Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nothing Solid

Rate this book
Nugraha : “Bahu gue cedera di saat karier balap gue lagi bagus-bagusnya.”

Tyas : “Beasiswa gue terancam dicabut. Tiba-tiba gue didatangin debt collector pinjol.”

Gilang : “Seantero kampus iri sama gue. Gue dibilang keturunan sultan, good looking sejak dini. Padahal saat di rumah, gue dianggap sampah.”

Felix : “Mimpi gue kuat, tujuan hidup gue jelas. Tapi kenapa penyakit sialan ini mendatangi gue?”

Levi : “Kalo IPK gue anjlok, gue bakal dipaksa kawin sama cowok berpangkat pilihan Papa. Somebody help me!”

Bagaimana kalau dua di antara kelima sahabat tersebut terlibat friendzone? Bagaimana pula kalau datang cowok baru, yang mengacaukan pertemanan mereka? Apakah persahabatan mereka akan tetap solid?

372 pages, Paperback

Published January 10, 2024

2 people are currently reading
13 people want to read

About the author

Risma Ridha Anissa

6 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (14%)
4 stars
5 (35%)
3 stars
7 (50%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Liliyana Halim.
311 reviews242 followers
March 12, 2024
“Bukan yang bener-bener kita nggak suka, Lev. Pasti ada lah hal-hal yang kita suka di diri orang itu meski nggak banyak. Karena menurut gue, hidup bersama orang yang cintanya lebih sedikit, bakal bikin kita capek. Kayak kita doang yang berjuang. Sementara dia nggak ada effort. Kita juga pasti lama-lama jadi makan ati karena dia nggak peka, nggak perhatian.” (Tyas).
.
Selesaiiiii! Dan sukaaa 😍😍😍. Ini novel pertama Kak Risma Ridha Anissa yang kubaca, cukup suka cara berceritanya, lucu, manis, hangat, sedikit bikin ngilu, juga bikin deg-degan. Tapi ada beberapa bagian yang agak mengganggu buatku pribadi aja. Hmm… jujur awalnya baca novel ini tu nggak terlalu greget gitu soalnya tingkah Levi sama Gilang berisik banget buatku. Tapi lagi makin dibaca ke belakang malah tambah dibuat penasaran 🫣. Suka novel ini karena banyak chapternya juga aku suka yang bagian Levi sama Nunu bicara, kayak “hoooo… terkadang segampang itu menentukan pilihan” cuman ya memang kadang kalau sudah bucin itu pikiran suka kemana-mana 🫣. Nah buat kalian yang terkadang merasa berjuang sendirian mendapatkan seseorang yang kalian suka boleh baca ini. Selain itu novel ini juga boleh banget dibaca oleh para orangtua apalagi yang terkadang suka memaksakan keinginan mereka. Jangan lupa masukkan novel ini di list kalian ya 😉.
.
“Gue udah terlalu sering disakitin. Dan puncak rasa sakit itu datang dari keluarga gue sendiri. Jadi ketika ada orang lain yang nyakitin gue, sakitnya udah nggak berasa lagi.” (Hal 148).
.
Bahwa terkadang orang asing bisa menjadi sosok penyelamat hidup seseorang. Dan Faaz merasakan hal itu ketika melihat Levi bersama sahabat-sahabatnya. Mereka seperti memiliki ikatan batin. Saling berkorban meski tidak memiliki hubungan darah. (Hal 178).
.
Setiap orang adalah pejuang dari hidupnya masing-masing. Sekalipun sultan, miliarder, atau siapa pun itu, tak ada yang memiliki kehidupan sempurna. Semua yang di luar tampak indah, nyatanya hanya sebagai topeng yang melindungi luka-luka di dalamnya. (Hal 226).
.
“Jujur aja, gue iri liat gimana perlakuan teman-teman lo tadi,”— “Itu bukan bentuk penghinaan, tapi pembelaan. Lo salah kalo mikir harta jadi senjata satu-satunya untuk membela diri. Selain senjata, lo juga butuh pasukan kan kalo mau perang? Nah, anggep aja sahabat-sahanat lo itu pasukan yang siap berdiri di samping lo.” (Hal 224).
.
“Ada saat di mana sebagai manusia, kita memiliki peran kecil dalam kehidupan seseorang. Tapi ternyata apa yang kita lakukan punya pengaruh besar pada kehidupan masa depan orang itu.” (Hal 322).
.
“Gue percaya, makin dewasa kita, masalah yang datang makin rumit. Tapi gue juga percaya, kalau kita berusaha menghargai perasaan orang lain, pasti orang itu bakal ngerti. Kita salah paham juga nggak satu-dua kali kan, Lev? Tiap kali gue sakit hati karena sikap lo, saat itu juga gue lihat ketulusan lo yang berusaha ngajak gue baikan.” (Hal 354).
Profile Image for aynsrtn.
515 reviews18 followers
October 10, 2024
"Diantara kalian berlima, emang cuma temen lo yang nggak kuliah yang paling pinter, lainnya nihil besar. Pada tidak peka dan tidak bisa membaca situasi." —Adit, p. 284. Ya, dan orang itu adalah Felix.

Mereka 5 sahabat: Levi, Nunu, Gilang, Tyas, dan Felix. Mereka berlima ada yang terjebak friendzone, ada yang merasa selalu "beda" sendiri, ada yang tsundere, ada yang jadi komedian, dan ada pula yang menjadi "penyelamat". Bagaimana jika persahabatan mereka "diuji"? Apakah mereka akan tetap solid?

-----

Novel young adult bertema persahabatan yang aku butuhkan di era hidupku yang telah menjadi dewasa—para sahabat sudah fokus dengan hidupnya masing-masing. Sad but that's reality.

Begitu pun dengan yang dirasakan oleh 5 sahabat ini. Ketika mereka masing-masing punya masalah sendiri, ada rasa nggak enak buat minta tolong karena yang lain juga udah ribet sama kehidupannya, ada pula rasa "ah, gue bisa selesaiin semua sendiri", dan perasaan-perasaan lainnya. Semua ini ada di novel ini.

Lima sahabat ini terdiri dari:

1. Levi
Protagonis yang sumbu pendek, sangat menjunjung tinggi persahabatan di atas segalanya, seneng ikut campur urusan orang lain terutamanya temannya, somehow good but sometimes bad. Di awal-awal aku ngerasa kesel sama si Levi ini. Sebagai tokoh utama, dia kurang lovable. Malah banyak sifat dia yang bikin "gemes". Tapi menjelang akhir, terlihat bahwa sifat-sifat dia itu karena ada faktor keluarga yang menyertainya—ayahnya yang petinggi kepolisian, juga diktator di rumah.

2. Nunu
Cowok pembalap yang tsundere, cowok cool, dingin banget, bro. Saking dinginnya sampai komunikasi dengan baik aja nggak bisa. Ujung-ujungnya bikin orang salah paham dan tertinggalkan oleh cinta. Makanya ngobrol, Pak, jangan ambekan mulu. Rada kasian juga sih sama Nunu karena dia begitu kesepian. Mamanya meninggal pas dia masih kecil, Papanya jarang di rumah. Yang dia punya cuma sahabat-sahabatnya itu. Udah gitu sad boy pula.

3. Gilang
Dia tuh scene stealer. Di dalam geng persahabatan pasti salah satu ada yang jadi komedian. Nah, Gilang lah orangnya. Kek situasi lagi haru biru, tetiba dia ngebanyol, haha. Apalagi kalau udah disatuin sama Levi. Udahlah dumb and dumber, wkwk. Tapi, meskipun demikian, Gilang ini ternyata menyimpan luka yang dalam.

4. Tyas
Si paling pinter dan fokusnya cuma belajar, belajar, dan belajar. Tyas ini meskipun cerdas, tapi tetap sama kayak Levi, sumbu pendek dan suka nggak mau ngedenger penjelasan temannya. Konflik dia tuh drama banget. Mana pas di awal-awal dia kek orang tertindas yang pasrah, tapi untungnya ada pengembangan karakter. Tyas jadi lebih bisa berani dan melawan. Bravo, girl!

5. Felix
Inilah juru selamat geng ini. Tanpa ada dia, duh ... kocar kacir itu persahabatan. Felix paling dewasa, paling peka, paling bisa baca situasi, paling ngerti maksud sahabat-sahabatnya yang kadang jelek banget komunikasinya. Meskipun raga dia sering sakit, tapi doi berjiwa kuat!

-----

[+]

▪︎ Interaksi dan dinamika Levi dan Gilang. Duh, ini duo pencair suasana. Kek di tongkrongan, nggak ada lo nggak rame, adalah ungkapan pas untuk Levi dan Gilang.

▪︎ Kehadiran Faaz. Damn, this man! Dia meruntuhkan image dan stigma cowok halo dek yang biasanya cuma caper pangkat dan seragam, tapi Faaz is one of a kind! Usaha dia buat "mendapatkan" Levi bener-bener patut diacungin jempol. Jiwa korsa!

"Ini ke sekian kalinya saya kasih kamu kunci. Entah itu kunci mobilmu sendiri atau kunci kendaraan punya temanmu. Apa supaya bisa masuk ke hati dan kehidupanmu, saya butuh kunci juga?" —Faaz, p. 255

Teriak: "AAAAAAAAA!!!"

▪︎ Chapter-nya pendek-pendek. Meskipun ada 40 lebih tetapi nggak kerasa bacanya. Page turner!

[-]

▪︎ Sering jumpy dialog dan paragraf. Karena ini tokohnya ada 5, jadi pergerakannya cepat. Saat itu lagi bahas A, eh paragraf lain udah ada di lokasi B.

▪︎ Plot holes. Ada beberapa bagian yang kelanjutannya apa? Misalnya gimana hasil lomba Felix? Apa tanggapan Tyas soal temen-temennya yang bantuin dia dari pinjol? Lalu, Papanya Gilang gimana? Ya, karena udah 370 lebih halamannya, mungkin kalau dijelasin bisa 500 halaman, tapi setidaknya mungkin ada petunjuk tipis-tipis.

-----

Maaf banget ulasannya panjang karena novelnya sangat berkesan buat aku. Mengingatkan masa-masa persahabatan bagai kepompong, hehe.

Akhir kata, kalau butuh novel ringan persahabatan dengan romansa anak muda, ini sangat direkomendasikan.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,466 reviews73 followers
January 22, 2025
Buku ini benar-benar menjadi sumber dopaminku selama empat hari, dari tanggal 12 sampai 15 Januari 2025. Lumayan membantuku untuk kembali fokus membaca dan tidak terlalu sering mengecek social media. Risma Ridha Anissa benar-benar lihai dalam membuat jalinan plot yang membuatku jadi tak bisa melepaskan perhatian dari buku ini. Good job for the editor and the team who makes this book published.

Ada lima tokoh yang terus disorot dalam cerita ini. Kelimanya bersahabat.

Yang pertama adalah Leviosa atau Levi atau yang biasa dipanggil teman-temannya sebagai Lenong alias Levi Jenong. Penggemar berat Harry Potter ini hanya dipanggil "Levi" oleh teman-temannya jika mereka marah padanya. Gadis selengekan ini anak bungsu dari seorang kepala polisi. Posisi ayahnya membuatnya jadi punya privilege. Levi biasanya memanfaatkan posisi ayahnya untuk membantu teman-temannya. Namun, dia tak bahagia karena ayahnya adalah seorang diktator yang selalu menyuruhnya menikah dengan bawahan-bawahannya yang dianggap potensial. Tak ada satu pun bawahan ayahnya yang bertahan dijodohkan olehnya. Hingga akhirnya datang sosok Faaz. Levi adalah tokoh yang sudut pandangnya paling banyak disorot di sini. Jadi dialah sang tokoh utamanya. Cita-cita Leviosa adalah membuat lembaga kursus sendiri. Karena itulah ia dan teman-temannya membentuk Rumah Bahasa, sebuah tempat belajar gratis untuk anak-anak tidak mampu.

Yang kedua adalah Gilang, seorang selebgram tampan yang sama selengekan dan kekanakannya dengan Levi. Bersama Levi, Gilang menjadi comic relief dalam novel ini. Celetukan-celetukannya saat bertengkar dengan Levi benar-benar konyol dan menghibur. Dia tak segan mengerjai Levi, misalnya dengan sengaja meminjam mobil lama-lama hingga Levi tak bisa pulang dari kampus, sampai menaruh iklan "Rumah Dijual" bagi rumah Levi. Namun, meskipun terlihat selalu ceria, Gilang pun tak bahagia gara-gara keluarganya. Ayahnya bisa dibilang adalah psikopat yang rela menghalalkan segala cara untuk membuat Gilang berhenti jadi selebgram dan masuk ke dunia hukum sepertinya. Ayahkan bahkan tega membayar media untuk menyebarkan berita buruk tentang anaknya. Sedangkan ibunya yang juga pengacara lebih memilih membela suaminya.

Yang ketiga adalah Felix. Dia pun anak orang kaya. Pintar menggambar dan suka membuat komik. Namun, ia menderita penyakit thalasemia, suatu penyakit kelainan darah. Ia jadi lemah dan mudah terluka. Akibatnya, orangtuanya melarangnya kuliah dan jadi overprotektif padanya. Felix adalah perekat dalam persahabatan lima orang ini. Dia selalu jadi penengah dan yang paling peka terhadap kondisi para sahabatnya. Dia sering bisa menebak apa yang ditutup-tutupi oleh teman-temannya, juga mendorong mereka untuk menyelesaikan masalah masing-masing.

Yang keempat adalah Tyas. Di antara kelima orang ini, hanya dia yang berasal dari keluarga orang biasa, bahkan termasuk kekurangan. Dia sangat pintar secara akademis, tapi agak "buta" terhadap beberapa hal di luar pelajaran. Dia berteman dengan Levi sejak SMA. Meski sering tersinggung dengan sikap Levi yang temperamen, pada akhirnya Tyas selalu bisa memaafkan gadis itu. Tyas adalah karakter pertama yang berhasil membuatku merasa simpati. Gara-gara masalahnya yang bertubi-tubi, aku jadi langsung peduli dengan kelangsungan cerita ini. Tyas bisa kuliah berkat beasiswa. Beasiswanya akan dicabut jika ia mendapatkan nilai jelek. Tyas sering dirundung oleh teman-teman kuliahnya gara-gara status ekonominya. Mereka suka memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas kelompok. Yang menjengkelkan dari Tyas, dia begitu tertutup dan tak mau menceritakan masalahnya pada para sahabatnya. Malah dia sering marah pada Levi begitu anak polisi itu membelanya. HAH!

Yang terakhir ada Nugroho alias Nunu. Dialah yang paling lama berteman dengan Levi, yaitu sejak kecil. Rumah mereka pun bisa dibilang masih bertetangga. Namun, dirinyalah yang paling sulit dimengerti Levi. Sikap tsundere dan moody-nya benar-benar menyebalkan. Dia mirip seperti Tyas dalam hal suka menutupi perasaannya sendiri. Ibu dan neneknya sudah meninggal, sedangkan ayahnya lebih memilih berbisnis di luar negeri daripada memperhatikannya. Nunu nyaris dibilang sebatang kara meskipun secara teknis dia masih punya keluarga. Yang dia punya hanya para sahabatnya, namun itu pun tak membuatnya bisa sepenuhnya terbuka pada mereka. Impiannya adalah jadi pembalap. Cedera bahu saat balapan membuat impiannya nyaris runtuh. Dia sering tarik ulur dengan perasaan Levi. Benar-benar cowok yang menjengkelkan.

Lalu masih ada dua karakter sampingan yang cukup berpengaruh dalam cerita.

Yang pertama adalah Faaz, bawahan ayah Levi dari Divisi Humas. Dialah satu-satunya yang tahan dijodohkan dengan Levi, bahkan sampai jatuh cinta pada gadis itu karena melihat berbagai pengorbanan yang dilakukan Levi untuk para sahabatnya. Awalnya ia bersitegang dengan Levi karena gadis itu menyuruh Tyas untuk berpura-pura menjadi dirinya. Namun, dengan cerdik Faaz membalik keadaan dan memegang kelemahan Levi.

Faaz adalah sosok serius yang penuh tanggung jawab dan sangat efisien. Tadinya ia seperti ayah Levi, hanya mau bertindak jika hal itu menguntungkan dirinya. Namun, eratnya persahabatan Levi dan kawan-kawannya mengubah cara berpikirnya. Beberapa kali ia membantu Levi dan teman-temannya membereskan masalah mereka. Mulai dari memperbaiki mobil Levi, motor Gilang, hingga membantu Gilang menghadapi ayahnya yang psikopat. Awalnya aku dibuat geregetan dengan sikapnya yang begitu dominan. Menyebalkan. Namun, lama-lama aku luluh juga melihat perjuangannya dalam mendapatkan hati Levi. Keberadaan Faaz membuat Nunu yang tadinya adem-ayem soal Levi jadi ikut bergejolak.

Lalu ada Adit Mulawarman, cowok jurusan Musik yang mantan anak geng. Seperti Faaz, dia pun tadinya tak percaya dengan persahabatan. Hal ini karena dulu dia sering dimanfaatkan teman-temannya untuk jadi semacam bodyguard tanpa timbal balik yang sepadan. Persahabatan Levi dan empat temannya pun mengubah cara berpikirnya. Dia jadi lebih peduli pada orang lain, terutama Tyas. Awal perjumpaannya dengan Tyas tidak disengaja. Dia adalah salah satu pengunjung minimarket yang menjadi saksi saat Tyas diancam oleh debt collector gara-gara fotokopi KTP-nya dipakai ayahnya untuk pinjol. Saat di minimarket, dia tak bertindak apa-apa selain memberikan minuman yang dia beli untuk Tyas. Namun, lama-lama dia jadi makin serius membantu Tyas, misalnya saat Tyas terancam dicabut beasiswanya gara-gara tugasnya dihapus oleh perundungnya di kampus.

Sebenarnya buatku bagaimana Adit bisa terhubung dengan Tyas lagi terasa agak maksa, sih. Dia berpapasan dengan Tyas yang kabur dari Faaz saat ia di rumah sakit untuk menunggui Nunu yang habis operasi bahu. Dia yang membantu Tyas bersembunyi dari Faaz. Kemudian dengan seenaknya ia meminta bertukar nomor dengan Tyas agar gadis itu bisa balas budi. Tak dijelaskan juga kenapa saat itu Adit ke rumah sakit. Namun, karena fungsinya dalam cerita sangat berguna untuk membantu Tyas (ketika dia menutupi masalahnya dari para sahabatnya), akhirnya aku bisa menerima kehadirannya.

*

"Uang tidak selalu membawa kebahagiaan", buatku adalah kalimat mutiara paling klise bahkan bullshit. Bagaimanapun punya uang akan memudahkan untuk mencukupi berbagai kebutuhan. Kalau kebutuhan dasar saja tidak terpenuhi karena tidak ada uang yang cukup, mana bisa bahagia? Namun, memang benar bahwa kekayaan tidak bisa menjamin seseorang pasti bahagia. Itulah yang terjadi pada empat orang dari geng Levi. Bagusnya, penulis mengimbangi isu tersebut dengan meletakkan tokoh Tyas untuk menunjukan bahwa tidak punya uang pun juga sama tidak bahagianya. Imbang. Seperti yang kutulis di atas, tokoh Tyas adalah tokoh pertama yang langsung membuatku peduli pada cerita novel ini. Adegan saat dia dibentak-bentak oleh debt collector ketika menjaga minimarket, lalu laptopnya dirampas padahal dia masih ada tugas benar-benar bikin tensi naik. Bayangkan jika itu terjadi pada diri sendiri atau orang yang dikasihi. Naudzubillah.

Karena diiming-imingi bayaran 2,5 juta itulah Tyas kemudian mau menggantikan Levi bertemu Faaz. Tugasnya, dia harus membuat Faaz ilfil. Namun, Faaz malah langsung mengetahui kebohongannya.

Sejujurnya seumur hidup aku enggak pernah tahu lihat temanku di-bully karena bukan dari kalangan keluarga mampu. Beruntung keluarga maupun kenalanku yang berada juga tidak pernah mempermasalahkan kondisi ekonomi keluargaku yang biasa-biasa saja. Toh selama ini keluargaku juga tidak pernah membuat masalah dengan mereka. Karena itu aku selalu tak habis pikir bagaimana tokoh-tokoh seperti Tyas bisa di-bully habis-habisan karena bukan anak orang kaya. Kalau dia di-bully karena pintar, aku masih bisa paham karena hal itu pernah kualami dan dialami oleh murid-muridku sendiri.

Suatu hari karena tidak tahan lagi, Tyas mengadukan pada dosen ulah teman-teman sekelompoknya yang tidak mau ikut mengerjakan tugas kelompok dan hanya setor muka saat presentasi. Dosennya tidak mengambil tindakan. Teman-teman sekelompoknya tahu dan dia pun dirundung di depan umum sampai Levi dan Gilang membantunya, tapi setelah dibantu, Tyas malah marah.

"Kenapa diem aja? Kenapa lo nggak ngebales? Kenapa lo nggak berusaha melindungi diri sendiri?" Levi langsung mengeluarkan unek-unek.

"Lo nggak inget omongan gue kemarin? Semakin lo diem, lo bakal makin ditindas."

Kesal bercampur marah. Seandainya bisa bertukar jiwa, Levi mungkin sudah meminjamkan jiwa barbarnya pada Tyas agar cewek itu dapat melawan para perundung.

Tyas mematung, Pandangan kosong, wajah memerah, dan dada naik turun dengan napas terengah-engah mungin menjadi jawaban kenapa ia memilih diam.

"Yas..." Levi melangkah maju, menyentuh pundak Tyas sembari mengurungnya dalam tatapan. "Lo harus berani ngelawan. Harus!"

Di luar dugaan, Tyas menyentak kasar tangan Levi. "Gue udah ngelawan! Gue udah berusaha ngelawan dengan laporin mereka ke dosen! Tapi apa hasilnya? Mereka makin nindas gue, sementara dosen yang bersangkutan nggak ambil tindakan apa pun."

Tyas terengah-engah. Ia sendiri cukup kaget karena berani membentak Levi. "Lo pikir ini gampang? Lo pikir gue punya pelindung, punya tameng kayak kalian semua? Yang kalo kena masalah, kalian tinggal minta duit ke ortu kalian dan kasih ganti rugi. Sedangkan gue?"

...

"Itu," Levi mengacung-acungkan telunjuk ke wajah Tyas, "itu sebabnya lo selalu kalah! Karena selama ini lo cuma fokus sama kekurangan lo dan abai sama kelebihan yang lo punya. Lo pinter, lo banyak bakat, lo pekerja keras, Yas. Coba buat lebih percaya diri."

"Bakat? Kepintaran?" Tyas menipiskan bibir. Tersenyum sinis. "Apa itu perlu? Apa itu penting? Nggak, Lev. Nyatanya semua itu nggak bisa buat melawan mereka yang punya kekuasaan."


(Halaman 221-223)

Pahit ya. Kasus-kasus para warga yang dizalimi tapi tak segera dibantu polisi karena dia bukan kalangan berada dan karena kasusnya tak segera viral, sudah banyak membuktikan kata-kata terakhir Tyas. Jadi ingat kutipan dalam buku The Antagonis Program-nya Aranindy:

"Brain, money, and power (and love to keep the harmony) - we need that to protect someone."

Ironisnya, Levi, Gilang, dan Nunu yang bergelimang harta justru punya lubang besar dalam kehidupan mereka: keluarga.

"Musuh lo cuma dua kakak perempuan lo doang, Nong. Lha gue? Sekeluarga nganggep gue sampah." Gilang menarik napas dalam-dalam. "Gue pengin cepet-cepet lulus dan keluar dari rumah neraka itu."

"Emang ada aturannya ya bahwa anak itu pinternya harus sama, suksesnya harus di jalan yang sama pula?" Kesal selalu dibanding-bandingkan, Gilang terus mengomel. "Orangtua gue sukses jadi pengacara. Dan kebetulan, abang gue juga ngikutin jejak mereka, passion-nya di bidang huku,. Tapi apa harus gue juga ngikutin mereka?"

(Halaman 130. Gilang, ketika dia menceritakan pada Levi bahwa ada polisi yang datang ke rumahnya semalam karena selebgram yang barusan kolab dengannya kena kasus narkoba


"Gue udah terlalu sering disakitin. Dan puncak rasa sakit itu datang dari keluarga gue sendiri. Jadi ketika ada orang lain yang nyakitin gue, sakitnya udah nggak berasa lagi."

(Halaman 148. Gilang pada Levi, saat di RS menunggui Nunu)


Aku pernah baca sekilas kalau ada semacam daftar derajat kesepian seseorang. Derajat tertinggi adalah sendirian saat dirawat di rumah sakit. Itulah yang nyaris terjadi pada Nunu kalau para sahabatnya tidak bersikeras menjenguk dan menungguinya. Setelah Nunu operasi bahu pasca kecelakaan karena balapan, ayahnya hanya mengirim beberapa orang pengawal dan menugaskan dokter ortopedi untuk merawat Nunu di rumah agar dia bisa keluar dari rumah sakit. Namun, lelaki itu tidak menunjukkan hidungnya sama sekali. Awalnya aku beneran benci dengan sikap Nunu yang seenaknya dan tidak komunikatif. Namun, setelah latar belakang keluarganya dibuka, aku jadi paham kenapa dia begitu. Meski tetap aku tidak bisa menerima tindakannya.

Levi yang melanggar jam malam karena menunggui Nunu akhirnya jadi kena masalah dengan ayahnya, Kepala Polisi Haikal.

"Memang keluarganya ke mana? Kenapa harus kamu yang nemenin Nunu?" Papanya sama sekali tidak mengerti dengan pola pikir putrinya.

"Aku keluarganya, Pa," Levi menjawab tegas. "Aku, Gilang, Tyas, sama Felix. Kami keluarganya Nunu."

(Halaman 121. Ketika Levi dijemput Papa gara-gara dia nggak pulang sampai jam 12 malam karena nungguin Nunu dioperasi pasca kecelakaan motor)


Nunu ini terkesan menarik ulur hubugannya dengan Levi. Dia bakal marah kalau Levi terlihat lebih memperhatikan Faaz. Namun yang menjengkelkan, dia tak mengungkapkan perasaannya. Sedangkan Levi juga bukan orang yang peka jadi dia selalu kebingungan dan hanya bisa menebak-nebak (itu pun tebakannya sering salah) kalau Nunu mulai ngambek.

Namun, seperti yang sudah-sudah, tidak ada waktu yang tepat untuk keduanya berbaikan. Selalu seperti itu. Belasan tahun mereka habiskan bersama, tapi rasa canggung untuk meminta maaf masih menguasai ego masing-masing.

Merasa paling benar, merasa ada di pihak yg tersakiti, dan merasa kalah jika meminta maaf lebih dulu. Hingga mengakibatkan kesalahpahaman terasa berlanjut dan hubungan persahabatan mereka semakin berjarak.

(Narasi tentang Nunu dan Levi)


Sedangkan Felix, dia berasal dari keluarga berada yang menyayanginya. Namun, sakit parah membuat mobilitasnya jadi sangat terbatas. Ketika permohonannya untuk kuliah kembali ditolak untuk kesekian kalinya, Felix pun kabur dari rumah.

*

Namun, privilege tidak hanya berupa uang dan jabatan. Seperti pesan dalam novel Mutiarini yang berjudul The Privileged Ones, privilege juga bisa berarti kepintaran, kemampuan, dan orang-orang baik yang dikenal.

Ikatan persahabatan kelima anak manusia ini terus diuji dengan timbulnya masalah yang datang silih berganti. Namun, mereka berhasil melaluinya dengan kesetiaan. Meskipun sedang bertengkar, jika salah satu terkena masalah, maka yang lainnya langsung dengan sigap datang membantu.

Mungkin setelah ini papa Levi akan menandai Tyas sebagai "teman yang memberi pengaruh buruk pada putrinya". Tapi Tyas sungguh tidak bermaksud membuat pria itu membencinya. Ia hanya ingin melindungi Levi dan memastikan tak ada seorang pun yang menyakiti sahabatnya. Sekalipun orang itu keluarga sahabatnya sendiri.

Hanya saja, terkadang Tyas lupa bahwa semakin dekat seseorang, semakin besar peluangnya untuk saling menyakiti. Ia tidak bisa terus menjadi pelindung sahabatnya. Bagaimanapun, masih ada jarak yang begitu jauh di antara sahabat dibanding keluarga.

(Halaman 123, narasi setelah Tyas membela Levi yang dijemput paksa oleh ayahnya)


"Jujur aja, gue iri liat gimana perlakuan temen-temen lo tadi," tukas cowok itu sambil memasukkan tangan ke saku celana. "Itu bukan bentuk penghinaan, tapi pembelaan. Lo salah mikir kalau harta jadi senjata satu-satunya untuk membela diri. Selain senjata, lo juga butuh pasukan kan kalo mau perang? Nah, anggep aja sahabat-sahabat lo itu pasukan yang siap berdiri di samping lo."

(Adit pada Tyas, setelah Tyas marah pada Levi karena gadis itu membantunya dari perundungan teman sekelompoknya, halaman 224)


*

Tak terasa, Faaz dengan halus berhasil masuk ke dalam pergaulan kelima orang ini. Tak hanya sering membantu Bu Naoko memasak pagi-pagi, dia juga sering mengunjungi Rumah Bahasa dan langsung diterima oleh anak-anak di sana. Suatu hari seusai kegiatan di Rumah Bahasa, Levi bercerita bahwa dirinya adalah anak hasil hubungan di luar nikah. Nenek dan kakeknya di Jepang bahkan nyaris akan melaporkan tindakan Haikal pada atasannya kalau saja lelaki itu tak segera membawa pulang dirinya dan ibunya ke Indonesia. Namun, akibatnya dia jadi tak akur dengan dua kakak beda ibunya. Dia juga tak diterima oleh keluarga ayahnya. Levi menceritakan hal itu untuk memeringatkan Faaz bahwa menikahinya tidak akan memberikan banyak keuntungan akibat statusnya.

"Gimana? Udah berniat nyerah? tanya Levi sambil memiringkan kepala. Matanya mengerjap-ngerjap. Bibirnya melengkung menunjukkan senyum termanis. "Lo pasti berubah pikiran setelah tahu gue anak di luar nikah, kan?"

"Ya," Faaz menjawab tegas. "Saya berubah pikiran. Saya ingin lebih cepat menikahi kamu supaya kejadian masa lalu Pak Haikal dan Bu Naoko tidak terulang pada kita."

(Halaman 164. Levi dan Faaz, saat mereka menunggu hujan reda di Rumah Bahasa bareng Gilang)


Cara Faaz ngegombal beneran bikin gatal-gatal sekujur badan. Astaga XD

Namun, sebesar apa pun usaha Faaz untuk masuk ke hati Levi, gadis itu tetap terombang-ambing dengan perasaannya pada Nunu. Beberapa kali dia lebih memilih bertemu dengan Nunu padahal sudah ada janji lebih dulu dengan Faaz. Saat itulah Faaz dengan tegas meminta kejelasan pada Levi. Levi pun makin kebingungan. Faaz baru dia kenal, tapi sudah mewarnai kehidupannya sedemikian rupa. Sedangkan perasaannya pada Nunu sudah terpupuk sejak begitu lama, tapi sikap Nunulah yang sering tidak jelas.

"Gue percaya, makin dewasa kita, masalah yang datang makin rumit. Tapi gue juga percaya, kalau kita berusaha menghargai perasaan orang lain, pasti orang itu bakal ngerti. Kita salah paham juga nggak satu0dua kali kan, Lev? Tiap kali gue sakit hati karena sikap lo, saat itu juga gue lihat ketulusan lo yang berusaha ngajak gue baikan."

(Halaman 354, saat Tyas menenangkan Levi yang akan mengatakan pada Nunu bahwa dia sudah punya jawaban atas pernyataan perasaan Nunu.)


Bagaimana keputusan Levi? Baca sendiri bukunya.
Profile Image for Amaya.
756 reviews58 followers
December 18, 2025
Actual rating: 2,75

Lima sahabat, lima kisah. Kesempurnaan yang tampak dari luar tidak sejalan dengan apa yang mereka berlima alami. Permasalahan mereka mengacaukan alur kehidupan bersama.

Seharusnya begitu. Masalah mereka saling tumpang tindih lalu menjadikan hubungan kelimanya merenggang. Namun, sayangnya porsi Levi lebih banyak di sini. Blurb nggak menunjuk satu karakter yang jadi konduktor supaya karakter lain bergerak. Jadi, wajar kalau berekspektasi semua dapat porsi yang pas, alih-alih satu.

Oke, mungkin reviu ini mau kasih highlight ke bagian-bagian yang menurutku kurang. Karena bagiku, konsep besar dan premisnya udah oke banget, potensial kalau mau jadi kayak YA luar dengan tema serupa: teens in problem, gitu.

The good thing yang bisa kusimpulkan adalah karakterisasinya bagus. Kelimanya masing-masing menempati "jati diri" mereka sendiri, walaupun voice-nya masih tumpang tindih.

Bahas voice karakter, suara dan porsi kemunculan Levi memang lebih banyak dari yang lain, makanya suara dia kuat banget. Bahkan beberapa kali kejebak antara suara Levi atau karakter lain. Sifatnya yang memang mendominasi somehow terasa sangat menjengkelkan. As I said, Levi Macam konduktor buat sahabat-sahabatnya, jadi segala hal atau masalah karakter lain harus disangkutkan ke dia. Makanya, suara karakter masih kecampur aduk banget.

Kalau alasan Levi terlalu "ikut campur" karena dia tokoh yang sayang sahabat-sahabatnya, kurasa memberikan poin yang berbeda dan kayaknya nggak bakal sampai mikir "kok dia muncul di mana-mana, ya?"

Hal yang aku takutkan, Levi malah jadi tokoh "I'm the one". Semacam karakter yang menguarkan aura "me, me, and me". Memang lebih pas kalau semua orang menyelesaikan masalahnya masing-masing dan persahabatan mereka dijadikan "penguat" ketika penyelesaian tersebut terasa berat. Yah, ikut andil it's okay, kayak masalah Gilang, tapi (again) lebih baik kalau sesuai porsinya.

Poin lain yang menurutku kurang banget ngena adalah emosi karakter. Iya, iya, pembaca satu ini memang banyak mau dan komentar soal emosi. Disclaimer dulu, setiap orang berbeda dalam menangkap emosi cerita atau karakter, jadi bahasan soal karakter ini sangat subjektif.

Balik ke emosi karakter, jujur aku kurang suka dengan cara penulis mengubah satu emosi ke emosi lain yang begitu cepat. Belum selesai dengan rasa frustrasi, tiba-tiba berubah jadi sedih. Kejadiannya secepat kilat. Hampir macam orang lagi kedip atau ganti kombinasi baju A ke B, lalu ke C. Enggak ada masalah kalaupun mau ganti kombinasi, tapi nggak dengan kecepatan kilat, apalagi ini membahas emosi. Sesuatu yang sangat kompleks.

Penyampaian emosi yang tidak tuntas atau melekat di pembaca malah akan berakhir dengan kenihilan lalu akhirnya tidak akan bisa berempati dengan para tokoh.

Konflik paling banyak ambil porsi punya Levi, yang lain dibahas sekilas lalu sebelum eksistensi Levi muncul di situ, entah sebagai penghibur, mediator, atau pemberes masalah. Maka dari itu, susah untuk sekadar bersimpati pada para karakter. Baca buku ini lebih sebagai pengamat, ketimbang "teman" bagi setiap karakternya.

Hopefully, bisa bertemu dengan karya penulis yang bisa memberikan kesan baik lebih banyak, daripada menunjuk satu-dua kekurangannya. Semangat buat Levi, Nugi, Tyas, Gilang, dan Felix di luar sana. You guys rock!
Profile Image for Tira Lubis.
298 reviews4 followers
July 17, 2024
3,7🌟

"Sekalipun sedang kesal atau marah, sahabat sejati tidak akan benar-benar meninggalkanmu."

Bercerita tentang lima orang sahabat yg sangat kompak, mereka selalu ada dan saling mendukung satu sama lain. Persahabatan mereka diuji oleh beberapa masalah dan salah paham yg mereka hadapi.

Pas awal baca aku langsung suka sama gaya bercerita dan humor-humor dari para tokhnya, khas anak kuliahan banget, receh tapi seru gitu. Apalagi kalo Levi sama Gilang udah adu mulut.

Semakin lanjut baca, kita akan diperlihatkan kepada masalah yg dihadapi masing-masing tokoh. Permasalahan yg membuat beberapa diantara mereka saling salah paham tapi hal tersebut justru membuat persahabatan mereka semakin kompak karena mereka selalu saling peduli bahkan melebihi keluarga mereka sendiri.

Aku suka banget persahabatan kelima tokoh yg ada disini, kerasa banget kalo mereka itu kayak terkoneksi satu sama lain dan ga bisa ngeliat salah satu dari mereka kesusahan pasti yg lain bakal usaha buat bantu. Aku juga suka banget sosok Faaz yg merupakan salah satu pria yg dikenalkan ayah Levi padanya. Effort dia tuh ga main-main memang sampe bisa bikin Levi oleng, ya aku juga bakalan oleng sih kalo dideketin cowok modelan Faaz ini 😆.

Konfliknya sendiri menurutku cukup kompleks, karena masing-masing dari mereka berlima punya masalah yg mereka hadapi terutama yg berhubungan dengan keluarga. Selain itu dua diantara mereka juga terjebak friendzone yg membuat konfliknya jadi makin menarik.

Nah karena masing-masing tokoh itu punya masalahnya sendiri-sendiri menurutku jadi fokusnya kurang maksimal, misal lagi ceritain masalah Tyas, tapi abis itu langsung pindah ke masalah Gilang atau Nunu. Penyelesaiannya juga jadi kurang mantap di beberapa tokoh, ga dijelasin lebih rinci gitu.

Tapi endingnya aku suka, lega sama keputusan yg Levi ambil, memang kalo jadi cowok tuh mesti gerak cepet jangan tunggu ada saingan baru maju, bisa-bisa malah kena tikung. Ups 🤭.

Overall aku menikmati baca novel ini, cerita tentang persahabatan yg tetap solid walaupun banyak masalah yg menimpa. Walaupun tentang persahabatan ada unsur romance tipis-tipis yg bikin gemes bacanya. Recommended deh buat dibaca 👍
Profile Image for Bila.
315 reviews22 followers
July 31, 2024
3.5 yang galau banget mau naik atau turun, akhirnya turun.

Singkatnya, buku ini rusuh! Ada 5 masalah, dan semuanya bercampur aduk (ga fokus ke salah satu lalu pas beres baru pindah). Ya dalam kehidupan normal sih ini yang terjadi, tapi dalam novel? Aduh capek wak bacanya 😭. Aku takut kalo saling bertumbuk kek gini bakal ada flawnya dan bener kan salah satu dialog ada yang ga nyambung saking rusuhnya.

"Rusuh" juga salah satu kata yang bisa mewakili hubungan persahabatan ke-5 main chara (apalagi Levi kalo udah disatuin sama Gilang UDAH LAH pasti rusuuuuh!) saling ejek (mana asyik pula ngomong anjirnya 😭) tapi saling sayang bagai keluarga (malah lebih lengket dari keluarga kandung WEW). Ini hal yang aku suka banget.

Tapi ya gitu, aku ga begitu sreg dengan sifat ceplas-ceplosnya Levi (walau at the end ada gunanya juga), begitu pula dengan sifat bungkamnya Tyas dan Nunu (Tyas at least ada chara development walau sungguh "anjir" 😭)

Untuk masalah masing-masing...aku cuma beneran puas sama endingan masalah hati Levi (walau ugh, love triangle bahkan hampir segiempat) dan bagaimana Tyas jadi lebih ekspresif dan berani speakup. Sisanya...netral aja dah.

Intinya buku ini sebenernya masih rekomendid sih, tapi ya siap-siap aja agak lelah buat ngikutin masalah masing-masing.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.