oh to be loved by a writer.
kalo soal effort, di hubungan ini keduanya ngga perlu ditanya lagi kayaknya ya. aku suka sama masing masing tokoh yang punya peranan masing masing. dan gimana keduanya sama sama ngusahain dan ga berat sebelah. aku suka sama karakter cello yang kalo kata helga digambarin kayak rebahan di kasur seudah seharian nanam padi, nenggak es teh manis di bawah terik matahari pukul 12 siang, dan berlindung di perapian waktu badai salju menerjang. AAAAAAA kapan ya "cello-ku" datang???? heushueeh T_T (t-tapi blm siap sih soalnya aku masih kayak helga di buku yg pertama-masih kacau masih berantakan sama isi pikiran sendiri dan blm beres sama diriku)
banyak yang aku pelajari dari buku ini mulai dari hello cello sampai hello (again) cello. gimana penulis ngegambarin konflik yg ada di diri masing masing tokoh, gimana mereka nyeleseinnya, mulai dari perang batin sama diri sendiri sampai masalah sama pihak di luar diri sendiri yang beberapa sering muncul adalah karena salah paham atau KOMUNIKASI. komunikasi yang ternyata sepenting itu di hubungan, mau itu keluarga, pertemanan, terlebih percintaan. kalo dua duanya sama sama mau ngerti dan mau memperbaiki, semua akan terselesaikan.
btw aku ngerasain perbedaannya bgt helga sebelum dan sesudah. hal yang ditekenin selalu adalah tentang menomorsatukan diri sendiri yang mana beda sama egois. kayak dari situ juga aku belajar. dari helga yang awalnya selalu jadi orang yang ga enakan, selalu ngerasa dia pantas buat dapet hal-hal buruk di hidupnya, selalu merasa 'kecil' akan dirinya sendiri, selalu numpuk masalah dan emosi yang mana selalu dia tutupin dan ga diceritain SAMPAI dia sadar. seperti kata penulis, hidup helga banyak berubah setelah kenal cello. perubahan baik yang lebih mendominasi, tentu. ada beberapa dalam dirinya yang cello bantu perbaiki, atau kalo ngga, cello temani selama proses perbaikan. di pertengahan atau mendekati akhir halaman, beberapa hal perasaan dsb yang cello tumpuk dengan sadar ga sadar ngebuat sisi lain cello belum tersembuhkan. ada sisi lain cello yang baru helga tau. dan peranan helga di sana cukup membuat pandangan cello akan hal yang tadinya sesak dan sedih (beberapa hal dalam dirinya menuntut) jadi berubah kebalikannya. dan mungkin ada beberapa konflik kecil, dari keduanya yang penyelesaiannya tuh sama sama saling. kayak semisal somethings wrong with helga, cello coba buat tanya dan memperbaiki. ketika cello yang kayak gitu pun, helga yang nyoba giliran. di hubungan ini yang kutahu mereka sama sama saling, sama sama berjuang, sama sama berusaha, dan yang paling jadi gong nya kisah mereka adalah "dicintai sama besarnya" 🥹😭💖🫵
untuk helga, bahagia selalu
cello juga
semua tokoh di bukunya
juga untuk penulis, kak nadia! 🫶
dan yang baca ini, aku kamu kita semua
semoga kita jadi orang yang menomorsatukan diri sendiri di atas segalanya (re: BEDAIN sama egois), yang selesai sama diri sendiri, yang sehat, yang bahagia. i hope we're healed for something that we didn't tell anyone's about.
semoga aku kamu kita semua ketemu sama orang yang mencintai kita sama besarnya 🤍
until that day, ayo kita lebih sering nengokin diri sendiri, tanya keadaan dan keluhan. ayo jadi lebih sayang sama diri sendiri, karena ketika kita udah penuh sama diri sendiri, kita bisa nyebar cinta itu juga ke yang lainnya tanpa tertatih-tatih lagi karena pijakan pertamanya udah lebih dulu kokoh. hang on!
"seperti ia yang jatuh cinta padamu, orang yang tepat akan mengajakmu jatuh cibta pada dirimu sendiri. perihal berlomba-lomba dalam mencintai, dibuatnya kamu yang bersaing dengannya. membantu membuang rasa rendah diri dan menjadi pengingat hidup akan nilai yang kau milki."