah? Sangat mahal, Itu harganya bisa mencapai ribuan rupiah", eungggg mungkin dulu harga eskrim baru 5 sen. Baru tahu kalau pernah juga diangkat jadi serial TV pengen ditayangin lagi dong. Plis!
kasus-kasusnya lebih rumit dari buku pertama. dan masih ada beberapa kasus yang 'aneh' dengan penyelesaian yang sederhana. namun masih tetap seru. (kembali ke tahun 80-an).
Better than before. Di buku ini banyak kasus yang lebih 'panjang' dan disajikan dengan lebih menarik. Ada pula beberapa tokoh baru yang menambah bumbu cerita seperti Mayor Sulaeman.
Rasanya cerita petualangan ala-ala detektif belum terlalu banyak di khazanah literatur Indonesia. Dan dengan serial Imung, Arswendo berhasil menampilkan sebuah tokoh yang unik (anak kampung yang tinggal di kota, dengan ciri khas koreng yang terkadang gatal bukan main) dengan otak brilian.
Saya pikir satu buku ini akan hanya ada satu kasus panjang dari awal hingga akhirnya, tapi ternyata setiap bab merupakan sebuah kasus baru. Beberapa kasus terasa sepele, tetapi ada pula yang terkesan mistis.
Dalam bab yang berisi beragam kasus inilah secara bertahap penulis mengenalkan pembaca akan tokoh utamanya: rinci, mengalir, dan tidak terburu-buru. Sukak!