Judul: Tuhan Tidak Makan Ikan.
Penulis: Gunawan Tri Atmodjo.
Penerbit: Diva Press.
**
Salah satu hal yang menarik dari membaca sastra adalah kemampuan para penulis menyampaikan sebuah humor jenaka yang membungkus ironi kenyataan hidup. Singkatnya, terkadang cerita yang disampaikan bertujuan untuk menertawakan kesedihan atau tragedi hidup sendiri. Salah satu yang sukses memperlihatkan cerita humor satir adalah Gunawan Tri Atmodjo. Penulis asli Solo ini, yang baru saya kenal, ternyata punya 21 cerita pendek yang cerdas menyindir masalah sosial sehari-hari.
.
Sedari membaca judul bukunya saja sudah membuat saya penasaran: Tuhan Tidak Makan Ikan. Siapa coba yang kepikiran kalo Tuhan suka makan ikan? Kalo suka, ikan apa ya? Atau Tuhan hanya makan sayur-sayuran?
Pun di dalamnya banyak juga judul-judul yang bikin pembaca ngikik sungguh-sungguh, kayak: "Riwayat Sempak" dan "Cabe-cabean Berkalung Tasbih".
.
Tapi, cerita-cerita di dalam buku ini kadang butuh digali lebih dalam untuk dapetin di mana sih lucunya? Nah, untuk itu penting banget baca kata pengantar yang ada di bagian awal buku. Lumayan untuk ngasih pencerahan supaya pembaca bisa komen "Ooh ini toh maksud sindirannya" hahaha. Tapi, ada beberapa juga yang lucu secara eksplisit, seperti dalam cerita "Ceker Ayam" yang mempertanyakan apakah ceker itu tangan ayam atau kaki ayam? Kalau itu kaki, kenapa ayam kalo garuk-garuk pake ceker? Berarti ceker itu tangan dong? Kalo ceker itu tangan, berarti ayam adalah hewan sirkus paling hebat karena bisa terus-terusan berdiri pake tangan!
.
Selain cerita-cerita konyol, ada juga yang memperlihatkan ironi cukup dalam, seperti di cerita "Imam Ketiga", tokoh yang bernama Sanusi sangat berambisi untuk menjadi imam di mesjid kampungnya, sampai Ia menjadi arogan dan sombong. Pada akhirnya, ketika ada kesempatan menjadi imam shalat Jumat, Sanusi malah lupa beberapa ayat dari surat yang sudah seringkali dibaca. Atau di lain cerita berjudul "Paloma", seorang istri yang setia membabi buta pada suaminya walaupun sang suami setiap hari membawa perempuan lain ke rumah mereka untuk diajak bermesraan. Ya, ironi hidup yang amat sangat dekat dengan kehidupan sosial memang menjadi inti dari semua tulisan Gunawan.
.
Saya sangat menikmati tiap ceritanya. Semua narasinya sederhana tapi ngena di hati, bahkan beberapa kalimat bisa dikutip untuk dipasang di beberapa sosmed milik pembaca, seperti "Kebahagiaan itu seperti sempak yang kamu pakai. Orang lain hanya bisa menebak model dan warnanya. Tapi hanya kamu, Tuhan, dan kekasih ganasmu yang mengetahui wujud aslinya", nah, walaupun kesannya vulgar dan norak, tapi setuju kan dengan kutipan tadi? Hahaha. Yaa siapa tau pada bosen sama kutipan Tere Liye yang banyak puitisnya, bisa coba baca buku ini untuk mengutip humor satirnya Gunawan.
***